With you, Jess

With you, Jess
Bab 9


__ADS_3

"Terserah kalo lo nggak mau makan. Gue bukan nyokap lo yang memaksa lo buat makan."


Jesslyn pergi meninggalkan kamar Vernon. Dia kembali ke bawah dan bertemu mama Vernon yang sudah bersiap pergi.


"Cantik, tante ada urusan di luar. Kamu nggak apa-apa, 'kan, kalau tante tinggal sama Vernon aja? Seperti biasa, kalau Vernon jahat sama kamu, tinggal bilang ke tante aja ya."


Setelah wanita itu pergi, Jess berniat berbalik mencari Vernon lagi dengan maksud meminta diantar pulang. Tapi rupanya cowok itu telah berjalan menuruni tangga.


"Lo mau anter gue pulang apa gue naik ojeg aja?" tanyanya setelah menggendong tasnya.


"Gue anter. Tapi tas lo nggak ditaruh di tengah-tengah."


"Kenapa?"


"Nggak boleh pokoknya."


Jess memutar bola matanya dan mendengkus pelan. Vernon di matanya nampak seperti anak kecil. "Terserah. Dasar bocil."


"Apa lo bilang?" Tahu-tahu bahu Jesslyn sudah dipegang kuat oleh Vernon. Tatapan tajam dan sedikit kerutan di dahi cowok itu membuat sebuah ekspresi yang cukup bagi Jess berpikir ulang kalau ingin memprovokasi.


"Nggak," elak Jess. Aura Vernon sekarang jelas membuat nyalinya ciut. Entah makan apa bocah ini sampai terlihat menyeramkan kalau sedang tersinggung ataupun marah.


"Tadi lo bilang gue bocil. Kenapa bisa?  Padahal gue lebih tua lima bulan dari lo," desak Vernon yang masih menuntut jawaban.


Jess bahkan tak tahu harus menjawab apa. Karena kalau sebagai Yura, dirinya memang berusia dua tahun lebih tua. Tapi sebagai Jesslyn, ya mereka seumuran.


Tiba-tiba sebuah ingatan terlintas di kepala cantik Jess. Dia menepuk sisi kepalanya yang tanpa perban sembari berseru, "Ya ampun gue lupa mau ke rumah sakit." Sekarang sudah hampir pukul lima sedangkan dia memiliki janji pukul empat. Kalau sesuai perhitungan, mestinya tadi sepulang sekolah dia langsung menuju rumah sakit untuk menemui dokter yang diberitahukan papanya.


"Mau ngapain?" tanya Vernon yang sudah mengendur wajah kakunya barusan. Perihal disebut sebagai anak kecil dari mulut Jess entah kenapa egonya amat tersentil.


"Papa nyuruh gue buat berobatin ini," tunjuknya ke pelipisnya. Dia berniat berbalik badan tapi Vernon mencegah. "Gue antar."


 


...----------------...


"Mom sama Dad kapan pulangnya ya, Bi?" tanya Jess di malam hari sembari rebahan santai di sofa depan televisi. Di tangannya ada keripik kentang yang menemani.


Sudah hampir pukul sembilan tapi kedua orang tuanya belum tanda-tanda akan pulang. Bahkan kemarin pun seperti itu, dia mendapati orang tuanya ketika di meja makan tadi pagi.


"Biasanya jam sepuluh kalau Ibu, Non Jess. Kalau Bapak hampir jam sebelas pulangnya."


"Kok lama banget? Kerja apaan sampai hampir tengah malam begitu?"


"Bibi ndak tahu, Non."


"Setiap hari mereka pulang malam begitu?"

__ADS_1


Si Bibi mengangguk. "Tumben Non Jess nggak kemana-mana? Biasanya jam segini masih keluyuran. Tapi bagus, Bibi senang melihat Non Jess yang sekarang lebih kalem."


"Keluyuran malam-malam? Kemana?"


"Ya Bibi ndak tahu, Non Jess. 'Kan Non Jess yang pergi. Kalo Bibi tanya pasti marah."


Entah bagaimana dirinya paham dengan kenyataan kalau Jesslyn suka keluyuran malam-malam. Meskipun rumah besar tapi kedua orang tua yang mestinya ada untuk anak, tapi tidak ada. Kemungkinan itu adalah bentuk protes Jess yang menginginkan perhatian, bukan ulah kenakalan semata. Hanya saja dia masih penasaran, ke mana perginya Jess pada jam-jam ini.


Bel pintu berbunyi. Si Bibi bergegas berjalan ke depan untuk membukakan pintu. Lebih tepatnya untuk melihat siapa tamu yang datang sekarang.


Tak berapa lama tiba-tiba Vernon datang bergabung dengannya di sofa. Kedua kaki Jess diangkatnya dan diletakkannya di atas pangkuannya, saat ia duduk di sana. Sebab sofa kecil itu memang hanya cukup untuk posisi tiduran Jess seorang.


"Ngapain lo?" tanya Jess terkejut. "Sana duduk di sofa lain." memang, masih ada satu sofa bed yang ukurannya cukup luas ada di sana. Jesslyn memilih sofa yang lebih kecil untuk ditempatinya sekarang.


"Gue mau di sini."


Jess berdecak. "Bosen gue ketemu lo mulu. Ngapain jam segini—"


"Bukan lo banget, Jess, bosen sama gue. Biasanya jam-jam segini lo selalu mencari gue dimanapun gue berada. Lo rusuhin hidup gue, nempel-nempel gue, dan bikin gue muak."


Oh terjawab sudah kemana Jess pergi kalau malam. Rupanya dia masih mengejar Arjunanya tanpa kenal waktu. Siang malam tergila-gila Vernon. Ya ampun, hidupmu sia-sia, Jess!


"Bosen lah. Sehari tiga kali ketemu lo. Udah kayak minum obat."


"Gue biasa aja."


"Terus sekarang lo mau ngapain?"


"Gue nggak samperin lo bukan berarti lo boleh ganggu me time gue, kali. Lagian udah deh kepedeannya. Tamat sudah besar kepala lo. Gue udah pensiun dini sebagai fans berat lo. Dih najis banget. Lepas nggak kaki gue?"


Vernon menahan kedua kaki Jess yang memang sedang selonjoran di pangkuannya karena paksaannya tadi. Walau Jess berontak, tetap dia kalah kuat dari Vernon.


"Kalem dikit, Jess,"


"Vernon lepas kaki gue," geram Jess yang sudah dalam posisi terduduk. Dia melotot tapi tidak berarti sedikitpun untuk cowok di dekatnya itu.


"Nggak mau. Udah, kayak gini aja."


"Aduh, kaki cantik gue terkontaminasi," gerutunya dan membuat Vernon terkekeh.


Tunangannya itu melepas pegangan kuatnya dari kaki Jess lalu menarik keripik kentang yang sedari tadi dipegang Jess. Itu membuat Jess mendapat kesempatan untuk melepaskan diri dan buru-buru bangkit dari sofa. Namun, sebelah tangannya keburu ditarik oleh Vernon dan membuat Jess jatuh kembali ke sofa dengan posisi kepalanya berada di pangkuan Vernon.


"Lo tuh gila!" sembur Jess dengan pelototannya yang semakin tajam, ketika sebelah tangan Vernon berada di lehernya dengan longgar, dengan maksud mengunci Jess agar tidak bisa bangun.


Vernon mengulum senyum dan diam-diam menikmati ulahnya sendiri.


"Lepas, nggak, Ver?"

__ADS_1


"Udah diem, gue cium nih kalo nggak diem."


"Sinting lo ya!"


"Kenapa? Lo lupa udah berapa banyaknya lo nyium paksa gue? Di sini, sini, sini ...," tunjuk Vernon pada pipinya sendiri, dahi, bahkan bibir.


Ya ampun Jesslyn murah banget sih lo.


Cantik sih cantik, tapi kalo kegatelan sama cowok ya nggak berkelas banget kali.


"Itu Jesslyn! Bukan gue," serunya tak terima.


Kening Vernon berkerut. "Terus lo siapa emangnya?"


"Gue—gue Jess yang baru, bukan Jesslyn lama yang bego karena bucin sama cowok kayak lo." Hampir saja dia mengatakan yang  sebenarnya. Tapi, andaipun dia mengatakan apa yang dialaminya, sudah pasti kemungkinan kecil ada yang mempercayainya. "Lepas! Mau gue jedotin lagi kepala lo?"


"Nggak bakalan bisa, Jess. Udah deh, anteng. Jinak sama gue. Amnesia kok jadi liar begini." sebuah cubitan dia layangkan dengan gemas ke pipi Jesslyn.


Ini apa-apaan sih?


"Bocah," panggil Jess yang membuat Vernon tersinggung hingga melebarkan mata dengan wajah semakin menunduk.


"Bocah?" bisiknya, saat jarak mereka amat dekat. "Kenapa sekarang lo jadi sok tua?"


"Gue emang lebih tua dari lo," balas Jess tak gentar walau hidung mereka sudah bersentuhan.


"Bocah sialan," desisnya. Setelah itu dia menggerakkan mulutnya ke tangan Vernon yang melingkari lehernya. Sebuah gigitan keras dia berikan hingga Vernon berteriak karena kesakitan. Mata cowok itu melebar menatap horor pada Jess yang sudah bangkit berdiri secepat kilat setelah belitan di lehernya terlepas.


"Jesslyn! Lo gigit gue alih-alih lo cium gue?"


"Iya. Kenapa? Lo pikir gue masih Jess centil yang kemarin-kemarin? Nggak, Ver. Gue udah berubah. Lo udah nggak penting lagi buat gue. Ya walaupun gue nggak pernah merasa kalo lo penting. Gue cuma mau ngingetin sama lo kalo gue amnesia, so, gue nggak ingat apapun tentang lo. Jadi lo nggak usah maksa apa-apa lagi. Sekarang mending lo pergi, karena gue mau tidur. Bye."


...-------...


Jess kebangun pada pukul dua belas lebih lima belas menit. Matanya mengerjap menatap langit-langit kamar saat kepalanya mendadak pusing karena berbagai macam bayangan melintas. Bermacam-macam ingatan tiba-tiba menyerbu kepalanya tanpa permisi. Memori hidup Jesslyn selama ini, sekarang sekarang nampak sangat nyata di kepalanya seolah dia yang pernah mengalami itu semua. Jess gelagapan hingga dia merasa nafasnya tersengal saking terkejutnya.


Gambaran seberapa bucin hingga tahapan nggak masuk akal yang selalu Jesslyn lakukan setiap hari kepada Vernon, seperti potongan-potongan film yang hadir memenuhi sebagian besar ingatannya.


Sekarang dia amat sangat paham seberapa gilanya Jesslyn selama ini kepada Vernon. Bahkan itu terjadi semenjak mereka masih kecil. Cinta bertepuk sebelah tangan Jesslyn tahan selama lebih dari tujuh tahun lamanya. Hingga pada akhirnya tunangan telah resmi terjadi, rasa membara yang disimpan sekian lama akhirnya tercurah melimpah ruah.


Iyuh. Jesslyn yang naif soal cinta, begitu pikirnya.


Selain perasaan cinta buta kepada seorang Vernon, rupanya masih ada beberapa macam pikiran yang mendominasi kepala Jesslyn selama ini. Bagaimana kesepiannya dia meskipun masih memiliki orang tua yang lengkap. Kurang dekatnya hubungan orang tua dan anak itu telah berlangsung cukup lama, bahkan lebih lama dari rasa terhadap Vernon. Rupanya, kehadiran Vernon dalam hidup Jesslyn adalah menjadi alasan paling tepat yang membuatnya mampu menggila dalam mengejar cinta cowok itu. Walau kenyataannya Vernon tidak pernah menganggap special perasaan Jesslyn selama ini.


"Non Jess, Mas Vernon sudah datang," kata bibi memberitahu lalu beralih kembali ke dapur.


Beberapa saat kemudian, cowok yang biasanya menjemput Jesslyn hanya menunggu di mobil saja, tapi tidak dengan kali ini. Vernon telah melangkah memasuki rumah dan menyapa sopan kepada Lucas serta Paulina.

__ADS_1


"Pagi, Om, Tante."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2