WISTERIA

WISTERIA
SE-DINGIN ITU


__ADS_3

Bagian 12 - Wisteria


Sedingin itu


"Gue ngga bawa handphone jadi gue gak bisa pake maps, gue disini baru beberapa hari doang gak hafal jalan. Jadi please bantuin gue"


Ayu POV


Malam itu, entah mengapa Ayu merasa sangat ingin makan yang pedas-pedas tapi sayangnya di rumah orang-orang entah kemana. Ayu pun memutuskan untuk ke minimarket sendirian dengan mengenakan piyama dan jaket sekedarnya. Ayu merasa aneh pergi keluar rumah sendiri, biasanya dia selalu diantar oleh supir. Tapi saat ini ia sedang ingin pergi sendiri, toh minimarketnya dekat bisa ditempuh dengan berjalan kaki.


Sesampainya di minimarket, Ayu segera mengambil keripik pedas yang sedang ia idam-idamkan. Tak lupa ia juga mengambil es krim strawberry kesukaannya sebagai pereda pedas nantinya. Setelah merasa memiliki cukup cemilan untuk menemaninya marathon nonton drama korea, Ayu segera membayar jajanannya.


Ayu tidak langsung pulang, ia memutuskan duduk di kursi yang disediakan diluar minimarket, menikmati suasana malam sejenak.


Tiba-tiba Ayu melihat seseorang yang familiar sedang turun dari motor vespa berwarna hitam. Wajah itu mengenakan celana pendek hitam dipadukan dengan hoodie abu. Lelaki itu berjalan hendak memasuki mini market dengan wajah datar pertanda ia tidak ingin diganggu oleh siapa pun.


Tapi bukan Ayu namanya kalau ngga menegur orang yang dikenalnya, terkecuali orang yang Ayu benci.


“Hai!” sapa Ayu ceria ketika lelaki itu hendak melewatinya.


Lelaki itu menghentikan langkahnya dan menatap Ayu.


“Dirga kan?” tanya Ayu memastikan.


“Iya.” Jawabnya singkat, padat, dan jelas.


“Lo mau kemana?” Tanya Ayu basa-basi.


Dirga menjawab menunjuk ke arah dalam dengan dagunya lalu berjalan meninggalkan Ayu.


“Ya Allah sombong amat jadi orang. Ia tau dia emang cakep, tapi ngga gitu juga kali. Diajak ngobrol baik-baik eh ngga dijawab. Emang dia bisu apa?” umpat Ayu dengan penuh kelas.


Tidak mau bertambah kesal. Ayu memutuskan untuk segera pulang.


Tiba-tiba terdengar seseorang berteriak “Hey, hey!” dibelakang Ayu.


Namun Ayu tidak mengindahkannya, ia merasa teriakan itu bukan untuk Ayu. Langkah Ayu terhenti ketika tiba-tiba ada yang menepuk bahunya dari belakang. Ayu merasa takut, tapi sisa-sisa kekuatan yang dimiliki, ia memberanikan diri membalikkan tubuhnya ke belakang. Ayu menemukan Dirga sedang setengah berdiri sambil memegangi lututnya.


“Hei…hh…tunggu…”  Ucap Dirga dengan napas terengah. Ia masih lelah sehabis berlari mengejar Ayu tadi.


“Tadi manggilin gue?” tanya Ayu heran.


Dirga hanya mengangguk. Ia masih mencoba untuk mengatur napasnya agar kembali normal.


“Nama gue bukan hey. Tapi Ayu!” ucap Ayu tegas. Nih orang kesambet apa coba? Tadi dingin sedingin kulkas, eh sekarang tiba-tiba nyamperin, aneh. pikir Ayu.


“Sorry, gue lupa.” Ucap Dirga setelah berhasil mengatus napasnya kembali.


“Lo ngapain lari-lari ngejer gue? Kan tadi lo bawa motor.” Tanya Ayu heran.


“Gue lupa” jawab Dirga sedannya “Btw gue mau nanya.”


“Apaan?” Ayu so-soan jual mahal. Ia ingin membalas Dirga.


“Lo tau supermarket yang masih buka di deket sini gak?"


"Tuh ada Geo Supermarket di jalan Merdeka, buka sampe jam 9 malem. " jawab  Ayu. Melihat Dirga mengangguk-anggukan kepalanya, Ayu segera membalikkan badan hendak melanjutkan langkahnya kembali ke rumah. Tapi tiba-tiba Dirga menarik tangannya, mau tidak mau Ayu kembali menghadap ke cowok itu.


“Apa lagi?” ketus Ayu.


"Lo lagi sibuk gak?“ tanya Dirga ragu.


“Kenapa?”


“Temenin gue bisa? Gue gak hafal jalan"


"Kan bisa pake Maps. Manja amat sih" ucap Ayu kesal lalu meninggalkan Dirga yang masih mematung.  Ayu sudah membayangkan dirinya saat ini sedang nonton oppa-oppa ganteng ditemani dengan camilan kesukannya.


Namun lagi-lagi Dirga menahan Ayu dan menarik tangannya membuat Ayu tidak punya pilihan selain mengikuti Dirga.


“Eh eh eh, gue mau dibawa kemana? Lo mau nyulik gue? Gue teriak nih.” Ancam Ayu. Setelah sampai di depan motornya yang masih terparkir di mini market, Dirga menghentikan langkahnya dan menghadap ke Ayu.


"Gue ngga bawa handphone jadi gue gak bisa pake maps, gue disini baru beberapa hari doang gak hafal jalan. Jadi please bantuin gue" pinta Dirga sembari memasangkan helm ke Ayu.


"Ini nama nya pemaksaan! Kan lo bisa minta baik-baik. Maka nya iya nih lo itu jangan kaku, jangan so-soan cool apalagi lo masih butuh bantuan oranglain." celoteh Ayu tapi tidak melepaskan helm yang sudah terpakai di kepalanya.


"Iya iya gue minta maaf. Tolongin gue sekali ini aja, ya?" pinta Dirga kali ini sembari mengatupkan kedua tangannya.


“Yaudah.” Ayu pun duduk di motor Dirga dengan terpaksa.


Dirga diam-diam tersenyum.


“Kok diem sih? Bukannya jalan?” protes Ayu ketika menyadari Dirga masih diam.


“Ia iya.” Dirga pun segera menyalakan mesin motornya dan pergi menuju supermarket yang diarahkan oleh Ayu.


Sepanjang perjalanan mereka tidak berbicara, ayu hanya menunjukan arah jalan.

__ADS_1


Saat di parkiran, Dirga meminta Ayu menunggu di loket penitipan helm sementara ia memarkirkan motornya. Dirga memarkiran motornya lumayan jauh dan harus berlari untuk menyusul Ayu yang sudah menunggunya.


“Lo gak apa-apa kan nemenin gue?" Tanya Dirga sambil merapihkan rambutnya yang berantakan akibat helm tadi. Dirga berjalan beriringan dengan Ayu menuju lantai atas tempat supermarket berada.


"Kenapa-napa, apalagi kalau bokap sama nyokap tau anak semata wayangnya dipaksa ikut sama orang ngga jelas kaya lo!” jawab Ayu masih kesal.


“Yah terus gimana dong?” tanya Dirga khawatir.


"Yaudah mau gimana lagi udah terlanjur. “ jawab Ayu sekenanya.


“Lagian lo mau beli apaan sih? Kenapa harus ke supermarket malem-malem gini? Kan bisa besok"


"Mau beli bahan masakan buat 1 minggu, takut kalo disini kehabisan" jelas Dirga.


"Kenapa harus lo yang beli? Kan bisa Bibi atau nyokap yang beli"


"Nyokap gue dah gak ada" ucap Dirga. Ia segera keluar dari lift, meninggalkan Ayu yang kaget mendapat jawaban tak terduga seperti itu.


"Sorry sorry, gue gak tau.” Ucap Ayu menyusul Dirga. Mereka kembali berjalan beriringan.


“Ia gak apa-apa.” Dirga menutupi rasa sedih yang menghampirinya tiap kali membahas mendiang Ibu nya.


“Terus lo tinggal sama bokap?" tanya Ayu mencoba mencairkan suasan.


"Gue tinggal sendiri di apart, bokap gue tinggal di jakarta" ucap Dirga sambil mengambil troly.


"Lo serius tinggal sendiri disini? Ko bisa ?"


"Bisa-bisa aja, bagi gue semua bisa terjadi."


Ayu hanya mengangguk-anggukan kepalanya dan ber-oh ria.


Mereka kemudian segera mencari barang yang dibutuhkan oleh Dirga. Ayu memberi masukan yang sangat detail berikut dengan fungsi dari barang atau makanan yang mungkin diperlukan. Dirga pun menuruti saran-saran dari Ayu. Meskipun begitu, tidak banyak barang yang mereka belanjakan karena Ayu meminimalisir persediaan hanya untuk 1 minggu ketika Dirga hendak membeli banyak barang. Ayu memang orang yang pinta me-manage kebutuhan dan kehidupannya dengan baik, tapi hal itu tidak berlaku untuk masalah percintaannya.


Setelah selesai berbelanja merekapun kembali ke tempat penyimpanan untuk mengambil helm dan mengambil belanjaan Ayu tadi.


"Lo mau makan dulu gak? Gue laper nih" ajak Ayu saat Dirga hendak melajukan motornya.


"Boleh aja, mau makan dimana?" tanya Dirga. Itung-itung sebagai ucapan terimakasih karna Ayu sudah membantunya.


"Makan baso bintang aja tuh disebrang sana.“ jawab Ayu. Dirga pun melajukan motornya ke arah yang ditunjuk Ayu.


“Ini langganan gue sama Dara. Tau kan Dara yang mana?" tanya Ayu penasaran


"Tau. Yang cantik" jawab Dirga.


"Euhh yang cantik aja lo inget" Dara menoyor kepala Dirga, dirga pun hanya tersenyum tipis.


"Lo dibandung gak punya sodara gitu?"  tanya Ayu sambil menunggu pesanannya datang


"Ada, nenek gue. Tapi males tinggal disana terlalu banyak orang" jawab Dirga sambil memasukkan tangannya ke dalam saku jaket. Dirga belum terbiasa dengan udara dingin Bandung.


"Oh ia lo kan introvert ya" ceplos Ayu.


"He-eh" Dirga membenarkan hal tersebut.


"Neng Ayu tumben sama laik-laki datangnya? Biasa nya sama Neng Dara. Pacar Neng ya?" kepo Mang Dodo, pemilik baso bintang itu sambil memberikan 2 mangkuk pesanannya.


"Wuuu, gosip aja Mang Dodo mah. Ini mah temen atuh" jawab Ayu


"Kirain teh pacar Neng Ayu" goda Mang Dodo "sok atuh di makan ya, Mang dodo tinggal dulu banyak pesenan"


"Iya mang, mangga."


Ayu segera melahap salah satu makanan favoritenya itu. Melihat Ayu makan dengan lahap, Dirga pun mengikutnya.


"Enak ya! kapan-kapan ajak gue kesini lagi ya" pinta Dirga setelah melahap habis baksonya.


"Boleh aja. Tapi ada makanan yang lebih enak lagi, cuman buka nya setiap hari minggu pagi aja. Lo harus ke sana" ujar Ayu.


"Ohiya, dimana?"


"Di Batu Raden, di sana banyak wisata kuliner. Lo kesana aja"


Dirga hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab.


Setelah membayar makanan mereka, Dirga mengantarkan Ayu pulang ke rumahnya. Dirga kaget saat Ayu menunjukkan rumahnya yang berada dikawasan elite. Pasalnya Ayu sangat sederhana, dia bisa makan dimana saja , berbaur dengan siapapun. Penampilan Ayu tidak menunjukan sama sekali kalau dia adalah anak orang kaya raya. Benar-benar berbeda.


Sesampainya di gerbang rumah Ayu, Dirga merogoh isi dalam kantong belanjannya dan memberikan sesuatu kepada Ayu


"Buat lo" Dirga menyodorkan sebuah coklat yang tadi dia beli di supermarket.


"Buat lo aja, gue udah manis nanti diabetes" canda Ayu.


Dirga menarik tangan Ayu dan meletakkan coklat itu di tangan Ayu membuat Ayu tersenyum.


"Besok lo mau kemana?" Tanya Dirga tiba-tiba.

__ADS_1


"Paling di rumah aja nonton korea, kenapa lo mau minta bantuan lagi yaa?" tanya Ayu tanpa basa-basi setelah hafal sifat introvert Dirga.


"Iya. Gue pengen keliling-keliling daerah Bandung biar hafal jalan, mau kan?" pinta Dirga


"Heemmm….boleh aja, tapi ada syaratnya" ucap Ayu licik.


"Apa? "


"Besok temenin gue ke pasar malem. Gue pengen banget ke sana tapi temen-temen gue yang lain lagi pada sibuk."


"Kiraain apaan. “ Dirga merasa lega syarat dari Ayu bukan hal yang aneh-aneh.


“Gimana?’ tanya Ayu.


“Boleh, kalau gitu besok jam 2 siang gue jemput di sini"


"Okey. Gue masuk dulu iya, takut nyokap gue nyariin.Byeee" pamit Ayu. Tadi Ayu hanya bilang akan pergi ke depan sebentar, jadi pasti Ibu nya saat ini sudah menunggu di depan  rumah. Dirga pun pergi meninggalkan rumah Ayu.


**


Tepat jam 2 siang Dirga berada di depan rumah Ayu. Hari ini, Ayu mengenakan pakaian santai, ia hanya memakai kaos polos berwarna biru muda yang dibalut sweater putih, dipadukan dengan celana jeans, tas selempang dan juga snikers. Setelah mengenakan helm yang diberikan oleh Dirga, mereka segera berangkat.


Ayu mengajak Dirga untuk memutar-mutar daerah di sekitar sekolah menuju mall terdekat, tempat les, ke pusat kota juga ke tempat-tempat yang sedang hits. Mereka juga melewati taman-taman yang saat ini mulai banyak di Bandung.


Tak terasa mereka sudah lama mengitar kota itu, dan Ayu menagih janji Dirga menemaninya pergi ke pasar malam. Mereka pun segera menuju Pasar Malam yang berada di daerah Asia-Afrika.


Ayu langsung berlari penuh antusias begitu masuk ke dalam wisata itu. Ia senang dikelilingi oleh berbagai macam wahana dan jajanan tempo dulu, mengingatkannya akan masa-masa kecil ketika Ayah dan Ibu nya masih sering menghabiskan waktu dengannya.


"Lo seneng banget ke sini?" Tanya Dirga heran melihat tingkah Ayu.


"Seneng banget baget banget! Gue tuh seneng ke tempat kaya gini, soalnya banyak mainan dan makanan." Ayu menunjuk tempat yang membuat cotton candy dan membelinya untuk dinikmati sembari berjalan mengitari pasar malam tersebut.


"Mau?" tawar Ayu menyodorkan permen kapasnya yang tinggal setengah kepada Dirga. Namun Dirga menolaknya dan memilih diam.


"Cobain dulu deh baru lo bisa nolak, kalo emang lo gak suka" paksa Ayu.


Mau ngga mau Dirga mencoba permen kapas itu.


"Manis banget" ucap Dirga yang ngga terlalu suka dengan makanan yang manis-manis.


"Ia kan terbuat dari gula gimana sih. Tapi Enak kan?"


"Enak tapi gue gak suka "


"Apa-apa gak suka, ngga asik lo." ketus Ayu kemudian melanjutkan langkahnya mengelilingi pasar malam itu. Lagi-lagi Dirga hanya diam tidak bereaksi sama sekali.


"Lo emang sedingin ini ya?” tanya Ayu penasaran. Dirga hanya mengangkat alis dan bahunya menanggapi pertanyaan Ayu, “Lo itu terluka! Lo cuman butuh teman. Lo gak bisa pendem semua nya sendiri" Ayu memang sangat peka dan sangat peduli dengan siapapun yang berada di dekatnya.


"Gue cuma pengen nyokap gue balik lagi ada disamping gue" ucap Dirga mengutarakan keinginannya.


"Husss kemana aja ngomongnya! Itu sama aja lo gak ikhlasin kepergian nyokap lo. Gak boleh gitu, lo harus terima kenyataan. Lo gak bisa nyalahin takdir, nyokap lo pasti ikutan sedih deh liat lo kaya gini" ceramah Ayu


"Lo gak tau rasanya jadi gue gimana." Ucap Dirga lemah


"Dir, lo masih beruntung. Lo masih punya bokap, lo punya saudara yang bisa bantuin lo. Coba lo liat  disekitar lo itu masih banyak yang hidup nya gak layak dan dia sendirian gak punya siapa-siapa. Tapi mereka masih bersyukur dan tetap melanjutkan hidup dengan semangat. Lo harus bersyukur, nyokap lo itu orang baik makanya dia dipanggil Tuhan duluan. Lo jangan lemah, lo harus tunjukin kalo lo bisa dan mampu hidup Bahagia karna dimanapun elo, nyokap lo akan selalu nemenin lo disini" Ayu menyentuh dada Dirga dengan telenjuknya.


"Gue ikhlas atas kepergian nyokap gue, tapi gue gak ikhlas atas tindakan bokap gue yang dengan mudahnya cari pengganti nyokap.” Ucap Dirga. Ayu hanya diam, menunggu Dirga melanjutkan ceritanya. “Lo coba bayangin, baru 1 bulan setelah nyokap gue pergi, eh bokap udah nikah lagi. Mereka tinggal bareng, gue muak liat itu semua makanya gue milih buat pergi dan tinggal sendiri di sini,  gue emang salah tapi gue gak mau nyakitin bokap gue dengan terus-terus bersikap dingin sama dia dan juga ibu tiri gue."


Ayu sekarang mulai mengerti akan sikap Dirga yang dingin dan ngga mau didekati oleh siapa pun.


"Gue gak nyalahin tindakan lo, termasuk keputusan lo untuk tinggal sendiri. Itu semua pilihan lo. Cumaann, lo gak boleh ninggalin bokap lo. Meskipu lo di sini, jauh sama bokap tapi lo harus tetep jaga komunikasi dan selalu ngasih kabar keadaan lo kaya gimana supaya bokap lo gak khawatir dan bisa percaya sama lo. Gue paham, bokap lo pasti banyak mempertimbangkan hal-hal sebelum akhirnya melakukan itu.”


"Yang gue gak habis pikir kenapa sih secepet itu?"  ucap Dirga masih tidak teria dengan keputusan Ayahnya.


"Semua ada pilihan dan alasannya, lo gak bisa atur semua itu." Jawab Ayu dengan refleks mengengam tangan Dirga, berusa menenangnya lelaki itu.


Dirga menganggukkan kepala nya dan menyandarkan kepalanya di atas bahu Ayu yang berdiri dihadapannya. Ia merasa lelah dengan kehidupannya saat ini. Ayu mengusap lembut punggung Dirga, membiarkan Dirga untuk larut dalam pikirannya sejenak.


Setelah merasa cukup tenang, Dirga mengajak Ayu untuk pulang karna malam sudah semakin larut.


"Makasih ya, Ay udah nemenin gue.” Ucap Dirga setelah sampai di depan rumah Ayu.


“Ay Ay, emang gue ayang lo apa? “ Canda Ayu. Mereka pun tertawa.


“Gue  boleh minta nomor hp lo?" tanya Dirga.


“Hp lo mana?” tanya Ayu. Dirga menyerahkan hp nya ke tangan Ayu.


“Nih. “ Ayu kembali menyerahkan hp tersebut ke Dirga setelah memasukan kontaknya ke hp Dirga.


Dirga tersenyum mengambil ponselnya kembali.


“Gue masuk dulu ya. Ti ati lo dijalannya kalo ada belokan inget belok jangan lurus ntar nabrak. Dah Dirga” Canda Ayu sebelum meninggalkan Dirga.


Dirga pun tertawa tak habis pikir kenapa energi gadis itu tidak ada habisnya.


*****

__ADS_1



Dirgantara Pahlevi


__ADS_2