With you, Jess

With you, Jess
Bab 7


__ADS_3

"Ikut gue!" tangan Jesslyn sudah ditarik paksa oleh Vernon yang membawanya menjauh dari lorong depan kelas mereka.


"Jess—" Jojo ingin mencegah, tapi Vernon sudah lebih dulu memberikan tatapan mematikan. Dengan status pertunangan yang diketahui oleh semua orang, maka Jojo tidak berani melewati batasan, kecuali memang Jess yang menginginkan dirinya berbuat sesuatu.


"Lepas!" Jess berusaha melepaskan cekalan itu, tapi Vernon tidak terpengaruh sedikitpun.


Jesslyn memang cukup terkejut atas paksaan itu, tapi dia mampu mengendalikan diri untuk tetap santai menanggapinya. Dia bahkan mengabaikan pergelangan tangannya yang nyeri karena cekalan paksa Vernon sepanjang jalan, yang bahkan tidak peduli karena telah menarik perhatian semua orang yang dilaluinya. Sebab drama antara Jess dan Vernon sudah terbit sejak enam bulan yang lalu.


Di ujung lorong yang berbelok hendak mengarah ke perpustakaan, Vernon menghentikan langkahnya. Keadaan di sana cukup sepi. Kemudian Jesslyn menghentakkan tangannya dengan kuat agar terlepas dari cekalan cowok brengsek itu.


"Mau apa lo?" tanyanya ketus sembari mengusap pelan tangannya yang sedikit memerah. Ini nggak seberapa. Nggak sesakit tertimpa pohon.


"Serius lupa sama perbuatan lo ke gue kemarin sore?" tunjuknya pada kepalanya sendiri. "Lo itu kenapa begini sih?" Vernon melebarkan matanya karena sikap ketus Jesslyn yang membuatnya bertanya-tanya. Bagaimana bisa cewek yang kemarin pagi masih kegenitan saat bertemu dengannya, tapi sekarang malah berubah menjadi asing.


"Kenapa apanya?" Jesslyn balik bertanya dengan tidak sabar.


"Kenapa lo berubah dalam sekejap? Pura-pura nggak suka sama gue lagi? Lo punya rencana apa sampai begini niatnya buat—seolah nggak kenal sama gue?"


Jesslyn memutar bola matanya. "Jadi ini masih tentang tuduhan lo ke gue yang nggak berubah. Gue sedang punya rencana apa, begitu? Sayangnya gue mungkin mengecewakan lo kali ini. Sebab gue memang nggak sedang punya rencana apapun, sedikitpun. Oke anggaplah gue kenal sama lo kemarin-kemarin. Gue kegatelan, nyusahin, dan memalukan, katanya. Tapi sumpah sekarang nggak bakalan kayak gitu lagi. Gue nggak akan mengganggu dan nggak mau terganggu juga. Intinya gue sedang move on dari diri gue yang kemarin. Paham?"


Cowok yang memakai anting di sebelah telinganya itu menyunggingkan sedikit seringai. "Setelah lo terus-menerus ganggu hidup gue, sekarang lo berniat nggak terima gangguan apapun dalam hidup lo? Jangan mimpi, Jess,"


"Gue minta maaf, Ver," katanya masih dengan nada datarnya. "Kalo gue udah pernah nyakitin lo dan anak-anak lainnya. Serius, gue udah nggak ada minat buat jahat lagi. Gue yang sekarang akan memperbaiki diri sebisa mungkin. Kalaupun nggak bisa, seenggaknya gue akan menjauh dari kalian yang membenci gue."


"Siapa suruh lo menjauh?" Vernon sudah mengikis jarak dengan wajah yang hanya beberapa senti saja dari wajah Jess. Tinggi cowok itu yang menjulang membuat Jess harus agak mendongak untuk membalas tatapannya. "Lo nggak berhak menjauh dari gue, Jess, karena gue adalah tunangan lo yang paling ganteng yang selama ini selalu lo banggakan ke semua orang."


"Tunangan? Ayolah, Ver, kita ini masih bocah. Nggak usah terlalu terbebani dengan hubungan yang direncanakan oleh orang tua kita." Pikirannya tentu lebih bijak dua tahun dari Vernon.


Vernon mengerutkan keningnya karena tak suka dengan perkataan cewek di depannya itu barusan.


"Gue nggak terbebani," elaknya pelan bernada keberatan. Tatapan matanya nampak dalam menembus mata Jess yang sedang menatapnya asing. Tangannya terulur untuk mengusap sebelah pipi Jess dan memahami apa yang diinginkan hatinya saat ini.


Jesslyn merasakan desiran aneh atas tatapan sekaligus usapan di pipinya ulah Vernon barusan. Tapi dia buru-buru menyingkirkan perasaan aneh itu dengan sedikit menggerakan kepala dan berhasil menarik lepas pipinya dari tangan Vernon.


"Masa? Cerita semua orang tentang kita tuh sebaliknya. Lo terbebani dengan kegilaan gue. Makanya gue minta maaf, dan berjanji setelah ini nggak akan begitu lagi. Gue akan memperbaiki kesalahan gue selama ini—"


"Kenapa? Memperbaiki untuk apa? Lo pikir semua bisa berubah begitu aja?"


"Nggak. Gue nggak berpikir kayak gitu. Memperbaiki sesuatu yang sudah lama buruk pastinya nggak akan mudah apalagi sebentar. Jadi gue bakalan berubah—"


"Jadi baik?"


Jesslyn menggeleng. "Baik nggaknya diri kita, biar orang lain yang menilai. Di sini gue paham kalo selama ini gue adalah orang yang amat buruk. Tapi bukan berarti gue nggak bisa berubah dan memeperbaiki semua dong. Gue anggap semua yang terjadi selama ini adalah masa lalu. Sekarang gue rasa belum terlambat untuk memulai masa depan yang lebih baik. The past is not always as the way you want, but the future can be designed as you like. Ah—udah deh. Lo nggak akan ngerti maksud gue. Lo bakalan terus berpikir kalo gue sedang memiliki rencana kejahatan yang baru or whatever, tapi itu terserah pikiran lo. Gue nggak bisa maksa siapapun untuk merubah pikirannya tentang gue."


"Why?" suara Vernon nyaris berbisik. Sialannya entah kenapa itu sedikit mempengaruhi hati Jesslyn. Oh ini pasti hati si Jess yang asli, yang terlalu bucin kepada cowok itu. "Kenapa lo bisa berubah dalam sekejap?"


Jesslyn dengan entengnya menunjuk pelipisnya yang masih diperban. Sebab lukanya masih sedikit basah. "Gara-gara ini, gue berubah. Untung gue nggak mati dalam keadaan jahat. Maka kesempatan memperbaiki nggak akan gue lewatkan begitu aja."


Pertama kalinya Jesslyn melihat Vernon tersenyum walau hanya senyum simpul sesaat. Wajah kakunya sudah sedikit mengendur dan lebih tenang. "Cuma ketimpa tangga nggak bakalan bikin lo mati, Jess," ucap Vernon lebih lembut, atau lebih beradab sih? Entah, Jess hanya mencoba menilai.


Gadis itu mengendikkan bahunya tak acuh. "Siapa yang tahu! Udah ah, gue mau balik—"

__ADS_1


Kaki Jess bahkan belum bergerak saat sebuah kecupan singkat baru saja melayang di ujung perban di pelipisnya. Sebagian tentu terasa hingga kulit keningnya. Jesslyn mengerjap singkat saat Vernon menatapnya jahil, dan senyum terkulum menggoda setelah kecupan diberikan cowok itu barusan.


Tubuhnya membeku sesaat. Desiran aneh terasa lagi memenuhi hatinya yang menghangat.


Ini pasti Jesslyn yang berdebar. Bukan si pembajak jiwa yang aslinya memang sedingin itu hatinya kala berhadapan dengan lawan jenis. Oke, cukup, Jess. Jangan mempermalukan diri lebih lama lagi. Mulai sekarang, harga diri adalah segalanya.


 


...----------------...


Jam istirahat kali itu, Jesslyn baru saja menyimpan buku-bukunya saat ketiga temannya kepo luar biasa. Mereka masih menghuni kelas sesaat untuk mendapatkan cerita teman mereka yang sedang amnesia itu.


"Lo udah inget sama Vernon?"


"Lo bucin dia lagi?"


"Vernon ngapain tadi?"


Jess menaikkan kedua alisnya sebelum berkata, "Nggak tuh. Gue nggak inget dia. Gue tetap jadi diri gue yang sekarang."


Widi menghela nafas lega. "Syukurlah. Kalo udah tobat sekali dari Vernon, gue harap lo tobat selamanya, Jess."


"Meskipun dia type lo banget, tapi emang sebaiknya lo lupain dia selamanya," tambah Kirey.


"Emangnya kenapa kalian nggak suka banget sama dia?" tanya Jess penasaran sembari tangannya menopang dagunya di meja. Dia menatap ketiganya bergantian.


"Nggak muna ya, Jess, kalo Vernon emang paling ganteng sesekolahan. Bad boy paling digilai cewek-cewek, dan bikin cewek-cewek meleleh padahal cuma ngeliat dia menyibak rambut. Gue juga pernah jadi pemuja cogan awal masuk sini." Jujur Widi adalah satu dari bagian penggemar Vernon garis kerasa kala itu. "Tapi, melihat gimana dia memperlakukan kebucinan lo sama dia kemarin-kemarin, ditambah dengan status tunangan kalian, gue luar biasa nggak ikhlasnya lo ngejar-ngejar dia setengah mampus," terang Widi yang diangguki Jojo. "Nggak penting wajah gantengnya kalo perlakuan dia ke lo itu jahat banget."


"Emang gue gimana kemarin-kemarin? Terus dia ngapain ke gue?"


Kirey mengusap pelan perban Jess, "Lo bucin parah. Lo nempelin dia kemana aja nggak tau malu. Lo nggak peduli seberapa jahatnya ucapan dia tentang lo. Bahkan lo rela ngelakuin hal memalukan sekalipun kalo itu si Vernon yang suruh. Sumpah, lo nggak waras, Jess. Bahkan gue selalu menduga kalo lo kena guna-guna dia. Dia jahat banget sama lo, tapi lo masih aja memuja dia. Kita-kita sebagai sahabat lo itu sakit hati melihatnya. Tapi lo tuh buta. Cinta buta."


Jesslyn bergidik ngeri dan mengutuk diri sendiri di dalam hati. Nggak kebayang apa saja kegilaan yang udah pernah diperbuatnya demi cowok nggak penting macam si Vernon.


"Lo mau gue ingetin salah satu contoh kegobl0kan lo ke dia?" tantang Jojo. "Yakin?"


Gelengan keras yang Jess berikan. "Nggak-nggak. Makasih. Udah tutup buku. Udah nggak ingat apa-apa juga. Jadi buat apa gue denger lagi? Nggak penting," tegasnya seraya bangkit dari kursi.


"Bagus."


"Setuju."


"By the way, tadi lo ngapain dan kemana sama Vernon?" Jojo masih mendesak. Dia belum mendapatkan jawaban dari temannya itu.


"Dia masih curigain gue yang menurutnya sedang memiliki rencana jahat. Tapi gue udah minta maaf—"


"WHAT? LO MINTA MAAF?"


Jess kaget karena ternyata Jojo bisa berteriak sekeras itu.


"Gila!" seru Widi.

__ADS_1


"Sakit jiwa si Jess!" ujar Kirey.


"Kenapa?" Jess melongo. "Apa salahnya dengan meminta maaf? Gue pasti udah banyak berbuat salah sampai kalian semua sebut gue dengan jahat, jahat, dan jahat. Terus kalo sekarang gue minta maaf, apa yang salah?"


"Tapi nggak ke Vernon juga kali, Jess," sambar Widi geregetan. "Dosa dia ke lo lebih banyak dibanding dosa lo ke dia."


"Lo bisa ngitung dosa, Wid?" tanya Jess menahan ketawa.


"Ya bukan begitu. Ah tau ah! Ngeselin lo Jess!"


Jojo berkata lagi, "Kenapa lo malah minta maaf disaat lo sendiri nggak ingat apapun salah lo? Cuma berdasarkan orang bilang lo jahat, lo nggak mesti minta maaf ke Vernon, Jess."


Jesslyn menghela nafas. Kenapa perihal meminta maaf aja jadi perkara bagi teman-temannya? "Ya gimana, gue udah terlanjur minta maaf sama dia. Lagian dia itu ngotot banget nggak terima sama sikap gue yang sekarang."


"Nggak terima gimana?" tanya Widi.


Jesslyn mengendikkan bahunya. "Nggak percaya mungkin. Ah udahlah, gue laper nih. Ayo ke kantin!"


Keempatnya telah berjalan keluar kelas dan menuju kantin. Di belokan setelah ruang kelas sepuluh, mereka berpapasan dengan seorang cewek imut yang sudah berhenti di hadapan Jesslyn lebih tepatnya.


Kayak pernah lihat, bathin Jess.


"Hai, Kak Jess!" sapa cewek itu dengan senyum manisnya.


"Mau ngapain lo? Nggak usah menghalangi jalan orang." Kirey sudah berseru dengan keras. "Mau cari masalah?"


Cewek itu menggeleng singkat sembari menundukkan kepalanya. "Mana ada, Kak. Aku cuma nyapa doang," cicitnya dengan nada suara yang terdengar manja.


Mendadak Jess memiliki rasa gemas yang membuatnya ingin muntah. Sejak zaman sekolah dulu dia memang paling nggak suka dengan tipe cewek yang sok imut dan sok manja. Menye-menye ala princess lemah lembut dan teraniaya yang disenggol sedikit malah berdarah. Lebay! Mentang-mentang cantik bukan berarti bisa berlebihan dalam menarik perhatian, apalagi di depan cowok.


Tapi Jess diam tak menanggapi. Dia enggan berdekatan dengan cewek macam itu. Digigitnya lidahnya yang gatal karena ingin memaki. Plis, dia bukan Jesslyn ori yang tukang bully. Tapi dalam menghadapi cewek maha rubah, sepertinya dia sehati dengan si pemilik raga.


Jess mendesah pelan. Apa mungkin dia yang terlalu berpikiran buruk terhadap cewek itu padahal dia belum kenal.


"Ya udah minggir!" bentak Widi.


"Kak Jess, aku boleh numpang sama Kak Vernon lagi ya nanti sepulang sekolah? Ya walaupun Kak Vernon nggak pernah keberatan, tapi aku mesti izin, 'kan, sama Kak Jess?"


Tuh, 'kan sok manja. Bikin alergi.


"HEH! Selama ini mana pernah lo izin sama Jess?" sembur Kirey yang tangannya segera dicekal erat oleh Jess. Walau bagaimana, Jess tidak pernah membully sepanjang sekolah kemarin sebagai Yura, maka sekolah kali ini pun dia memang nggak berniat begitu.


Lagi pula Jess enggan memperlama berdirinya di sana sehingga menghabiskan jam istirahatnya.


"Terserah lo mau numpang sama siapa. Nggak perlu izin gue," katanya dengan jutek dan berlalu meninggalkan Maira di sana.


Entah kenapa rasa bencinya amat kuat terhadap si Maira itu. Feelingnya, akan ada sosok manipulatif yang mesti di hadapinya dan kemungkinan besar dia hampir bisa menebak siapa orangnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


 

__ADS_1


__ADS_2