Wolf Grey : A Girl Meets Werewolf

Wolf Grey : A Girl Meets Werewolf
16


__ADS_3

A written by shihanssi


Main Cast :


• Bae Jinyoung


• Kim Sohyun


.


.


.


Pria itu terdiam, membaringkan kepalanya di paha mulus sang kekasih. Tangan lentik milik kekasihnya bergerak diatas bibirnya, membersihkan luka disudut bibirnya dengan cairan anti seftik.


"Seharusnya kau tidak perlu repot-repot untuk mengobatinya, besok juga akan sembuh."


"Aiss kau ini, biarkan aku melakukannya."


Jinyoung terkekeh. Memejamkan matanya beberapa detik.


Pikitannya melayang kemana-mana. Perusahaan ayahnya, kondisi ayahnya dan si Kang berengsek Daniel.


Ahhh ... Jinyoung tahu jika Daniel berada dibelakang semua kejadian ini.


Pria itu benar-benar ingin menghancurkan dirinya hanya karna ia kembali kepada Sohyun, dasar.


Seharusnya saat itu Jinyoung tidak mengenal sosok Daniel agar ia mudah untuk membunuhnya. Merobek kulit pria itu dengan taringnya yang tajam, mencakar seluruh tubuhnya hingga robek.


Ahh sayang sekali dia mengenal bahkan menganggapnya sebagai saudara.


"Bagaimana ini bisa terjadi?"


"Huh?"


Sohyun menatap mata hitam pekat itu sekilas, kemudian melihat kembali bercak merah disudut bibir kekasihnya.


"Dimana kau mendapatkan luka ini?"


Jinyoung terdiam, ia tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya bukan?


Sohyun meliriknya sekilas, menghembuskan nafas pelan.


Sepertinya ia tidak akan informasi yang lebih.


"Apa yang terjadi pada perusahaanmu?"


Jinyoung terdiam sejenak. Ia ingin menghindari percakapaan ini, Jinyoung tidak ingin Sohyun tahu.


Tapi bagaimanapun Jinyoung menyembunyikan rahasia, suatu saat Sohyun akan tau. Dan itu semakin menyulitkannya lagi.


"Aku menghancurkan perusahaan ayah."


"Hah."


Sohyun meletakkan kapas diatas meja, ia sudah selesai membersihkan luka dibibir Jinyoung.


Memperhatikan kembali manik hitam di bawahnya.


Jinyoung terdiam, memejamkan matanya tiga detik.


"Seseorang memainkanku dalam pembelian perusahaan dengan harga yang lumayan tinggi. Dan kau tahu perusahaan itu sudah bangkrut tapi aku membelinya dengan harga fantastis karna mahluk brengsek itu."


"kau tahu siapa dia?"


pria itu menghela nafas panjang, kepala kecilnya mengangguk.


"Ya, Namwong grub."


Sohyun terdiam, sejenak kepalanya bekerja dua kali setelah mendengar nama perusahaan yang tidak asing baginya.


ia merasa pernah mendengarnya disuatu tempat, tapi dimana?


Jinyoung yang menyadari keterdiaman Sohyun pun langsung memperbaiki posisinya terduduk. Memperhatikan kekasihnya dari samping.


"So-ya,?"


Wania itu seolah menulikan pendengarannya. Terlalu fokus mengingat kembali dimana ia pernah mendengar Namwong grub.


.


*Setelah tubuh jangkung itu semakin menjauh dari pandangan Sohyun. Wanita itu mengalihkan pandangannya mengamati Daniel yang masih serius memandangi kartu nama pria jangkung itu.


Ia terdiam, memandangangi kartu nama yang diberikan pria asing itu kepada Daniel.


Namwong grub


"Siapa?"


Daniel terserentak kaget. Buru-buru ia memasukkan kartu nama itu kedalam saku jas hitamnya.


"Bukan apa-apa. Kau butuh sesuatu*?"


Kilasan tentang hari itu terlihat jelas di mata Sohyun.


Tidak salah lagi, kartu nama yang di pegang Daniel saat itu adalah kartu nama perusahaan yang menghancurkan Perusahaan Jinyoung.


"Kim Sohyun!"


Sohyun terserentak kaget mendengar suara berat Jinyoung. Ia menoleh dan dan memperhatikan kekasihnya itu bingung.


"Ya,"


"Apa yang kau pikirkan?"


"Tidak ada."


"So-ya."


Sohyun tersenyum, tangannya terulur menggenggam jemari lentik Jinyoung.


"Bagaimana keadaan presdir Bae? Apa dia sudah tahu?"


Jinyoung menganggukkan kepalanya.


"Sudah, ia mulai mengikhlaskannya. Lagi pula-" Jinyoung mengjeda ucapannya dengan sengaja, membuat Sohyun menoleh kepadanya, menuntut agar dirinya segera melanjutkan kalimatnya.


"Ini salah satu cara untuk membuat kami meninggal."


Sohyun mengerutkan kedua alisnya. Ia tidak mengerti. Sungguh tidak mengerti apa yang baru saja didengarnya.


Meninggal?


Keluarga Bae meninggal?


Satu tangan Jinyoung terangkat, menghelus pipi chubby Sohyun dengan punggung tangannya.


"Kami akan tetap hidup, So-ya. Kami tidak mungkin terus menjalani kehidupan seperti ini. Kami akan memulai hidup yang baru."


"Bukan sebagai pemilik SHB Entertainmen?" Jinyoung menganggukkan kepalanya. Ia tersenyum manis, membuat sedikit kerutan itu menghilang.


"Lalu dimana kalian akan tinggal nanti?"


"Aku tidak tahu, ayah masih memikirkannya."


Sohyun tersenyum, ia menundukkan kepalanya, tangannya bergerak saling menautkan jari-jarinya dengan jari milik Jinyoung.


"Bawa aku bersamamu." Sohyun menatap Jinyoung, saat pandangan mereka bertemu Sohyun melihat kerutan di dahi pria itu.


"Aku tidak ingin jauh darimu lagi. Aku tidak peduli jika aku harus melepaskan pekerjaanku disini, asal aku berada disisimu, hidupku jauh lebih bahagia."


"..."


"Kita akan melalui bersama, melewati masa sulit bersama."


"Tapi So-ya."


"Aku tahu kita berbeda, tapi itu bukan masalahnya. Aku tidak peduli kau adalah werewolf atau vampire sekaligus. Yang aku inginkan hanya hidup bersamamu."


"..."


"Bahkan jika aku dilahirkan kembali, entah menjadi werewolf atau menjadi manusia, aku hanya berharap untuk mencintaimu lagi. Dengan perasaan yang jauh lebih besar lagi."


Jinyoung tersenyum, matanya memerah menahan tangisnya.


Dadanya terasa sesak. Bukan sesak seperti itu.


Ini terlalu banyak kupu-kupu yang berterbangan di perutnya.


Menggelitikkan perut dan dadanya.


Jinyoung ingin menangis, ia sungguh tidak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu dari Sohyun.


Wanita itu benar-benar mencintainya, dan godness of moon tidak pernah salah memmbuat Sohyun menjadi mate-nya.


Jinyoung mendekat, mencium bibir mungil itu. Mencumbunya sebentar kemudian melepaskannya.


"Aku akan terus mengingat ucapanmu."


Sohyun mengangguk, "Jangan pernah lupakan seorang manusia yang sangat mencintaimu."


Jinyoung tersenyum manis, kedua tangannya terulur memeluk tubuh kekasihnya. Sangat erat, seolah hari tidak akan bisa melepaskannya untuk selamanya.


Jinyoung berharap hal ini tidak berhenti dimalam ini ... Kumohon


---


Wanita itu tersenyum dalam tidurnya. Perlahan kelopak matanya terbuka memperlihatkan iris indahnya, dikerjap-kerjapkan beberapa kali untuk membiaskan cahaya matahari yang malu-malu masuk dari celah jendelanya.


Merenggangkan badannya yang terasa kaku setelah beberapa jam mati rasa. Kepala Sohyun menoleh kesamping kanannya, saat menoleh kedua alisnya menukik, menimbulkan kerutan halus di keningnya.


Sebelahnya kosong dengan selimut dan sprei putih yang acak-acakan bak kapal pecah. Sohyun menolehkan wajahnya mengamati jam waker di nakas.


08.30


Ini masih terlalu pagi untuk pria berwajah kecil itu untuk pergi meninggalkan.


Dan,


Pria itu tidak membangunkannya sebelum pergi.


Sohyun bangun dari berbaring nya, terduduk beberapa detik sebelum ia memutuskan untuk memakai sandal rumahnya dan melangkah meninggalkan kamarnya hanya dengan kemeja putih kebesaran yang membungkus tubuhnya yang mungil.


*Tap


Tap*


Sohyun melangkahkan kakinya yang sedikit pincang itu kearah dapurnya yang tidak terlalu jauh dari kamrnya ; yang hanya terhadang ruang keluarga.


Harum


Lezat


Wanita bersurai coklat emas itu menghentikan langkahnya saat indra penciumnya menangkap aroma harum dan lezat. Ia tersenyum lebar saat mata hitamnya menangkap punggung lebar yang sedang berkutik di dapurnya, jangan lupakan apron merah maroon yang menempel di dada dan pinggang nya.


Sreek


Wanita itu memeluk Jinyoung dari belakang. Mengeratkan pelukannya seolah ia tidak membiarkan pria itu pergi meninggalkannya.


Jinyoung menoleh saat tubuhnya, satu tangannya yang sejak tadi menggenggam wortel menghelus lembut tangan putih yang berbalut kemeja putih kebersarannya.


"Kau sudah bangun?"


"Kupikir kau sudah pergi meninggalkanku." bukannya menjawab pertanyaan Jinyoung, Sohyun malah menggerutu. Ia mengangkat kepalanya melihat sebagian wajah kecil kekasihnya.


"Aku tidak akan pergi So-ya, jika aku pergi maka kau adalah orang pertama yang akan kubawa."


Sohyun tersenyum. Ia menjinjitkan kakinya, membuat tubuhnya sedikit tinggi


Cup


Pipi chubby itu bersemu merah. Ini bukan pertama kalinya bagi Sohyun untuk mencium pipi sang kekasih, tapi rasa malu setelah melakukannya terus saja datang.


Tak


Jinyoung meletakkan pisaunya diatas meja dapur. Membalikkan badannya tanpa harus melepaskan pelukannya.


"Hei apa yang kau lakukan?"


"Morning Kiss."


"Hanya dipipi? Bagaimana yang lainnya, seperti disini." Ucap Jinyoung dengan bibir yang sedikit dimajukan. Sohyun menggelengkan kepalanya, terlalu malu untukmu memulai lebih dahulu.


Disembunyikan wajahnya di dada bidang kekasihnya, menghirup aroma  apel yang manis dan merasakan kehangatan yang selama ini menjadi candunya.


Kehangatan Jinyoung, jauh berbeda dengan kehangatan Daniel. Sohyun lebih menyukai suhu hangat Jinyoung daripada kehangatan pria lain.


Cup


Sohyun mengangkat kepalanya setelah kepalanya dikecup singkat oleh Jinyoung. Pria itu tersenyum lebar.


"Aku suka aroma mu sekarangan. Kau mengganti parfum mu lagi?"


Sohyun menganggukkan kepalanya. "Ya, apa kau menyukainya?"


"Sangat suka, aku lebih suka aroma strawberry ini daripada aroma bayi. Kenapa kau tiba-tiba menggantinya?"


Sohyun melonggarkan pelukannya. Ia terdiam, berpikir sejenak sebelum ia membuka mulut untuk bercerita.


"Uhm hanya saja aku ingin."


Jinyoung tersenyum lebar. Ia memperhatikan kekasihnya dari atas sampai bawah, kemeja putih kebesaran yang panjangnya hingga diatas lutut, bahkan celana pendeknya saja tenggelam, Sohyun terlihat seperti tidak mengenakan celana.


Penampilan Sohyun saat ini terlalu menggoda Jinyoung. Tidak, Jinyoung harus menahan hasratnya untuk tidak menyentuh kekasihnya lagi, cukup semalam ia membuat Sohyun kelelahan.


Jinyoung menunduk, memperhatikan kaki kekasihnya yang masih dipasang gips, ia baru menyadari jika Sohyun berjalan dari kamar sampai ke dapur.


"Kau berjalan? Kenapa tidak menggunakan kursi roda?"


Sohyun menundukkan kepalanya, di gerakkan kakinya yang sedikit berat akibat gips besar disana. "Ini sudah tidak sakit lagi,"


"Benarkah?" Sohyun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Siang nanti aku akan kerumah sakit dan melepas gipsnya."


"Kalau begitu mandilah, dan aku akan menyiapkan sarapan untukmu."


"Bantu aku mencuci rambutku."


Sebelah alis Jinyoung terangkat, beberapa detik kemudian kedua sudut bibir mungil itu terangkat naik.


"Jangan menggodaku So-ya, aku tidak ingin membuatmu tidak bisa berjalan." ucap Jinyoung dengan nada beratnya yang terdengar sangat seksi.


Puk


Jinyoung meringis sakit ketika dahinya tiba-tiba di sentil dengan sayang oleh kekasihnya.


"Dasar mesum, aku hanya memintamu membantuku mencuci rambut."


Pipi chubby itu memerah seperti kepiting rebus, bahkan merahnya hingga menjalar ketelinganya. Jinyoung tertawa kecil, satu tangannya di selipkan dibawah telinga Sohyun, menghelusnya secara lembut.


Pria bersurai hitam legam itu mengeryit, dengan cepat ia menyibak anak rambut bagian telinga Sohyun. Sedikit memajukan untuk melihat bagian belakang telinga kekasihnya.


Jinyoung mengernyitkan dahinya saat tangannya merasakan ada gumpalan daging di belakang telinga Sohyun. Dan benar saja, saat ia melihatnya, bekas itu terlihat kontras. Seperti bekas jahitan.


"Apa ini So-ya?" Sohyun mengangkat tangannya, menyentuh sesuatu yang menjadi daya tarik Jinyoung.


Jemari lentik itu menekan pelan bekas jahitan dibelakang telinganya. "Ahh ini, entah."


Jinyoung menoleh, menatap bingung kekasihnya. Apa maksudnya entah?


"Nenek bilang ini bekas luka ku saat jatuh dari jurang."


"Jurang? Kapan?"


Sohyun memutar matanya, tampak mengingat kapan dia jatuh ke jurang.


Setelah beberapa detik mencoba mencari tahu dalam memorinya, Sohyun tidak ingat kapan dia pernah jatuh ke jurang. Bahkan ingatan tentang mengapa ia terjatuh tidak ada. Ingatan itu seolah terhapus dari kepalanya.


Sohyun tersenyum, tangannya diangkat menyentuh kerutan halus di kening Jinyoung.


"Aku tidak ingat, nenek hanya bilang jika aku pernah jatuh ke jurang. Kapan dan bagaimana kejadiannya dia tidak pernah membicarakannya."


Jinyoung menarik pinggang ramping itu, mendekat dalam pelukannya. Pikirannya melangsang entah kemana. Dadanya tiba-tiba berdenyut sakit ketika mendengar Sohyun nyaris saja mati saat kecil, untuk pertama kali Jinyoung menyesal terlambat mengenal Sohyun, andai saja ia mengenal wanita itu sejak dilahirkan Sohyun tidak mungkin nyaris mati saat kecil.


---


"Bagaimana keadaanmu?" tanya pria berkulit tan dengan jas putih membaluti tubuh kekarnya.


Sohyun yang sejak tadi memperhatikan ponselnya pun mengalihkan atensinya pada Mingyu. Pria itu menarik kursi dan menduduklan tubuhnya tepat disamping ranjang Sohyun.


"Cukup baik, kakiku bahkan sudah tidak terasa berat lagi."


Mingyu memperhatikan kaki Sohyun yang digerakkan ke kanan dan kekiri.


"Tapi kau harus istirahat selama dua hari untuk memulihkannya oke."


"Ayayya siap dokter Kim" ucap Sohyun bersemangat. Tangannya diangkat seolah ia sedang memberi hormat kepada pria berkulit tan itu.


Mingyu tersenyum lebar, sampai giginya yang berjejer rapih terlihat, dan jangan lupakan taringnya yang begitu menggoda.


Melihat senyum dan mata berbinar itu sekali lagi membuat jantungnya berdetak lebih cepat, rasanya jantungnya itu ingin lepas dari tepatnya agar ia bisa berpacul lebih dan lebih cepat lagi.


Senang melihat keceriaan itu kembali, senang melihat Sohyunnya telah kembali. Senyum itu kembali melebar, mata berbinar penuh cinta itu kembali ditunjukkan. Jinyoung benar-benar sangat berpengaruh bagi Sohyun. Dan Mingyu mengakuinya.


Mingyu menghembuskan nafasnya pelan. Ia benar-benar harus menyerah untuk memiliki Sohyun, menyerah untuk membayangkan jika suatu saat nanti Sohyun berlari kearahnya dan memeluk tubuhnya.


Katakan selamat tinggal untuk cinta bertepuk sebelah tangannya.


---oOo---


Sohyun membuka lembaran kertasnya, mengamati setiap dialog yang dicoret, disilang dan berbagainya.


Kalian tentu tahu siapa pelakunya.


Tidak ada artis lain yang akan berbuat seenak jidatnya sepertinya. Bahkan sang sutradara pun enggan melakukannya, toh dia percaya dengan apa yang ditulis oleh Sohyun.


"Apa kali ini Jongin melakukannya?"


Sohyun mengalihkan atensinya pada seorang wanita disampingnya. Saerom memberikan sekaleng soda pada sahabatnya itu.


"Bukan," Sohyun menggelengkan kepalanya. Membuka dengan kasar penutup kaleng kemudian meneguknya, menghilangkan rasa haus di tenggorokannya.


"Lalu?"


"Jeon Somi."


"Kenapa dia melakukannya?" Saerom menarik kursinya dan duduk disamping Sohyun. "Kupikir hanya Jongin yang melakukannya."


Sohyun mengendikkan bahunya, netra hitamnya kembali menatap lekat lebaran naskahnya yang dicoret-coret oleh Somi.


Ia tidak habis pikir wanita itu akan melakukan hal gila seperti ini. Seharusnya kejadian itu menyadarkan Somi untuk berhenti mengacaukan hidupnya, toh ia memiliki beberapa werewolf yang akan melindunginya.


Ahh ngomong-ngomong tentang Werewolf. Sudah ada berapa banyak ia temui werewolf?


10? 20? Atau 100? Atau bahkan jauh lebih banyak yang dipikirkannya.


"Ahya bagaimana dengan kondisi Presdir Bae? Kudengar dia masuk rumah sakit setelah mendengar perushaannya bangkrut."


Sohyun menoleh lagi, menatap lekat sahabatnya yang tidak mengetahui sebenarnya. Menghentikan sejenak pikirannya tentang menghitung banyaknya werewolf yang ditemuinya.


Sudah satu minggu ini berita dikorea masih hangat membicarakan perihal kebangkrutan SHB dan kondisi Presdir Bae yang mendadak masuk rumah sakit. ── kalian tahu jika presdir Bae Sehun benar-benar tidak sakit──


Sohyun tersenyum masam, terlihat senyumnya itu berasal dari hatinya. Namun sebanarnya tidak. ia berbohong.


Yah karna sebenarnya wanita itu berusaha berbohong kepada semua orang yang menanyakan kondisi presdir Bae padanya.

__ADS_1


Sohyun hanya ingin membantu keluarga Bae untuk menghilang. Toh ini permintaan Jinyoung, pria itu ingin Sohyun membantunya untuk menghilang dari dunia manusia untuk sementara waktu.


"Kita doakan saja semoga presdir Bae cepat sembuh dan memulai bisnisnya dari awal."


Saerom menghela nafas beratnya. Ia ikut prihatin dengan kondisi presdir Bae dan putranya itu.


"Bagaimana hubunganmu dengan Jinyoung? Apa tetap baik-baik saja."


"Huh?" Sohyun menoleh, melempar pandangan bingung pada sahabatnya itu.


"Itu- dia kan sedang dalam masa yang sulit, ada saat dimana Eumm- Jinyoung meminta putus secara sepihak."


Sohyun masih diam, memperhatikan sahabatnya yang terlalu banyak memainkan kata.


"Itu, kau tahukan seseorang yang memiliki kesulitan terkadang memutuskan keputusan secara sepihak."


Sohyun tersenyum, mulai mengerti kemana arah pembicaraan sahabatnya itu.


"Walaupun dia memintanya aku tidak akan melepaskannya. Disaat seperti ini bukankah aku harus terus berada disisinya untuk menyemangatinya. Aku tidak ingin di cap sebagai kekasih yang hanya ada disaat kekasihnya dalam kondisi yang baik-baik saja."


"Jadi, eum kau akan tetap berada disisinya dalam kondisi apapun?"


Sohyun menganggukkan kepalanya mengiyakan. Saerom tersenyum tulus.


Entah mengapa melihat sahabatnya tetap berada disisi kekasihnya dalam kondisi apapun membuatnya bahagia. tidak ada yang tahu bagaimana bentuk masa depan, tapi sahabatnya itu -Kim Sohyun- akan tetap disisi Jinyoung.


"Aku akan memegang kata-katamu. Jika kau sampai mengingkarinya maka aku adalah orang yang pertama akan membunuhmu."


Sohyun terkekeh geli. Ia menundukkan pandangannya melihat kembali nasakahnya.


"Terserahmu saja Lee Saerom."


"Aku bersungguh-sungguh Bae Sohyun."


Plak


Sohyun mendaratkan pukulan sayangnya pada bahu Saerom. Terdengar sangat menggelikan ketika sahabatnya itu memanggilnya dengan marga kekasihnya.


"Yaks jangan memanggilku seperti itu."


Saerom terkekeh, "Memangnya kenapa? Kalian kan tidak lama lagi menjadi -ekhm"


Saerom dan Sohyun menoleh kebelakang saat suara deheman itu menyela perkataan Saerom.


Pria berbahu lebar itu berdiri tepat dibelakang Sohyun. Ia terlihat rapih dengan jas navy nya membungkus tubuh atletisnya, rambutnya yang hitam mengkilap, poninya disisir kekanan menutup sebagaian dahinya.


Pria itu terlihat sangat menanwan. Semua wanita akan jatuh pada visualnya.


Saerom menoleh menatap Sohyun lekat. Pria berbahu lebar itu sudah pasti hanya akan menemui sahabatnya, tidak mungkin dirinya. Jikapun dirinya pastinya hanya terjadi dalam mimpi.


Sohyun tersenyum dan pria berbahu lebar itu ikut tersenyum.


"Kang Daniel, ada apa kemari?"


"Aku tidak sengaja lewat didepan gedung, jadi aku memutuskan untuk singgah."


Sohyun menganggukkan kepalanya mengerti, sementara Saerom melongo tidak percaya mendengar kalimat basi yang keluar dari mulut Daniel.


Bilang saja jika ingin bertemu dengan Sohyun, tidak perlu mengatakan hal klasik seperti itu.


"Kim Sohyun-ssi."


"Uhmm."


"Apa kau sibuk?"


Nah kan, apa aku bilang. - Saerom berdecak kecil.


Wanita berambut sepundak itu mengamati Daniel lamat. Tidak mungkin pria itu hanya kebetulan lewat dan singah, Daniel sudah pasti ingin bertemu dengan Sohyun.


Sohyun menoleh, mengamati sahabatnya yang memberi tatapan tidak sukanya pada Daniel.


Kedua alis Sohyun berkerut melihat tatapan itu. Sohyun tidak mengerti mengapa sahabatnya itu memberikan pandangan tidak suka pada Daniel.


"Sohyun-ssi."


Sohyun menoleh, memperhatikan Daniel.


"Bisa bicara sebentar?"


Sohyun terdiam, mata bulatnya melirik sahabatnya yang hanya memberikan pandangan tidak suka pada Daniel.


Ia menghela nafas pelan, kemudian menganggukkan kepalanya.


"Baiklah. Saerom-ah, maaf aku -"


"Ya tidak apa-apa. Kalian bisa menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu." Saerom bangun dari duduknya, meninggalkan Sohyun dan Daniel.


.


.


Semilir angin sore diatas rooftop begitu menyegarkan. Terlihat kedua orang yang berdiri diatas rooftop, dengan paper glas ditangannya.


Pria berbahu lebar itu menoleh, memperhatikan wajah cantik dengan polesan make up tipis itu berdiri disampingnya. Rambutnya yang panjang dikuncuir kuda,membiarkan leher jenjangnya terekspos.


Sohyun menoleh, menatap bingung pria disampingnya yang masih menatapnya dengan pandangan memuja.


"Kenapa melihatku seperti itu?"


Daniel tersenyum, menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak. Aku hanya suka saja." Sohyun terdiam, satu alisnya terangkat naik. Jawaban yang diberikan Daniel membuat kepalanya tiba-tiba sakit karna memikirkannya.


Hening


Mereka kembali terdiam beberapa saat. Menikmati kembali irisan jingga di langit, dan menikmati semilir angin yang menerpa tubuhnya.


"Bagaimana keadaanmu?"


Sohyun menoleh, memperhatikan sorot mata Daniel yang menatapnya lembut. Ia tersenyum.


"Baik, bagaimana denganmu?"


"Cukup baik. Kau sudah tahu jika aku sudah berhenti di perusahaan Jinyoung?" Sohyun menganggukkan kepalanya. Tentu saja ia tahi pria berbahu lebar itu berhen- lebih tepatnya dipecat oleh Presdir Bae. - Daniel telah kehilangan pekerjaannya.


"Aku sekarang membangun sebuah perusahaan di Taiwan. Aku jadi pengusaha Real Estate disana."


"Benarkah?" mata bulat itu berbinar bahagia mendengar kesuksesan Daniel diluar negeri ; melupakan sejenak jika pria di sampingnya itu telah menghancurkan perusahaan kekasihnya.


Daniel menganggukkan kepalanya, ia tersenyum lebar sampai matanya menutup rapat dan gigi kelincinya menyembul keluar.


"Setelah pekerjaan ku selesai disini aku akan pindah ke Taiwan dan merintis perusahaanku." perlahan Sohyun mengangguk mengerti, kepalanya bergerak depannya, mata hitamnya itu menatap kosong dihadapannya.


Sesuatu tiba-tiba terbesit dikepalanya. Kalimat Daniel yang Setelah pekerjaan ku selesai, Sohyun seolah menganggap jika kalimat itu lebih cocok setelah perperangan ini sudah selesai.


Sohyun menarik nafas dalam kemudian dihembuskannya perlahan. Perperangan ini, kapan akan selesai?


"Daniel-ssi."


"Hm."


"Kau tahu saat ini Jinyoung dan keluarganya mencoba untuk membuat mereka seolah telah meninggal." Ucap Sohyun, memperhatikan Daniel yang senantiasa menatap dirinya.


...dan mereka memutuskan untuk meninggalkan korea untuk beberapa tahun lamanya."


"Kau akan ikut bersamanya?"


Sohyun mengangguk pelan. "Hm, aku akan melepas karirku sebagai penulis disini dan ikut bersama mereka. Aku akan memulai kehidupan yang baru bersama Jinyoung."


Daniel tersenyum miring, "Kau tahu Sohyun-ah." Sohyun menoleh melihat bingung si pemilik bahu lebar.


"Alasan Jinyoung mendekati mu selain dia mencintaimu?" Sohyun terdiam, ia tidak tahu alasan lain Jinyoung mendekatinya. Yang Sohyun tahu pria itu mencintainya, itu saja.


"Karna dia mengira dirimu adalah mate nya. Pasangan yang bisa mengubahnya menjadi manusia sempurna. Dari kecil aku sudah mengenal Jinyoung, dia pendiam dan tidak banyak menuntut sesuatu. Namun sekali menuntut sesuatu maka itu harus terpenuhi. Dan kau ingin tahu apa yang diinginkannya?"


"..."


"Menjadi manusia...


...Dan menginginkan mu yang sebenarnya adalah mate ku."


"Kang Daniel-ssi."


Daniel memperbaiki posisinya menghadap Sohyun. Kedua tangannya terangkat menyentuh pundak wanita itu dan menuntun untuk menghadapi kearahnya.


"Sebelum kau bertemu Jinyoung, kau bertemu denganku. sebelum kau menolong Jinyoung kau menolongku, sebelum kau jatuh cinta dengan Jin-"


"Jika itu memang pernah terjadi mengapa kenangan itu menghilang? Mengapa aku hanya mengingat Jinyoung dimasa lalu ku, bahkan dalam mimpiku hanya melihat Jinyoung? Apa kau benar jika aku terlebih dahulu bertemu denganmu sebelum Jinyoung?"


Mata coklat itu perlahan berubah menjadi merah. Melihat dengan tajam Sohyun. jika saja pandangannya bisa melukai, maka Sohyun sudah mendapatkan beberapa tikaman ditubuhnya akibat tatapan tajam Daniel.


"Kau tahu Kang Daniel, cara mencintaimu itu terlihat menyedihkan."


Perlahan cengkaraman di bahu Sohyun terlepas, pria itu tersenyum


"Apa kau tahu bagaimana besarnya perasaanku untukmu?"


"Kang Dan-"


Pria itu menghela nafas panjang, mengalihkan kembali pandangannya pada matahari yang mulai tenggelam.


"Perasaanku jauh lebih besar dari yang dimiliki kekasihmu itu. Dan perlu yang kau tahu, dia tidak akan pernah bisa melindungi mu sampai nafas terakhirnya.


... Ini bukan akhir dari perperangan Kim Sohyun. Masih ada perperangan di masa depan nanti dan dia, dia bahkan tidak bisa melindungi mu lagi."


"Apa yang akan kau lakukan padanya?" tanya Sohyun dengan satu tangannya *** lengan Daniel.


Pria itu mengendikkan bahunya tidak tahu, dan satu tangannya menepis pelan tangan Sohyun yang *** bahunya.


"Aku tidak tahu."


Sohyun mengigit bibirnya dalamnya kuat-kuat, kedua tangannya *** ujung bajunya.


Pikirannya kacau, Jinyoung nya. Ahhh bahkan menyebut nama itu dalam pikirannya membuat dadanya terasa sesak. Sohyun tidak ingin pria yang dicintainya itu lenyap di tangan pria brengsek dihadapannya.


Dan kali ini, Sohyun tidak akan membiarkan pria itu melakukannya lagi.


Sohyun melangkahkan kakinya menjauh. Pergi melininggalkan Daniel di rooftop, ia hampir saja sampai didepan pintu sebelum suara berat itu mengintrupsinya.


"Tidak ada yang bisa kau lakukan untuk melindunginya selain kembali kepadaku. Jadilah milikku sepenuhnya."


Sohyun menghentikan langkahnya. Matanya memerah akibat menahan tangis di matanya. Mengapa hal ini harus serumit ini, mengapa perasaannya yang dulu membuat seseorang seperti Daniel menjadi monster yang menakutkan.


Merutuki kebodohannya yang pernah mencintai Daniel. Seharusnya saat itu dia tidak pernah menyimpan perasaan itu dan membuat Daniel jatuh cinta kepadanya.


Sohyun menyesal. Karenanya semua ini terjadi.


Wanita itu membalikkan badannya menatap tajam Daniel yang menyunggingkan senyum kelincinya kepada dirinya.


"Jika aku menjadi milikmu apa ini benar-benar berakhir?"


Pria itu menganggukkan kepalanya antusias. "Of course, bahkan aku akan melindungimu dari bahaya."


"..."


"Ikutlah denganku ke Taiwan. Dan memulai hidup yang baru."


"Meski kita berbeda? Kau serigala dan aku manusia?"


Daniel menganggukkan kepalanya. Tidak jadi masalah baginya jika ia tetap menjadi Werewolf sementara Sohyun adalah manusia. Asal wanita itu berada disisinya selamanya, ia akan melupakan fakta jika mereka berbeda.


Sohyun tersenyum. Seolah senyumnya telah menjawab permintaan Daniel.


~


Jinyoung menepikan mobilnya. Ia terdiam mendengarkan seksama suara dari ponselnya itu.


"Jika aku menjadi milikmu apa ini benar-benar berakhir?"


"Of course, bahkan aku akan melindungimu dari bahaya."


"..."


"Ikutlah denganku ke Taiwan. Dan memulai hidup yang baru."


"Meski kita berbeda? Kau serigala dan aku manusia?"


Pip


Jinyoung mengakhiri sambungan itu sebelum ia mendengarnya lebih jauh. Kang brengsek Daniel itu... Jinyoung tidak habis pikir dengan rencananya.


Bahkna Daniel tahu cara untuk melukai hatinya.


Jinyoung menyandarkan kepalanya di di sandaran kursi, memejamkan matanya tiga detik.


Meski kita berbeda? Kau serigala dan aku manusia?"


Kalimat itu seolah menghantam pikirannya, Jinyoung menatap kosong dihadapannya. Nyatanya mereka memang berbeda, Dua kehidupan yang berbeda dan tak lazim -- hanya dirinya yang memiliki kehidupan tidak lazim : manusia serigala.


Apakah dia benar-benar pantas untuk memiliki manusia seperti Sohyun. Wanita itu hanya manusia biasa yang memiliki umur yang sudah ditentukan. Umur yang tidak terlalu lama untuk hidup, berbeda dengan dirinya : dapat hidup selama ratusan tahun.


Cinta antara Serigala dan Manusia── ahhh apa yang diharapkan dengan hubungan berbeda kehidupan? Ia hanya bisa memilikinya sementara, tidak akan bertahan lama : manusia rentan meninggal lebih cepat.


Lalu bagaimana dengan keistimewaan yang dimilikinya? : menjadikan dirinya manusia normal bersama matenya.


Jinyoung menghela nafas panjang. Tangannya memijit pangkal hidungnya yang terasa sakit.


Mate, Jinyoung sekarang ragu. Benarkah Sohyun adalah matenya sementara Daniel juga memilikinya.


Drrrrttt drrrtttt


Menolehkan wajahnya memandangi ponselnya berdering beberapa detik yang lalu. Tanganya terukur meraih ponselnya, menggeser ikon hijau kemudian mendekatkannya di telinga.


"Dia setuju menjadi milikku."


Suara berat di sebrang sana terdengar seolah meledek Jinyoung yang kalah.


Jinyoung tersenyum miring. Sorot matanya menajam dan iris hitam itu dengan secepat kilat menjadi merah.


"Ahh aku tidak menyangka dia akan melepaskan dirimu hanya untuk melindungi mu. Kau menyedihkan Bae Jinyoung."


"Apa sesenang itu memiliki Kim Sohyun?"


"Tentu, maafkan aku jika aku yang berhasil memilikinya."


"Tsk. Kau menyedihkan hyung."


"Hahahahahaha"


Daniel tertawa diseberang sana. Jinyoung meremat erat stirnya, suara tawa itu benar-benar meledeknya, Jinyoung tidak suka.


"Yayayaya... Aku memakluminya kau sangat kesal padaku. Dann ahhh Bae Jinyoung aku mempunyai hadiah kecil untukmu, kau akan menerimanya nanti."


"Apa yang-"


"Ohh tenanglah Bae Jinyoung, kau pasti akan menyukainya. Temui aku jika kau sangat menyukai hadiah pemberianku."


Pip


----


Sehun melangkahkan kakinya mendekat pada sosok wanita yang tengah duduk di kursi kulitnya. Wanita itu menyilangkan kakinya, seolah dengan sengaja memperlihatkan keseksian kaki putihnya dihadapan pria berumur 40 tahunan itu.


Somi tersenyum miring ketika netranya menatap sosok wanita lain dibelakang Sehun. Wanita cukup cantik dan eum manis.


"Kupikir kau tidak akan datang Jeon Somi." ucap Sehun, ia duduk disofa single, menyandarkan punggungnya dengan nyaman di sandaran sofa kulit sintesisnya.


"Tentu aku akan datang chagi." Somi tersenyum dan netranya masih menatap sinis wanita cantik yang tengah duduk dihadapannya. "kenapa kau membawanya kemari?"


Sehun mengalihkan pandangannya, diperhatikan wanita yang dibawahanya sejak tadi itu. Ia tersenyum.


"Kau mengenalnya?"


Katakan Sehun adalah aktor terbaik di korea. Ia bisa bertanya hal itu seolah ia tidak tahu jika Somi dan Nona Kim saling kenal. Sehun bahkan bisa mengekspresikan wajah terkejutnya disela senyum kecil menyungging di bibir mungil nya.


Somi memutar matanya malas. "Ya, kupikir." ucapnya malas, ditatapnya lagi nona Kim. "Ada perlu apa kau kemari bersama dengan calon suamiku?"


Nona Kim tersenyum, ia menundukkan kepalanya beberapa detik kemudian diangkatnya sembari menyingkirkan anak rambut yang jatuh di depan wajahnya kebelakang telinganya. "Calon suamimu? Apakah aku tidak salah mendengarnya Jeon Somi-ssi? Kau telah melukai calon suamimu sendiri karna kecemburuanmu."


Somi menukikkan kedua alisnya. Omong kosong apa yang dibicarakan nona Kim kepadanya.


Dia melukai calon suaminya? Bukankah pria itu sendiri telah melukainya sampai ia hampir kehilangan nyawanya.


"Tuan Jeon, kupikir dia tidak memberitahu mu soal penyekapan yang dilakukannya terhadap presdir Bae dan diriku. Dan bahkan dia akan melakukan yang buruk pada Jinyoung jika saja pria itu tidak pergi bersembunyi malam itu."


Somi masih terlihat bingung. Ia tidak mengerti. Ada apa dengan ayahnya? Apa yang akan dilakukan ayahnya pada pria yang dicintainya : Bae Jinyoung.


"Kau tidak perlu acting di hadapanku Jeon Somi. Tidak akan ada kamera tersembunyi yang merekam tindakan busukmu untuk melukai Sohyun melalui Jinyoung."


Sehun memperbaiki posisinya. ia tersenyum meremehkan, yang tentu saja senyum itu diberikan kepada Somi.


"Kau tahu jika Jinyoung akan memutuskan Sohyun jika ia dalam kondisi bersalah seperti itu,"


Somi menundukkan kepalanya, ia terkekeh mendengar omong kosong yang ditujukan kepadanya. Sehun dan nona Kim saling melempar pandang.


"Kalian pintar sekali." Somi mengangkat wajahnya, ia tersenyum licik, benar-benar licik. "Astaga aku kira kalian akan tidak memikirkannya sampai disana, termasuk dirimu presdir Bae. Aku tidak pernah memperhatikan dirimu seperti ini."


"Benarkah? Hhhhahah... Sepertinya kau harus mengenalku lebih jauh, bukan mengenal putraku. Ahhh aku baru ingat, kau menggunakan ku hanya agar kau bisa terus di sisi putraku...


...Dan seharusnya kau tahu mengapa aku ingin menikahi serigala gila sepertimu. Aku hanya ingin menjauhkan putraku dari wanita gila sepertimu dan membiarkan putraku hidup tenang bersama wanita yang dicintainya."


"Oh ya?" Somi terkejut yang dibuat-buat. Ia bahkan sampai menutup mulutnya dengan satu tangannya, seolah mengekpresikan ia benar-benar tekejut dengan pernyataan Sehun. Namun nyatanya, salah.


"Kurasa kita adalah kombinasi yang pas untuk mendapatkan keuntungan. sayangnya saat ini, kau tidak beruntung tuan Bae."


"Apa maksudmu Jeon Somi?" Somi menoleh menatap nona Kim yang sepertinya penasaran dengan pernyataannya.


"Hahaha, kalian bahkan tidak menyadarinya. Kalian pikir wanita sia- ahhh maksudku Kim Sohyun itu akan membuat hidup Jinyoung tenang?"


"..."


"Lihat, betapa tersiksanya Jinyoung selama ia bersama dengan Sohyun. Kalian tahu Sohyun adalah pembawa sial untuk Jinyoung."


"Jaga omonganmu jalang"


Somi menoleh menatap tajam Sehun. Tatapannya begitu tajam, seolah ia bisa saja menghancurkan lidah Sehun yang memanggilnya jalang.


"Seharusnya kau memikirkan ini lebih dahulu Presdir Bae. Putramu itu akan mati karna Kim Sohyun, kisahnya hampir sama dengan Wolf Grey yang ditulis kekasih putramu itu, tapi kau tahu endingnya? Dalam film Wolf Grey si wanita yang mati karna melindungi si pria. Nyatanya Jinyoung yang berkorban untuk melindungi Sohyun."


Sehun dan nona Kim terdiam. Matanya bergerak gelisah. Tidak mungkin. Omong kosong tidak berbobot itu tidak mungkin benar.


Bagaimana bisa Sohyun dan Jinyoung. Astaga membayangkannya saja tidak sanggup.


Somi melirik arloji coklanya, ia tersenyum dan melirik kedua manusia serigala itu.


"Beberapa jam lagi, kupikir semuanya akan berakhir." Somi bangun dari duduknya, memutuskan untuk melangkah meninggalkan tempat itu. Namun  sebelum ia benar-benar pergi, sebuah tangan kekar menarik tangannya. Memaksanya untuk berhenti disampingnya.


Somi menundukkan kepalanya melihat Sehun yang tengah mendongakan kepalanya menatap dirinya.


"Lalu bagaimana dengan kemampuannya yang diberikan oleh goddnes of moon?" Somi tersenyum sinis.


"Kau percaya jika putramu tidak apa-apa meski ia bertemu dengan mate nya? Kau harus tahu tuan Bae. Kim Sohyun adalah mate dua serigala, dan kau tahu siapa mereka."


"Kang Daniel?"


Somi menolehkan kepalanya menatap nona Kim yang lagi-lagi ikut masuk dalam pembicaraannya dengan Sehun.


"Kau benar, dan kau tahu apa yang terjadi jika dua serigala memiliki mate yang sama? salah satu dari mereka harus menghilang."


.


.


.


Tok tok tok tok tok tok

__ADS_1


Saerom menyembulkan kepalanya dari balik pintu. seperti tupai yang sedang memperhatikan sekitarnya.


Tok tok tok


Mengernyitkan dahinya, malam-malam begini siapa yang dengan tidak sopannya datang bertamu. Saerom melangkah keluar dari kamarnya, mendekati pintu utamanya.


Tok tok tok


"Astaga tidak sabaran sekali. Yaaaa sabarlah!"


Ceklek


Rahangnya jatuh, matanya membulat dengan sempurna ketika ia mendapati sosok berjakung lengkap dengan jas hitamnya berdiri dihadapannya.


"Direktur Bae, ada apa anda kemari?" Tanya Saerom yang masih tidak mempercayai keberadaan Jinyoung yang tengah berdiri dihadapannya.


"Apa Sohyun ada disini?"


Saerom mengglengkan kepalanya.


Nyatanya memang Sohyun tidak bersamanya setelah wanita itu memutuskan untuk berbicara berdua dengan Daniel. Setelah itu Saerom benar-benar tidak tahu kabar Sohyun.


"Memangnya ada apa direktur Bae?"


Jinyoung menggelengkan kepalanya. Tidak, dia tidak boleh membuat wanita dihadapannya itu cemas.


"Tidak apa-apa, tolong hubungi aku jika Sohyun kemari. Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan dengannya."


"Aahhh arasseo."


"Maaf mengganggu mu Lee Saerom-ssi." saerom hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Jinyoung tersenyum.


"Kalau begitu aku harus kembali kerumah sakit. jangan lupa hubungi aku."


Saerom menganggukkan kepalanya sebelum pria jangkung itu berlari meninggalkan pintu apartemen dan masuk ke dalam lift.


Menutup kembali pintu apartemennya, setelah itu melangkah masuk kedalam. tangannya merogoh saku celana pendeknya, mengeluarkan ponselnya.


Saerom penasaran, bohong jika Saerom tidak curiga saat Jinyoung tidak mengatakan tidak apa-apa tentang keadaan Sohyun. Tidak mungkin pria berwajah kecil itu jauh-jauh ke apartemennya hanya untuk mencari keberadaan Sohyun. Bisa saja pria itu menghubungi nomer kekasihnya.


Ia terdiam beberapa saat saat ponselnya menempel ditelinganya. Saerom menunggu diseberang sana mengangkat panggilannya.


Pip


Sambungan itu terputus begitu saja, sebelum Sohyun sempat mengangkatnya.


Kedua alis Saerom berkerut, tidak seperti biasanya Sohyun mengabaikan panggilannya.


Apa yang terjadi?


.


"Kumohon So-ya angkat telfonku." ekor mata Jinyoung melirik ponselnya yang berada diatas dashboard mobilnya.


Pikirannya kacau, hal yang tidak seharusnya ia pikirkan tiba-tiba memenuhi kepalanya dan membuatnya sakit.


Setelah Daniel mengatakan jika ia memiliki hadiah. Jinyoung takut jika itu adalah pertanda buruk bagi Sohyun. Jinyoung tidak ingin Sohyun terluka karna Kang brengsek Daniel.


Drrtttt drrrrttt


Jinyoung menekan ikon panggilan di stir mobilnya tanpa harus melihat siapa yang memanggilnya.


"Young-a."


"So-ya. Eodiga?"


"Aku berada diluar kota-uhuk maaf membuatmu khawatir."


"Apa yang terjadi padamu So-ya?"


"Tidak apa- akhhh, hiks"


"Kim Sohyun?!" Jinyoung meremat kuat stir mobilnya. Diseberang sana terdengar samar-samar suara isakan tangis tertahan.


Rasanya sangat sesak di dada nya ketika suara isakan tertahan itu berasal dari seberang sana. Mencoba menahan sakit yang dialami disana dan tak membuatnya khawatir.


Jinyoung merasa dirinya ditikam habis-habis oleh suara tertahan itu. Menyadarkan dirinya betapa tidak bergunanya dia untuk Sohyun, bahkan ia telah berjanji untuk melindungi Sohyun.


Nyatanya ia membiarkan wanita itu terluka tanpa tahu kesalahannya.


"So-ya dengarkan aku. Katakan dimana keberadaanmu."


Hening. Jinyoung dapat membayangkan Sohyun tengah menggelengkan kepalanya. jinyoung yakin itu.


"Tidak Young-a, aku baik- arrrghhh lepaskan si- diamlah jalang, kami hanya memintamu untuk berkerja sama. Lakukan sesuai perintah atau dia akan melakukan hal lebih padamu"


Dalam diam, air matanya mengalir membasahi pipi tirusnya.


hatinya mencelos sakit, seolah direnggut secara paksa dan dihancurkan berkeping-keping.


Kekasihnya di sana disiksa, dan Jinyoung tidak bisa melindinginya. Kemana janjinya saat itu? Mengapa ia hanya diam didalam mobil, mendengar jeritan kekasihnya yang entah bagaimana kondisinya.


"Arrrrghhhh ssshhh hiks... Hik"


"So-ya, kumohon bertahanlah, kumo-"


Piiiiippppp piiiiipppppp


Jinyoung menyipitkan matanya ketika pantulan lampu mobil tiba-tiba menyorotinya. Ia membanting stirnya dengan keras tanpa memperdulikan jalanan tengah ramai lancar.


Brakkkkk


Mobil sport putih itu terdorong jauh ketika sebuah truk dari arah yang berlawanan. Mendorongnya secara tak berperasaan, membiarkan mobil sport itu terseret dihadapannya.


Truk itu berhenti setelah dirasa ia terlalu cukup jauh membuat mobil itu hancur. Sementara si pengemudi mobil yang terbalik itu terlihat mengenaskan dengan luka yang keluar dari sekujur tubuhnya.


Jinyoung -pria itu hanya bisa memejamkan matanya perlahan. Kepalanya terasa sakit, bau anyir terasa begitu menusuk dalam indra penciumannya.


"Bae Jinyoung!!! Hiks ... Young-a hiks. sallyeojwoyo!"


Pip


Kelopak mata itu perlahan berkedip. Tangan lemasnya bergerak mencoba melepaskan seltbeat. Namun tenaganya terlalu lemah sehingga tangannya jatuh begitu saja ditanah.


Perlahan pandangannya mulai memburam, begitu pula dengan pendengarannya. Samar-sama Jinyoung mendengar suara histeris seorang wanita dan seorang pria yang berbondong untuk menyelamatkan kan.


Ahhh apa seperti ini akhir dari hidupnya? Bahkan ia belum sempat untuk melindungi sang kekasihnya. Hmm dasar Werewolf lemah.


"Maafkan aku ... So-ya!"


---


"Sudah lepaskan dia, dan berjagalah diluar." Dua pria yang sejak tadi menyakiti Sohyun mengangguk patuh saat suara berat itu memerintahkannya untuk pergi.


Blammm


Pintu coklat itu tertutup rapat. kedua pria itu menghilang setelah menutup pintunya, meninggalkan Sohyun yang terduduk dikursi dengan kedua tangan diikat kebelakang bersama seorang pria berbahu lebar.


Daniel menyeringai saat melihat wajah cantik itu terlihat menyedihkan akibat bilur biru mengihiasi pipi mate nya.


"Seandaianya saat itu kau menerima ku mungkin hal ini tidak akan terjadi padamu." ucap Daniel dengan nada beratnya. Ia berlutut tepat dihadapan Sohyun, tangannya terangkat untuk menghelus pipi chubby sebelum sang pemilik pipi menolehkan kepalanya kesamping menghindari tangan kekar itu menyentuhnya.


Daniel terkekeh, tak membiarkan tangannya hanya menyentuh udara, ia mendaratkan tangannya di surai coklat emas itu, menghelusnya dengan lembut.


"Sohyun-ah. Berhenti berharap Jinyoung akan merebutmu dariku lagi. Dia sudah meninggal."


Sohyun menoleh, hidungnya memerah karna menangis, dan matanya bergerak bergetar. Tolong katakan sekali lagi jika yang dikatakan Daniel itu bohong.


Jinyoungnya tidak mungkin meninggal. Atas dasar apa Jinyoung bisa meninggal.


Daniel tersenyum dan bangun dari aksi berlututnya. Ia tahu betul apa yang sedang dipikirkan Sohyun saat ini.


"Dia sudah meninggal sayang."


"Berhenti berbohong Kang Daniel."


"Apa aku harus memperlihatkan bukti padamu?" tanya Daniel sembari mengeluarkan ponselnya, mencari ikon video. Setelah mendapatkan yang dicarinya ia memperlihatkan latar ponselnya tepat dihadapan Sohyun.


"Selamat malam pemirsa, tepat dijalan Ilsandong-gu terjadi kecelakaan yang disebabkan oleh truk dan mobil mewah putih."


Sorot kamera itu memperlihatkan bagaimana hancurnya mobil sport putih yang kini terlihat semakin mengerikan akibat bercak darah dimana-mana. Dan darah itu sudah dipastikan si pemilik mobil sport putih.


"Si pengemudi truk kini diamankan oleh pihak kepolisian sementara si korban yang merupakan putra dari CEO Bae Sehun -Bae Jinyoung- telah dibawa kerumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang cepa-"


Pip


Tanpa sadar kedua matanya mengeluarkan cairan hangat yang sedikit asin itu, membentuk sebuah sungai kecil di pipi chubby nya.


Hatinya mencelos sakit melihat berita itu. Bae Jinyoung nya  tidak mungkin kan  reporter itu pasti salah menyebut nama. Itu mungkin Bae siapa lah yang jelas bukan Jinyoungnya.


Daniel melempar ponselnya diatas ranjang. Ia mendekat dan menarik kepala wanita itu kedekapannya, menyembunyikan wajah sembab itu di perutnya.


"Berhentilah menangis, ada aku disini."


"Kau-hiks-jahat-hiks aku membencimu hiks."


Daniel menundukkan kepalanya, telapak tangannya bergerak mengangkat dagu Sohyun agar wanita itu menatap wajahnya.


"Kau tidak bisa membenci ku Sohyun-ah, aku mate mu."


"Berhenti mengatakan aku adalah mate mu Kang Daniel. Sumpah demi apapun aku tidak ingin menjadi mate mu. Aku hanya milik Jinyoung hiks."


"Kau milikku Kim Sohyun, kau haru- Aaarrrggghhhhh"


Daniel menutup mulutnya, melangkahkan kakinya mundur satu langkah dari Sohyun. Sohyun menjerit disela ucapannya.


"Arrrrghhhhhhh ... Seharusnya kau membunuhku Kang Daniel, jika kau tidak dapat memiliki ku setidaknya dengan membunuhku Jinyoung juga tak dapat memilikiku. Hiks, kenapa-hiks-kau-hik-melakukan padanya?"


"..."


"Hiks kenapa kau membunuhnya?"


Sohyun menundukkan kepalanya, membiarkan dirinya menangis dengan kepala tertunduk. Ia tidak sanggup, sungguh tidak sanggup menerima kenyataan jika pria yang dicintainya ; Bae Jinyoung. Meninggal ditangan Daniel.


Kenapa ini terasa berbanding terbalik dengan naskahnya. Mengapa harus Wolf Greynya yang berkorban, mengapa harus dirinya yang hidup. Sohyun ingin menjadi Hyunji yang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Dongwoo. Tidak masalah bagi Sohyun jika ia yang mati, asal bukan Jinyoungnya.


Ia tak akan sanggup hidup sendirian tanpa Jinyoung.


Daniel tersenyum miring. Membalikkan badannya mendekati ranjang putihnya. Ia duduk disana, mata merahnya senantiasa menatap kepala Sohyun yang tengah menunduk, membiarkan air matanya keluar dengan derasnya membelah pipi chubbynya.


Wanita bersurai coklat emas itu menangis, hanya karna mendengar kabar Jinyoung yang telah meninggal. Daniel bisa melihat Sohyun begitu terpukul hanya kabar itu ─begitu berartikah Jinyoung untuk Sohyun─


Menghela nafas frustasi, tangannya mengacak surainya kemudian memandang datar Sohyun.


Jinyoung sudah tiada, bisakah wanita hanya melihat dirinya. Daniel juga memiliki tanda yang sama seperti yang dimiliki Jinyoung, tapi entah mengapa disini ia seolah hanyalah figur yang tidak menarik.


mereka lebih tertarik dengan figur seorang Bae Jinyoung. Figur pria sempurna dimata manusia. Pria itu memiliki apa yang dia inginkan, kekayaan, orang tua yang mencintainya, dan kekasih secantik somi dulu, dan Sekarang Sohyun yang cantiknya bak dewi yunani.


Tidak ada yang pernah melihat Daniel, ia hanya dikenal sebagai pria berbahu lebar, tameng Bae Jinyoung, Sekretaris yah yang lumayan tampan. Daniel tidak sekaya Jinyoung, dan tidak seterkenal pria berwajah kecil itu. Daniel hanyalah Werewolf biasa yang beruntung bertemu dengan Jinyoung.


Daniel iri dengan kehidupan Jinyoung, yang megah bak prince dalam dongeng. Namun keiriannya itu tidak pernah membuat Jinyoung terluka dimasa lalu ; Daniel lebih suka untuk memendamnya sendiri. Hingga akhirnya Daniel tidak bisa lagi untuk memendamnya.


Sohyun adalah matenya. Dan Jinyoung merebut itu dengan mudahnya. Bagaimana bisa Daniel menutup mata dan telinganya ketika matenya sendiri direbut oleh Jinyoung.


Daniel tidak bisa lagi menahannya, ketika mendengar Sohyun mencintainya, Daniel ingin memiliki yang seharusnya jadi miliknya.


Menghelakan nafasnya panjang, dan memejamkan matanya beberapa detik.


"Sohyun-ah,"


"..."


"Kim Sohyun lihat aku"


Wanita bersurai coklat emas itu masih enggan mengangkat kepalanya menatap Daniel. Hatinya masih terlalu sakit melihat pria yang telah membunuh kekasihnya.


"Baiklah jika kau enggan lihatku, setidaknya dengarkan ceritaku ini."


"..."


"Aku mengenal Jinyoung saat umurku 13 tahun, dan saat itu Jinyoung berumur 10 tahun. Dia menyelamatkan ku dari pemburu hewan liar, aku menyayangi Jinyoung dan menganggap pria itu sebagai adikku sendiri. Tapi, selama ratusan tahun aku sadar aku tidak bisa menjadi saudaranya. Dia terlalu sempurna dan tidak cocok menjadi figur seorang adik dari Werewolf biasa sepertiku...


...kesempurnaannya membuatku iri. Apapun yang dilakukannya aku iri. Tapi, aku bisa membuang rasa iri itu dan mencoba untuk menjadi terbaik dibelakang Jinyoung."


Sohyun mengangkat kepalanya, matanya yang sembab menatap pemandangan sosok pria yang tengah mrnautkan kedua jarinya.


"Kemudian, hiks- aku bertemu gadis kecil bertudung merah menari-nari ditengah hutan sambil membawa lampion dan toples bening. dia tersenyum lebar saat mendapatkan satu atau dua kunang-kunang." Daniel mengangkat wajahnya, ia tersenyum tipis. "Dia selalu datang setiap malam, melakukannya kegiatan menangkap kunang-kunang setiap malam dan aku menemaninya sampai dia mengumpulkan banyak kunang-kunang. Sampai akhirnya, hiks dia jatuh dijurang."


"..."


"Aku yang bodoh tanpa sengaja menyenggolnya dan membuatnya jatuh kedalam jurang yang penuh dengan bebatuan yang tajam." Daniel mengangkat wajahnya, mata sayunya menatap lekat raut kebingungan Sohyun. "Beruntung dia masih bisa hidup meski ia harus mengorbankan memorinya. Ia sadar beberapa tahun kemudin tanpa ingatan masa lalunya."


"Aku menyesal karna membuatnya harus melupakan kenangannya. Setelah aku tahu dia melupakan kenangannya, aku meninggalkannya, membiarkannya hidup dengan normal. Namun, keputusanku salah. Dia bertemu dengan Werewolf lainnya kemudian jatuh cinta."


Daniel bangun dari duduknya, melangkakan kakinya mendekati Sohyun yang masih duduk di kursi dengan tubuh terikat.


"Kau tahu aku lebih menyesal meninggalkanmu saat itu ketimbang membuat dirimu melupakanmu secara total. Seharusnya aku tidak meninggalkanmu kan?"


Sohyun meringis sakit saat tangan kekar Daniel mencengkram pundaknya kuat.


"Dan-iel lep-askan. K-kau menyakitiku."


Seolah menulikan pendengarannya Daniel masih dengan setia mencengkram pundak Sohyun. Sampai ia tidak menyadari kuku-kuku tajam nya menancap tepat di kulit Sohyun.


"Akh!"


Ini kedua kalinya bagi Sohyun merasakan kuku Werewolf menancap tepat di kulit nya, menembus masuk dan perlahan merobeknya.


Bulir kristal itu kembali keluar dari ekor mata Sohyun, rasa sakit akibat kuku itu masuk ke dalam kulitnya dan perasaan sedih karna kekasihnya telah tiada bercampur menjadi satu.


Sohyun tidak tahan dengan semua rasa sakit itu. Bisakah Sohyun berharap? Ia hanya ingin semua ini berakhir, dan dia tenang ditempatnya yang baru.


Brak


Pintu kayu mahoni itu di dobrak secara kasar, membuatnya hancur berkeping-keping.


Daniel mengangkat kepalanya, menatap tajam sosok werewolf abu-abu menghancurkan pintu mahoni mahalnya, ia tersenyum miring.


Melompat dan bersamaan mengubah dirinya menjadi werewolf.


Bruk


Tubuhnya yang sedikit lebih besar dari lawannya itu pun langsung menyerang, membuat sang lawan terdorong menabrak dinding.


Daniel mendekat, berputar-putar disekitar Wolf Grey yang baru saja diserangnya, ia menyeringai lawannya yang sangat lemah, baru saja didorong ia sudah terkapar dengan darah yang mengalir dari tubuhnya.


Ia bukanlah orang bodoh yang tidak menyadari siapa lawannya.


Bae Jinyoung, ahh rupanya dia selamat dai kecelakaan itu.


“Aku tidak tahu kau masih sanggup bertahan Bae Jinyoung.”


“Uhuk- Aku tidak semudah itu kau bunuh Kang Daniel.” Ujar Jinyoung dengan susah payah. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan lemah, bahkan untuk menggerakkannya terasa sakit.


Kecelakaan sial itu membuat Jinyoung menjadi serigala yang lemah.


Daniel menggerakkan ke empat kakinya sedikit menjauh dari Jinyoung yang masih berusaha untuk bangkit ; meski kenyataannya pria itu tidak akan sanggup.


“Menyerahlah Bae Jinyoung dan matilah dengan tenang. Aku tidak ingin menghabiskan waktuku untuk menyerangmu.” Daniel menyeringai, dan entah yang keberapa kalinya ia menyeringai. Ia mendekat lagi, membuka mulutnya lebar, Daniel ingin menghancurkan Jinyoung dengan gigi tajamnya.


Ini adalah kesempatan Daniel untuk melenyapkan Jinyoung untuk selamanya.


Jinyoung yang sama sekali tidak memliki tenaga, tubuhnya sangat lemah sehingga ia hanya bisa untuk menghindari cabikan Daniel. Hanya itu yang bisa Jinyoung lakukan.


Sohyun menolehkan kepalanya dengan susah payah, darahnya terlalu banyak keluar sehingga membuat dirinya menjadi lemah. Samar-samar Sohyun mendengar suara berbagai macam benda hancur akibat perkelahiaan dua serigala didalam ruangan itu. Pintu, vas, jendela adalah bukti bisu pertarungan dua serigala itu.


Ini tidak akan pernah selesai jika Sohyun hanya diam dikursinya ; tangan dan kakinya masih terikat. Sohyun tahu disana yang bertarung adalah Daniel dan Jinyoung, naasnya terlihat seperti Daniel yang terus menyerang dan Jinyoung yang hanya mencoba untuk menghindari berbagai macam serangan Daniel.


Menggerakkan tangannya yang terikat dibelakang, Sohyun harus bisa melepaskan ikatan itu dan menyelamatkan kekasihnya. Jinyoung disana terlihat semakin lemah, hanya mencoba menghindar tidak akan berbuah hasil ; Jinyoung tetap kalah melawan tenaga Daniel yang full sementara tenaga Jinyoung habis terkuras akibat kecelakaan sial itu.


Mata Sohyun membulat, tangannya terlepas dengan mudah ; tidak menyangka jika Daniel hanya mengikat tangannya menggunakan tali biasa.


Segera Sohyun melepasakan ikatan pada kakinya di kedua sisi kaki kursi.


Berusha untuk bangkit, mata sayunya itu mengedarkan pandangannya mencari sesuatu yang dapat digunakannya untuk membunuh Daniel. Satu-satunya cara mengakhiri perperangan ini adalah membunuh salah satu dari mereka, dan Sohyun memutuskan untuk -----


Jleebbb


Menancapkan pisau timah itu tepat dibelakang tubuh Daniel.


Mata merah itu membulat, benda dingin dan panas itu menembus tubuhnya, seolah membelah tubuhnya menjadi dua bagian.


Tubuh Sohyun bergetar, nafasnya memburu, matanya berkaca-kaca melihat penampilan mengenaskan dihadapannya.


Diangkat kedua tangannya yang penuh dengan jejak darah.


Dan malam ini Sohyun adalah seorang pembunuh.


Daniel membalikkan badannya, mata merahnya menatap nyalang sosok mungil dibelakangnya. Ia tidak menyangka, sungguh tidak pernah menyangka hal ini akan datang dengan cepat.


Wanita itu menancapkan pisau tepat ditulang sumsunnya, merobeknya secara horozintal.


“Sohyun-ahh... arrrgghhhh”


Daniel menjerit dengan keras, kaki depannya diangkat dan layangkan pada sosok mungil dihadapannya. Saat itu Sohyun tahu sesuatu yang buruk terjadi padanya,


Sohyun memejamkan matanya,ia tidak sanggup melihat kematiannya yang didepan matanya. Tidak masalah bagi Sohyun jika ia berakhir malam ini, setidaknya ia telah menyelamatkan Jinyoung.


Seperti Hyunji yang menolong Dongwoo nya.


*Brak


Krriiieeetttt


Bruk*


Tubuh Daniel terjatuh di lantai, ke empat kakinya sudah tidak sanggup menopang berat tubuhnya. Tenaganya terlalu banyak terkuras akibat darah dari tulang sumsumnya yang robek.


Sohyun? Ia merasa tubuhnya tidak terasa sakit, apa begini rasanya seseorang yang telah meninggal? Tidak merasakan sakit ketika nyawamu telah melepaskan diri dari ragamu?


Perlahan kelopak mata itu terbuka, meperlihatkan manik hitam gelapnya. Mata bulat itu mengamati sekitarnya yang mulai sunyi.


Disana, tepat dihadapannya Sohyun masih dapat melihat jelas tubuh Daniel yang masih menjadi werewolf tergeletak ditanah dengan pisau timah yang melekat di punggungnya. Sohyun menoleh kesamping ; berharap dia melihat raganya yang terlempar disana.


Nyatanya, tubuh yang dilihatnya membuat kaki Sohyun seketika melemah. Sohyun ambruk di lantai, air matanya mengalir begitu saja.


Jinyoungnya disana, terkapar dengan penuh darah yang keluar dari sekujur tubuhnya.


Kenapa ini harus terjadi, mengapa Jinyoungnya yang terbaring disana dengan darah yang terus mengalir. Sohyun merangkak mendekat, air matanya turun semakin deras.


“Young-a, jebal sadarlah. Hiks jangan tinggalkan aku, jeballl hiks”  racau Sohyun, kedua tangannya tidak berhenti menggoyangkan tubuh serigala dipanggkuannya. “Hiks, Bae Jinyoung!!! Sadarlah, kumohon sadarlah hikss, kau tidak boleh meninggalkanku bodoh.”


Tangis Sohyun semakin menjadi, tubuh serigala itu perlahan berubah menjadi tubuh sempurna manusia. Luka-luka disekujur tubuhnya terlihat mengilukan, bagian kepalanya robek, lengannya robek dengan lebar. Sohyun tidak sanggup melihat kondisi mengenaskan Jinyoung.


“Jinyoung-a irona hiks, kumohon hiks ja-jangan hiks,, yakkkkk bangunnnn!!!”


*Tap


Tap


Tap*


Suara langkah kaki itu mendekat, nafas Sehun dan Mingyu memburu. Mereka baru saja menyelesaikan masalah diluar. Membunuh werewolf yang menghalangi mereka masuk.


Mingyu menolehkan kepalanya mengamati Daniel yang terkapar di lantai dengan darah yang terus mengalir dari punggungnya.


Brak


Tubuh Sehun jatuh kelantai saat mata sayunya melihat kondisi putranya yang begitu mengenaskan. Ia sangat hancur melihat putra kebanggaannya terbaring di pangkuan Sohyun dengan detak jantung──


Sohyun mengangkat pandangannya, air matanya terus mengalir di pipinya. Mingyu menatapnya sedih dan terluka, air mata itu kembali, tatapan itu kembali hadir.


"Mingyu-ya hiks ... Jin-hiks-young"


🍁🍁🍁


Tbc

__ADS_1


See you next chapter 😘😘😘


__ADS_2