
Bagian 8 - Wisteria
Bertemu Tanpa Sengaja
Apa yang terjadi hari itu kita tidak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi.
Jangan pernah memutuskan silahturahmi dengan siapapun meskipun dia telah melakukan kesalahan di masalalu.
*****
Udah siap belum buat baca lagi?
Jangan kesel iya waktu kalian baca ini hihihi
****
Sepanjang jalan Vino dan Dara asik berbincang-bincang. Dara pun menceritakan kejadiannya dengan Mauza dan Renata juga bagaimana Ryan membantunya. Vino tau, Ryan orang yang baik dan suka menolong teman, tapi hal itu tetap membuat Vino sedikit kesal karna bukan dia yang berada di samping Dara saat Dara sedang dalam kesulitan. Tapi disisi lain juga dia senang karna Dara mau berbagi cerita tanpa harus diminta.
Tak terasa mereka sudah sampai di rumah Vino. Seperti biasa, Mang Ujang langsung membukakan gerbang begitu melihat mobil Vino. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, Vino membukakan pintu mobil untuk Dara dan mengajaknya untuk masuk ke rumahnya. Namun tiba-tiba langkah Vino terhenti saat hendak memasuki ruang tamu. Di sana dia melihat Chacha sedang ditemani oleh seorang wanita.
Chacha yang melihat ke datangan Vino dan Dara segera bangkit dan berlari menghampiri mereka.
“Kak Daraaaaa!!” teriak Chacha memeluk Dara.
“Halo sayang!” Dara membalas pelukan Chacha.
“Ra, tolong temenin Chacha main dulu ya.” Pinta Vino dan segera menghampiri wanita yang sejak tadi mencuri perhatiannya.
Meskipun Dara masih bingung dengan sikap Vino, ia tidak menolak dan mengajak Chacha duduk di kursi ayunan yang terletak di taman depan rumah Vino.
Perasaan Vino berkecamuk tak karuan kala memasuki rumahnya. Bagaimana tidak, di sana dia melihat Hellena-mantan kekasihnya yang sempat memiliki tempat dihatinya selama 3 tahun, sedang tersenyum dengan wajah tak berdosa.
Seakan-akan hubungan mereka yang telah berakhir selama 1 tahun itu masih baik-baik saja.
Vino hanya berdiri dihadapan Hellen dengan tatapan yang sulit diartikan, ia teringat akan kejadian buruk yang ia lupakan.
Hellena Natania Azari atau biasa dipanggil Hellen adalah seorang model professional. Vino dan Hellen pertama kali ketemu di studio saat Vino hendak melakukan pemotretan untuk sebuah majalah karna ia berhasil memenangkan pertandingan basket antar SMP se-Indonesia. Saat itu Vino masih kelas 2 SMP dan Hellen kelas 3 SMP. Ya, Hellen memang lebih tua dari Vino, tapi itu lah yang membuat Vino tertarik padanya. Ketika sedang menunggu gilirannya, Vino memperhatikan model-model yang sedang melakukan sesi pemotretan untuk cover majalah remaja yang terkenal dikalangan siswi SMP maupun SMA. Salah satu model itu adalah Hellen, Vino terpesona saat melihat berbagai macam ekspresi yang dikeluarkan Hellen.
Karena Vino tidak tau kapan lagi ia akan bertemu Hellen, ia pun dengan nekat mendekati Hellen yang sedang istirihat dan meminta nomor telepon Hellen. Sejak itu mereka menjadi dekat, dan tak lama kemudian memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih.
Meskipun lebih tua, Hellen tetaplah tipikal pacar yang manja.
Vino memaklumi hal itu, namanya juga perempuan pasti maunya dimanja dan dimengerti pikir Vino saat itu. Namun Vino tidak tau bahwa Hellen juga egois dan hanya mementingkan urusannya sendiri.
Saat itu Vino dan Hellen sedang mengajak Chacha yang masih berusia 8 tahun bermain di Dunia Anak salah satu Mall. Hellen sangat dekat dengan Chacha sampai-sampai membuat orang-orang menyangka mereka adalah Kakak-beradik. Hal itu tentunya membuat Vino sangat senang.
Vino terus memperhatikan Hellen yang sedang menemani Chacha mandi bola dengan sayang. Tiba-tiba Chacha menghampiri Vino.
"Kak, aku mau minum. Haus banget!" pinta Chacha. Hellen pun duduk disamping Chacha membersihkan keringat yang keluar dari dahi Chacha.
"Chacha tunggu sebentar ya, kakak beli dulu minuman. Jangan kemana-mana ya, ikutin kak Hellen terus, ngerti?" ucap vino sambil mengelus adik kecilnya itu. Melihat Chacha mengangguk-anggukan kepalanya, Vino pun pergi meninggalkan mereka berdua yang asik kembali bermain.
Tiba-tiba ponsel Hellen berbunyi, menandakan ada panggilan masuk.
“Cha, tunggu sebentar ya. Kak Hellen mau angkat telepon dulu. Chacha jangan kemana mana aja.” Ucap Hellen ketika melihat yang nama manajer agensi di layer hpnya itu.
“Oke Kak!” sahut Chacha kembali melanjutkan bermain masak-masakan.
Hellen pun pergi menjauh dari Chacha untuk mencari tempat yang tenang.
Manajer Hellen langsung marah-marah begitu Hellen mengangkat teleponnya, bagaimana tidak? Hellen lupa bahwa hari ini ada jadwal pemotretan dan sudah membuat clien mereka menunggu lebih dari satu jam. Mendengar itu pun Hellen segera berlari secepat mungkin menuju lobby untuk mencari taxi dan pergi ke studio.
Hellen baru tersadar akan Chacha saat ia sudah sampai di studio. Ketika hendak mencegat taksi untuk kembali ke Mall, manajernya keburu menarik Hellen untuk segera bersiap. Sepanjang pemotretan hati Hellen tidak tenang, pikirannya pun kacau, ia khawatir akan keadaan Chacha dan ia tau Vino pasti marah besar.
Chacha yang hendak memberi hasil masakannya ke Hellen, heran ketika melihat Hellen tiba-tiba pergi. Chacha pun mencoba mengikuti Hellen, namun langkah kecil Chacha tak mampu mengejar langkah Hellen. Merasa cape dan takut, Chacha pun menangis sekeras-kerasnya.
“De, ade kenapa nangis?” tanya seorang Ibu ketika melihat Chacha berdiri menghalangi jalan. Tapi Chacha tidak menjawab pertanyaan itu dan terus menangis.
“Ini kayanya kepisah sama keluarganya, Bu.” Ucap Bapak-bapak yang bersama Ibu itu.
__ADS_1
Ibu dan bapak itu pun mencoba menenangkan Chacha. Setelah Chacha mulai berhenti menangis, ibu itu pun bertanya.
“Ade, tapi ke sini sama siapa?” tanya Ibu itu sabar.
“Kak Ellen sama Kak Vino” jawab Chacha masih sesegukan.
“Oh gitu, sekarang kakaknya mana De?” tanya Ibu itu kembali.
Chacha menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Bu, kita bawa ke pusat informasi aja gimana?” usul Bapak mencoba memberi solusi. Ibu itu pun menyetujuinya.
“Yaudah, Ade sekarang ikut ibu yuk. Kita cari Kakaknya.” Ajak Ibu itu. Chacha pun mengikuti Ibu dan Bapak itu ke pusat informasi.
Di pusat informasi, Bapak menjelaskan situasi yang terjadi sedangkan Ibu menemani Chacha yang masih terus memeluknya seakan-akan takut ditinggal pergi. Setelah memahami situasi yang terjadi, Petugas pun segera memberikan pengumuman yang segera berkumandang diseantaro Mall.
“Selamat sore Bapak Ibu yang terhormat, kami telah menemukan seorang anak perempuan bernama Marsha Delvytamara Adevie. Jika anda datang bersama Marsha, harap untuk datang ke pusat informasi. Terimaksih.”
Vino yang sedang mencari-cari Hellen juga Chacha segera berlari menuju pusat informasi begitu mendengar pengumuman tersebut.
“Mba, saya Vino. Kakak anak yang tadi disebutkan dipengumuman, sekarang Chacha dimana ya Mba?” tanya Vino panik begitu sampai di pusat informasi.
“Maaf tapi kami perlu mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengkonfirmasi bahwa benar Nak Vino adalah Kakak dari Marsha.” Ucap Petugas itu sopan.
“Ia boleh Mba.” Jawab Vino tak sabar.
“Tadi ketika pergi, Marsha mengenakan baju seperti apa?” Petugas memulai pertanyaannya.
“Kaos lengan pendek warna pink ada gambar barbienya, terus celana jeans pendek.”
“Rambut Marsha seperti apa?”
“Rambutnya ikal, diikat dua.”
Mendengar jawaban detail dari Vino, Petugas itupun mengantarkan Vino untuk bertemu dengan adiknya.
“Makasih Pak, Bu!” ucap Vino kepada Bapak dan Ibu yang sedari tadi menemani Chacha.
“Lain kali hati-hati ya Nak, dijaga adiknya jangan sampe kaya gini lagi.” Nasihat Ibu itu menyalami Vino.
“Ia Bu, maaf.” Angguk Vino.
“Yasudah, kami pamit duluan ya.” Bapak dan Ibu itu pun meninggalkan Vino dan Chacha.
Vino ingin bertanya apa yang terjadi, tapi ia tidak tega membangunkan Chacha yang sudah terlelap dipelukannya setelah lelah menangis.
Vino pun segera menelepon supirnya untuk menjemput mereka. Setelah menidurkan Chacha di kamar, Vino segera menelepon Hellen namun tak diangkat-angkat
Selesai pemotretan, Hellen datang ke rumah Vino bermaksud menjelaskan apa yang telah terjadi. Namun, yang dia dapat adalah kemarahan yang sangat dalam. Vino kecewa atas sikap Hellen yang semudah itu meninggalkan Chacha sendirian.
"Gue minta maaf Vin, sorry banget tadi gue bener-bener lupa. Gue egois lebih mentingin pemotretan itu dan ninggalin Chacha. Gue minta maaf Vin" mohon Hellen yang terus mencoba meminta maaf kepada Vino.
Vino menatap datar penuh kemarahan, dia benar-benar sangat benci dan kecewa kepada Hellen
"Lo tau seberapa berharga nya Chacha di hidup gue? Seberapa pentingnya Chacha bagi gue? Kalo emang pemotretan itu penting, lo bisa pergi setelah gue dateng, setelah Chacha sama gue. Gue ngga pernah ngelarang aktivitas lo. Kata lo, lo lupa lagi sama Chacha? Emang Chacha tuh benda mati, Hah!?” bentak Vino. Hellen yang tau dirinya salah hanya bisa terdiam dan menahan air matanya yang siap jatuh.
“Lo tau gimana gue bisa nemuin Chacha?” tanya Vino kemudian. “Untung ada pasangan Ibu Bapak yang nemuin dia dengan baiknya ngasih tau pusat informasi. Coba kalau Ibu Bapak itu orang jahat, bisa bisa Chacha diculik dan dijadiin anak jalanan yang tugasnya minta-minta di lampu merah. Kalau itu sampe kejadian, lo bisa tanggungjawab GAK?” bentak Vino penuh emosi.
“Tapi Vin, Chacha kan baik-baik aja…” ucap Hellen pelan, mencoba mencari sisi positifnya.
“Ap lo bilang? Chacha baik-baik aja? Asal lo tau ya, gue nemuin dia dalam keadaan yang benar-benar trauma, dia nangis ketakutan. Semua gara-gara lo! Dan lo sekarang bilang kalau dia baik-baik aja? Pake otak lo!" teriak Vino tepat di depan muka Hellen.
Hellen tak kuasa lagi menahan air matanya. Melihat Hellen menangis, Vino tersenyum sinis
“Gue ngga butuh air mata lo. Gue juga ngga butuh penjelasan apa-apa lagi dari lo. Apa yang lakuin itu kesalahan FATAL! Mulai detik ini juga, KITA PUTUS!” ucap Vino dan berjalan meninggalkan Hellen yang masih menangis tanpa diberi kesempatan untuk menjelaskan semuanya.
Begitulah akhir kisah mereka. Sejak saat itu, mereka tidak pernah lagi saling kontak selama 1 tahun terakhir ini hingga tiba-tiba entah ada angin apa Hellen muncul kembali di rumahnya.
“Hai Vino!” sapa Hellen dengan senyum manisnya.
__ADS_1
“Ngapain lo ke sini?” tanya Vino tanpa basa-basi.
“Lo masih marah sama gue Vin?” tanya Hellen polos, atau itu hanya acting belaka? Entahlah.
“Menurut lo?” jawab Vino datar.
“Yaudah, gue kesini Cuma mau ngasihin undangan tunangan Garry buat kalian. Tadi nyokap titip pesen kebetulan gue lewat sini, yaudah sekalian aja mampir sebentar." Jelas Hellen.Sebenarnya Hellen ingin memperbaiki hubungannya dengan Vino, namun dia tersadar bahwa Vino sudah memiliki wanita lain. Ia pun tanpa sadar melihat Chacha yang sedang tertawa seru bersama Dara.
"Oh gitu, makasih El" singkat vino tanpa menatap ke arah Hellen.
"Kalo gitu gue langsung pulang. Gue tunggu kalian disana. Gue pamit ya Vin"
"Iya el hati-hati." Ucap Vino. Hellen pun pergi ke mobilnya tanpa diantar oleh Vino.
Sepeninggalan Hellen, Vino menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dan memejamkan matanya sejenak. Setelah merasa tenag, Vino segera menghampir Dara dan Chacha yang masih bermain diayunan.
Ternyata di sana juga ada Tere yang sedang asik memotret Chacha yang bergaya sangat lucu menggenakan aksesoris yang tadi Dara beli.
“Aduuhhh lucunya anak mommy. Makasih loh Cantik udah ngebawain hadiah buat Chacha.” Ucap Tere mengusap kepala Dara halus.
“Hahaha ia sama-sama Tante.” Ucap Dara.
“Loh Hellen mana? Udah pulang?” tanya Tere saat melihat Vino menghampiri mereka.
"Udah Mom. Dia cuma ngasihin undangan tunangannya Garry" jawab Vino memberikan kartu undangan tersebut.
"Padahal ini Mommy baru aja mau nyamperin kalian.” Alasan Mommy, sebenarnya Mommy memang sengaja tidak menghampiri Vino dan Hellen, dia tidak mau ikut campur masalah anak-anaknya. Supaya mereka dewasa dan menjadi kuat dalam menghadapi setiap persoalan yang terjadi dalam hidup mereka.
“Oh Garry itu Kakak nya Hellen kan?" tanya Tere. Vino hanya jawab dengan sebuah anggukan.
"Kak kamu udah baikan sama Hellen belum? Walaupun hubungan kalian udah putus, tapi jangan sampe putus silahturahmi juga loh Kak" nasihat Tere
"Ia Mom, udah baik-baik aja kok," Jawab vino
Oohhh mantannya ternyata, pantesan. ucap Dara dalam hati. Dara diam-diam mendengarkan dengan seksama pembicaraan antara Tere dan Vino.
"Aku yang ngga baik-baik aja, aku masih trauma Mom!" ucap Chacha sambil memeluk Tere.
"Sstt…Udah udah ngga usah dibahas lagi. Mending kita ke dalem aja yuk! Mommy udah bikin cupcake loh.” Ajak Mommy.
“Beneran Mom? Asiiikkk!!” seru Chacha. “Kak Dara harus nyoba cupcake buatan Mommy, enak bangeeeettt!!” ucap Chacha menarik tangan Dara dan berlari untuk segera menikmati cupcake buatan Tere.
Tere dan Vino tertawa melihat tingkah Chacha yang sangat lengket ke Dara.
"Vin, kita kan sudah memaafkan kesalahan yang Hellen perbuat. Kita ngga tau apa yang terjadi hari itu, sampai Hellen berbuat demikian. Mommy ngga pernah benci dia, tapi mungkin dia merasa bersalah sama kita makanya selalu menghindar dari kita.” Ucap Tere sambil berjalan di samping Vino. “Tapi setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Buktinya dengan kejadian itu kamu jadi putus sama Hellen, terus sekarang ketemu sama wanita cantik, baik, pengetian, sayang lagi sama Chacha. “ lanjut Tere sambil menunjuk Dara dengan dagunya.
Vino yang mengerti kode dari Mommy-nya itu hanya tertawa dan memeluknya.
Keluarga adalah segalanya, kehidupan pertama yang kita pijaki ada didalamnya. Apapun yang terjadi, keluarga adalah tempat untuk kembali. Ibu adalah orang pertama yang menyayangi kita, tanpa pamrih dan tanpa memikirkan balas jasa. Ibu adalah wanita yang kuat, yang akan selalu mendukung kita dan menasihati kita disaat kita salah mengambil langkah.
******

Chacha pake semua hadiah dari dara
Keliatan kan chacha nya seneng banget

Gemesss gak sih?
*****
Kira-kira vino datang gak ke acara keluarga hellena?
Komen ya jangan lupa hihi
See you
__ADS_1