WISTERIA

WISTERIA
TUNANGAN GARRY


__ADS_3

Bagian 10 - Wisteria


Tunangan Garry


"Gue gak suka sama orang yang merebut milik gue dan ikut campur dalam masalah gue"


Udah siapa nih?


Langsung baca ya scroll ke bawah


*****


Sabtu pagi


Seperti biasa, Dara melakukan rutinas paginya saat libur sekolah yaitu jogging mengelilingi komplek perumahannya.


Dara menikmati saat-saat dia berolahraga sambil mendengarkan lagu favorite yang setia menemaninya. Setelah mengitari kompleknya selama kurang lebih tiga puluh menit, Dara mulai merasa lelah dan memutuskan untuk berhenti di sebuat taman. Dara duduk di bangku yang dinaungi oleh pohon rindang. Ia memperhatikan anak-anak kecil yang asik bermain, sedangkan ibu-ibu mengawasinya sambil bergosip ria.


Dara meminum infuse water yang dia bawa dari rumah. Namun belum selesai ia minum, tiba-tiba ada orang yang mengambil tumbler nya dan meminum infuse water nya dengan cuek.


"Kak Vino?!" ucap Dara kaget.


“Hai ! Biasa aja kali ngga usah shock kaya abis kemalingan gitu. “ ucap Vino kocak dengan ekspresi Dara.


“Nih.” Vino menyerahkan tumbler nya Kembali ke Dara.


“Eh ia. “ Dara yang masih shock akhirnya menerima tumbler itu setelah Vino memanggilnya beberapa kali.


“Kok KaK Vino bisa tiba-tiba ada di sini?” tanya Dara setelah berhasil mengendalikan rasa kagetnya.


"Tadi aku ke rumah tapi kata Bi Atun Neng dara lagi lari ngejar cowok impian, gitu katanya" canda Vino sambil terkekeh


"Ih apaan sih Kak" Dara yang malu, memukul pelan lengan Vino yang duduk di sampingnya.


"Hahahaha. “ Vino tertawa melihat reaksi Dara yang menurutnya lucu.


“Oh iya Ra, malem ada acara ngga? “ tanya Vino tiba-tiba.


“Heemm belum ada sih Kak, kenapa emang?” Dara bertanya balik.


“ Temenin aku ke tunangannya Garry, yuk ?“ ajak Vino ragu, takut ajakannya itu ditolak. Sebenarnya Vino malas datang ke tunangan Garry karna di sana pasti ada Hellen. Tapi Tere memaksanya untuk datang. Selain itu, alasan Vino mengajak Dara adalah supaya Hellen tau kalau Vino sudah move on dan agar Hellen tidak mengganggunya lagi. FYI, Hellen terus menghubungi Vino mulai dari mengirim pesan sampai meneleponnya, entah untuk meminta maaf atau mengajak nya bertemu tapi Vino tidak pernah mengubrisnya sekalipun.


“Mommy sama Chacha juga ikut kok. Justru Chacha yang maksa aku buat ngajak kamu.” Lanjut Vino yang melihat Dara sedang menimbang-nimbang ajakannya itu.


“Hayu aja sih Kak. “ ucap Dara sedikit ragu. “Tapi aku suka bingung kalau dateng ke acara kaya gitu mesti gimana. “


“Bingung gimana?”


“Ia bingung Kak. Pertama, aku mesti pake baju kaya gimana. Terus kan nanti di sana ngga ada yang aku kenal “


“Oohh….kalau itu kamu tenang aja. Mommny tadi emang nitip pesen kalau dia udah booking di salon langganannya dan Mommy minta supaya kamu ikut ke sana juga. Terus kalau nanti di acara kamu bingung nyari temen, kan ada aku.” Jelas Vino.


“Emang acaranya jam berapa Kak?”


“Acaranay sih jam 7, tapi karna nanti kamu sama Mommy bakal nyalon dulu jadi aku ****** jam 5 gimana?”


“Heemm boleh. Tapi aku ijin ke Bunda dulu ya?”


“Okeeyy. “ Vino merasa senang Dara menerima ajakannya yang dadakan itu.


“Udah Kak? Jauh-jauh ke sini cuma buat ngajakin gitu?” tanya Dara yang siap kembali pulang.


“Eenngg sekalian mau ngajakin sarapan sih. Udah jam-jamnya laper nih hehe”


“Hahaha sama. Mau sarapan apa Kak?"


"Bubur bedjo gimana?"


"Ayo ayo aku udah lama banget ngga makan disana"


Sambil sarapan, mereka bercerita tentang kehebohan di sekolah akhir-akhir ini. Ya gimana ngga heboh kalau setiap hari Dara diantar-jemput Vino, jelas lah banyak yang iri sama Dara. Mereka mengakui kecantikan Dara yang di atas rata-rata, jadi wajar kalau Vino tertarik dengan Dara.


Meskipun mereka tau Vino bukan tipikal orang yang memilih cewek hanya berdasarkan fisiknya aja, tapi kan tetep first impression itu penting. Bahkan banyak yang menyangka bahwa Vino dan Dara sudah berpacaran. Padahal sampai saat ini Vino belum juga mengatakan perasaannya kepada Dara.


***


Sore itu Vino menjemput Dara dan langsung mengantarkannya ke salon langganan Tere. Mereka langsung disambut hangat oleh seluruh pegawai begitu memasuki salon.


"Jeng calon mantu nih?" seru Omy karyawan salon tersejut yang bertanya kepada Tere sambil merapihkan rambut Dara.


"Aaamiiinnn doain ya, semoga mau sama anak eike" jawab Tere

__ADS_1


"Cyin kalo you gak mau sama Vino, biar deseu buat eike" tawar Omy kepada Dara.


"Dih gue sih ogah Omy" tolak Vno mentah-mentah. Dara tertawa kecil melihat perdebatan itu.


Omy pun memulai pekerjaannya merias wajah cantik Dara dan membantu Dara memilih gaun yang pas untuk dikenakan nanti.


Setelah selesai, Dara keluar dibalik ruang ganti khusus tamu VIP dengan sangat menawan dan elegan. Rambut panjang Dara dibuat bergelompang dan dibiarkan tergerai, wajah Dara yang sudah cantik hanya dibubuhkan sedikit make up agar tetap terlihat natural, badan Dara dibalut oleh gaun berwarna putih yang senada dengan heels yang dikenakannya, membuat Dara terlihat angun dan femini.


Vino terkesima melihat penampilan Dara itu.


"Ngedip kali cyn, awas itu mata lama-lama bisa keluar ituu “ucap Omy menegur Vino yang tak bisa melepaskan pandangannya dari Dara.


"Waahhh Kak Dara cantik banget, ia kan Mom?" ucap Chacha terkesima


"Iya, cantik banget sayang" timpa Tere.


Dara hanya bisa tersenyum malu mendapat pujian seperti itu.


Setelah memastikan bahwa semuanya telah tampil menawan dan rapih, mereka pun segera menuju hotel. Acara tunangan Garry dilaksanakan di sebuah hotel bintang lima yang terkenal di Bandung. Begitu sampai di lobby hotel, mereka langsung diarahkan oleh pegawai hotel untuk memasuki ruangan tempat acara berlangsung.


Menyadari Dara yang tegang, Vino menarik tangan Dara dan melingkarkannya dilengan Vino.


Mereka berjalan seperti sepasang kekasih. Hellen yang menyadari kehadiran Vino langsung menghampiri, meskipun dalam hati Hellen merasa iri dengan Dara yang saat ini sudah menggantikan posisinya.


"Hai Vin. Akhirnya dateng juga. “ sapa Hellen yang hanya dibalas senyuman oleh Vino.


“Oh hai, kayanya kita pernah ketemu deh waktu di rumah Vino, Cuma waktu itu belum kenalan. “ Hellen beralih ke Dara. “Kenalin, gue Hellen.”


Vino yang tidak menyangka Hellen akan tiba-tiba memperkenalkan dirinya ke Dara langsung menatap Hellen tajam, memperingatkan agar Hellen tidak macam-macam. Hellen hapal sekali arti tatapan itu, tapi dia cuek saja.


“Eh ia, Dara. “ jawab Dara polos


menyambut uluran tangan Hellen.


“Hai Tante, apa kabar?” Hellen kembali beralih menyapa Tere sambil cipika cipiki.


“Alhamdulillah baik “ jawab Tere lembut.


“Hai Chacha. “ kini Hellen menyapa Chacha, namun tidak ditanggapi oleh Chacha, malah Chacha langsung berjalan ke arah dara sambil memeluk. Hellen tersenyum datar melihat keakraban Dara dan juga Chacha. Namun dia tidak mau ambil pusing.


"Yuk tante kita ketemu Garry. Disana juga ada Mami sama Papi" ajak Hellen sambil menuntun mereka untuk menemui keluarganya. Tere dan Vino mengucapkan selamat atas pertunangan Garry dan berbincang-bincang sekedar menanyakan kabar. Tapi Chacha merasa bosan dan mengajak Dara untuk menemaninya mencari es krim di stand-stand yang ada di sana.


Dara berjalan bersama Chacha dan duduk di kursi paling ujung menemani Chacha menghabiskan makanannya.


"Dara?" panggil seseorang tak percaya.


Dara mencari sumber suara dan melihat seorang lelaki yang sedang melambaikan tangan berjalan ke arahnya.


"Mauza?” ucap Dara kaget. “Kok…” belum sempat Dara menyelesaikan kalimatnya sudah keburu dipotong oleh Mauza.


"Kebetulan Garry ketua club motor gue, jadi gue diundang kesini. Lo sama siapa?"


"Gue sama Kak Vino--" lagi-lagi belum selesai berbicara, sudah keburu dipotong, kali ini oleh Chacha.


"Sama keluarga pacarnya Kak Dara" cerocos chacha sambil memasukkan sesendok eskrim ke mulutnya


Oh jadi dia punya cowok. Ucap mauza dalam hati


"Kak, Chacha udah selesai makan es krimnya. Sekarang cari minum yuk Kak. ” pinta Chacha yang tak suka melihat Dara dan Mauza bersama-sama.


"Za, gue duluan ya" pamit Dara. Mauza masih memperhatikan Dara dari belakang, masih menyesali kebodohannya yang membuat hubungannya dengan Dara berakhir.


Saat Dara berjalan dengan Chacha, tiba-tiba ada seseorang yang menyenggolnya dan membuat kuah panas dalam mangkuk yang dipegang orang tersebut tumpah mengenai tangan Dara. Seketika tangan Dara terasa melepuh, membuat Dara mengerang kesakitan dan mengibas-ibaskan tangannya. Chacha yang melihat kejadian itu segera mencari Vino dengan panik.


“E-eh-eh sorry, ngga sengaja.” Orang yang menabrak Dara merasa tidak enak dan segera meminta maaf.


"Ra, lo gak apa-apa? Tangan lo terluka?" tanya Mauza panik. Ia melihat kronologis kejadian tadi.


"Panas banget…" Dara meringis melihat tangannya yang mulai memerah.


Mauza segera menghampiri stand yang menyediakan es batu dan membalutnya dengan tisu. Mauza dengan sigap meredamkan rasa panas ditangan Dara dengan es batu tersebut.


Vino langsung berlari menghampiri Dara, dan betapa terkejutnya ketika melihat tangan Dara yang benar-benar merah. Chacha menunjuk seseorang yang menumpahkan kuah panas itu ke arah Dara


"Heh, Lo ngga bisa liat? Lo udah celakain orang lain" teriak Vino sangat-sangat marah membuat mereka seketika menjadi pusat perhatian.


Dara kaget melihat reaksi Vino yang menurutnya agar berlebihan.


"Sorry sorry gue beneran ngga sengaja. Tadi ada yang tiba-tiba ngedorong gue, lo liat ngga siapa ?" Jelas lelaki itu sambil melihat ke temannya yang lain.


"Lo udah salah masih aja cari pembenaran. *****" bentak Vino masih kesal.

__ADS_1


‘' kak vino udah, ngga usah ribut-ribut. Dia ngga sengaja kok, aku juga ngga apa-apa.” Dara mencoba menenangkan Vino. Tangan Dara masih dikompres oleh Mauza.


“Dia beneran ngga sengaja kok.” Mauza yang melihat kronologis kejadian angkat bicara. Mendengar itu Vino langsung melirik tidak suka ke arah Mauza. Pasalnya, Vino ngga kenal siapa lelaki yang sedang memegang tangan wanitanya itu.


“Tadi emang beneran ada cewek yang ngedorong dia kok, jadi dia “ Mauza menunjuk ke arah orang yang tadi nabrak Dara. “emang ngga sengaja nyenggol Dara. Gue ngga bermaksud ngebela, tapi gue liat sendiri kejadiannya kaya gimana.” Jelas Mauza.


"Terus lo ambil kesempatan buat pegang tangan Dara?" tanya Vino cemburu.


"Kak, dia temen aku. Gak mungkin dia macem-macem" jelas Dara.


Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Vino pun langsung menarik tangan Dara untuk pergi meninggalkan tempat itu. Chacha segera mengikuti mereka.


Begitu ditinggalkan, Mauza segera mencari cewek yang sengaja membuat Dara terluka. Dan dia menemukannnya sedang berdiri balkon menikmati pemandangan langit malam di luar sambil meneguk minumannya.


"Gue ngga nyangka lo bisa tega nyakitin orang lain kaya gitu. Apa salah dia sama lo, El?" Tanya mauza kepada Hellena


"Gue ngga suka ada orang lan yang ikut campur masalah gue" ucap Hellen tak memberi jawaban yang jelas ke Mauza.


"Jelas ini jadi masalah gue, lo tau kenapa? Karena Dara temen gue"


"Oh ya? Gue ngga nyangka lo temenan sama cewek yang ngerebut apa yang udah jadi miliki gue"


"Hah, ngerebut? “ tany Mauza tak percaya. “Dara bukan orang yang seperti itu, kalo lo ngga suka sama Dara, jangan sakiti dia. Dia gak tau apa-apa sama masalah lo dan laki-laki itu!" ujar Mauza mengingatkan.


"Lo gak usah ikut campur, kecuali lo mau bantuin gue buat hancurin hubungan mereka"


"Lo gila! Lo udah ngga waras El, gue ngga nyangka lo seburuk ini" ucap Mauza dengan amarahnya dan meninggalkan Hellen kembali sendiri.


"Whatever!" seru ellen tidak pedul.


***


Vino membawa Dara dan Chacha duduk di lobby hotel. Vino segera menelepon Mang Ujang untuk membawa kotak P3K yang ada di mobil. Vino juga menelepon Tere menjelaskan kejadian tadi dan memberitahunya kalau mereka akan menunggu Tere di lobby.


"Kakak maafin Chacha ya, gara-gara Chacha Kak Dara jadi luka kaya gini" ucap Chacha sedih


"Gak apa-apa sayang, bukan salah kamu. Tadi orang itu juga ngga sengaja. Lagian tangan kakak gak kenapa-napa kok" jawab Dara menenangkan Chacha.


Begitu Mang Ujang datang, Vino segera mengobati tangan Dara. Vino mengoleskan salep untuk meredakan kemerahan di tangan Dara


"Sakit ngga?" tanya Vino khawatir.


"Engga Kak, udah lumayan kok ngga sesakit tadi" jawab Dara.


Vino terus memegang tangan Dara merasa bersalah, seharusnya dia tidak meninggalkan Dara untuk menemani Chacha seorang diri. Dia sangat menyesal akan hal itu.


Tere segera menyusul anak-anak nya dan khawatir dengan keadaan Dara, dia takut terjadi apa-apa. Namun dia merasa lega saat luka di tangan Dara sudah mendingan. Mereka pun pulang dan mengantarkan Dara ke rumahnya


"Makasih ya sayang udah nemenin kita. Maaf sama kejadian tadi. Mommy merasa ngga enak" ucap Tere lembut.


"Iya gak apa-apa Tante. Dara baik-baik aja kok" Dara mengangkat tangannya yang sudah mendingan.


"Salam buat Bunda ya, maaf Mommy gak bisa mampir, kasian Chacha. “ Dara memperhatikan Chacha yang tertidur dipangkuan Tere.


“Ia ngga apa-apa Tante. “ Dara tersenyum mengerti.


“Sampai bertemu lagi sayang" ucap Tere sambil mengelus kepala Dara halus.


Dara pun segera turun dari mobil.


"Makasih ya Ra udah nemenin. Kalo ada apa-apa sama tangan nya kabarin aku" kata Vino yang mengikuti Dara turun dari mobil.


"Iya Kak siap. “ ucap Dara tersenyum manis. “Kalau gitu aku masuk dulu ya Kak.”


Vino mengangguk, dan terus memperhatikan Dara sampai sosoknya hilang dibalik pintu.


*****


Jangan baper iya liat foto ini




Cocok kan mereka?


Kapan jadiannya coba?


****


Gemes iya sama vino cemburunya keliatan banget, kira kira vino kapan sih nembaknya?

__ADS_1


Apa yang terjadi sama dara selanjutnya iya hihihi


See you


__ADS_2