
A Written By shihanssi
Main Cast
• Bae Jinyoung
• Kim Sohyun
.
.
.
Kaca mobil itu perlahan turun, memperlihatkan seseorang dibalik kemudi.
"Aku sepertinya tidak bisa menjemputmu, tidak apa-apa kan?"
Sohyun menganggukkan kepalanya. Ia membungkukkan sedikit badannya, membiarkan tangan kekar itu menghelus surai coklat emasnya.
Daniel tersenyum kecil. "Ah ya, Jinyoung tadi menghubungiku. Katanya kau mengabaikan panggilannya."
"Bukan." Sohyun menggeleng pelan. "Katakan padanya untuk menghubungi melalui nomor kantor. Ponselku rusak, kemarin jatuh di wastafel."
Daniel mengangguk mengerti. "Baiklah, nanti akan kuberitahu Jinyoung. Kalau begitu aku harus kembali ke kantor." Sohyun tersenyum, memperbaiki posisi berdirinya tegap. "Hati-hatilah dijalan."
Perlahan kaca mobil itu menutup, dan Daniel menjalankan mobilnya perlahan meninggalkan Sohyun yang masih mengamati kepergiaanya di depan gedung Key Company.
Sohyun membalikkan badannya, hembusan angin musim semi terasa menyegarkan, menyibakkan rambut Sohyun yang sengaja dibiarkan terurai.
Sohyun menghirup udara yang terasa sangat segar itu. Ia mengangkat wajahnya, memandang langit biru dengan awan yang bergerak perlahan. Sangat indah dan cerah.
Netranya kembali bergerak mengamati mekarnya bunga sakura yang terdapat di depan gedung Key Company. Beberapa kelopak berjatuhan, dan jatuh tepat di atas kepala Sohyun. Hal itu tidak disadari oleh wanita bersurai coklat emas.
.
.
.
Jarum pendek itu sudah menunjukkan angka 10 pagi, cuaca hari ini mulai menghangat. Sohyun melangkah dengan ringan sepanjang koridor kantor Key Company.
Ia memeluk beberapa naskah yang sudah direvisinya beberapa hari yang lalu. Hari ini mereka akan reading lagi, semoga saja pria berkulit tan itu tidak memintanya untuk memperbaiki naskahnya lagi. Jika ia, maka dia sendiri yang akan membatalkan kerja samanya dengan Jongin, tidak peduli jika Peniel akan memarahinya.
"Kim Jakkanim." sapa seseorang bernada bass. Sohyun menghentikan langkahnya, ia mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang memanggilnya.
Tap
Tap
Tap
Suara langkah itu terdengar cepat dan mendekat. Sohyun membalikkan badannya. Pria dengan wajah imut namun memiliki suara yang begitu berat berlari kearahnya. Sohyun tersenyum.
"Lee Felix-ssi." sapa Sohyun saat pria berwajah imut itu berdiri dihadapannya sembari mengatur nafasnya yang memburu. Netra Sohyun bergerak mengamati peluh di dahi pria imut itu.
Menggerakkan tangannya, mengelap keringat Felix menggunakan telapak tangannya.
"Kenapa berlari seperti ini, lihat make up mu luntur."
Felix terkekeh. mendengar Sohyun mengomelinya ia malah menyukainya.
"Kim jakkanim." panggil Felix dengan nada rendahnya.
"Hm." guman Sohyun yang masih menghapus sisa air peluh di kening Felix.
"Aku dengar hari ini adalah reading terakhir. Beberapa hari lagi kita mulai syuting."
"Siapa yang bilang?"
"Pria berkepala plontos itu, pada meeting kemarin dengan beberapa kru."
"Tanpa diriku?"
Felix nenganggukkan kepalanya. "Presdir sengaja tidak meminta anda datang karna anda harus fokus merevisi bagian dialog yang harus diubah."
Sohyun mengangguk pelan.
"Kim jakkanim. Ada yanga ingin kutanyakan." ucapnya pelan. Tangannya terangkat menyentuh surai lembut Sohyun. -tidak- tapi pria itu mengambil kelopak bunga sakura yang tidak sengaja jatuh diatas kepala Sohyun.
Sohyun terdiam jantungnya berpacu lebih cepat. Bahkan terasa sangat sesak sampai Sohyun lupa caranya untuk bernapas.
"Ini pasti dari halaman depan." Felix hanya terkekeh, netra hazelnya mengunci pada kelopak sakura di telapak tangannya.
Hening sejenak.
Pupil hitam itu bergerak, mengamati wajah imut Felix yang terlihat sangat senang mengamati bunga sakura ditangannya. Sohyun menggigit bibirnya kuat, menundukkan kepalanya dalam.
Ia tidak tahu kenapa jantungnya bisa berpacu secepat ini, seperti yang dia rasakan pada Jinyoung dan Daniel. Mungkinkah ia menaruh hati pada Felix? Atau dia hanya-
"Ah ya jadi lupa." Sohyun mengangkat kepalanya setelah mendengar suara berat itu mengalun di telinganya. Pria imut imut itu tersenyum, dan tolong sadarkan Sohyun untuk tidak terpesona dengan senyuman Felix.
"Anda berkencan dengan sekretaris Kang?"
Alis Sohyun terangkat terlihat bingung ketika netranya menatap air wajah Felix yang berubah serius.
Sohyun menurunkan tangannya, kembali memeluk beberapa naskah.
"Memangnya kenapa?" tanya Sohyun memperbaiki posisinya, ia melangkah lebih dulu, ingin menyembunyikan wajahnya yang sepertinya memerah. Felix ikut melangkah, berjalan tepat disamping Sohyun.
"Aku hanya penasaran."
"Itu urusan pribadi ku Felix-ssi. Dan anak kecil tidak boleh tahu."
"Aku bukan anak kecil lagi, umurku sudah 20 tahun."
Sohyun tertawa kecil. Ia menghentikan langkahnya kemudian menghadapkan tubuhnya pada Felix.
Pria berwajah imut itu mau tidak mau ikut menghentikan langkahnya. Felix terlihat kesal, ia tidak suka saat Sohyun masih menganggapnya anak-anak.
"Bagiku kau masih anak-anak."
"Kim jakkanim." panggil Felix dengan nada jengkel. "Apa anda akan terus menganggap ku sebagai anak kecil?"
"Kau merajuk?"
Felix hanya diam. Sohyun tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah, aku tidak akan menganggap mu sebagai anak kecil lagi."
"Kalau begitu beritahu hubungan anda dengan Sekretaris Kang."
"Dia hanya seorang teman. Dan sekarang dia bertugas menjagaku selagi Direktur Bae sedang diluar negeri."
"Hanya sekedar teman? Jangan berbohong Kim Jakkanim. Kedekatan kalian tidak bisa dibilang hanya sekedar berteman."
Sohyun mengangkat sebelah alisnya. Ia tersenyum kecil kemudian menggelengkan kepalanya pelan.
Untuk apa dia berbohong atas statusnya bersama dengan Daniel. Baginya pria berpundak lebar itu hanyalah seorang teman dan penjaga setianya. Ia masih ingat Jinyoung yang mengisi hatinya, menempati seluruh isi pikiran dan hatinya.
Oke, jujur saja untuk saat ini Sohyun menaruh perasaan suka kepada Daniel. namun ia masih waras, otaknya masih berfungsi dan hatinya masih normal. Sohyun adalah hak paten Jinyoung, tak ada yang bisa memilikinya kecuali Bae Jinyoung.
dan menyukai seseorang belum tentu mencintainya kan?
"Bagaimana denganku?"
Sohyun mengangkat alisnya, tidak mengerti maksud dari perkataan pria berwajah imut namun memiliki suara berat itu.
"Apa arti aku untuk Kim jakkanim?"
Sohyun terdiam, mulutnya sedikit terbuka. Sungguh, Sohyun tidak percaya jika pertanyaan itu terdengar sangat mulus di telinganya.
Mulutnya terasa membeku, lidahnya kelu. Sohyun ingin mengatakan sepatah kata, mempertanyakan apa maksud pria dihadapannya. Tapi kenapa semua terasa sangat sulit dan memberatkannya.
"Kim Sohyun-ssi." panggil suara berat itu. Menghentikan kegiatan Sohyun dan Felix yang saling berpandangan.
Dewi Fortuna sepertinya berpihak kepadanya.
Sohyun menoleh. Netra hitamnya mendapati presensi pria dengan setelan kemeja hitam berlengan pendek dan jeans hitam. Tak lupa ia mengenakan topi hitam yang nyaris menutup seluruh wajahnya.
Sohyun menghela nafas panjang. Pria itu membuka topinya, merapikan anak rambutnya setelah topi itu terangkat dari kepalanya.
"Beruntung bertemu denganmu disini." Ucapnya. Netranya melirik wajah imut Felix. "Aku ingin berbicara berdua denganmu."
Sohyun mengikuti arah pandangan Jongin. Felix menengok dan mengangguk perlahan, ia mengerti situasi ini dan ia tidak ingin menjadi pengganggu pembicaraan Sohyun dan Jongin.
"Kalau begitu aku masuk duluan." Felix menundukkan kepalanya sopan kepada Sohyun dan Jongin secara bergantian sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya cepat meninggalkan dua manusia itu.
Jongin mengangkat sudut bibirnya, membentuk senyum sinis. Sohyun hanya diam, keningnya berkerut melihat perubahan raut wajah Jongin yang sedikit menyeramkan setelah kepergian Felix.
.
.
.
Sesampainya di rooftop, Jongin langsung menuju pagar pembatas di rooftop, jemarinya menggenggam erat paper glas yang di isi kopi di mesin kopi dibawah sana. Uap panasnya mengelebur keatas, seolah memperingati jika ia masih dalam kondisi yang panas.
"Bagaimana dengan dialognya? Apa sudah lebih baik dari sebelumnya?" tanya Jongin tanpa menoleh kesebelahnya. Sohyun menghela nafas panjang, pandangannya diluruskan kedepan memandang deretan gedung pencakar langit.
"Sudah."
"Kuharap itu sesuai dengan keinginanku."
"Kim Jongin-ssi, Wolf Gray bukan untukmu. Ini komsumsi umum, aku tidak membuat Wolf Gray untuk kau konsumsi seorang diri." Sohyun memperbaiki posisinya menghadap Jongin, pria itu memiringkan kepalanya menengok.
"...aku tidak akan peduli lagi jika anda tidak menginginkan dialog yang sudah kutulis di wolf gray. Aku sudah berusaha semampuku, dan jika itu masih membuatmu ingin menghancurkan naskahku lebih baik anda memilih berhenti ikut serta dalam wolf gray."
Jongin tersenyum kecil. Ia memperbaiki posisinya menghadap Sohyun sepenuhnya. Ia menurunkan pandangannya, menatap lekat wanita sedikit pendek darinya.
Sohyun berdecak kesal. Peniel, pria berkepala plontos yang menjadi perisai untuk Jongin. Ia akan kalah jika harus berurusan dengan Peniel.
Ia memang penulis handal, ia bisa membuat sebuah skenario dengan jari-jari lentiknya, membuat protagonis menang melawan antagonis. Tapi, dalam dunia nyata Sohyun menjadi protagonis yang kalah dengan antagonis seperti Jongin dan Peniel yang menang dalam angka dan kekuasaan.
Wanita bersurai coklat emas itu mengalihkan pandangannya, memandang gedung pencakar langit sekali lagi.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Bukankah kau memintaku kemari karna ada yang ingin kau ceritakan."
Jongin tersenyum, tidak lebih tepat ia memperlihatkan smirknya. Jongin mengangkat paper glas nya mendekatkan di bibirnya. Ia meneguk perlahan kopi yang mulai menghangat.
"Ubah ending wolf gray. Buat peran Dongwoo yang meninggal."
• • •
"A,apa?" pikik Saerom. Ia membuka mulutnya lebar-lebar setelah mendengar curhatan Sohyun.
Sohyun menceritakan perbincangan dirinya dan Jongin. Semuanya, tanpa terkecuali.
"Gila, kenapa dia ingin Dongwoo yang meninggal? Bukankah itu keterlaluan."
"...dia sudah membuatmu mengubah dialog, dan sekarang memintamu membuat peran Dongwoo yang meninggal."
"Hffftt..." hela Sohyun panjang. Ia membaringkan tubuhnya diatas ranjang pink. Matanya menatap lamat-lamat langit kamar yang bernuansa pink, sangat feminim.
Malam ini ia berada dirumah Saerom, sengaja malam ini ia tidak kembali ke apartemennya. Sohyun butuh seseorang untuk mencerikan kegiatannya hari ini.
Sebenarnya ia bisa saja menceritakan soal ini kepada Jinyoung, tapi ponselnya rusak dan ia belum membeli yang baru. Terus Daniel?
Pria itu masih sibuk di kantor, menggantikan posisi Jinyoung dikantor. Kepergian Jinyoung ke China membuat pria berpundak lebar itu semakin sibuk dan tidak memiliki waktu untuk menjaga Sohyun.
"Rasanya kepalaku ingin meledak. Ia punya bom granat yang siap dilemparkan kepadaku kapan saja." Sohyun mendudukkan tubuhnya, menarik bantal, memangku bantal pink itu di pahanya.
"Aku tidak mempunyai kekuasaan seperti Jongin dan Presdir Shin."
"Heii siapa bilang, kau punya Jinyoung dan Presdir Bae."
Sohyun memutar matanya, menatap punggung sahabatnya yang tengah duduk di kursi belajarnya, --ah tidak, kursi kerjanya--. Ia punya Jinyoung yang memiliki kekuasaan dan berbagai koneksi. Tapi, ahhh Sohyun tidak mau Jinyoung nya terlibat.
Ngomong-ngomong tentang Jinyoung, pria itu tidak menghubunginya seharian ini. Ia mengerti karna ponselnya rusak, dan ia sudah meminta Daniel untuk memberitahu Jinyoung untuk menghubunginya melalui nomor kantor. Tapi Jinyoungnya tidak menghubunginya.
Sohyun jadi merindukan pria itu sekarang.
Saerom memutar kursinya menghadap sahabatnya. Sohyun menunduk, ia terlihat bingung, jari-jarinya menarik-narik kain bantal.
"Ada apa?"
"Aku merindukan Jinyoung."
Saerom memutar matanya jengah, ia pikir sahabatnya memikirkan masalah yang serius, nyatanya wanita itu sedang merindukan kekasihnya. Heol membuatnya iri saja.
"Ya telfon saja dia, apa susahny-"
"Handphone ku rusak, kau lupa?"
"Beli yang baru. kau tentu saja tidak lupa jika kau tinggal di Seoul, kota yang tidak pernah tidur."
__ADS_1
Sohyun menghela nafas malas, matanya menajam menatap sahabatnya. Tidak diingatkan pun ia tau jika dirinya tinggal di Seoul.
.
.
Drreeedd ... Dreedd
Ekor matanya menangkap layar ponselnya yang berkedap-kedip sejak tadi. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya ia menekan ikon hijau dan menekan pengeras suara pada ponselnya.
"Kenapa lama sekali?" tanya suara berat itu ketika panggilannya terjawab.
Daniel menghela nafas panjang untuk kedua kalinya. Kali ini ia benar-benar menghentikan kegiatannya mengamati lembaran-lembaran kertas diatas meja kerjanya.
"Pekerjaanku bertambah dua kali lipat saat kau pergi ke China dan meninggalkanku seorang diri di Korea."
Jinyoung tertawa lepas mendengar gerutuan sekretarisnya.
"Oke, i'm sorry. Aku akan kembali lusa, setelah itu kau bisa mengambil cuti dua hari."
Daniel mengangkat sebelah alisnya, netranya bergerak mengamati ponselnya yang masih tergelatak diatas meja.
"Lusa? Bukankah masih ada beberapa hari lagi?"
"Aku sudah tidak betah disini. Beberapa jadwal sudah aku selesaikan, tinggal besok aku harus bertemu dengannya."
Daniel mengangguk. Ia mengangkat wajahnya menatap langit-langit ruangannya. Besok adalah hari terakhirnya ia bisa menghabiskan waktu berdua dengan Sohyun.
Karna setelah itu, Jinyoung akan merebutnya darinya.
"Sekretaris Kang."
"Ya ada apa?"
"Apa kau bersama Sohyun sekarang?"
"Tidak, aku masih dikantor. Kau belum menghubunginya tadi siang?"
Hening sejenak
"Aku lupa. Bisakah aku pulang sekarang, aku ingin berbicara dengannya, aku merindukannya."
Daniel bisa membayangkan pria diseberang sana sedang menggaruk telengkuknya yang tidak gatal. Ia meraih ponselnya, mendekatkannya pada mulutnya.
"Kau merepotkan ku Direktur Bae. Kau ini hidup di dunia yang canggih, bukan di dunia batu lagi. Kau bisa mengirimnya surel,"
"Mana bisa aku mendengar suaranya jika hanya mengirimi nya surel. Ayolah sekali ini saja. Atau-"
"Oke oke aku akan pulang puas kau Bae Jinyoung." potong cepat Daniel. Sungguh dia tidak ingin ancaman pria itu, terlalu menjijikkan untuknya.
Pria di sebarang sana terkekeh geli.
"Baiklah hubungi aku jika kau sudah sampai."
Bib
Daniel ternganga setelah sambungannya terputus begitu saja setelah mendengar titah atasannya. Jinyoung benar-benar kurang ajar padanya.
Ia bangun dari duduknya, merapikan beberapa kertas yang berceceran diatas mejanya. Setelah dirasa rapih ia menarik jas hitamnya yang menggantung di sandaran kursi.
Melangkah meninggalkan ruangannya untuk menuruti perintah atasannya. Daniel tersenyum,
Ini adalah kesempatan baginya bertemu dengan sang pujaan hati, meski sedikit tidak rela jika pada kenyataannua pertemuan mereka berdasarkan perintah Jinyoung yang ingin mendengar suara Sohyun.
Setidaknya malam ini ia bertemu dengan pujaan hatinya bukan?
.
.
.
Klik
Sohyun membuka pintunya lebar-lebar, memasukkan seluruh tubuhnya kedalam apartemennya. Ia membuka sepatunya dan meletakkanya di rak sepatu.
Langkah kakinya membawanya semakin dalam, memasuki dapur. Ia membutuhkan air untuk membasahi kerongkongannya yang kering. Tangannya dengan cekatakn membuka lemari pendingin, mengambil botol mineralnya, meneguknya perlahan.
"Hah~"
Rasanya tenggorokannya kembali normal. Ia membalikkan badannya dan ...
"kamjagiya." Sohyun terlonjak kaget, nyaris botol yang ada ditangannya jatuh kelantai karna terkejut.
Seseorang yang menagetkan Sohyun dengan tiba-tiba berdiri di samping wanita itu hanya tersenyum memperlihatkan gigi kelincinya.
Melangkahkan kakinya mendekat Sohyun, ia masih tersenyum cukup manis membuat Sohyun salah tingkah.
"S,sejak kapan kau disini?" tanya Sohyun canggung. Senyuman pria itu benar-benar membuat nya salah tingkah, terlebih posisi pria berpundak lebar itu dihadapannya.
Pria itu menggelengkan kepalanya pelan, dilihat pipi gembil yang mulai merona merah.
"Sejak tadi, ini." Daniel menjawab santai, tangannya terangkat memberikan paper bag pada Sohyun.
Sohyun menurunkan pandangannya, tangannya mengambil ahli paper bag yang diberikan Daniel.
"Apa ini?" Tanyanya, membuka dan mengeluarkan benda tersebut. Ponsel baru, Sohyun mengangkat wajahnya, menatap Daniel, menuntut penjelasan.
"Aku tidak sengaja lewat didepan toko handphone, dan aku ingat jika handphone mu rusak. Jadi aku membelikannya, lagi pula Jinyoung sangat menggangguku."
"Mengganggu mu?" Tanya Sohyun, Daniel menganggukkan kepalanya. "Yah, dia terus menanyai kabarmu seharian ini."
Sohyun menahan senyumnya mendengar gerutuan Daniel.
"Gomawo Daniel-ssi, aku akan mengganti uangmu. Atau jika kau menginginkan sesuatu katakan saja, nanti aku akan mengabulkan."
Daniel terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya ia berkata. "Apapun?"
"Apapun," Sohyun tersenyum, ia menunduk dan mengamati handphone barunya, pengeluaran terbaru. Sohyun yakin harga handphonenya sangat mahal dan lebih canggih dari handphone sebelumnya.
Sementara Daniel mengunci matanya menatap Sohyun. Memandangi wajah wanita yang ia cintai, melihat Sohyun yang tersenyum bahagia seperti ini, membuatnya jatuh cinta, lagi dan lagi.
Entah sudah berapa kali Sohyun membuat Daniel jatuh cinta karna senyumannya.
"Bagaimana jika permintaanku adalah kau menjadi milikku? Mengubah status pertemanan menjadi sepasang kekasih?"
🍁🍁🍁
__ADS_1
Tbc