Wedding With Converse

Wedding With Converse
Episode 2


__ADS_3

Ibarat daun yang tak bisa lepas dari gravitasi, untukmu mungkin aku sudah menjadi kesadaran murni.



Yang setiap gerak dan hela napasnya sudah dirancang sedemikian mungkin agar bisa tertarik, jatuh, dan kembali pada satu hal yang sesungguhnya sangat ingin kuhindari. Tanpa aba-aba, tanpa rencana, jika kamu dalam bahaya, butuh atau tidaknya kamu denganku,



seluruh organ tubuhku akan bergerak, berlari cepat hanya untuk memastikan keadaanmu



baik-baik saja atau tidak.



Beberapa jam sebelumnya…



Menyambut pergantian tahun, salah satu jalan raya Jakarta berubah menjadi lokasi ajang balap liar. Meski waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, suara deru mobil berikut musiknya masih terus menggema. Perempuan-perempuan berpakaian seksi pun masih berlalu-lalang. Bak model, mereka berjalan di hadapan cowok-cowok yang tengah menyiapkan mobil.



“Abisin, Kal! Rival lo Miranda Kerr, Man! Siapa tahu aja kalau menang, lo dikasih kunci hotel!” bisik Gavin pada Raskal dengan mata yang terus memandangi Gessy, cewek blasteran yang menjadi lawan Raskal kali ini.



Tidak memedulikan omongan Gavin, Raskal malah sibuk dengan mesin Range Rovernya yang sudah dimodifikasi sanasini. Gavin yang merasa diabaikan langsung meninju bahu Raskal.



“Apa sih lo?!” seru Raskal sambil memelototi Gavin.



“Lo homo, ya?” tanya Gavin mendadak.



“Hah?!”



“Lo nggak suka main ‘pedang-pedangan’ kan, Kal?”



“Lo mau mati, Vin?” tanya Raskal tajam, membuat tawa Gavin langsung meledak seketika. Raskal menatap cowok itu jengkel. “Perasaan dari tadi gue lo belum lihat lo ‘make’, tapi kenapa udah teler aja sih? Tolol banget omongan lo!”



Gavin cengengesan. “Nggak gitu, Bos! Gue cuman ngetes. Abis, lo kalau disodorin cewek, adem ayem aja sih. Gue kan curiga.”



“Iya sama. Gue juga,” ujar Reza, membuat Raskal ikut melirik temannya yang satu lagi itu dengan tajam. “Makanya, kita jangan terlalu intim sama dia, Vin. Kan berabe kalau Raskal nganggep kita punya rasa yang berbeda.”



“Rasa apa tuh, Kal?” ledek Gavin sambil mengedipkan satu matanya pada Raskal.



“Tahu najis nggak lo berdua?!” ketus Raskal sebelum dia masuk ke dalam mobil dan menutup pintu keras-keras, membuat tawa Gavin dan Reza menyembur sekali lagi.



Tidak lama kemudian, balapan segera dimulai. Range Rover milik Raskal dan sedan milik Gessy sudah bersiap di belakang garis start. Seorang cewek yang membawa bendera putih hitam lalu bersiap di tengah-tengah jalur balapan. Saat perhitungan stopwatch mulai, yang ditandai dengan kibaran bendera putih hitam, dua mobil itu melesat bagai anak panah. Rute balap liar kali ini tidak begitu rumit. Seperti prediksi Raskal, sangat mudah meninggalkan Gessy di belakang. Cewek itu terlalu mudah dikalahkan. Kalau bukan karena hadiah taruhannya, mana mau Raskal buang-buang energi untuk mengalahkan perempuan. Maka, ketika mobil Gessy tidak terlihat lagi dari kaca spionnya, Raskal menurunkan sedikit pacuan gasnya dan menyempatkan diri untuk menghubungi Joana—sahabat dari kecil yang diam-diam sudah Raskal cintai sejak lama. Saat ini, Joana tengah merayakan pesta tahun baru di salah satu kelab malam ternama. Kalau saja jadwal Raskal tidak bentrok dengan balapan ini, mungkin sekarang dia juga berada di sana untuk mengawasi cewek itu.



“Setengah jam lagi lo gue jemput, ya—”



“Enggak usah! Gue yang anter Joana!” potong suara serak berat di seberang, membuat Raskal otomatis menginjak pedal remnya.



“Ngapain lo pegang handphone Joana?! Kembaliin!” titah Raskal tajam. Dari suara dan aksen bicaranya yang tengil, Raskal tahu benar cowok yang mengangkat panggilan handphone Joana itu Reon, cowok yang akhir-akhir ini dekat dengan sahabatnya.



“Kembaliin nggak, ya?” Reon tertawa. “Coba, lo ke sini deh! Terus kembaliin ke dia.”



“Sialan! Mana Joana?”



“Tuh lagi nari-nari. Udah ya teleponnya, Tuan Raskal. Gue tutup. Dahhh!”



Setelah itu, sambungan diputus. Raskal hendak melakukan panggilan ulang. Namun, tiba-tiba dia mendapatkan satu kiriman foto dari grup LINE teman-teman seangkatan di sekolahnya. Tadinya dia ingin mengabaikan. Tetapi, saat dia melihat notifikasi itu dari akun milik Shinta, teman dekat Joana di sekolah, cepat-cepat Raskal langsung membuka pesannya dan melihat apa isinya.



“Bangsat!” maki Raskal dengan tangan yang refleks meninju setir mobil. Rahangnya mengeras begitu dia melihat foto yang menampilkan Reon dan Joana sedang berpose layaknya pasangan yang tengah berciuman.



Pasangan baru sekolah kita. So sweet banget, ya!



Caption foto yang ditulis Shinta semakin membuat Raskal naik darah. Nyaris saja dia kehilangan akal sehat kalau matanya tidak buru-buru melihat mobil Gessy yang tiba-tiba melintas. Dengan detak jantung memburu, cepat-cepat Raskal menekan gasnya kuat-kuat. Cowok itu gila-gilaan menyamai mobil Gessy. Namun, karena otak dan hatinya sedang tidak sinkron, mau secepat apa pun Raskal menekan gas mobil, cowok itu tetap kalah. Bukan hanya kalah, ketika mobilnya sudah melewati garis ßnish, Raskal malah tidak menginjak rem hingga membuat Range Rovernya menabrak sebuah Honda Jazz yang terparkir di pinggir jalan. Kejadian tersebut kontan membuat seluruh penonton balap liar, terutama Gavin dan Reza, mengerumuni mobil Raskal.



“Anjrit! Lo nggak bisa nyetir, ya?!” bentak si pemilik Honda Jazz. Dari gestur tubuhnya, Gavin yakin kalau laki-laki itu berumur tiga atau empat tahun di atas mereka. Gavin berdecak panjang dalam hati. Kalau Raskal meladeni laki-laki itu, urusannya pasti akan panjang. Dia paham betul, Raskal bukan tipe cowok yang mudah mengalah begitu saja.



Bug!



Namun, kala melihat Raskal tiba-tiba saja memukul lakilaki itu tanpa sepatah kata, Gavin mengubah praduganya. Sekarang, dia cenderung yakin ada yang tidak beres dengan Raskal.



“Bonyok di mobil, sekaligus di muka lo, bakal gue bayar. Tenang aja,” kata Raskal kalem sebelum akhirnya dia menyeruak kerumunan orang, lalu menghampiri Gavin. “Gue pinjem mobil lo dulu. Lo urus mobil gue di sini. Gue ada urusan mendadak.”



“Mau ke mana lo?”

__ADS_1



“Cerewet banget sih! Kasih aja kuncinya, cepet!” Gavin berdecak. “Untung lo temen gue, Kal!” umpatnya seraya melempar kunci mobilnya pada Raskal.



“Eh, bangsat! Mau ke mana lo, Pengecut?!” teriak si pemilik Honda Jazz yang tidak dipedulikan Raskal sama sekali. Begitu menemukan mobil Gavin, cowok itu langsung menghilang begitu saja dari arena balap. Meninggalkan Gavin, Reza, dan sekelumit masalah Raskal yang dia biarkan begitu saja.



“Sekarang gue nggak heran kalau tuh kunyuk tiba-tiba kabur,” keluh Reza sambil menyodorkan tampilan foto di handphone-nya pada Gavin, membuat Gavin yang melihatnya langsung mengembuskan napas jengah.



“Ya, ya, ya! Hebat sekali! Seorang Joana Artivia membuat kita jadi umpan macan begini,” desis Gavin tepat ketika melihat tiga orang teman dari si pemilik Honda Jazz tadi mulai menghampirinya satu per satu.



***



Suara entak-entakan musik keras, kepulan asap rokok, dan bau alkohol menyambut Raskal begitu cowok itu masuk ke dalam salah satu kelab malam yang ada di daerah Kemang. Masuk ke tempat yang minim penerangan seperti ini sebenarnya bukan hal baru bagi Raskal. Jadi, harusnya dia tidak merasa kesal jika tidak langsung menemukan orang yang dicari. Tetapi, untuk kasus sekarang, dia terlalu menggebu-gebu mencari Joana. Seperti orang kesurupan, Raskal langsung berteriak-teriak menyerukan nama Joana ke semua orang.



“Lo kenapa sih, Kal? Dateng-dateng kok rusuh,” tanya Shinta pada Raskal begitu dia papasan dengan cowok itu.



“Joana mana?!” Yang ditanya malah balik bertanya. Suaranya yang tajam memaksa Shinta langsung menunjuk arah di mana Joana berada.



Mata Raskal langsung menyorot tajam ke tempat yang ditunjuk Shinta—sebuah bar. Benar apa kata cewek itu, Joana memang ada di sana. Bersama Reon tentunya. Pemandangan tidak menyenangkan itu otomatis membuat darah Raskal kembali mendidih.



Dengan tangan terkepal kuat dan sembari berusaha menyeruak kerumunan orang-orang yang tengah berjoget di dance floor, Raskal menghampiri keduanya dan langsung menarik tangan Joana keras-keras. Membuat Joana dan Reon yang duduk di sampingnya sedikit tersentak.



“Raskal?! Kok lo di sin—”



“Pulang!” sela Raskal sambil menarik lengan Joana kuatkuat. Sementara matanya menatap nyalang Reon yang kini menatapnya juga.



“Aaargh! Tapi … tapi, Kal, gue bisa pulang sama Reon kok,” kilah Joana dengan nada kesakitan. Cengkeraman tangan Raskal di lengannya memang cukup kuat sampai-sampai membuat tangannya perih.



“Nggak bisa! Lo pulang sama gue!” teriak Raskal dan menyentak lengan Joana sekali lagi.



“Lo nggak bisa dengar, ya? Dia bilang, dia maunya pulang sama gue!” ucap Reon tajam sambil mendorong tubuh Raskal dan menarik lengan Joana ke arahnya lagi. Sikap Reon itu kontan menaikkan emosi Raskal.



“Elo tuh, ya! Gue biarin sekali malah nyolot!” maki Raskal. Tangannya lalu hendak melayangkan tinju ke pelipis Reon. Kalau saja Joana tidak buru-buru melengkingkan teriakan berhenti, mungkin sekang Reon sudah terpental ke lantai.



“Reon, lo tunggu sini. Gue mau ngomong sama Raskal sebentar,” ucap Joana pada Reon dengan napas yang putus-putus. “Dan lo!” Joana menunjuk Raskal, “ikut gue sekarang!”




“Sampe kapan sih lo over protective sama gue kayak gini? Jujur aja, Kal, gue udah mulai muak sama sikap lo,” aku Joana begitu dia berhadapan dan menatap mata dengan Raskal.



Senyum Raskal tersungging kecut saat mendengar pengakuan Joana barusan. “Dia brengsek, Jo! Reon bukan cowok baik-baik buat lo!”



Joana memutar bola mata. “Terus, yang baik menurut lo itu siapa? Hah? Elo?”



“Ya … ya bukan gitu maksud gue. Gue kayak gini karena bokap lo nitipin lo ke gue! Jadi, wajar dong kalau gue ikut andil soal cowok-cowok yang mau ngedeketin lo,” bantah Raskal dengan nada tergagap. Nyaris saja dia kehilangan katakata untuk membalas omongan Joana tadi.



Joana mengembuskan napas panjang. Ditatapnya Raskal lekat-lekat. “Kal, denger ya. Reon itu emang kelihatannya brengsek, tapi seenggaknya dia selalu berusaha nampilin sisi baiknya kalau lagi sama gue. Lo tahu, demi nganter gue pulang, dari tadi dia nolak tawaran minum, setetes pun nggak. Dia memang nggak sepintar lo. Tapi, demi terlihat baik di mata gue, dia belajar mati-matian buat naikin nilainya. Yang paling penting, beda dari cowok-cowok yang selama ini deketin gue, dia nggak sedikit pun berani nyentuh gue. Intinya dia baik, Kal. Percaya sama gue.”



“Bullshit!” maki Raskal. “Kalau dia nggak berani nyentuh lo, terus ini apa?!” tanya Raskal seraya memperlihatkan foto di ponselnya pada Joana.



Sekali lagi Joana menghela napas panjang. “Lo salah paham. Itu nggak seperti yang lo lihat. Tadi gue nggak sengaja ketumpahan minuman. Terus, Reon bantuin gue bersihin air tumpahan yang ada di sekitar leher gue. Itu aja. Tolong, Kal. Lo sahabat gue. Masa lo enggak percaya?”



“Alah! Itu alasan lo aja! Pokoknya gue tetap nggak setuju kalau lo sama—”



“Cukup!” potong Joana frustrasi. Dia benar-benar muak dengan sifat keras kepala Raskal yang satu ini. “Udah, Kal. Udah cukup lo ikut campur sama masalah hidup gue. Mulai sekarang, jangan pernah ikut campur lagi! Gue bisa milih apaapa aja yang terbaik buat gue.”



Raskal tertawa sumbang. Dia menatap Joana dengan pandangan tak percaya. Setelah hampir sepuluh tahun lebih bersahabat, baru kali ini dia mendengar Joana membantah omongannya. Baru kali ini dia mendengar seorang Joana yang biasanya selalu menurut mendadak jadi gadis pemberontak hanya karena seorang Reon Adiputra.



“Kayaknya si brengsek itu udah benar-benar berhasil cuci otak lo, ya? Lo mungkin lupa sama omongan bokap lo soal gue yang berkewajiban melindungi lo.”



“Kalau gitu, anggap aja lo nggak punya kewajiban itu lagi.



Lupain aja. Toh lo bukan siapa-siapa gue.”



“Ck, ck, ck. Hebat banget lo bisa ngomong kayak gitu. Si kunyuk Reon emang perlu dikasih pelajaran!” maki Raskal seraya hendak melangkah menghampiri Reon lagi. Namun, belum sampai tiga langkah Raskal berjalan, Joana kembali mengucapkan beberapa kalimat yang membuat Raskal membatu di tempat.



“Gue nggak butuh dilindungi sama orang yang sekarang sok jadi jagoan di sekolah. Gue nggak mau dijaga sama tukang ‘minum’. Gue nggak perlu dikhawatirkan sama orang yang bahkan udah nggak peduli sama cita-citanya lagi. Dan yang paling penting … gue nggak pernah sudi punya sahabat pemakai narkoba!” tukas Joana sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Raskal sendirian di lorong sepi.

__ADS_1



***



Ucapan terakhir Joana berhasil menghantam dalam, merobohkan segala ego Raskal, dan sekejap mengubahnya menjadi perasaan rendah diri. Raskal mendadak merasa kecil dari Reon dan malu berhadapan dengan Joana kembali.



Sejak tahu soal Raskal yang mulai mencoba memakai barang haram itu, sikap Joana sedikit berubah. Joana tidak lagi hangat ketika berbicara dengannya. Hal itu membuat Raskal seperti terlempar dari lingkaran persahabatan yang bertahun-tahun sudah dia bangun bersama Joana.



Sekarang, yang jadi pertanyaan pokok di benak Raskal adalah jika sudah tahu begitu, kenapa Joana memilih berubah? Kenapa cewek itu perlahan menjauh? Kenapa cewek itu tidak marah saja? Kenapa cewek itu malah ingin meninggalkannya? Bukankah dia sahabat Joana dari kecil?



Raskal tertawa sedih. Dengan gerakan lunglai, cowok itu menenggak habis birnya. Dari sudut sofa kelab, samar-samar dia bisa melihat Joana dan Reon yang sedang mengobrol seru. Dalam hati, Raskal mengutuk binar-binar yang terpancar dari mata Joana ketika berbicara dengan Reon.



“Sialan! Tuh cowok beneran nggak mabok,” umpat Raskal ketika melihat Reon masih dalam keadaan sepenuhnya sadar. “Banci!”



Malam semakin larut. Pesta pergantian tahun baru di kelab itu perlahan-lahan mulai sepi. Namun, Raskal masih duduk di tempatnya bersama botol-botol alkohol dan seorang wanita penghibur yang diketahuinya bernama Jinne. Dengan kondisi setengah sadar, Raskal tidak habis-habisnya mengobrol bersama wanita itu. Pembicaraan mereka terlampau ngawur. Bahkan, secara tidak sadar, Raskal membahas seluruh masalahnya pada wanita itu. Termasuk soal Joana.



“Udah malam. Gue antar lo pulang, ya,” bujuk Jinne saat melihat Raskal sudah benar-benar mabuk.



Raskal menggeleng. “Nggak! Nggak mau, Jinne! Gue harus nungguin Joana dulu,” sanggah Raskal seraya menenggak minumannya kembali.



Jinne menghela napas. “Kalau … misalnya, satu hari gue jadi Joana buat lo, lo mau pulang?”



Raskal mengerutkan dahi. Dia menatap Jinne dengan pandangan yang mulai kabur. “Emang … emang bisa?”



Jinne mengangguk cepat. “Bisa. Tapi, lo harus mau pulang dulu.”



“Eng … eng … oke deh. Tapi, rambut lo dikucir satu dulu.



Soalnya Joana biasanya suka kucir rambutnya.”



“Oke, oke. Gue kucir nih rambut gue. Tapi, lo janji, lo bakal mau pulang.”



Raskal mengangguk-anggukkan kepala. Senyumannya tersungging lebar. “Iya, iya, Jinne—eh maksudnya Joana.”



Setelah mengucir rambut panjangnya, Jinne pun membawa Raskal ke mobil. Raskal lalu menyodorkan ponselnya pada Jinne, menunjukkan arah apartemennya dengan GPS. Jinne yang paham langsung mengambil ponsel itu dan mulai membawa mobil Raskal ke arah yang telah disebutkan. Karena tidak begitu jauh, setengah jam kemudian keduanya pun sampai di apartemen Raskal.



“Kepala gue pusing banget, Jo,” keluh Raskal ketika tubuhnya sudah ambruk di sofa.



“Siapa suruh minum banyak banget!” seru Jinne sebal, membuat Raskal terkekeh.



“Lo galak banget deh. Bener-bener persis Joana.”



Jinne duduk di samping Raskal. Dia menatap nanar cowok yang tengah sempoyongan akibat kebanyakan minum alkohol itu. Dalam hati Joana bertanya, sebenarnya sebanyak apa Raskal minum sampai dia bisa mabuk separah ini. Bahkan, cowok itu tidak sadar bahwa cewek di hadapannya memang benar-benar Joana. Bukan wanita bernama Jinne yang seperti cowok itu kira. Tadi, setelah mengobrol panjang lebar dengan Raskal, wanita bernama Jinne itu langsung pergi meninggalkan Raskal. Joana yang hendak pulang bersama Reon memutuskan untuk mengantar pulang cowok itu saja.



“Lo … lo bener-bener mirip Joana, Jinne.”



Joana melirik Raskal sinis. “Kalau mirip, terus kenapa?” Raskal menegakkan tubuhnya. Dia mendekatkan pandangan pada cewek di sebelahnya. “Jadi cewek gue, ya.”



“Hah?” Mata Joana membelalak, tidak menyangka dengan permintaan Raskal barusan.



Raskal tersenyum miring. “Bahkan cara kaget kalian pun sama.”



“Maksud … maksud lo apa sih?”



“Kan tadi gue udah bilang sama lo kalau gue suka sama Joana. Tapi … tapi dia sukanya sama orang lain. Lagi pula, gue yang hancur ini nggak ada pantes-pantesnya buat suka sama dia. Jadi ... jadi lo aja. Lo aja yang jadi Joana buat gue. Ya? Mau, ya?” pinta Raskal dengan suara lemah.



Joana yang terlalu terkejut dengan pengakuan Raskal kontan hanya bisa menatap cowok itu dengan pandangan terbelalak dan jantung berdegup dua kali lebih cepat. Suka? Sejak kapan? Sejak kapan Raskal menyukainya? Kenapa dia tidak pernah tahu? Joana membatin.



“Raskal, gue—”



“Jadi Joana buat gue, Jinne! Lo harus mau!!!” teriak Raskal langsung, memotong ucapan Joana. “Pokoknya lo harus jadi Joana buat gue. Berapa pun harga lo bakal gue bayar,” rintih Raskal yang kemudian secara tiba-tiba menyerang Joana dan memaksa cewek itu masuk ke kamarnya.



Brakkk!



Ketika suara pintu kamar ditutup terdengar, pada saat itulah hujan turun. Petir menyambar bersahutan seolah mengiringi engahan embus napas dan juga jerit tangis. Mengiringi hebatnya pengaruh sebuah perkara salah paham dan rasa kehilangan. Sekarang semuanya seperti mempunyai ritme yang sama. Yang marah, yang sedih, yang datang, yang pergi, yang tercuri, dan yang akhirnya tersesali.


__ADS_1


Semuanya genap. Pada satu kesalahan yang mungkin tidak akan pernah bisa terampuni.


__ADS_2