With you, Jess

With you, Jess
Bab 3


__ADS_3

Hobi Yura adalah membaca. Apapun dia lahap sebagai bacaannya, terutama kalau itu berbentuk komik dan novel. Oleh sebab itu Yura tahu betul tema apa yang sedang hot dalam dunia pernovelan saat ini.


Berkali-kali dia membaca cerita yang bertemakan perpindahan jiwa. Semua memiliki alur yang hampir sama, tapi dengan konflik yang berbeda-beda. Yura hafal garis besar tema cerita itu. Meskipun sebagian besar memiliki gambaran awal yang selalu sama, namun Yura tetap saja membacanya. Dia tertarik. Sedikit banyak pikirannya berandai-andai bila dirinya yang mengalami hal serupa, maka alangkah indahnya hidupnya. Masalah yang tengah dihadapinya dapat ia tinggalkan walau sebentar saja.


Lalu ketika tiba-tiba dia mendapati kisah itu menjadi kenyataan seperti sekarang, Yura benar-benar syok dan tak mampu berkata-kata. Berulang kali dia mencoba menyangkal dan mengatakan kalau ini hanya mimpi belaka. Tapi pada kenyataannya, sekarang dia benar-benar hidup dengan menempati raga gadis lain, persis di dalam sebuah novel. Bedanya, dia tidak tahu novel mana yang sedang dia jalani kehidupannya.


Oke, Yura akan mencerna pelan-pelan. Ya, pelan-pelan saja. Sebab hal ini terlalu besar menimpa nasibnya yang sedang dalam kondisi menyedihkan. Anggap saja iklan, selingan, atau mimpi. Baiklah, anggap sebagai mimpi saja.


"Hm, kayaknya gue emang—amnesia, mungkin?" Yura menatap ketiga orang yang sepertinya adalah temannya itu.


"Masa ketimpa tangga yang nggak terlalu berat aja bisa amnesia sih, Jess?" Jordan alias Jojo masih tidak percaya.


Ya iyalah, Yura sendiri juga nggak percaya ini bisa terjadi. Dia membajak raga gadis cantik? Wow, sepertinya menyenangkan. Selain itu, yang Yura ketahui dasar-dasar perpindahan jiwa adalah ... pertama, raga yang dibajak biasanya adalah gadis super cantik, kaya raya dan antagonis. Yakin, Yura di sini pasti menjadi tokoh antagonis.


Sepertinya tidak sulit menjadi tokoh antagonis. Secara, aslinya Yura memang agak jutek selama ini. Tapi dia tidak pernah jahat. Hanya jutek, cuek, dan sulit beramah tamah kalau tidak akrab dengan seseorang. Bukan berarti dirinya hendak menjadi tokoh jahat. Sama sekali nggak. Sepanjang pengetahuan cerita yang sering dibacanya, perpindahan jiwa ini mesti ada satu misi, yang apabila dapat ia selesaikan maka ia bisa kembali pada kehidupan aslinya.


Walau bagaimana beratnya, Yura tetap ingin kembali pada tubuh aslinya. Apa adanya.


Nah, kira-kira apa masalah si Jesslyn ini mampu Yura selesaikan?


Let's see!


"Kok bisa gue ketimpa ... tangga?" tanya Yura ingin tahu apa yang terjadi dengan si Jesslyn ini.


Widi memutar bola matanya. "Ah payah, Jess beneran amnesia ih kayak di sinetron. Lo tuh lagi nyiapin jebakan air pel buat si Maira. Lo naik ke tangga di belakang sekolahan buat letakkin ember isi air kotor itu. Tapi malangnya, lo kepeleset jatuh dan tertimpa tangga. Sial beruntun dalam artian real, bukan kiasan belaka," jelasnya.


"Berarti gue jahat, gitu?" Yura mesti meyakinkan diri bahwa memang benar di sini dia sebagai tokoh antagonis.


"Nggaklah, Jess. Lo nggak jahat. Lo cuma iblis," sahut Kirey sembari tertawa. "Eh sorry, gue cuma nyebut yang orang lain sebut tentang kita. Kita itu genk iblis by the way."


Glek. Yura menelan saliva. Benar saja. Dia mesti menjalani kehidupan seorang anak perempuan tukang bully. Padahal perbuatan itu adalah yang paling Yura benci semasa sekolah kemarin.


"Jess!"


"Jess, denger gak sih?"


Yura tersadar dari lamunan. Agak sulit juga menyadari orang lain memanggilnya dengan nama si pemilik raga. Oke, hal baik pertama yang mesti dia lakukan adalah merubah nama. Dia harus membiasakan diri sebagai Jesslyn, bukan Yura.


"Apa? Sorry, gue mesti membiasakan nama gue sebagai Jesslyn ya, 'kan?!"


Ketiga temannya menatapnya aneh. "Gue masih beranggapan kalau lo sedang akting, Jess." Jojo bangkit dari kursi.


Yura—Jesslyn mengerjap bingung. "Kenapa gue mesti akting kalau gue benar-benar nggak ingat siapa kalian."


"Bahkan lo merasa kalau lo bukan anak SMA?" tanya Kirey tidak percaya.


"Yap. Gue masih bingung," jawabnya jujur. "Sumpah, gue merasa seperti bayi baru lahir."

__ADS_1


Widi dan Kirey tergelak. Sedangkan Jojo mengusap rambut Jesslyn seraya berkata, "Tangga terkutuk udah gue singkirkan. Lo cepet sembuh deh. Yok, keluar!"


"Belum izin dokter?"


"Dokter siapa? Bu Mona lagi keluar selama satu jam katanya. Trus lo juga gak apa-apa kata dia. Nggak ada luka serius, selain ... amnesia. Bu Mona sih belum tahu. Cuma kita-kita aja yang tahu."


"Akan lebih baik kalo amnesia si Jess cukup kita aja yang tahu. Gimana?" usul Kirey yang langsung disetujui oleh Widi dan Jojo. Yura a.k.a Jesslyn juga setuju sih.


"Dokter lainnya?" tanya Jesslyn.


"'Kan dokter di sekolah kita sementara ini cuma Bu Mona doang, Jess," sahut Widi memberitahu.


"Dokter sekolah? Loh, bukannya ini di rumah sakit ya?"


"Mana ada. Ini UKS. Udah yok, keluar! Terserah lo deh, mau ke kantin atau pulang."


...-----...


Setelah takjub dengan ruang UKS yang mirip dengan ruang inap rumah sakit sungguhan, kini Jesslyn berjalan keluar dari UKS dengan lebih terpana lagi. Rupanya ini sekolah elit. Bangunannya yang mewah, serta fasilitas yang keren mau tak mau membuatnya agak norak. Maklum, selama kemarin sekolah SMA, Yura yang asli memiliki sekolah yang tergolong biasa saja. Itu pun sudah termasuk berat di biaya karena sekolah swasta.


Tapi Jesslyn tak seceroboh itu untuk memperlihatkan rasa kagumnya secara berlebihan terhadap sekolah di hadapannya sekarang. Dia hanya memindai dengan matanya setiap kakinya melangkah.


"Kamu baik-baik saja, 'kan, Jess?" seseorang menghadang jalan mereka. Ah tidak, ada dua orang lagi di belakangnya yang Jesslyn tebak sebagai guru. "Sakit banget kepalanya?" tanya guru laki-laki itu khawatir.


Jesslyn menggeleng pelan.


Jesslyn bingung. Orang-orang alias guru-guru itu nampak khawatir yang berlebihan kepadanya. Siapa pula Vernon itu?


"Saya sehat, Pak, Bu," jawab Jesslyn dengan senyum sopan. Hal itu membuat takjub orang-orang di depannya. Masalahnya, Jesslyn nampak berkali-kali lipat cantiknya ketika tersenyum manis seperti itu.


"Permisi ya, Bu," sela Widi yang langsung menarik tangan Jesslyn dan membawanya pergi. "Mau ke kantin apa balik ke kelas nih?" tanyanya sembari menghentikan langkahnya. "Bel masuk baru aja bunyi. Tapi kalo lo mau ke kantin ya siapa juga yang bisa melarang lo, Jess."


Waduh, Jesslyn memilih kembali ke kelas saja. Sepertinya tidak buruk untuk kembali merasakan bangku sekolah yang baru ditinggalkannya selama lima bulan.


"Kita kelas sebelas, umur enam belas. Ingat?" Kirey merangkul Jesslyn yang berubah lebih kalem setelah dicium tangga.


Jesslyn yang baru, menggeleng. Oke, sekarang dia menjadi dua tahun lebih muda. Keinginannya untuk kembali ke masa sekolah yang indah rupanya telah terkabul. Maka tidak salah kalau dia harus menikmati masa-masa indah ini, bukan?!


...----------------...


Jesslyn tidak merasa kesulitan sedikitpun dalam belajar. Walau pelipisnya masih terasa nyeri, tapi otaknya lancar saja dalam mengikuti pelajaran yang baru saja dilaluinya. Karena pelajaran itu masih tersangkut jelas di kepalanya, seperti beberapa bulan silam.


Bel istirahat kedua berbunyi. Inginnya dia merebahkan diri lagi di UKS, tapi sepertinya perutnya meminta jatah makan siang sekarang. Sudah tidak sabar rasanya mencicipi apa saja yang tersedia di kantin sekolahan elit seperti ini.


Berjalan menuju kantin, Jesslyn amat menyadari tatapan takut dari anak-anak lain manakala dia dan teman-temannya melintas. Seburuk itukah dirinya? Maksudnya, Jesslyn ori sebelum kena bajak Yura. Sampai-sampai semuanya menyingkir tanpa Jesslyn melakukan sesuatu.


"Ada yang salah sama gue?" Jesslyn berhenti melangkah dan bertanya pada ketiga temannya. "Apa gue habis bikin dosa sama mereka?"

__ADS_1


Widi memutar bola matanya. "Setiap hari hobi kita emang bikin dosa sama mereka, Jess. Udah deh, nggak usah pikirin yang nggak penting."


Jesslyn menurut saja dengan ketiga temannya itu. Genk iblis, ck, nggak ada yang lebih seram lagi selain nama itu?


Mendarat di area kantin, Jesslyn mendengar Widi dan Kirey berbisik di telinganya. "Nggak usah liatin Vernon. Hari ini lo lagi kurang fit, jadi nggak usah senggolan sama tuh cowok."


Gadis itu diam saja. Yang namanya Vernon saja dia nggak tahu dan nggak mau tahu juga. Jadi temannya nggak perlu khawatir berlebihan juga kalau masalah cowok entah siapa itu.


Keempatnya menuju meja kosong satu-satunya yang terletak di sudut kantin. Tempat favorit genk iblis ya memang hanya di sana. Selain itu tidak ada satu pun anak lain yang berani menempati meja itu.


Mata Jesslyn melihat kesana kemari memperhatikan suasana kantin yang ramai, dan dia sudah tidak peduli seberapa banyak mata yang melihat ke arahanya. Sudahlah, anggap saja semua sedang terpesona dengan kecantikan Jesslyn, bukan?!


"Gue mau cari makanan," ucap Jesslyn seraya bangkit meninggalkan meja. Diikuti oleh Widi dan Kirey yang sudah mencari makanan masing-masing. Sedangkan Jojo kalem di meja sembari memainkan ponselnya.


Seorang gadis membawa baki berisi semangkuk bakso hampir saja menabrak Jesslyn saat dia berjalan ke arah stand makanan. Kernyitan di dahinya karena kesal dengan kecerobohan seseorang, tak mampu ia sembunyikan.


"Maaf, Jess, maaf. Gue nggak sengaja, Jess. Maaf, Jess. Ampun, Jess." Cewek tadi berkata dengan gugup dan takut, dengan kepala agak merunduk.


Mendadak suasana kantin senyap. Jesslyn sadar kalau semua mata tertuju padanya sekarang. Seakan menanti apa yang akan terjadi selanjutnya. Memangnya apa yang mesti terjadi? Jesslyn benar-benar bingung. Lagian, kenapa sih orang-orang harus sekepo itu terhadapnya?


"Hati-hati dong lo kalo jalan!" seru Jesslyn jutek kemudian berlalu begitu saja.


"Bu, mau bakso 1 ya," pintanya dengan ramah kepada penjual bakso. Banyak makanan yang lebih mewah dan mahal dibanding bakso, tapi Jesslyn hanya pengin makan bakso yang seakan sudah lama sekali tak ditemuinya. "Baksonya aja, nggak usah campur apa-apa." senyumnya tak lupa terkembang sopan kepada penjual itu.


Si ibu tukang bakso tercengang sesaat sebeluk mengangguk, "Siap, Non Jess."


Jesslyn kembali ke mejanya masih dengan keadaan kantin yang tak seribut saat awal dia menginjakkan kakinya tadi. Bisik-bisik dari segala penjuru tak dipedulikannya. Widi, Kirey dan Jojo kompak menutup wajahnya saat Jesslyn bergabung. "Kalian kenapa?" tanyanya santai.


"Aduh, Jess, lo malu-maluin genk iblis, tau," bisik Kirey yang duduk di sisi kirinya.


"Apa ratu iblis kita telah tobat?" tanya Jojo dengan suara tertahan.


Widi membuka tangannya dan perlahan menatap sekitar yang masih aneh melihat ke arah mereka. "Kayaknya. Sumpah, rasanya gue malu banget."


"Apa sih?" Jesslyn tidak mengerti sedikitpun dengan maksud teman-temannya.


"Lo yang biasanya, Jess, kalo disenggol begitu bakalan murka," terang Widi.


"Murka? Murka gimana?"


"Ya minimal jambak rambut tuh cewek yang udah berani nabrak lo."


Oh Jesslyn paham. "Belum nabrak, Wid, cuma hampir. Ya trus masa sampai jambak-jambakan segala? Ngapain?" apakah itu sifat Jesslyn yang asli? Ya ampun, dia nggak kepikiran seberapa pembuat onarnya si Jess ini.


Ketiga temannya kini saling lihat-lihatan. "Beneran, Jess amnesia beneran, gaes," kata Jojo seratus persen percaya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2