With you, Jess

With you, Jess
Bab 8


__ADS_3

"Jemputan lo belum datang?" Jojo bertanya. "Ya udah ikut mobil gue aja."


Jesslyn sedang mengulik ponselnya di tangan. Benda canggih itu sudah dapat ia buka setelah menemukan sebuah buku diary milik Jesslyn di meja belajar. Cukup syok saat mengetahui bahwa kode favoritnya adalah tanggal lahir Vernon. Jesslyn ori memang nggak waras.


"Lo mesti latihan tae kwon do, 'kan, Jo?" tanyanya tanpa mengalihkan matanya dari ponsel. "Tenang, gue mau naik taksi online aja. Mobil gue katanya masuk bengkel."


"Iya tapi masih sempat lah, Jess, kalo gue nganterin lo pulang dulu."


"Nggak usah, Jo,"


Tiba-tiba sebuah motor dengan suara kerasnya berhenti tepat di depan mereka. Jesslyn dan Jojo otomatis menolehkan wajahnya kesana.


"Ayo pulang!" suara Vernon tegas tak terbantah yang ditujukannya kepada siapa lagi kalau bukan Jess?


"Jess bareng gue," sahut Jojo tak kalah tegas. Bahkan dia sudah memegang lengan kiri Jess yang saat ini sedang menggenggam erat ponselnya. Itu tak luput dari pandangan Vernon yang tajam.


"Naik, Jess!" masih dengan Vernon yang memerintahnya.


"Kenapa gue harus bareng lo? Gue mending ikut Jojo," sahut Jess.


Itu membuat Vernon lagi-lagi merasa asing dengan cewek itu. Jess yang kemarin bahkan sudah menunggunya di depan kelas untuk pulang bareng. Jess yang kemarin-kemarin tidak bisa jauh sedikit saja dari dirinya hingga membuatnya muak dan benci dengan gadis itu. Lalu mengapa sekarang dia merasa sangat marah saat Jess jelas menjauhinya? Bukankah seharusnya bagus, persis seperti keinginannya kemarin-kemarin?


Diam-diam Jojo menyunggingkan senyum kemenangan atas jawaban Jess dan itu dapat tertangkap oleh mata Vernon.


"Perasaan tadi pagi ada yang izin sama gue mau bonceng sama lo, Ver." Maksud Jess adalah Maira. Dia menengok kanan kiri mencari keberadaan cewek imut amit-amit itu loh. Tapi nihil. Tidak ada Maira.


"Nggak ada. Om Lucas yang tugasin gue buat antar jemput lo, Jess, kalo lo lupa. Kalo lo atau temen lo itu nggak setuju, mending bilang langsung ke bokap lo."


Jojo membuang nafas kasar. Senyumnya sinis dan matanya melebar. "Yakin lo ngomong begitu sekarang? Kemarin-kemarin lo kemana aja? Bahkan lo pernah mendorong Jess sampai jatuh dan menangis, saking lo keselnya karena Jess maunya nempelin lo terus. Sekarang buat apa lo ngomong begitu kalo nyatanya selama ini lo gak pernah baik sama Jess, hah?"


Jess cukup tercengang dengan ucapan Jojo barusan. Benarkah hal memalukan itu pernah terjadi? Dirinya bucin parah kepada Vernon bukan cerita yang dilebih-lebihkan ternyata. Dasar Jess bodoh! Bisa-bisanya mengejar cowok yang nggak berbudi. Udah jelas wajahnya cantik sempurna, kenapa harus ngemis-ngemis cinta sama si sialan Vernon?


Sumpah, nggak sudi banget rasanya bertunangan dengan cowok jahat itu.


"Naik, Jess," geram Vernon sekali lagi dengan penuh intimidasinya. "Atau lo bakalan mendapati aturan-aturan lain yang lebih ketat dari Om Lucas. Gue jamin lo bakalan menyesal."


Mata Jess menatap Vernon nyalang. Berani-beraninya cowok itu mengancamnya. Selintas perasaan tidak enak muncul karena dia merasa menggunakan tubuh Jesslyn berikut dengan segala fasilitas lengkap termasuk dengan kedua orang tua yang memberikan kehidupan mewah kepadanya. Akan seperti tidak tahu diri kalau dia melawan keindahan hidup yang sedang dijalaninya sekarang.


Gadis itu melepaskan tangan Jojo di lengannya. "Jess—"


"Gue duluan, Jo. Kapan-kapan gue gabung deh sama tae kwon do di tempat lo," ucap Jess sedikit menenangkan sahabatnya itu.


Jess menaiki motor setelah Vernon menyerahkan sebuah helm kepadanya. Dipakainya helm itu lalu dia membuat sedikit jarak agar tidak terlalu menempel dengan punggung Vernon. Bahkan dia segera melepas tasnya dan memindahkannya di depan, agar tubuhnya tidak menempel benar kepada cowok yang luar biasa menyebalkan itu.


Sebelum melaju, Vernon sempat memberikan tatapan tajam kepada Jojo, atau lebih tepatnya kedua cowok itu saling melemparkan tatapan mematikan yang rupanya sudah sering terjadi tanpa sepengetahuan Jesslyn.


 


...----------------...


Si pembajak jiwa Jesslyn alias Yura, memiliki ingatan yang sangat bagus semasa hidupnya. Lalu ketika kemarin Sam mengantarnya pulang untuk kali pertama ia tahu jalan menuju rumah, maka Jess sudah pasti masih ingat betul jalan mana yang dilaluinya tadi pagi walau menggunakan mobil.


Rupanya Vernon malah membelok ke kanan jalan di saat Jess ingat bahwa belokan menuju rumahnya adalah ke kiri.


"Salah jalan, kali."


Tak ada sahutan dari cowok yang fokus mengendarai motor dalam keadaan diam sejak meninggalkan sekolah. Tak lama Vernon menghentikan motornya di depan sebuah rumah, sebelum motor itu melangkah masuk setelah gerbang depan terbuka.


"Ini bukan rumah gue." Jesslyn masih sabar walau menyadari bahwa Vernon tidak membawanya pulang ke rumahnya.


Motor berhenti di garasi yang luas pada sisi bagian rumah itu. Vernon hendak turun tapi menoleh sesaat kepada Jesslyn yang masih diam di posisinya. "Tas lo bikin risih. Turun!"

__ADS_1


"Nggak mau."


"Turun gue bilang!"


"Lo nggak bisa maksa gue buat turun. Ini bukan rumah gue." Jess bersikeras bertahan. "Biar nanti gue aduin ke Papa kalo lo nggak bawa pulang gue ke rumah gue."


Vernon membuang nafas. Kesabarannya bahkan lebih tipis dari tissu kalau harus berhadapan dengan Jesslyn sejak beberapa bulan yang lalu. "Biasanya lo yang datang ke sini secara suka rela alias kedemenan. Sumpah, lo suka banget ke sini, Jess. Tapi kenapa sekarang—" ah, Vernon benar-benar tidak habis pikir dengan perubahan drastis cewek itu. "Emangnya lo amnesia gitu?"


Anggukan semangat yang Jess berikan sebagai jawaban. Tak lupa dia menunjuk perbannya sebagai bukti. Walau sangsi, Vernon berusaha untuk percaya sebab tingkah Jess memang jauh berbeda dari sebelumnya.


"Ya udah turun! Lanjutin amnesianya ntar di dalam rumah."


"Nggak mau. Gue nggak mau turun. Gue mau pulang."


Jess menahan nafas tatkala tubuhnya melayang karena diangkat paksa oleh Vernon agar turun dari motor.


"Gue mau pulang!" seru Jess saat Vernon berjalan meninggalkannya dan sudah siap memasuki rumah—entah milik siapa. Jangan-jangan rumah Vernon?


Diabaikan oleh Vernon membuat hati Jess memanas dan dia berteriak dengan keras, "VERNON, GUE MAU PULANG! Setelah lo paksa gue buat ikut lo dibanding ikut Jojo, sekarang lo malah nggak berniat bawa gue pulang. POKOKNYA GUE MAU PULANG!"


Jess sedikit terkejut dengan sikap frustasinya kenapa seperti merengek? Ini bukan jati diri Yura. Kenapa? Kenapa dia malah terdengar marah yang manja? Ihhh, Jess geli sendiri dengan dirinya.


Namun berkat teriakannya barusan, cowok itu menghentikan langkahnya sembari memegang tengkuknya yang mendadak terasa pegal. Dengan malas dia berbalik langkah dan kembali menghampiri Jesslyn, yang membuat gadis itu mereda marahnya. Namun bukannya menaiki motor, Vernon malah menarik tangan Jess dan memaksanya berjalan mengikutinya untuk memasuki rumah itu.


Jess sekuat tenaga menahan tubuhnya agar tidak terseret. Dia bertahan dengan tangannya yang terus ditarik kuat oleh Vernon. "Gue mau pulang. Lo masih bisa dengar, 'kan, telinganya?" dia sewot, hingga akhirnya kakinya menginjakkan lantai bagian dalam rumah setelah melewati pintu.


"LO JANGAN MAKSA—"


Suara Jesslyn terputus oleh kehadiran seseorang yang dengan sumringah menyambutnya.


"Jess! Apa kabar?" seorang wanita berumur langsung memeluknya dengan senang.


"Baik," sahut Jess singkat dengan suara lebih sopan.


Ha? Baru seminggu doang padahal. Emangnya ini siapa sih?


"Hm, belum sempat." Jesslyn beralasan dengan senyum tersungging sopan.


"Tante kira kamu sedang bertengkar dengan Vernon. Ya walaupun tante tahu kalau kamu cukup sabar dalam menghadapi Vernon yang—"


"Ma," potong Vernon yang sepertinya keberatan dengan ucapan sang mama. Cowok itu berlalu begitu saja menaiki tangga menuju kamarnya.


Oh, mamanya Vernon.


Mamanya Vernon membawa Jess menuju ruang makan yang sudah tersedia banyak makanan di sana. Seketika perut Jess keroncongan karena lapar. Rupanya tidak buruk juga dipaksa datang ke rumah ini sebab disuguhi banyak makanan enak.


"Ayo makan, Jess," ajak wanita itu. "Kamu harus makan, walaupun sedang diet. Lagian tubuh kamu sudah ramping begitu, masih aja diet."


Diet? Jess? Serius?


"Siap, tante." Jess sudah luluh hatinya karena disuguhi banyak makanan. Tidak peduli dengan Vernon yang tak menarik minatnya, melihat makanan melimpah sudah lebih dari membahagiakan. Sorry, Jes, kalo tubuh kita akan memelar.


Setelah menghabiskan makanannya dan perutnya mendadak kenyang, Jess tersenyum manis kepada mama Vernon. "Makasih ya, tante, atas makanannya."


"Iya, sama-sama. Ih kamu makin manis aja sih, Jess. Tante senang banget deh punya menantu kayak kamu."


"Hah?" Rasanya kurang pantas wanita itu bilang begitu kepada anak di bawah umur seperti dirinya.


"Nggak usah kaget begitu. Cepat atau lambat kamu akan jadi menantu tante, 'kan?! Tapi dari sekarang sudah tante anggap seperti itu."


"Kenapa semuda ini sih, tan, kami harus bertunangan?"

__ADS_1


"Lho, kok kayak baru tunangan aja sih kamu. Lagian selama beberapa bulan ini kamu yang paling setuju dengan ikatan ini. Apa jangan-jangan sekarang kamu berubah pikiran? Aduh, Jess. Jangan dong. Biar nanti tante yang ajarin Vernon supaya bersikap baik sama kamu. Kamu jangan marah sama Vernon ya. Eh—ngomong-ngomong kemana itu anak? Kok nggak turun makan? Coba, Jess, kamu susulin Vernon dan suruh makan. Nanti keburu dingin makanannya."


Jess keberatan. "Nggak tante aja yang panggil Vernon?" tanyanya pelan, takut menyinggung wanita itu.


"Kamu aja. Biasanya juga kamu yang wara-wiri ke kamar Vernon. Kalo ada tante, Vernon nggak bakalan berani marahin kamu kok. Ayo sana."


Dengan berat hati, Jess berjalan juga menuju lantai dua dimana kamar Vernon berada. Ya dia tidak tahu sih letaknya, tapi ketuk aja semua pintu yang ada supaya ketemu.


Entah kenapa pada pintu pertama yang diketuknya, Jess dengan tepat mendapati bahwa itu kamar Vernon.


"Apa?" sahutan dari dalam.


"Lo disuruh makan."


Selang beberapa detik pintu terbuka. Tapi bukannya Vernon keluar, cowok itu malah kembali ke kasurnya dan rebahan sambil main game di ponselnya.


Jess masih berdiri di pintu sembari menatap Vernon dan diselingi dengan melihat-lihat isi kamar cowok itu yang cukup rapih untuk ukuran seorang cowok.


"Lo disuruh makan, Ver," ulang Jess saat dilihatnya Vernon yang belum merespon.


"Kalo nyuruh nada suaranya yang enak."


"Apaan? Bukan gue yang nyuruh, tapi nyokap lo." Jess mengernyitkan dahi. "Pulang sekolah bukannya langsung makan, malahan main hape. Nggak kasihan tuh lihat nyokap udah capek-capek masak buat anaknya malah dicuekin. Seenggaknya makan dulu baru main game."


"Bibi yang masak, bukan mama."


"Ya walaupun begitu. Tetap aja lo mesti menghargai orang tua lo,"


"Lo tuh kenapa sih?" Vernon mengangkat pandangan setelah menyelesaikan gamenya. "Centilnya ilang, malah ganti jadi sok tua. Bawel."


"Gue? Centil? Nggak lah. Nggak ada ceritanya gue centil," gerutu Jess pelan yang masih terdengar Vernon.


"Nih, tempat favorit lo kemarin-kemarin," tunjuk Vernon di sisinya. "Di tengah ranjang gue." cowok itu menyeringai apalagi saat melihat Jess melebarkan matanya horor. Semakin senang Vernon mengungkit-ungkit hari kemarin yang dibencinya, tapi sekarang malah disukainya. Suka? Gezzz ... mana mungkin.


"Mana ada gue begitu?" sangkal Jess tak terima.


Vernon melipat kedua tangannya di dada sembari menatap Jesslyn dengan serius. "Lo beneran amnesia?" dia hampir percaya, tapi belum.


"Ya iyalah."


"Pantesan lo ... agak berubah. Kok bisa sih? Cuma ketimpa tangga gitu doang,"


"Cuma?" ya memang cuma tangga kalau sebagai Jesslyn, tapi kalau sebagai Yura ... ketimpa pohon segede gaban. Masih untung jiwanya melayang-layang, bukan mati. Mendesah pelan, Jess berkata, "Mending lo makan. Ditunggu sama nyokap lo tuh."


Vernon diam sesaat dengan pikirannya. "Gue mau makan, tapi—" tangannya menunjuk pipinya sendiri. "Hampir tiap hari lo cium paksa pipi gue. Tapi ini udah tiga hari lo belum ada maksa cium gue. Sini," suruhnya. "Cium pipi gue dulu baru gue mau makan."


Jess menatap Vernon datar. Dasar bocil. "Jadi kemarin-kemarin lo tuh cuma pura-pura nggak suka waktu gue cium, gitu? Terus sekarang lo malah minta. Jadi lo muna?"


Vernon menarik salah satu sudut bibirnya. "Berarti lo inget?"


"Nggak. Gue cuma sedang menyimpulkan."


"Hm, jujur kemarin-kemarin gue benci banget sama lo, Jess. Tapi entah kenapa setelah lo berubah begini, gue merasa ..."


"Apa?"


"Nggak suka."


"Yaelah, sama aja."


"Nggak suka lo berubah."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2