Wild And Flower

Wild And Flower
Selangkah Lebih Dekat


__ADS_3

Mia berbalik meninggalkan Diantha yang berada di tengah-tengah kerumunan. Ia sudah lelah untuk merasa kasihan atau bahkan peduli pada gadis itu. Ia berhenti duduk di beton di tengah taman gedung fakultasnya. Sembari menghela napas hampa, ia memejamkan matanya. Gadis itu tersenyum tipis. Ia tak pernah merasa selega itu mengabaikan seseorang. Jauh di dalam benaknya, ia lega tak lagi berpura-pura.


Sampai tak lama kemudian, seorang lelaki menghampirinya. Ia berdiri menunggu di hadapan Mia hingga gadis itu membuka matanya.


“Masih ada yang perlu kita bicarain, kan?” tanya lelaki itu to the point.


Mia mengatupkan mulutnya, lantas mengalihkan pandangan. “Emangnya apa yang harus dibicarain?”


Lelaki itu mendengus. “Kamu udah tahu kan kalau hubungan kita jadi bahan gosip?”


“Terus?” balas Mia menantang.


“Itu nggak baik. Nggak baik buat hubungan kita, nggak baik buat Diantha yang nggak tahu apa-apa,” ucap Angga tegas. “Dan lagi, ini lingkungan kampus. Nggak pantes ada gosip-gosip kayak gitu, Mia. Kamu juga tahu sendiri, kan, gimana beratnya Diantha dikelilingi banyak gosip-gosip nggak bener.”


Mia menghela napas berat. “Terus aku harus apa, Kak? Mereka yang ngebesar-besarin masalah, mereka yang bikin lingkungan kampus kotor, mereka yang seenaknya ngomongin orang. Apa aku juga harus bertanggung jawab sama masalah-masalahnya Diantha juga? Padahal jelas-jelas di sini aku juga sakit!”


Angga mengatupkan mulutnya, menatap gadis itu dengan tatapan frustasi.


“Kenapa diem lagi?” tanya Mia menantang.


“Kamu bisa nggak sih dewasa sedikit?” Cowok itu mendesah putus asa.


Mia menatap Angga kecewa. Gadis itu terkekeh kecil. “Kenapa selalu aku yang harus dewasa? Kenapa aku harus selalu ngertiin pemikiran-pemikiran idealis Kakak? Kenapa nggak pernah sekali aja Kakak mikirin gimana perasaan aku? Selama ini, setiap kali aku cerita, Kakak aja selalu sibuk sama proyek-proyek Kakak. Selama ini, sebenernya Kakak tuh pernah nggak sih beneran mikirin aku? Bahkan pas aku tanya reaksi Kakak pas aku nembak Kakak aja, Kakak bisa-bisanya lupa. Sebenernya Kakak tuh beneran nganggep aku pacar atau cuma temen nugas sama makan doang, hah?” Mia menatap Angga dengan amarah meletup-letup.


Angga mengacak rambutnya frustasi. “Mia, kita nggak pernah berantem kayak gini sebelumnya. Kayaknya kita harus break dulu. Kasih Kakak waktu.”


Mia menahan napasnya. “Nggak mau!” tolaknya. “Sekarang Kakak cuma butuh bikin keputusan. Pilih aku atau proyek Kakak sama Diantha itu?”


Angga menatap Mia dengan sorot matanya yang lelah. Ia menghela napas berat. “Maaf, Mia. Kita lebih baik putus.”


Mia menahan air mata yang tumpah di kelopak matanya. “Jadi gitu cara Kakak ngehargain hubungan kita yang udah berjalan 4 tahun ini.”


......................

__ADS_1


Mia berdiri di depan pintu keluar gedung fakultasnya, menunggu seseorang yang sedari tadi terus berkecamuk di kepalanya. Diantha. Hanya Diantha seorang yang mampu mengubah kehidupannya berbalik 180 derajat. Mia benci kenyataan itu.


Sampai kemudian gadis yang ia tunggu-tunggu memunculkan batang hidungnya. Mereka bertatapan dari kejauhan. Diantha tampak terkejut, tetapi kemudian gadis itu dengan tergesa menghampiri Mia.


“Mia?” Diantha menyapa Mia ragu.


Mia tersenyum kecil. “Gue ke sini bukan buat maafin lo,” ucapnya dingin.


Diantha tertegun sesaat. Mia yang di depannya saat ini, tidak seperti Mia yang selama ini ia kenal. Ia tak menyangka gadis cantik itu bisa berubah secepat itu.


“Tapi gue mau berterima kasih sama lo,” ucap Mia melanjutkan perkataannya yang belum selesai.


“Maksudnya?” Diantha mengerutkan keningnya bingung.


“Denger,” Mia menghela napas sesaat. “Pertama-tama, makasih karena udah hadir di kehidupan gue selama satu tahun.”


Ia kini menatap Diantha tajam. “Kedua, makasih karena kehadiran lo selama satu tahun itu berhasil merusak hubungan yang udah gue jaga 4 tahun lamanya.”


Ia kemudian berbalik pergi. Tetapi Diantha kali ini tak lagi membiarkannya pergi begitu saja. Gadis itu menahan tangannya.


Mia mendengus kesal. Ia lantas menghempaskan tangan Diantha dengan kuat, hingga tak sengaja gadis itu terjatuh ke tanah.


“Lo nggak usah deket-deket gue lagi!” bentak Mia kesal. “Gue udah muak sama lo!”


Mia kemudian benar-benar pergi. Dan Diantha dengan terpaksa merelakannya dengan hati yang hancur berkeping-keping.


Mia berjalan menuju parkiran di mana mobilnya berada. Tetapi kemudian ia dikejutkan oleh seseorang yang tengah menyandar pada mobilnya. Mia menatap lelaki itu bertanya-tanya.


“Udah puas?” celetuk lelaki itu, membuat Mia sontak mengernyitkan alisnya.


“Udah puas marah sama Diantha? Itu yang lo mau, kan?” Lelaki itu mempertegas.


Mia menatap lelaki itu ragu. “Nama lo Damar, kan?” Lo siapa-nya Diantha? Dia nggak pernah cerita apapun tentang cowok kayak lo.”

__ADS_1


Lelaki itu tersenyum tipis. “Gue siapa-nya Diantha itu nggak penting. Yang penting adalah, gue nggak akan mengampuni siapa pun yang nyakitin dia.”


......................


Satu hari dilalui Diantha dengan hampa. Ia nyaris tak bisa melakukan apapun, sebelum ia teringat kembali kalau ia harus mencari uang untuk membayar banyak sekali kebutuhannya. Hari ini, gadis itu diminta untuk menghadap Tama, dosen pembimbingnya. Ia sudah bisa menebak perasalahan yang akan dibahasnya.


“Diantha, kenapa kamu malah mengundurkan diri dari lomba?” tanya Tama kecewa.


“Mohon maaf, Pak. Saya tidak bisa melanjutkan perlombaan ini karena masalah pribadi.” Diantha menunduk tak enak.


“Apa kamu mundur gara-gara satu tim sama saya?” Entah dari mana, Angga tiba-tiba datang. Perkataannya membuat Tama menatap mereka berdua bingung.


Diantha tak bisa menyangkal, tetapi ia bingung harus mengatakan bagaimana. Dalam hati ia diam-diam merutuki perkataan Angga yang membuatnya serba salah. Ia tahu betul bahwa lelaki itu akan mencari segala cara untuk bisa mengikuti proyeknya.


Sampai kemudian Angga memberanikan diri menjelaskan secara halus. “Mohon maaf, Pak. Kami tidak bisa berada dalam satu tim karena kami memiliki masalah pribadi. Tetapi Diantha bisa tetap maju dalam perlombaan tanpa saya.”


Tama menatap mereka berdua heran. “Tapi perlombaan ini tidak boleh dilakukan secara individu. Dan kalian harus membentuk tim yang solid agar bisa menang.”


“Permisi, Pak. Kalau begitu Diantha harus mencari anggota tim lain, kan? Berarti saya bisa mengajukan diri dalam tim itu.” Seseorang tiba-tiba datang menginterupsi percakapan mereka.


Diantha melirik orang itu, lalu ia seolah dipaksa untuk berpikir. Sedangkan Angga dan Tama menatap lelaki itu bingung.


“Kamu …?” Tama menunjuknya kebingungan.


“Ah, sebelumnya perkenalkan, saya Damar, teman sekelas Diantha.” Lelaki itu memberi salam.


Tama terkekeh. “Maaf-maaf, saya jarang ketemu kamu sebelumnya soalnya.” Ia menjeda sesaat. “Tapi, memangnya kamu yakin mau mengikuti lomba ini? Kamu punya pengalaman sebelumnya?”


Damar tersenyum tipis. “Saya nggak seperti itu, Pak. Tapi saya akan berusaha yang terbaik jika diberi kesempatan.”


“Tapi ini bukan main-main, loh.” Tama memperingatkan.


Damar hendak memberikan sekalimat penyangkalan yang sudah berada di ujung bibirnya. Tetapi kemudian kata-katanya kembali tertelan, karena satu deklarasi dari Diantha.

__ADS_1


“Saya setuju, kok,” ucap gadis itu. “Damar akan menjadi bagian dari tim saya.”


__ADS_2