
Pagi itu lagi-lagi terasa berbeda menurut Kirey dan Widi yang ditemui Jess setelah dia tiba di kelas. Kedua sahabatnya itu melihatnya tadi sewaktu Jess datang dan keluar dari dalam mobil Vernon.
"Apa lagi sekarang?" tanya Jess santai setelah meleletakkan tasnya. Semenjak seluruh ingatannya balik semalam, diam-diam dia mengamati satu persatu temannya itu. Mengingat semua yang sudah terjadi sekaligus melihat betapa lucunya teman-temannya yang selalu kebingungan.
"Kenapa kalian bareng?" pertanyaan Widi sudah jelas maksudnya ke siapa.
"Kayak lihat pertama kali aja, Wid."
"Tapi kali ini beda, Jess,"
"Ya memang beda. Kalau biasanya gue keganjenan dan kesenengan nemplokin Vernon, tapi kali ini nggak. Nothing much."
Kirey duduk di atas sebuah meja dengan tangan terlipat di dada. "Entah kenapa kalian terlihat ... serasi?" cewek itu nampak ragu dengan pemilihan katanya sendiri. "Terlepas dari seberapa ganteng Vernon dan seberapa cantiknya lo, Jess, kalian emang pas, cocok, serasi. Tapi sejarah mengatakan kalau lo dan dia nggak usah lah bersama apalagi terikat lebih jauh. Karena dia nggak pantas buat lo."
Jess mengangguk setuju. "Setuju. Gue udah nggak mikirin mesti ngapain sama dia. Karena gue punya masalah sendiri yang mesti gue pikirin," katanya sedikit murung.
"Masalah apa?" tanya Jojo yang sejak tadi matanya fokus ke layar ponselnya.
Sebuah gelengan Jess berikan meskipun Jojo tak melihat ke arahnya. Masalah kedua orang tuanya yang baru saja memenuhi kepalanya semalam, tak akan dia bagikan ke siapapun juga termasuk teman-temannya.
"Masalah orang tua lo?" Jojo sekarang mengangkat pandangannya untuk melihat ke arah Jess yang sedikit melebarkan matanya. Rupanya Jesslyn yang ori sudah membicarakan aib orang tua sendiri kepada orang luar rumah. Huh, itu bukan gaya Jess yang suka cerita aib kemana-mana. Tapi bahkan dia melupakan bagian dimana Jesslyn telah bercerita kepada Jojo.
Hanya anggukan yang Jess berikan. Setelah itu dia beranjak ke toilet untuk sekedar cuci tangan dan merapihkan rambutnya. Widi dan Kirey tidak ikut karena keduanya sudah fokus pada sebuah akun medsos artis yang mereka gandrungi. Masalahnya artis itu tiba-tiba deact ig dan membuat penggemar sejagat rayanya heboh luar biasa.
"Kak Jess, apa kabar?" suara seorang cewek yang terdengar sok akrab tiba-tiba membuatnya menoleh.
Ada Maira di sana sedang berdiri di depan cermin setelah menutup keran yang digunakannya untuk cuci tangan. Sebuah senyum manis tersungging di bibirnya, namun tidak sampai ke matanya, alias fake smile.
Jess sadar betul akan hal itu. Sejak kemarin saat dia belum mengingat semua kehidupan Jesslyn pun dia memang langsung tak suka dengan adik kelasnya itu. Apalagi setelah semalam memori kehidupan Jesslyn memenuhi kepalanya bertubi-tubi. Sudah jelas kalau dia muak dengan Maira yang tidak pernah berbuat jahat secara terang-terangan, tapi aslinya bermuka dua, manipulatif dan penyihir. Itulah mengapa Jesslyn ori yang selalu membully Maira dan cewek-cewek lain yang sejenisnya, meskipun akibatnya cap buruk malah melekat kepada Jesslyn.
"Lo bisa lihat gue utuh," sahut Jess dingin sembari fokus menatap ke cermin. Perbannya yang telah dilepas dan menyisakan segaris luka hampir sembuh yang dibiarkannya terbuka. Diusap pelan luka itu dengan menduga-duga dalam beberapa hari akan benar-benar sembuh.
"Kemarin aku dijemput Ibu makanya nggak jadi ikut nebeng motor Kak Vernon." suara Maira yang mendayu-dayu manja membuat Jess menahan mual. Namun Jess tetap mengabaikannya. "Tapi hari ini aku benar-benar mau nebeng Kak Vernon lagi kayak biasanya. Nggak apa-apa, 'kan, Kak Jess?"
__ADS_1
"Terserah."
Maira tersenyum lagi. "Kak Jess nggak marah, 'kan?!"
"Nggak."
"Kalo aku berniat nembak Kak Vernon, apa Kak Jess nggak marah juga?" nada suaranya terdengar ragu dan takut-takut. Tapi saat Jess menoleh, ekspresi Maira biasa saja.
"Terserah."
"Yakin, Kak?"
"Kalo gue bilang terserah ya terserah. Bisa nggak lo jangan berisik!" bentak Jess sembari menoleh dan memberikan pelototannya sebelum kesabarannya yang tak lebih tebal dari tissu itu segera habis.
"Aku ..."
Jess selesai dengan urusannya di toilet. Dia berjalan keluar dengan sedikit senggolan kasar pada bahu Maira saat dilewatinya.
...----------------...
Rasa malu lah yang Jess rasakan saat ini. Bagaimana bisa dirinya menjadi tersangka pelaku kenakalan padahal bukan jiwanya yang melakukannya. Riwayat perbuatan Jesslyn terhadap orang lain ternyata demikian buruknya.
"Sorry, Jess, sorry. Gue nggak sengaja," cicit Mindi, anak kelas sebelah yang pernah dijajah oleh Jess sedemikian rupa.
Jess ingat, waktu itu Mindi tidak sengaja menyiprat pel-an yang rupanya mengenai rok Jesslyn. Sebagai balasan, Jesslyn menyiram Mindi dengan seember air bekas pel. Itu bahkan terjadi selama beberapa hari dengan dalih sampai Jesslyn merasa puas hatinya. Hingga akhirnya dia malah membuat si Mindi jatuh sakit dan tidak sekolah selama beberapa hari. Lalu apakah Jesslyn merasa bersalah? Tidak sama sekali. Baginya, pembalasan harus lebih kejam dari pada perbuatan.
Siapa yang berani melawannya? Tidak ada.
"Maaf, Jess ..." Mindi bahkan berlutut sekarang. Wajahnya menahan tangis. Karena dia begitu trauma dengan kejadian di waktu lalu. Sedikitpun dia tidak berniat untuk mencari masalah lagi dengan seorang Jesslyn. Bahkan sebisa mungkin dia menghindari yang namanya Jesslyn dan genknya.
"Bangun, Min," suruh Jess dengan kening berkerut. Diliriknya sekeliling yang nampak sedang fokus ke arahnya. Menjadi pusat perhatian adalah kesukaan Jesslyn ori, sedangkan jiwa Yura tidak pernah menyukai yang namanya pusat perhatian.
"Ampun, Jess, gue nggak sengaja."
__ADS_1
Bahkan teman-teman Mindi tidak ada yang berani menolong karena benar-benar tidak ingin berurusan dengan seorang Jesslyn.
"Bangun gue bilang!"
Mindi menggeleng panik karena suara Jess yang mulai meninggi. Tangannya memeluk sebelah kaki Jess sembari memohon ampun yang tiada akhirnya.
"MINDI! BANGUN! GUE NGGAK NGAPA-NGAPAIN LO!"
Tiba-tiba Maira datang menghampiri Mindi dan merangkul lengan kakak kelasnya itu. "Kak Mindi, Kakak nggak apa-apa, 'kan?! Yuk, bangun. Nggak boleh merendah begini." cewek itu bertingkah sedang mengkhawatirkan kakak kelasnya yang Jess tahu pasti kalau mereka tidak pernah dekat.
Namun Mindi masih bersikeras memegang erat tungkai kiri Jess karena takut dengan pembalasan yang akan diterimanya. Trauma dirundung oleh Jess amat membekas baginya.
"Sorry, Jess, sorry ...." Mindi benar-benar hampir menangis.
"Kak Jess jangan lihatin Kak Mindi kayak gitu. Dia jadi semakin takut sama Kakak," ucap Maira pelan tapi Jess amat paham maksud dari cewek manipulatif itu.
"Heh, gue nggak ngapa-ngapain," pungkas Jess kepada Maira. Dia tidak terima dijadikan seolah-olah sedang membully Mindi.
"Bukan nggak, tapi belum," sangkal Maira dengan lemah lembut. Itu membuat Mindi semakin panik. Sedangkan Jess berusaha menahan emosi yang melanda akibat dari perkataan sok tahunya Maira. Ini murni emosi milik Jesslyn ori yang selama ini ada.
"Ampun, Jess. Ampun. Jangan siksa gue lagi. Ampun ...."
"Ada apa ini?" tanya seorang guru BK yang biasa anak-anak panggil dengan 'Pak Ruddi'. Laki-laki itu telah berdiri ke tengah untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.
"Nggak, Pak. Biasa," sahut Maira lebih dulu dengan suara lembutnya. 'Biasa' yang dimaksud olehnya adalah hal yang biasa Jess lakukan selama ini dan benar-benar menjadi biasa diketahui oleh semua orang.
Seolah Jess anak kecil yang selalu berbuat onar, maka seakan sebiasa itu Maira menjawab siapa saja yang bertanya apa yang sedang terjadi. Terlebih Jesslyn memang selalu berbuat onar kepada siapapun.
"Jess, kamu berbuat apa, Nak?" Pak Ruddi ingin mendisiplinkan Jess tapi tidak pernah bisa maksimal. Ingin memarahi tapi tidak boleh nampak marah. Bagaimanapun Jess merupakan siswi yang special karena status orang tuanya.
"Biasa, Pak Rud," tekan Maira sekali lagi. Meskipun suara lembutnya mendominasi, tapi Jess paham betul maksud perkataan Maira. Tapi dia diam saja. Rasa enggan membela diri lebih kepada penyesalan atas yang sudah terjadi sebelum-sebelumnya.
"Jesslyn ikut saya," perintah Pak Ruddi yang tidak dibantah sedikit pun oleh Jess.
__ADS_1
...----------------...