Wedding With Converse

Wedding With Converse
Episode 4


__ADS_3

Kamu sudah menjadi segala hal vital yang ada dalam hidupku. Yang jika hilang satu saja, kamu mempunyai potensi untuk membunuhku.



Raskal Joana, 10 tahun lalu



Ibu Guru! Raskal nakal! Raskal mukul aku!” jerit Bino dengan isak tangisnya yang semakin hebat. Sambil menunjuk-nunjuk Raskal yang sedang melihatnya tajam-tajam, anak laki-laki bertubuh gemuk itu terus merengek pada Bu Masri, wali kelasnya, untuk menghukum Raskal karena telah memukulnya hanya karena dia bilang Raskal tidak mempunyai orangtua.



“Raskal, kamu apakan Bino?” tanya Bu Masri pada Raskal.



“Bino bilang saya nggak punya orangtua, Bu!” seru Raskal berapi-api.



“Emang kamu nggak punya orangtua, kan! Buktinya mama sama papa kamu nggak pernah tuh nganterin sama jemput kamu di sekolah!” ujar Bino.



“Aku punya!”



“Nggak! Kamu nggak punya!”



Bug!



Karena tidak tahan mendengar ocehan Bino, refleks Raskal langsung menerjang wajah anak itu dengan satu pukulan kencang. Tubuh Bino lalu limbung ke belakang hingga kepalanya membentur kerasnya tembok sekolah. Melihat keadaan itu, otomatis Bu Masri menjerit kaget dan refleks langsung menggendong tubuh Bino yang kini tangisannya bertambah kencang.



“Raskal jangan begitu! Bino itu teman kamu!” bentak Bu Masri pada Raskal sebelum akhirnya guru itu pergi terbiritbirit dengan menggendong Bino ke UKS.



Ketika Bu Masri dan Bino telah hilang dari pandangan, Raskal tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Anak laki-laki itu hanya diam sambil terus memandangi koridor sekolahnya dengan tatapan kosong. Saking kosongnya, anak laki-laki itu bahkan tidak menyadari bahwa saat ini dia telah menjadi pusat perhatian semua teman-temannya. Anak laki-laki itu tidak menyadari kalau sedari tadi dia sudah menjadi bahan bisikbisik para siswa.



“Dia anak nakal! Jangan ditemenin!”



“Pantes aja dari dulu nggak ada yang mau temenan sama dia. Dia jahat begitu!”



“Kasihan ya, Bino. Pasti kepalanya sakit. Dasar anak bandel!”



“Pokoknya jangan temenin Raskal!”



Sampai akhirnya bisik-bisik itu berakhir dan para siswa yang memperhatikan Raskal tadi membubarkan diri, Raskal masih tetap berdiri mematung. Masih bertahan di sana. Bersama perasaan kecewa dan hatinya yang luka.



***



“Joana! Kamu tahu nggak kalau tadi Raskal mukulin Bino?” tanya Tasya pada Joana yang kini sibuk memantul-mantulkan bola basketnya ke tanah. “Tuh lihat. Dia anaknya bandel banget, ya!” seru Tasya lagi sembari menunjuk Raskal yang sedang berdiri di tengah-tengah koridor sekolah.



Joana melirik ke arah yang ditunjuk Tasya. “Kalau anak laki-laki, bukannya memang bandel, ya?”



“Iya sih. Tapi, Raskal bandelnya banget, banget. Masa Bino dipukul sampai kepalanya kepentok tembok!”



“Binonya kali yang nakal duluan. Dia kan memang suka ngeledek orang,” kilah Joana dengan mata yang terus mengamati Raskal yang masih berdiri mematung. Entah kenapa, bukannya benci seperti Tasya atau teman-teman yang lain, Joana justru malah simpati pada anak laki-laki itu. Bukan apaapa, kebetulan anak laki-laki itu adalah tetangga rumah Joana. Hal itu membuat dia sedikit tahu tentang mengapa Raskal mempunyai sikap dingin, nakal, dan cenderung menutup diri. Orangtua Raskal jarang pulang ke rumah. Kalaupun pulang, orangtua Raskal malah selalu bertengkar hebat. Semua itu tentu membuat Raskal lambat laun menjadi pribadi yang antisosial, termasuk pada Joana, tetangga yang sekaligus merangkap jadi teman sekolahnya. Selain pada robot mainan, teleskop, dan Budhe Yun pembantunya, anak laki-laki itu seolah-olah menutup diri dari siapa dan apa pun. Jika dunianya diganggu sedikit saja, Raskal akan marah besar dan berubah jadi super galak.



“Iya sih. Bino kan memang suka iseng. Tapi, tetep aja harusnya Raskal nggak boleh mukul Bino,” ocehan Tasya membuyarkan lamunan Joana.



Joana menghela napas panjang ketika mendengarnya. Dia mengepalkan tangannya. Sepertinya sudah cukup bagi Joana untuk diam dan menahan diri tidak mengusik Raskal lagi setelah kejadian dua tahun lalu. Kejadian di mana dia selalu mengajak main Raskal dan berakhir dengan Raskal yang membentaknya, menyuruhnya pergi dengan suara berteriak marah.



Ini nggak bisa dibiarin. Kalau begini terus, dia nggak bakal punya temen satu pun, Joana membatin.



Setelah menghirup napas panjang-panjang, dengan hati penuh tekad Joana tiba-tiba saja melayangkan bola basketnya ke arah Raskal hingga mengenai punggung tangan anak lakilaki itu. Sontak Raskal terbangun dari lamunannya dan segera menoleh, mencari tersangka pelempar bola basket ke arahnya barusan.



“Eh, cengeng! Ngapain bengong di situ? Maen basket sini!” teriak Joana keras-keras begitu dia melihat Raskal menatapnya tajam-tajam.



“Joana! Kamu nggak takut apa?!” lirih Tasya saat melihat Raskal mulai berjalan menghampiri mereka berdua sambil membawa bola basket.



Tidak seperti dugaan Joana yang mengira Raskal akan marah, anak laki-laki itu justru hanya mengembalikan bola basket dan pergi begitu saja. Sikap Raskal kontan membuat Tasya melongo dan Joana menggigit bibirnya.



“Sebenarnya dia kenapa sih?” batin Joana lagi sambil terus menatap punggung Raskal yang menjauh.



***



Hari sudah mulai sore. Mama dan ayahnya belum juga datang menjemput. Raskal masih mencoba menunggu sembari melihat teman-temannya satu per satu dijemput oleh orangtuanya. Raskal mengembuskan napas pendek. Mama dan ayahnya pasti lupa lagi kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya.

__ADS_1



Dengan wajah lesu, Raskal berjalan ke luar koridor sekolah. Dia memutuskan untuk pulang. Namun, baru beberapa meter dia melangkah, hujan tiba-tiba saja turun. Daripada kembali masuk ke koridor yang jaraknya sudah lumayan jauh, Raskal lebih memilih lari ke boks telepon umum yang ada di seberang sekolah untuk berteduh.



Raskal tersenyum kecut. Hari ini mungkin akan menjadi hari ulang tahun terburuk untuknya. Bertengkar dengan Bino, dihukum lari sepuluh kali putaran lapangan oleh Bu Masri, dilempar bola basket oleh Joana si tetangganya yang bawel itu, orangtua yang lagi-lagi tidak menjemputnya pulang, dan sekarang seragamnya basah kuyup karena kehujanan.



Lima belas menit berlalu, namun hujan tidak juga berhenti. Raskal berdecak panjang. Kalau saja rumahnya dekat dari sekolah, mungkin dia akan memilih menerobos hujan sekarang. Tetapi, nyatanya jarak rumah dan sekolah itu lumayan jauh. Dia terpaksa menunggu hujan reda.



Sambil menunggu hujan, Raskal mengangkat gagang telepon di sampingnya. Setelah memasukkan koin lima ratusan, anak laki-laki itu menekan sederet nomor ponsel ayahnya.



“Halo. Ayah? Raskal kehujanan di sekolah. Ayah bisa jemput nggak?”



“Maaf, Kal. Ayah lagi rapat. Kamu tunggu Budhe Yun datang, ya.”



“Tapi Budhe Yun lagi pusing katanya—”



“Udah dulu ya, Kal. Ayah nggak bisa angkat telepon lamalama. Kamu tunggu di sekolah dulu pokoknya.”



Tut … tut … tut....



Sambungan telepon diputus oleh ayah Raskal. Ketika mendengar suara nada putus, Raskal hanya bisa menelan ludah susah payah, berusaha menahan agar tidak menangis.



Kembali Raskal memasukkan koin lima ratusan dan menekan sederet nomor ponsel mamanya. Setahu Raskal, mamanya tidak sesibuk ayahnya. Jadi, masih ada kemungkinan mamanya bisa menjemput.



“Halo, Mama! Mama bisa jemput Raskal nggak? Raskal keujan—”



“Raskal, Mama lagi nggak enak badan. Sekarang aja masih tiduran di kantor. Kamu tunggu Budhe Yun aja, ya. Maaf ya, Nak.”



Raskal menggigit bibirnya keras-keras. Tangan kecilnya memegang gagang telepon kuat-kuat. Ingin sekali rasanya dia menangis, tapi dia tidak mau mamanya dengar.



“Ya udah. Mama istirahat aja di kantor. Mama pakai minyak kayu putih aja badannya.”



“Iya, Nak. Makasih, ya. Mama tutup dulu teleponnya.” “Sebentar dulu, Ma!” seru Raskal kemudian.




“Ma … Mama inget nggak hari ini Raskal ulang tahun?” tanya Raskal dengan suara bergetar.



“Ya ampun! Mama baru inget. Ya udah, nanti pulang dari kantor, Mama beliin Raskal robot Ultraman kesukaan Raskal, ya.”



“Iya … iya, Ma,” sahut Raskal dengan air mata yang kini sudah mengalir.



“Ya udah. Mama tutup dulu ya teleponnya. Mama pusing.”



“Iya … iya, Ma.”





Begitu telepon ditutup, Raskal langsung menumpahkan seluruh tangis yang dari tadi ditahan. Mungkin kejadian seperti ini bukan sekali dua kali Raskal alami. Bukan sekali dua kali diabaikan orangtua sendiri. Dan bukan sekali dua kali ulang tahunnya dilupakan. Tetapi, semua itu tetap saja membuat Raskal terpukul.



Raskal mengusap habis air matanya. Setelah menaruh gagang telepon ke tempatnya semula, anak laki-laki itu memutar badan, hendak pulang ke rumah sendiri berhubung Budhe Yun tidak akan mungkin menjemputnya. Namun, belum sempat dia melangkah keluar, Raskal dikejutkan oleh hadirnya Joana yang tengah memegang payung di hadapannya.



“Eh, cengeng! Pulang sama aku aja, yuk!” kata Joana dengan cengiran lebarnya, membuat Raskal langsung merengut sebal.



“Nggak!” tolak Raskal ketus. “Awas! Aku mau lewat!”



Joana menggeleng kuat-kuat. “Nggak! Kamu harus pulang sama aku. Nanti kamu kehujanan terus sakit. Minggu depan kita kan ulangan.”



Raskal memutar bola matanya. “Minggir!”



“Nggak mau!” seru Joana balik.



Raskal berdecak. Karena malas berdebat terus dengan tetangganya ini, Raskal pun terpaksa mendorong bahu Joana, memaksanya untuk memberi jalan. Karena dorongan Raskal cukup keras, Joana jatuh ke aspal. Payung yang dia pegang ikut terjatuh. Seragam perempuan itu jadi basah karena terkena kubangan air.



“Heh! Kok kamu dorong aku sih?!” teriak Joana dengan mata melotot.

__ADS_1



“Kamu sendiri yang minta didorong,” sahut Raskal enteng sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Joana yang kini tengah bersungut-sungut bangkit.



Sabar, Joana, batin Joana sambil mengatur napasnya yang naik turun.



Dengan hati penuh tekad, setelah mengambil payung yang tadi terjatuh, Joana pun mengejar Raskal. Lalu, dia memayungi kepala anak itu dengan payung Power Ranger miliknya. Raskal yang menyadari hal itu langsung menoleh. Dia mencibir saat melihat Joana yang tengah menyengir lebar di sampingnya.



“Kamu lagi ulang tahun. Nggak boleh marah-marah terus,” kata Joana sambil terus memayungi Raskal yang kini sedang menatapnya lekat.



“Jangan bilang kamu nguping pembicaraan aku sama mama aku?”



Joana menyengir. “Maaf. Aku nggak sengaja denger.”



Raskal mengembuskan napas keras, membuat Joana yang melihatnya langsung merasa bersalah.



“Sebagai permintan maaf aku, aku bakal payungin kamu sampai rumah. Gimana?”



“Nggak usah repot-repot. Pergi aja sana!”



Joana menggeleng kuat. “Nggak! Pokoknya aku bakal payungin kamu sampai rumah!” seru Joana berapi-api, membuat Raskal mau tak mau membiarkan anak perempuan itu terus memayunginya.



“Ini kado ulang tahun kamu,” kata Joana tiba-tiba, membuat Raskal menatapnya heran.



“Kado ulang tahun? Mana?”



Joana menyengir lagi. Dia menunjuk dirinya sendiri. “Aku. Aku kado ulang tahun kamu.”



“Hah?”



“Iya, aku, Joana Artivia adalah kado ulang tahun Raskal Galivan Anandio.”



Raskal memutar bola matanya. “Aku serius,” sahut Joana lagi.



“Gimana bisa kamu jadi kado buat aku?”



Joana melebarkan senyumnya pada Raskal. “Aku bakal jadi teman kamu. Untuk hari ini, besok, besoknya lagi, terus begitu.”



Raskal terdiam. Saat melihat Joana yang lebih memilih basah kuyup demi memayunginya, Raskal tahu bahwa apa yang diucapkan tetangganya itu betul-betul serius. Tetapi, dia tetap tidak yakin. Bukan apa-apa, dia hanya tidak mengerti bagaimana caranya berteman. Dari kecil, teman-temannya hanyalah sebatas robot-robotan, mobil-mobilan, dan teropong bintang.



“Kenapa kamu mau jadi temen aku? Kata temen-temen kan aku galak,” tanya Raskal dengan wajah tertunduk.



Joana mencibir. “Kamu galak? Aku itu jauh lebih galak. Kamu nggak tahu sih, aku pernah bikin lima anak cowok nangis!”



Raskal tersenyum geli. Dia melirik Joana lagi. “Bohong!



Mana mungkin.”



“Beneran! Aku nggak bohong! Ah, udah. Pokoknya, mulai dari sekarang, aku jadi teman kamu. Lagian, kita kan udah lama tetanggaan.”



Raskal tersenyum sekali lagi. “Terserah kamu aja deh.”



“Nah, gitu dong!”



“Ngomong-ngomong, kamu udah basah,” kata Raskal saat melihat seragam Joana yang sudah benar-benar basah kuyup.



“Nggak apa-apa. Seragam kamu juga basah. Kita samaan deh.” Joana menyengir kian lebar.



Raskal memutar bola mata. “Ya udah. Kalau gitu, kita hujan-hujanan aja sekalian.”



“Ide bagus tuh! Oke deh!” seru Joana bersemangat sambil menutup payung.



Raskal dan Joana pun pulang ke rumah dalam kondisi basah kuyup. Namun, meski badan mereka kedinginan, keduanya tahu bahwa ada yang terasa hangat jauh di dalam hati mereka.


__ADS_1


Sebuah pertemanan. Dari sanalah perasaan hangat itu tercipta. Sebuah persahabatan yang baru saja dimulai.


__ADS_2