Wedding With Converse

Wedding With Converse
Episode 3


__ADS_3

Semisal memang hal-hal yang kugenggam dengan seluruh hati justru lebih mudah untuk pergi, selamanya aku akan mencoba tahu diri. Untuk tidak lagi menatapmu, tidak lagi berbicara denganmu, dan tidak lagi tertawa denganmu. Ya, akan kuusahakan. Bahkan jika memang harus kusinggahi tempat-tempat jauh agar bisa menghindarimu, juga akan kulakukan. Aku tidak mau bertemu denganmu. Sekalipun dalam mimpi. Karena aku tidak pernah siap…. untuk ditinggal pergi oleh orang yang kucintai sekali lagi.



Tiga minggu berlalu. Selama itu pula Joana menghindarinya. Berulang kali Raskal ingin menemui cewek itu, entah di rumah atau di sekolah, tapi ujung-ujungnya Joana selalu menolak bertemu dengannya. Jangankan bertemu, melihatnya barang sebentar saja cewek itu tidak mau. Hal itu kontan membuat Raskal jadi serba salah. Dia bingung harus berbuat apa lagi untuk menyikapi Joana yang sedang marah seperti ini. Padahal Raskal paham betul, Joana itu bukan tipe orang yang bisa marah lama-lama. Apalagi dengannya. Tetapi, sekarang Raskal tahu kondisinya berbeda. Kesalahannya pada cewek itu terlampau besar dan fatal. Jadi, wajar saja bila sekarang cewek itu membencinya setengah mati.



“Tuh anak sebenarnya kenapa sih?” tanya Gavin pada Reza. Dia menunjuk dengan gerakan dagu pada Raskal yang tengah bersandar di tembok belakang sekolah.



Reza mengangkat bahu. “Enggak tahu. Yang jelas sih tuh anak berubah semenjak kejadian malam tahun baru itu.”



“Ck! Ganteng-ganteng bloon,” umpat Gavin seraya menenggak air mineralnya.



Reza terkekeh. “Namanya juga cinta.”



“Gara-gara cinta sialan itu kita semua kena imbas. Nih, lihat aja, bentar lagi juga tuh anak ngomel-ngomel,” tebak Gavin saat melihat Roni, adik kelas mereka—yang tadi disuruh Raskal untuk membeli Coca-Cola—membawa sekaleng Fanta. Kelihatannya mungkin hanya kesalahan kecil. Tetapi, untuk keadaan hati Raskal yang semrawut seperti sekarang, Gavin seratus persen yakin sebentar lagi Roni akan jadi bulanbulanan Raskal.



Benar saja, ketika Roni memberikan Fanta pada Raskal, emosi cowok itu langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Yang tadinya diam dan dingin, Raskal jadi mendadak garang.



“Apa perlu gue beli mic berikut sound system-nya cuma buat nyuruh lo doang? Hmm?” tanya Raskal dengan nada yang sengaja dibuat kalem. Satu tangannya menyanggah dagu Roni yang kini sibuk menunduk ketakutan. “Gue pikir suara gue tadi udah cukup keras buat nyebut Coca-Cola! Coca-Cola, Roni!!! Co-ca-co-la!!! Bukan Fanta, Goblok!”



“Ma-maaf, Kak. Saya … saya.…”



“Saya apa?! Ngomong aja masih gagu berlagak mau masuk tongkrongan! Cih!” ketus Raskal lagi sambil menoyor kepala Roni hingga cowok itu terjatuh meringkuk ke tanah.



“Maaf, Kak. Saya beli lagi minumannya ya, Kak,” ucap Roni sambil berlutut di hadapan Raskal.



“Nggak perlu. Sekarang perintah berubah.”



“Apa … apa tuh, Kak?”



“Beliin gua satu toples cokelat ayam jago, cokelat payung, sama permen karet Yosan,” ucap Raskal enteng seraya melayangkan dua lembar seratus ribuan pada Roni. “Gue kasih waktu satu jam dari sekarang. Kalau nggak dapet, lo beserta temen-temen lo bakal kena hukuman dari gue. Ngerti?”



“Tapi … tapi, Kak, saya nemuin semua jajanan itu di mana?” tanya Roni takut-takut.



“Di mana kek! Cari di pasar kek! Di agen permen kek! Terserah lo! Asal nggak cari di toko material aja.” Raskal terkekeh. “Lo mau gue anggep, kan?”



Roni mengangguk cepat. “Mau … mau, Kak.”



“Ya udah, sana pergi! Cepet!!!”



“Iya, Kak!” seru Roni sebelum akhirnya dia berlari terbiritbirit keluar area sekolah, meninggalkan Raskal yang saat ini tengah tertawa-tawa sendiri.



“Kayaknya ada yang lagi puas banget nih abis ngerjain bocah,” sindir Gavin yang baru saja menghampiri Raskal, membuat Raskal menghentikan tawanya.



Raskal berdeham. Dia mengeluarkan sebatang rokok dari saku celana. “Kalau bakal diterusin sama yang model-model tempe begitu, hancur sekolah ini pas kita lulus.”



“Yoi! Nggak bagus tuh! Nggak bagus!” sambung Reza sambil menyodorkan korek pada Raskal.



Gavin berdecak. “Ya jelas tempelah. Orang sistem pendidikan awalnya aja nyuruh mereka jadi babu begitu.”



Raskal terdiam. Kekehan dan raut wajah tengilnya mendadak lenyap. Pergerakan tangan yang mulanya hendak membawa rokok ke mulutnya mendadak terhenti. Omongan Gavin tadi secara tak sengaja telah membangunkan macan tidur dalam diri Raskal.



“Maksud lo ngomong gitu apa?” tanya Raskal dengan nada menusuk. Gavin menjawabnya hanya dengan tawa mendengus.



“Cukuplah, Kal. Jangan kayak anak kecil. Kalau ada masalah, ya bilang. Nggak usah sampai anak orang dijadiin pelampiasan. Lo pikir emak bapaknya nyekolahin itu anak buat jadi pembantu apa?”



Raskal tergelak. Tidak menyangka mendengar ucapan setajam itu dari mulut kawan karibnya sendiri. “Lo nggak lagi teler kan, Vin? Masih pagi nih! Jam sembilan aja belom.”



“Yang teler tuh elo, Kal,” ujar Gavin dengan nada serius, membuat Raskal menghentikan tawanya sekali lagi. Sementara Reza, cowok itu menghela napas panjang. Dia yakin benar, setelah ini kedua temannya itu pasti akan ribut besar. Reza yang berada di pihak tengah pasti bakal kerepotan untuk menyatukan keduanya lagi.



“Kok lo nyolot?”



Gavin tersenyum miring. “Lo yang bikin gue muak!”



Bug!



Satu jotosan kuat menghantam rahang Gavin tepat setelah dia meluncurkan kalimat terakhirnya. Raskal yang melakukan itu. Bukannya melawan, Gavin malah membiarkan Raskal terus memukulinya bertubi-tubi. Reza pun ikut membiarkan pemukulan itu. Bukan apa-apa, tadinya Reza memang ingin melerai. Namun, setelah melihat sorot mata Gavin saat menatap Raskal yang berbeda dari biasanya, dia tahu kalau temannya itu memang berniat memancing amarah Raskal. Memancing cowok itu untuk melepas bungkamnya tiga minggu terakhir ini.



“Brengsek lo, Vin! Bangsat!” maki Raskal setelah dia meluncurkan tendangan terakhirnya di perut Gavin, membuat cowok itu terpental beberapa meter dari tempatnya berdiri tadi.



Gavin terbatuk-batuk. Darah keluar dari mulutnya beberapa kali. Namun, cowok itu tetap menyunggingkan senyum seringai pada Raskal. “Udah marah-marahnya? Puas nggak? Hah?!”

__ADS_1



Raskal menjenggut seluruh rambutnya, frustrasi. Tanpa memedulikan Gavin, cowok itu meluruhkan tubuhnya ke tembok belakang sekolah. Kepalanya dia tenggelamkan di sela-sela lekukan kedua lututnya.



“Karena lo udah bikin gue bonyok sana-sini, jadi … jadi boleh dong gue tanya … lo itu sebenarnya kenapa?” tanya Gavin putus-putus. Cowok itu sekarang sudah duduk di sebelah Raskal.



Raskal bergeming. Dia tidak menjawab pertanyaan Gavin.



“Jangan dipaksa. Pelan-pelan aja,” bisik Reza pada Gavin. Gavin mengangguk. “Gue tinggal ambil obat merah dulu di UKS.”



Selepas Reza pergi, kini di belakang sekolah tinggalah Gavin dan Raskal. Keduanya masih bungkam sampai akhirnya Gavin kembali membuka percakapan.



“Kalau tahu ujungnya bakal kayak gini, harusnya waktu MOS gue nggak perlu ngajak lo kenalan. Harusnya gue nggak boleh temenan sama lo kalau cuma buat ngerusak lo doang,” ucap Gavin lirih. “Anak yang nggak punya masa depan kayak gue harusnya cukup tahu diri buat nggak deketin lo.”



“Diem! Nggak usah banyak bacot!” maki Raskal. Dia tak tahan ketika mendengar omongan Gavin barusan.



Gavin tertawa sumbang. “Gara-gara gue, nilai sekolah lo turun. Gara-gara gue, lo yang tadinya mungkin nggak suka keluar malam malah jadi jago trek-trekan. Gara-gara gue, lo jadi ikut keseret kasus sekolah sana-sini. Dan … gara-gara gue juga lo ikut ‘make’. Sorry, Kal. Maaf gue udah seenaknya nyeret lo ke dalam lingkaran setan sialan ini.”



Raskal melirik Gavin. Di tengah-tengah kucuran darah di pelipisnya, dia bisa melihat ada air mata yang melebur di sana. “Diem lo! Nggak pernah sekali pun gue nyalahin lo atas semua ini, Vin!”



Gavin tertawa sekali lagi. “Gue paham lo, Kal. Gue ngerti karena masalah yang lo alami itu nggak beda jauh sama apa yang gue alami. Tapi, bukan berarti gue mau nasib lo sama kayak gue. Lo yang punya masa depan cerah nggak seharusnya disandingkan sama gue yang bahkan nggak tahu mau jadi apa nanti.”



Raskal terdiam. Dia mengepalkan dua tangannya kuatkuat.



“Lo baru ‘make’ beberapa kali. Masih ada peluang buat lo berhenti. Jadi, gue mohon lo jangan ‘make’ lagi. Kalau lo ada masalah dan butuh pelampiasan, kapan pun lo bisa mukul gue. Gue siap jadi samsak.”



“Nggak gitu, Vin. Nggak gitu!”



“Cukup gue aja, Kal. Cukup gue aja yang hancur,” kata Gavin pelan seraya menepuk-nepuk bahu Raskal. “Lo pinter. Lo bisa jadi apa yang lo mau. Buktiin ke nyokap bokap lo yang udah ninggalin lo itu, buktiin ke Joana, buktiin ke gue kalau suatu saat nanti lo bisa jadi ‘orang’.”



“Sial! Lo ngomong kayak gini seolah-olah kayak mau mati besok tahu nggak!” seru Raskal kesal.



Gavin terkekeh geli. “Ya … siapa tahu aja. Jadi, seenggaknya gue nggak perlu capek-capek nulis surat wasiat.”



Raskal menghela napas panjang. Dia melirik Gavin lagi. Mungkin ada baiknya bila dia mengakui masalahnya pada sahabatnya ini. “Gue nggak sengaja nidurin Joana, Vin.”



Tidak seperti dugaannya yang mengira Gavin akan menjerit heboh, reaksi cowok itu ketika mendengar pengakuannya malah hanya tertawa dan berkata, “Akhirnya lo terbukti bukan gay, Kal.”




“Kalau dia mau ninggalin lo, biarin aja. Jangan ditahan. Itu hak dia. Tapi, lo jangan. Buktiin sama dia kalau lo nggak sebrengsek apa yang dia kira.”



Raskal mengangguk-angguk. Dia menyunggingkan senyumnya pada Gavin. “Makasih ya, Vin.”



“Alah, lo kayak sama siapa aja sih!” Gavin cengengesan.



“Makasih udah jadi temen gue,” kata Raskal tulus. Gavin menyambutnya dengan anggukan pelan.



“Pokoknya, kalau ada apa-apa, cerita.” “Iya, Pak. Siap!”



Tidak lama setelah itu tahu-tahu Reza muncul dengan membawa kotak P3K dan sekantong gorengan. Melihat kedua temannya sudah berbaikan, Reza langsung menyunggingkan senyum jailnya.



“Cie yang udah baikan! Mesra banget sih! Dari jauh kelihatan kayak Aliando Prilly deh!” seru Reza keras-keras yang langsung disambut timpukan kaleng dari Raskal.



***



Selepas bel pulang sekolah berbunyi, buru-buru Raskal keluar dari kelas dan berlari menuju kelas Joana. Setelah menceritakan semua masalahnya pada Gavin dan Reza tadi, dengan perasaan yang sedikit lega, Raskal memantapkan hatinya untuk berusaha menemui Joana kembali. Ini salahnya, tanggung jawabnya. Jadi, wajar bila sekarang dia harus sedikit merendahkan ego dan harga dirinya untuk meminta maaf pada Joana.



“Shin, Joana masih ada di kelas nggak?” tanya Raskal begitu dia bertemu Shinta di depan koridor sekolah.



“Again, again, again! Kenapa sih lo kalau ketemu gue nanyainnya Joana mulu?” nyinyir Shinta sambil memutar bola matanya sebal.



Raskal berdecak malas. “Ya … kan lo temennya.”



“Tapi, kan nggak setiap detik juga dia sama gue, Raskal! Dia masih ada tuh di dalem. Lagi ngurung diri. Lagian lo apain dia sih sampai-sampai dia kayak nggak punya semangat hidup begi—”



“Oke. Manks!” Raskal memotong paksa omongan Shinta tadi, membuat cewek itu langsung mencibir kesal.



Setelah bersusah payah menyeruak lalu-lalang siswa yang hendak pulang di koridor sekolah, akhirnya Raskal sampai juga di depan kelas Joana. Namun, belum juga sempat Raskal menghampiri cewek itu, langkahnya keburu tertahan kala dia melihat Reon lebih dulu menemui Joana. Tidak seperti ketika bertemu dengannya, di mana Joana akan langsung berubah dingin dan garang, cewek itu terlihat hangat. Meski Raskal tahu, demi terlihat baik-baik saja di depan Reon, cewek itu bahkan memaksakan senyumnya mengembang. Kenyataan itu tanpa sadar membuat Raskal jadi ragu. Dia jadi kembali merasa kecil.



“Tapi, dia nganterin lo pulang, Kal. Dia lebih milih nganterin lo daripada Reon. Ya … dia lebih milih lo,” Raskal membatin, berusaha meyakinkan dirinya sekali lagi.

__ADS_1



“Akhir-akhir ini gue jarang lihat lo bareng Raskal. Pangeran lo itu ke mana?” tanya Reon pada Joana. Kondisi kelas yang kosong membuat gema suaranya terdengar hingga ke telinga Raskal yang kini masih berdiri di belakang pintu.



“Ke laut kali. Udah deh nggak usah bahas-bahas dia lagi. Males gue dengarnya,” jawab Joana kemudian.



“Lagi marahan ya lo berdua? Kenapa?”



“Sekali lagi lo nanya soal dia, gue nggak bakal mau dianterin pulang sama lo!” ancam Joana ketus.



Reon terkekeh pelan. “Sebenarnya sih gue masih sakit hati soal lo yang lebih milih nganterin dia pulang pas malam tahun baru itu. Tapi, setelah itu, keadaannya berbalik. It’s okay. Gue mencoba ikhlas.”



Joana mendengus. “Kalau aja waktu bisa diulang, gue nggak bakal mau nganterin dia pulang. Nyesel gue!”



“Ya udah. Sekarang kita balik, yuk. Katanya mau anterin gue beli kostum basket dulu. Nanti keburu tutup tokonya,” Reon mengalihkan pembicaraan.



Joana menghela napas. Setelah mencangklongkan tas ransel ke punggung, cewek itu berjalan beriringan bersama Reon keluar kelas. Ketika melintasi pintu, keduanya langsung berpapasan dengan Raskal. Selama beberapa saat, ketiganya hanya saling tatap. Joana dengan tatapan nyalangnya, Reon dengan tatapan tengilnya, dan Raskal dengan tatapan frustrasinya.



“Gue mau ngajak Joana nge-date hari ini. Nggak apa-apa, kan?” tanya Reon, memecah sunyi yang mulai melingkari ketiganya.



Raskal tidak menjawab pertanyaan Reon. Dia hanya terdiam di tempat sambil terus menatap Joana lekat-lekat.



“Minggir!” titah Joana pada Raskal.



Raskal masih membatu. Tidak bergerak satu senti pun dari tempatnya berdiri. Hal itu tentu membuat Joana kesal. Jadi, tanpa memedulikan tatapan cowok di hadapannya, cewek itu langsung mendorong bahu Raskal, menyingkirkannya paksa dari hadapan.



“Kita duluan, ya! Bye!” kata Reon sebelum akhirnya dia dan Joana pergi meninggalkan Raskal sendirian.



Ketika Joana dan Reon sudah menjauh, Raskal masih berdiri di tempat. Kekuatan cowok itu seperti mendadak runtuh kala tidak sengaja mendengar percakapan Joana dan Reon barusan. Dia jadi merasa bodoh ketika mengingat betapa yakinnya dia akan Joana yang lebih memilihnya daripada Reon.



Raskal tertawa pahit. Ketika sudah begini, apa masih ada harapan baginya untuk tidak ditinggal pergi lagi?



***



Saat pintu apartemennya terbuka, Raskal kembali diberi pemandangan yang selalu dia lihat sehari-hari. Sepi dan sunyi. Begitulah keadaan apartemen yang sebenarnya bisa ditempati empat sampai enam orang ini. Tetapi, boro-boro enam orang, jika dirinya tidak pulang, apartemen ini mungkin jauh lebih sepi dari taman pemakaman.



Raskal menghela napas pendek. Setelah menutup pintu dan menaruh tas ransel ke sembarang tempat, dia lantas melempar tubuhnya ke sofa ruang tamu dan memejamkan mata. Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Harusnya—seperti anak normal lain—dirinya sudah tidur di kamar. Nyatanya, dia tidaklah sama dengan keadaan anak-anak normal lain. Keadaan hidupnya jauh dari kata normal dan bisa dibilang berantakan.



Ayah ibunya bercerai saat Raskal kelas tiga SD. Tak lama setelah itu, mereka memutuskan untuk menjalin hubungan dengan yang lain lagi. Ayahnya dengan wanita hasil perjodohan kakek-neneknya dan ibunya dengan teman laki-lakinya. Kejadian itu memaksa Raskal tinggal dengan pengasuhnya yang biasa dipanggil Budhe Yun—waktu itu kedua keluarga orangtuanya tidak ada yang mau menerima kehadirannya. Bukan apa-apa, dulu orangtuanya menikah tanpa didasari restu kedua keluarga. Maka, tidak usah ditanya jika dari kecil dia sudah biasa sendirian. Apalagi setelah ayahnya memutuskan untuk tinggal di Bogor dan ibunya ke Bandung. Raskal jadi semakin mengerti kalau dia harus kuat-kuat untuk mulai belajar hidup sendiri. Beruntung waktu itu masih ada keluarga Joana yang mau ikut merawatnya. Ayahnya Joana, Om Damar, bahkan telah menganggapnya seperti anak sendiri. Jadi, dia tidak terlalu merasa menderita ketika pada akhirnya Budhe Yun dinyatakan sakit parah dan terpaksa tidak bisa merawatnya lagi.



Namun, sekarang dia melakukan kesalahan fatal. Kesalahan yang bukan hanya akan membuat Joana pergi dari hidupnya, tetapi juga akan menjauhkan keluarga Joana yang juga sudah dia anggap seperti keluarganya sendiri.



Raskal bangkit dari sofa, lalu melangkah ke arah dapur untuk mengambil minuman di kulkas. Seraya menenggak air mineral, Raskal mengedarkan pandangan ke seluruh sudut apartemen. Seperti dirinya, keadaan apartemen yang dibelikan oleh ayahnya ini sangat berantakan. Bungkus-bungkus rokok, kaset-kaset, dan baju-baju kotor bertebaran di sana-sini. Bekas tempat mi instan juga dibiarkan tergeletak di meja televisi. Aroma alkohol pun begitu menyengat di apartemen yang— seharusnya—terlihat mewah dan rapi ini.



Mendadak kepala Raskal terasa pening. Pikiran dan hatinya yang semrawut rupanya membuat tubuhnya jadi ikutikutan melemah. Raskal lalu beranjak ke sudut dapur. Sekali lagi meringkuk di sana.



Dalam hening apartemen, Raskal kembali memikirkan keadaan hidupnya yang makin lama malah makin kacau. Dia berpikir, jika hidupnya terus berantakan seperti ini atau malah jauh lebih parah, ke depannya dia mau jadi apa? Mau sampai kapan dia lari-lari, cari kesenangan sana-sini, membunuh waktu, meniadakan sepi? Mau sampai kapan dia hura-hura? Memangnya dia akan terus mengandalkan uang pasokan dari orangtuanya saja? Di depan sana, mau tak mau, dia akan mempunyai kehidupannya sendiri. Dia akan punya keluarga yang pasti harus dia hidupi.



Raskal tertawa mendengus. Ternyata omongan Joana tiga minggu lalu dan juga omongan Gavin tadi pagi benar-benar membuatnya tertohok. Benar-benar membuatnya berpikir kalau tidak seharusnya dia menjadikan keadaan keluarga yang kacau sebagai alasan untuknya ikut kacau juga.



“Cih! Sebenarnya gue kenapa sih?” desis Raskal lirih ketika secara tak sengaja dia menyadari bahwa sekarang dia jadi memikirkan apa-apa yang tidak pernah dia pikirkan.



Drt … drttt … drrrttt!



Ponselnya yang dia letakkan di meja ruang tamu tibatiba saja bergetar lama, tanda panggilan masuk. Buru-buru Raskal mengambil ponselnya di sana. Joana. Kening Raskal mengerut. Dalam hati dia bertanya-tanya, untuk apa Joana meneleponnya di dini hari seperti ini.



“Halo, Jo?” sahut Raskal begitu dia mengangkat teleponnya. Namun, bukannya menjawab, Raskal malah mendengar suara isak tangis dari ujung sana. Hal itu kontan membuatnya panik. “Jo, lo kenapa nangis? Bilang sama gue.”



“Kal … Kal, gue … gue—” Joana berkata dengan suara putus-putus karena tangis.



“Lo kenapa, Jo? Bilang aja sama gue … lo kenapa?” cecar Raskal, mulai geregetan dengan Joana yang tidak kunjung menjawab pertanyaannya.



“Gue hamil, Kal.”



Seiring tanya itu terjawab, Raskal roboh. Ponsel yang tadi dia genggam erat-erat tadi ikut jatuh dan terlempar ke lantai. Suara Joana masih terdengar dari sana, namun Raskal enggan menjawab. Saat ini, pada detik ini, seluruh tenaga Raskal seperti hilang entah ke mana.



***



Di dalam kamar mandi kamarnya, Joana menggenggam sebuah alat tes kehamilan dengan tangan gemetar. Terdapat dua garis yang menandakan ada seorang calon manusia di perutnya. Karena benda itu, dia hampir tidak keluar kamar semalaman penuh. Dia bahkan tidak makan atau mengerjakan tugas sekolah cuma karena ketakutan. Kemarin-kemarin, dia memang muntah-muntah dan mual. Namun, dia mengira hanya masuk angin. Hanya sakit biasa. Bukan malah hamil seperti ini.


__ADS_1


“Sialan! Raskal sialan!” maki Joana pelan bersamaan dengan isak tangisnya yang terus menggema.


__ADS_2