
Sekali lagi ada yang hilang.
Itu kamu, bersama belasan orang yang tak lagi menyebutku pulang.
Setelah berhari-hari berpikir, akhirnya Joana menerima usul Raskal. Setelah memastikan masa depannya hancur, Joana merasa hidupnya berantakan. Maka, dia tidak mau lebih hancur lagi dengan membunuh anak yang tengah dia kandung. Namun, meski setuju dengan usulan Raskal, Joana menutup rapat-rapat pintu maafnya untuk cowok itu. Jadi, tidak heran bila satu minggu ini dia bersikap dingin pada Raskal. Ketika bertemu di sekolah, Joana malah menatap mata cowok itu tajam-tajam seolah memberi Raskal peringatan bahwa perbuatan cowok itu tidak bisa dia maafkan. Lalu, ketika dia sedang berbicara atau berhadapan dengan Raskal, Joana mengubah gaya bicaranya menjadi sarkas dan penuh dengan penghakiman. Intinya, selama beberapa minggu terakhir, Joana tak henti-hentinya membuat Raskal tersudut, terpojok, dan merasa hanya dengan mati dia baru bisa termaafkan.
Tapi, tentulah Raskal tidak bisa mati. Keputusannya saat ini, Raskal tidak mungkin mau meninggalkan Joana dengan keadaan hancur seperti ini. Untuk itu, selama Joana masih bersikap seperti layaknya batu karang, selama itu pula dia menjadi air laut. Yang selalu datang meski tidak diundang dan yang selalu hadir untuk perlahan-lahan melunakkan.
Langkah pertama Raskal adalah mengubah cara hidupnya. Raskal berpikir, nanti dia akan menjadi seorang ayah ketika memutuskan untuk menikahi Joana. Dia akan menjadi pemimpin yang akan mengurus segala keperluan Joana, anaknya, dan tentu dirinya sendiri. Oleh karena itu, dari sekarang, Raskal memulai untuk tidak lagi bergaul dengan teman-temannya di kelab malam, tidak lagi terlibat dengan segala urusan gengnya di sekolah, mengurangi asupan rokok, dan menahan diri untuk tidak meminum alkohol lagi. Di sela-sela itu, Raskal juga mencoba mandiri. Dia berlatih mencuci baju-bajunya sendiri, membereskan apartemennya sendiri, dan selama satu bulan ini—sebelum melamar Joana dan mengakui kesalahannya pada orangtuanya dan orangtua Joana—Raskal menyibukkan diri dengan mencari pekerjaan. Raskal benar-benar tengah mempersiapkan hidupnya di depan nanti. Dia paham, saat orangtuanya tahu masalah ini, bukan tidak mungkin mereka akan menyetop segala pemberian uang, menyita segala barang-barang berharganya, atau malah yang lebih parah, mereka tidak mau lagi menganggapnya anak mereka.
Gavin dan Reza yang diam-diam mengamati perubahan sikap Raskal hanya bisa ikut mendoakan dan menguatkan. Bukannya mereka tidak bisa memberikan bantuan apa-apa, tapi karena Raskal sendirilah yang meminta mereka tidak perlu melakukan apa-apa selain selalu ada untuk cowok itu kapan pun dia membutuhkannya.
“Habis ini lo mau ngapain lagi?” tanya Gavin pada Raskal ketika mereka berdua sedang duduk di pinggir lapangan belakang sekolah. Reza tidak masuk karena harus pergi dengan keluarganya.
Sambil memutar-mutar bola basket dengan jari, Raskal mengangkat bahu. “Mungkin ke rumah bokap gue.”
“Lo mau ngaku semuanya ke dia? Buat apa? Emang dia peduli?” tanya Gavin sinis sambil mengembuskan asap rokok ke udara.
Raskal tertawa. “Lo tuh, ya! Kalau ngomong, kadang-kadang suka nyakitin.”
“Kal, menurut gue sih jangan. Biar aja dulu sampai Joana melahirkan. Lagi pula, lo pasti bakal banyak banget pengeluaran buat hidupin Joana dan anak lo nanti. Kalau bukan dari dia, dari mana lagi lo dapet duit?”
“Gue udah dapet kerjaan.”
Gavin menoleh, menatap Raskal dengan sorot tak percaya. “Hah? Kerja apaan?”
Raskal tersenyum simpul. “Yang jelas bukan ngedarin barang atau jadi kuli pukul.”
“Gue serius, Raskal!”
“Gue juga serius, Vin. Gue bisa jamin kerjaan gue halal.”
Gavin mendengus. Dia membuang puntung rokok yang dia isap tadi, lalu menginjaknya sampai baranya mati. “Kenapa, Kal? Kenapa sih lo sampai segininya?”
Raskal menghela napas panjang. Dia membiarkan bola basket yang tadi dia mainkan terlepas dari genggaman, lalu merebahkan tubuhnya ke aspal lapangan.
“Gue cuma nggak mau terlihat lebih brengsek lagi, Vin. Cuma itu.”
***
Seperti yang telah direncanakan jauh-jauh hari, Raskal akhirnya mengunjungi rumah ayahnya yang berada di Bogor. Berbekal tekad dan keyakinan, hari ini Raskal ingin mengaku pada ayahnya. Dia mungkin sudah menjadi anak paling brengsek dan paling tidak tahu diri. Tetapi, dia tidak mau dicap sebagai anak paling pengecut yang tidak mau mempertanggungjawabkan kesalahan yang telah dia buat.
“Jadi, kamu ke sini untuk mengakui itu semua?” tanya Farhat dengan gaya bicara yang angkuh. Dari belakang meja kerja, Farhat mengamati anak laki-lakinya yang masih remaja itu dengan tatapan mengejek.
Raskal dari dulu hampir tidak pernah mau menginjakkan kaki ke rumah Farhat semenjak Farhat memiliki keluarga baru karena anak laki-laki itu memegang teguh pendirian dan harga dirinya untuk tidak berhubungan lagi dengan ayahnya. Namun, akhirnya, hari ini Raskal membuang prinsip itu hanya karena masalah tidak sengaja menghamili anak orang. Farhat yakin, kunjungan anak laki-lakinya ini tidak lebih dari ingin meminta pasokan uang lebih demi membiayai perempuan yang dia hamili dan anaknya nanti.
Sementara Raskal, ketika mendapati reaksi ayahnya yang sama sekali tidak marah, melainkan hanya menatapnya dengan sorot jijik, tidak bisa memberikan tanggapan apa-apa selain membatu di tempat dengan rahang mengeras dan sepasang tangan terkepal kuat-kuat.
“Kamu butuh apa lagi sekarang? Uang? Rumah?” tanya Farhat enteng, mengabaikan ekspresi Raskal yang saat ini menatap ayahnya dengan tatapan tidak percaya. “Saya akan kasih semua yang kamu minta. Tapi, jangan pernah muncul ke hadapan saya lagi. Tahun depan saya akan mencalonkan diri sebagai bupati. Jadi, jangan buat nama saya tercemar karena ulah kamu.”
Mulanya, hanya seringai sinis yang terpulas di wajahnya. Namun, setelah itu, senyum di wajah Raskal berganti dengan tawa. Kemudian dia menggeleng-geleng diiringi senyum sinis. Ketika ayahnya menikahi anak seorang ketua partai, Raskal memang tahu sikap ayahnya perlahan-lahan pasti berubah. Laki-laki itu menjadi haus kuasa, angkuh, dan hampir tidak memedulikan apa-apa selain harta. Namun, dia benar-benar tidak menyangka ayahnya akan berubah sejauh ini, berubah menjadi laki-laki yang rela membuang anaknya sendiri hanya demi sebuah ‘kursi’.
__ADS_1
“Sebenarnya harus dengan cara apa lagi aku bisa buat Ayah peduli? Harus gimana lagi?” tanya Raskal putus asa, membuat dahi Farhat berkerut. “Buat nyenengin Ayah, aku mati-matian berjuang menangin banyak lomba. Lomba matematika, IPA, bahkan catur, permainan kesukaan Ayah. Terus, piala-piala kemenangan itu aku pajang biar Ayah bisa lihat bahwa anak Ayah nggak gila, yang bisanya cuma ngomong sendiri kalau Ayah sama Mama lagi kerja. Aku … aku selalu usaha, Ayah,” jelas Raskal terbata-bata. Matanya memerah akibat menahan tangis. “Tapi, Ayah hampir nggak pernah lihat itu. Ayah tutup mata.”
Penjelasan Raskal tadi cukup membuat Farhat tertegun. Hati laki-laki paruh baya itu mungkin membatu, namun penjelasan Raskal cukup mampu menohok hatinya hingga ke ulu.
“Karena Ayah tutup mata, aku ambil cara lain. Aku pikir
kalau aku jadi pemberontak, Ayah akan sedikit peduli sama aku. Ayah akan perhatian sama aku dan marah. Aku bahkan selalu siap buat dipukul sama Ayah. Karena, menurut aku, dipukul mungkin jauh lebih baik ketimbang nggak dipedulikan sama sekali,” ucap Raskal lagi. Ketika mengucapkannya, dia bisa merasa ribuan panah menusuk jantungnya. “Tapi, nyatanya, setiap aku buat masalah, Ayah selalu gunain uang untuk menyelesaikan semuanya. Ayah sogok sekolah, sogok orangtua anak-anak yang selalu aku kerjain, dan sekarang Ayah mau gunain uang lagi untuk ngusir aku? Sekarang aku mikir, sebenarnya aku ini anak Ayah atau bukan?”
Telak. Farhat seperti mendapat pukulan telak ketika penjelasan itu keluar dari mulut Raskal. Tidak bisa dijelaskan sakitnya, saat mendengar itu semua, banyak pertanyaan yang mengerumuni benak Farhat. Pertanyaan-pertanyaan sulit yang bahkan tidak mampu dia jawab.
Raskal menghela napasnya kuat-kuat, membuang segenap sesak yang dari tadi menekannya habis-habisan.
“Aku akan pergi. Aku nggak akan muncul di hadapan Ayah. Terus, aku juga nggak butuh uang Ayah lagi. Aku bisa hidupin diri aku sendiri,” tandas Raskal sambil menaruh kunci mobilnya ke meja kerja Farhat. “Tapi, untuk saat ini, aku masih pinjam apartemen Ayah. Nanti, kalau aku udah punya uang, aku janji bakal ganti uang pembelian apartemen itu.”
Farhat mendengus. “Nggak usah janji. Jangan sok mampu.
Kamu masih anak ingusan, Raskal!”
“Jangan remehin aku!” bentak Raskal keras. “Aku bukan Ayah. Aku bukan Ayah yang nggak bisa jaga tanggung jawabnya sebagai seorang ayah!”
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di wajah Raskal. Membuat cowok itu terdorong dari tempatnya berdiri.
Sambil memegang pipinya yang terasa panas, Raskal menggeleng-gelengkan kepala.
“Mulai dari sekarang, kamu bukan ayah saya lagi!” seru Raskal sebelum akhirnya balik badan dan mulai melangkah keluar dari ruang kerja ayahnya.
“Ya! Pergi saja sana! Dasar anak tidak tahu diri! Pergi sana! Jangan pernah kembali lagi! Jangan pernah minta apa-apa dari saya lagi!” balas Farhat keras-keras. Sangat keras sampai gemanya terdengar oleh Raskal yang sudah berada di luar rumah. Agar tidak mendengar gema suara itu, Raskal memutuskan untuk lari. Gema suara itu bukan hanya terekam di otak, tapi juga di hati. Dia berlari amat cepat sampai suara itu benarbenar tidak terdengar lagi. Ketika merasa kakinya sudah tak lagi mampu berlari, Raskal tersungkur di trotoar jalan yang sepi. Tidak setegar tadi, saat tidak ada yang melihat, Raskal meringkukkan tubuh, menunduk, lalu menangis sejadi-jadinya.
***
Waktu adalah satu-satunya hal yang berharga untuk Joana saat ini. Ambang jurangnya sudah dekat. Maka, hari demi hari cewek itu gunakan untuk melakukan hal-hal yang belum pernah dia lakukan di masa remaja.
Dia juga mengajak Reon, cowok yang akhir-akhir ini dekat dengannya, kencan ke suatu tempat. Tepatnya ke sebuah taman yang ada di pinggiran kota. Taman yang digunakan sebagai lahan penghijauan itu mempunyai danau buatan sebesar lapangan bola di tengah-tengahnya. Banyaknya pohon besar yang memadati membuat taman itu sangat teduh. Tempatnya jauh dari jalan besar juga menjadi alasan mengapa taman itu belum banyak dikunjungi banyak orang. Jadi, ketika sore tiba, taman itu benar-benar terlihat sepi dan sunyi. Yang menemukan taman itu tak lain tak bukan adalah Reon. Cowok itulah yang kali pertama mengenalkannya pada Joana.
“Gue selalu jatuh cinta setiap kali lihat danau ini,” gumam Joana pelan dengan mata yang terus memandang ke arah bentangan danau di hadapan.
“Sama danaunya doang? Sama gue?” celetuk Reon yang kini duduk di samping Joana.
Joana menoleh, dia menaikkan satu alisnya saat melihat Reon. “Gue masih heran kenapa kadar narsistik lo itu tinggi banget.”
Reon tertawa. “Kalau nggak gitu, lo nggak bakal lihat gue.” “Lo pikir, gue bakal lihat lo dari sisi itu?”
“Terus? Dari sisi mana? Kan gue nggak tahu,” jawab Reon polos, “gue cuma usaha.”
Joana tersenyum kecil. Dia menghela napas panjang. Diam-diam, dia mengamati Reon yang kini tengah mengulum permen susu. Di balik sikapnya yang selalu penuh perhitungan, Joana tahu Reon sebenarnya masih polos. Masih belum tahu apa-apa dan selalu terkejut apabila mendapat masalah yang ada di luar dari perhitungannya. Maka, sampai sekarang, Joana tidak mau membuka rahasianya pada Reon. Bukan karena dirinya saja yang tidak siap, tapi juga dia takut Reon terpukul akibat pengakuannya nanti. Selama ini, dia sudah cukup menyakiti Reon dengan menggantung perasaannya. Dia tidak mau tambah menyakiti cowok itu dengan kenyataan bahwa dia hamil.
__ADS_1
“Akhir-akhir ini lo banyak ngelamun, Jo. Ada masalah apa?” tanya Reon kemudian, membuat lamunan Joana buyar seketika. “Apa karena Raskal?”
Joana tergagap. “Bu-bukan. Bukan kok.”
“Terus kenapa?”
Joana kembali menguasai diri. Dia menghirup napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya kuat-kuat. Karena tidak berani menatap mata Reon, Joana membuang pandangan lagi ke danau.
“Gue—”
“Gue tahu, lo pernah suka sama dia. Jadi, lo nggak perlu takut cerita apa pun tentang dia sama gue. Kalau dia macem-macem sama lo, gue bakal turun tangan buat hajar si brengsek itu,” ujar Reon, memotong omongan Joana tadi.
Joana menggigit bibir. Dua tangannya gemetar. Dia mendadak kehilangan kata-katanya.
“Gue bisa terima kalau lo deket sama dia. Gue terima kalau lo peduli sama dia. Dan mungkin,” Reon menahan kalimatnya untuk menatap Joana lekat, “dan mungkin kalau lo masih suka sama dia, gue akan usaha buat nerima. Tapi, kalau dia nyakitin lo sedikit aja, gue sama sekali nggak bisa terima. Dan maaf, dengan atau tanpa persetujuan lo, kalau gue tahu dia buat lo kenapa-kenapa, gue bakal bikin dia—”
“Gue nggak ada masalah sama Raskal,” sela Joana, bohong. “Bukan dia masalah gue.”
“Terus apa?”
Joana menundukkan kepala, tidak berani menatap mata Reon lebih lama. “Ini soal jawaban gue atas pertanyaan lo satu tahun yang lalu.”
Sejenak Reon tampak berpikir dan mencerna omongan Joana. Ketika dia sadar dengan apa yang ingin Joana sampaikan, mendadak Reon jadi kikuk. Ini adalah jawaban yang paling ditunggu-tunggu dari dulu. Hampir setiap hari Reon menerka-nerka apa yang akan Joana jawab atas pertanyaannya satu tahun lalu. Pertanyaan yang bukan hanya melibatkan hati, tapi juga kesiapannya yang mungkin saja akan terluka. Karena peluang diterima sangatlah kecil, selama ini Reon takut berharap apa pun pada Joana.
“Oh, masalah itu. Kalau lo belum siap, gue nggak maksa.” Joana menggeleng cepat. “Nggak. Gue harus jawab sekarang.”
Reon tertawa miris. “Oke. Tapi, harus dengan satu syarat. Saat ngasih jawaban, lo harus ngomong di belakang gue. Kalau lo nerima, lo samperin gue. Tapi kalau sebaliknya,” lagi-lagi Reon menelan ludah, “lo boleh tinggalin gue sendiri. Gimana?”
Joana tidak menjawab, tapi dia langsung berdiri. Membuat Reon otomatis berdiri juga. Lalu, tanpa basa-basi lagi, Joana memosisikan diri di belakang Reon. Wajah cewek itu terlihat pucat, menandakan dirinya pun tidak siap akan jawabannya.
“Satu tahun lalu lo nanya soal gue mau atau nggak jadi cewek lo. Sebenarnya, kalau aja lo nggak ragu, bisa aja gue langsung nerima lo. Tapi, kenyataannya lo terlalu ragu dan lebih memilih nunggu gue benar-benar suka sama lo dulu. Kalau aja lo yakin, lo harusnya nggak perlu peduliin Raskal,” aku Joana, membuat Reon langsung memaki dirinya sendiri dalam hati. “Dan sekarang, saat semuanya udah terjadi, nggak ada yang perlu disesalin. Dengan atau tanpa gue jadian sama lo, cukup lo ada di sisi gue selama ini, itu udah buat gue seneng. Gue nyaman sama lo, Reon.”
Selama beberapa detik, Joana menjedakan penjelasannya untuk menenangkan perasaan. Joana juga meyakinkan diri, keputusan yang sudah jauh-jauh hari dia pikirkan adalah keputusan yang paling tepat. Rela atau tidak rela, mau tidak mau, Reon memang harus dilepaskan secepatnya. Cowok itu pantas bersama dengan perempuan yang jauh lebih baik.
“Tapi, setelah waktu berlalu, setelah gue kenal lo lebih jauh, ternyata selama ini perasaan nyaman gue itu salah. Benar kata lo, gue suka sama Raskal. Dan … karena kehilangan dia, gue selalu mencari-cari letak Raskal dalam diri lo. Selama ini, tanpa sadar gue selalu menyama-nyamakan lo dengan dia,” ujar Joana bohong. Dia menekan segenap emosi dengan cara menggigit bibirnya kuat-kuat. “Sekarang, pas gue sadar dia bukan lo, gue nggak bisa … gue nggak bisa nerima lo. Maaf, Reon. Maafin gue.”
Hening. Penjelasan Joana sudah selesai, namun Reon masih berdiri di sana. Di depan hamparan danau juga dikerumuni pepohonan tinggi, Reon masih terdiam. Bahkan hingga Joana sudah lama pergi. Meski dia telah menduga bahwa pada akhirnya dia akan ditolak, Reon tidak pernah menyangka dia hanya dijadikan pelarian atau pelampiasan perasaan Joana pada Raskal selama ini.
Tangannya terkepal amat kuat. Tawanya menggema sumbang. Kalau tahu kenyataannya akan seperti ini, mungkin lebih baik jika pertanyaannya tidak perlu diberi jawaban. Tidak, sampai dia benar-benar yakin bahwa dia sudah siap untuk ditinggalkan.
***
Joana menyukai Reon. Itu kenyataan. Joana ingin menerima Reon. Itu pun kenyataan. Joana tidak pernah membandingbandingkan Reon dengan Raskal. Itulah kenyataan mutlaknya. Namun, karena harus melepaskan Reon, Joana terpaksa memberi jawaban sebaliknya. Meskipun tahu Reon akan terluka, menurut Joana, itu jauh lebih baik daripada cowok itu terus bertahan dengan perempuan seperti dirinya.
Joana memijat kepalanya yang pening. Setelah turun dari taksi yang dia tumpangi tadi, setengah terseret cewek itu berjalan masuk ke dalam rumah. Dari pandangan matanya yang samar, entah kenapa dia seperti melihat ada Raskal di depan rumah. Bukan hanya itu, ketika dia memperjelas pandangannya, dia bisa melihat ayahnya, mamanya, Gea, dan Givi sedang mengerumuni Raskal yang tengah duduk berlutut dengan kepala tertunduk.
“Dasar anak sialan!”
Itulah suara terakhir yang mampu Joana dengar sebelum akhirnya seluruh indranya menjadi kebas. Tanpa perlu menebak, Joana sudah tahu siapa pemilik suara itu dan alasan di balik meledaknya emosi itu.
__ADS_1
Suara itu milik ayahnya yang murka karena Raskal telah mengakui semuanya.…