
Bagian 5 - Wisteria
Dia Datang Lagi
Cobalah untuk menerima kesalahan orang lain dan memaafkannya.
Udah siapkan kalian baca episode ini? Siap-siap kuatin hati buat baca nya
Ambil hikmah dari setiap pelajaran yang sudah terjadi, ikhlas adalah koentji . Bhaiqqq
******
Tettt tettt tettt
Bel tanda pulang berbunyi, sekolah yang tadinya hening pun seketika ramai dipenuhi sorak kegembiraan seluruh murid SMA 112. Namun ada gadis cantik yang membenci bunyi bel tersebut. Yups, gadis cantik itu adalah Dara! Dia tidak suka bunyi bel pulang sekolah karna itu berarti ia harus kembali menghadapi kesepian sesampainya di rumah nanti.
"Ra, elo ikut gue jemput nyokap di bandara yuk!" ajak Ayu sambil membereskan barang-barangnya.
"Ehmm... Gue kaya nya mau langsung pulang aja deh Ay, mau ngerjain tugas yang kemaren belum beres" tolak Dara halus. Sebenarnya Dara ingin ikut, hanya saja ia ingin terbiasa tidak bergantung kepada sahabatnya itu.
"Elo serius ngga mau ikut Ra?" Tanya Ayu memastikan. "Biasa nya elo yang paling antusias buat jemput nyokap gue pulang dinas." Mamah Ayu biasanya suka membawakan oleh-oleh setiap kali pulang dinas luar negeri makanya Dara selalu antusias tiap kali diajak menjemputnya.
"Besok deh gue maen ke rumah lo, yah Ay" ucap Dara sambil mencubit kedua pipi Ayu gemas.
"Terus lo pulang sama siapa?" tanya Ayu lagi.
"Oh itu, gue dijemput Mas Deni kok" ucap Dara dengan senyum agak dipaksakan. Dara sebenarnya belum tau nanti dia pulang naik apa, hanya saja Dara terpaksa membohongi Ayu karena tidak ingin sahabatnya itu mengkhawatirkannya.
"Kalau lo berdua mau kemana udah ini? Mau langsung cabut atau kemana dulu?" Tanya Ayu membalikkan badannya sehingga menghadap ke meja Meika juga Viola.
"Gue ada eskul Mading" jawab Viola bersiap beranjak dari duduknya. Mading adalah eskul favorit nya, karena disana dia bisa dapat informasi terkini terkait sekolahnya itu
"Kalo gue mau ikutan pemilihan anggota OSIS" jawab Meika. Jangan salah Meika itu anak yang suka banget ber-organisasi, Meika sangat totalitas jika berdistribusi untuk mengharumkan nama sekolahnya itu. Kebayang dong bagaimana kalo dia punya pacar bucin nya kaya apa hihihi
"Kenapa emang Ay?" Tanya Viola penasaran.
"Gue kira kalian langsung pulang. Tadi nya biar Dara pulang ada temennya gitu" jelas Ayu.
"Ay, elo kalo udah khawatirin gue serem tau, lebih dari nyokap gue deh. Lagian kan gue di jemput Mas Deni" ucap Dara mulai merasa sedikit risih dengan tingkat kekhawatiran Ayu yang berlebihan itu. Sebenarnya Ayu punya alasan sendiri kenapa ia sangat khawatir dengan Dara, namun hal itu tidak ingin dia bahas.
"Iya tapi kan tetep aja gue khawatir Ra" Ayu memang benar-benar sangat khawatir kepada Dara.
"Ay, ngga usah lebay deh. Dara udah gede kali. Lagian asih ada gue sama Viola juga" Meika berusaha menenangkan ayu
"Gimana mau percaya, lo berdua modelannya kaya gini" canda Ayu. Mereka semua tertawa melihat wajah Ayu yang sedikit kesal.
"Udah cepet pergi sana, tuh Pak Iwan udah nelponin terus" ucap Dara yang melihat ponsel Ayu berdering
"Iya nih si bebeb posesif amat ke gue" ucap Ayu dan mengangkat telepon dari Pak Iwan, supirnya yang setia "iya beb tunggu bentar atuh meni posesif banget, sabar beb ini mau meluncur iya. Terbangggg" Ayu memang selalu bercanda dengan supir pirbadi nya yang telah dia anggap seperti pamannya sendiri itu. "Gue duluan iya guys, byeee jangan pada kangen yaa!" pamit Ayu sambil menerbangkan kiss bye ke sahabat-sahabatnya itu yang hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah ajaib Ayu.
"Iyuwh jijik amat, ada yang rusak kayanya tuh bocah" canda Viola mengibas-ibaskan tangannya menolak kiss-bye dari Ayu.
"Eh Ra, gue cabut duluan yah, udah ditungguin sama anak-anak OSIS yang lain, ngga apa-apa kan?" tanya Meika memastikan.
"Iya ngga apa-apa ko. Santai aja kali, ngga usah ikutan lebay kaya Ayu" jawab Dara dengan tawa.
“Gue juga duluan yah Ra.” Pamit Viola.
“Dah Daraaa!!” seru Viola dan Meika kompak, menyisakan Dara sendiri di kelas.
Setelah Viola dan Meika menghilang dari pandangan, Dara pun menghela napas berat sebelum akhirnya beranjak keluar kelas. Berjalan sendiri terasa sangat aneh, seperti ada yang hilang. Namun, Dara tidak ingin menjadi egois hanya memikirkan keadaan dirinya saja. Sahabatnya pun mempunya kesibukan dan melakukan apapun yang mereka sukai.
‘Lo harus terbiasa Ra, ngga boleh ketergantungan sama sahabat-sahabat lo, buktiin kalo lo juga bisa mandiri, semangat!’ Ucap Dara dalam hati.
Langkah Dara tiba-tiba terhenti ketika ia melihat seorang laki-laki turun dari sedan hitam. Ia mengenali sosok cinta pertamanya itu, sosok yang juga menyisakan luka mendalam baginya, sosok itu tak lain dan tak bukan adalah Mauza. Selain Mauza yang sedang menatapnya, Dara juga bisa melihat sosok wanita yang duduk di kursi penumpang mobil tersebut. Ya, Mauza datang bersama dengan Renata, mantan sahabatnya. Entah apa maksud mereka berdua datang ke sekolah Dara.
Duh, kenapa sih mereka datang disaat gue sendiri? Ngapain juga mereka ke sini, mau ngebahas luka lama itu lagi? Pikir Dara. Ia jadi ragu untuk melanjutkan langkahnya dan hanya bisa diam mematung apalagi ketika dia melihat Mauza sudah berjalan menghampirinya, rasanya ingin kabur atau menghilang ditelan bumi!
"Ra, lo kenapa? Kok tegang gitu mukanya?" tanya seseorang tiba-tiba. Dara pun menoleh ke belakang untuk memastikan suara familiar yang didengarnya itu.
"Ka Ryan!" ucap Dara perlahan. Mata Dara kembali ke arah Mauza yang semakin mendekat. Melihat Dara refleks memegang ujung jaket yang dikenakannya, Ryan pun mengikuti arah pandang Dara dan mendapati Mauza sudah berdiri di depan mereka.
"Ra, gue mau ngomong sama lo. Bisa ikut gue sebentar?" pinta Mauza tak menghiraukan tatapan Ryan yang masih memandangnya.
"Ngo-ngomong apaan? Disini aja, gue udah ada janji sama Kak Ryan" ucap Dara yang langsung mendekatkan posisinya ke arah Ryan.
__ADS_1
"Bentar aja Ra. Gue cuma mau nyelesein salah paham kita" pinta Mauza sekali lagi.
"Za, gue gak pernah salah faham sama lo. Gue udah tau tanpa harus lo jelasin apa-apa. Lagian kita udah pernah bahas ini sebelumnya, jadi apalagi yang mau lo bahas?” Dara mulai merasa risih dengan sikap Mauza yang memaksa.
"Ra please. Renata juga ada, dia mau ngejelasin semuanya ke elo" pinta Mauza tak menyerah.
"Gue ngga mau, Za" tolak Dara sekali lagi "Kita udah selesai. Lo sama gue udah ngga ada-ada lagi. Gue juga ngga perlu ngedengerin penjelasan dari Renata karna semuanya udah clear. Jadi kalian ngga usah cape-cape ngejelasin lagi, gue udah maafin kalian, gue udah terima semua nya."
"Ra please, gue mohon, sekali ini aja" pinta Mauza mencoba meraih tangan Dara yang langsung ditepis oleh Dara.
"Za, gue mau. Kalo lo mau beresin masalah kalian, ngga usah bawa-bawa gue. Gue udah ngga mau terlibat sama masalah kalian lagi. " ucap Dara sambil melirik ke mobil Mauza, tempat Renata memperhatikan mereka.
"Sorry gue bukannya mau ikut campur, tapi lo bisa liat sendiri kalo Dara ngga mau ikut sama lo, jadi lo ngga bisa maksa dia" ucap Ryan menengahi perdebatan yang sepertinya tidak akan pernah selesai itu. Tatapan Mauza beralih ke Ryan. Ketika Mauza kembali menatap Dara, Dara pun membuang muka demgan sembarang
Mauza diam, dia sangat tahu jika Dara tidak suka dipaksa. Usaha nya pupus, Mauza memutuskan untuk menyerah dan pergi meninggalkan Dara. Mauza masuk kedalam mobilnya dan langsung menancapkan gas sangat kencang.
Melihat Mauza sudah tidak ada dipandangannya lagi Dara menghembuskan nafas lega dan memegang dadanya untuk memastikan detak jantungnya sudah kembali normal.
"Lo ngga apa-apa?" Tanya Ryan khawatir. Dara tidak menjawab dia hanya menggelengkan kepalanya sembari menunduk
"Dia mantan lo?" tanya Ryan. Dara hanya mengangguk.
"Lo mau ikut sama gue?" tanya Ryan sekali lagi. Melihat tak ada jawaban dari Dara, Ryan memutuskan untuk menarik tangan Dara dan menuntunnya menuju parkiran. Ryan memakaikan helm ke Dara yang masih tertunduk. Setelah memastikan Dara sudah duduk dengan nyaman, Ryan pun melajukan motornya meninggalkan sekolah. Dara pasrah dibawa pergi entah kemana oleh Ryan, tapi dia yakin kalau Ryan tidak akan berbuat yang aneh-aneh kepadanya.
Ryan menghentikan motornya di sebuah taman yang dikelilingi oleh pepohonan tinggi nan rimbun serta dipenuhi bunga warna-warni, membuat suasana menjadi sejuk. Mereka menyusuri jalan setapak sebelum akhirnya sampai di sebuah bangku yang menghadap ke air mancur.
"Dulu gue sering banget kesini, bareng sama nyokap. Jalan-jalan keliling entah berapa kali putaran sampe kaki gue bener-bener capek. Nyokap selalu ambil potret gue disini dari gue kecil sampe usia gue 15 tahun" Ryan tiba-tiba bercerita, mencoba menghilangkan keheningan diantara mereka. Ryan menarik nafas berat sebelum akhirnya melanjutkan ceritnaya “Tapi semenjak nyokap gak ada, gue kesini cuman saat gue lagi kangen atau lagi ada masalah. Gue selalu ngebayangi kejadian dulu waktu bareng nyokap dan hal itu membuat diri gue tenang, seolah-olah masalah yang gue hadapi terangkat semua."
"Maaf kak, gue turut berduka.” Ucap Dara pelan. Berarti sekarang Kakak lagi kangen ya sama mamah Kakak?" ucap dara
"Gue kangen tiap hari Ra, itu udah ada di hati gue gak bisa gue ubah. Gue ngajak lo kesini buat berbagi tempat pelarian kalo lo ngerasa suntuk Ra. Lo liat deh tamannya sejuk, kan? Apalagi kalau sambil ngeliatin air mancur ini, bikin ngerasa tenang dan nyaman." Jelas Ryan.
Dara memperhatikan sekelilingnya. Benar kata Ryan, tempat ini tenang banget, nyaman rasanya! Dara kemudian menegadahkan kepalanya sambil memejamkan matanya. Menikmati semilir angin yang menyentuh kulit wajahnya, membuat rambutnya bergerak mengikuti arah angin tersebut. Setelah merasa ia telah menguasai dirinya kembali, Dara beralih menatap air mancur.
"Ra!” panggil Ryan. Dara pun menoleh menatap Ryan. Dara bisa melihat tatapan penuh tanya dimata Ryan.
“Kenapa tadi lo ngga mau waktu mantan lo ngajak pergi?" Tanya Ryan perlahan.
"Buat apa Kak, semua nya kan udah berakhir. Apalagi yang harus diselesaikan?"ucap Dara.
"Dia selingkuh dibelakang gue, Kak. Dan yang parahnya lagi selingkuhannya itu sahabat gue sendiri. Orang yang selalu gue percaya buat diajak cerita tentang hal apapun, bahkan tentang mantan gue sekalipun. Tapi ternyata mereka nusuk gue di belakang. Kakak nanya kenapa gue mau ketemu mereka? Ya karena gue kecewa, kok bisa-bisa nya orang yang gue sayangi tega ngelakuin itu di belakang gue." Jelas Dara kembali teringat kejadian pahit itu.
Ryan menggangguk-anggukan kepalanya mencoba memahami situasi yang sedang dihadapi oleh Dara.
“Tapi kayanya mantan lo itu bukan tipikal orang ngampang nyerah loh. Dia pasti bakal terus nyamperin lo.” Kata Ryan setelah mereka terdiam cukup lama.
“Ia, gue tau Kak.” Ucap Dara pasrah.
“Terus lo mau gimana? Mau terus ngehindar kaya tadi?” tanya Ryan pelan.
“Gue ngga mau berurusan sama mereka berdua lagi. Gue ngga mau lagi ngebuka kenangan pahit yang udah gue kubur dalem-dalem. Gue ngga mau sakit lagi Kak"
“Ia gue ngerti, tapi lo pasti tau kan kalau masalah ngga akan terselesaikan begitu aja. Cepet atau lambat lo harus ngadepin mantan lo itu Ra dan lo harus ikhlasin semua nya, apa yang udah terjadi di-diri lo" nasihat Ryan, matanya fokus menatap Dara "Kalo lo kaya gini terus, mereka yang bakal makin seneng Ra. Seolah-olah lo masih ada rasa sama mantan lo, sampe-sampe lo kaya gini"
"Gue udah ngga ada rasa apa-apa sama Mauza Kak. Cuman rasa kecewa gue yang belum ilang. Gue butuh waktu Kak, apa itu salah?"
“Ya ngga salah sih, tapi jangan sampai berlarut-larut juga Ra.” Ujar Ryan menasehati. “Gue yakin ko lo pasti bisa maafin mereka. Karena gue tau, dilubuk hati lo yang paling dalam sebenernya lo masih sayang sama sahabat lo. Dan siapa tau hubungan kalian nanti bisa deket kaya dulu lagi. Jaman sekarang susah loh nyari sahabat yang setia.”
Dara merenungi kata-kata Ryan.
"Berarti gue salah ya Kak? Sikap gue berlebihan ya?"
"Ngga berlebihan, cuma kurang tepat aja.” Jawab Ryan sambil mengelus puncak kepala Dara.
Melihat Dara kembali diam, Ryan pun melanjutkan. “Mungkin sekarang sahabat lo lagi jadi orang yang nyakiti hati lo, tapi inget sahabat juga lah orang pertama yang akan selalu ada buat lo dan nerima lo apapun situasinya. Cobalah untuk menerima kesalahan orang lain dan memaafkannya. Lo harus nyelesein masalah lo secepatnya bukan menghindar."
Dara membenarkan ucapan Ryan itu, dan untuk pertama kalinya setelah insiden itu Dara tersenyum.
“Udahan ah mellow-mellow nya, laper nih. Makan yuk! Gue tau tempat makan bakso yang enak, lo pasti bakal ketagihan deh.” ajak Ryan kemudian.
Dara mengangguk antusias, mendengar salah satu makanan favoritnya disebutkan.
Mereka pun pergi meninggalkan taman itu menujuk tempat makan yang selalu Ryan kunjungi bersama Ibunya. Seperti yang Ryan duga, Dara menyukai makanan disana dan melahap habis baksonya padahal porsi bakso disana banyak sekali. Melihat Dara sudah kembali bersemangat, membuat Ryan tersenyum senang.
Setelah kenyang, mereka memutuskan untuk mengelilingi kota Bandung dulu. Menikmati suasana senja dan ramainya jalanan kota tersebut. Tak terasa senja sudah berubah menjadi malam dan akhirnya Ryan pun mengantar Dara pulang ker rumahnya.
__ADS_1
Namun betapa terkejutnya Dara ketika melihat mobil sedan hitam tadi kini sudah berada di depan rumahnya. Tubuh Dara menegang seketika, dia berjalan mendekati orang yang turun dari mobil tersebut dengan datar.
Meskipun rasa kecewa nya masih ada tapi Dara teringat pesan Kak Ryan tadi, dia harus menghadapinya.
Lo pasti bisa Ra! Ucap Dara dalam hati.
Renata berlari ke arah Dara dan memeluknya dengan sangat erat "Ra gue minta maaf. Gue nyesel banget. Lo boleh benci gue, lo boleh ngga maafin gue Ra" ucap Renata ditengah tangisnya. Namun Dara masih mematung.
"Gue maafin Ta, gue selalu menghindar. Gue cuma bingung harus bersikap kaya gimana" ucap Dara kemudian membalas pelukan Renata.
"Ra gue kangen, gue bener-bener nyesel udah khianati lo. Gue **** Ra **** banget" ucap Renata yang mulai memukul mukul kepalanya sendiri.
“Ssstt…. Udah Ta.” Dara meraih tangan Renata untuk menghentikannya. “Lo sekarang tau kan, gue ngga suka dikhianati. Lo bisa jadiin ini semua pelajaran buat " Ucap Dara sambil menyeka air mata Renata di kedua pipinya. Dara sangat menyayangi sahabatnya itu, meskipun masih kecewa tapi seperti yang Ryan bilang, Renata tetaplah sahabatnya yang selalu ada buat Dara, yang selalu membantu Dara dalam hal apapun.
Renata kembali menangis melihat sahabat nya yang dengan besar hati memaafkan kesalahannya. Renata kembali memeluk Dara erat. Kali ini Dara membalasnya sambil mengelus kepala Renata, untuk menenangkannya.
"Ra, maafin gue juga ya." Ucap Mauza yang berdiri menyaksikan peristiwa mengharukan tersebut. Dara pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis tanpa melepas pelukannya ke Renata.
Jangan tersenyum kaya gitu Ra, makin susah buat gue lupain lo! gumam Mauza dalam hati.
“Maafin gue juga ya kalo gue ada salah sama kalian” ucap Dara melepaskan pelukannya setelah Renata kembali tenang. “Maafin juga sikap gue tadi, gue bingung harus bersikap kaya gimana."
"Gue harap kita bisa jadi teman baik Ra" ucap Mauza mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh Dara. Kedua nya tersenyum. Mauza refleks memeluk Dara, rasa rindu nya yang terpendam selama ini meluap namun penyesalan terus berkecamuk dalam hati nya. Rasanya Mauza ingin kembali, namun ia tersadar sudah terlalu banyak menyakiti hati Dara.
Dara melepaskan pelukannya dan mengusap air mata nya yang menetes tiba-tiba ke pipi mulusnya itu. Dara pun sebenarnya rindu kepada Mauza, tapi dia harus melepaskannya karna itu keputusan yang sudah dia buat. Mauza terus memperhatikan Dara tanpa berpaling sekalipun
"Jadi kalian sekarang udah jadian?" tanya Dara memecah keheningan.
Mendengar pertanyaan polos Dara, Renata tersenyum “Engga Ra. Kita sadar apa yang udah kita lakuin itu salah. Gue ngga mau egois mikirin perasaan gue sendiri" ucap Renata "Ra, lo masih terima gue jadi sahabar lo kan?" tanyanya ragu.
"Masih lah, sekarang lo ngga usah canggung lagi sama gue ya" mereka pun berpelukan lagi.
Ryan yang sedari tadi masih memperhatikan Dara tersenyum senang melihat Dara dapat menyelesaikan masalahnya dengan tenang. Ia pun menyalakan motornya, dan beranjak pergi dari sana.
"Yang tadi cowok lo?" Tanya Mauza yang menyadari kepergian Ryan.
"Bukan, dia kakak kelas gue" jawab Dara sambil melepaskan pelukannya dari Renata. "Ohiya, kalian mau masuk dulu? Gue ngga tahan kebelet pipis" tawar Dara. Memang ada ada saja tingkah laku gadis itu, sangat polos dan menggemaskan.
"Engga Ra, kita langsung cabut aja, udah kemaleman. Sorry udah ganggu waktu lo" tolak Mauza halus.
"Lain kali gue main ke rumah lo ya Ra!” ucap Renata sebelum mereka berpisah.
"Okeeyy. Yaudah gue masuk duluan yah, Byee" Dara pun segera berlari memasuki rumahnya.
Mauza tersenyum melihat kelakuan mantan kekasih nya itu yang tidak berubah sedikitpun tetap menggemaskan.
"Jangan diliat lama-lama nanti lo susah move on" ucap Renata menyikut lengan Mauza.
"Gue mungkin ngga bisa jadi pacar dia lagi, tapi gue yakin bisa jadi pendamping hidup dia" ucap Mauza serius.
"Yee masih aja berkhayal nih anak" ledek Renata tak mengerti jalan pikir Mauza.
Kedua nya tersenyum merasa telah lega setelah bertemu dengan Dara dan berhasil menyelesaikan masalah mereka.
Mauza Rafeyfa Firaz
Ryan Dewangga
Tuh udah aku keluarin foto nya ka ryan sama mauza
Gantengan yang mana?
Dara lebih cocok sama siapa?
Kira-kira mauza balikan lagi gak iya sama dara?
Kasian juga sama renata pasti hati nya terpukul, tapi keputusan dia buat gak ngelibatin perasaan nya buat mauza itu memang baik
Ryan kata-katanya bikin terenyuh udah kaya pepatan mario teguh aja hihihi
*****
Selamat menunggu kisah berikutnya
See you
__ADS_1