Wolf Grey : A Girl Meets Werewolf

Wolf Grey : A Girl Meets Werewolf
epilog


__ADS_3


...


Tok tok tok


"Sohyun-ah." panggil saerom dari luar. Mengetuk-ngetuk pintu kamar sang sahabat.


Ini sudah lima hari berlalu sejak dimana Sohyun memutuskan untuk menjauh dari Jinyoung. Wanita itu mengurung dikakamarnya. Pekerjaannya terbengkalai, bahkan nampan makanan di depan pintu kamarnya sama sekali tak tersentuh.


Saerom khawatir sahabatnya itu melakukan hal membahayakan untuk dirinya sendiri.


"Sohyun-ah kau tidak mau keluar lagi."ucap Saerom mulai putus asa. Ia membalikkan badannya dan menatap bingung sosok pria di belakangnnya.


"Bagaimana?" tanya Felix yang baru datang. Saerom menggelengkan kepalanya.


Ceklek


Saerom dan Felix menolehkan pandangannya pada pintu kamar yang terbuka. Saerom tersenyum senang ketika melihat sahabatnya akhirnya keluar dari kamarnya.


"Sohyun-ah." ucapnya senang, ia mendekat kemudian memeluk tubuh sahabatnya. Sohyun tersenyum dan membalas pelukan sang sahabat.


Felix tersenyum, netranya mengamati penampilan Sohyun yang saat ini terlihat rapih. Ia mengangkat sebelah alisnya, kebingungan.


"Kau mau pergi Kim Jakkanim?" tanya Felix, membuat kedua sahabat itu melepaskan pelukan hangat mereka.


"Kau mau kemana?" tanya Saerom memperhatikan Sohyun.


Wanita itu terlihat modis dengan coat coklat sepanjang lututnya, dengan kemeja putih didalamnya. Rambut panjangnya dibiarkan terurai. Dan jangan lupakan syal merah melilit lehernya.


"Ke suatu tempat." jawabnya tenang.


"Sekarang?"


Sohyun mengangguk sebagai jawaban.


"Makanlah terlebih dahulu. Kau sudah tidak makan selama lima hari. Uhh lihat kau terlihat kurus."


Sohyun tersenyum, kali ini ia menggelengkan kepalanya.


"Aku akan makan diluar. Saerom-a aku harus pergi."


"Aku antar ya." tawar Felix. Pemuda itu takut jika Sohyun pergi ke suatu tempat yang akan  membahayakan dirinya. Lagi pula wanita itu baru saja keluar dari kamarnya setelah lima hari berhibernasi di kamarnya.


"Tidak, aku akan naik bis. Kalian tetap disini, tenang aku tidak akan melakukan hal yang berbahaya."


Saerom terdiam, satu tangannya terangkat naik menyentuh pundak Sohyun. Ia mengangguk pelan.


"Kalau ada apa-apa segera hubungi kami."


Sohyun menganggukkan kepalanya. "Aku pergi." Ujarnya sebelum melangkah meninggalkan kedua sahabatnya.


Menghela nafas pelan, Sohyun terus melangkah menjauh meski rasanya ia tidak sanggup. Rasanya sangat menyakitkan ketika ia memutuskan untuk pergi.


;


Sohyun terdiam memandangi dihadapannya. Hamparan laut berwarna biru yang luas. Anginnya berhembus sangat kencang, menerbangkan anak rambut Sohyun yang dibiarkan terurai.


Matahari sedikit terik saat ini, namun tidak membuat cuaca hari ini menghangat. Musim dingin tetaplah musim dingin meski matahari sedikit terik.


Sohyun menghela nafas pelan. Tersenyum kecil mengamati hamparan luas laut dihadapannya. Memjamkan matanya tiga detik, menghirup nafas dalam kemudian menghembuskannya. Ia tersenyum kembali.


Bayangan kecil ketika ia bersama Jinyoung terlintas dikepalanya. Hal kecil ketika ia bersama Jinyoung didepan televisi dan bermain jengga.


"*jika itu jatuh maka kau akan kalah."


Jinyoung terkekeh. Ia terlihat fokus mengamati balok-balok kecil dihadapannya. Ia memilih balok yang harus diambilnya tanpa membuat susunan balok itu terjatuh.


"Ini tidak akan jatuh percayalah."


"Pembual, kau selalu mengatakan hal itu sejak tadi." ujar Sohyun sambil memasukkan wafer kedalam mulutnya "Tetap saja itu bakal jatuh."


Jinyoung melirik kearah kekasihnya. Ia membuka lebar-lebar mulutya, kedua alisnya bergerak naik turun, mengisyaratkan Sohyun menyuapinya wafer.


Sohyun tersenyum. Dengan senang hati ia menyuapi Jinyoung dengan wafer coklatnya itu.


"Jika kau kalah kau harus mengajakku ke suatu tempat."


"Kemana?"


"Pantai."


Satu alis Jinyoung terangkat naik. Dia bingung.


"Pantai? Hanya itu?", Sohyun menganggukkan kepalanya antusias. Ia mendekat dan menyenderkan kepalanya di bahu lebar kekasihnya.


"Aku ingin berlibur denganmu satu atau dua hari di pantai."


"..."


"sekalian kau harus beristirahat. Beberapa hari ini kau selalu sibuk mengurusi perusahaan." Sohyun mengadahkan kepalanya menatap Jinyoung. Ia **** bibirnya imut.


"Lihat kantung matamu mulai terlihat lagi." ucapnya menjauhkan kepalanya, tangannya terangkat dan menunjuk kantung mata Jinyoung dengan jari telunjuknya. "Cihh, memangnya kau akan terlihat tampan jika memiliki kantung mata."


Jinyoung tertawa kecil. Ia meraih jemari Sohyun yang tadi menunjuk wajahnya. menautkan jemarinya pada celah jari Sohyun.


"Kau ingin aku terlihat tampan yah? Agar semua pegawai SHB melirikku?"


"Tsk!"


Sohyun mendaratkan pukulan sayang pada lengan Jinyoung. Membuat pria tampan itu meringis kesakitan.


"Aww!"


"Berbicara macam-macam lagi akan kupukul kau." ujar kesal Sohyun pada kekasih serigalanya itu. Jinyoung tertawa melihatnya.


Pria bersurai madu itu menundukkan kepalanya. Netranya mengamati lamat-lamat punggung tangan Sohyun. Di helusnya sangat lembut menggunakan ibu jarinya.


"Terimakasih."


Sohyun terdiam, ia memilih menjadi pendengar yang baik.


Jinyoung mengangkat pandangannya, dan tersenyum kearah Sohyun.


"Terimakasih telah hadir dalam kehidupanku. Aku tidak tahu akan menjadi apa jika tidak bertemu denganmu saat itu. dan maaf...


...maaf karena aku terlahir sebagai serigala. perbedaan ini membuat kita sedikit jauh."


Kedua mata Sohyun berair menahan tangisnya. Kedua sudut bibirnya melengkung ke atas, dan mengglengkam kepalanya mengisyaratkan jika perbedaan mereka tidak menjadi penghalang hubungan mereka.


"Tidak apa-apa. Mau kau serigala atau vampire sekalian aku akan tetap menerimamu. aku tidak peduli dengan perbedaan kita ini. jadi jangan pernah memikirkan hal seperti itu lagi."


Chu


Jinyoung mencium punggung tangan Sohyun sangat lama. Air matanya jatuh membasahi punggung tangan kekasihnya.


"Aku mencintaimu." ucapnya setelah mengakhiri kecupannya.


"aku lebih mencintaimu Bae Jinyoung*."


.


Sohyun membuka kelopak matanya. Mata indahnya kembali memandangi lautan dihadapannya. Benar, ia akan tetap menerima Jinyoung, mau pria itu menjadi serigala ataupun vampire. Tapi, Sohyun tidak menyebut jika ia akan menerima Jinyoung sebagai manusia.


Apakah disana letak kesalahannya sehingga saat Jinyoung menjadi manusia, pria tampan itu malah melupakannya? Jika benar, seharunya Sohyun menyebut jika ia akan menerima Jinyoung sebagai manusia.


Menghela nafas pelan. Semua sudah berlalu, sekuat apapun Sohyun, ia tidak akan mampu memutar waktu. Saat ini ia hanya bisa merelakan nya.


Mungkin ini sudah takdirnya.


Jika ia tidak ditakdirkan untuk mencintai Jinyoung.


.


[Wolf Grey ; A Girl Meets Werewolf]


.


"Hmm, aku masih diluar." ujar Sohyun seorang diri ──ralat, ia sedang berbicara dengan seseorang melalui panggilan udara.


"..."


Sohyun terkekeh, "cerewet."


"..."


"Iya aku mengerti, apa Saerom memberitahu mu?"


"..."


"Dasar, seharusnya aku keluar diam-diam saja."


"..."


Sohyun tertawa kencang mendengar teman memarahinya. Ahh sudah lama sekali Sohyun tidak mendengar suara seorang itu.


"Iya iya. Ah ya bagaimana denganmu apa baik-baik saja di negera orang?"


"Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatirkan aku disini."


Sohyun tersenyum, ia menundukkan kepalanya mengamati kakinya yang berayun-ayun di bawah.


"Mingyu-ssi, kau tahu aku sekarang ada dimana?"

__ADS_1


"Dimana?"


"Pantai, aku menunggu pergantian tahun baru di pantai." Sohyun mendongakkan kepalanya, ia mengerucutkan bibirnya kesal. Malam ini kembali berawan, menyembunyikan taburan bintang yang indah. "Malam ini sepertinya akan turun salju."


"Sebaiknya kau pulang."


"Mengapa harus pulang? Beberapa menit lagi pergantian tahun. Aku ingin melihat kembang api."


"Dasar anak-anak." ucap Mingyu dengan nada meledeknya. Jika saja Mingyu berada di samping Sohyun, mungkin ia sudah mengacak-acak rambut Sohyun.


"Sohyun-ah, merry christmas and happy new years. Aku harap tahun depan kau bahagia lebih banyak"


Sohyun menangis dalam diam. Kata-kata bahagia seolah begitu tajam menusuk jantungnya. Satu kata itu sepertinya tidak akan pernah mendekatinya lagi.


Kebahagiaannya sudah hancur.


"Kau juga, kuharap tahun depan kau kembali ke korea. Jangan berlama-lama disana."


Mingyu terdiam, suara-suara berisik mendominasi percakapannya dengan pemuda berkulit tan itu.


"Sohyun-ah sepertinya aku harus pergi dulu. Nanti ku hubungi lagi."


Sohyun hanya mengangguk. Setelah itu suara bib terdengar, tanda Mingyu mengakhiri sambungannya.


Menghela nafas pelan. Sohyun menundukkan kepalanya untuk kedua kalinya. Mengayun-ayunkan kakinya, membiarkannya bergerak di udara.


Sohyun tidak takut di tengah malam seperti ini. Sendirian di pantai, duduk diatas pembatas yang terbuat dari beton. Satu dua orang ada di sekitarnya, tapi posisinya sedikit jauh. Sebenarnya tempat ini sangat strategis untuk melihat kembang api, namun karena malam ini akan turun hujan dan angin bertiup terlalu kencang jadi hanya sebagian orang saja yang datang.


Sohyun suka tempat seperti ini. Dimana hanya beberapa orang yang datang untuk menyaksikan kembang api. Sohyun tidak perlu berdesak-desakan untuk bisa melihat kembang api secara jelas, ia hanya menikmatinya sendirian dan tenang.


;


Pemuda bersurai hitam itu terdiam mengamati sekitarnya yang terlihat sangat ramai. Sepanjang jalan Han dipenuhi oleh sekumpulan manusia yang ingin menyaksikan kembang api. Ia menghela nafas pelan, kenapa kerumuman itu terasa menyesakkannya.


Seorang pria yang tengah mengemudikan mobil melirik pemuda tampan di belakang nya melalui kaca spion.


"Apa tuan muda mau melihat kembang api?"


Jinyoung menolehkan kepalanya setelah itu menggelengkan kepalanya. "Itu ramai sekali, sangat pengap."


"Jika tuan muda mau aku bisa membawa tuan ke suatu tempat untuk melihat kembang api."


"Memangnya ada?"


Pria paruh baya itu hanya tersenyum. Ia melirik Jinyoung yang sepertinya sangat penasaran dengan tempat yang tadi dibicarakannya.


"tuan muda mau kesana?"


Jinyoung terdiam beberapa saat. Ia berpikir untuk memutuskan keputusannya. Tubuhnya terlalu lelah setelah menjalani terapi, bahkan kakinya masih terasa lemah untuk digerakkan.


Untuk saat ini ia tidak seluasa dulu. Ia lumpuh untuk beberapa saat. Jinyoung koma untuk waktu yang lama dan membuat tubuhnya kaku. Ia harus menjalani terapi untuk memulihkan kondisinya seperti sedia kala.


"tidak perlu. Kita pulang saja." Ujar Jinyoung menyandarkan kepalanya di bantalan kursinya. Memejamkan matanya dan mencoba untuk terlelap.


;


Jinyoung duduk di kursi rodanya, tangannya dengan cekatan memutar rodanya agar bergerak mendekati pembatas pantai.


Keputusannya berubah tiba-tiba saja. Jinyoung ingin datang kepantai ini dan melihat kembang api. Seperti yang dikatakan sopirnya, tempat ini sangat sepi, hanya ada beberapa orang saja yang datang ke tempat ini.


Jinyoung melirik arlojinya, masih ada lima menit lagi sebelum pergantian tahun. Ia tersenyum, sesekali menghirup udara segar.


"Kau juga, kuharap tahun depan kau kembali ke korea. Jangan berlama-lama disana."


Jinyoung menolehkan pandangannya ke samping kananya. Disana ada seorang wanita yang jaraknya tidak terlalu jauh darinya. Lama Jinyoung terdiam dan memperhatikan wanita itu.


Raut wajah sedih itu entah kenapa membuat dada Jinyoung terasa sangat sesak. Ingin sekali Jinyoung datang dan memeluk wanita itu. Jinyoung ingin memeluknya dan menghapus jejak air matanya.


Merasa diamati, Sohyun menolehkan kepalanya. Matanya melebar ketika mendapati Jinyoung yang duduk di kursi roda berada sangat dekat dengannya. Sama halnya dengan Sohyun, Jinyoung terkejut saat tahu wanita yang membuat dadanya sangat sesak beberapa detik yang lalu adalah Sohyun. Wanita yang telah berjanji tidak akan menemuinya lagi.


Saat ini Jinyoung berusaha sekuat mungkin untuk tidak menarik kedua sudut bibirnya untuk tersenyum. Ia hanya berusaha.


Ketika tahu jika wanita itu adalah Sohyun, entah mengapa ada sedikit rasa senang melihatnya. Semenjak Sohyun tidak datang lagi kerumah sakit untuk menemuinya, Jinyoung merasa ada yang hilang dari hidupnya. Jinyoung tidak mengerti mengapa perasaannya sangat aneh saat itu. Ia selalu berharap jika Sohyun datang kerumah sakit dan kembali menjenguknya.


Sohyun menundukkan kepalanya sopan. Tanpa tersenyum dan ia segera mengalihkan pandangannya lurus kedepan. Sohyun seolah tidak mengenal Jinyoung.


Rahang pria itu jatuh. Sungguh ia tidak mempercayai apa yang baru saja di lihatnya. Wanita itu mengabaikannya, Jinyoung tidak melihat Sohyun beberapa hari yang lalu, wanita itu dengan ceria melihatnya, senyum lebarnya tidak pernah luntur meski ia berkata kasar padanya.


Jinyoung mengepalkan tangannya. Tiba-tiba dadanya terasa sangat sakit, dirinya tidak menerima jika Sohyun mengabaikannya, ia tidak terima jika Sohyun bersikap dingin padanya.


Ia mengarahkan tangannya pada kedua roda kursinya namun tertahan dan menyentuh angin. Pergerakannya tiba-tiba terhenti.


Kenapa ia menjadi seperti ini. Seharusnya dia senang bukan, Jinyoung tidak mengenal Sohyun dan ini yang diinginkan beberapa hari yang lalu, wanita itu berhenti mengganggunya.


Jinyoung memalingkan wajahnya. Menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Hatinya terlalu sakit, ia tidak bisa bersikap senang saat Sohyun mulai mengabaikannya. Tetap saja ia merasa tidak nyaman.


"Kim Sohyun-ssi." panggilnya pelan. Sohyun menoleh, memandang datar pria yang masih duduk dikursi rodanya.


Sebelah alis Sohyun terangkat naik. Ia tidak mengerti. Memangnya apa yang hebat darinya? Hebat menjadi wanita penghancur kehidupan seseorang maksudnya?


"Terimakasih."


Jika itu yang dimaksud maka Sohyun harus berterimakasih. Sohyun tidak bisa mengelaknya, dia hebat dalam urusan seperti itu.


"Kau berterimakasih sebelum tahu apa maksudnya." Ujar Jinyoung dengan nada sinis. Sohyun tersenyum tipis dan mengalihkan pandangannya lurus kedepan.


"Aku sudah tahu maksudnya. Tanpa menjelaskan sekalipun aku sudah mengerti Bae Jinyoung-ssi." Sohyun kembali menolehkan pandangannya kearah Jinyoung. "Kau tidak perlu membuang tenagamu untuk menjelaskannya."


Jinyoung terdiam beberapa saat. jari-jarinya saling bertaut. Jinyoung menunduk dan berpikir sebelum akhirnya ia membuka mulut untuk berbicara.


"Selamat tahun baru Kim Sohyun-ssi."


Hening. Sohyun terdiam memandangi kepala tertunduk itu. Hatinya mencelos sakit.


Matanya memerah menahan tangisnya sejak tadi.


Sohyun mengalihkan pandangannya ketika air matanya dengan lancang kelar dan membasahi pipi chubbynya.


"Selamat tahun baru juga untukmu Bae Jinyoung-ssi." ucap Sohyun dengan nada bergetar. Cepat-cepat Sohyun membekap mulutnya sendiri, menahan suara isakan keluar dari mulut laknatnya.


Jinyoung memperhatikan arlojinya. Masih ada dua menit untuknya melihat kembang api. Mengangkat kepalanya dan menagamati punggung bergetar Sohyun. Ia tahu wanita itu menangis dengan alasan yang Jinyoung tidak mengerti.


"Sohyun-ssi."


"Hm." guman Sohyun tanpa menolehkan kepalanya menatap Jinyoung.


"Bisa bantu aku?"tanyanya pelan. Sohyun segera menghapus jejak air matanya menggunakan telapak tangannya. Setelah dirasa jejak itu menghilang, Sohyun menoleh menatap bingung Jinyoung.


"Bantu apa?"


"Bantu aku berdiri dan duduk di tempatmu."


"Disini?" tanya Sohyun sambil menepuk sampingnya. Jinyoung hanya menganggukkan kepalanya pelan.


Sohyun bangun dari duduknya dan turun dari atas pembatas pantai. Ia mendekat, saat berada dihadapan Jinyoung. Sohyun terdiam beberapa saat.


Jinyoung mendongak dan mengunci tatapannya dengan mata Sohyun.  Tiba-tiba jantungnya berpacu dengan cepat, rasanya sangat aneh. Bahkan di perutnya terasa sangat penuh dengan ribuan kupu-kupu yang berterbangan diperutnya.


Ini aneh, benar-benar aneh.


Jinyoung tidak mengerti, mengapa perasaan ini selalu muncul dikala ia bersama Sohyun. Wanita itu selalu membawa sensasi yang aneh pada jantungnya.


Sohyun mengulurkan tangannya, meminta pria bersurai hitam itu membalasnya. Jinyoung melirik tangan putih mulus Sohyun, kedua tangannya terangkat dan meraih lengan Sohyun sebagai pegangan.


Awalnya Jinyoung merasa kesulitan, otot-otot kakinya masih lemas, dan membuatnya nyaris saja terjatuh jika saja Sohyun tidak sigap memeluknya.


Deg, deg, deg


Suara debaran itu terdengar begitu keras ditelinga masing-masing. Entah siapa pemilik suara debaran itu. Salah satunya antara Sohyun atau Jinyoung.


Sohyun menolehkan wajahnya mengahadap Jinyoung. Dimana pria itu juga menatapnya dengan mata melebar.


Canggung.


Diantara mereka masih bertahan pada posisinya. Sohyun memeluk Jinyoung dan mengamati wajah kecil mantan kekasihnya dan Jinyoung yang tengah terkejut ; kaget saat ia nyaris saja terjatuh, dan ia terkejut saat Sohyun memeluk tubuhnya.


Tidak ada diantara mereka yang mencoba mengakhirinya. Kedua saling memandang satu sama lain, mengungkapkan melalui pandangan.


Netra Jinyoung bergerak mengamati raut wajah Sohyun. Ia ingin mengingat wanita itu, mencari secuil momennya dengan Sohyun.


Jinyoung butuh jawaban, mengapa jantungnya terus berdebar saat dirinya bersama Sohyun, kenapa rasa aneh selalu mencuak saat ia tak melihat Sohyun, dan kenapa pelukan itu terasa sangat nyaman. Seolah tubuhnya sudah terbiasa dengan rasa hangat pelukan Sohyun.


Sekuat mungkin Jinyoung mencoba untuk mengingat Sohyun. Hasilnya tetap sama. Kosong. Memori tentang Sohyun seperti terhapus di kepalanya.


"Ehm maaf." Sohyun sedikit menjauhkan tubuhnya.


Beberapa centi menjauh, Jinyoung menarik tubuh Sohyun kembali mendekat kepadanya. Satu tangannya terulur naik menekan telengkuk Sohyun.


Chu


Dengan tidak sopannya Jinyoung mencium bibir Sohyun. Melumat dan menghisap bibir atas dan bawah wanita itu secara bergantian.


Damn


Aneh, bibir Sohyun terasa candu untuknya.


Manik hitam itu membulat sempurna, isi kepalanya terasa kosong hingga ia tak dapat berpikir dengan jernih apa yang terjadi saat ini keadanya.


Sementara Jinyoung masih menikmati bibir Sohyun. perlahan dia menarik wanita itu duduk di pangkuannya, melingkarkan satu tangannya di pinggang Sohyun.


Pria itu mungkin saja melupakan wanita yang begitu berarti baginya. Tapi, perasannya tetap sama. Jinyoung masih mencintai Sohyun.


Memejamkan matanya perlahan, Sohyun mulai menggerakkan bibirnya mengikuti pagutan yang terkesan menuntut itu. Kedua tangannya terangkat menggantung di leher Jinyoung.

__ADS_1


Tanpa sadar air matanya mengalir di pipi chubbynya.


Kenangan dan tentang Jinyoung kembali memenuhi kepalanya. Hal-hal yang telah mereka lalui selama ini, hal menyakitkan yang  terjadi dan hal yang menyenangkan, membuat Sohyun merindukan semua itu.


Jika waktu dapat diputar kembali. Sohyun ingin kembali dimana dia tidak pernah mencintai Kang Daniel. Atau dimana dia tidak melupakan Jinyoung setelah kejadian kebakaran itu.


•••


Jinyoung terdiam didalam mobil. Dua jam sudah berlalu dan dia mengurungkan dirinya didalam mobil.


Hati sakit.


Diremas secara paksa dan tak dibiarkan memberontak.


Ribuan kupu-kupu berterbangan diperutnya, naik hingga ke dadanya, menyumbat aliran udara masuk kedalam dadanya. Sangat sesak dan sakit.


Jinyoung tidak mengerti mengapa hatinya sangat sakit dan sehancur seperti ini.


Ciumannya dengan Sohyun beberapa jam yang lalu, membuat sesuatu yang aneh menggerayangi hatinya.


Sesuatu yang tidak dapat di nalarkan olehnya.


Pria setengah baya itu melihat dari kaca spionnya. Tuan mudanya terdiam sambil *** dadanya yang terlihat begitu sakit. Dia mengerti, dan ia memutuskan untuk keluar dari dalam mobil.


Membiarkan tuan mudanya menangis dengan mudah.


ㅡsiapapun tahu kisah menyakitkan yang dialami oleh Jinyoung. melupakan kekasihnya adalah dosa besar yang harus dialaminya.


Melupakan semua kenangan manis yang dibuat oleh mereka berdua.


Begitu manis sampai rasa pahit yang mencekik itu datang di akhir rasa manisnya.


Jinyoung meraung di dalam mobil. Tangisnya pecah.


Dadanya terlalu sakit, dan dia tidak tahu apa penyebabnya.


Memukul dadanya dengan kasar, berharap rasa sakit itu segera sirna.


"So-ya...hiks"


;


Sohyun berjalan seorang diri di trotoar. Lampu-lampu jalan menemani dirinya yang sedang bersedih.


Air matanya mengalir.


Pipinya basah karena air matanya yang terus mengalir sejak tadi.


Perlahan ciuman itu berakhir, disaat keduanya mulai kehabisan nafas. Mulutnya terbuka, meraup udara sebanyak mungkin.


Sohyun menjauh, sedikit memberi jarak antara dirinya dan Jinyoung.


"Kim Sohyun-ssi..." Jinyoung membuka kelopak matanya, menatap intens manik hitam milik Sohyun. "Apa,apa kau merasakannya?" Lanjutnya menatap sedih wajah Sohyun.


Tangannya terulur meraih jemari Sohyun, menuntunnya menyentuh jantungnya yang berdetak dua kali lipat dari sebelumnya.


"Perasaan seperti ini. Apa kau merasakannya sekarang?"


Sohyun menggeleng pelan. Dan itu adalah sebuah kebohongan.


Nyatanya jantungnya jauh lebih cepat berpacu. Layaknya dia sedang menunggangi kuda.


Menarik tangannya dari dada Jinyoung. Kasarnya dia menepis. Sohyun beranjak dari pangkuan Jinyoung, sedikit menjauh dari pria itu.


"Ini aneh Sohyun-ssi, kau mengganggu pikiranku. Ketidakhadiranmu membuatku kacau. Dan didalam sini, rasanya sakit saat mengingat namamu. apa kau juga merasakannya?"


'Aku merasakannya bae'


"Tidak sama sekali Jinyoung-ssi."


Hati dan pikirannya tidak sejalan, dan Sohyun merutuki dirinya.


"Kenapa hanya aku yang merasakannya? Kenapa hanya aku yang memikirkan mu sampai rasanya begitu sesak."


Sohyun diam.


Dalam hati dia mengucapkan yang sama.


Dia juga merasakan yang sama apa yang dj rasakan Jinyoung saat memikirkannya.


Tapi, semua berakhir dan hancur.


Sohyun tak bisa memperbaikinya.


"Jika kau tak merasakannya kumohon pergilah... Menjauh dari hidupku agar aku tidak melihatmu.. Selamanya."


Jinyoung menegakkan kepalanya. Manik hitam itu berair, tertahan dipelupuk matanya.


"Jika aku bisa, aku akan melakukannya sejak dulu Jinyoung-ssi. Bahkan aku berharap kita tidak pernah bertemu dimasa lalu." ucap Sohyun. "Tapi.."


'...aku terlalu lemah untuk menjauhimu. Aku selalu berharap kau dapat mengingatku dan kita memulainya dari awal lagi.'


Drrrtt drrrt


Sohyun meraih ponselnya yang sejak tadi bergetar. Matanya yang membengkak karena menangis melihat layar ponselnya.


Saerom is calling


"Sohyun-ah.."


"Eum wae?" tanya Sohyun, menutup mulutnya dengan syal merah yang mengalun dilehernya. Menyamarkan suara seraknya.


"Kau dimana? Aku jemput ya."


"Aku dalam perjalan pulang. Kau di rumahlah. Sebentar lagi aku akan sampai."


"Serius?" tanya Saerom di seberang sana terdengar tidak yakin.


Sohyun menganggukkan kepalanya. "Iya. Ahya ayo berpesta soju dan chikin."


"Hemm arasseo, cepatlah pulang aku akan memesan chikin dan soju."


bib


Sohyun mengakhiri sambungannya. Memasukkan kembali ponselnya kedalam tas kecilnya.


Jari-jarinya kemudian menyeka jejak air mata di pipinya.


Hari ini adalah awal tahun baru.


Membuka lembaran yang baru untuknya dan menutup lembaran yang lama ada tujuannya di masa depan.


Tidak ada lagi alasan bagi Sohyun untuk bersedih.


Semua sudah berakhir dengan jelas malam ini.


Mereka berpisah mulai saat ini.


Kakinya menginjak zebra cross, menyebrang saat lampu lalu lintas memberi izin pejalan kaki untuk menyebrang.


Sohyun menghembuskan nafasnya. Memejamkan matanya tiga detik dan memasukkan tangannya kedalam saku coat coklatnya.


Brakkkk


Tubuh kecil itu melambung ke udara sebelum jatuh ke aspal.


Darah segar mengalir kepalanya. Begitu banyak dan kental.


Kecelakaan itu membuat beberapa orang berteriak histeris.


Berlarian menghampiri korban kecelakaan.


Sohyun menangis, air matanya keluar disudut matanya.


Tubuhnya sakit. Darahnya terus keluar, membuat dirinya semakin lemah.


Drrrrttt drrrtttt


Bae Jinyoung is Calling


Perlahan jarinya bergerak,meraih ponselnya yang tergeletak tidak jauh darinya.


Tubuhnya semakin lemah, dan matanya mulai memberat. Sohyun ingin mengangkat panggilan Jinyoung, menyapa pria itu sebelum dia benar-benar pergi.


Menghilang seperti yang diinginkan Jinyoung.


Jemarinya berhenti bergerak.


Kelopak sakura itu perlahan tertutup, dan kesadaran Sohyun mulai menghilang.


ㅡjauh disana, seseorang bertopi hitam tengah tersenyum menang. Keinginannya untuk membunuh Sohyun akhirnya berhasil.


Wanita itu akan menghilang untuk selamanya dari dunia ini.


"Bertemulah dengan ayah dan nenekmu Kim Sohyun-ssi."


ㅡEndㅡ


hello yeorobunn....


Gimana epilognya apa sudah mengobati rasa rindu kalian??


Kalau endingnya gini aja udah gak kesal lagikan? perasaan sudah tenang dan tidak minta season duanya kan 😏😏

__ADS_1


__ADS_2