
Diantha tidak tahu dari mana asalnya laki-laki yang bernama Damar itu. Ia baru tahu kalau ternyata ia adalah teman sekelasnya. Dan sialnya, lelaki itu sekarang seolah mengintilinya ke mana pun ia pergi. Entah di kelas, entah di kantin, atau tempat-tempat acak seperti warung tempat ia membeli makanan, Damar seolah tanpa sengaja ada di sana juga. Contohnya pagi ini, ia tanpa sengaja duduk di samping Damar dalam bus yang sama. Dan seperti biasa lelaki itu akan menyapa dengan pola kalimat serupa. “Eh, Diantha? Lo suka naik bus ini juga?”
Diantha yang bingung harus menanggapi bagaimana, seperti biasa hanya bisa mengangguk terpaksa.
“Kebetulan gue juga suka naik bus,” balas Damar sambil tersenyum lebar, membuat Diantha melirik kecil. Bohong. Senyum Damar yang terlalu dibuat-buat sangat terlihat. Ekspresinya yang meringis sesekali jelas menjelaskan bahwa ia tidak biasa dengan sumpek dan pengapnya dalam bis.
Diantha kemudian memutuskan kembali menatap jalanan dan mengabaikannya, tetapi kemudian seorang nenek-nenek yang berdiri di hadapan mereka membuatnya terkejut sebab tak ada yang membantunya menyediakan tempat duduk. Diantha sontak berdiri. “Ibu, tolong duduk di kursi saya. Kebetulan tempat saya sebentar lagi sampai.”
Damar tak sengaja menoleh mendengar ucapan Diantha, sebab mereka baru saja menaiki bus itu, dan tentunya jarak kampus mereka masih cukup jauh.
“Beneran, neng? Aduh, makasih banyak, ya.”
“Sama-sama, Bu. Sini saya pegang dulu belanjaannya,” balas Diantha sembari membantu wanita itu duduk. Ia kemudian tak sengaja bertatapan dengan Damar yang sedari tadi menatapnya. Diantha tak tahu mengapa Damar mengerutkan keningnya padanya.
......................
Sudah sekitar seminggu Damar selalu berangkat kuliah, dan beberapa informasi sudah ia dapatkan. Ia tahu jelas itu bukan informasi yang cukup untuk mendukung motif bunuh dirinya Diantha. Tetapi kenyataan itu cukup membuatnya frustasi. Sebab ia sendiri muak mendengar perkataan-perkataan dari mulut yang tidak waras. Entah dari mana awalnya gosip-gosip tentang Diantha yang beredar. Dan Damar rasanya tidak tahan untuk menyumpal mulut mereka.
“Lo tau belum si Diantha-Diantha itu habis ngegaet proyek dosen lagi? Heran deh, dia pasti paling cepet dapetnya.” Sayup-sayup terdengar obrolan dari orang yang lewat di belakang meja makannya di kantin.
__ADS_1
Temannya terkekeh. “Dia butuh duit banget kali. Ngurusin proyek gituan kan kecipratan cuan juga,” balasnya sinis.
“Ya tapi menurut gue ada yang lebih pantes aja gitu. Kayak duta kampus, mapres, mereka kan jelas arahnya mau banggain kampus. Lah ini? Keliatan banget ngejar duitnya.”
Damar kemudian menoleh untuk melihat wajah-wajah tukang rumpi itu, tetapi kemudian matanya tak sengaja menemukan sesosok yang selalu memenuhi pikirannya akhir-akhir ini. Diantha, yang berada di balik bilik kantin tepat di belakang para gadis-gadis tadi. Dan ia tetap memakan makanannya dengan tenang seolah tak mendengar apa pun, seolah ucapan-ucapan keji tentangnya tadi tak meninggalkan dampak apa-apa padanya.
Damar tak tahan. Ia memutuskan berdiri, membawa jus alpukatnya yang masih tersisa setengah lantas menuju tempat duduk Diantha. Gadis yang sedang asyik memakan makanannya itu seketika menoleh. Ia tampak sedikit terkejut karena akhirnya bertemu Damar lagi. Tetapi seperti biasa ia memutuskan kembali melanjutkan aktivitasnya.
“Hai, Diantha? Boleh duduk di sini, kan? Kebetulan kantinnya udah penuh sekarang,” celetuk Damar, lalu meminum jusnya.
Gadis itu kini menatap Damar. “Kenapa kamu bohong terus?”
“Saya tadinya nggak mau nuduh kamu. Tapi itu udah terlalu sering. Kita selalu ketemu di tempat-tempat yang nggak terduga. Dan kamu juga seolah udah siap menyapa saya, tapi kamu selalu bilang itu kebetulan.”
Damar mengatupkan mulutnya, tak menyangka Diantha pada akhirnya akan mengatakan hal itu. Ia kira gadis itu pelan-pelan akan menerima kehadirannya suatu hari nanti. Tetapi rupanya ia salah. Tatapan Diantha saat ini, seolah mengatakan bahwa ia terganggu, dan ia tidak suka. Tetapi Damar tak punya pilihan lain selain berada di dekatnya untuk mencari jawaban itu. Jika ia gagal, apa gunanya ia kembali ke masa lalu.
Damar kini menatap Diantha lekat. “Gue emang bohong,” ungkapnya pelan. “Tapi bagi gue cuma itu satu-satunya cara buat deket sama lo. Lo juga sama aja, kan? Lo juga suka bohong.”
Diantha menatap Damar, terpancing dengan kata-katanya. “Bohong?”
__ADS_1
Sembari menyeruput jusnya, Damar mengangguk. “Contoh paling dekatnya tadi pagi, lo bohong sama ibu-ibu hamil di bus.” Ia memiringkan wajahnya menatap Diantha yang mengalihkan pandangannya. “Dan kemarin, lo bohong kalau seneng bantuin orang-orang di belakang lo itu. Padahal lo nggak nyaman kan sama mereka?"
Diantha tersenyum kecil. “Kalau kebohongan saya bisa bikin seseorang mendapatkan haknya dan bikin saya bisa berinteraksi sama orang lain pada tempatnya, menurut saya itu nggak masalah.”
“Dan kalau kebohongan gue bisa bikin kita deket, menurut gue itu nggak masalah,” balas Damar.
Diantha kini mengembuskan napasnya setengah jengah. “Kalau kamu cuma mau main-main sama saya, saya nggak bisa. Saya bukan cewek yang punya waktu untuk kamu ajak main-main seperti itu. Maaf, kamu bisa cari cewek lain yang lebih menarik.”
Damar menukikkan alisnya, berpikir sejenak. Ah, sekarang ia mulai mengerti mengapa Diantha tak suka ia mendekatinya. Mungkin Diantha mengira ia mendekatinya untuk dipermainkan. Ia kini menatapnya curiga, apakah mungkin sebelumnya ada yang telah melakukan hal itu padanya?
Damar berpikir sejenak untuk meluruskan kesalahpahaman itu. Ia kemudian kembali menatap Diantha sembari memberikan seulas senyuman. “Gue bukan mau deketin lo kayak gitu,” ucapnya meyakinkan. Diantha menatapnya penuh tanya. “Gue mau temenan sama lo.” Lalu kening gadis itu sontak berkerut.
“Temen?”
Damar mengangguk sambil menunjukkan geliginya. “Mau, kan?” tanyanya memastikan. “Anu, gue sebenernya butuh temen rajin kayak lo, biar kebawa rajinnya,” lanjutnya kembali meyakinkan.
Diantha menggaruk tengkuknya ragu. Ia menghela napas, tampak berpikir sejenak. Sampai kemudian ponsel di mejanya membunyikan notifikasi, dan perhatiannya teralihkan seketika.
Damar diam-diam melirik tampilan chat yang muncul pada layar ponsel gadis itu. Dan matanya membulat seketika melihat nama yang muncul di sana.
__ADS_1
Pak Tama: Diantha, temui saya jam 1 nanti ya.