
Joana Raskal, tiga tahun lalu.
“Jo, tolong kasih undangan prom aku ke temen kamu!”
“Temen gue yang mana nih? Temen gue kan banyak.”
“Raskal. Temen kamu yang paling ganteng kan dia.” Joana memutar bola mata. Dia mengambil surat yang disodorkan Desy, teman seangkatannya yang juga menjadi primadona sekolah. “Iya, iya. Entar gue kasih.”
Desy tersenyum lebar. “Makasih ya, Joana.”
Setelah memeluk Joana sekilas, Desy pun pergi. Joana mengamati kepergian cewek itu dengan pandangan setengah terpukau dan setengah sebal. Terpukau karena Desy diciptakan begitu sempurna dengan kecantikan dan kepintaran. Juga karena sebal mengapa cewek secantik Desy juga ikutikutan menaksir Raskal.
Joana mengembuskan napas keras-keras. Saat Desy hilang dari pandangan, perhatian Joana teralih pada sebuah undangan prom night yang tengah dia genggam. Jika dihitung-hitung, setidaknya Joana sudah menerima dua puluh titipan undangan prom night untuk Raskal dari berbagai macam cewek. Tetapi, rata-rata mereka adalah cewek populer di SMP-nya. Jika tidak cantik, ya pasti pintar. Jika tidak pintar, ya pasti cantik.
“Woy!”
Suara berat yang diiringi tepukan di punggung langsung menyentak Joana dari lamunan. Cewek itu sontak menoleh ke belakang. Ketika melihat seorang anak laki-laki bertubuh tinggi dengan mata cokelat dan rambut acak-acakan, Joana langsung menyerbunya dengan berbagai variasi pukulan.
“Aduh! Aduh, Jo! Sakit!” rintih Raskal sambil terus menghalau pukulan Joana.
“Bodo amat! Lagian kebiasaan banget ngagetin orang. Lo nggak tahu, ngagetin itu punya potensi ngebunuh orang? Hah?!” omel Joana setelah dia puas memukuli Raskal.
Raskal meringis. “Lagian siapa suruh bengong siang-siang?
Gue kira lo kesambet.”
“Kesambet? Emang ada setan yang berani sama gue?” balas Joana sambil terus memelototi Raskal.
Raskal tergelak. “Kagak sih. Gue aja takut, gimana setan? Daripada berurusan sama lo, mending dia balik ke neraka kali.”
Joana memandang Raskal yang masih tertawa. Saat melihat tubuhnya yang semakin tinggi, Joana baru menyadari betapa lamanya dia berteman dengan si cengeng ini. Dari zaman cowok itu masih ingusan dan hanya bergaul dengan robot mainan, sampai dia berubah menjadi cowok populer yang gampang bergaul dengan semua orang plus ganteng juga pintar. Joana akhirnya sadar, sudah banyak perubahan pada diri Raskal yang sudah dia saksikan.
“Tuh kan! Lo bengong lagi! Mikirin apa sih?” tanya Raskal tiba-tiba, lagi-lagi memecah lamunan Joana.
Joana berdecak. Tanpa menjawab pertanyaan, Joana menyodorkan titipan Desy pada Raskal. “Nih, undangan prom night.”
“Lagi? Yang kemaren aja belom sempet gue baca,” kata Raskal seraya mengambil undangan dari tangan Joana. “Dari siapa nih?”
“Desy Widiastika Ajeng Ningtias. Primadona sekolah kita dan sekaligus salah satu putri Keraton Solo. Darah biru dia. Jadi, nggak ada alasan kan buat nolak undangan dari dia?”
Raskal terkekeh. “Darah biru? Avatar kali!”
“Lo bakal nerima undangan dari dia, Kal?” tanya Joana. Mendadak nada bicaranya jadi serius, membuat Raskal yang mendengarnya langsung menatap cewek berambut cepak pendek itu dengan tatapan heran.
Raskal mengangkat bahu. “Nggak tahu. Dia bukan selera gue.”
Mata Joana menyipit. “Bukan selera lo? Cewek sekelas Desy lo bilang bukan selera lo? Nggak salah? Dia cantik banget, Raskal!”
Raskal mengangguk-angguk. “Cantik sih, tapi masih kelihatan kayak anak kecil. Tipe gue itu yang dewasa. Lebih menantang.”
“Jangan bilang lo bakal gandeng anak SMA buat ke prom night sekolah kita nanti?”
“Kenapa nggak?” Raskal terkekeh lagi. “Ah, udah ah! Lagian ngapain sih pakai nanya-nanya soal cewek yang bakal gue bawa ke prom night? Tumben amat lo peduli masalah beginian.”
Joana mencibir. “Ya … gue mau tahu aja tipe ceweknya seorang Raskal Galivan Anandio itu kayak gimana.”
“Lebay lo!” Raskal tergelak.
“Tapi, serius deh, Kal. Tipe cewek lo itu kayak gimana sih? Nggak mungkin juga kan lo bakal macarin tante-tante?” Raskal terdiam. Sebelum menjawab pertanyaan Joana, cowok itu tiba-tiba saja mengulurkan kedua tangannya ke tembok yang ada di belakang Joana, membuat Joana terpaksa terkurung di antara kedua lengan cowok itu. Sepersekian detik, Joana yang masih kaget hanya menatap Raskal dengan tatapan terbelalak. Bila saja degup jantungnya berdetak seperti biasa, tidak berdebar-debar seperti sekarang, harusnya dia bisa saja menyingkirkan Raskal.
“Kayak lo.”
Deg!
Jantung Joana seakan berhenti berdetak begitu mendengarnya. Dengkulnya mendadak lemas.
“Apa? Se … serius lo?” tanya Joana lirih dan kikuk.
“Ya nggaklah. Mana mungkin cewek berantakan kayak lo itu tipe gue,” sahut Raskal kemudian dengan iringan tawanya yang kembali meledak, membuat Joana langsung refleks menginjak kakinya kuat-kuat.
“Aaargh!” ringis Raskal sambil memegangi kaki kiri yang baru saja diinjak Joana tadi. “Sakit, Jo!”
“Bodo amat! Gue pokoknya benci sama lo!” ketus Joana sebelum akhirnya dia memilih pergi meninggalkan Raskal dengan langkah kaki dientak-entakkan dan wajah merengut kesal.
“Jangan ngambek dong, Jo! Entar jadi kan cukur rambut bareng gue?!” teriak Raskal pada Joana keras-keras.
“Nggak! Gue nggak mauuu!” sahut Joana berapi-api.
***
Hampir lima belas menit Joana berdiri di depan cermin kamar. Dari tadi, dia masih mencari apa saja kekurangan yang ada pada dirinya. Ketika dia hitung-hitung, Joana baru sadar begitu banyak hal buruk yang melingkupi dirinya dari dulu. Misalnya, penampilan yang tidak-sangat-perempuan alias tomboi, rambut cepak berantakan yang selalu berketombe, bekas genangan air liur di sudut-sudut bibirnya, dan yang paling parah adalah banyaknya jerawat juga komedo yang bersarang di wajah Joana. Bukan sekadar berantakan seperti yang dikatakan Raskal di sekolah tadi siang. Dirinya benar-benar terlihat sangat mengerikan untuk ukuran seorang remaja perempuan.
“Sebenernya gue ini cewek bukan sih?” tanya Joana dengan nada ngeri.
Setengah menit kemudian, Joana tiba-tiba saja berlari ke lemari dan mengambil semua pakaiannya. Ketika semua pakaian sudah dia jejerkan di atas kasur, Joana tak kuasa menelan ludah. Kepalanya mendadak pening saat melihat semua bajunya itu rata-rata kaus oblong, kemeja flanel, celana gunung, dan jins butut.
“Ya ampuuun! Ini kamar atau kapal pecah sih? Kenapa baju berantakan begini?” suara Gea, kakak sulung yang paling feminin dan cerewet itu tahu-tahu saja menggemakan kamar Joana. Membuat si pemilik kamar terperanjat kaget.
“Kamu lagi ngapain sih, Na? Kenapa bajunya dikeluarin semua gini?” tanya Gea pada Joana lagi. Matanya masih memperhatikan kondisi kamar Joana yang seperti pasar inpres itu.
“Aku lagi cari baju buat ke prom night, Kak,” sahut Joana dengan wajah tertekuk.
Gea tertawa. “Oh gitu. Lagi bingung ya mau pakai baju apa? Lagian, kamu kalau beli baju kaos mulu. Beli dress sekali-sekali. Kamu kan cewek.”
“Iya, iya. Aku juga tahu kalau aku cewek!” dengus Joana sebal.
Gea tersenyum tipis. Dia menghampiri Joana dan mengacak-acak rambut pendek adik bungsunya itu. “Ya udah, nanti pinjem baju Kakak aja.”
__ADS_1
Joana mengernyitkan dahi. “Emang muat? Badan aku kan lebar.”
Gea memutar bola mata. “Makanya olahraga. Biar kurus. Udah ah, Kakak mau berangkat kuliah dulu. Kakak pinjem tas ransel kamu, ya.”
“Iya, ambil aja di lemari.”
Saat Gea hendak keluar kamar, Joana tiba-tiba saja teringat sesuatu. Sesuatu yang wajib ditanyakan.
“Kak Gea! Tunggu!”
Langkah Gea terhenti. Dia menoleh. “Apa lagi?”
“Eng … aku mau nanya, Kak.”
“Ya udah, tanya aja.”
Joana berjalan ke arah kakaknya. Kemudian dia membisikkan sesuatu yang membuat Gea tidak bisa menahan tawa.
“Ih! Kak Gea kok malah ketawa sih? Aku serius!”
“Lagian, kamu nanyanya lucu sih. Masa nanya Raskal punya kemungkinan bisa suka sama kamu apa nggak? Ya jawabannya pasti nggaklah!”
Joana langsung merengut. “Loh, kok nggak? Kenapa emang? Aku kan cewek. Dan kata orang-orang, persahabatan antara cowok dan cewek itu nggak bisa dihindari dari risiko suka sama sahabatnya sendiri. Ya, kan?”
Gea meringis. “Iya, bener. Fakta itu emang bener. Kecuali kasus kamu sama Raskal. So, poin pertama, kalian bersahabat dari masih bocah. Mandi aja pernah satu ember. Kalian pasti udah sama-sama tahu keburukan kalian satu sama lain. Poin kedua, Raskal itu ganteng banget dan kamu,” Gea memperhatikan penampilan Joana dari atas sampai bawah yang benar-benar seperti anak laki-laki, “ganteng juga. Alias terlalu cowok. Cukur rambut aja kalian selalu bareng. Jadi, nggak mungkin Raskal lihat kamu sebagai cewek. Poin terakhir adalah, kamu bukan seleranya dia. Mirror please, Joana. Kamu tahu kan kalau cewek-cewek yang suka sama Raskal itu buanyaaak banget. Kalau dibanding sama kamu yang berantakan, lebar, dan galak, kayaknya nggak mungki—”
“Udah! Stop, stop!” seru Joana tak tahan. “Udah, nggak usah diperjelas. Kakak berangkat kuliah aja sana!” ujar Joana ketus sambil mendorong-dorong tubuh Gea keluar dari kamar.
“Eh, Joana! Kenapa kamu tanya-tanya soal itu?! Jangan-jangan kamu suka ya sama Raskal?!” teriak Gea dari luar kamar.
“Nggak! Udah sana! Kakak pergi kuliah aja!” balas Joana keras-keras.
“Cieee yang lagi suka sama sahabat sendiri!”
“Kak Gea pergi aja! Sanaaa!”
“Jangan lama-lama suka sama Raskal! Nanti sakit hati!”
“Bodo!”
Suara teriakan Gea kemudian tidak terdengar lagi. Hanya gema kikikan tawa saja yang samar-sama tertangkap telinga Joana. Membuat cewek itu lagi-lagi diserang frustrasi.
Joana melempar tubuhnya ke kasur. Kemudian, dia memejamkan mata sejenak. Jika dipikir-pikir, perkataan Gea ada benarnya. Selama bersahabat dengan Raskal, meski statusnya adalah perempuan tulen, cowok itu hampir tidak pernah melihat Joana layaknya perempuan. Cowok itu hanya melihatnya seperti teman perempuan yang bisa merangkap jadi teman laki-laki. Teman-teman sekolahnya pun begitu. Rata-rata mereka hanya melihat kedekatan dirinya dengan Raskal sebatas sahabat saja. Tidak lebih. Jadi, tidak heran bila seluruh temanteman ceweknya di sekolah hampir tidak ada yang menganggapnya sebagai saingan atau halangan dalam hal mendapatkan hati Raskal. Jelas, dibandingkan mereka yang cantik-cantik, Joana bukanlah apa-apa. Boro-boro bisa cantik, membedakan blazer dan sweter saja kadang dia masih bingung.
Joana menghela napas panjang. Dia bangkit dari kasur dan berjalan ke meja belajar. Di atas meja tergeletak sebuah undangan prom night. Joana mengambil undangan itu. Dia tersenyum kecut saat membaca sebaris nama yang tertera di sampulnya. Sebaris nama yang mungkin tidak akan pernah mau menerima undangan ini. Sebaris nama yang mungkin akan tertawa terbahak-bahak ketika membaca isi undangan ini. Dan sebaris nama yang telah menjadi pusat dunianya entah sejak kapan.
Teruntuk musuh, sahabat, partner berpetualang, rival main basket, dan tempat hati ini pertama kalinya berlabuh, Raskal Galivan Anandio.
***
Raskal Joana, dua tahun lalu.
Kondisi itu kontan membuat persahabatan Joana dan Raskal semakin hari semakin renggang. Mungkin malah jadi semakin asing. Apalagi, Joana tidak sengaja memergoki Raskal tengah bercumbu dengan Miss Stella—yang merupakan guru magang—di gudang belakang sekolah.
Entah perasaan seperti apa yang merasuk ke dalam dada Joana begitu melihat peristiwa itu. Yang jelas, peristiwa itu membuat Joana perlahan-lahan seperti mengambil jarak dari Raskal. Bukan apa-apa, sejak melihat kejadian itu, Joana seperti tidak lagi mengenali sosok Raskal. Dia bingung harus menjelaskan perasaannya seperti apa. Intinya, sejak melihat peristiwa itu, rasa kecewa langsung membelenggu hatinya. Perasaan kecewa itu pun terus bertambah besar kala melihat perubahan Raskal dari waktu ke waktu. Mungkin dirinya masih bisa membuka diri untuk bersahabat dengan Raskal. Tapi, dirinya tidak lagi bisa membuka hatinya untuk terus menyukai cowok itu.
Joana mati rasa pada Raskal. Di saat yang sama, sosok Reon muncul mengisi keadaan hati Joana yang kosong. Reon dengan sikap jail, tengil, dan berantakan yang mulanya sangat dibenci Joana, lama-lama malah membuat Joana tertarik. Sifat Reon yang kocak tanpa sadar membuat hari-hari Joana semakin berwarna. Apalagi setelah dia tahu bahwa Reon adalah player maker dalam tim basket sekolahnya. Joana makin terpesona pada cowok yang awalnya adalah musuh besarnya itu. Absennya Raskal dalam keseharian Joana juga semakin membuat perasaan pada Reon makin lama semakin mendalam. Meski begitu, Joana tidak buru-buru menerima Reon ketika akhirnya cowok itu menyatakan perasaan. Bukan apa-apa, meski hampir setiap hari mereka bersama, nyatanya bayangan Raskal masih suka berlari-lari di pikirannya. Hal itu yang membuat Joana memilih untuk berteman dulu dengan Reon. “Gue suka sama lo, Joana,” aku Reon ketika mereka tengah bermain basket suatu hari.
Joana melirik Reon. Satu alisnya terangkat. “Kenapa lo suka sama gue? Emang gue tipe lo?”
Reon menggeleng. Dia menyengir lebar. “Nggak juga sih. Tipe gue itu yang lemah lembut, bukan yang sangar kayak lo.”
Joana terbahak. “Lo ini sebenernya mau nembak apa mau ngajakin berantem sih?”
Reon menyengir, namun setelah itu dia kembali menatap Joana lekat-lekat. “Lo bukan tipe gue. Tapi, gue suka sama semua hal yang ada dalam diri lo.”
“Oh, ya? Apa aja emang?” tanya Joana dengan perasaan ingin tahu.
“Eng … gue tahu kalau lo emang nggak secantik Miranda Kerr. Tapi, buat saat ini, entah kenapa lo adalah satu-satunya cewek yang terlihat cantik di mata gue bahkan ketika lo lagi keringetan, bau apek, atau nggak kalau ngorok pas lagi tidur. Lo emang nggak lemah lembut, tapi untuk saat ini, gue selalu ngelihat lo seperti ngelihat cewek paling baik sedunia—bahkan ketika gue lihat lo lagi ngasih duit gope1 ke pengamen. Mungkin lo pernah jadi cewek yang gue benci selama hidup gue, tapi, lagi-lagi buat saat ini, lo malah jadi cewek yang buat gue rela belajar mati-matian biar bisa terlihat pantes buat ngegandeng lo jadi cewek gue. Gue tahu kalau gue nggak sebeken, sekeren, dan sepintar Raskal. Tapi, buat lo, gue janji, gue bakal terus berusaha untuk jadi yang lebih baik lagi. Gue, si brengsek ini, bakal terus berusaha bikin lo suka sama gue.”
Joana tertegun. Untuk kali pertama selama dia dekat dengan Reon, baru kali ini dia mendengar cowok itu bicara seserius ini. Sejak masuk SMA, bukan sekali dua kali Joana ditembak cowok dan dia merasa hambar-hambar saja. Tapi, pengakuan Reon tadi—walau tidak ada satu pun kalimat romantis dan gombal—entah kenapa mampu membuat hatinya berdebar pelan.
“Reon, gue nggak bisa—”
“Jangan buru-buru mutusin. Pikirin aja dulu. Berapa pun lamanya, gue siap nunggu,” potong Reon buru-buru.
Joana tertawa geli. “Lo tuh, ya. Kayaknya pesimis banget buat denger jawaban gue.”
Reon menggaruk tengkuk yang tidak gatal. “Ini baru pertama kalinya gue nembak cewek. Jadi … wajar aja dong kalau gue takut ditolak.”
Joana mengangguk-angguk. “Oke, gue bakal pikirin,” katanya sambil menyunggingkan senyum lebar pada Reon.
Reon yang melihat itu tak kuasa menahan senyumnya juga. “Kira-kira, peluang gue berapa persen, Jo?”
Joana menjitak kepala Reon. “Lo pikir MTK pakai hitung peluangnya segala?” Joana menjulurkan lidah pada Reon sebelum akhirnya cewek itu lari ke tengah lapangan.
“Awas lo, ya! Gue kejar lo, Jo!” seru Reon sambil mengejar Joana yang saat ini masih berlari-lari di lapangan.
Dalam gemuruh canda tawa Reon dan Joana di tengah lapangan sekolah yang sudah sepi itu, Raskal diam-diam mengamati keduanya dari balik pilar sedari tadi. Cowok itu bahkan mendengar seluruh pembicaraan mereka. Entah kenapa, ketika melihat dan mendengarnya, jauh di dalam sana, di dalam dadanya, di pusat lingkaran hatinya, ada yang bergemuruh dan berteriak marah. Ada yang berseru-seru tidak rela. Ada yang merengek, meminta Joana tidak boleh jatuh ke tangan cowok mana pun selain dirinya.
Tanpa sadar, tangan Raskal mengepal kuat. Begitu kuat hingga terasa sakit dan tangannya berubah merah.
***
Raskal Joana, satu tahun lalu.
Segala hal yang sering kali diabaikan pada akhirnya akan terasa begitu berharga ketika kita kehilangan. Mungkin itulah kalimat yang cocok untuk menggambarkan kondisi hati Raskal ketika mulai menyadari perasaannya pada Joana. Entah dari kapan perasaan itu mulai muncul. Yang jelas, Reon yang berhasil memancing perasaan itu untuk keluar.
Selama ini, Raskal selalu tahu apa yang dia inginkan. Maka, dengan mudah Raskal mengetahui apa-apa saja yang menjadi keinginannya. Termasuk soal menggaet cewek yang dia suka. Sayangnya, Raskal terlalu bodoh untuk menyadari apa yang sebenarnya dia butuhkan. Namun sialnya, Joana ada pada kategori itu. Lebih dari sekadar hal yang dia inginkan, Raskal baru sadar bahwa Joana sudah seperti udara untuknya. Tidak terlihat, namun selalu ada di sisi. Selalu menjadi kebutuhan dasar dan pokok dalam hidupnya.
__ADS_1
Bukan karena Joana telah berubah menjadi gadis cantik
dan hampir disukai para cowok di sekolahnya. Raskal menyukai Joana bahkan jauh sebelum cewek itu berubah. Raskal sudah menyukai Joana dari pertama kali dirinya bertemu dengan cewek itu. Sejak cewek itu bersikeras menjadi temannya, sejak cewek itu mengotot untuk memayunginya, sejak cewek itu mau menjadi kado ulang tahunnya, dan sejak cewek itu menemaninya pulang dalam keadaan hujan-hujanan. Sejak saat itu, sebenarnya Raskal suka dan diam-diam selalu memperhatikan Joana. Sayangnya, Raskal selalu mengelak. Dia selalu menganggap perasaan yang tertanam dalam hatinya itu tidak lebih dari sekadar perasaan senang karena Joana mau menjadi temannya.
Untuk itu, agar dia tidak tambah menyesal, Raskal pun langsung mengejar ketertinggalan jarak yang perlahan-lahan membentengi persahabatan mereka. Raskal memaksakan untuk memutus perasaan asing di antara dia dengan Joana. Raskal memulai semuanya dari awal lagi. Dia bahkan jadi lebih sering berkunjung ke rumah Joana.
Raskal pun memulai kembali aktivitas lamanya yang telah berhenti satu tahun ini, mengantar jemput Joana pulang sekolah, mengamati seluruh aktivitas Joana, menjadi partner main basket cewek itu lagi, melindungi cewek itu dari godaan cowok-cowok brengsek di sekolahnya, dan tentu menjaga ketat cewek itu dari Reon. Saat ini, cowok itu jadi begitu berbahaya untuk Raskal. Reon, si sinting itu, yang mulanya tidak pernah diperhitungkan bisa menjadi saingannya, malah menjadi kuda hitam soal mendekati Joana.
“Lo pulang jam berapa? Biar gue jemput,” tanya Raskal pada Joana dengan nada over protective yang sangat dikenal Joana.
“Jam lima. Gue mau bikin susunan tim inti basket putri dulu soalnya,” jawab Joana tanpa melihat Raskal. Matanya sekarang tertuju pada ponsel yang menampilkan sederet pesan dari Reon.
Raskal yang diam-diam melihat refleks mengambil paksa ponsel itu. Joana yang terperanjat otomatis langsung menatap Raskal dengan pandangan tidak suka.
“Reon?” tanya Raskal sinis. “Udah berapa kali gue bilang kalau lo nggak boleh berhubungan sama dia lagi?! Dia brengsek!”
“Apa sih lo, Kal? Siniin nggak HP gue!” seru Joana sambil terus menggapai ponselnya dari tangan Raskal.
“Mau jalan bareng nih? Katanya mau bikin susunan tim inti?” Raskal kembali berucap dengan nada sinis, membuat Joana semakin naik darah.
“Kembaliin HP gue, Raskal!”
Raskal menggeleng kuat. Seraya menyunggingkan senyum miring, cowok itu memasukkan ponsel Joana ke saku celananya. “Gue bakal temenin lo di sekolah. Sampai lo pulang.”
“Ah! Terserah! Dasar nyebelin!” ketus Joana sebelum akhirnya dia keluar kelas dengan langkah kaki dientak-entakkan. Raskal melihatnya cuma bisa menyeringai tipis.
Lo harus sama gue! Selamanya sama gue! batin Raskal sambil melangkahkan kakinya keluar kelas, menyusul Joana yang kini tengah berjalan menuju sport center.
***
Joana Raskal, ulang tahun Joana, tiga bulan lalu.
“Jadi … lo ‘pemakai’ sekarang? Hah?!”
“Gue … gue baru ‘make’ dua kali, Jo. Sumpah, gue bakal berhenti!”
Joana memandang Raskal dengan tatapan tidak percaya. Dia benar-benar tidak menyangka kala mengetahui Raskal ikut-ikutan memakai narkoba. Padahal, hari ini adalah hari ulang tahunnya. Joana malah mendapatkan kado kejutan seperti ini.
Mendadak Joana kehilangan kekuatan. Dengkulnya lemas. Air matanya tahu-tahu saja mengalir. Joana jatuh tersungkur ke lantai. Kedua tangannya memegangi kepala yang terasa mau pecah. Kejujuran Raskal benar-benar membuat seluruh tubuhnya mati rasa.
Raskal ikut duduk di depan Joana. Cowok itu memandangi Joana dengan tatapan nanar.
“Jo … Jo, gue minta maaf. Gue janji gue bakal berhenti,” ujar Raskal lirih. Satu tangannya menolehkan kepala Joana pelan, menyuruh cewek itu kembali menatapnya.
“Kenapa lo ‘make’ barang itu?” tanya Joana tajam.
Raskal terdiam. Bukannya tidak mau menjawab, tapi Raskal tidak mampu menjawab pertanyaan Joana. Dia tidak mampu menjabarkan alasan mengapa dia memakai barang haram itu. Ada luka pada alasan itu. Ada rasa frustrasi yang tidak bisa dipahami. Ada perasaan-perasaan lain yang tidak mungkin bisa Joana mengerti.
“Kenapa? Jawab gue!”
Raskal masih terdiam. Dia bungkam, membuat Joana yang melihat itu langsung menampar Raskal kuat-kuat.
“Udah. Cukup. Persahabatan kita sampai di sini,” tukas Joana sebelum akhirnya dia bangkit berdiri, hendak pergi dari apartemen Raskal.
Raskal yang tak bisa merelakan Joana pergi begitu saja langsung bangkit berdiri dan menarik pergelangan tangan Joana. “Kalau gue ceritain, lo juga nggak bakal ngerti, Jo.”
Joana tertawa sumbang. “Justru karena lo nggak pernah cerita, gue ngerasa jadi sahabat paling nggak berguna di dunia sekarang!”
“Kasih gue waktu buat cerita. Sekarang, gue cuma butuh lo ada, Jo.”
Joana tersenyum kecut. Dia mengenyahkan tangan Raskal dari tangannya secara paksa, lalu hendak melanjutkan langkahnya untuk keluar dari apartemen Raskal. Namun, belum sempat Joana membuka pintu, suara debum-debuman keras tiba-tiba saja membuat Joana kembali berbalik. Ketika melihat Raskal tengah memukul-mukuli tembok juga membenturbenturkan kepalanya sendiri sontak Joana langsung berlari ke arah cowok itu dan menahan tubuh cowok itu sekuat tenaga.
“Raskal berhenti! Lo mau mati?! Hah?!”
“Iya! Pergi aja sana! Pergi aja kayak yang lain! Gue nggak butuh lo! Pergi!!!” bentak Raskal pada Joana keras-keras.
Joana mengembuskan napas kuat-kuat. Kebiasaan buruk Raskal kumat lagi. Kebiasaan yang sudah dia kenali dari dulu. Kebiasaan yang akan kumat bila cowok itu sedang marah namun tidak bisa menyalurkannya dengan kata-kata. Daripada bicara, Raskal lebih memilih menyakiti dirinya sendiri seperti ini.
“Pergi sana! Katanya lo nggak mau jadi sahabat gue lagi! Pergi aja sana!” teriak Raskal lagi sambil terus memukulmukuli tembok dengan tangan kosong.
Tidak memedulikan ucapan Raskal barusan, Joana tahu-tahu saja menghampiri cowok itu dan memeluk tubuhnya dari belakang kuat-kuat. Lalu, dengan wajah yang dia tenggelamkan di punggung Raskal, Joana pun menangis keras-keras.
“Gue nggak akan pergi. Nggak akan pernah pergi. Maaf
… maafin gue, Kal. Maaf, gue cuma nggak mau lihat lo mati pelan-pelan gara-gara barang sialan itu!” kata Joana dengan isak tangis yang makin lama makin hebat, membuat Raskal langsung menghentikan aksinya dan berbalik badan. Dengan kedua rengkuhan tangan, cowok itu kemudian memeluk Joana erat-erat. Wajahnya dia sembunyikan dalam-dalam di bahu cewek itu.
Untuk beberapa saat, keduanya tak lagi bicara. Hingga hening melingkupi dan sampai pada titik lelah, baik Joana maupun Raskal masih berpelukan. Keduanya sama-sama menyungkurkan diri ke sofa ruang tamu.
“Gue bakal berhenti ‘make’,” ujar Raskal kemudian, memecah kesunyian yang ada.
Joana menatap Raskal lekat. “Janji?”
Raskal mengangguk pelan. “Janji.”
Joana menyunggingkan senyum, membuat Raskal matimatian menahan diri untuk tidak mencium cewek itu sekarang juga.
“Hari ini gue ulang tahun. Lo nggak ngasih gue kado?” tanya Joana, mengalihkan pembicaraan.
“Ngasih kok. Gue baru beli Converse keluaran terbaru kemaren.”
Joana memutar bola mata. “Sepatu lagi? Setiap gue ulang tahun, lo selalu aja beliin gue sepatu. Kayak nggak ada barang lain aja.”
Raskal menyengir. “Abis, gue nggak tahu barang yang lo suka selain Converse apaan.”
Joana berdecak. “Terserah deh. Tapi, thanks ya udah inget ulang tahun gue.”
Raskal mengacak-acak rambut Joana. “Selamat ulang tahun, Joana. Kita sama-sama terus ya kayak sepatu.”
__ADS_1
“Whatever, Raskal!” ketus Joana dengan iringan tawa kecilnya.