
Diantha memegang erat bukunya dengan napas terengah-engah. Tangannya mendadak gemetar. Ia tak bisa menahan keterkejutannya karena lelaki asing itu tiba-tiba memegang pipinya. Hanya satu frasa yang dapat menggambarkan lelaki itu di pikirannya sekarang; kurang ajar. Ia menatap lelaki itu sengit. Entah siapa dia, Diantha tak pernah melihatnya di kelasnya sebelumnya. Ah, tidak. Ia ingat pernah melihatnya sekali saat orang itu dipanggil karena membawa rokok di kampus saat mereka masih dalam masa orientasi departemen.
Diantha tak tahu apakah rumor-rumor yang beredar tenangnya menyebar separah itu. Katanya, ia merayu dosen-dosen untuk mengikuti projek-projek mereka. Katanya, dia dianakemaskan. Ia selama ini selalu diam karena semua rumor tentangnya tak benar. Ia selalu diam karena tak tahu bagaimana cara menyangkalnya. Orang-orang hanya mau mendengar apa yang mau mereka dengar. Namun, ia tak pernah menyangka, ada orang yang akan memanfaatkan rumor tentangnya dan berani menyentuhnya sembarangan.
Dan Diantha benci orang seperti itu.
Namun, lagi-lagi, ia tak bisa mengatakan apapun. Lagi-lagi, ketika semua orang menatapnya dan berbisik di belakangnya seperti saat ini, tak ada yang bisa ia lakukan. Diantha hanya bisa mundur dan memutuskan untuk melarikan diri.
Tetapi kemudian sesuatu menghentikan langkahnya.
Suara riuh aneh yang tiba-tiba meledak membuat Diantha berbalik. Perempuan itu terbelalak menyaksikan sang tuan yang baru saja ia maki-maki dalam hati tergeletak tak sadarkan diri.
......................
Damar lagi-lagi terbangun dari tidur panjangnya dengan kepala pening. Ia sontak bangun dan menatap sekeliling. Sudah jelas ia berada di rumah sakit. Mungkin, lagi. Tetapi ia sekarang bingung. Gir di otaknya mendadak berputar dengan keras memikirkan kemungkinan yang sedang terjadi padanya. Bisa jadi, ia memang hanya telah bermimpi bertemu dengan Diantha lagi. Ya, itu adalah kemungkinan yang paling masuk akal sekarang. Ia mengembuskan napasnya kecewa.
Rupanya, memang tidak mungkin hal mustahil seperti itu terjadi.
Suara pintu terbuka membuat Damar menoleh. Lagi-lagi Celine dan Revan. Lelaki itu mengalihkan pandangannya tak minat.
“Siapa cewek itu?”
Sampai pertanyaan Revan membuatnya menoleh. “Maksudnya?” tanya Damar memastikan.
Revan menghela napasnya. “Ya cewek yang gebuk lo pake buku tadi.”
“Jadi … yang tadi itu bukan mimpi?” tanya Damar ragu.
__ADS_1
“Ya iyalah, bego. Lo aja digebuk sampe pingsan lagi gini,” jawab Revan dengan nada penuh penekanan.
Damar memegangi kepalanya yang berdenyut. Ia menghela napas berat. “Guys, gue bingung banget. Gue sebenernya habis ngalamin hal aneh.”
“Hal aneh apaan?” kini Celine penasaran.
“Kalian tau kenapa gue nemuin cewek tadi? Gue tau mungkin ini kedengeran aneh. Tapi sebenernya gue pernah nabrak dia. Dan karena itu gue dipenjara lima tahun. Terus pas gue udah bebas, gue balik lagi ke lima tahun ke belakang. Sekarang. Harusnya gue di rumah sakit gara-gara kecelakaan habis ngelayat ke makam dia.” Damar menjelaskan keanehan yang terjadi, berharap salah satu dari mereka mengetahui jawaban dari kebingungannya.
“Lo yakin nggak mau rontgen? Kayaknya lo gegar otak, deh.” Revan menatap Damar dengan tatapan prihatin.
Sayangnya, harapan Damar pupus seketika.
“Kenapa nggak langsung aja?” Kini Celine menimpali. Ia kemudian mengambil apel dari keranjang buah yang tersimpan di atas nakas, lalu memberikannya pada Damar. “Nih, makan dulu, siapa tau ngigonya ilang. Dari cewek yang tadi, tuh. Siapa namanya tadi? Diana? Katanya minta maaf juga habis nimpuk kepala lo.”
“Diantha,” ralat Damar.
Damar membalas tatapan Revan setengah kesal. Tetapi kemudian ia hanya bisa pasrah. Meski semua yang telah dialaminya nyata, tak mungkin orang di zaman sekarang percaya begitu saja dengan hal tak lazim seperti itu.
“Mulai besok gue rajin masuk kelas,” ucap Damar asal. Celine dan Revan kini menatapnya heran. “Gue naksir sama tuh cewek, kenapa? Salah kalau gue mau deketin?” Damar lagi-lagi berucap sekenanya. Setidaknya, itu lebih masuk akal ketimbang ucapannya yang tadi.
Celine menyipitkan matanya. “Bilang dari tadi, kek. Naksir tinggal bilang naksir apa susahnya? Pake bumbu-bumbu ngarang segala.”
“Gue tau lo baru kali ini naksir cewek, tapi nggak segitunya juga, anjir.” Revan menimpali.
Damar tersenyum tipis. Satu kebohongan itu, entah mengapa lebih terasa seperti sebuah rencana.
......................
__ADS_1
Pukul delapan, jam pertama perkuliahan. Sesuatu yang selama ini asing bagi Damar. Ia tak menyangka akan kembali ke tempat itu. Tempat yang selama ini ia benci, karena selalu ada wajah ayahnya di mana-mana. Sang rektor kampus yang tak pernah mengakui eksistensinya seolah mereka berada di dua sisi dunia yang berbeda. Ia membenci tempat itu, tetapi tak bisa lepas dari tempat itu begitu saja. Satu-satunya alasan mengapa ia tetap mempertahankan namanya dalam daftar absen itu hanyalah ibunya. Ibunya yang selalu paling bahagia merayakan kelulusan Damar. Lelaki itu setidaknya ingin membuatnya di atas sana bahagia sekali lagi.
Kini lelaki itu membuka pintu ruangan yang sudah ramai. Hanya tersisa sekitar lima menit lagi sebelum dosen memasuki kelas. Dan matanya dengan cepat mencari eksistensi Diantha. Sampai kemudian ia menemukan wanita itu di barisan bangku paling belakang. Senyuman Damar mengembang. Ia bergegas duduk di sampingnya. Damar menumpu kepalanya pada lengannya, menatap Diantha yang sedang fokus membaca buku.
Sampai kemudian gadis itu menoleh, lantas kelopak matanya mengembang.
Damar menyambut keterkejutan Diantha dengan senyuman. “Hai,” sapanya.
Diantha mengalihkan pandangannya. Ia memaksa kembali fokus membaca bukunya. Tetapi Damar tahu gadis itu pura-pura untuk menghindarinya.
“Saya … minta maaf untuk yang kemarin.” Diantha membuka suara dengan ritme yang bergetar. Damar kini mengatupkan mulutnya. Aneh. Ia dapat merasakan kalau gadis itu sekarang sedang ketakutan.
Tak lama, Diantha berdiri membawa tas dan buku-bukunya. Gadis itu kemudian pindah ke bangku yang tak jauh di depannya. Damar menghela napas, dugaannya benar.
Namun, beberapa menit setelah itu, seorang gadis yang baru saja masuk kelas menghampiri bangku Diantha. Air mukanya terlihat tak senang.
“Lo nyebelin banget, sih. Gue kan biasanya duduk di sini. Mata lo rabun nggak lihat penghapus di atas meja ini? Itu artinya ada yang nge-tag anjir.” Suara wanita itu terdengar sampai telinga Damar, membuatnya mengernyitkan dahi.
“Maaf, maaf banget, ya. Saya nggak tahu. Saya pindah sekarang juga.” Diantha membungkukkan badannya, lantas kembali ke bangku di samping Damar. Tetapi ia kini menjaga jaraknya.
Damar semakin mengerutkan dahinya. Ada sesuatu yang tak bisa ia terima. Terutama perlakuan orang tadi dan balasan Diantha. Apakah selalu ada orang yang bertindak seenaknya dan orang yang selalu memakluminya seperti itu?
Lamunannya terpaksa berhenti ketika seorang dosen memasuki kelasnya. Tak lain dan tak bukan, ia adalah Tama Wijaya, seseorang yang Damar tunggu kehadirannya. Ia kemudian bertanya-tanya apakah mungkin ada kemungkinan bagi gadis seperti Diantha membunuh orang itu. Sampai kemudian bisikan-bisikan yang terdengar keras mengusik pendengaran Damar.
“Yang ini, kan? Yang digodain Diantha?”
Pupil Damar melebar. Ia kemudian melirik Diantha, menyaksikan gadis itu diam-diam mengepalkan tangannya dengan erat, hingga buku jarinya memutih dan keringat dingin membasahi telapak tangannya.
__ADS_1