With you, Jess

With you, Jess
Bab 5


__ADS_3

...Happy Reading!...


------//-------


"Rumah lo di mana, Jess?" teriak Sam sembari memelankan laju motornya meninggalkan sekolah. Ada rasa bangga saat dia bisa memberi tumpangan pada cewek secantik Jesslyn, terlepas dari sifat buruk cewek itu yang membuat siapapun membencinya dengan mudah.


"Nggak tahu."


"Yailah, jangan becanda, kali. Gue abis ini masih banyak urusan. Jarang-jarang nih gue baik sama lo yang biasanya jahat."


"Emang gue nggak tahu, Samuel Ardhana Andaru!"


"Sam aja, njir. Lengkap banget nyebut nama gue."


"Gue nggak inget alamat rumah gue, Sam. Sumpah!"


"Ya kali, Jess! Jangan ngerjain gue deh."


"Siapa juga yang ngerjain lo?"


"Udah buruan bilang rumah lo di mana?"


"Nggak tahu, dodol. Maksa banget sih?"


Seketika Sam menepikan motornya dan berhenti di dekat sebuah halte. Kaca helmnya dibuka, lalu dia menoleh ke belakang dimana Jess berada. "Jangan jahat sama gue dong, Jess. Ini gue udah baik banget loh mau nganter lo. Iseng aja, sih sebenernya."


Jesslyn semakin merasa kesal. "Emang gue nggak inget rumah gue. Kalo inget ya dari tadi gue udah cari taksi buat pulang. Masalahnya gue nggak inget dimana alamat rumah gue sendiri. Nih," tunjuk Jesslyn ke pelipisnya. "Gara-gara ini gue nggak inget rumah gue, Sam." Ekspresi kesalnya yang berkali lipat sungguh-sungguhnya, sudah tak mampu ia bendung. "Gue nggak lagi becanda, apalagi berniat jahat. Gue cuma pengen pulang, Sam. Pulang!"


Sam tercengang sesaat, sembari terus menerus mencari kejujuran di wajah cantik Jesslyn. Masalahnya cewek ini jahatnya amit-amit banget. Teganya luar biasa kepada siapapun. Tapi entah kenapa saat ini Sam melihat kesungguhan dan frustasi di wajah manis itu.


"Serius, Jess?"


Gadis itu kesal setengah mati sembari turun dari motor Sam. "Kalo nggak percaya ya udah, gue mau cari polisi aja. Siapa tau polisi bisa antar gue ke rumah," bentaknya jutek.


Mengerjap sesaat, kemudian Sam berkata, "Ya udah, tunggu sebentar." Cowok itu mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu di sana. Sudah pasti yang tahu alamat rumah Jesslyn adalah Vernon.

__ADS_1


...-------...


Hari yang melelahkan. Jesslyn melemparkan tubuhnya di sofa setelah tiba di rumah diantar oleh Sam. Rumah yang amat bagus selagi matanya memandang kemana-mana. Benar dugaannya, memang mestinya tokoh yang dibajaknya ini adalah gadis cantik tapi jahat dan kaya raya. Entah memiliki masalah pelik apa, yang pasti kehidupan mewah Jesslyn adalah satu hal yang ingin ia nikmati selagi bisa.


"Non, mau makan? Bibi siapkan ya," kata seorang asisten rumah tangga yang menghampiri Jesslyn dengan takut-takut. "Atau nggak, Non?"


"Hm, iya. Bi, kamar aku di mana ya?" tanyanya santai dengan telunjuk mengarah pada pelipisnya. "Gara-gara ini, aku jadi lupa sama kamarku." Entah sudah berapa kali rasanya dia mengucapkan itu untuk hari ini.


Nampaknya si Bibi percaya dilihat dari matanya yang khawatir. "Non Jess kenapa? Sakit ya, Non? Ke dokter yuk?"


"Ketimpa tangga, Bi. Nggak sakit kok. Cuma pusing sedikit. Tadi sudah diobati sama dokter sekolah."


"Ya ampun, Non. Ke rumah sakit aja yuk! Bapak sama Ibu pasti khawatir banget kalo lihat Non begini."


"Aku mau istirahat aja, Bi. Jadi di mana kamarku?" Jesslyn bangkit dari sofa setelah Bibi menunjukkan kamarnya yang berada di lantai dua.


Tiba di kamar, lagi-lagi Jesslyn dibuat takjub oleh tampilan kamar miliknya. Tidak pernah mimpi dirinya dapat memiliki kamar semewah itu. Warna pastel yang cantik dan menenangkan. Serta ranjang luas dan empuk. Nikmat sekali rasanya menjadi orang kaya.


"Ya ampun, mendadak gue jadi putri ini mah. Nyaman banget di kamar ini, sumpah. Betah gue di sini selama apapun."


Jesslyn meresapi bahagianya yang nampak sederhana bagi orang lain. Hanya berada di kamar mewah tanpa harus memikirkan biaya apapun adalah mimpi indah yang menjadi nyata. Apa terlalu dini kalau dia berniat ingin selamanya berada di tubuh Jesslyn Estlle?


Terdengar notifikasi chat masuk ke dalam ponsel yang masih berada di dalam tasnya. Tas yang nampak bagus dan mahal, tak pernah terlintas dapat dimilikinya dahulu, semasa sekolah. Tapi sekarang, seolah semua yang terjadi adalah keajaiban. Bagaimana dikabulkannya segala keinginannya akan hidup yang serba berkecukupan.


Tiba-tiba Jesslyn merasa melow karena mengingat adik-adiknya yang belum pernah merasakan apa itu kemewahan. Rasanya dirinya seperti berkhianat saja.


Diambilnya ponsel yang sedari tadi bunyi masuk chat bertubi-tubi. Jangan lupakan kalau dirinya sebagai pembajak tubuh Jesslyn, tidak tahu menahu tentang sandi layar terkunci ponsel mahal itu. Dengan sebal dilemparkannya begitu saja benda itu di sisinya, di ranjangnya yang empuk luar biasa. Karena benda itu nampak tidak berguna karena tidak bisa dibuka.


"Vernon ...," gumamnya. "Ngapain dia ngechat banyak banget? Bukan masalah utang piutang, 'kan?! Dih, kenal juga nggak. Tau ah!"


Setelah beberapa saat memanjakan diri di kasur indahnya, Jesslyn bergerak untuk mengganti pakaiannya, lalu dia berjalan keluar kamar. Kemana lagi tujuannya selain ruang makan? Perutnya protes meminta diisi.


Lauk pauk yang mewah sudah tersaji di meja makan. Padahal hanya dirinya sendiri yang hendak makan, tapi kenapa lauknya banyak begini? Jadi ingat sama Lulu dan Rafi kalau begini yang dialaminya. Makan dengan lauk apa ya adik-adiknya sekarang?


Selesai dengan makannya yang super mengenyangkan, Jesslyn beralih untuk melihat-lihat taman yang terhampar di samping hingga ke belakang rumah mendekati kolam renang. Walaupun dia belum bertemu dengan yang punya rumah alias papanya Jesslyn, tapi rasa penasarannya terlalu besar untuk melihat betapa mewahnya rumah ini. Rumah keluarga Jesslyn.

__ADS_1


Dia berjalan kesana kemari dan takjub dengan indahnya tatanan rapi taman yang menyejukkan.


"Lo pasti punya rencana busuk terhadap Sam." suara tajam seseorang membuat Jesslyn terkejut hingga menumpahkan minumannya.


Gadis itu sedang duduk santai di kursi taman rumahnya sembari menikmati segelas jus jeruk dingin sejak setengah jam yang lalu, setelah dia puas berjalan dan melihat-lihat apa saja. Dia menoleh dan mengernyit pada cowok yang tiba-tiba saja telah memasuki rumahnya tanpa pemberitahuan.


"Lo kenapa masuk rumah gue sembarangan?" Jesslyn balik bertanya dengan ketus.


"Nggak usah pura-pura polos, Jess. Lo tuh cewek yang busuk banget aslinya. Sekarang lo jujur aja sama gue, kenapa lo deketin Sam? Lo mau hancurin dia, gitu?"


Vernon melangkah mendekat, tapi dia tetap memberi jarak beberapa langkah. Sedangkan Jesslyn masih setia dengan kursinya, tanpa berniat untuk bangkit apalagi menghampiri si cowok tidak sopan itu. Nalurinya mengatakan kalau cowok di depannya itu cukup berbahaya.


"Dua kali lo sebut gue busuk, sialan. Lo tuh nggak punya sopan ya? Masuk rumah orang seenaknya. Nuduh-nuduh gue sembarangan. Berpikiran buruk, ngatain gue. Jadi yang busuk di sini tuh siapa? Siapa lo bisa sebegini seenaknya di rumah gue?" Jesslyn emosi, dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan memberi tatapan keji kepada Vernon.


Ya, cowok bertampang bad boy itu adalah Vernon.


"Are you serious?"


"Apa?"


Vernon menggeleng keras. "Gue nggak sebegitu gampangnya lo bodohin. Ck, hampir aja,"


Jesslyn kehilangan kata-kata. "Pergi lo dari sini! Gue nggak suka lihat lo." Dia mengusir Vernon dengan juteknya. Kesal karena melihat seorang cowok yang lancang memasuki rumahnya tanpa izin, tanpa pemberitahuan ada tamu dan sejenisnya.


Namun bukannya pergi, Vernon malah melangkah semakin dekat kepada Jesslyn dan berhenti dengan sebelah tangan memegang meja dan sebelah lagi pada sandaran kursi yang gadis itu tempati. Vernon mengurung Jesslyn dengan aura intimidasinya yang kuat. Sedikit seringai nampak di bibirnya yang berjarak tak jauh dari wajah Jesslyn.


Begitupun dengan Jesslyn, yang mendapat tekanan seperti itu bukannya takut, dia malah menaikkan dagunya menantang. "Mau apa lo? Lo pikir gue takut?"


Seuntai rambut gadis itu yang menjuntai dimainkan oleh jari Vernon. "Lo tuh bucin sama gue, jadi nggak usah sok-sokan galak kayak gini," suara Vernon pelan tapi Jesslyn merasakan sebuah ancaman atau apapun itu yang tidak diharapkannya.


"Bucin? Gue?" Jesslyn terkekeh. "Mana ada! Ya ampun, gue kenal lo aja nggak. Gimana mau bucin? Kepedean banget sih jadi cowok. Ngerasa ganteng? Cowok ganteng itu banyak. Bukan lo satu-satunya di muka bumi ini. Mending lo minggir dari depan muka gue," usirnya dengan serius.


Vernon merasa tersentil harga dirinya. "Kalo gue nggak mau?" tantangnya dengan sorot mata tajam. Kalimat Jesslyn barusan benar-benar membuatnya marah. Setelah lebih dari lima bulan kelakuan gadis di depannya itu yang gatel luar biasa, sekaligus pemaksa, lalu sekarang tiba-tiba saja seenaknya berkata demikian? Vernon dan harga dirinya yang terusik parah.


"Ya udah," sahut Jesslyn santai. Dia punya sebuah ide tiba-tiba melintas di kepalanya, tapi sedikit ragu karena agak takut juga menghadapi cowok yang sepertinya sedang marah itu.

__ADS_1


Namun dalam sekali niat dan sekali hentakan kuat, Jesslyn mendadak bangkit untuk membenturkan jidatnya ke jidat Vernon sekuat tenaga. Dia menyeruduk kepala cowok itu dan buru-buru melesat lari secepat mungkin setelahnya untuk menuju kamarnya. Tak butuh waktu lama saat dia melihat Vernon yang bergerak untuk mengejarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2