Wedding With Converse

Wedding With Converse
Episode 11


__ADS_3

Saat semuanya perlahan lenyap dan menghilang, kau mungkin bisa menjadi satu-satunya harapanku untuk selalu siap dengan kepergian.



Raskal bangun dalam keadaan wajah pucat dan dahi yang dipenuhi keringat dingin. Pagi ini entah kenapa badannya tiba-tiba panas dan kepalanya terasa amat pusing. Namun, karena hari ini ada ulangan praktik di sekolah, Raskal memaksakan diri untuk bangun. Sebelum berangkat sekolah, seperti tidak peduli dengan keadaan tubuhnya sendiri, cowok itu bahkan memaksa untuk mengerjakan pekerjaan rumah dulu. Seperti mencuci baju, menyapu, dan membantu Joana menyiapkan sarapan.



Joana yang dari tadi diam-diam mengamati Raskal, lagi-lagi tidak bisa menghalau rasa khawatirnya pada cowok itu. Sekali dia pernah melihat wajah Raskal sepucat sekarang adalah ketika kaki cowok itu cedera di tengah-tengah pertandingan basket antar-SMP. Waktu itu, bukan hanya sekadar khawatir dan panik, Joana langsung turun dari tribun penonton dan membantu cowok itu naik ke tandu. Maka, wajar bila Joana sekarang melanggar prinsipnya sendiri untuk tidak masuk ke kamar Raskal dan menanyakan keadaannya.



“Lo kenapa?” tanya Joana sambil mengulurkan satu tangannya ke pelipis Raskal yang kini sudah dipenuhi keringat dingin. Raskal yang masih terkejut dengan kedatangan Joana yang tiba-tiba tidak langsung menjawab. Meski samar-samar karena kepalanya pusing, Raskal mencoba meyakinkan diri bahwa yang saat ini berdiri di hadapannya dan sedang memeriksa suhu tubuhnya benar-benar Joana. Bukan bentuk khayalan atau imajinasinya belaka.



“Badan lo panas. Jangan sekolah. Kalau lo sakit, gue yang repot,” perintah Joana. Walau tetap dengan nada tajam, Raskal bisa mendengar ada nada kekhawatiran di sana.



Raskal menggeleng pelan. “Nggak bisa. Hari ini gue praktik kimia.”



Joana berdecak. “Muka lo pucet!”



Raskal tersenyum lemah. “Gue nggak apa-apa. Udah, lo sekarang sarapan gih. Gue berangkat dulu,” jawabnya sambil berjalan menuju pintu keluar.



Ketika melangkah, kepala Raskal semakin terasa pusing dan sakit. Badannya juga terasa lemas. Tatapannya makin lama makin kabur. Ini pasti karena dia terlalu memforsir tenaganya untuk lembur kerja kemarin.



Sementara Joana yang sekarang sangat khawatir dengan kondisi Raskal mengekori cowok itu dari belakang, dengan niat hendak menahannya sekali lagi. Namun, belum juga dia berhasil menahan.…



Bruk!



Raskal ambruk. Cowok itu jatuh pingsan tepat di depan mata Joana.



“Raskal!” teriak Joana, berharap mampu membangunkan Raskal yang sekarang telah kehilangan kesadaran.



***



Raskal baru bangun saat dia merasakan dahinya dingin. Begitu dia membuka mata, cowok itu bisa melihat Joana sedang mengompresnya. Masih dalam kondisi setengah sadar, Raskal bisa melihat Joana menggigit bibirnya. Raut wajah cewek itu tegang. Raskal tersenyum samar. Kentara sekali kalau Joana sekarang sedang khawatir. Raskal paham benar, jika sedang khawatir, Joana akan menjadi gugup atau panik seketika.



“Makasih, ya,” ucap Raskal lirih.



Joana tersentak akan kesadaran Raskal. Uluran tangannya yang tadi sedang mengompres dahi Raskal hendak dia tarik lagi sebelum akhirnya dengan cepat Raskal menangkap tangannya.



“Lo ternyata kuat juga mapah gue sampai sofa. Nggak gue sangka kalau lo masih punya jiwa kuli.”



Joana menarik tangannya kasar. “Nggak usah bercanda! Lo nggak tahu betapa paniknya gue tadi?“


__ADS_1


“Maaf, Joana,” kata Raskal pelan. Suaranya yang lemah membuat Joana tidak mampu marah lebih jauh lagi pada cowok itu.



“Gue udah hubungin Shinta buat bilang ke Pak Yadi kalau lo sakit. Jadi, ujian praktik lo bisa diganti minggu depan,” ujar Joana tanpa menatap Raskal. Raskal yang menyadari itu hanya bisa mengembuskan napas. Walau sudah menunjukkan kepedulian lagi, nyatanya dia masih harus bersabar menghadapi kebiasaan Joana yang satu itu.



“Gue mau ambil paracetamol dulu di dapur, lo tunggu—” Belum juga kalimatnya berakhir, Joana terkejut dengan Raskal yang tiba-tiba saja menarik lengannya dan membawa tubuhnya ke pelukan cowok itu. Joana mencoba melepaskan diri, tapi Raskal semakin menguatkan pelukan.



“Jangan ke mana-mana. Sebentar aja,” bisik Raskal, membuat Joana perlahan-lahan menghentikan pemberontakannya. “Lo kan tahu sendiri, setiap kali gue sakit, obat utama gue cukup lo ada di sini. Di deket gue.”



Joana terperenyak. Ketika berada di dalam pelukan Raskal—sangat jauh berbeda dari pelukan-pelukan sebelumnya yang terasa begitu asing, entah kenapa Joana seperti menemukan kehangatan kembali. Dia mungkin gelisah, tapi di sisi lain Joana harus mengakui bahwa saat ini dia juga nyaman berada di pelukan Raskal.



Saat pelukan itu terjadi, di luar hujan pun turun. Dalam diam, dengan posisi tubuh yang menghadap ke jendela besar, keduanya mengamati ribuan tetesan langit dari sana. Setelah sekian lama berkelut dengan masalah, amarah, serta berbagai macam tekanan, untuk kali pertama keduanya bisa merasakan lagi keheningan yang nyaman. Kesunyian yang tenteram. Kebisuan yang menenangkan.



“Lo kenapa sih bisa sakit?” Joana bertanya dengan rikuh. Tidak mau melihat Raskal langsung, cewek itu malah menyembunyikan wajahnya di leher cowok itu.



“Nggak tahu. Mungkin kecapekan.” Raskal mengusap kepala Joana hati-hati. “Tapi ... kalau dengan sakit bisa bikin lo deket sama gue, gue nggak keberatan sakit terus.”



Joana berdecak. “Jangan ngomong yang nggak-nggak!”



Drrrt!




“Nggak usah diangkat. Paling itu Gavin.”



“Kalau itu telepon penting, gimana? Udah, awas!” ketus Joana kesal sambil menyingkirkan tangan Raskal yang tadi melingkari pinggangnya.



Drrrt, drrrt, drrrt!



Ponsel Raskal terus bergetar sampai akhirnya Joana mengambil dan mengangkat panggilannya.



“Ya? Halo? Ini siapa, ya?” tanya Joana dengan nada datar. Raskal yang mengamatinya dari sofa cuma bisa mendesah malas. Baru saja dia berhasil dekat dengan cewek itu lagi. Tetapi, telepon itu mengganggu semuanya.



“Apa?! Nggak mungkin!” Suara seruan Joana saat berbicara di telepon berhasil mengembalikan fokus Raskal lagi pada cewek itu. Ketika dilihatnya raut wajah Joana berubah tegang, sedih, juga takut, Raskal tahu ada yang tidak beres dengan panggilan telepon itu. Maka, dengan sekuat tenaga, Raskal memaksa tubuh lemahnya untuk berjalan menghampiri Joana.



“Ada apa, Jo? Siapa yang nelepon?”



Joana tidak menjawab. Cewek itu masih fokus dengan panggilan di seberang sana. Saat berbicara di telepon, di mana Joana lebih sering menjawab kata-kata ‘Iya, terus, kenapa, dan di mana’, Raskal bisa melihat Joana terus menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.



Sambungan telepon telah ditutup. Namun, Raskal masih diam menunggu Joana memberitahunya siapa orang yang tadi menelepon dan alasan kenapa orang itu meneleponnya.

__ADS_1



“Tadi yang telepon Om Irwan,” jelas Joana dengan nada suara nyaris seperti tercekik.



Raskal mengerutkan kening. “Om Irwan? Om Irwan kakaknya Mama?”



Joana menelan ludah susah payah. Dia melangkah menghampiri Raskal. “Iya. Dia Om Irwan kakaknya nyokap lo.”



“Kok bisa? Ada urusan apa?”



Joana tidak langsung menjawab. Cewek itu tiba-tiba saja menghambur ke pelukan Raskal. Raskal yang tadi tidak siap tentu bingung dengan sikap Joana sekarang.



“Kalau gue bilang, lo harus janji sama gue kalau lo akan tetap tenang. Oke?”



“Iya, tapi sebenarnya ada apa? Jelasin sama gue, Jo!”



Joana menghela napas panjang. Sambil terus mengeratkan pelukannya di tubuh Raskal, pelan-pelan dia mengatakan sesuatu yang membuat Raskal perlahan-lahan mematung di tempat.



“Nggak mungkin. Lo jangan bercanda, Jo. Gue nggak suka!” seru Raskal sambil mengurai paksa pelukan Joana. Dia menggeleng-gelengkan kepala, tanda tak percaya akan berita yang baru saja dia terima. “Nggak mungkin Mama meninggal. Lo pasti salah dengar.”



Air mata Joana mulai menetes satu-satu. Tanpa memedulikan reaksi Raskal, cewek itu kembali memeluk cowok itu kuat-kuat. “Tenang, Kal! Hari ini kita bakal ke Bandung. Kita bakal datang ke pemakam—”



“Nyokap gue nggak mati!” teriak Raskal keras-keras. Saking tidak bisa terimanya dia dengan kenyataan bahwa mamanya telah meninggal akibat overdosis minuman keras, Raskal bahkan sampai mendorong Joana hingga cewek itu oleng ke belakang. “Lo pasti bohong sama gue! Jelasin sama gue kalau semua yang Om Irwan bilang itu bohong!”



Joana yang sudah paham dengan kondisi ini—di mana emosi Raskal akan lepas kendali bila pusat luka paling sensitifnya tersentuh—langsung tanggap mengunci pintu apartemen dan menyambar ponsel Raskal lagi. Cepat-cepat dia menghubungi Gavin. Kalau kondisinya sudah seperti ini, dirinya sendiri pun tidak bisa menahan amukan Raskal. Jadi, dia terpaksa butuh bantuan Gavin atau Reza untuk menghentikan Raskal.



Ponsel Gavin tidak aktif. Joana berdecak. Dia mengalihkan panggilan ke nomor telepon Reza. Dengan tangan yang mulai gemetar dan mata yang terus tertuju pada Raskal yang kini tengah sibuk menghancurkan segala benda yang ada di depannya, berkali-kali dia mencoba menghubungi Reza tapi lagi-lagi tidak dijawab.



Tidak langsung putus asa, dengan napasnya yang mulai tersengal-sengal akibat ketakutan karena amukan Raskal, sekarang Joana mencoba menghubungi Shinta … diangkat! Tanpa mengizinkan Shinta berbicara, setelah memberi garis besar masalahnya pada temannya itu, Joana langsung memerintahkan Shinta untuk menyuruh Gavin dan Reza datang ke apartemennya. Untung, saat itu Shinta langsung mematuhi Joana. Jadi, dia bisa langsung mematikan telepon dan menghambur ke Raskal lagi.



“Berhenti, Kal. Lo udah janji sama gue,” pinta Joana sambil terus memegangi Raskal yang kini tengah membanting benda apa pun yang cowok itu lihat.



Raskal mengenyahkan tangan Joana kasar. “Mama nggak mungkin meninggal. Nggak mungkin!”



“Gue lagi hamil, Raskal! Kalau lo terus kayak gini, bukan cuma nyokap lo aja yang meninggal! Tapi, anak lo juga!” jerit Joana histeris. Tangisnya pecah. Dia mungkin sedih dengan duka yang menimpa Raskal sekarang, tapi dia tambah sedih dengan sikap Raskal yang seperti ini.



Raskal jatuh terduduk. Di antara lekukan lututnya, Raskal menangis keras-keras. Joana yang melihatnya langsung menghampiri Raskal lagi. Bersama perasaan yang benar-benar terluka, Joana membawa Raskal ke dalam pelukannya kembali. Seraya memejamkan mata, dibiarkan bajunya basah karena tangisan cowok itu. Diterimanya segala luka Raskal ke dalam hidupnya lagi. Pada hari ini, pada detik ini, dibiarkan rasa benci dalam hatinya pergi. Dibiarkannya perasaan itu hanyut, hilang, tidak bersisa hanya karena satu alasan.…



Di sini dia bukan satu-satunya orang yang terluka.

__ADS_1


__ADS_2