Wild And Flower

Wild And Flower
Pertemuan dan Kematian


__ADS_3

Gerungan motor menggema sepanjang jalan yang dipenuhi gedung-gedung proyek terbengkalai. Malam yang seharusnya dingin karena gerimis yang stagnan menjadi panas kala pemuda-pemudi di arena balap melakukan pertandingan. Hujan bukanlah rintangan jika semangat sudah menggelora. Demi kemenangan, demi pencapaian, demi kepuasan. Pemuda-pemudi yang hadir dalam arena balap liar memiliki berbagai alasan yang berbeda. Seperti pula alasan bagi Damar Yudha Saskara, sang tuan yang begitu mencintai kemenangan.


Namun, baginya malam dan hujan selalu menjadi pengecualian. Itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya tak mau menghadapi langit, yang gelapnya seolah akan menenggelamkan tubuhnya yang basah. Ia benci aroma rintik hujan yang bercumbu dengan tanah di sepanjang jalan yang ia lalui. Hingga alih-alih menguasai jalanan seperti biasanya, ia lebih sudi melihatnya hilang dari muka bumi.


Lelaki itu telah melajukan motornya keluar dari arena pertandingan.


Semakin ia menaikkan kecepatannya, bayang-bayang itu berputar semakin cepat. Damar selalu benci hujan di malam hari yang selalu mengingatkannya akan kematian ibunya. Derasnya hujan yang menyamarkan air matanya, suara petir yang membungkam tangisannya, dan aroma petrikor yang menusuk indra penciumannya. Aroma yang selalu mengingatkannya akan pemakamannya. Gelapnya langit yang selalu membuat hatinya semakin legam. Katanya, orang yang meninggal akan menjadi bintang di atas langit. Tapi malam itu tidak ada setitik pun bintang di atas sana.


Rintik hujan yang menghujami tubuhnya terasa semakin deras. Badannya terasa semakin panas. Kepalanya semakin sakit. Rasa yang sama, yang mengingatkan Damar sebagai anak kecil tak berdaya yang menangis di depan makam ibunya.


Suara riuh jalanan terdengar semakin jauh. Seolah ia semakin mengecil, dan dunia menari-nari seolah menertawakannya. Tidak, Damar sangat membenci itu.


Damar berusaha memfokuskan pandangannya ke depan. Entah mengapa, ia semakin kehilangan fokus penglihatannya.


Sampai pandangannya kembali, ia melihat seseorang berdiri beberapa meter di hadapannya.


Brakk


Dan Damar tak sempat menghindari.


......................


Damar mengembuskan napasnya yang berat. Entah ia merasa lega bahwa wanita itu masih hidup, atau tertekan karena luka yang dialaminya cukup parah akibat kecerobohannya.


Cedera di wajah dan kakinya. Dan tulang lengan kanannya yang retak sehingga ia membutuhkan perawatan khusus.


Damar ketiduran di kursi tunggu di pagi buta karena tak bisa tidur semalaman menunggu wanita itu siuman. Ia membuka matanya kala sinar matahari mulai menerpa wajahnya. Lelaki itu sontak terperanjat. Ia langsung mengumpulkan kesadarannya begitu mengingat ada seseorang yang membutuhkan pertanggungjawabannya.

__ADS_1


Damar langsung berdiri dan masuk ke dalam ruangan di mana wanita itu dirawat. Ia menyibak tirai yang sedikit menutupinya. Lalu sedetik kemudian mata Damar membulat sempurna, melihat darah yang berlumuran di telapak tangan si gadis tepat sesaat setelah ia bersusah payah mencabut jarum infusnya. Di saat yang bersamaan, wanita itu menatapnya. Tangan kanannya yang diperban menjatuhkan jarum infus itu begitu saja, sama terkejutnya.


Damar menelan salivanya, panik. Ia langsung menekan tombol yang berada di samping nakas untuk memanggil perawat. Tetapi bukan hanya panik yang dirasakannya, kini ia marah. "Apa yang lo lakuin? Lo mau mati, hah?!" tanyanya dengan suara meninggi.


Gadis itu menggeleng pelan. "Saya … mau pulang."


Damar mengatupkan mulutnya. Tidak. Ia sangat membenci tatapan itu. Tatapan putus asa yang membuatnya entah mengapa merasa sangat marah. Bahkan ketika air mata itu menggenang di pelupuk matanya, ia enggan meneteskannya.


Damar mengacak rambutnya frustasi. "Pulang? Saat lo luka parah begini? Udah gila ya, lo? Lo sadar nggak kalau yang lo lakuin ini bodoh? Kalau lo mau mati jangan di sini! Gue yang harus bertanggungjawab sama kecelakaan lo! Gue yang bakal repot kalau kondisi lo makin parah!"


"Maaf …," rintih gadis itu sembari menundukkan kepalanya.


Entah mengapa, Damar merasa si nona akan mengatakan beberapa patah kata lagi. Tetapi kata-kata itu tak kunjung keluar dari mulutnya hingga perawat datang.


Lelaki itu memutuskan kembali keluar selagi perawat memasang kembali infusnya. Ia kemudian membuka handphone dan mencari nama Celine di kontaknya. Celine, salah satu gadis yang mengatur perputaran uang di arena balap. Ia menekan ikon panggilan hingga tersambung di seberang.


"Halo? Damar? Ada apa? Lo ke mana tiba-tiba ngilang semalem?" Suara serak khas bangun tidur terdengar di seberang.


"Gue pengen pulang aja semalem. Soal uang pertandingan tiga hari lalu, bisa dikirim sekarang nggak?" tanyanya to the point.


"Lo lagi butuh banget emang?" Celine bertanya dengan nada heran.


"Iya." Damar berhenti sejenak. "Gue habis kecelakaan."


"Hah? Apa? Terus lo gapapa? Kok bisa?!" Suara Celine di seberang seketika terdengar panik.


"Kalem," tenang Damar. "Bukan gue, tapi gue nabrak orang. Lagi dirawat sekarang."

__ADS_1


"Ya ampun … ada-ada aja. Yaudah gue kirim uangnya sekarang." Celine mengembuskan napasnya lega.


"Thanks, Cel." Kini Damar yang menarik napas lega.


"Lo butuh sesuatu lagi nggak? Gue perlu ke sana nggak sekarang?"


"Nggak, nggak usah," tolak Damar. "Gue mau ngambil motor."


......................


Damar kembali ke rumah sakit setelah mengambil motornya yang diamankan polisi. Ia mengernyitkan alisnya kala menyadari rumah sakit ini lebih ramai dari sebelumnya. Tidak, bahkan sangat ramai. Ada beberapa reporter yang berlari melewatinya, dan tampak beberapa orang bergegas menuju arah yang sama. Ia kemudian melihat arah di seberangnya yang penuh dengan kerumunan.


Damar bertanya-tanya. Tetapi ia harus kembali untuk memastikan kondisi wanita itu.


Damar memasuki ruang rawat wanita itu. Sayangnya si nona tak ada di kamarnya. Ia lantas berdecak, kemudian berbalik untuk mencarinya. Tetapi selangkah kemudian Damar menghetikan langkahnya, menyadari sesuatu. Ia mendekati ranjang wanita itu.


Infus yang lagi-lagi lepas. Dan secarik kertas yang ditinggalkan di atas nakas. Entah mengapa, jantungnya tiba-tiba berpacu lebih cepat. Ia kemudian membuka kertas yang terlipat itu, dan membaca tulisan yang tertulis berantakan di dalamnya.


Maaf, saya tidak mau merepotkan Anda lagi. Saya akan pergi, karena tidak ada lagi keinginan yang saya punya. Semoga Anda hidup bebas dan bahagia. Saya sangat berterima kasih karena Anda sudah menjadi orang terakhir yang membantu saya ketika tak ada seorang pun di sisi saya.


Selamat tinggal.


Dan jantung Damar benar-benar berpacu lebih cepat, hingga rasanya nyaris saja meledak.


Ia meremas kertas itu genggamannya. Rasa sesak tiba-tiba saja memenuhi rongga dadanya. Ia kemudian berlari, menyusuri lorong rumah sakit, melewati tapak demi tapak menuju lantai dasar agar bisa keluar dari sana.


Damar menerobos kerumunan yang masih ramai. Ia kemudian memaksa melintasi garis polisi untuk melihat siapa yang terbujur kaku di sana. Dan kemudian langkahnya terhenti melihat wajah itu, dengan rona merah segar yang menggenang di sekelilingnya.

__ADS_1


__ADS_2