Wild And Flower

Wild And Flower
Lima Tahun


__ADS_3

Lima tahun berlalu dengan begitu cepat. Damar tak tahu kapan terakhir kali ia menikmati udara segar di pagi hari karena tak sempat pulang. Ia lupa bagaimana rasanya kebebasan karena bertahun-tahun menyembunyikan diri dalam rutan. Mungkin semua polisi yang mendeklarasikan kebebasannya sama-sama heran karena ia adalah satu-satunya narapidana yang paling terlihat tidak senang di hari terakhir masa hukumannya.


Hari ini, Celine bahkan sudah menghadangnya di depan kantor polisi. Dan sekarang mereka memutuskan untuk berbicara di taman kota setelah lima tahun lamanya. Sebab Damar menolak siapapun yang berkunjung ke penjara.


Beberapa menit berlalu, Celine asyik dengan handphone-nya. Tetapi kemudian ia menunjukkan layar itu pada Damar. "Ini adalah satu hal yang pengen banget gue kasih tau ke lo."


Mata Damar terbelalak. "Apa maksudnya?" tanyanya terkejut melihat headline berita yang ditunjukkan Celine. Berita pembunuhan.


"Cewek yang lo tabrak waktu itu, namanya Diantha Rakayla. Satu fakultas sama lo. Dan lo tahu kenapa dia kecelakaan waktu itu? Dia lagi kabur karena habis menikam dosennya sendiri." Celine menjelaskan. "Gue sebenernya mau ngasih tau lo dari awal. Tapi lo selalu nolak ketemu siapapun sampe lima tahun. Emang brengsek, lo." Gadis itu menatap damar ketus, namun pada akhirnya ia merrasa lega karena bisa berbicara dengan Damar lagi.


Damar tersenyum kecut.


"Jadi gue cuma mau bilang, mungkin dia memang udah berencana suicide sebelum ketemu lo. Katanya sih, dia sebenernya anaknya baik. Pasti aneh kalau tiba-tiba ketahuan bunuh orang." Celine diam-diam tahu dengan jelas rasa bersalah yang terus menghantui Damar.


Namun, kini ekspresi lelaki itu jadi sulit dimengerti. Entah apa yang sekarang ada di pikirannya.


"Gue mau ke makam cewek itu," ucap Damar tiba-tiba. "Gue belum sempet ngucapin selamat jalan ke dia."


Ucapan Damar membuat Celine mengulas senyum lega.


......................


Damar memasuki sebuah toko bunga. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan ketika mengunjungi makam seseorang. Namun setidaknya membawa bunga adalah pilihan yang tepat daripada tangan kosong. Namun sayangnya, pemilik toko itu baru saja memberitahunya kalau bunga di tokonya telah habis dipesan.


Damar gelisah karena tak ada toko bunga lain di sekitar situ. Ia tak punya ide selain memohon pada pemilik toko itu untuk memberi meski sedikit.


"Mas, saya mohon maaf banget soalnya bunganya beneran habis. Tapi saya punya alternatif kalau Masnya mau. Sebentar saya ambilkan." Penjaga itu mengambil sesuatu dari laci mejanya. "Ini benih bunga, mungkin bisa dijadikan pengganti. Nggak usah dibayar, Mas."


Pemilik toko itu memberi beberapa benih yang tersimpan dalam lipatan secarik kain dengan rapi. Damar menerima benih itu dengan raut heran. Tetapi pada akhirnya ia lega karena tak membawa tangan kosong. "Terima kasih, Mbak," ucapnya tulus.


Damar sampai di makam Diantha dan menanam benih itu dengan permukaan dangkal. Ia kemudian mengeluarkan secarik kertas yang telah lusuh dari saku celananya. Surat yang Diantha tinggalkan untuknya sebelum ajalnya. Lelaki itu lantas mengubur kertas itu bersama benih-benih yang sudah terpendam dalam tanah.


"Gue nggak tahu seberat apa hidup lo dulu. Tapi tolong bahagia di kehidupan baru lo." Damar berucap pelan, lantas tertawa tipis. Tawanya kosong. Ada banyak hal yang seharusnya ia ucapkan, tetapi lidahnya kelu.


Damar pada akhirnya pergi meninggalkan lahan pemakaman itu. Rintik gerimis mulai turun, seolah sengaja menyirami benih yang baru saja ditanamnya. Lelaki itu melajukan motornya dengan perasaan hampa. Mendadak banyak pertanyaan yang mengganggunya.


Hujan semakin deras. Ia kehilangan konsentrasinya.


Perasaan yang membuatnya hilang kendali seperti lima tahun lalu masih terasa sama. Namun, Damar kini juga kehilangan kendali untuk menyelamatkan diri.


Dan kemudian, sebuah tronton menghantamnya hingga tubuhnya terpelanting ke aspal.

__ADS_1


Tubuhnya seketika mati rasa. Kesadaran Damar semakin samar.


......................


Lelaki itu membuka mata. Ia melihat langit-langit yang tak asing, tetapi tak ingat pasti. Sampai kemudian suara seorang laki-laki terdengar dari balik pintu. Tak lama kemudian, terdengar suara kenop pintu yang dibuka. Suara itu semakin mendekat, kini diikuti suara seorang wanita di belakangnya.


"Woy, udah sadar lo?"


Damar menoleh pelan ke sumber suara. Lelaki dengan gaya santai itu menyambut kembalinya Damar ke alam sadar. Revan, temannya di geng motor. Lelaki yang selalu tampak mencolok dengan gaya rambutnya yang apik, sekarang warna merah. Terakhir kali ia melihatnya di pertandingan, lelaki itu mengecat rambutnya menjadi biru sapphire. Ia sudah tak heran dengan kebiasaanya menggonta-ganti warna rambutnya.


Kini wanita di samping Revan ikut melongok. Ternyata Celine. Penampilan gadis itu akan selalu berubah total jika memasuki lingkungan balapan. Eyeliner tebal akan menghiasi matanya, tidak lupa dengan lipstik bold yang membuatnya semakin garang. Celine tampak seperti orang yang berbeda dengan penampilannya seperti saat ia menjemputnya dari kantor polisi. "Nih, minum dulu, Mar." Cewek itu mengambil segelas air putih di atas nakas.


"Ini … gue di mana?" tanya Damar ragu.


"Rumah sakit. Ah elah kayak sinetron aja lo pake 'gue di mana—gue di mana' segala," celetuk Revan.


Ada yang aneh. Damar kembali mengamati sekitar. Lalu pandangannya berhenti pada Celine. Ia meneguk segelas air yang diberikannya, lalu diam mengamati. Terutama penampilannya saat ini. Tentu Damar sudah tak asing dengan penampilannya yang berbeda seperti itu. Lalu ia melirik rambut panjangnya dengan gaya yang bergelombang.


Damar ingat saat ia bertemu dengan Celine beberapa saat lalu, rambutnya pendek. Meski bertemu Celine tanpa riasan sudah biasa, tetapi perubahan penampilannya ini tetap terasa aneh.


"Lo pake hair extension?" tanya Damar memastikan.


"Jangan bercanda," pungkas Damar serius. "Bukannya pas kita ketemu tadi rambut lo pendek?"


"Hah? Lo ngomong apa sih?" Celine kebingungan, begitu juga dengan Revan.


"Udah deh, jangan keterlaluan bercandaannya. Lo kan baru aja jemput gue di depan kantor polisi."


"Ih sumpah, Damar. Gue nggak ngerti lo ngomong apa," keluh Celine bingung.


"Jangan-jangan masih ngigo ya lo? Ngapain juga lo di kantor polisi?" Revan kini tak tahan ikut menyambar.


"Ya gue habis dipenjara lima tahun. Masa lo nggak tau sih, Van."


Kedua orang itu saling melirik. Kemudian kembali menatap Damar penuh curiga. "Masa?" bisik Celine ragu.


"Jangan-jangan lo gegar otak," tebak Revan.


"Gue kayaknya jatuh lumayan keras sih tadi pas habis dari makam," gumam Damar. “Tapi,--” ucapan Damar terpotong oleh Celine yang sontak menyela.


"Hah? Makam dari mana?" Celine mendadak pening.

__ADS_1


"Lo tuh habis jatuh pas tanding, Bro. Emang nggak aneh hal kayak gini terjadi. Kayaknya lo shock banget, deh." Revan menukikkan alisnya heran.


Jatuh saat pertandingan memang hal yang tidak aneh. Tetapi yang aneh ia tidak sedang mengikuti pertandingan.


Damar kemudian tersadar, ia meraba wajahnya. Aneh. Tidak ada luka sedikit pun. Padahal ia yakin kecelakaan tadi menghancurkan bagian depan helm-nya. Dan lebih anehnya lagi, ke mana perginya kumis dan jenggot tipisnya yang tumbuh tak terawat selama lima tahun itu? Apakah dokter mencukurnya?


"Sebentar, deh." Celine tiba-tiba menyela. "Gue mau bayar tagihan seminar." Ia memainkan ponselnya setelah benda pipih itu mengeluarkan suara notifikasi.


"Lo kuliah lagi, Cel?" Damar bertanya semakin bingung.


"Hah? Kuliah lagi gimana? Gue baru juga tingkat dua."


Damar membelalakkan matanya. Sebuah pertanyaan tidak masuk akal seketika muncul di benaknya. Ia mengingat sesuatu. Terutama ruangan ini, yang sejak tadi terasa tak asing. Damar pernah berada di ruangan itu dulu sekali, ketika ia mengalami kecelakaan saat balap motor. Itu semua … persis lima tahun yang lalu.


"Cel, boleh pinjem handphone lo sebentar?"


Celine tanpa ragu memberikannya meski rautnya kini heran.


Damar melihat tanggal dan tahun yang ada pada wallpaper ponsel wanita itu. Jantungnya kini berdetak dua kali lebih cepat.


Tahun 2023, lima tahun yang lalu. Dan Agustus, tiga bulan sebelum kematian Diantha.


"Masih jam delapan. Guys, anter gue ke kampus sekarang juga!" perintah Damar dengan suara parau. Melihat wajah kebingungan kedua temannya, cowok itu langsung menyela. "Jangan nanya kenapa. Anter gue sekarang juga!" pintanya tak mau tahu.


Mereka bertiga akhirnya menuju kampus dengan mobil Celine. Tak ada yang berani berbicara melihat wajah Damar yang terlihat tak baik-baik saja. Sesampainya di gedung fakultasnya, lelaki itu berlari dengan langkah tertatih-tatih menuju kelasnya. Sedangkan Celine dan Revan terpaksa mengikutinya.


Damar memasuki sebuah ruangan yang berisi beberapa gelintir mahasiswa. Ia tak ingat mata kuliah apa yang tertulis di jadwalnya sekarang. Ia hanya mengandalkan ingatan tentang ruangan yang sering ia masuki, dan berharap seseorang yang ia cari ada di sana. Lelaki itu mengelilingi seluruh ruangan dengan frustasi hingga orang-orang yang ada di sana menatapnya keheranan.


Namun, sayangnya … wanita yang ia cari tak ada di sana.


Damar terhuyung di ujung ruangan. Ia baru menyadari kalau tubuhnya begitu lemah sekarang.


Sampai kemudian, pintu ruangan terbuka. Seseorang masuk dan berjalan menuju kursi di barisan paling belakang. Langkah kaki yang beradu dengan lantai membuat Damar menoleh. Eksistensi wanita itu membuat Damar kembali menegakkan tubuhnya. Ketika wanita itu semakin mendekat, ia melebarkan matanya. Damar melangkahkan kakinya, mempersempit jarak mereka. Meski semua itu hanya mimpi, kali ini ia tak boleh lepas darinya.


Hingga saatnya, wanita itu kini tepat di hadapannya. Damar memegang kedua bahunya, matanya menatap lekat. Kemudian tangannya menangkup kedua pipi itu. "Lo … masih hidup?" bisiknya pelan.


Tetapi sedetik kemudian sebuah buku tebal menghantam wajahnya hingga Damar terhuyung ke samping. Kepalanya mendadak migrain. Tetapi kini Damar menyadari sesuatu. Semuanya terasa nyata. Apakah semua itu … benar-benar bukan mimpi?


Ia menatap wajah wanita itu. Namanya Diantha. Diantha Rakayla. Wanita yang seharusnya sudah mati lima tahun yang lalu, sekarang berdiri tegak di hadapannya. Dengan mata yang terbelalak dan napas terengah-engah, seolah ia baru saja berhasil memukul maling yang sedang mencuri.


Anehnya, hal itu mampu membuat Damar tersenyum. Setelah senyumannya benar-benar padam selama lima tahun lamanya.

__ADS_1


__ADS_2