Wolf Grey : A Girl Meets Werewolf

Wolf Grey : A Girl Meets Werewolf
Bab 1


__ADS_3

A Written By shihanssi


Main Cast :


•Bae Jinyoung


•Kim Sohyun


o)(o


25 Desember 2017


Malam ini adalah malam natal. Warga Korea memutuskan untuk merayakan hari itu dengan berkumpul dengan keluarga besar mereka.


Namun, seperti yang kita tahu. Kota Seoul adalah kota yang tidak pernah istirahat, setiap waktunya hanya terisi dengan bekerja, bekerja dan bekerja. Tidak ada waktu istirahat. Meski hanya beberapa menit saja.


Jadi, ta'ayal sebagaian warga Seoul itu tidak bisa menghabiskan waktu bersama dengan keluarga mereka dimalam natal seperti ini.


Seperti wanita bersurai coklat emas ini. ia masih berkutip dengan laptop didepannya. Jari-jarinya yang kurus menari diatas diatas keyboard, dengan lincah.


Ada pesan, tolong dibuka!!


Pendengarannya di usik dengan suara notifikasi ponselnya. Wanita berpipi tembem itu hanya memutar matanya dengan malas, melirik ponselnya yang tidak berhenti berkedap-kedip.


Jam ponselnya sudah menunjukkan jam 10 malam KST. Wanita itu hanya melihat jam ponselnya tampa melirik notifikasi pada ponselnya.


Setelah melihat jam di ponselnya, ia kembali memfokuskan pandangannya pada laptopnya dan melanjutkan jari-jarinya menari di atas keyboard. Entah hantu apa yang merasukinya hingga ia harus menyelesaikan tugasnya itu, disaaat keadaan ruangan yang mulai gelap.


Tinggal dirinya yang masih tinggal diruangan itu. Beberapa pegawai sudah pulang 1 jam lalu.


Kreeekk...


Suara-suara aneh, terus terdengar di telinga wanita berambut panjang itu. Namun tidak sekalipun ia meninggalkan tempatnya, meninggalkan pekerjaannya hanya karna mendengar suara yang terdengar meneyeramkan.


Dreeeddd... dreeeddd


Kali ini bukanlah suara aneh yang mengerikan lagi yang terdengar. melainkan itu suara ponselnya yang terus bergetar beberpaa detik yang lalu.


Wanita itu dengan malas meraih ponselnya dan meletakkannya ditelinga. Satu tangannya yang bebas menutup laptopnya dengan perlahan.


"Ada apa?"


"Yak Kim Sohyun, kau sedang tidak mengingkari janjimu kan?" suara disebarang telfon terdengar sangat nyaring sehingga membuat wanita bernama Kim Sohyun itu menjauhkan smartphonenya dari gendang telinganya. Ia tidak ingin mengambil resiko gendang telinganya pecah karna mendengar suara wanita yang meneriaki dirinya.


"Tidak, ini aku akan pulang." ucapnya dengan tenang. menghempit smarphonenya antara kepala dan bahunya. Tangannya yang bebas, bergerak dengan cekatakan memasukkan berkas-berkas dan laptop kedalam ransel hitamnya.


"Sudah sampai mana? Atau kau baru saja keluar dari gedung itu... atau jangan-jangan baru memasukkan barang-barangmu?"


Sohyun tertawa pelan saat mengenakan tas punggungnya. "Pertanyaan yang terakhir terdengar pas. Ah ya, malam ini paman dan bibi ada dirumah?"

__ADS_1


Wanita diseberang sana terdengar mengehela nafas panjang. "Tidak, mereka sedang berada di rumah sakit."


"Siapa yang sakit?" Tanya Sohyun saat keluar dari ruangannya dan berjalan menuju ke lift. Jarinya yang kurus itu kemudian menekan tombol lift. "Apa nenek Eun kembali sakit?"


"Yah, dia sakit lagi. Dan kupikir penyakitnya semakin parah."


Ting


Pintu lift terbuka dan Sohyun segera masuk kedalam lift yang kosong itu. Jarinya kembali bergerak menyentuh tombol angka lantai dasar. Dan beberapa detik kemudian pintu tertutup dengan rapat.


"Terus bagaimana dengan kondisi kakek Ahn?"


Wanita diseberang sana masih menghela nafas. Namun helaan nafasnya kali ini terdengar putus asa


"Tidak ada yang tahu, bahkan eomma dan appa bilang kakek Ahn sedang tidak berada dirumah sakit."


Sejenak Sohyun terdiam memikirkan kondisi kakek Ahn. Pria tua itu sangat mencintai istrinya, jadi tidak heran bagi keluarga yang tidak melihat kehadiran Kakek Ahn untuk menjenguk sang istri. Melihat sang istri dalam keadaan sakit seperti ini, akan membuatnya semakin rapuh.


Ting


Pintu lift terbuka. Sohyun segera keluar dan berjalan untuk keluar dari kantornya.


"Dia sangat terpukul melihat kondisi istrinya itu."


"Benar, mereka telah menghabiskan waktu selama 80 tahun. Jadi tidak heran jika hal ini akan memberatkannya. Mereka akan berpisah."


Sohyun merasa sesak didadanya. Entah kalimat perpisahan itu membuat jantungnya terasa sangat terkoyah. Membuat dirinya mendadak lupa cara untuk bernapas.


Pikirannya penuh dengan masa lalunya yang kembali berputar dikepala kecilnya. Masa lalu yang ingin Sohyun hapus untuk selamanya. Sebuah masa lalu yang membuat Sohyun tumbuh menjadi pribadi seperti ini.


Sohyun menggelengkan kepalanya dan menunduk. Ia tidak boleh mengingat kenangan itu lagi. Hal itu tidak pantas untuk diingatnya.


"Saerom-ah, nanti kita lanjutkan dirumah."


"Oh ho... berhanti-hatilah dijalan, dan jangan lupa untuk membeli Tteokbokki, oke?"


Sohyun mengangguk dan tersenyum, meski tidak ada siapapun yang melihat senyumnya saat ini. "Hm, arasseo"


Bib


Sohyun mengakhiri sambungan telfonya setelah menjawab permintaan sahabatnya itu. Kini tinggal ia sendiri di depan gedung Key Company, sebuah gedung yang menjadi tempat kerjanya itu.


Sohyun kembali mengedarkan pandangannya, dilirik sekitarnya yang sepi. Tidak biasa didepan gedung Key Company sesepi ini, yang setahu Sohyun, kawasan ini menjadi tempat yang paling populer bagi pejalan kaki.


Wanita bersurai coklat emas itu, kembali diingatkan jika malam ini adalah malam natal. Pantas saja suasanya sedikit sepi. Ia tersenyum mengamati dirinya yang sedikit pelupa itu.


Bersamaan saat itu, hujan salju turun secara perlahan. Menjatuhkan butir-butir kristal yang lembut. Sohyun mengulurkan tangannya mencoba menangkap salju yang turun dari langit. Saat butiran kristal itu menyentuh kulitnya, ia terkekeh kecil merasakan tangannya yang dingin.


"Aku menangkapmu, kuharap kau bisa melindungi ku malam ini." ucapnya pada butiran kristal yang terdapat di telapak tangannya.

__ADS_1


Ia kemudian berjalan kearah zebra cross itu. Lampu untuk pejalan kaki masih merah. Yang menandakan ia tidak boleh menyebrang saat ini. Sohyun menunggu sambil memasang earphone ditelinganya, mendengarkan lagu dari kabel itu.


Setelah memasang earphone ditelinganya, lampu hijau menyala beberapa detik kemudian. Ia tersenyum, dan melangkahkan kakinya dengan ringan, membawanya menyebarangi jalan raya yang terlihat sepi itu.


Piiiipppp ... Piiiipppp


Mobil sedan berwarna navy itu melaju dengan kecepatan tinggi. Dan membawanya pada kearah Sohyun yang sedang menyebrang. Pria yang mengemudikan mobil itu berusaha dengan sekuat tenaga menyadarkan Sohyun untuk segera menghindar. Namun apa daya, pengaruh earphone ditelinga Sohyun, membuat wanita itu seketika menjadi tuli.


Sohyun menghentikan langkahnya ditengah jalan. Pantulan cahaya itu semakin terang di tempat yang cukup gelap itu. Sohyun memutar kepalanya mengamati mobil navy itu terus melaju dengan cepat kearahnya.


Matanya membulat seketika, mobil itu melaju dengan cepat kearahnya. Tidak ada waktu bagi Sohyun untuk menghindarinya. Dan ..


Brak


Blammm


Blammm


Blammm


Mobil sedan itu terpental jauh dan berguling beberapa kali. Hingga berhenti pada tempat yang cukup jauh dengan keadaan yang terbalik.


Sohyun memejamkan matanya. Ia takut dengan apa yang dilihatnya sekarang, terlalu mengerikan untuk dirinya yang tahu akan mati dengan cara seperti ini.


Wanita bersurai coklat emas itu merasa kakinya sudah melemas, tapi tubuhnya masih mampu untuk berdiri. Entah perasaannya atau bagaimana, Sohyun merasa ia tidak merasakan sakit yang luar biasa pada tubuhnya, ia tidak merasa tangannya yang sakit karna patah ataupun kepalanya yang berdenyut sakit hingga mengeluarkan darah segarnya.


Hanya saja, Sohyun merasa tubuhnya sangat hangat. Cukup hangat untuk cuaca yang dingin dimalam natal.


Tunggu? Apakah Sohyun sudah mati?? Dan apa ini?


Sohyun merasakan jemarinya bergerak menyentuh kain sutra yang halus dan bergelombang.


Apakah ini baju malaikat pencabut nyawa? pikir Sohyun.


Sohyun masih belum berani membuka matanya, ia masih tidak mau mempercayai jika dirinya benar-benar mati sekarang. Bahkan melihat wajah malaikat pencabut nyawanya, Sohyun masih belum berani.


BOOOOMMMMMMMMMMMMMMM


Suara ledakan itu terdengar sangat besar, jauh lebih besar dari suara bom yang didengarnya saat menonton drama. Bahkan hawa panas itu sampai pada posisi Sohyun yang bertahan dengan posisinya dengan sosok bersetelan hitam yang memeluknya.


Sosok setelan hitam itu semakin mengeratkan pelukannya. Membawa Sohyun dalam posisi yang nyaman dan hangat.


Sohyun mengeyitkan keningnya. Pelukan ini, kehangatan ini, aroma sosok ini. Sohyun pernah merasakannya.


Dengan berani Sohyun membuka kelopak matanya, dan mengangkat wajahnya menatap sosok yang masih memeluknya itu. Pandangan Sohyun masih buram, sosok wajah orang yang memeluknya tidak terlalu jelas di mata Sohyun, sosok itu sama sekali tidak menatapnya.


"Kau" Suara Sohyun yang terdengar bergetar.


Pria itu menundukkan kepalanya bersamaan Sohyun menutup matanya perlahan dan akhirnya wanita itu benar-benar kehilangan kesadaranya saat ini.

__ADS_1


🍁🍁🍁


See you next Chapter 😘😘😘


__ADS_2