
Jordan berjalan paling akhir setelah ketiga gadisnya berjalan kembali ke kelas lebih dulu, begitu makanan mereka habis tak bersisa. Langkahnya sengaja dia hentikan di dekat meja Vernon dan kawan-kawannya berada, tanpa repot-repot menoleh pada mereka yang ditujunya.
"See, Jess sudah move on dari lo," desisnya kepada seseorang yang ditujunya. Siapa lagi kalau bukan Vernon?
Begitu Jordan berlalu, genk cowok paling disegani yang diketuai oleh Vernon pun menjadi heboh lagi membahas yang sedang menjadi perhatian semua orang.
"Si Jojo ngomong sama siapa, njir?" Tora berdecak malas. Sebenarnya tidak ada gunanya juga berhubungan dengan genk Jesslyn yang walaupun cantik-cantik—kecuali Jordan—tapi suka bikin onar.
"Ya buat Vernon lah," sahut Gavin yakin. "Emang siapa lagi yang statusnya masih sama si Jess ratu iblis?"
"Emang aneh banget si Jess barusan," kata Sam menimpali. "Masa dia nggak sedikitpun notice lo, Ver. Yang biasanya udah nempel-nempel manja, ini malah kayak nggak kenal sama sekali. Aneh banget, sumpah."
"Kayak nggak kenal si Jess aja lo, Sam," sahut Leon. "Dia tuh cewek yang penuh taktik. Licik. Nggak sekali dua kali rencananya gila banget. Mana nggak pandang bulu. Siapapun dibasmi. Lihat, 'kan, kepalanya ketiban tangga begitu emang akibat apa kalo bukan ulah jahatnya? Kena karma dia."
"Nah terus barusan waktu anak kelas sepuluh hampir nabrak dia, semua orang lihat, 'kan gimana kalemnya dia. Aseli, aneh parah si Jess."
"Komen kali, Ver," protes Tora setelah menyikut pelan Vernon yang sejak tadi diam saja menatap layar ponselnya, tanpa ada minat sedikitpun mengomentari cewek yang sedang menjadi topik hangat.
"Nggak penting. Bukan urusan gue," sahut Vernon dingin. Apapun yang berhubungan dengan Jesslyn memang sebisa mungkin dia enggan menimpali. Selain memalukan karena jahatnya cewek itu, sudah tentu dia selalu disangkut-pautkan atas apa saja perbuatan Jesslyn. Muak? Sudah pasti. Bagaimanapun cara cewek jahat macam Jess untuk menarik perhatiannya, Vernon sudah kebal.
"Tapi hari ini lo belum dibelai si Jess, Ver," ledek Leon. "Aseek, dibelai nggak tuh." salah satu cowok berambut berantakan itu tergelak bersama yang lainnya.
"Jangan-jangan beneran si Jess udah move on dari Vernon?" Tora menyusul gelak tawanya. "Gila, gila, kiamat sudah dekat kalo Jess berpaling dari Vernon."
"Apa jadinya Vernon tanpa Jess?" sahut Leon.
"Apa jadinya Jess tanpa Vernon?" timpal Sam.
Memang paling senang mereka menggoda Vernon yang selalu ketempelan Jess di manapun dan kapanpun. Seperti nyamuk atau lalat saja tingkahnya Jess bila di dekat Vernon. Sudah diusir, dihina, dicela, tapi nggak kapok sedikitpun. Tetap bucin level dewa kepada Vernon seorang.
__ADS_1
"Ya udah sih, siapa tahu abis ini Vernon dapet cewek baik-baik, ya, 'kan?!" Gavin dan mereka semua memang tidak suka dengan Jesslyn, sekalipun cewek itu nyatanya adalah cewek paling cantik satu sekolahan.
"Maira boleh kali ya, Ver?" goda Tora. "Cewek kayak Maira itu membuat naluri kita untuk melindunginya tuh kayak auto gitu. Pas kayaknya kalo Maira. Atau nggak si Berliana juga oke. Bohay."
Orang yang dibahas masih kalem sembari membuka akun medsosnya. Memang biasa seperti itu kelakuan teman-temannya. Sudah bukan hal baru kalau gatelnya Jesslyn menjadi bahan ledekkan genk mereka.
Vernon sudah seratus persen muak terhadap Jesslyn yang statusnya terlanjur sebagai tunangannya. Hanya tinggal menunggu waktu sampai dia memutuskan pertunangan konyol, ulah kedua orang tuanya itu.
Bagaimana dia tidak muak pada gadis sejahat Jesslyn dan teman-temannya yang semuanya adalah iblis, tukang bully, tukang pembuat onar, dan suka cari perhatian. Setiap hari selalu nempel-nempel alias ngejar-ngejar Vernon tanpa tahu malu. Namun kecuali hari ini, yang sejak pagi hingga jam istirahat kedua, Vernon belum merasakan adanya gangguan dari cewek itu. Syukurlah.
...----...
Mampus. Jesslyn sekarang berdiri sendirian di depan gerbang sekolah pada jam pulang. Tadi dia mampir ke toilet dulu sebentar sebelum pulang, untuk membersihkan mukanya yang terasa kusam. Sayang, 'kan, wajah udah sedemikian cantik begini masa tidak dirawat? Yura si pembajak tubuh Jesslyn merasa kalau wajah cantik itu harus dia rawat dengan baik.
Widi, Kirey dan Jojo memang sudah memiliki jemputan masing-masing sepulang sekolah. Itu sudah biasa. Tapi ketiganya melupakan sebuah fakta bahwa hari ini Jesslyn adalah sosok baru yang tidak mengerti apa-apa tentang dunia Jesslyn sendiri, si cantik nan perfect. Oleh sebab itu sekarang dia melongo karena tak tahu bagaimana caranya untuk pulang.
"Gue mesti pulang kemana, ya ampun?" gumamnya menahan panik.
Oke, lupakan ponsel yang tidak berguna. Sekarang Jesslyn mesti memikirkan sebuah alamat yang seharusnya menjadi tujuannya pulang. Tapi, dia mesti bertanya kepada siapa? Ya ampun, memalukan banget kalau bertanya ke orang lain dimana alamat rumahnya sendiri. Jess tidak segila itu untuk berbuat yang dapat memalukan dirinya, maka biar dia memikirkan sejenak caranya agar bisa pulang.
Vernon beserta teman se-genknya sudah bersiap pulang dengan mengendarai motor mereka masing-masing, yang kini posisinya tak jauh dari tempat Jesslyn berdiri.
"Vernon!"
Suara seseorang membuat Jesslyn ikut menoleh juga. Ada gadis yang sedang berdiri di dekat motor-motor siap jalan itu. Dia memperhatikan bukan maksud kepo, tapi ya refleks aja sih.
"Aku boleh numpang, nggak?" tanya seorang cewek dengan lembutnya. Tipe-tipe putri manja yang bikin gemas. "Aku mau pergi ke tempat les. Nggak jauh kok dari sini,"
Entah apa hanya perasaan Jesslyn saja kalau si cowok yang sedang didekati cewek itu sempat melirik ke arahnya barusan.
__ADS_1
Nggak mungkin. Nggak kenal juga. fiuh.
Dia melengos dan kembali menatap jalanan seraya mencari pencerahan mengenai alamat rumahnya.
"Jess, tumben belum pulang?" salah seorang yang memakai motor itu bertanya kepada Jesslyn. Dia kenal Jess tapi Jess tidak kenal dia. "Nggak nemplok ke Vernon nih? Eh tapi kayaknya Vernon udah punya tumpangan tuh, si Maira."
Jesslyn hanya mengangkat kedua alisnya karena bingung. Ayolah, Yura si pembajak benar-benar anak baru di sekolah ini, walau wujudnya princess sekolah dalam bentuk Jesslyn. Tapi dia benar-benar nggak ngerti maksud cowok itu kenapa berkata demikian. Jadi dia hanya bisa abai tidak peduli.
"Apa mau ikut gue nih? Ya kali aja lo mau diantar sama selain Vernon." Sam menawari sambil terkekeh ditimpali oleh yang lain dengan kekehan yang sama.
Tawaran basa basi itu membuat Jess mempertimbangkannya. Bisa dicoba sepertinya. Kemungkinan cowok itu tahu alamat rumah Jess, bukan?! Supaya dia bisa pulang dengan segera.
"Gue boleh ikut lo?" Sahutan Jesslyn tak ayal membuat semua cowok di sana melongo sekaligus terkejut. Siapa yang tidak kenal dengan bucin Vernon nomor satu itu. Si cewek paling cantik sekaligus paling jahat yang biasanya hanya memuja Vernon seorang, kini malah menerima tawaran main-main si Sam.
"Serius, Jess?"
"Whoaa ..." sahutan dari yang lain menjadi riuh.
Vernon menoleh ke arah Sam dan yang lainnya, dengan seseorang di belakangnya yang kini sudah duduk dengan wajah berseri-seri ... Maira.
"Serius," jawab Jesslyn yang mendekat ke arah Sam. "Lo kenal gue, 'kan?!" tanyanya berusaha meyakinkan. Dia mesti bertingkah seolah ingat dengan semuanya. Mana mungkin dia mengaku kalau sebenarnya dia sama sekali tidak kenal siapa-siapa di sini.
"Lo kenapa, Jess?" Sam bertanya karena sedikit bingung dengan tingkah gadis itu yang terasa asing. Jesslyn yang biasanya angkuh, sombong, dan liar tak tersentuh kecuali dengan Vernon, kini seperti sedang menahan diri. Apa itu bagian dari rencana jahat gadis itu? "Lo nggak sedang mengincar gue sebagai target kejahatan lo, 'kan?!"
Jesslyn menjadi terbiasa dengan sangkaan buruk orang terhadapnya, yang katanya akan melakukan sebuah kejahatan. Dia masa bodoh. Segera saja dia menaiki motor Sam setelah sempat membuka sedikit jaket cowok itu, agar dia dapat melihat namanya.
"Samuel Ardhana, ayo antar gue pulang!"
Walau kaget, tanpa banyak omong lagi, Sam mulai melajukan motornya. Sebelum benar-benar meninggalkan area depan sekolah, cowok itu sempat berkata kepada temannya, "Ver, gue duluan!"
__ADS_1
Bersamaan dengan Jesslyn yang menoleh ke arah Vernon juga, tapi dengan tatapan biasa saja. 'Kan saat ini dia memang tidak mengenal seorang pun yang ada di sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...