
Gadis berambut pendek itu menanti ojeg online dengan tak sabar. Matanya berulang kali mengecek pada alroji murah di tangan kirinya lalu berganti menatap langit sesaat. Mestinya dia segera pulang sebelum awan mendung berganti dengan hujan yang berkepanjangan. Tapi ojeg pesanannya agak sedikit terlambat.
Sudah beberapa hari terakhir hujan turun hampir sepanjang hari. Udara dingin menyelimuti dan membuat gadis pengangguran macam dirinya terlalu malas untuk sekedar bangkit keluar kamarnya. Namun, untuk hari ini ada pengecualian. Sebuah panggilan kerja mesti didatanginya walau ada hujan badai sekalipun.
Untungnya tak berapa si ojeg pesanannya datang dan segera menyelamatkan dirinya dari hujan deras yang baru turun ketika ia menginjakkan kakinya di rumah.
"Hampir aja kamu basah, Yu."
"Hm, untung aja nggak. Tapi abang ojegnya pasti basah, Ma."
"Ya pasti dia bawa jas hujan lah. Udah sana kamu makan dulu."
Yura, gadis delapan belas tahun itu memasuki kamarnya untuk berganti pakaian. Dia keluar dari kamar segera karena perut keroncongannya sudah tak sabar meminta diisi.
"Gimana tadi tesnya?" tanya mamanya yang duduk menemaninya makan siang. Ah, hampir sore. Jam makan siang telah terlewati selagi Yura tadi melakukan tes di sebuah perusahaan.
"Tes tertulisnya sih lumayan,"
"Lumayan apa?"
"Nggak susah sih, Ma, tapi nggak gampang juga. Terus, ada tes mata juga. Kayaknya aku agak minus deh."
"Kebanyakan main hp. Begitu jadinya."
Yura mendesah diam-diam. Dia tahu kalau mamanya pasti sedang menahan rasa kesal terhadapnya. Sang mama yang memiliki harapan banyak kepadanya sebagai si sulung, untuk membantu perekonomian keluarga. Kalau sudah tahu mama bakalan marah, lantas kenapa Yura masih saja jujur?
Lalu sekarang rasanya nasi yang sedang dikunyahnya terasa sulit untuk ditelan.
Sedari awal Yura sudah mengatakan kepada diri sendiri untuk kuat dan sabar apapun hasilnya nanti. Dia yakin bisa, tapi dia yakin kalau mamanya tidak akan bisa. Bebannya sebagai anak pertama memang tak tersirat. Namun jelas harapan besar kedua orang tuanya agar Yura mendapat pekerjaan secepat mungkin tak dapat dihindari.
Lulus sekolah menengah atas sudah tak ada harapan baginya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya, yang lebih tinggi. Pekerjaan serabutan sang ayah, menjadikannya tidak memiliki harapan untuk kuliah. Maka jalan terbaik adalah segera mencari pekerjaan dengan kualifikasi hanya sebagai tamatan SMA saja.
Entah kapan Yura bisa mengejar mimpinya untuk bisa kuliah. Harapannya adalah kelak dia mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dengan gelar sarjananya. Lalu, dia akan menjadi harapan kedua orang tuanya dan bisa membantu sekolah adik-adiknya.
Namun harapan tinggal harapan. Yura hanya dapat berusaha mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya. Meskipun sulit, tapi Yura tidak pantang menyerah. Demi keluarganya, dia rela melakukan apapun yang dia bisa.
"Terus kapan pengumumannya?"
__ADS_1
"Besok."
"Ya semoga diterima. Mama doakan selalu supaya kamu segera mendapat pekerjaan, Yu."
Yura hanya mampu mengangguk pelan dengan air mata yang masih mampu ia tahan. Kehidupan selepas masa sekolahnya ternyata begini suram, padahal baru lima bulan dia menganggur. Ingin rasanya dia kembali ke masa putih abu dulu, dimana masalah terberatnya hanyalah PR dan guru galak. Tidak ada tekanan untuk segera hidup mandiri dan mampu membantu keuangan keluarga. Semua masa-masa indah itu rupanya amat berharga untuk dirinya yang tak mampu melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.
...-------...
"Buat lo yang sedang galau," ucap Nita sembari menyodorkan sebungkus coklat ke depan wajah Yura. Kemudian gadis itu duduk menyusul Yura yang sudah menempati kursi taman sepuluh menit lebih dulu.
"Tengkyu, Nita."
Yura membuka bungkus coklat dan mulai memakannya. Pada gigitan kedua air matanya tumpah begitu saja tanpa mampu ia kendalikan.
"Siapa bilang gue galau?" tanyanya disela kunyahan dan isakan. "Gue nggak galau, Nit. Gue cuma—"
"Sssh, makan dulu aja. Nangisnya ntar." Nita mengusap-usap punggung Yura dengan sayang.
Yura menggeleng sembari berusaha keras mengusap air matanya yang tak mau berhenti meleleh. "Gue gagal lagi, Nit. Gue nggak lolos tes kemarin."
"Jelek banget ih, coklat lo belepotan."
Tadi, pengumuman hasil tes yang kemarin telah keluar melalui email. Apabila lolos maka akan mendapat email pemberitahuan pada pukul sepuluh tepat. Namun hingga lepas tengah hari tak ada email satu pun yang Yura dapatkan. Maka itu artinya dia memang tidak lolos tes tertulis kemarin.
Untungnya sejak pagi sang mama pergi ke rumah tetangganya yang akan hajatan. Jadi Yura belum bertemu mama dan memang tidak siap juga untuk mendapat kekecewaan lagi dan lagi dari orang tuanya atas kegagalannya yang terjadi berkali-kali.
"Nggak boleh mikir begitu, Yu. Emang belum rejeki aja."
"Ya tapi mama gue tuh pasti marah, kecewa. Emang sih bukan yang bakalan pukulin gue atau sejenisnya. Tapi kata-katanya itu loh, pasti bakalan nyakitin hati banget, dan itu yang bikin gue nggak sanggup buat menghadapinya."
"Sabar ..."
"Gue emang anak yang nggak berguna."
"Nggak gitu, Yura."
"Lo nggak merasakan yang gue rasakan, Nit. Lo nggak bakal tahu rasanya jadi gue. Gimana sindiran mama gue, tekanan keadaan, bahkan untuk menyentuh makanan pun rasanya gue nggak cukup pantas."
__ADS_1
"Masa segitunya, Yu?"
"Begitulah. Kenyataannya memang begitu yang gue alami."
"Nih, minum. Hapus air mata lo, sayang. Udah lega, 'kan?!" Nita menyerahkan sebotol teh dingin yang memang sejak tadi sudah dia siapkan untuk teman sekolahnya itu. Teman semasa mereka menggunakan seragam putih abu-abu.
"Sedikit. Tetap aja gue masih takut buat ketemu mama." Walau begitu Yura tetap membuka minumannya.
Masih ada rasa syukur yang dirasakannya karena memiliki sahabat seperti Nita. Teman sekolah SMA nya itu masih peduli kepadanya walau dirinya tidak seberuntung Nita yang bisa berkuliah.
"Palingan marahnya cuma sebentar, Yu. Ya lagian, 'kan bukan salah lo juga kalo gagal mendapat pekerjaan. Ya memang bukan rezeki, mau gimana lagi ya, 'kan?!"
Yura mengangguk pasrah. Memang, walau kenyataannya semua kembali pada rezeki masing-masing orang, tetap saja dirinya takut ketika harus menghadapi kedua orang tuanya setelah kegagalannya. Takut pada perkataan yang akan diterimanya nanti, sudah pasti bukan hal yang menyenangkan hati. Begitulah hidup Yura selama beberapa bulan ini.
"Udah mau hujan, ayo pulang!" ajak Nita. "Nanti dicariin orang rumah lo, Yu. Nggak bawa hape, 'kan?!"
Yura menggeleng. Jarak rumahnya dengan taman seberapa jauh. Begitu juga Nita yang rumahnya berbeda RT saja dengan Yura. Kalau Nita tadi datang dengan sepeda, maka Yura datang setelah menumpang di motor tetangganya yang hendak melewati taman.
Malah sekarang ia enggan untuk pulang. Andai saja ada tempat lain yang bisa ia singgahi, maka itu lebih baik. Andai mamanya tidak sepedas itu kalau bicara. Andai dia segera mendapat pekerjaan dengan mudahnya. Atau, andai keluarganya orang kaya. Andai keluarganya mampu menyekolahkannya hingga jenjang berikutnya. Andai tubuhnya sedikit kurus dan wajahnya mulus dari jerawat. Andai kulitnya putih tidak kusam. Andai, andai, andai ....
Yura menyerah.
"Ya udah lo duluan aja, gue naik angkot ntar. Palingan berapa,"
"Udah sekarang aja pulangnya. Keburu hujan, Yu," paksa Nita yang sudah bersiap dengan sepedanya.
"Iya. Udah sana jalan!"
Yura bangkit agar Nita tidak khawatir lagi kepadanya. Agar Nita juga tidak kehujanan. Lalu perlahan Yura
melangkah ke pinggir jalan raya di bawah sebuah pohon besar, untuk menunggu angkot lewat karena dia malas jalan kaki menuju rumahnya, saat awan sudah segelap itu keadaannya.
Tak butuh waktu lama ketika akhirnya hujan turun dengan derasnya. Angkot tak kunjung datang, dan Yura pasrah ketika hujan menimpanya tanpa ampun. Seketika air matanya luluh lagi bersama hujan. Tangisnya menderu kencang namun teredam suara derasnya hujan yang menghantam.
Salah siapa kalau takdirnya seperti ini? Salah siapa kalau kegagalan demi kegagalan yang selalu didapatkannya. Salah siapa kalau dirinya terlahir sebagai anak mama dan ayah?
Andai Yura boleh memilih, maka sudah pasti bukan kehidupan seperti ini yang ingin dia jalani.
__ADS_1
Suara guntur menggelegar membuatnya terkejut setengah mati. Bersamaan dengan itu, dia terlambat menyadari ketika pohon besar di dekatnya telah tumbang dan menimpa dirinya. Kegelapan menyambutnya, membawa air mata yang telah lebur bersama hujan dan darah.
******