WISTERIA

WISTERIA
PERTEMUAN TIDAK DISENGAJA


__ADS_3

Bagian 3 - Wisteria


Pertemuan tidak disengaja


Nih ya bu. Saya kan lagi tidur gimana caranya gangguin orang coba? Yang ada saya digangguin sama orang lain


Kira-kira ketemu sama siapa iya?


Terus siapa yang lagi tidur terus di gangguin?


Daripada lama lama mending scroll ke bawah deh biar makin gak penasaran


*****



  Tanisya Meika Vahira



Viola Melinda Wong


******


Seperti biasa pagi ini pun Pak Supratman sang wakil kepala sekolah sudah berjaga di depan gerbang masuk SMA 112 ditemani oleh dua orang satpam lainnya. Pak Supratman selalu memeriksa para murid sebelum mereka masuk sekolah dan menegur siswa-siswa yang tidak memakai seragam dengan rapih, mengacak-acak rambut para siswa yang kelewat panjang, hingga menyita aksesoris para siswi yang dinilai berlebihan. Tentunya Dara pun tidak bisa lolos dari pemeriksaan tersebut.


"Pagi Neng Dara,  dicopot ya Neng itu jaketnya jangan di pakai di dalam sekolah!” tegur Pak Supratman lembut.


"Eh Iya baik Pak, maaf kelupaan." Jawab Dara dengan sopan sambil melepaskan jaket yang dikenakannya.


“Euuhh Bapak mah ke cewek cantik aja negurnya pelan-pelan, giliran ke saya teriak-teriak!” ucap salah seorang siswa di belakang Dara yang tengah diambil ikat pinggangnya karena tidak sesuai dengan peraturan sekolah.


"Kamu itu salah. Masih aja banyak omong!" tegur Pak Supratman kembali sambil menjewer telinga siswa nya itu.


"Aduh duh sakit Pak. Ampun ampun!" Siswa itu segera berlari menyusul temannya yang telah lebih dulu masuk ke dalam sekolah. Pa supratman menggelengkan kepala nya melihat kelakuan muridnya tersebut.


Dara menahan tawa melihat kejadian itu, menurut dia Razia pagi-pagi yang dilakukan oleh Pak Supratman ini dapat menghibur dan menaikkan kembali moodnya.


“Mmm Pak, mari saya ijin ke kelas dulu.” Pamit Dara setelah melepaskan jaketnya.


“Oh ia silahkan Neng Dara. Belajar yang rajin ya jangan jadi bandel kaya kakak kelas kamu yang tadi” Nasihat Pak Supratman.


“Iya Pak” jawab Dara sambil menganggukkan kepalanya kemudian berjalan menuju kelas.


Dara harus melewati ruang guru dan kelas 10-1 sebelum akhirnya sampai di kelasnya 10-2. Ia sudah bisa melihat Ayu, Viola, dan Meika sedang asik duduk di depan kelas memperhatikan orang-orang yang sedang melakukan kegiatannya di lapangan. Ada yang sedang asik bermain basket, sepak bola, bahkan ada juga yang main ucing-ucingan.


“Daraaaa!! Sini sini sini duduk di samping gue!” seru Ayu penuh semangat ketika melihat sahabatnya sudah datang. Dara pun segera menghampiri mereka dan ikut memperhatikan kegiatan di lapangan.


Ia melihat Vino sedang bermain basket bersama dengan ketiga temannya, entah memang untuk berolahraga atau untuk sekedar tebar pesona. Selain memang jago bermain basket, Vino dan teman-temannya pun memiliki wajah yang tampan dan postur tubuh yang tinggi, yah tipe-tipe pacar idaman lah makanya banyak siswi-siswi yang memperhatikan mereka bahkan ada yang sudah standby dipinggir lapangan untuk memberikan botol minuman.


"Ra Ra Ra, lo tau cowok yang lagi minum yang duduk deket tiang itu siapa ?” tanya Ayu.


“Engga, siapa emang?” tanya Dara kemudian mengalihkan pandangannya dari Vino ke kakak senior yang tunjuk Ayu.


“Ih masa lupa sih? Itu nama Kak Ryan. Dia yang bantuin kita waktu lo pingsan, dia bahkan gendong lo sampe ke ruang UKS" jelas Ayu gemas.


“Yee mana Dara inget kali Ay, kan waktu itu Daranya pingsan gimana sih elo?” ucap Meika sambil kembali memakan roti yang tinggal separuh ditangannya itu.


“Oh ia bener juga. Tumben lo pinter?” goda Ayu.


“Hahahah udah udah jangan pada ribut ada yang mau nyamperin ke sini tuh.” Ujar Viola memotong Meika yang hendak membalas godaan Ayu. Mereka pun kembali memperhatikan lapangan dan melihat siapa gerang orang yang dimaksud oleh Viola. Ternyata orang itu adalah Ryan, yang sedang mereka bicarakan panjang umur sekali dia yah.


“Hai, elo yang waktu itu pingsan pas MOS kan?” sapa Ryan basa-basi sambil mengulurkan tangannya kea rah Dara.


“Eh ia Kak, saya Dara.” Ucap Dara malu-malu memperkenalkan diri, menyambut uluran tangan Ryan.


“Hahaha ia udah tau, gue Ryan.” Ucap Ryan.


“Eh ia Kak.” Balas Dara kaku.


“Ehem perasaan waktu itu ada kita-kita juga ya guys, ko yang diajak kenalan cuma Dara aja sih Kak?” celetuk Ayu.


“Hahahaha.” Lagi-lagi Ryan tertawa, membuat Dara dan teman-temannya terpesona. “Kan ini belum beres, baru aja mau kenalan satu-satu udah keburu dicela.” Lanjut Ryan santai.


“Eh ia maaf Kak.” Ucap Ayu salting, malu sendiri. Dara, Meika, dan Viola yang jarang-jarang melihat Ayu salting, diam-diam menahan tawa.


“Yaudah gue balik ke lapang lagi ya, sampai ketemu lagi.” Pamit Ryan setelah berkenalan dengan mereka semua.


“Semangat Kaakk!” ucap Viola pelan. Ryan yang masih bisa mendengar itu menengokkan kepalanya kebelakang sambil tersenyum.


“Ciiee Violaaa udah dapet gebetan baru nih kayanya.” Goda Ayu.


“Waahh siap-siap nih ada peperangan didalam persabahatan ini antara Dara sama Viola, lo pilih siapa Ay?” Meika ikut menggoda.


“Ih apaan sih ngga jelas deh kalian berdua. Udah yuk Vi kita masuk kelas aja, bentar lagi bel masuk bunyi.” Ajak Dara menarik tangan Viola agar terhindar dari godaan Ayu dan Meika.


Ayu dan Meika yang melihat hal itu tertawa dan segera menyusul masuk ke kelas untuk memulai aktivitas belajar mereka.


*****


“Pelajaran kita cukupkan sampai disini. Jangan lupa minggu depan kalian kumpulkan makalah biografi tokoh yang jadi panutan kalian yah!” ujar Bu Dede, guru Bahasa Indonesia kepada seluruh murid kelas 10-2.


“Baik Buu!” jawab seluruh murid kompak.

__ADS_1


"Ra lo mau langsung pulang atau gimana?" Tanya Ayu sambil memasukan barang-barang miliknya kedalam tas setelah Bu Dede keluar kelas.


"Kaya nya gue mau ke perpustakaan dulu deh, nyari buku buat bikin makalah biografi. Kalo ngga nemu baru gue cari ke toko buku" jawab Dara.


“Emang siapa tokoh yang bakal elo pilih Ra?” tanya Meika penasaran.


“Ya belum tau lah Mey, makanya ini mau nyari bukunya dulu di perpus.” Jelas Dara.


"Lo beneran ngga apa-apa kalo sendirian? Ngga akan pingsan lagi kan? Atau mau gue temenin? Nanti gue bilang deh ke nyokap kalo ngga bisa nemenin dia belanja." tanya Ayu yang benar-benar mengkhawatir kan sahabatnya itu. Pasalnya sejak SMP Ayu dan Dara kemana-mana selalu bersama, pokoknya mereka tidak terpisahkan banget.


"Waktu itu kan gue pingsan gara-gara ngga sarapan. Kalian liat kan tadi gue makan banyak banget pas istirahat ? Jadi pasti aman Ay, elo ngga usah khawatir. Kasian nyokap lo pasti udah nungguin tuh di rumah.” Jawab Dara santai.


“Ia Ay, lagian ini kan di sekolah masih terang pula pasti ngga akan ada apa-apa sama Dara. Udah yuk kita pulang, gue udah dijemput nih.” Ajak Viola yang memang selalu dijemput oleh supirnya.


“Udah gih sana pada pulang. Beneran deh gue bisa sendiri kok.” Usir Dara halus.


“Yaudah kita duluan ya Ra, ti ati pulangnya. Dah Daraa!!” pamit Meika sambil menggandeng Ayu keluar.


“Eh eh eh pokoknya kalo ada apa-apa lo langsung telepon gue ya Raaa!!” teriak Ayu sebelum akhirnya berhasil digiring Meika dan Viola keluar kelas.


“Hahaha iyaaa!” balas Dara. Sebenarnya Dara agak ragu pergi sendiri ke perpustakaan, tapi dia mau belajar mandiri dan tidak ketergantungan dengan sahabat-sahabatnya.


Tapi kok sepi banget ya ini sekolah? Ngga akan ada hantu tiba-tiba  munculkan? Pikir Dara ketika melewati Lorong sekolah menuju perpustakaan yang letaknya memang agak mojok diujung sekolah. Dara kadang memang suka ikut ketularan Ayu jadi parnoan apalagi kalau lagi sendiri gini.


“Ngga Ra, jangan mikir aneh-aneh! Lo harus berani, kalau ada apa-apa lo kan tinggal teriak ntar pasti bakal ada yang nolongin, pasti!” Gumam Dara pelan dan mempercepat langkahnya menunju perpustakaan.


Sesampai di perpustakaan hanya tinggal beberapa orang yang sedang membaca buku dan duduk saling berjauhan.


“Mau ke perpus Neng?” tanya Bu Yanti, guru piket yang menjaga perpustakaan ketika melihat Dara berdiri di depan pintu perpus.


“Eh ia Bu.” Jawab Dara ragu.


“Sini isi daftar hadir dulu, terus itu tas sama jaketnya disimpen yah di loker. Ini kunci nya.” Ujar Bu Yanti ramah.


“Oh ia baik Bu.” Dara menuruti perkataan Bu Yanti.


"Bu maaf, kalo buku-buku tentang biografi dimana ya?" Tanya Dara pelan, tersadar bahwa dirinya tidak hapal letak buku-buku disana dan pasti akan memakan waktu jika ia harus mencari sendiri.


"Oohh pasti buat tugas makalah dari Bu Dede yah? “ tanya Bu Yanti yang sudah hapal dengan kebiasaan Bu Dede yang selalu memberi tugas makalah biografi kepada murid baru. “ Itu ada di rak paling ujung sebelah kiri pojok , disana ada deretan buku-buku biografis letaknya di rak paling ujung deket tembok" jelas Bu Yanti tersebut.


"Terimakasih bu" ucap Dara sambil menunduk sopan dan segera masuk.


Setelah menemukan rak yang dimaksud Bu Yanti tadi, Dara langsung menemukan deretan buku-buku biografis. Dia melihat cover buku satu persatu dari sisi sambil berjalan perlahan, matanya masih focus pada deretan buku-buku disana hingga tidak tersadar yang menghalangi jalannya.


“Aduh duh!” Dara kaget karna tersandung sesuatu. Untung Dara memiliki keseimbangan yang cukup bagus sehingga ia tidak sampai terjatuh, namun buku-buku yang ia pegang tadi terjatuh semua menimpa seseorang.


“Aauucchh!” erang seseorang sambil memegangi kepalanya yang tertimpa buku tebal Dara.


“Ada apa Neng? Kamu kenapa?” tanya Bu Yanti panik. Fokusnya teralih kepada laki-laki yang masih terduduk memegani kepalanya itu.


“Vino! Kebiasaan banget ya kamu tidur disini!” seru Bu Yanti.


Dara mendengar nama Vino disebut segera membalikkan badannya untuk memastikan bahwa ia bukan diganggun oleh hantu. Betapa terkejutnya Dara ketika melihat memar di pelipis Vino dan luka baret di lengan Vino akibat tertimpa buku yang ia bawa tadi.


“Kak, maaf ya, saya ngga sengaja.” Ucap Dara takut.


“Kamu ngga usah minta maaf Dara, itu salah Vino sendiri yang menghalangi jalan.” Ujar Bu Yanti.


“Lagian Ibu udah tau kebiasaan saya kenapa ngga ngasih tau coba kalau saya ada disini?” tanya Vino


“Ya mana saya tau kamu masih suka tidur di sini. Kamu kan udah kelas 12 seharusnya diperpustakaan itu belajar dong bukan malah tidur!” Bu Yanti memulai ceramahnya.


“Tapi kan ibu udah hapal kebiasaan saya, jadi yang salah siapa coba Bu?” tanya Vino dengan tampang so-soan polos.


Bu yanti semakin pusing dengan kelakuan VIno yang tidak berubah, susah sekali diberitahu.


"Ya kamu lah Vino, kamu tidur disitu menghalangi jalan orang saja" ketus Bu Yanti


"Nih Bu, kan saya tidur jadi gimana saya mau gangguin orang coba? Yang ada orang lain yang gangguin saya Bu" ucap vino sambil mengalihkan pandangannya kepada Dara. Dilihat seperti itu Dara menjadi salah tingkah.


"Aah sudah-sudah, ibu pusing menanggapi omongan kamu. Jangan lupa itu buku-bukunya dibereskan lagi!" ujar Bu Yanti meninggalkan Dara dan Vino.


"Apalagi saya Bu, kepala saya sakit kejatuhan buku-buku nih !” ucap Vino yang hanya dibalas Bu Yanti dengan gelengan kepala.


"Kak maafin banget ya, aku ngga sengaja beneran deh" ucap Dara menghampiri Vino.


"Disengaja juga ngga apa-apa kok" ucap Vino cuek.


"Eh gimana kak?" tanya Dara bingung dengan ucapan Vino, mana ada orang yang mau ngejatuhin buku dikepala orang dengan sengaja? Aneh deh nih orang, pikir Dara.


Vino tidak menjawab pertanyaan Dara dan mulai membereskan buku yang berserakan disekitarnya. Melihat itu, Dara segera membantu Vino meletakkan kembali buku-buku itu ke rak tempat asalnya.


“Eh eh mau kemana?” tanya Vino kaget ketika Dara menarik tanganya tanpa berkata apapun.


“Itu lukanya harus cepet diobatin Kak, supaya ngga infeksi.” Jelas Dara masih menarik tangan Vino untuk keluar perpustakaan. “Tunggu bentar disini ya Kak, aku ambil tas dulu. Jangan kemana mana!” ujar Dara setelah memastikan Vino duduk manis di bangku yang tersedia di luar perpustakaan. Vino yang masih kaget dengan perilaku Dara hanya bisa menurut tanpa banyak komentar.


Setelah mengambil tasnya, Dara langsung mengeluarkan kotak P3K nya yang selalu dia bawa kemana-mana. Vino hanya diam saat Dara mulai membersihkan luka nya, ia memperhatikan gerak-gerik Dara dengan seksama.


“Aaaww!” Vino meringis saat Dara membersihlan luka ditangannya dengan antiseptik.


"Ngga usah lebay cengeng gitu deh Kak, kaya anak kecil aja!" ejek Dara. Vino hanya bisa tersenyum mendengar ejekan Dara itu.


“Eits ap aitu? Kok warna warni penuh gambar gitu sih?” elak Vino saat Dara hendak memakaikan plaster bergambar binatang lucu-lucu dilukanya.

__ADS_1


“Duuhh bawel deh. Udah pake aja, daripada ntar lukanya kena debu terus jadi infeksi, mau?” tantang Dara Kalau sudah berurusan dengan luka-luka begini, jiwa keibuan Dara mulai keluar.


“Ia deh ia terserah lo, daripada gue kena marah lagi. Apes banget nasib gue hari ini, udah ketiban buku, dimarahin terus pula sama ade kelas. Nasib-nasib.” Celotek Vino tak henti.


Dara cuek saja mendengar keluhan Kakak kelasnya itu, ia lalu membereskan kembali kotak P3Knya dan memasukkannya ke dalam tas.


“Yuk Kak!” ajak Dara.


“Hayu kemana? Kan udah selesai ini diobatinnya.” Tanya Vino heran.


“Itu satu lagi belum Kak, memar yang dikening Kakak mau didiemin aja? Nanti jadi bengkak  loh.” Lagi-lagi Dara menakut-nakuti Vino.


Vino pun mengekori Dara yang sudah jalan duluan.


Ajaib nih anak! Tadi so-soan takut pas di perpus eh sekarang jadi bossy gini nyuruh-nyuruh gue tapi anehnya gue mau-mau aja lagi nurutin apa kata dia? Yaudah sekali-kali ini, lagian kapan lagi diperhatiin sama adik kelas cantik? Pikir Vino.


“Aduh duh…pelan pelan dong!” seru Vino tersadar dari lamunannya ketika Dara menempelkan es batu yang dibalut handuk kecil ke pelipisnya.


“Kakak manja deh daritadi ngeluh mulu.” Ledek Dara kemudian kembali fokus untuk mengobati memar Vino.


"Kamu dulu nya pasti ikutan PMR ya? Maka nya jago ngobatin luka yang kaya gini" tanya Vino heran.


"Ngga, bukan. Dulu Kakak aku sering tawuran pas sekolah, terus dia ngga berani pulang ke rumah dalam keadaan babak belur. Jadi dia suku nyuruh aku buat ngobatin luka nya" jelas Dara.


"Berarti jagoan dong kakak kamu. Oh iya terus dimarahin juga ngga kalo dia ngeluh kesakitan?" tanya Vino.


"Malah aku sengajain aja di kasarin pas ngobatinnya biar dia kapok. Eeh boro-boro kapok, malah tetep aja ngulangi terus" jawab Dara panjang lebar. Hal itu membuat Vino jadi tersenyum sendiri.


"Sampe sekarang Kakak kamu masih kaya gitu?" tanya Vino lagi makin penasaran.


"Ya engga lah. Sekarang Dia punya pacar jadi udah tobat. Lagian udah kuliah juga masa masih aja mau tawuran?"  jelas Dara.


Vino hanya menganggukan kepalanya mendengar Dara bercerita tentang Kakaknya. Setelah merasa agak mendingan, Vino pun melepaskan kompresannya.


"Udah ngga sakit lagi Kak? Kalau gitu aku tinggal ngga apa apa ya? Mau lanjut cari buku buat tugas" pamit Dara sambil bangkit dari duduknya. Baru aja mau jalan kembali ke perpus, Vino menahan lengannya.


"Pasti disuruh bikin biografi tokoh kan? Aku punya referensi yang bagus buat kamu jadiin makalah" ujar Vino


"Gak usah ka, aku nyari di perpustakaan aja. Makasih ka" Dara tersenyum lalu meninggalkan Vino disana. Dia merasa tidak enak kalau harus merepotkan Vino apalagi setelah membuat wajah tampan Vino jadi memar. Namun baru beberapa langkah Dara berjalan, Vino kembali menghadangnya.


"Jangan langsung nolak gitu dong, tapi dengerin dulu cerita nya. Nanti kamu ngga tertarik baru deh boleh tolak. " ujar Vino pantang menyerah


"Ehm emang buku nya tentang siapa Kak?" Tanya Dara akhirnya menyerah.


"Tentang Soe Hoek Gie. Jadi dia itu seorang aktivis muda indonesia berdarah Tionghoa yang menentang kediktatoran berturut-turut dari Presiden Soekarno dan Soeharto. Dia aktivis muda yang sangat kritis menentang semua ketidakadilan yang terjadi di negara kita dulu. DIa berani mengambil resiko untuk bertindak. Gie membela rakyat miskin yang terinjak-injak pada masa Soekarno, karena pada saat-saat terakhir penjabatannya sebagai presiden banyak sekali penjilat yang hanya ingin menguasai kekayaan nya. Rakyat miskin semakin miskin tidak mendapatkan ruang keadilan. Banyak sekali yang mendukung sikap Gie itu, tapi Gie kemudian meninggal saat dia sedang naik gunung. Katanya sih karna menghirup gas beracun di gunung Semeru tapia da juga dugaan lain yang menyatakan kalau dia dibunuh tapi ngga banyak bukti yang dapat menyimpulkan dugaan tersebut. Perjuangannya untuk mendapatkan keadilan belum terselesaikan karena dia harus meninggalkan semua nya, banyak yang menyayangkan atas kepergian Gie dan hal yang dilakukan Gie mendapatkan apresiasi dari para pejuang hingga saat ini " cerita Vino panjang lebar.


Dara hanya terdiam serius memperhatikan saat Vino menceritakan sosok Soe Hoek Gie.


“Waahh menarik juga ya Kak. Aku kayanya pernah denger deh cerita itu tapi ngga terlalu detail kaya tadi.” Ucap Dara terkesima. “Heemm kalau gitu, boleh aku cari bukunya di perpus deh, makasih ya Kak buat masukannya.” Pamit Dara sekali lagi.


"Di perpus ngga ada buku tentang itu, tapi aku punya!" seru Vino seketika. Dia sebenarnya ngga tau buku itu ada atau ngga di perpustakaan, hanya saja ia mulai tertarik dengan Dara dan tidak ingin gadis cantik itu meninggalkannya.


"Oh ya? Kalau gitu, aku boleh pinjem bukunya Kak?" Tanya Dara malu-malu.


"Boleh dong maka nya aku tawarin. Tapi bukunya ada di rumah" jawab Vino.


“Kalau gitu, besok tolong dibawa ya Kak?” pinta Dara.


“Ngga usah nunggu besok, sekarang aja kita ambil bukunya. Sekalian gue anterin elo pulang.” Ujar Vino.


“Eh ngga usah Kak, jadi ngerepotin banget kalo kaya gitu.” Tolak Dara halus.


“Ngga ngerapotin kok. Gue malah seneng bisa ngebantuin adik kelas. Rumah lo dimana?” Yup tipikal Vino sekali maju terus pantang mundur.


“ Di green valley martadinata Kak. Tapi beneran deh aku bisa minta jemput Kakak aku kok." tolak Dara sekali lagi.


“Ngapain minta jemput kalau punya temen yang searah rumahnya, bener ngga? Udah yuk, keburu sore nih, ntar dicariin nyokap loh!” ujar Vino sambil menarik Dara agar mengikutinya ke parkiran motor.


Dara hanya bisa pasrah saja ketika Vino menyodorkan helm untuknya. Tapi kemudian ia menatap heran ketika Vino menyerahkan jaket untuknya.


Perasaan gue udah pake jaket deh, pikir Dara


"Bukan buat dipake tapi buat nutupin rok kamu biar ngga jadi tontonan di perempatan jalan" ucap Vino mengerti maksud tatapan Dara.


Darapun membulatkan mulutnya dan juga mengangguk-angguk mengerti. Vino tersenyum ketika melihat Dara mulai naik ke atas motor yang tinggi, apalagi ketika tangan Dara memegang bahu vino sepanjang perjalanan nya.


******


Ryan ngapain coba nyamperin dara cuman buat kenalan?


Sebenernya yang salting tuh ayu atau dara iya?


Vino kenapa sih suka banget tidur di perpus? Mungkin biar lebih tenang kali iya. Tapi kan lebih tenang tidur di UKS dibonusin teh manis anget lagi


Itu dara naik motor vino kok pegangan ke bahu iya hahaha kaya ke tukang ojek aja


Kira kira kalo dara kerumah vino bakalan gimana iya? Penasaran kan! Tunggu cerita selanjutnya iya guys


Terus nasib nya mauza gimana iya sama renata?


Makasih iya kalian udah baca cerita ini, tunggu cerita selanjutnya iya.


See you

__ADS_1


__ADS_2