
Diantha dengan terpaksa pulang bersama Damar. Muatan bus sore hari yang penuh membuat mereka duduk di bangku yang terpisah. Gadis itu melirik sedikit, seperti dugaannya Damar tidak nyaman berada di kendaraan umum. Ia tak tahu mengapa arah tujuan Damar selalu lebih jauh darinya. Diantha tak pernah bertemu dengan seseorang yang membuatnya banyak berasumsi buruk seperti laki-laki itu.
Ia memencet tombol untuk berhenti pada tiang-tiang bis ketika sudah mencapai halte tujuan. Ketika sudah turun, Diantha memeriksa ponselnya. Terdapat pesan dari Tama yang menyuruhnya ke rumahnya. Ia memang sudah beberapa minggu dibayar untuk mengajar les privat untuk anaknya yang masih SMP.
Diantha sudah dikenal oleh para dosen sebagai mahasiswa yang giat dan pintar. Hingga tak heran, Tama memberinya kepercayaan mengajarkan les pada anaknya setelah ia melihat kemampuannya ketika mereka sedang mengikuti proyek sosial yang diadakan kampus.
Diantha menghentikan langkahnya. Ia lantas menoleh ke samping, baru menyadari Damar berjalan di sampingnya. Sudah ia duga, cowok itu mengikutinya. Ia menghela napas. “Kenapa kamu ngikutin saya?”
Lelaki itu mengernyitkan keningnya. “Tadi kan gue udah bilang bakal nganterin lo pulang.”
Diantha mengendik heran. “Saya kan udah nolak,” tandasnya.
Damar mengerutkan alis. “Tapi kok nggak kayak nolak?” tanyanya bingung.
Diantha mengembuskan napas frustasi. Lelaki ini pasti sedang mempermainkannya. “Kalau begitu, kamu boleh pulang sekarang,” ucapnya kemudian.
“Rumah lo di sini?” tanya Damar penasaran. Matanya mengamati bangunan-bangunan yang tersusun rapi di perumahan yang cukup besar itu. Seingatnya Diantha bukan bukan orang yang terlihat bisa tinggal di perumahan sebesar itu.
“Bukan,” sanggah gadis itu. “Kalau saya punya rumah di sini rasanya nggak mungkin saya harus nyari uang mati-matian,” lanjutnya pelan.
Damar masih mengamati lingkungan perumahan itu. Entah mengapa ia merasa familiar.
“Saya harus mengajar les untuk anaknya Pak Tama. Kalau nggak cepat saya bisa terlambat. Kamu lebih baik pulang duluan.” Diantha berjalan meninggalkan Damar di tempat.
Damar seketika membulatkan matanya. Dadanya seketika berdesir ketika mengingat fakta itu. Ia ingat sekarang. Perumahan ini adalah lokasi yang muncul di artikel berita pembunuhan Tama yang ia baca waktu itu. Ia tanpa sadar mengejar Diantha dan mencekal tangannya, membuat gadis itu sontak menoleh dengan tatapan bingung.
“Jangan pergi ke sana!” larang Damar spontan.
Diantha bergerak melepaskan cekalan tangan Damar. “Maksud kamu apa, sih?”
__ADS_1
Damar tersadar, ia lantas menggerlingkan bola matanya acak dan mendadak linglung. Benar, ia tak tahu alasan masuk akal apa yang bisa diterima Diantha untuk berhenti pergi ke tempat itu. Jika ia menceritakan pengalamannya berpindah waktu, hal yang paling mungkin terjadi Diantha akan menganggapnya gila.
“Ah, iya, gue cuma mau tanya tentang lombanya.” Lelaki itu pada akhirnya hanya bisa beralasan.
“Kamu nggak perlu khawatir tentang lombanya. Saya akan urus itu sendiri. Sebelumnya makasih karena udah bantu saya keluar dari situasi itu.” Diantha sungguh tak mengerti mengapa lelaki itu tiba-tiba datang dan membantunya. Ia tak ingin membuat Damar kesulitan lebih dari itu.
Damar menggeleng kecil. “Nggak. Gue kan yang udah ngajuin diri jadi bagian dari tim lo. Itu artinnya gue juga harus bertanggung jawab dong,” ucapnya bersikeras.
Diantha menatap Damar ragu.
Cowok itu tersenyum tipis. “Apa yang lo khawatirin?”
Diantha menggeleng kecil. “Ini bukan hal sepele,” ucapnya. “Soalnya tim kita harus pasti menang,” lanjutnya pelan.
Damar mengerjapkan matanya, mencoba memperjelas indera penglihatannya. Sebab ia baru pertama kali melihat sorot mata Diantha yang seperti itu. Sorot mata penuh ambisi. Sorot mata yang haus akan kemenangan. Sorot mata yang dalam beberapa sisi sama sepertinya.
“Harus dan pasti,” gumam Damar pelan. “Diantha, lo mau tahu apa bakat gue?”
“Jadi pemenang,” ucapnya yakin.
“Tapi saya kira kamu nggak akan suka ini,” ujar gadis itu setengah hati. “Soalnya … kamu aja jarang masuk kelas kecuali kelas wajib, kan? Saya nggak mau kamu buang-buang waktu untuk hal yang lebih pasti nggak kamu suka.”
“Kalau begitu gue bakal suka mulai sekarang,” sanggah Damar.
“Lebih baik kamu nggak usah memaksakan diri,” tolak Diantha halus.
Damar mendengus frustasi. Ia kemudian memegang kedua bahu Diantha dan menatapnya tajam. “Heh, Diantha. Denger. Gara-gara lo gue jadi pengen menang, nih. Ah, nggak. Bukan cuma itu. Gue jadi pengen rajin masuk kuliah, rajin rajin belajar, dan nyatet kayak lo. Makanya, kalau lo nggak mau gue memaksakan diri ya lo yang maksa gue, dong!”
Diantha mengerjapkan matanya. “Saya … nggak ngerti kamu ngomong apa.”
__ADS_1
Damar kembali mengembuskan napasnya, menatap gadis itu tepat di kedua matanya. Ah, sebentar. Mengapa ia jadi merasa ekspresi Diantha saat ini sangat lucu?
Lelaki itu lantas melepaskan tangannya. “Maksudnya, gue nggak terpaksa. Lihat aja nanti. Gue bakal buktiin dugaan lo tentang gue salah.”
Diantha mengatupkan mulutnya, lantas mengangguk pelan. “Kalau kamu bersikeras begitu … ayo buktikan.”
Damar tersenyum tipis. “Oke,” ucapnya menyetujui. “Untuk sekarang, gue pulang dulu. Pastiin lo hati-hati dan pulang dengan selamat karena lo pasti pulang malem.”
Diantha mengangguk, ia melambaikan tangan pelan. Dan Damar berbalik pergi menuju halte bus. Tetapi tak lama setelah itu, cowok itu memutar langkah kakinya.
“Oh iya, Diantha! Gue mau tanya satu hal lagi tentang lo.” Damar berseru lantang, membuat Diantha berbalik.
“Apa?” balas Diantha.
“Kalau lo dapat pekerjaan yang lebih menguntungkan dari mengajar les buat Pak Tama, apa lo mau berhenti?”
Diantha mengerjapkan mata, sedikit bingung. Namun pada akhirnya ia tetap menjawab. “Nggak tahu!”
......................
Damar terus memikirkan jawaban Diantha. Tidak tahu. Jawaban yang sangat rancu, tak berbentuk, dan sudah pasti tak memiliki kepastian. Hal yang paling mungkin, ada alasan tersendiri mengapa Diantha begitu bersikeras mempertahankan pekerjaannya. Pun ada alasan tersendiri baginya untuk memenangkan perlombaan itu.
Hal yang harus Damar lakukan untuk mencegah pembunuhan itu adalah menjauhkan Diantha dari Tama. Dan hal yang paling efektif adalah membuat Diantha berhenti mengajar les di rumah Tama. Karena di situ lah lokasi pembunuhannya ada.
Namun, mengingat bagaimana jawaban Diantha membuat otaknya seketika buntu. Damar tak tahu apa langkah yang paling tepat untuk membuat gadis itu berhenti. Tetapi hal terpenting yang harus dilakukannya sekarang adalah membuktikan diri pada Diantha.
Lelaki itu memutuskan pulang ke rumahnya setelah beberapa hari setelah kecelakaan itu ia menumpang di kontrakan Revan. Ia malas menjawab beralasan jika ditanyai mengenai tubuhnya yang luka-luka dan pulang dengan keadaan lunglai. Walau ia tak yakin keluarganya akan sepeduli itu.
Damar harus melewati ruang tengah untuk menuju kamarnya. Dan sialnya, ayahnya sedang berada di sana. Lelaki itu mencoba bersikap santai seperti biasa. Tetapi kemudian ayahnya malah membuka suara, megutarakan hal tak terduga.
__ADS_1
“Damar, sejak kapan kamu ikut balapan liar?”