Wild And Flower

Wild And Flower
Yang Kembali lalu Melarikan Diri


__ADS_3

Diantha tertegun melihat pria paruh baya yang berdiri di hadapannya. Pakaian lusuh, rambut gondrong berantakan, dan rambut-rambut yang tumbuh berantakan di wajahnya. Penampilannya nyaris menutupi wajah tampan di balik tubuh ringkih itu. Tetapi Diantha yakin ia masih tetap bisa mengenali ketukan langkah kaki pria itu.


“Ayah?” gumamnya spontan.


Gadis itu membulatkan matanya tak percaya. Buku jarinya tiba-tiba mendingin begitu mata mereka saling bersitatap. Lelaki itu sama-sama menatapnya terkejut. Ia perlahan melangkah mundur. Diantha menelan ludahnya, tiba-tiba takut pria itu akan kembali menghilang.


Lalu pria itu berlari dengan cepat keluar dari pintu.


Diantha menahan napasnya. “Ayah! Jangan pergi!” Gadis itu langsung berlari mengejarnya.


Lelaki itu berlari dengan kalut meninggalkan Diantha di belakang. Ia kembali. Ia ingat tempat itu adalah tempat istrinya dulu bekerja. Tetapi setelah mendengar kabar burung mengenai kematiannya, ia jadi takut. Ia takut menghadapi Diantha. Ia tak sanggup melihat wajahnya.


“Ayah! Tunggu!” Diantha kembali berteriak memanggilnya.


Lelaki itu menoleh, menyadari Diantha yang sudah semakin dekat mengejarnya. Napasnya semakin terengah begitu ia mencoba mempercepat langkahnya. Tenaga dari tubuhnyanya yang sudah semakin ringkih tak bisa dibohongi. tenaganya akan kalah dengan anak muda. Namun lelaki itu tak menyerah.


Hingga beberapa detik kemudian, langkahnya terhadang oleh motor yang sedang melaju dari perempatan. Lelaki itu terjatuh.


“Ayah!!” Diantha segera berlari menghampiri ayahnya. Ia menuntun ayahnya untuk bangun dari aspal. Gadis itu lantas mengembuskan napas lega melihat keadaan ayahnya yang baik-baik saja.


Lelaki itu menatap wajah putrinya dengan mata yang berkaca-kaca. Rasa bersalah seketika mengembang begitu ia menyadari putrinya telah tumbuh dewasa.


“Ayah, jangan lari lagi.” Diantha memeluk ayahnya. Lelaki itu dapat menyadari nada suaranya yang terdengar memohon.


......................


Dua mangkuk sup disajikan dengan hangat. Kali ini, seolah peran sup bukanlah pendukung di tengah dinginnya suhu malam, melainkan sebaliknya. Malam lah yang mendukung khidmatnya kehangatan sup yang menjadi kegemaran keluarga mereka. Untuk sejenak, Diantha merasa keajaiban datang padanya. Untuk sejenak, ia dapat melupakan semua masalah yang beruntun menghantuinya. Untuk sejenak, ia merasa tak lagi sendiri melalui malam yang gelap.


Karena sejujurnya, ia selalu merasa kesepian. Ia selalu merasa takut tak bisa melalui malam menuju pagi.


“Gimana kabar ayah?” Diantha bertanya basa-basi sembari menyeruput supnya.


Lelaki itu mengangguk kecil. “Baik,” jawabnya dengan suara kecil.

__ADS_1


Diantha tersenyum kecil. Ia menyadari akan sulit memulai percakapan setelah bertahun-tahun tak bertemu tanpa saling memberi kabar. Baginya, itu saja lebih dari cukup. Yang terpenting ayahnya sudah kembali.


Mereka menghabiskan sup itu dalam hening. Ada suara yang sedang menggema di kepala masing-masing. Si gadis yang sedang menyuarakan berbagai harapan. Dan sang ayah yang sedang didesak bimbang tak berkesudahan.


Gadis itu menumpuk mangkok yang sudah kosong di atas meja. Bibirnya terkulum, memberanikan diri untuk bicara. Dalam beberapa detik, ia meyakinkan dirinya. “Ayah, ayo kita hadapi semuanya bersama-sama. Jangan melarikan diri lagi. Jangan sembunyi lagi.”


Harapnya, mulai detik ini mereka akan menghadapi semuanya bersama. Seperti harapan ibunya.


Lelaki itu menatap Diantha dengan ragu. Sampai kemudian ia mengangguk pelan.


Diantha mengulas senyum lega. Ia berdiri mengangkat mangkuk itu dengan senyum cerah. “Ayah pasti capek. Sekarang Ayah istirahat dulu ya. Kamar Ayah sama Ibu selalu aku bersihin, lho!”


Diantha lantas mencuci mangkuk-mangkuk itu di wastafel yang ada di dapur. Senyumnya terus mengembang. Ia tak pernah menuntaskan pekerjaannya dengan perasaan selega itu. Sampai kemudian gadis itu menemukan foto ibunya yang terpajang di tembok.


“Ibu, dulu Ibu pernah bilang, kan? Kalau suatu hari Ayah pulang, aku harus senyum dan percaya kalau mulai sekarang kita akan menghadapi masalah bersama-sama. Maaf, karena Diantha sempat ragu. Tapi semua ini karena Ibu yang selalu percaya dengan keluarga kita.” Gadis itu bergumam pelan sembari membelai foto ibundanya.


Ia melongok ke dalam kamar ayahnya. Tak ada tanda-tanda pergerakan maupun suara dari tubuhnya yang sedang terlelap. Matanya terpejam rapat.


Sudah lama sekali. Sudah sangat lama sejak kali terakhir ia mengucapkan kata-kata itu setiap malam. Mungkin saat itu ia masih sangat belia. Mungkin saat itu dunia sedang terlihat indah-indahnya.


Matanya tiba-tiba berkaca-kaca. Diantha tak sanggup membendung air matanya. Gadis itu bergegas ke dalam kamarnya sendiri. Segera menumpahkan tangisnya dalam bekapan bantal tidurnya hingga tak ada suara yang terdengar. Ia lantas mengusap air matanya dan segera menuntaskan isak tangisnya.


“Nggak apa-apa. Tidur, ayo tidur,” ucap Diantha menenangkan dirinya sendiri. “Besok kita ngobrol lebih banyak lagi.”


......................


Suara ketukan pintu yang digedor dengan keras terdengar pagi-pagi sekali. Kesadaran belum menjemput Diantha hingga akhirnya telinganya benar-benar dipaksa untuk mendengar gedoran pintu yang super berisik itu.


“WOY!! DIANTHA!! BUKA PINTUNYA!!”


“WOY!! BAYAR HUTANG-HUTANG LO ANJING!!”


“JANGAN KABUR KAYAK BAPAK LO!! CEPET KELUAR!!”

__ADS_1


Lalu mata Diantha benar-benar terbuka. Ia melonjak panik. Gadis itu segera mengikat rambutnya asal dan berlari menuju depan untuk membukakan pintu itu.


“Pak, mohon maaf!! Saya baru dengar!!”


Kedua pria bertubuh besar itu menatapnya sengit. “Halahh!! Nggak peduli gue. Yang penting sekarang uangnya mana?”


Diantha meneguk ludahnya, lantas mengangguk cepat. “Baik, Pak!! Saya ambil uangnya dulu, ya!!”


Gadis itu bergegas mengambil uang yang biasa ia taruh di dalam lemarinya. Ia membuka lacinya, tetapi sayangnya tidak ada apa pun di sana selain buku tabungan dan dokumen-dokumen dalam map. Diantha panik, lantaran itulah satu-satunya simpanan yang ia simpan khusus untuk membayar cicilan hutang bulan ini.


Ia membongkar setiap sela yang memungkinkan tertaruhnya uangnya, tetapi nihil. Ia bahkan ingat betul di mana ia menaruhnya dan menepis kemungkinan bahwa uang itu hilang. Jantungnya berdegup cepat. Tidak, tidak sekarang. Padahal ayahnya baru saja kembali, tetapi masalah sudah akan menimpa mereka.


Gadis itu kemudian tertegun. Pikirannya mulai berkecamuk. Ia bergegas menuju kamarnya, dan ayahnya tidak ada di sana. “Ayah!” panggilnya putus asa.


Dan seperti dugaannya, tidak ada yang menyahuti panggilannya.


Diantha kembali mengamati sekeliling rumahnya. Ia baru menyadari kalau seisi rumahnya lebih berantakan dari sebelumnya. Seolah baru saja ada yang mengacak-acaknya dan meninggalkan rumah itu.


Jika benar, hanya satu orang yang mungkin melakukannya.


Diantha menarik napasnya berat, tak percaya dengan apa yang disaksikannya. Ayahnya, lagi-lagi mengkhianati kepercayaannya.


Diantha memberanikan diri berjalan ke depan, kembali menghadapi para rentenir itu. “Maaf, Pak. Uangnya nggak ada,” ucapnya pelan.


Kedua lelaki itu mendengus kasar. “BILANG DARI TADI, DONG!!” ucap salah satunya lantang.


Diantha memejamkan matanya gemetaran. “Mohon kasih saya kesempatan, Pak!” mohonnya.


“Sesuai kesepakatan kita aja, deh! Sekali lo nggak bisa bayar, barang-barang di dalem rumah lo disita. Kalau lo nggak mau bayar sama sekali, ntar rumah lo yang bakal gue sita!”


“Pak, saya mohon!”


Permohonan Diantha bagai angin lalu. Tubuhnya dihempas dan para rentenir itu masuk dengan paksa, menghabisi seisi rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2