
Diantha menatap Mia dengan tatapan nanar, nyaris tak percaya. Wajah ceria Mia yang selalu ditunjukkannya seolah tenggelam. Diantha tak perlu lagi menerka, gadis itu pasti sedang benar-benar marah padanya sekarang.
"Selama ini gue cuma bisa nahan diri, gue denial pas curiga kalau kalian ada apa-apa. Tapi ternyata sekarang ketahuan juga." Mia menahan suaranya yang bergetar. Amarah seolah sedang mendidihkan seluruh aliran darahnya.
"Mia … maaf, aku beneran nggak tahu!" Diantha meracau panik.
"Bisa-bisanya lo nggak tau pacar sahabat lo sendiri!" Mia membentak. "Kenapa? Karena lo nggak pernah mau tau, kan? Selama ini cuma gue sendirian yang peduli sama lo, perhatian sama lo, tapi lo sendiri nggak pernah tau apapun tentang gue, Diantha!"
"Mia … nggak begitu!" Gadis itu kehabisan kata-kata. Semua penjelasan yang seharusnya ia ucapkan seolah melilit tenggorokannya dan mencekik lehernya sendiri. Sebab rasanya udara pun kesulitan melewati tenggorokannya.
Mia hanya memandang Diantha dengan tatapan dingin. Ia kemudian berbalik meninggalkan mereka berdua yang masih mematung di depan kursi taman. Mia melangkahkan kakinya untuk mengejar Mia. Tetapi Angga menahan tangannya.
“Biar aku aja,” ucapnya.
Diantha mendongak, jantungnya seketika berdegup kencang. Tapi kali ini bukan hanya oleh Angga penyebabnya, tetapi juga rasa bersalahnya pada Mia. Cowok itu kemudian melangkah menyusul Mia, meninggalkan Diantha sendiri dengan pikirannya yang berkecamuk.
Kacau balau. Isi kepalanya mendadak berantakan. Ia menunduk, menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Air matanya seketika lolos dari sana. Rasa sesak seolah menikam dadanya. Gadis itu menahan suara tangisnya sekuat tenaga.
Ia kira, selama ini ia adalah teman yang baik untuk Mia. Ternyata ia selalu membuat Mia kecewa.
Diantha mengusap air matanya acak. Wajahnya seketika berantakan. Saat itu, seorang anak kecil tiba-tiba menghampirinya. Ia menatap Diantha sejenak, sampai ia membalas tatapan gadis kecil itu.
“Kakak, ini tisunya buat hapus air mata Kakak.” Gadis kecil itu menyodorkan sebungkus tisu kecil yang sudah dibuka padanya.
Diantha menyeka air matanya. “Ah, Kakak nggak apa-apa, kok.” Ia kemudian melirik gendongan besar yang berada di balik punggung gadis itu, gendongan yang berisi banyak tisu, air mineral, serta berbagai bungkus makanan ringan. “Tapi Kakak boleh beli tisu kamu yang udah dibuka ini, ya?”
Gadis itu menggeleng. “Nggak usah!” tolaknya. “Kakak yang di sana udah bayarin, katanya buat Kakak karena Kakak lagi sedih.” Gadis itu menunjuk arah belakangnya dengan jari telunjuknya.
Diantha mengernyitkan alisnya. Ia membalikkan badan, namun tak menemukan seorang pun di sana.
__ADS_1
“Mana?” tanya Diantha bingung.
“Eh? Kayaknya udah pergi.” Ia menggaruk tengkuk bingung. “Nggak apa-apa deh, ini tisunya, Kak. Aku mau pergi dulu, ya. Dadah! Jangan sedih lagi!” Gadis itu memberikan tisunya di tangan Diantha, lantas beranjak dengan riang.
Diantha tanpa sadar mengulas senyum tipis, meski air matanya kini mengalir lebih deras.
......................
Esok hari, entah dari mana datangnya menjadi pagi yang buruk untuk Diantha. Ia tak menyangka bahwa kabar burung tentangnya bisa menyebar secepat itu. Memalukan. Menyesakkan. Ia tak tahu mengapa orang senang sekali mengurusi kehidupan orang lain.
Adalah benar, bahwa berita tentangnya yang kemarin menyatakan perasaannya pada Angga sudah menyebar. Dan lebih buruknya, sahabatnya, Mia, juga terseret dalam masalahnya kali ini. Angga yang mana pacarnya Mia, dan Mia yang mana sahabat Diantha, tentu menambah bumbu perolokan itu dengan lebih panas.
Ia biasanya akan diam saja ketika mengalami hal seperti itu. Tetapi ia tak bisa membiarkan nama sahabatnya harus terseret dalam masalah yang sama dengannya. Tetapi yang lebih penting dari itu. Ia harus meminta maaf pada Mia terlebih dahulu.
Diantha saat ini sedang menunggu Mia di depan kelasnya. Ia merasa beruntung karena kelasnya berakhir lebih dulu sehingga bisa menunggu Mia.
"Mia!" panggil Diantha.
Mia menoleh. Melihat siapa yang memanggilnya sekarang, Mia seketika membuang muka, wajahnya berubah dingin. Cewek itu berbalik arah menghindari Diantha.
"Mia! Dengerin dulu!" cegah Diantha dengan suara lantang. "Aku minta maaf!" pekiknya dengan suara bergetar.
Mia menghentikan langkahnya, tetapi gadis itu enggan berbalik.
Seseorang kemudian menarik tangan Diantha. "Oh, jadi lo orangnya!" ucapnya dengan nada ketus.
Diantha melirik wanita itu. Tanpa ia sadari sebelumnya, ia sudah dikelilingi kerumunan dan menjadi pusat perhatian.
"Lo bisa nggak sih berhenti ganggu Mia!" hardiknya kemudian.
__ADS_1
"Bukan cuma ganggu, ya. Lo juga ngerebut pacarnya!" Kini wanita di sampingnya ikut membuka suara.
Diantha menundukkan pandangannya. Seperti dugaannya, makian demi makian kian menyusul setelahnya. Telinganya seketika berdenging hebat, seolah enggan menangkap kata demi kata yang sedang memenuhi getaran udara di sekelilingnya. Di balik kerumunan itu, ia perlahan-lahan melirik Mia.
Hatinya mencelos, melihat gadis itu masih tak mau menoleh ke arahnya. Dan lagi-lagi, Diantha tak bisa menahan hangat yang akhirnya menggenangi kelopak matanya.
Jangan jatuh. Jangan jatuh. Jangan jatuh.
Ia hanya bisa berbisik dalam hati. Dan menunggu semuanya berlalu.
"Kata siapa?"
Sebuah suara menginterupsi mereka. Diantha menoleh, mendapati Damar berada di sana, berdiri dengan tampang congkaknya. Ia menatap laki-laki itu bingung.
“Kata siapa Diantha ngerebut pacar orang?” Damar mempertegas pertanyaannya.
Kerumunan itu kini hening, separuhnya diam-diam saling berbisik mempertanyakan keberadaan Damar saat ini. Oh, sebelumnya, nama Damar Yudha Saskara bukanlah nama yang asing di telinga. Hampir seluruh angkatan di fakultas mengenalnya, apalagi di kalangan para laki-laki di sana. Namanya dikenal sebagai worst genius; mahasiswa ghaib yang berhasil mendapat grade A di semua penugasan dan ujian walau di ujian tersulit pun.
Wajar jika hampir tak ada yang tidak mengenalnya di fakultas, karena proyek penugasannya seringkali disebarluaskan dari tangan ke tangan oleh mereka. Dan ini mungkin kali pertama bagi mereka mendengar suara Damar yang sebelumnya hanya bisa mereka temui dalam bentuk file pdf.
Damar melangkahkan kakinya pelan tapi pasti menuju tempat Diantha berpijak. Matanya menatap tajam ke sekeliling. “Kok sekarang pada diem giliran gue nanya?”
Damar mendengus kesal. “Kalau gue liat ada yang ganggu cewek gue lagi, lain kali gue laporin kelakuan kalian ke fakultas. Atau kalau perlu gue laporin juga kelakuan kalian yang suka nyontek dan nyebar-nyebarin tugas orang lain.”
Cowok itu menarik tangan Diantha yang sedari tadi mematung. “Ayo, kita pergi dari sini,” ajaknya.
Diantha mengatupkan mulutnya. Ia ragu. Ia kemudian berbalik menatap Mia yang sedari tadi diam di sana memperhatikannya. Lalu pandangan mata mereka bertemu sesaat, sebelum akhirnya ia berbalik dan pergi meninggalkannya.
Langkah kaki Diantha tanpa sadar mengikuti Damar yang menarik tangannya untuk menjauh dari kerumunan itu. Di tengah-tengah langkahnya, gadis itu perlahan menatap Damar dari belakang. Ada perasaan aneh yang mengganggunya.
__ADS_1