
Damar memikirkan pertemuannya dengan Karin hari ini. Ia membuka buku catatannya, yang tertulis berbagai catatan penting mengenai petunjuk kasus Diantha dan perjalanan waktunya. Ia bahkan sudah berkali-kali mencari tahu lebih banyak tentang perjalanan waktunya. Tetapi tidak ada hasil yang memuaskan yang ia temukan.
Lelaki itu mengacak rambutnya di depan laptopnya yang menyala terang di tengah kegelapan. Menutup tab pencariannya tentang masa lalu, perjalanan waktu dan hal-hal terkait, lalu memunculkan materi kuliahnya yang sudah terbengkalai. Ia seketika menghela napas berat, menyadari kalau ingatannya tentang materi kuliahnya lima tahun lalu sudah memudar.
"Sianjir, mana gue inget materi-materi ini kalau gue aja udah di DO lima tahun." Damar bergumam frustasi.
Di tengah-tengah kekesalannya, ponselnya berdering, menampilkan nama Revan di ponselnya. Ia mengangkat telepon itu. "Ada apa?"
"Buset, to the point bener!" Lelaki di seberang sana menyahuti dengan lantang. "Mau ikut balap nggak lo hari ini, Bro?" lanjutnya bertanya.
Damar memejamkan matanya sesaat. "Nggak dulu," jawabnya singkat.
"Yakin lo? Sponsornya 60 juta, loh!" Revan memberi semangat.
Damar membuka matanya, seketika teringat akan hutang-hutang yang ditanggung Diantha. Mungkin ini cara yang lebih menjanjikan daripada bekerja paruh waktu. Lelaki itu menegakkan badannya, sial mengambil keputusan. "Gue ikut," ucapnya.
"Kalau mau ikut buruan! Jangan sampe telat!" Kini suara gadis yang sepertinya berteriak di depan mikrofon ponselnya. Damar ingat betul suara siapa yang suka berteriak dengan cara heboh dan menggelegar seperti itu, siapa lagi kalau bukan Celine.
Sedetik kemudian, lelaki itu bergegas memakai jaket leather-nya dan mengambil kunci dengan cepat dan keluar melajukan motornya. Damar menyetir motornya dengan kecepatan cukup tinggi menuju lokasi yang sudah dikirimkan melalui pesan singkat.
Sesampainya di sana, ia disambut oleh Celine dan Revan seperti biasanya. Celine, yang berpenampilan nyentrik seperti biasa, tidak lupa dengan bomber dengan tanda merk ternama terpatri di punggungnya yang kebetulan sama dengan namanya. Dan Revan yang sudah berganti model rambut lagi.
"Masih sisa beberapa menit sebelum semuanya kumpul. Thanks udah dateng tepat waktu!" Celine mengecek jam tangannya, lalu memberi tos tangan pada Damar.
"Gimana nih rasanya tiba-tiba jadi mahasiswa teladan demi dapetin cewek?" Revan merangkul bahu Damar dan menggoda dengan tengil.
__ADS_1
Damar berdecak den melepas tangan Revan. "Bukan urusan lo," sahutnya dingin.
"Liat noh, Cel. Temen lo, gimana mau dapet cewek kalau galak kayak gitu." Revan mengadu pada Celine, yang membuat gadis itu tampak mengingat sesuatu.
"Eh, ngomong-ngomong, cewek itu sefakultas sama lo, kan? Namanya Diantha Rakayla? Kalau nggak salah NRP kuliahnya ujungnya 50?" Celine bertanya, tetapi entah mengapa seperti membeberkan informasi.
Damar mengernyitkan dahi bingung. "Kenapa?"
"Gue kayaknya satu tim sama dia, anjay. Bisa-bisanya ketemu di project yang sama." Celine berucap serius, kini menatap Damar. "Lo harus berusaha lebih keras lagi kalau mau beneran deketin dia. Kayaknya ni cewek ambis parah."
"Lo juga sama aja anjir, makanya tau banget." Revan mencibir. "Bisa-bisanya anak ambis di kampus pas malem berubah identitas jadi tukang nongkrong di balapan."
Celine berdecak. "Jaga mulut lo, ya," ancamnya.
"Gue cuma ngomong fakta, nih," balas Revan tak mau kalah.
Mereka berdua memang sudah bersahabat sejak masih SMA. Awalnya ketiganya hanyalah anak-anak biasa saja yang hanya meluangkan waktu bersama untuk main game dan mengerjakan tugas. Tetapi pada suatu hari, Damar menemukan lingkup pergaulan baru yang membuatnya akhirnya masuk dalam geng motor itu.
Celine dan Revan yang pada akhirnya mengetahui hal itu pada awalnya melarang Damar. Tapi lama kelamaan, semuanya berbalik. Damar tentu bukanlah orang yang akan menurut saja jika sekali dilarang. Sampai suatu hari, tanpa diduga-duga kedua orang itu menjadi ikut-ikutan mengikuti geng balap.
Oleh karena itu, Celine seolah memiliki dua kepribadian ketika sudah masuk ke arena balap. Karena di luar itu, semua orang hanya mengenalnya sebagai seorang mahasiswa teladan, seorang anak pengusaha kaya raya, dan seorang pewaris yang menjanjikan.
Sedangkan Revan mengikuti balap liar hanya untuk bersenang-senang dan bermai-main dengan menebar pesonanya. Karena itu Revan tak pernah sekali pun menang di arena balap.
"Widih siap deh sama Bu Pewaris." Revan meledek, membuat Celine semakin sebal. Cewek itu kini tak sungkan menepuk helm yang bertengger di kepala lelaki itu.
__ADS_1
"Pusing, anjrit!" rintih Revan.
"Belum pernah ngedungsuk sih ya, lo. Nyetirnya males-malesan makanya nggak pernah menang." Celine kini balas meledek Revan.
Lelaki itu kini berdecak sebal. "Ah, lo mah!" keluhnya.
Damar melirik kedua temannya. "Udah, udah. Kayaknya udah mau persiapan mulai, nih." Ia melerai.
Revan mendengus. Ia mengalihkan pandangan ke depan, lalu matanya melebar melihat segerombolan gadis-gadis yang sedang berbincang di hadapannya. Mudah baginya membuat kontak mata dengan mereka dengan senjata wajah rupawannya. Senyum Revan langsung sumringah.
"Hai guys!!!" serunya setengah berteriak. Lelaki itu kemudian mendekati gerombolan gadis itu.
Celine hanya mencibir melihat kelakuannya. "Sebel banget gue liat si buaya."
Ia kemudian melirik Damar yang tampak sedang melamun, terlihat jelas pikirannya sedang mengawang di suatu tempat.
"Lo kenapa?" tanya Celine.
Damar melirik kecil. "Nggak ada apa-apa," ucapnya singkat. Ia tahu betul meski semua orang bertanya padanya, tak akan ada yang percaya akan hal gila yang dialaminya.
Celine tersenyum kecil. "Gue nggak percaya sama hal-hal gila, Mar," ucap gadis itu tiba-tiba. "Tapi gue percaya sama ucapan orang yang jujur."
Damar menatap gadis itu. "Kenapa lo ngomong gitu?"
"Gue cuma mau bilang gue percaya sama lo." Celine menegaskan. "Soalnya gue bisa liat kejujuran lo. Gue udah kenal lo lama banget, kita tumbuh bareng. Gue bisa hapal sama keberadaan lo. Dan gue ngerasa lo yang sekarang adalah lo yang berasal dari tempat yang jauh."
__ADS_1
Damar menatap Celine tak percaya. Jantungnya mendadak berdetak kencang, kembali membayangkan hari-hari di masa depannya yang seketika berputar-putar di otaknya. Semua kemustahilan itu, bolehkah ia percaya bahwa itu keajaiban untuknya?