Wedding With Converse

Wedding With Converse
Episode 9


__ADS_3

Kumenangkan segala sedih.



Kulangkahi mati demi menahanmu pergi.



Dan kurelakan napas, juga detak jantungku untuk menyusun rangka-rangka hidupmu nanti.



Begitu berhasil teraih,



mengapa aku malah tidak menemui jiwamu di sini?



Pagi hari. Begitu bangun, dengan napas terengah-engah Joana mengerjap-ngerjapkan matanya saat dia sadar kamar yang dia gunakan untuk tidur semalaman bukanlah kamarnya. Joana menggigit bibir. Kamar ini kamar Raskal. Kamar yang pernah menjadi saksi bisu akan peristiwa mengerikan satu bulan yang lalu.



Joana bangkit dari tidur seraya mengusap keringat dingin yang membanjiri pelipisnya. Tadi malam dia mimpi buruk. Tapi, kenyataan bahwa dia sudah menjadi istri Raskal jauh lebih buruk.Tuk, tuk, tuk!



“Jo, udah bangun?” tanya Raskal dari luar kamar.



Joana tidak menjawab. Dia masih belum menyangka sekarang dia satu rumah dengan cowok itu.



“Gue berangkat sekolah dulu. Sarapan lo udah gue siapin di meja makan,” lanjut Raskal lagi sebelum akhirnya suaranya berubah menjadi ketukan langkah yang menjauh, tanda cowok itu telah pergi meninggalkan apartemen.



Mulai hari ini Joana memang resmi vakum sekolah. Ayahnya yang mengusulkan itu semua agar dia tidak dicemooh teman-teman. Kondisi perutnya sekarang memang masih cukup rata dan tidak terlihat seperti orang hamil. Tapi, tiga atau empat bulan lagi, teman-temannya pasti akan curiga dengan perutnya yang tiba-tiba saja membuncit.



Joana berjalan keluar kamar. Matanya sedikit terbelalak saat melihat apartemen Raskal yang sangat rapi dan bersih.Benar-benar tidak seperti dulu yang berantakan dan selalu tampak seperti kapal pecah. Joana berdecak. Dia tidak menduga Raskal akan seberusaha ini.



Buat ukuran remaja laki-laki yang sering tidak berada di rumah, apartemen ini nyatanya terlalu besar untuk Raskal. Satu ruang tamu, dua kamar tidur, dapur, ruang TV, dan ruang makan. Belum lagi furniturnya rata-rata bukan dari jenis merek murah.



Apartemen ini mewah sekaligus sepi. Luas sekaligus hampa. Joana berjalan ke ruang makan yang terdapat di samping dapur. Di meja, tersedia semangkuk bubur ayam tanpa kacang kesukaannya. Joana tertawa kecut. Bahkan sampai pada hal-



hal kecil seperti ini, Raskal masih peduli.



“Lo pikir cuma dengan bubur lo bisa dimaafin?” gumam Joana seraya duduk di kursi, lalu mulai menyantap buburnya. Ketika selesai, bukannya kenyang, dia malah merasa kalau bubur ini saja belum cukup mengisi perutnya.



Joana membuka kulkas. Matanya terbelalak saat melihat simpanan makanan Raskal yang berubah seratus delapan puluh derajat dari biasanya. Tidak ada lagi snack ber-MSG, Coca-Cola, dan makanan cepat saji. Sebaliknya, yang Joana temukan dalam isi kulkas Raskal sekarang hanyalah beberapa sayuran segar, buah-buahan, roti, telur, susu sapi murni, dan satu susu yang belum dikenali mereknya. Joana mengambil susu berkemasan ungu itu. Saat melihat mereknya, saat itu juga Joana ternganga.



Susu ibu hamil.



“Ini orang kenapa sih?!”



Kesal dengan benda yang dia lihat tadi, Joana menutup pintu kulkas. Nafsu makannya mendadak hilang. Tergesa-gesa dia berjalan ke ruang TV. Saat duduk di sofa, lagi-lagi Joana menemukan benda yang membuatnya naik darah.



Sebotol vitamin dan sepucuk surat.



Makan harus tiga kali sehari. Tidur yang cukup. Terus, kalo lo males makan nasi, lo bisa minum susu yang udah gue siapin di kulkas.



Gue sekolah dulu. Nanti sore lo harus sediain buku Matematika sama Biologi. Lo bakal gue privatin belajar. Jangan karena lo vakum sekolah, lo bisa duduk-duduk manis aja.



Raskal



***



Raskal menutup bukunya saat menyadari Gavin dan Reza sudah duduk manis di sekeliling mejanya. Tanpa perlu menebak, dari sorot matanya saja Raskal sudah tahu apa yang ingin ditanyakan kedua sahabatnya itu.



“Gue udah nikah sama dia,” ungkap Raskal gamblang.



Bisa diterka oleh Raskal, reaksi Gavin dan Reza setelah itu langsung terlihat sangat absurd karena keduanya sama-sama menganga lebar-lebar.



“Serius lo, Kal? Lo jadi married sama dia? Kapan? Kok Lo nggak bilang sama kita? Terus dia sekolahnya gimana?” cecar Reza bertubi-tubi. Raskal langsung mengembuskan napas. Dia menatap jengah kedua temannya.



“Lo kalau nanya bisa satu-satu nggak sih? Udah tahu temen lagi puyeng,” ketus Gavin kesal. Reza langsung mencibir.



“Minggu kemarin. Mendadak, gue nggak punya waktu buat ngabarin lo berdua. Masalah dia sekolah atau nggak, Joana terpaksa vakum setahun.”



“Serius, Kal?!” pekik Reza lagi. Terlihat sekali cowok itu benar-benar terkejut dengan kabar ini.



“Kalau lo bilang gue nggak serius, gue bunuh lo,” sungut Raskal sambil berjalan keluar kelas. Reza dan Gavin pun mengekori cowok itu dari belakang.



“Terus Joana gimana? Dia masih benci sama lo?” kali ini sesi wawancara diambil alih oleh Gavin. Pertanyaan itu kontan saja membuat Gavin langsung dihunjam lirikan tajam Raskal. Gavin meringis. “Pasti dia dendam kesumat sama lo, ya,” ucapnya santai yang langsung ditoyor Reza dari belakang.



Reza, Gavin, dan Raskal duduk di pinggir atap bagian belakang sekolah. Mereka kembali melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda.



“Bokap lo udah tahu?” tanya Reza pada Raskal setelah beberapa saat hening menyelimuti ketiganya.


__ADS_1


“Udah.”





“Terus?”



“Lo lihat gue bawa mobil nggak hari ini?”



“Nggak,” jawab Gavin polos sebelum dia menyadari arti dari pertanyaan Raskal tadi. Begitu sadar, cowok itu langsung menatap Raskal dengan sorot tak percaya. “Mobil lo disita?”



“Hah?! Beneran disita?” tambah Reza yang langsung ditanggapi decakan Raskal.



“Nggak usah lebay gitu bisa?”



Secara tak sengaja Gavin dan Reza menghela napas bersamaan. Keduanya ikut prihatin dengan peristiwa yang menimpa Raskal kini.



“Terus nyokap lo?”



“Berhenti nanyain ortu gue!” sanggah Raskal. “Masalah gue sekarang itu Joana. Gue udah desperate banget ngehadepin dia.”



Reza berdeham. “Wajar kalau dia marah, Kal. Di sini memang jatohnya lo yang salah.”



Raskal melirik Reza dengan pandangan bertanya.



“Tapi, bukan berarti lo juga terus-terusan ngalah sama dia. Ada waktunya lo harus tegur dia. Tapi, inget! Jangan dibentak apalagi dikasarin.”



“Iyalah. Gue juga pantang kali kasar sama cewek,” sahut Raskal cepat.Gavin merangkul Raskal. “Tapi, Kal, lo juga harus inget, Joana itu masih remaja. Masih ABG. Dia bisa aja suka sama cowok lain,” kata Gavin dingin.



Mata Raskal menyipit mendengarnya. “Terutama Reon. Setahu gue tuh anak lagi gencar-gencarnya deketin Joana.”



Saat mendengar nama Reon, dengan kasar Raskal menyingkirkan tangan Gavin dari bahunya. “Bisa nggak sih lo nggak bawa-bawa nama tuh orang?!” protes Raskal kesal.



Gavin berdecak. “Nah, ini nih kelemahan lo. Susah nahan emosi kalau bersangkutan sama cowok-cowok yang deketin Joana.” Gavin duduk kembali di samping Raskal. “Baru gue yang ngomong nama tuh orang, lo udah ngamuk. Apalagi kalau suatu saat nanti si Joana terang-terangan nyebut nama tuh orang depan muka lo, bisa abis kali apartemen lo obrakabrik!”



“Gue setuju sama apa yang barusan Gavin bilang. Lo harus bisa ngontrol emosi lo, Kal. Kalau nggak, bisa-bisa lo celakain istri lo sendiri ketika lo tahu dia benar-benar selingkuh sama Reon.”



Raskal menelan ludah. Perlahan kedua matanya terpejam. Ada jeda cukup lama untuk bisa menerima nasihat dari kedua temannya ini. Benar, dia memang tipe orang yang susah mengontrol emosi. Maka dari itu, akhir-akhir ini Raskal mencoba untuk bisa sabar. Bisa menerima segala masalah dengan lapang tanpa harus mengeluarkan bentakan atau teriakan.




Gavin menepuk-nepuk punggung Raskal. “Lo pasti bisa!” Raskal tersenyum tipis. Matanya melirik Gavin. “Terus, apa lo bisa lepas dari barang sialan itu? Kalau lo bilang gue bisa, gimana sama lo? Apa lo juga bisa?” tanya Raskal, menohok Gavin seketika. Gavin terdiam.



Lo juga pasti bisa, Vin,” ujar Raskal lagi sambil menepuknepuk bahu Gavin pelan.



***



Genap seminggu Joana menghilang dari peredaran sekolah. Ponselnya tidak aktif. Berkali-kali Shinta dan Naomi menghubungi, tapi selalu berakhir dengan suara monoton operator yang meminta mereka untuk meninggalkan pesan. Keduanya juga sudah berusaha mencari Joana ke rumahnya, namun hasilnya tetap sia-sia. Menurut penjelasan keluarganya, Joana sudah pindah sekolah dan hidup bersama dengan sepupunya. Penjelasan itu pun terhenti begitu saja karena keluarga Joana cepat-cepat menutup pintu. Membuat rasa penasaran Shinta dan Naomi semakin menjadi-jadi.



“Apa kita tanya sama Raskal aja, ya?” usul Naomi dengan raut wajah khawatir.



“Akhir-akhir ini gue jarang lihat dia di sekolah,” sahut Shinta.



“Justru itu!” pekik Naomi nyaring. “Pasti ini ada kaitannya sama Joana. Kita harus nanya sama dia, Shin.”



Shinta mengangguk-angguk. Dia bangkit dari duduknya. “Oke, bakal gue tanyain sama dia sekarang juga.”



“Eh, tapi, Shin … kan Raskal biasanya sama Gavin. Lo nggak apa-apa?” tanya Naomi skeptis, membuat Shinta langsung memutar bola matanya.



“Peduli amat sama tuh orang,” ketus Shinta. Dia tahu kalau risiko menghampiri Raskal adalah dia juga harus berhadapan dengan kacung cowok itu juga—Gavin. Orang yang setengah mati dia benci.



Namun, ketika dia menemui Raskal, dalam hati Shinta mensyukuri orang itu tidak sedang bersama Gavin sekarang.



Shinta dan Naomi bertemu Raskal di kelas. Tidak seperti biasanya—dulu Raskal selalu terlihat nongkrong di lapangan belakang sekolah, hari ini cowok itu terlihat serius membaca buku di tempat duduknya.



“Lo tahu Joana di mana?” tanya Shinta to the point, merasa tidak perlu mengomentari kegiatan Raskal saat ini. Raskal yang disodori pertanyaan itu otomatis langsung menutup bukunya dan mengalihkan perhatian pada Shinta dan Naomi.



“Gue nggak tahu,” jawab Raskal seraya melenggang ke luar kelas. Shinta dan Naomi yang tidak percaya akan jawaban cowok itu mengikuti Raskal lagi dan kembali menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali. Hal itu membuat Raskal jengah dan berhenti bersikap tidak peduli pada keduanya.



“Kita janji nggak bakal kasih tahu siapa-siapa. Cukup kita aja yang tahu. Tolong, Kal, kita khawatir sama Joana,” ucap Naomi, memohon.



“Iya. Kita janji nggak akan kasih tahu siapa-siapa,” timpal Shinta, menyetujui ucapan Naomi barusan.



Raskal menghela napas panjang. Selain dia, dua cewek di hadapannya ini memang sahabat dekat Joana. Sangat egois bila dia menghalang-halangi mereka bertemu dengan Joana. Meski risikonya kedua orang ini akan tahu kondisi Joana sekarang dan tidak menutup kemungkinan mereka akan memakinya habis-habisan, nyatanya Raskal tetap tidak boleh memikirkan diri sendiri. Semenjak mereka memutuskan untuk menikah, Raskal tahu jika kondisi jiwa Joana semakin labil akibat beban yang cewek itu tanggung. Jadi, mungkin, dengan kehadiran Shinta dan Naomi, beban Joana mungkin bisa sedikit terangkat.

__ADS_1



“Mana handphone lo?” Raskal mengulurkan tangan pada Shinta. “Gue mau kasih tahu alamat rumah Joana sekarang.”



Mata Shinta mendadak berbinar. Cepat-cepat dia menyerahkan ponsel pada Raskal. Tidak lama setelah mengetik, Raskal mengembalikan ponsel yang digenggamnya pada Shinta lagi.



“Apartemen Mulia Putera? Ini bukannya apartemen lo ya, Kal?” tanya Shinta saat melihat lokasi tempat tinggal Joana sekarang. “Kok Joana di sana? Katanya dia tinggal sama sepupunya sekarang? Terus kata Kak Givi dia pindah sekolah. Kenapa dia bisa ada di apartemen lo?”



Naomi ikut menganggukkan kepala. “Iya. Kok bisa sih, Kal?”



Raskal mengembuskan napas jengah. “Lo cari tahu aja sendiri,” ucapnya pendek sebelum akhirnya cowok itu melenggang pergi. Meninggalkan Shinta dan Naomi dengan tatapan penuh tanya.



***



Baru sehari tinggal di apartemen Raskal, Joana sudah mengetahui sisi-sisi Raskal yang belum diketahuinya selama ini. Karena bosan menonton TV yang acaranya itu-itu saja, Joana lebih memilih menelusuri setiap sudut apartemen Raskal. Awalnya, dia pikir penelusuran ini percuma dan tidak akan membuahkan apa-apa karena Joana punya anggapan dia sudah tahu segala hal tentang Raskal. Namun, saat dia memasuki kamar Raskal yang satu lagi, yaitu kamar yang biasanya dijadikan tempat penyimpanan baju, buku, dan peralatan-peralatan cowok itu, Joana sadar jika dia tidak sepenuhnya memahami Raskal.



Misalnya, Joana baru tahu Raskal selalu menyimpan foto-foto dirinya setelah potong rambut. Dulu, waktu masih SMP, dia memang suka mengubah-ubah gaya rambut pendeknya. Dari yang model mangkuk, jigrak, sampai model anime-anime Jepang. Lucunya, di setiap bagian belakang foto-foto itu, Raskal selalu menuliskan nama-nama artis atau tokoh anime yang dimaksud Joana. Joana Meyer, Uzumaki Joana, Uciha Joana, Joana Kurosaki, Joana Gooku, dan berbagai macam nama-nama lain yang membuat Joana tanpa sadar menyunggingkan senyuman tipis.



Lalu, Joana juga menemukan satu toples origami bintang yang terdapat di atas meja belajar Raskal. Ketika menemukan benda itu, Joana tak kuasa menahan keterkejutannya. Bukan apa-apa, origami-origami bintang itu buatannya. Joana mempunyai sifat gampang khawatir dan gelisah. Namun, dia tidak gampang marah. Maka, setiap dia emosi, Joana selalu menyalurkan emosinya dengan membuat origami. Kebiasaan itu sudah ada dari dia kecil, tapi tidak ada yang mengetahuinya selain dirinya sendiri. Oleh karena itu, Joana bingung kenapa origami-origami ini bisa ada di tangan Raskal. Padahal dia ingat benar, setelah origami itu selesai dibuat, Joana selalu membuangnya atau menaruhnya di sembarang tempat begitu saja.



Belum cukup dikejutkan dengan semua benda itu, lagi-lagi ada satu benda yang mampu membuat dengkul Joana mendadak lemas.



Seragam pertandingan basket pertamanya.



Joana tersungkur ke lantai. Senyumnya memudar. Rona di wajahnya menghilang ketika dia menemukan semua barang-barang itu. Untuk orang lain, mungkin semua benda-benda itu tidak ada gunanya. Tapi, baginya, semua benda itu memiliki arti. Fase pertumbuhan, suka duka, dan cita-citanya yang bahkan tidak dikenal baik oleh dirinya sendiri.



“Sialan!” Joana menggeram marah. Bukan pada Raskal, tapi pada dirinya yang tidak bisa benar-benar membenci cowok itu.



Tuk, tuk, tuk!



Suara ketukan pintu mengembalikan kesadaran Joana. Mulanya dia menebak itu Raskal. Jadi, diketukan awal, Joana mengabaikannya saja. Namun, saat dia mendengar suara perempuan dari interkom apartemen Raskal, buru-buru Joana berjalan ke arah pintu utama, lalu membukanya. Benar saja, bukan Raskal. Yang dia temui di balik pintu itu adalah dua sahabatnya, Shinta dan Naomi.



“Lo utang banyak penjelasan sama kita,” tuding Shinta tajam hingga membuat Joana tidak berkutik.



Dalam hati Joana berdecak, pasti Raskal yang membawa mereka ke sini. Joana mengembuskan napas panjang. Kalau sudah begini, dia tidak bisa mengelak lagi. Hanya dari gaya bicaranya, Joana bisa tahu jika sebentar lagi Shinta dan Naomi akan mewawancarainya habis-habisan.



“Ayo, masuk.” Joana melebarkan daun pintu, mempersilakan Naomi dan Shinta masuk.



“Kita nggak bakal nanya. Kalau lo emang masih anggap kita sahabat lo, kita mau lo sendiri yang jelasin sama kita,” ucap Naomi ketika dia, Shinta, dan Joana sudah duduk di ruang tengah.



Joana menunduk dalam-dalam. Badannya mendadak gemetar. Mulutnya masih mengatup rapat. Tanda dirinya belum yakin kalau dia mampu kembali mengutarakan peristiwa mengerikan beberapa bulan yang lalu.



“Kita cuma nggak mau lo sakit sendirian, Jo. Kalau emang lo ada masalah, lo bisa cerita sama kita. Bukan malah menghindar. Apa pun masalahnya, kita nggak akan ngehakimin lo,” kata Shinta, menenangkan Joana.



Joana menelan ludah. Perlahan namun pasti dia kembali mendongakkan kepala untuk melihat kedua sahabatnya. Seiring dengan desahan napas yang mulai berangsur cepat, juga dijedakan cukup panjang sejak tanya itu dihadirkan, dengan lirih, tersendat susah payah, dan berulang kali terputus, akhirnya jawabannya pun diberikan. Joana tidak menangis. Tapi, lebih dari itu, Joana seperti kehilangan setengah kesadaran saat terpaksa harus mengulang kembali peristiwa yang sesungguhnya sangat ingin dia lupakan.



“Berat, Shin. Berat buat gue … buat gue cerita sama kalian,” ujar Joana lirih ketika dia usai menjelaskan segalanya. “Gue mau cerita sama kalian. Tapi, gue takut kalian bakal jijik sama gue.”



Shinta dan Naomi membatu di tempat. Keduanya sama-sama terkejut dengan kenyataan-kenyataan yang tadi Joana lontarkan. Di alam bawah sadar, mereka menekankan pada diri mereka sendiri bahwa apa yang dikatakan Joana pastilah bohong atau hanya candaan. Namun, ketika mereka melihat tetes demi tetes air mata sahabatnya itu mengalir, refleks keduanya langsung bangkit dan memeluk Joana kuat-kuat.



“Tolol! Mana mungkin kita ninggalin lo!” maki Shinta marah. Suaranya sama keras dengan tangisannya sekarang.



“Kalau lo ceritain ini lebih awal, lo nggak akan nanggung semuanya sendirian, Jo,” timpal Naomi sambil mendongakkan kepala Joana dan menghapus air mata yang mengalir di pipi cewek itu.



“Maaf … maafin gue.” Joana menyunggingkan senyum terpaksa. “Maafin gue.”



Bagi Shinta dan Naomi, Joana adalah anak yang lurus. Terlepas dari sifat sarkas dan hobinya yang suka clubbing, Joana adalah tipe pemegang teguh prinsipnya sendiri. Tidak hanya itu, setahu Shinta dan Naomi, Joana juga bukan tipe perempuan murahan yang gampang menyerah pada laki-laki. Sebaliknya, Joana paling antipati pada cowok-cowok brengsek yang suka menggodanya. Jelas, tidak heran jika Joana yang cantik belum punya pacar. Bukan karena dia tidak laku, seperti mawar, Joana sulit disentuh. Maka dari itu, saat keduanya mengetahui Joana dihamili Raskal—sahabat dekat cewek itu sendiri—lebih dari sekadar marah, keduanya benar-benar ingin menghajar Raskal sekarang juga.



“Terus sekarang lo nggak sekolah?” tanya Shinta begitu suasana mulai tenang.



Joana mengangguk rikuh. “Terpaksa vakum setahun.”



Shinta mengepalkan tangan. “Raskal bener-bener minta dibunuh kali, ya!”



“Jangan! Kalau Raskal mati, nanti anak yang dikandung Joana nggak punya ayah,” sela Naomi polos, membuat Shinta tambah menggeram marah.



“Gue bener-bener nggak nyangka. Gue pikir dia bakal jagain lo kayak dia selalu jagain lo dari cowok-cowok brengsek yang deketin lo. Tapi, kenyataannya dia malah jilat ludahnya sendiri. Tuh cowok bener-bener kelewat—”



Belum juga selesai Shinta dengan makiannya, suara bel apartemen tiba-tiba saja berbunyi.



“Itu pasti Raskal!” tebak Naomi yang langsung menaikkan amarah Shinta.



Shinta berjalan menuju pintu dengan langkah setengah dientak-entakkan. Rahang wajah mengeras, tanda dia benarbenar tidak bisa membendung emosinya lagi. Maka, saat dia membuka pintu dan benar-benar mendapati Raskal di baliknya, tanpa basa-basi lagi Shinta langsung menerjang cowok itu dengan satu kali tamparan keras.

__ADS_1



“Gue bener-bener nggak percaya kalau cowok sebrengsek lo bisa lahir ke dunia!” maki Shinta tajam, membuat Raskal semakin tersudut dan merasa kehadirannya sudah tidak lagi diharapkan.


__ADS_2