WISTERIA

WISTERIA
JADI SALAH TINGKAH


__ADS_3

Bagian 4 - Wisteria


Jadi Salah Tingkah


Pacar kamu gak marah, pulang malem gini? Kerumah cowok lagi.


Siapa coba yang pulang malem?


Gimana cerita selanjutnya?


Nih aku kasih bocoran deh di awal biar kalian baca nya semangat ●.●



Ayu, Meika, Dara dan Viola



Vino dan chacha marica hey hey


*****


Vino melajukan motornya dengan pelan dan sangat hati-hati, lucu mengingat Vino saat itu menggunakan motor ninja kesayangannya. Sesekali Vino melirik ke arah spion untuk melihat wajah cantik Dara, terlihat jelas bahwa Dara merasa tidak nyaman duduk di atas motornya yang tinggi.


Makanya Vino mengendarai motornya pelan-pelan karna takut Dara malah panik jika ia bawa ngebut, meskipun itu berarti Vino harus rela terkena panas mesin motornya.


“Kakak tinggal di komplek Citra Garden?” tanya Dara ketika melihat tulisan di gerbang komplek perumahan Vino.


“Apaa?” tanya Vino balik. Ia tidak dapat mendengar Dara dengan jelas karna terhalang oleh helm fullfacenya.


“Kakak tinggal di komplek Citra Garden juga?” tanya Dara setengah berteriak.


“Ia, kenapa emang?” jawab Vino setelah berhasil menangkap pertanyaan Dara.


“Temen aku, Ayu juga tinggal di komplek ini Kak!” seru Dara.


“Oh ya?” tanya Vino


“Ia Kak, itu blok rumahnya Ayu.” Ujar  Dara sambil menunjuk blok yang baru saja dilewati oleh mereka.


Namun ternyata rumah Vino hanya berbeda tiga blok dari rumah Ayu.


“Kakak kenal dong sama Ayu?” tanya Dara memastikan. Dara sebenarnya takjub ketika Vino menghentikan motornya di depan sebuah rumah yang sangat megah dan modern. Ia tau kalau komplek perumahan ini memang terkenal elite tapi ia tetap saja merasa takjub setiap main ke sana.


“Ngga kenal, lo tau sendiri komplek ini orangnya masing-masing. Ngga pernah ada acara pertemuan antar tetangga.” Jelas Vino kemudian memasukkan motornya setelah Pak Ujang, satpam paruh baya membukakan gerbang rumahnya.


Mendengan penjelasan Vino, Dara jadi  mengerti kenapa Ayu sering mengajaknya main sepulang sekolah. Pasti sepi kalau harus diam di rumah sebesar ini hanya ditemani pembantu saja, pikir Dara teringat pada orang tua Ayu yang sibuk bekerja bahkan sering keluar negeri meninggalkan Ayu, anak semata wayangnya sendirian di rumah.


“Yuk turun.” Ucar Vino membuyarkan lamunan Dara.


Setelah memastikan Dara turun dari motor dengan selamat, Vino membantu Dara melepaskan helmnya. Mendapat perlakuan lembut seperti itu, Dara pun tak kuasa untuk tersipu malu.


“Kakaaakkk!!!” teriak seorang anak kecil sambil berlari memeluk Vino. Melihat tingkah imut adiknya itu, Vino tersenyum lepas. Senyum yang tak pernah Dara liat sebelumnya karna Vino hanya menunjukkan senyum itu ke adiknya tersayang. “Kakak kok lama banget sih pulangnya? Mana lollipop pesenan Chacha?” todong adiknya itu sambil  menggapai Vino minta gendong. Vino pun menuruti keinginan adiknya tersebut.


“Hahaha iaa Kakak bawain kok ada ini di tas, tenang aja.” Jawab Vino sambil mengacak-acak rambut Chacha.


“Asiiikkk!! Kak Vino emang kakak terbaik sejagad raya ini!” ucap Chacha lalu mencium pipi Vino. “Eh ada siapa nih Kak? Pacar baru yaaa” tanya Chacha kemudian, tersadar akan kehadiran Dara.


“Kenalan dulu dong” ujar Vino.


“Hallo adik manis. Kenalin nama Kakak Dara.” Ucap Dara sambil mengulurkan tangannya yang disambut oleh Chacha.


“Halo Kak. Nama aku Marsha Delvytamara Adevie tapi biasa dipanggil Chacha, kaya coklat kesukaan aku. Umur aku 9 tahun, baru aja naik kelas sekarang aku udah kelas 2 SD loh Kak.” Oceh Chacha.


“Hahaha panjang banget De perkenalannya.” Vino merasa kocak dengan tingkah adiknya sendiri. “Ajak Kak Daranya masuk dong De, masa mau ngobrol digarasi aja?” pinta Vino sambil menurunkan Chacha dari gendongannya.


Chacha pun segera melompat dan menarik tangan Dara.


“Yuk Kak, kita masuk ke dalem.


Sebelum dijailin sama Kak Vino.” Ajak Chacha setengah berlari.


Dara pun mengikuti langkah Chacha masuk ke dalam rumah, sementara Vino mengikuti langkah mereka dari belakang.


"Mom!! mommy!!" teriak Chacha begitu sampai di ruang tengah rumah mereka.


“Aduh Chaaa ada apa sih ? Ngga baik loh anak gadis teriak-teriak begitu!” peringat heresia, Mommy Vino dan Chacha.


“Mom liat deh ini ada siapa!" seru Chacha tak menghiraukan nasihat Theresia.


"Cantik sekalii..Siapa ini?" Tanya theresia. Mommy Vino dan Chacha ini memang tipikal orang yang humble, easy going, dan fashionable jadi ngga perlu ditanya cerewetnya Chacha turunan dari siapa kan.


“Sore Tante, saya Dara.” Ucap Dara sopan sambil menyalami Theresia.


“Pacar barunya Kak Vino Mom, cantik banget yah, ramah lagi ngga kaya yang sebelumnya.” celoteh Chacha.


“Wush, anak kecil ngga boleh ngegosip!” seru Vino mencubit pipi Chacha gemas.


“Ih biarin, suka-suka aku dong!” rajuk Chacha tak terima pipinya yang chubby dicubit oleh Vino.


“Loh dikasih tau kok malah ngelawan. Ngga Kakak kasih lollipopnya loh!” Vino memainkan permen yang sudah dipegangnya tepat ke depan wajah Chacha.


“Mauuuu!!!” Melihat banyaknya permen kesukaannya itu Chacha langsung berseru senang dan melompat-lompak berusaha merebutnya dari Vino.


“Cantik, duduk yuk! Cape juga ngobrol sambil berdiri.” Canda Theresa. Dara pun mengikuti Theresa duduk di sofa nyaman berwarna putih seperti furniture lainnya di ruangan tersebut.


“Eh Kak, kok muka kamu memar gitu? Abis berantem ya? Terus kok itu tangannya juga pake plaster warna-warni gitu? Lucu banget ” tanya Theresa begitu tersadar akan luka-luka di tubuh Vino.


“Ngga lah Mom, masa udah kelas dua belas masih berantem?” jawab Vino ikut duduk di samping Dara sedangkan Chacha duduk disamping Mommy sambil asik membuka bungkus permen kesukaannya. “Jadi tadi tuh pas lagi diem di perpus, Dara tiba-tiba jatuh gitu Mom terus buku yang dia pegang pada jatuh nimpa aku. Coba aja kalau Dara yang nimpanya kan ngga akan ada luka-luka kaya begini Mom.” Jelas Vino penuh canda.


“Apaan sih Kak.” Dara jadi salah tingkah mendengar candaan Vino itu.


“Ia Tante, tadi aku ngga sengaja ngejatuhin buku terus nimpa Kak Vino. Maaf ya Tan, udah bikin anak Tante jadi luka-luka gini.” Ucap Dara penuh sesal.


“Oohahaha ia ngga apa-apa kok Cantik, Cuma luka-luka kecil kaya gini kok.

__ADS_1


Padahal mestinya kamu timpa Vinonya sekalian aja sama satu rak buku, biar dia kapok! Pasti Vino tidur lagi kan di perpustakaan? Kebiasaan banget emang suka tidur di perpustakaan kaya di rumahnya ngga ada Kasur aja. Nih ya, kamu tau ngga dulu Mommy pernah dipanggil ke sekolah gara-gara Vino malah tidur di perpustakaan bukannya ikut upacara tujuh belasan. Terus pernah juga Mommy dipanggil gara-gara Vino ngunci perpustakaan pas jam olahraga supaya ngga ada yang bisa nemuin dia. Aneh banget kan kelakuannya?” cerita Theresia panjang lebar.


“Aduh Mooomm kok malah nyeritain yang engga-engga sih ke Dara.” rajuk Vino.


“Ya lagian kamu aneh, suka tidur di perpustakaan. Dimana-mana kalau orang mau tidur tuh ya ke kamar bukan malah ke perpustakaan.” Theresia membela diri. “Terus nih ya, Vino itu…” belum sempat Theresia melanjutkan ceritanya sudah dipotong duluan oleh Vino.


“Sssttt…..udah dong Mom ceritanya, malu nih.”


Dara terkekeh melihat cowok tingkah imut Vino di depan Mommy nya.


“Tumben banget malu Kak, biasanya malu-maluin” celetuk Chacha jail dan segera bersembunyi dibalik tubuh Theresia ketika melihat Vino hendak mencubitnya kembali.


“Udah-udah jangan berantem mulu, udap pada gede juga, ngga malu emang sama Dara.” Ujar Theresia melerai. “Eh ia Cantik, Tante tinggal dulu ke dapurnya. Tante lupa kalau lagi masak.” pamit Theresia.


“Loh, Bi Marni kemana Mom?” tanya Vino heran, jarang-jarang Mommy nya masak biasanya Bi Marni yang selalu menyiapkan makanan untuk mereka.


“Bi Marni lagi Mommy suruh belanja. Udah yah, nanti masakan Mommy keburu gosong lagi.” Theresia pun segera kembali ke dapur.


“Mom inget garemnya dikit aja jangan kebanyakan!” seru Vino usil.


“Ra, gue ambil bukunya dulu ya bentar sekalian ganti baju.” Pamit Vino yang dijawab dengan anggukan oleh Dara.


“Cha, temenin Kak Dara bentar ya. Itu kasih juga dong permennya ke Kak Dara, jangan diabisin semua nanti giginya bolong loh!” pinta Vino.


“Ia Kaakk. “ ucap Chacha sambil sibuk membuka bungkus permennya. Vino pun berjalan ke tangga menuju kamarnya dilantai 2.


“Kak Dara, ke situ yuk!” ajak Chacha menunjuk gazebo yang terletak di taman belakang, menghadap ke kolam renang.


“Hayu!” ucap Dara. Mereka pun berjalan ke gazebo yang ditunjuk Chacha tadi.


“Kak, sekalian ajarin aku ngerjain tugas sekolah ya hehehe” pinta Chacha memperlihatkan tumpukan buku yang terletak di gazebo.


“Boleehh, tugas apa emang?” tanya Dara.


“Matematika, Kak susah bangeett. Chacha suka pusing kalau liat angka.” Rajuk Chacha membuat Dara gemas.


"Hahaha… mana coba soal yang bikin Chacha pusing?” tanya Dara lagi lembut.


“Ini Kak.” Tunjuk Cha


cha memperlihatkan buku sekolahnya. Dara melihat soal penjumlahan dan perkalian di sana.


“Oohh… sini Kakak ajarin.” Ujar Dara mulai mengambil pensil dan kertas corat-coret milik Chacha. Ini kan soalnya 13 ditambah 7 dikali 9 ya. Nah kalau ada pertanyaan kaya gini, berarti yang kita kerjain duluan itu yang perkaliannya dulu. Supaya gampang kita kasih tanda kurung yah.” Jelas Dara.


Chacha mengangguk-angguk lalu menambahkan tanda kurung di depan angka 7 dan dibelakang angka 9


“Sekarang, tujuh dikali Sembilan berapa coba?” tanya  Dara pelan. Namun yang ditanya hanya terdiam bingung tidak bisa menjawab. Melihat itu Dara hanya bisa tersenyum.


“Susah ya? Mau Kakak ajarin cara gampang ngitung perkalian?” tanya Dara pelan.


“Mauuu!!” jawab Chacha penuh semangat dan segera merubah posisi duduknya jadi menghadap Dara.


“Tapi ini rahasia kita aja yaa, jangan dikasih tau ke siapa-siap, oke?” ujar Dara. Chacha pun menganggukkan kepalanya.


“Coba tangan Chacha mana? Kakak pinjem sebentar ya. “ ujar Dara. Chacha pun mengangkat kedua tangannya.


Setelah memastikan Chacha paham, Dara pun melanjutkan.


“Tadi kan pertanyaannya 7 dikali 9. Berarti ditangan kiri kita angkat jempol dan telunjuk aja, sisanya kita tutup sehingga jadi angka tujuh.” Dengan perlahan Dara menutup ketiga jari Chacha tersebut. “Sekarang, ditangan kanan kita mau bikin angka Sembilan, berarti yang kita tutup hanya jari kelingking aja, sisanya kita biarkan berdiri.” Dara kembali menutup  jari kelingking tangan kanan Chacha.


Chacha kemudian memperhatikan sisa jari ditangannya yang masih berdiri.


“Terus Kak?” tanya Chacha bingung.


“Sekarang coba jumlahin jari Chacha yang berdiri.” Pinta Dara.


“Ada enam, Kak.” Jawab Chacha.


“Pinteerr. Nah enam itu angka puluhannya. Kita tulis dulu ya.” Dara menulis angka enam di kertas.


“Sekarang, kita kalikan jari yang tertutupnya. Di tangan kiri kan ada tiga, ditangan kana nada satu, berarti tiga dikali satu. Berapa coba?” lanjut Dara.


“Tiga kali satu..Tiga Kaakk!” jawab Chacha semangat.


“Hebaattt…Kamu pinter banget sayang” Chacha senang dipuji seperti itu oleh Dara. “Nah, yang Tiga ini kita taro dibelakang angka enam. Jadi deh jawabannya tujuh dikali Sembilan itu enam puluh tiga!” jelas Dara.


“Oh ia bener Kak!” seru Chacha setelah memastikan kembali jawaban tersebut dicatatan perkalian yang ada dibukunya.


“Chacha ngerti kan sekarang cara ngitung perkalian?” tanya Dara memastikan.


“Ngerti dong Kak!”


“Coba Kakak tes yaaa….Kalau 8 dikali 9 berapa?’


Mendengar pertanyaan Dara, Chacha segera mencoba menghitung dengan memainkan jemarinya seperti yang diajarkan Dara tadi.


“Hasilnya tujuh puluh dua?” jawab Chacha ragu.


“Ia betul sekaliii!!” ucap Dara senang.


“Yeeeyyy aku bisa perkaliaann!!” seru


Chacha sambil mengayun-ayunkan tangan Dara.


“Ada apa ini? Kok rame banget? Abis ngegosipin aku yaaa?” tanya Vino


sambil nyerahkan minuman ke Dara.


“Ih geer banget sih Kak!” ledek Chacha.


“Terus abis ngapain dong? Kok kayanya rame banget.” Tanya Vino lagi.


“Ada deeehh ini rahasia antara aku sama Kak Dara. Kak Vino ngga perlu tau!” jawab Chacha usil.


“Loh kok main rahasia-rahasiaany sih? Ngga boleh tauuu” Vino makin penasaran.

__ADS_1


“Biarin wleekk” kali ini Chacha meleletkan lidahnya kemudian melanjutkan mengerjakan tugasnya.


Melihat tingkah menggemaskan adiknya itu, Dara dan Vino sama-sama tertawa..


“Nih, bukunya.” Vino menyerahkan buku yang dimaksudnya ke Dara.


“Makasih Kak, aku pinjem dulu ya. Nanti kalau udah selesai aku balikin lagi.” Dara mengambil buku dari Vino dan segera memasukanya ke dalam tas.


“Santai aja.” Ucap Vino. “Mau pulang sekarang?” tanya Vino kemudian.


“Eh eh eh kok main langsung pulang aja? Makan dulu dong sebelum pulang.


Tante udah masak nih. Lagian Tante ngga mau dimarahin sama Bundanya Dara gara-gara bikin anaknya yang cantik kelaperan” seru Theresia yang sedang berjalan menghampiri.


“Ngga usah, Tante. Dara ngga mau ngerepotin.” Tolak Dara halus..


“Ngga ngerepotin sama sekali kok. Malah Mommy seneng kalau ada yang makan masakan Mommy. Makan dulu yah, udah siap tuh di meja.” Ajak Theresia memaksan.


“Eemm kalau gitu Dara telepon Bunda dulu ya Tan, ngasih tau bakal pulang telat” Dara lalu beranjak dari duduknya untuk segera meminta ijin ke Bunda.


“Mom, kata Mommy Dara gimana?” tanya Vino tiba-tiba.


“Cantik, sepertinya juga baik. Buktinya bisa akrab sama adik kamu satu ini.” Jawab Theresia sambil mengelus kepala Chacha yang masih sibuk dengan tugasnya. “Kenapa? Kamu naksir ya sama Dara?” goda Theresia.


“Hehehe Mommy tau aja.” Cengeges Vino.


“Keliatan kali dari gerak gerik kamu.” Ujar Theresia. “GImana? Dibolehin sama Bunda?” tanya Theresia ketika melihat Dara sudah selesai menelepon.


“Ia boleh Tante.” Jawab Dara.


“Selesaaaiii!!! Akhirnyaaa!!” teriak Chacha tiba-tiba.


“Wah hebaatt. Tumben bisa ngerjain sendiri tanpa minta bantuan Mommy atau Kak Vino?” tanya Theresia penasaran.


“Ia dong, kan udah diajarin Kak Dara tadi jadi bisa sendiri!” Jawab Chacha bangga.


Dara jadi malu sendiri, apalagi ketika Vino menatapnya dengan pandangan terpesona. Padahal cuma ngajarin hal yang gampang, pikir Dara.


“Yaudah yuk, kita makan. Kasian calon mantu Mommy pasti udah kelaperan.” Ajak Mommy sambil merangkul Dara, mengajaknya menujur ruang makan.


“Mom, udah dong bercandanya. Kasian tuh Dara jadi salting” ujar Vino yang berjalan bersama Chacha.


“Hahaha…Dara nya aja ngga protes. Kamu mau kan jadi calon mantu Tante?” usil Theresia lagi. Tapi yang ditanya hanya diam tersipu malu.


"Pasti mau dong Mom, kalo ngga mau nanti Chacha bakal bujukin terus sampe Kak Dara mau sama Kak Vino" ceketuk Chacha tiba-tiba.


Mereka pun tertawa mendengat perkataan Chacha.


“Dara pamit dulu ya Tante. Makasih udah diajakin makan, enak banget loh masakannya.” Pamit Dara setelah mereka selesai makan.


“Ia sama-sama, Cantik. Vino hati-hati ya nganterin Daranya, jangan ngebut-ngebut. Mommy ngga mau calon mantu Mommy sampe ada lecet sedikit pun.” Nasihat Theresia penuh canda seperti biasa.


"Kak Dara nanti main lagi ke sini ya!" seru Chacha manja, tidak melepaskan pelukannya di tubuh Dara.


"Iya sayang, nanti Kak Dara main kesini lagi. Janji!” ucap Dara sambil mencium pipi Chacha dengan gemas


“Pergi dulu yah Mom,


Assalamu’alaikum!” pamit Vino.


“Wa’alaikumsalam.” Jawab Theresia


melambaikan tangannya ke Vino dan Dara yang sedang berjalan menuju garasi.


“Pacar kamu ngga marah, kamu pulang malem gini? Abis main dari rumah cowok lagi” pancing Vino dimobil ketika sedang terkena lampu merah.


Dara yang mengetahui maksud pertanyaan Vino, tersenyum. “Aku ngga punya pacar kali Kak”


Mendengar jawaban itu hati Vino merasa lega. Yes, berarti gue punya kesempatan! pikir Vino.


“Tapi waktu itu aku liat kamu


dijemput cowo pake motor, itu bukan pacar kamu?” tanya Vino penasaran teringat kejadian beberapa hari lalu.


"Cowok? Kapan?" Tanya Dara mengingat-ingat kembali "Oohh… itu temen aku Kak, atau lebih tepanya sih mantan aku." jelas Dara.


Vino hanya mengangguk dan kembali fokus menyetir mobil nya.


Tidak lama mereka sampai di depan rumah Dara.


“Makasih ya Kak udah nganterin pulang.” Ucap Dara.


“Ia sama-sama. Eh aku langsung cabut yah, ngga apa-apa kan ngga mampir dulu? Udah kemaleman ngga enak sama Bunda kamu.” Tanya Vino.


"Iya Kak, ngga apa-apa. Kalau gitu aku masuk dulu ya Kak, hati-hati dijalan pulangnya." Pamit Dara.


Setelah memastikan Dara masuk ke rumahnya dengan aman Vino pun melajukan mobilnya kembali ke rumah.


******


Siapa disini yang ikutan salting?


Vino tanda-tanda suka bukan sih?


Chacha sayang banget nya kaya sama vino


Kalian penasaran engga sih sama altivitas diluar sana.


Gimana hayo cerita selanjutnya?


Siapa yang gak sabar?


*****


Terimakasih buat kalian semua yang udah baca cerita ini

__ADS_1


See you


__ADS_2