With you, Jess

With you, Jess
Bab 6


__ADS_3

Happy Reading!


 


Jesslyn mendengar pintu kamarnya diketuk yang membuatnya membuka mata perlahan. Melirik jam dinding, rupanya sekarang sudah berganti hari. Setelah semalam dia terlena pada kenyaman kamar tiada tara, yang tak pernah didapatinya seumur hidupnya.


"Enaknya jadi Jesslyn," gumamnya seraya menggeliat bangun dengan enggan.


"Jesslyn! Jess! Kamu sudah bangun?" suara di luar pintu memanggilnya.


Jesslyn menebak, apakah itu si bibi? Ah bukan. Bibi memanggilnya dengan sapaan 'Non' kalau dia tidak salah ingat. Lalu kiranya siapa yang sedang membangunkannya sekarang? Dia tidak ada ide. Sejak kemarin pulang ke rumah ini, hanya ada bibi yang ditemuinya. Juga si cowok kurang ajar yang nggak punya sopan santun memasuki rumahnya. Tidak ada penghuni yang lainnya. Meskipun dia bertanya-tanya, dimana kedua orang tua Jesslyn?


Menghapus rasa penasaran memang sudah seharusnya dia langsung membuka pintu saja untuk mendapatkan jawabannya.


Jesslyn mengerjap. Wanita yang berdiri di hadapannya sekarang begitu cantik. Ah, secantik dirinya tentu saja. Maka itu artinya, "Mom—"


Wanita itu menyentuh pelipis Jesslyn dengan tatapan khawatir. "Maafkan Mommy ya. Semalam Mom nggak sempat ke kamar kamu untuk melihat luka kamu ini. Gimana, masih sakit?"


Ah rupanya benar, ini mommy Jesslyn. Untung saja dia tidak salah panggil menjadi 'tante'.


Jesslyn menggeleng. "Udah nggak sakit, kok," sahutnya dengan sebaris senyum manis. Sudah sewajarnya begitu, 'kan kepada ibunya sendiri.


"Mom sudah diceritakan kejadiannya sama kepala sekolah kamu. Tentu mom khawatir, tapi rapat penting nggak bisa mom tinggalkan begitu saja. Sudah, sekarang kamu mandi dan bersiap ke sekolah. Mom tunggu sarapan ya." wanita itu tersenyum hangat sebelum beranjak dan tak lupa meninggalkan sebuah kecupan di kepala Jesslyn.


Tak butuh waktu lama ketika Jesslyn telah siap dengan seragam SMA lagi, lalu bergabung dengan Paulina di meja makan. Baru saja dia menempati kursi saat dirasa sebuah kecupan di atas kepalanya. "Morning, sayang."


Jesslyn menoleh pada suara bariton itu. Pria tegap nan tampan lah yang barusan mengecup kepalanya. Matanya mengikuti ketika pria itu melakukan hal yang sama terhadap mommy-nya.


"Morning."


"Morning."


"Bagaimana kepalamu, sayang?" tanya pria itu sembari mengerutkan keningnya.


"Baik-baik saja," sahut Jesslyn datar. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana selain sopan.


"Jangan manjat-manjat apapun lagi. Paham?"


Dia mengangguk. Kalau tidak salah tebak, sudah pasti pria ini adalah ayah dari Jesslyn. Maka sudah terjawab dari mana asalnya wajah cantik Jesslyn, kalau bukan warisan dari perpaduan kedua orang tua yang cantik dan tampan.

__ADS_1


"Jess,"


"Ya?"


"Kenapa kamu lebih diam pagi ini? Biasanya kamu akan bercerita panjang lebar tentang Vernon, Vernon dan Vernon."


Siapa itu Vernon?


"Vernon?" Jesslyn membeo. Siapa lagi itu?


"Kata bibi, kemarin sore Vernon main ke sini? Setelah hampir sebulan Mom tidak pernah mendengar kalau dia berkunjung ke rumah selain hanya sampai depan pintu. Apa kalian baik-baik saja?" Paulina yang bertanya.


Ah, rupanya cowok minus sopan santun itu adalah si Vernon Vernon. Ngapain juga dia mesti membicarakan cowok kasar itu?


"Iya, mom."


"Dad harap kalian semakin saling mengenal loh," tambah Lucas. Pria blasteran Inggris-Padang itu menatap sang putri cukup teliti.


Menurut pengalaman penghuni jiwa Jesslyn, dari sekian banyak novel yang pernah dibacanya, kalau dia tidak salah sangka maka Vernon di sini adalah sebagai tunangannya. Tapi semoga saja bukan. Jangan cowok itu, please.


"Weekend kita akan dinner dengan keluarga Aghastara. Sekalian melihat perkembangan kedekatan hubunganmu dengan Vernon."


"Dad, bukankah itu terlalu cepat? Terlalu serius? bahkan usia kami masih enam belas tahun." Jesslyn dengan ragu mengungkapkan hal yang tidak semestinya terjadi kepada anak remaja macam dirinya. Di bawah umur dua puluh tahun tapi pembahasan seolah akan mengadakan acara lamaran yang tidak diperuntukkan remaja macam dirinya. Kenapa orang kaya seperti mereka malah memiliki pemikiran yang sempit?


Pria itu mengerutkan keningnya. "Sweety, mengapa kamu terdengar seakan menolak pertunangan kalian? Aneh, bahkan sampai kemarin pagi kamu masih memiliki minat yang luar biasa untuk memiliki hubungan jangka panjang dengan Vernon. Why? Seperti ada yang salah di sini?"


Jesslyn menghela nafas. "Sejak kepalaku tertimpa tangga, aku memang agak–mungkin banyak melupakan segala sesuatu di luar kendaliku. Sorry, Dad."


Kernyitan di wajah Lucas perlahan memudar. "Ah ya ... kalau begitu nanti sore kamu segera menemui dokter Aryogi. Dad harus memastikan kalau lukamu tidak seserius itu, sayang." Jesslyn mengangguk pelan. Memang dia bisa apa lagi? "Mengenai hubunganmu dengan Vernon memang harus terus dipertahankan sampai kalian cukup umur untuk meresmikannya. Hubungan baik kita dengan keluarga Aghastara memang harus selalu dijaga selamanya. Ini yang harus terus kamu ingat."


"Tidak apa-apa, sayang. Mom dan Dad akan selalu mengerti masalah remaja seperti kalian. Hanya saja, diluar dunia bebas kalian, kamu dan Vernon mesti selalu ingat kalau ada pertunangan yang tidak akan pernah berubah apapun yang terjadi," tambah Paulina dengan senyumnya.


Entah Jesslyn mesti merasa apa. Cowok brengsek macam Vernon kok bisa-bisanya malah menjadi tunangannya. Terlepas dari wajah tampan dan tubuh atletis yang dimiliki cowok itu, sepertinya tidak ada hal lain yang dapat dibanggakan dari seorang Vernon. Jangan-jangan Vernon tidak punya otak, 'kan?! Siapa yang tahu!


Tapi Jesslyn tidak peduli. Dunia novel memang seperti itu, bukan? Setelah cantik dan kaya, maka akan ada seorang tunangan di dalam ceritanya. Lucu, ternyata begini rasanya mengalami itu semua.


...-------------------------...


Kedatangan Jesslyn pagi itu entah mengapa begitu menarik perhatian. Gaya cool, badas, dan dingin yang dia tampilkan memang tidak biasa bagi penghuni sekolah yang biasanya melihatnya penuh keangkuhan. Sombong, laknat dan bikin benci, begitu biasanya pemandangan yang Jesslyn hadirkan setiap harinya di sekolah. Namun kali ini berbeda, tatapannya yang datar rupanya malah menarik semua mata untuk memandangnya. Ada apa gerangan dengan Jesslyn? Sedikit lebih kalem dari tingkah biasanya, malah membuatnya lebih memiliki aura yang menarik.

__ADS_1


Padahal, Jesslyn tidak merasa special, menurutnya tampilannya biasa-biasa saja.


Menyibak rambutnya begitu ia menutup pintu mobil yang barusan mengantarnya, Jess mendapati Kirey dan Jojo sudah menghampirinya.


"Ada yang beda." Kirey menyilangkan kedua tangannya di depan dada seraya menatap Jesslyn dengan seksama. "Entah kenapa aura lo pagi ini amat berbeda."


"Lebih dewasa," tambah Jojo. "... dan kalem, sialnya."


"Ini bukan Jess banget," lagi, Kirey berdecak. "Agak menyeramkan tapi anggun."


"Kalian ngomong apa sih? Gue biasa aja." Jesslyn mulai melangkah dengan tatapan lurus tanpa berniat membalas tatapan anak-anak lain yang jelas sedang menatapnya. Hatinya juga tidak merasakan apa-apa meskipun kalimat temannya itu memiliki kata pujian.


"Lo nggak biasa," kekeuh sahabatnya itu. "Ya walaupun kita-kita tau kalau ingatan lo agak terganggu. Apa jangan-jangan lo udah ingat lagi semuanya?"


"Belum," sahutnya singkat. "Gue yang biasanya jahat ya?" tanyanya santai. "Pasti jahat. Pasti menyebalkan dan dibenci."


"Memang itu jati diri kita," timpal Jojo dengan seringai. "Iblis adalah nama tengah genk kita, Jess."


"Bahkan Vernon nggak berhak mengganggu kekuasaan lo," tambah Kirey. "Ya walaupun lo bucin sama dia."


"Nggak lagi."


Kirey melongok. "Ha?"


"Gue nggak ada rasa apa-apa sama si brengsek Vernon itu."


Langkah mereka telah sampai di lorong. Sebentar lagi mereka akan melewati kelas Vernon, sebelum tiba di kelas mereka sendiri.


"SERIUS?" Kirey membelalak tak percaya. Seperti hal yang mustahil kalau seorang Jesslyn udah nggak bucin lagi kepada Vernon. Temannya itu sudah lama mengidap yang namanya penyakit cinta buta. Sebanyak apapun kalimat keji yang Vernon lontarkan, bahkan lakukan, tak satupun yang membuat Jesslyn surut dalam mengejar cowok itu. Seolah Jess memang tidak memiliki harga diri.


"Bagus. Satu masalah selesai," sahut Jojo enteng. Memang dia yang paling tidak suka melihat bagaimana gilanya Jesslyn dalam mengejar-ngejar Vernon setiap harinya. Mau muak juga gimana, sebab cewek itu adalah sahabatnya. "Ada untungnya ingatan lo hilang, yang turut serta menghilangkan kegilaan lo akan si Vernon brengsek."


"Betul. Dia brengsek." Jesslyn amat setuju. Karena sedikitpun dia tidak tertarik melihat cowok tampan yang satu itu.


Langkah ketiganya tiba-tiba terhadang saat melintasi ruang kelas Vernon yang bersebelahan dengan ruang kelas mereka. Cowok paling ganteng satu sekolahan itu menatap Jesslyn dengan tajam.


Apa Jesslyn takut? Sama sekali nggak. dia balik menatap Vernon dengan tatapan datar. Tangannya menyilang di dada seolah menantang.


"Ayo, Jess," tarik Jojo sebab dia muak melihat Vernon yang sok mengintimidasi Jesslyn.

__ADS_1


Jesslyn hendak menurut saja kepada Jojo sampai lengannya dicekal seseorang. Siapa lagi ... Vernon pelakunya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2