Wild And Flower

Wild And Flower
Pernyataan Cinta


__ADS_3

Damar diam-diam mengikuti Diantha ketika tiba waktunya gadis itu harus menemui Tama. Gadis itu menunggu sambil duduk manis di kursi koridor di samping ruangan dosen. Sedangkan Damar bersembunyi di balik pot bunga besar yang berada tepat di belokan. Lalu setelah beberapa saat menunggu, seorang lelaki datang menghampiri Diantha. Damar memfokuskan pandangannya, dan keningnya seketika berkerut. Itu bukan Tama.


Tetapi tampaknya Diantha menyambut kehadiran lelaki itu dengan baik. Ini pertama kalinya Damar melihat Diantha tersenyum dengan ringan tanpa paksaan seperti saat ia berbicara dengan teman-temannya yang lain sebelumnya.


Damar penasaran. Tetapi sayangnya mereka tak banyak membicarakan hal yang tampak penting selain serah terima revisi berkas dari Tama.


“Pak Tama tiba-tiba sibuk, Di. Jadi berkasnya dititipin ke gue,” ucap lelaki itu sembari memberikan beberapa lembar kertas dalam map.


“Oh, oke, Kak. Makasih, ya,” balas Diantha sembari tersenyum lebar.


Dan tak lama setelah itu, Diantha pergi dari sana. Tanpa bertemu dengan Tama.


Damar mengacak rambutnya frustasi. “Kalau begini terus, gimana dapet petunjuknya?” bisiknya.


......................


Diantha memang tak punya banyak orang yang bisa benar-benar ia anggap temannya. Tetapi bukan berarti ia menyerah atau membulatkan fakta menjadi tidak ada sama sekali. Nyatanya, baginya ada seseorang teman yang ia anggap begitu spesial. Namanya Mia, gadis ceria dan social butterfly, yang jelas berkebalikan 180 derajat dengannya. Namun, mungkin karena kebribadiannya yang begitu senang bergaul dengan siapa saja, hanya Mia-lah yang mau berteman dengannya.


Mereka cukup sering menyempatkan untuk bertemu di tengah-tengah kesibukan mereka serta terhalangnya beda jurusan dan jam kuliah di kampus. Setidaknya beberapa kali dalam seminggu, untuk membeli makan bersama, mengerjakan tugas bersama, atau sekedar main dan mengobrol. Dengan adanya Mia saja, Diantha tak perlu lagi mencemaskan orang lain serta ucapan-ucapan jahat mereka padanya. Karena baginya, Mia seperti rumah yang aman di tengah-tengah ributnya angin badai.


Seperti halnya hari ini, mereka berdua akhirnya bertemu untuk mengerjakan tugas bersama di taman kampus.


“Eeh, lo nih kayak biasa selalu sibuk banget ya.” Mia menyeletuk sembari menutup laptopnya ketika melihat tumpukan kertas di depan Diantha masih berantakan.


Diantha melirik sedikit. “Kamu udah selesai?”


“Iya dong,” sombong Mia sambil membuka bungkus makanan ringan yang sedari tadi menunggu untuk dilahap. Ia kemudian menyodorkan dua lembar keripik singkong itu tepat di depan mulut Diantha. “Nih, mangap, AAAAA,” perintah Mia.


Diantha tak bisa menolak selain menurut sebab keripik itu sudah menyentuh ujung bibirnya. Kalau ia tetap menutup mulutnya, Mia bisa saja menjejalinya dengan paksa.


“Udah ah, kamu makan sendiri aja yang kenyang.” Diantha menatap Mia sambil cemberut.


“Nggak boleh gitu dong!” tolak Mia tegas. “Lo juga harus makan. Kalau lo sibuk terus begitu kapan makannya. Sini mangap lagi!”


Diantha menahan tangan Mia. “Sini-sini. Aku makan sendiri, deh.”


Mia tersenyum puas. “Nah, gitu dong. Jangan sampe kosong itu perut! Mana nanti kamu ada part time. Jangan lupa makan berat loh entar malem.” Gadis itu memperingatkan.


“Iya-iya, Mama Mia,” ledek Diantha sambil menganggukkan kepalanya.


Mia melotot. “Stop manggil gue Mama Mia.”


Ðiantha tertawa. “Habisnya kamu kayak mama-mama, ngomel mulu.”

__ADS_1


Mia menyipitkan matanya. “Awas ya kalau sampe lo duluan yang jadi mama-mama.”


Sebuah dering notifikasi menginterupsi mereka. Diantha mengecek ponselnya, dan benar saja datangnya dari sana. Sebuah nama yang tertera di layar mampu membuatnya tersenyum hingga pipinya memerah. Kak Angga. Lelaki yang sudah beberapa kali membantunya dalam memenangkan perlombaan. Awalnya Diantha hanya merasa berterima kasih saja pada orang itu. Namun tanpa disangka perasaan sukanya terus saja bertumbuh.


Mia yang melihat Diantha tersenyum kini menatapnya penuh selidik. “Itu cemceman lo, ya?” tebaknya.


Diantha sontak menggeleng panik. “Nggak kok,” sangkalnya.


Mia cemberut. “Jangan bohong, deh. Kelihatan tau.”


Gadis itu membulatkan matanya. “Emang kelihatan banget, ya?”


“TUH KANNN!” seru Mia antusias.


“Ihhh,” rajuk Diantha kecewa karena merasa ditipu. “Tapi … sebenernya aku udah lama sih suka sama dia. Cuma akhir-akhir ini baru sadar ternyata suka banget. Aku ngerasa aman kalau sama dia.” Diantha tak mampu menyembunyikan senyumannya.


“Tuh, kan. Dari dulu lo cerita cowok itu selalu baik ke lo aja gue udah tau lo suka dia! Mungkin aja dia suka lo juga!” Mia tersenyum antusias, matanya membulat sempurna. “Kalau begitu lo confess aja!” serunya.


Diantha sontak menggeleng tak setuju. “Nggak mau! Malu tau …,” rintihnya.


“Diantha, denger. Nggak ada yang nggak mungkin kalau belum dicoba!” Ia menahan kedua bahu Diantha. “Gue aja dulu yang nembak pacar gue duluan tau,” pamernya sombong.


“Beneran?” Mata Diantha seketika berbinar menyadari betapa kerennya sahabatnya itu.


Diantha membulatkan matanya. “Eh, tunggu dulu!”


“Kita lanjut omongin nanti malem aja! Udah jam segini, pacar gue udah jemput di depan!” tolak Mia buru-buru sambil mengemasi barang bawaannya. “Dadah!” pamitnya sembari berlari meninggalkan Diantha yang diam mematung.


Ia mendesah pasrah. Rasanya tidak mungkin mengungkapkan perasaannya pada Angga. Tapi lebih tidak mungkin lagi mematahkan semangat Mia jika sudah antusias.


......................


Mia menghampiri kekasihnya yang tengah duduk di atas motor menunggunya di bawah pohon beringin. Gadis itu tak bisa memudarkan senyumnya kala melihat lelaki itu. “Kak!” sapanya riang. “Maaf, lama ya? Mau makan di mana habis ini?”


Cowok itu hanya menggeleng sambil tersenyum. “Coba di warung ayam di perempatan, yuk!” ujarnya memberi saran. “Adek tingkat Kakak pernah rekomendasiin tempat itu,” lanjutnya, kini membantu Mia memasang helm-nya.


“Bolehh!!” seru Mia antusias. Ia menaiki motor dan memeluk perut sang kekasih.


Cowok itu melajukan motornya dengan kecepatan sedang sembari menikmati angin sepoi-sepoi sore hari di area kampus. Di tengah-tengah perjalanan, Mia tiba-tiba teringat pembicaraannya dengan Diantha barusan.


“Kak, aku boleh tanya sesuatu?” tanyanya membuka pembicaraan.


“Boleh, apa?”

__ADS_1


“Waktu aku nembak Kakak dulu, apa yang Kakak rasain?” tanya Mia penasaran.


“Apa, ya?” Cowok itu berpikir sejenak, sebelum akhirnya menjawab. “Seneng?” jawabnya ragu.


Mia menundukkan pandangannya, merasa tidak puas dengan jawaban sang kekasih.


“Kenapa tiba-tiba tanya begitu?”


Mia menghela napas sejenak. “Aku mau bantuin temenku nembak crush-nya.”


“Bagus, dong,” pujinya. “Kok nggak semangat gitu?”


“Bukan gitu. Aku semangat kok.” Mia menjeda sesaat. “Aku pengen dia punya orang lain yang bisa diajak main,” lanjutnya. "Biar nggak sama aku terus."


......................


Hari Minggu. Seperti yang dijanjikan Mia, Diantha pada akhirnya harus membulatkan tekadnya untuk mengungkapkan perasaannya pada Angga. Segala persiapan sudah dilakukan dari semalam. Ia bahkan kewalahan dan bingung sendiri karena entah mengapa Mia yang tampak lebih bersemangat daripada dirinya sendiri. Mereka memilih taman kota, tempat yang dinilai dapat menciptakan suasana tenang dan romantis.


“Nanti lo ucapin aja apa yang ada di dalam hati lo, nggak usah ngikutin hafalan biar nggak kaku! Percaya deh, gagal atau nggaknya, itu tergantung gimana lo berhasil ngungkapin perasaan itu!” titah Mia. “Nanti gue tunggu di sana, ya!” serunya sambil menunjuk kursi taman yang terletak beberapa meter di belakang tempat Diantha duduk.


Diantha mengangguk paksa. “Makasih, Mia. Doain, ya.”


“Semangat!” seru Mia sembari berlari ke belakang.


Dan Diantha kini berakhir duduk manis menunggu kedatangan si tuan yang dinanti-nanti. Sampai beberapa lama kemudian, sang empu yang ditunggu akhirnya datang. Diantha sontak berdiri karena gugup. “Kak Angga!” sapanya.


Lelaki itu kini hanya berjarak beberapa langkah di depan Diantha. “Ada apa, Di?”


Gadis itu berdeham gugup. “Saya … nggak mau ngomong banyak-banyak. Soalnya saya takut jantung saya nggak kuat.”


Angga mengerutkan alisnya bingung. “Maksud kamu?”


“Saya tahu Kak Angga emang baik. Saya selalu berterima kasih dan menghormati kebaikan Kakak selama ini. Tapi … hari ini saya mau jujur dengan perasaan saya sedikit.” Diantha menjeda, ia mengerjapkan matanya. “Saya … suka sama Kak Angga.”


Diantha menunduk malu setelah kalimat keramat itu keluar dari mulutnya. Lantas beberapa saat berlalu dengan keheningan yang panjang. Gadis itu mendongak ragu. Rasa penasaran mengalahkannya untuk mengetahui ekspresi seperti apa yang sedang ditunjukkan Angga sekarang.


Namun, ternyata lelaki itu sedari tadi tak menatapnya. Ia menatap ke arah belakang Diantha, membuat gadis itu mengikuti arah pandangannya.


Diantha mengatupkan mulutnya ketika melihat Mia yang ada di sana, menatap Angga dengan tatapan kecewa.


“Mia?” Tanpa sengaja Diantha mengucapkan nama itu.


Mia kini menoleh. “Ternyata orangnya pacar gue ya, Diantha.”

__ADS_1


__ADS_2