Wedding With Converse

Wedding With Converse
Episode 6


__ADS_3

Jika memang kamu akan menjadi kehilangan-kehilanganku selanjutnya, di masa nanti, aku bahkan tidak bisa menduga seberapa lama aku akan menderita.



Seminggu setelah pengakuan mengenai kehamilannya pada Raskal, Joana memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Hanya untuk menghindari Raskal, kegiatan Joana sehari-hari hanya mengurung diri di kamar. Bagai mayat hidup, seminggu belakangan Joana mendadak kehilangan semangat hidup. Kondisi Joana tentu membuat seluruh anggota keluarganya panik. Berkali-kali ayah, ibu, dan kedua kakaknya menanyakan apa masalah yang tengah dialami cewek itu. Namun, Joana memilih bungkam. Bahkan ada satu hari di mana Damar, ayah Joana, membentak putri bungsunya. Tetap saja Joana diam. Dia sama sekali tidak mau membuka mulut hingga akhirnya seluruh keluarga Joana menyerah dan membiarkannya.



Raskal—walau sejujurnya sudah berada di ambang batas putus asa atau mungkin nyaris gila hanya untuk membujuk Joana bicara—masih tetap berkeras untuk membuat Joana mau membuka mulutnya. Seminggu ini, tepatnya saat pulang sekolah, Raskal selalu menyempatkan diri berkunjung ke rumah Joana. Meski setiap dia datang Joana selalu berteriak-teriak histeris menyuruhnya pergi, Raskal tetap setia menunggu cewek itu di halaman rumahnya. Sampai malam menjemput, sampai cowok itu nyaris tidak makan seharian, Raskal masih setia menunggu cewek itu keluar dari kamar dan memberikan penjelasan mengenai kabar kehamilannya tempo hari.





Walau berat menerima kenyataan itu, walau dia tidak siap dengan segala kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan nanti, dan walau dia takut dengan kemarahan keluarga Joana, nyatanya Raskal masih bertahan untuk memilih bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat. Dia sudah lama kehilangan sosok orangtuanya dari kecil. Sekarang, dia tidak mau kehilangan sahabat sekaligus orang yang dia sayangi lagi.



“Gue nggak sengaja, Vin. Sumpah gue nggak ada niat buat ngerusak dia,” jelas Raskal pada Gavin dengan suara dan raut wajah frustrasi. Gavin dan Reza hanya bisa menghela napas berat melihat keadaan Raskal yang berantakan. Jujur, ketika mendengar pengakuan Raskal setengah jam yang lalu, keduanya bingung ingin berkata apa. Untuk beberapa menit, Gavin dan Reza seperti kehilangan kata-kata.



“Gue takut, Vin, Ja. Gue takut,” rintih Raskal lagi sambil merenggut seluruh rambutnya yang kini sudah acak-acakan.



Gavin mengulurkan tangan dan menepuk-nepuk bahu Raskal. “Udah. Udah, Kal. Sekarang lo cuma harus ikutin apa yang gue bilang.”



Raskal mendongakkan kepalanya, menatap mata Gavin lurus-lurus. “Gue juga maunya begitu. Gue mau tanggung jawab. Gue siap kalau gue harus nikahin dia. Tapi, kalau kondisinya berbalik, dia yang malah maksa gue untuk nggak ikut campur dan milih pergi, gue harus apa? Gue harus gimana?”



“Lo dulu pernah cerita sama kita, awal mula lo sahabatan sama Joana itu karena Joana terus berusaha buat ngeyakinin lo buat jadi temen dia.” Reza kemudian saja ambil bicara, membuat Raskal kontan refleks menatapnya. “Kalau dia aja bisa, kenapa lo nggak? Sekarang giliran lo. Giliran lo yang harus ngeyakinin dia bahwa lo mau tanggung jawab.”



Raskal tersenyum kecut. Dia memalingkan wajah. “Gue nggak yakin gue bisa.”



“Lo nyerah?” tanya Gavin tajam.



Raskal menggeleng.



“Kalau gitu, lakuin apa yang Reza bilang tadi. Lakuin atau selamanya lo gue anggap pengecut,” tandas Gavin lagi, membuat Raskal tidak bisa membantah sama sekali.



***



Seperti yang disarankan Reza, sepulang sekolah Raskal kembali mengunjungi rumah Joana. Dia bertekad, hari ini harus berhasil bicara dengan Joana. Dia harus berhadapan dengan cewek itu entah bagaimana caranya. Meski harus mengendapendap masuk ke dalam kamar cewek itu lewat jendela, Raskal tidak mempermasalahkannya. Yang jelas, hari ini dia harus bertemu dengan Joana.



Maka, sesampainya di rumah Joana, berbekal satu paket piza dan berbagai macam jajanan yang disukai Joana, Raskal memulai aksinya. Setelah meminta izin terlebih dulu pada Givi, kakak kedua Joana, perlahan-lahan Raskal mulai memanjat tembok rumah Joana. Desain rumah keluarga Damar yang minimalis memudahkannya untuk memanjat dan menggapai jendela kamar Joana yang kebetulan terbuka.



Dari jendela, Raskal melihat Joana yang tengah memutar-mutar bola basket dengan keadaan jiwa yang tidak sepenuhnya sadar. Cewek itu terlihat murung dan pucat. Membuat Raskal yang melihatnya tak kuasa kembali diterjang rasa bersalah.



“Jo,” panggil Raskal yang sekarang sudah berdiri di depan jendela.



Joana tidak menjawab. Dia masih sibuk dengan bola basket hitamnya. Sepertinya cewek itu belum menyadari kehadiran Raskal.



“Joana, ini gue,” panggil Raskal lagi. Kali ini dengan suara yang membuat Joana menjatuhkan bola basketnya dan menoleh ke arah cowok itu.



Mulanya, Joana mengira bahwa hadirnya Raskal di kamarnya hanyalah ilusi semata. Mungkin tipu daya otaknya saja. Namun, begitu dia melihat senyum lemah Raskal, Joana langsung bangkit berdiri dengan raut wajah mengeras seperti tersengat listrik ribuan volt.



“Gimana caranya lo bisa masuk? Hah?” tanya Joana tajam. Matanya menatap nyalang Raskal yang kedua tangannya menenteng plastik belanja.



Raskal menghela napas. “Lo lupa? Ini bukan pertama kalinya gue masuk kamar lo dari jendela. Nih, gue bawain makanan kesukaan lo. Lo makan, ya.”



“Keluar!” seru Joana, sama sekali tidak memedulikan ucapan Raskal barusan.

__ADS_1



“Gue bawain piza kesukaan lo,” kata Raskal lagi seraya menghampiri Joana yang saat ini berdiri di sudut kamar.



“Gue bilang keluar!” bentak Joana akhirnya. “Gue nggak mau ketemu sama lo!”



Kaget dengan Joana yang tiba-tiba saja berteriak histeris, Raskal refleks membungkam cewek itu dengan cara membawanya ke dalam pelukan. Joana berontak hebat, tapi Raskal menahan sekuat tenaga hingga membuat Joana tidak bisa berkutik lagi.



“Gue salah, Jo. Gue tahu gue salah,” ucap Raskal lirih. “Gue tahu kalau minta maaf aja nggak cukup. Gue bakal tanggung jawab. Gue nggak bakal ninggalin lo gitu aja.”



Di dalam pelukan Raskal, sekali lagi Joana menangis keras-keras. Cewek itu meledakkan seluruh emosi yang seminggu ini selalu dia tahan mati-matian.



“Lo jahat, Kal. Lo brengsek!” maki Joana dengan isakan tangisnya. “Lo nggak tahu seberapa hancurnya gue sekarang? Hah?! Gue bingung harus gimana. Gue belum siap punya anak. Lo brengsek, Kal! Sialan!”



Raskal mengendurkan pelukannya sedikit untuk menatap mata Joana. Namun, bukannya balas menatap, Joana malah memalingkan wajah.



“Sekarang lihat gue! Gue lihat mata lo aja nggak bisa. Gue malu, Kal! Setelah kejadian malam itu, sejujurnya gue malu kalau ketemu lo! Gue selama ini tersiksa dengan rasa malu gue sendiri. Hati gue selalu bilang, gue udah kotor. Gue udah nggak berharga. Gue rusak!” jerit Joana tidak tahan. Air matanya kembali merebak.



“Jo, dengerin gue,” Raskal memegang kedua bahu Joana kuat-kuat, “gue bakal tanggung jawab. Sumpah demi Tuhan gue bakal tanggung jawab!” seru Raskal tegas dan yakin.



Joana menyentakkan tangan Raskal dari bahunya. “Tanggung jawab dengan cara apa?! Emang kalau lo tanggung jawab, semua bakal buat gue balik kayak semula?! Apa dengan lo tanggung jawab, lo bisa bisa bikin gue normal lagi?! Hah?!” Raskal ternganga. Tubuhnya mendadak beku ketika mendengar kata demi kata Joana. Lebih dari sekadar tertohok, kalimat tadi sanggup membuat Raskal limbung. Membuat cowok itu langsung kehilangan seluruh tenaganya. Jadi, begitu tangan Joana menarik tangannya secara paksa hingga keluar dari kamarnya, Raskal tidak bisa lagi berontak.



Brak!



Suara nyaring pintu kamar yang ditutup Joana terdengar hampa di telinga Raskal. Sangat hampa sampai-sampai dia merasa tidak mendengar apa-apa selain suara detak jantungnya sendiri.



Dia membuat Joana kehilangan kehormatannya. Dia membuat Joana kehilangan masa remajanya.




Semua pemikiran itu semakin membuat Raskal gila. Semakin membuat laki-laki itu terus-menerus diterjang rasa bersalah berkali-kali di dalam hatinya.



Raskal jatuh tersungkur di depan pintu Joana. Layaknya anak kecil, Raskal melipat kedua kakinya dan menangis di antara lekukan lututnya.



***



Hampir dua jam Raskal duduk diam depan pintu kamar Joana. Orangtua dan kakak-kakak Joana sudah berulang kali mengingatkannya agar pulang saja berhubung hari sudah mulai malam. Namun, Raskal tetap tidak bergerak dari tempat. Cowok itu bersikeras menunggu Joana keluar dari kamar.



“Sebenarnya kamu sama Joana itu ada masalah apa sih?” tanya Damar setelah laki-laki paruh baya itu menegur Raskal untuk pulang.





Raskal menoleh, menatap Damar yang kini berdiri tidak jauh. Dari raut wajahnya yang lelah, laki-laki yang selama ini sudah dia anggap seperti ayah sendiri itu terlihat mengkhawatirkan sekali kondisi Joana yang tidak mau diajak bicara. Mengetahui keadaan itu, Raskal tak kuasa memaki dirinya sendiri dalam hati. Kalau saja Damar tahu yang menyebabkan putrinya jadi seperti ini adalah dirinya, orang yang seharusnya menjaga Joana, mungkin Damar akan langsung membunuh Raskal saat itu juga.



Raskal menelan ludahnya susah payah. Lalu, dengan susah payah pula dia menyunggingkan senyum tipis pada Damar sambil menggelengkan kepalanya pelan. “Cuma berantem biasa kok, Om. Kasih waktu saya sebentar lagi ya buat ngomong sama Joana.”



Damar mengembuskan napas keras. “Ya sudah. Tapi, kalau sampai satu jam Joana masih nggak mau keluar kamar juga, kamu pulang aja.”



Raskal mengangguk. “Iya, Om. Makasih.”



Selepas Damar pergi, Raskal kembali mengetuk-ngetuk pintu kamar Joana sambil memanggil cewek itu agar keluar dari kamarnya. Namun, tetap sama, panggilannya diabaikan begitu saja. Tidak ditanggapi sama sekali oleh Joana.

__ADS_1



“Sepuluh tahun lalu, lo masih inget kan awal kenapa kita bisa jadi sahabat? Padahal, waktu itu gue jelas-jelas selalu nolak kehadiran lo berulang kali. Tapi, lo masih aja keras kepala buat jadi temen gue. Malah, pakai bilang segala kalau lo adalah kado ulang tahun gue saat itu,” kata Raskal kemudian. “Gue ini anak aneh, autis, dan malah pernah divonis bakal jadi gila sama orang-orang karena selama tujuh tahun hidup gue hampir nggak pernah punya temen. Tapi, lo seakan nggak peduli itu. Dengan begonya lo yakin kalau gue nggak seperti orang-orang pikirin. Tolol!”



Di dalam kamar, ketika mendengar penjelasan Raskal dari balik pintu, Joana tak kuasa menahan emosinya. Cewek itu menggigit bibirnya kuat-kuat—mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh.



“Kalau aja … kalau aja lo nggak keras kepala, kalau aja lo nggak terus bertekad jadiin gue sahabat lo, dan kalau aja lo biarin gue sendirian, mungkin keadaannya nggak bakal kayak gini. Lo nggak bakal hancur karena gue, Jo.”



Hening. Raskal tidak lagi melanjutkan omongannya dan lebih memilih diam. Bukan karena sekarang kepalanya terasa mau pecah atau dadanya yang perlahan-lahan bertambah sesak hingga dia susah bernapas, melainkan karena Joana yang sama sekali tidak terpengaruh akan penjelasannya tadi. Meski tidak mudah harus kembali mengungkit-ungkit luka lama, Raskal tetap menggunakan penjelasan tadi sebagai harapan terakhir untuk membuka hati Joana. Dengan harapan, cewek itu mau memberinya kesempatan memperbaiki kesalahan serta bertanggung jawab atas segala masalah yang telah dia timbulkan. Namun, ketika disadarinya penjelasan itu tidak juga dihiraukan Joana, Raskal yakin kalau sekarang dia tidak lagi memiliki kesempatan apa-apa.



“Selama hidup, gue hampir nggak pernah ngerasa putus asa seperti ini. Walaupun begitu—sama seperti lo dulu—gue nggak akan pernah nyerah. Gue akan selalu ngejar lo ke mana pun lo pergi. Gue akan selalu ada di sisi lo sekalipun lo nggak mau lihat gue. Gue akan ngelakuin apa pun sampai lo bisa nerima kehadiran gue lagi, bagaimanapun caranya. Gue nggak bakal biarin lo hancur sendiri, Jo. Nggak akan!” seru Raskal dengan penuh penekanan.



Tepat saat Raskal bangkit berdiri, Joana tahu-tahu saja membuka pintu kamar dan menarik lengan Raskal. Membuat cowok itu langsung berhadapan dengannya lagi. Ketika berpandangan, tatapan Raskal mungkin gamang. Tapi, Joana masih mempertahankan tatapannya yang nyalang.



“Cariin gue klinik aborsi. Itu satu-satunya jalan yang kita punya,” kata Joana langsung. Raskal ternganga ketika mendengarnya, namun cewek itu tidak peduli. Jika dia mau menyelamatkan masa depannya dan masa depan cowok di hadapannya ini, dia harus menyingkirkan janin yang ada di dalam perut secepatnya.



“Nggak! Sebrengsek-brengseknya gue, gue nggak bakal mungkin bunuh anak gue sendiri!” tolak Raskal mentah-mentah. Dari raut wajahnya yang keras, kentara sekali dia amat tidak menyangka dengan ide yang diusulkan Joana.



Joana memutar bola mata. Takut pembicaraan mereka terdengar oleh keluarganya, Joana menarik Raskal ke kamar lagi, lalu mengunci pintunya dari dalam.



“Dia masih darah, Kal. Belum jadi manusia!” lanjut Joana berapi-api.



Raskal menggeleng-gelengkan kepala. “Nggak akan, Jo! Udah cukup gue tersiksa karena merasa bersalah sama lo. Gue nggak akan mungkin nambah rasa penyesalan gue lagi dengan ngebiarin anak kita mati!”



Joana terduduk lemas. Satu tangannya mengacak-acak rambut. Raskal yang melihatnya langsung tanggap untuk membawa tubuh cewek itu ke dalam pelukan.



“Gimana kalau bokap nyokap gue tahu, Kal? Gimana kalau temen-temen kita tahu? Gimana kita bisa hidup setelah ini?” gumam Joana dengan pandangan kosong. “Kita bahkan belum lulus SMA.”



Raskal meneguk ludahnya susah payah. Membayangkan perkataan Joana tadi tak kuasa membuat perutnya mual. Meski dituntut tenang agar bisa mengendalikan emosi Joana juga, sejujurnya Raskal juga ketakutan. Dia bingung, jika masalah ini diketahui oleh keluarganya ataupun keluarga Joana, apa yang harus dia katakan? Apa yang harus dia jelaskan?



“Kalau kita nikah, apa kita mampu jalanin kehidupan ini sendiri? Ngerjain tugas sekolah aja kadang kita masih ngeluh, Kal. Gimana kita ngehadepin cemoohan orang? Ejekan temen-temen kita sendiri? Gimana kita—”



“Enggak perlu ada ‘kita’,” potong Raskal tiba-tiba, membuat Joana menoleh untuk menatapnya. “Kalau lo emang nggak siap dengan semua risiko itu, nggak perlu ada ‘kita’. Cukup gue aja. Cukup gue yang nanggung.”



Joana mendengus. “Oh, ya? Gimana caranya?”



Raskal menguraikan pelukannya. Dia tatap mata Joana lekat-lekat. “Kita nikah. Gue bakal lamar lo secepatnya. Selama nunggu lo lahiran, lo terpaksa cuti sekolah dulu. Setelah itu, biar anak ini jadi urusan gue. Dan lo … terserah lo mau terus tinggal sama gue atau,” lagi-lagi Raskal meneguk ludahnya susah payah, “atau pergi.”



Joana tertegun. Dia menyorotkan pandangan tak percaya pada Raskal. Sementara Raskal malah tersenyum lemah pada Joana sambil mengulurkan satu tangannya ke kepala Joana dan mengusap-usap kepala sahabatnya itu pelan.



“Gue salah. Gue brengsek. Gue udah ngerusak lo. Mana mungkin gue bisa lebih egois dari itu? Biar ini jadi masalah gue aja. Oke?”



Air mata Joana yang sedari tadi ditahan akhirnya menetes juga. Dia sedih, tapi juga marah. Saat ini dia bingung harus bagaimana. Tidak pernah dia bayangkan bila bayang-bayang masa depan bisa semengerikan ini untuknya.



“Sebenarnya apa alasan lo ngelakuin itu? Waktu itu setengah mati gue udah berontak. Semabuk apa pun lo, seharusnya lo bisa ngenalin gue dan langsung berhenti,” Joana berkata dengan nada lirih. Tatapannya memandang kosong tembok kamarnya.



Raskal memilih tidak menjawab. Alasan sebenarnya dia melakukan hal itu memang sebagian besar karena saat itu dia kehilangan kendali akibat mabuk. Tapi, di sisi lain, sebelum dia melakukan itu, sejujurnya dia telah mengenali Joana. Namun, entah ada setan apa yang masuk ke dalam diri Raskal hingga membuat dia lupa diri dan menanggalkan logika. Yang Raskal pikirkan waktu itu hanya satu—Joana harus menjadi miliknya. Bagaimanapun caranya.



Raskal bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju pintu kamar. Sebelum dia melangkahkan kakinya keluar, Raskal kembali mengatakan sesuatu pada Joana.


__ADS_1


“Gue bisa kehilangan apa pun. Apa pun, selain lo.”


__ADS_2