With you, Jess

With you, Jess
Bab 2


__ADS_3

Yura dengan amat perlahan membuka matanya. Membiasakan matanya terhadap cahaya yang baru saja diterima indera penglihatannya itu. Sebuah kamar berwarna putih nampak di sekelilingnya yang diduganya adalah rumah sakit.


Ah ya, bukankah dia tertimpa pohon besar? Maka sudah pasti dia dibawa ke rumah sakit oleh orang yang telah menyelamatkannya.


Dia menggerakkan tangannya ke kepalanya. Mestinya kepalanya tidak sampai remuk ya walaupun telah tertimpa pohon. Tapi membayangkan betapa sakitnya kala itu, sudah pasti ia bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk menjalani hidup.


Namun sepertinya keadaan kepalanya tidak sebegitu mengerikan bayangannya barusan. Setelah diraba, ternyata tak ada luka parah yang berarti. Kepalanya utuh. Hanya ada sedikit perban di pelipis kirinya.


Pohon apa yang menimpanya memangnya? Pohon pepaya, kah?! Masa iya cuma luka kecil begini?


Bingung dan menjadi misteri, kiranya pohon apakah yang telah menimpanya tadi? Kenapa lukanya tidak parah padahal dirinya serasa dihantam besi? Padahal juga dia yakin kalau pohon di dekatnya itu pohon yang amat besar.


Belum juga kebingungannya terjawab, kini Yura sedikit terkejut saat pintu ruangan mendadak terbuka dengan kerasnya.


"Lo nggak apa-apa, 'kan, Jess?! Ya ampun, jantung gue sampai salto saking kagetnya. Lo tenang aja, gue udah musnahin itu tangga laknat. Suerr, lo nggak bakalan melihat tangga lagi di muka bumi ini."


Seorang cewek berambut sebahu, berseragam putih abu-abu tiba-tiba menghampirinya dengan tidak santai. Rentetan kalimatnya pun tak mampu Yura pahami. Alhasil dia hanya terbengong, mengerjap pelan karena bingung.


"Jes?" cewek berambut sebahu itu menggerakkan telapak tangannya di depan mata Yura yang tak merespon sedikitpun kata-katanya. "Jangan bilang kalo sekarang lo amnesia gara-gara tangga sialan itu? 'Kan gue udah bilang, yang bikin jebakan tuh si Jojo aja. Kenapa lo yang harus nekat sih? Cemburu sih cemburu, tapi nggak bahayain diri sendiri juga lah."


Yura masih diam menatap cewek yang sedang nyerocos tidak jelas itu.


"Jes, yailah! Lo jangan ngerjain gue dong. Target kita, 'kan si Maira. Ngapa lo jadi diemin gue sih? Ya emang gue tadi nggak bantu cari bahan buat isi ember, tapi tadi gue, 'kan lagi dipanggil sama Bu Nining, jadi telat join."


Membuang napas, cewek itu menatap Yura dengan kesal. "JES! NYAUT DONG!" sekarang raut wajahnya mendadak khawatir saat temannya itu menatap asing kepadanya. "Lo baik-baik aja, 'kan?! Kok gue jadi khawatir sih? Aduh–mana si Kirey sama Jojo lama banget. Gue panik nih, Jes?"


Apa sih yang bocah SMA itu bilang? Jas Jes? Siapa yang dia maksud?


Yura bangkit dan bersandar pada kepala ranjang. "Siapa Jes? Lo salah orang, Dek." Dia menyahut juga setelah hening beberapa saat dalam kebingungan. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja bocah sekolah menghampirinya dengan sok arab. Lebih tepatnya, mungkin anak itu salah mengenali dirinya sebagai temannya. "Coba cari teman lo di kamar lain, mungkin."


Mata cewek itu membola, benar-benar melebar sampai Yura khawatir bakalan loncat itu bola mata.


"JESSLYN! LO JANGAN BECANDA YAILAH!"


Yura menutup telinganya yang tak sanggup mendengar teriakan anak cewek itu. Benar-benar hebat suaranya.


Saat itu pintu ruangan terbuka lagi. Kali ini dua orang yakni laki-laki dan perempuan, masih berseragam putih abu-abu juga, datang menghampiri Yura.


"Eh sialan si Jess, dia pura-pura nggak kenal gue masa?" kata si anak cewek pertama mengadu kepada dua orang yang baru masuk barusan.

__ADS_1


Kedua temannya yang baru datang lantas tergelak. "Masa iya Jes, ketimpa tangga aja lo mesti amnesia?" sahut si cowok bertampang oriental dan berambut cepak. Lumayan ganteng.


"Atau mungkin ini skenario baru nih ya?" timpal anak cewek yang lain, yang memiliki rambut sependek Yura, yaitu sebatas leher saja. "Ayo deh, boleh. Coba bilang sekarang siapa target kita, Jes? Mumpung lo masih punya memar sedikit nih. Biar bisa akting lemah gitu."


Ketiga anak SMA itu menonton Yura yang masih terdiam bingung. Sumpah, ini tuh acara prank channel youtube siapa sih? Kok ya tega-teganya ngeprank dirinya yang baru aja sekarat gara-gara ketimpa pohon besar. Mestinya dia masuk berita dengan headline; akibat hujan deras disertai angin kencang dan petir, seorang gadis delapan belas tahun tertimpa pohon besar.


"Kalian itu siapa sih?" tanyanya lucu. Anggap saja lucu. Sebab dirinya merasa dikerjai oleh ... entah siapa.


"Jes, jangan becanda dong." si cowok yang bernama Jordan Alexander, setelah Yura membaca nama di depan bajunya.


"Udah dibilang, kita ikutan sama apapun rencana lo," sahut si cewek berambut pendek bernama Kirey Stefania.


"Jes, ini berapa?" kali ini si cewek pertama tadi, bernama Widina Maghalia, mengacungkan dua jarinya di depan Yura.


Itu membuat Yura mendesah tak sabar. Ya ampun, apa-apaan ini semua?


"Adek-adek, dengar ya," katanya mengambil alih. "Gue nggak kenal sama kalian, sedikitpun. Mungkin kalian yang salah kenali orang. Lihat, gue bukan teman yang kalian maksud. Gue ini ... bukan anak SMA macam kalian lagi. So, mending kalian keluar dari ruangan gue."


Yura berkata dengan serius dan memandang asing kepada ketiga anak sekolah di depannya itu, yang kini sedang terdiam seribu bahasa selama beberapa detik.


Ketiga anak itu kemudian tergelak, bahkan si Jordan alias Jojo sampai duduk di lantai dengan tangan memegangi perutnya yang keram karena tertawa. "Anjir, gue dipanggil 'dek'. Jess aktingnya payah banget."


Widi yang duduk di pinggir ranjang sejak awal telah meredakan tawanya. "Jes, yailah. Lo tuh kenapa sih? Masa ketimpa tangga doang—"


Interupsi Yura malah semakin geli saja nampaknya bagi ketiga bocah sekolah itu. Sungguh membuat Yura semakin jengkel dibuatnya.


"Mending kalian keluar dari sini! Gue mau istirahat!" bentak Yura yang sudah malas meladeni bocah-bocah tidak jelas asal usulnya itu.


"Aseli, akting lo kali ini keren parah sih. Tapi tetap aja, ajak-ajak kali, Jes," ujar Widi.


"Jes apanya—"


Tangan Widi menarik name tag yang terukir di baju seragam yang digunakan oleh Yura sekarang. "Masih bisa baca, 'kan lo?"


Tunggu, seragam? Namanya Jesslyn? Dirinya?


What?


Yura mendadak sadar kalau dirinya sedang menggunakan seragam SMA. Selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya kini dibukanya, dan dia mendapati rok abu-abu cantik di sana. Seketika dia melompat turun dari ranjang karena terkejut dengan keadaannya.

__ADS_1


"Kenapa gue begini? Kenapa gue pakai seragam sekolah?" teriaknya bingung. Menatap satu persatu anak-anak sekolah di depannya yang kini nampak bingung juga. "Dan gue bukan Jesslyn Estelle, sumpah!"


Belum ada sahutan sedikitpun dari ketiga orang tadi. Hanya tatapan meremehkan dan kebingungan yang didapatnya. Mata Yura memindai, lalu menemukan sebuah cermin tergantung di sudut ruangan dan dia bergegas menghampirinya.


"GILA GUE CANTIK BANGET!" serunya saat mendapati wajahnya yang telah berubah. Sumpah, ini bukan wajah Yura yang sedikit kusam dan memiliki dua buah jerawat. Ini wajah yang super cantik, imut, hidung mancung dengan kulit wajah sehalus pantat bayi. Ini jelas bukan Yura! Ini wajah milik orang lain.


Berulang kali Yura menepuk-nepuk pipinya dan berharap kalau ini semua hanya mimpi belaka. Namun berkali-kali dia merasakan sakit karena tamparannya dan akhirnya menyerah.


Oke, mari kita mencerna—


"Jess ... lo kenapa sih?" tanya Kirey pelan dan hati-hati. Kakinya melangkah mendekati Yura yang terduduk di sebuah kursi. Mendadak cewek itu khawatir atas perubahan sikap temannya yang sepertinya ... tidak dibuat-buat. But, siapa yang tahu?


Yura menoleh. Jadi di sini, mereka—anak-anak sekolah itu—tidak sedang salah mengenali temannya. Memang jelas wajah yang Yura miliki sekarang mungkin adalah wajah yang mereka kenali. Akan tetapi, how? Bagaimana ini bisa terjadi?


Ada yang bisa menjelaskan? Yura bingung luar biasa.


"Lo nggak lagi kesambet penunggu belakang sekolah, 'kan?!"


"Mana ada setan yang ngaku, Rey?" sahut Widi.


"Ya siapa tahu. 'Kan bisa aja si Jess lagi kosong jiwanya, terus diisi deh sama makhluk penunggu sekolah. Dalam masalah nggak sih tuh makhluk kalo si Jess udah sadar terus balas dendam?"


"Jess bakalan ngebully setan pake apa?"


"Ya ngusir lah seenggaknya. Ini, 'kan sekolah punya bapaknya, dan donatur terbesarnya adalah calon mertuanya. Tuh setan nggak ada harga dirinya. Bakalan diusir dia dari sekolah ini."


"Jadi sekarang kita bahas setan nih?" sela Jojo. "Setan lebih penting dari Jess?"


Yura masih diam saja.


"Jess, sakit banget ya kepala lo?" kali ini Widi yang bertanya dengan khawatir. Dia ikut menghampiri, begitu juga dengan Jojo turut mendekati Yura.


"Kepala gue nggak terlalu sakit sih," jawab Yura jujur. Memang kenyataan tidak sesuai dugaannya. Harusnya ketimpa pohon besar itu, kemungkinannya kalau nggak mati ya sekarat. Atau minimal remuk kepalanya. Tapi ini, cuma lecet sedikit. Aneh. Benar-benar aneh. "Tapi sumpah gue bukan Jess yang kalian maksud. Ya walaupun gue—" entah gimana menjelaskannya, kalau nyatanya Yura bukan berada di tubuh Yura.


Widi menghambur memeluk Yura dengan erat. "Ahhh, lo kenapa sih denial banget kalo lo bukan Jess, padahal lo adalah Jess."


Yura melerai pelukan cewek itu, risih. Mereka tidak saling mengenal.


Jordan lebih dekat ke Yura, "Jess?" dan cewek yang ditatapnya memang sedang menatapnya dengan asing, tanpa dibuat-buat. "Fix, amnesia si Jess!" putus Jojo yang diangguki oleh dua temannya yang lain.

__ADS_1


Terserah, Yura menyerah. Lagi pula dia juga masih tidak mampu mencerna ini semua. Apa yang terjadi? Hal mustahil apa yang sedang terjadi?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2