Wolf Grey : A Girl Meets Werewolf

Wolf Grey : A Girl Meets Werewolf
Bab 8


__ADS_3

A Written by shihanssi


Main Cast :


• Kim Sohyun


• Bae Jinyoung


)o(


"Seharusnya kau istirahat Sohyun-ah." ucap Mingyu mengamati Sohyun yang dengan keras kepalanya duduk dihadapannya dan dengan santai nya memasukkan sandwich kedalam mulutnya.


Manik hitam milik Mingyu bergerak mengamati lengan Sohyun yang sudah di perbannya beberapa jam yang lalu.


Luka yang dialami Sohyun hari ini tidak terlalu parah. Untung saja tiang infus itu hanya merobek kulitnya dan tidak memutuskan urat nadi wanita itu. Entah apa yang terjadi jika itu terputus.


Mingyu menghela nafas putus asa. Ia memejamkan matanya tiga detik kemudian menatap sosok pria berjas hitam dengan noda merah dibagian kerah lehernya. Mingyu tahu jika noda merah itu adalah darah Sohyun.


"Kau mau lagi?" tanya Daniel dengan suara beratnya. Sohyun menengok, ia tersenyum kecil sembari mengangguk.


"Air minumku juga habis, bisa pesankan satu lagi?"


Daniel hanya mengangguk sebelum akhirnya ia bangun dari duduknya meninggalkan Mingyu dan Sohyun.


"Kau tidak boleh makan makanan siap saji terlalu banyak Sohyun-ah." Sohyun melirik tidak suka pada Mingyu.


"Uhh dasar dokter cerewet. Aku hanya makan dua porsi, lagi pula aku sudah kehilangan banyak darah. Tubuhku lemas dan membutuhkan banyak makanan untuk menambah darahku."


"Jika kau kekurangan darah sebaiknya kau istirahat dan perbanyak minum suplemen penambah darah. Bukan memakan makanan siap saji sebanyak itu."


Sohyun mengendus kesal. Ini salah satu tidak mengasyikkannya memiliki seorang teman yang berprofesi dokter.


Apa-apa pasti dilarang. Mau makan ini itu pasti dilarang. Sohyun mempoutkan bibirnya imut. Maniknya menatap sandwich ditangannya dengan selera yang sudah hilang karna mendengar ocehan Mingyu.


Mingyu menatap Sohyun dengan gemas. Melihat Sohyun yang masih mempoutkan bibirnya seperti itu membuat Mingyu ingin sekali mencium bibir mungil itu.


Merasa dirinya diamati, Sohyun mengangkat wajahnya dan menatap lekat wajah Mingyu.


"Ada apa?" Mingyu menggelengkan kepalanya perlahan. Jarinya dengan kaku meraih kaleng soda diatas meja. Ia meneguk sodanya dengan canggung.


"Mingyu-ssi." Mingyu mengangkat matanya saat suara Sohyun memanggil namanya.


Pria itu terdiam, menunggu dengan antusias Sohyun melanjutkan perkataannya.


"Ada yang ingin ku diskusikan tentang Wolf Grey."


"Soal penyakit Hyunji?"


Sohyun menganggukkan kepalanya. "Aku merasa kurang puas dengan karakternya. terlebih dengan penyakitnya. Menurutmu bagaimana?"


"Menurutku karakternya sudah pas, hanya saja yang permasalahannya hanya traumanya. Akan lebih bagus jika kau menghapus bagian trauma itu."


"Phobianya?"


Mingyu mengangguk. "Ya, lagipula Hyunji memiliki sakit leukimia itu sudah cukup baginya menjalani hidupnya. Jadi sosialphobia itu lebih baik kau hapus."


Sohyun terdiam. Perkataan Mingyu ada benarnya. Sosialphobia menjadi satu-satunya hal yang membuat naskahnya sedikit jelek. Hyunji dalam karakter naskahnya sudah memiliki banyak cobaan dalam hidup. Mulai dari penyakit leukimia, bertemu dengan werewolf dan sosialphobia nya yang aneh.


Yah Sohyun harus menghapus bagian itu. Sohyun tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapih.


"Gomawo Mingyu-ssi." Sohyun menjulurkan tangannya menggenggam telapak tangan pria dihadapannya itu.


Mingyu hanya tersenyum. Ibu jarinya bergerak menghelus permukaan kulit punggung tangan Sohyun.


Daniel mendekat. Meletakkan pesanan wanita itu diatas meja. Sohyun menengok saat pria disebelahnya menarik kursinya dengan kasar, dan Sohyun tanpa sadar melepaskan genggamannya pada Mingyu.


"Ada apa Daniel-ssi."


Daniel menengok. Melempar pandangan yang sulit diartikan. Daniel menatap Sohyun tiga detik, kemudian manik hitamnya bergerak melirik Mingyu dengan pandangan tajam.


"Tidak apa-apa. Ini." Daniel mendorong nampan berisi sandwich dan minuman yang sudah di belinya. Manik Sohyun bergerak mengamati sandwich didepannya dengan pandangan tidak berselera.


"Aku sudah kenyang." Sohyun memutar matanya menatap Daniel. saat maniknya menangkap wajah pria berbahu lebar itu, Sohyun melihat kerutan halus di keningnya.


"Salahkan pria itu yang membuat nafsu makan ku menghilang." ucapnya melirik Mingyu dengan senyum sinis yang terpatri di bibirnya. "Oh ya aku harus segera pulang. Dokter Kim, terimakasih sudah mau meluangkan waktumu." lanjutnya sambil berdiri dari duduknya.


Mingyu dan Daniel ikut berdiri dari kursinya. Mingyu mengangkat ujung bibirnya membentuk senyum kecil.


"Ne. Datanglah kerumah sakit untuk mensterilkan lukamu." ucap pria berkulit erotis itu melirik lengan Sohyun yang dibaluti oleh perban.


"Arasseo."


"Kim Sohyun-ssi." panggil suara berat itu. Sohyun menengok ke kanannya, dimana pria berbahu lebar itu masih senantiasa menatapnya.


"Waeyo?" tanya Sohyun.


"Anda pulang naik apa?"


"Aku bisa menggunakan taxi atau bus. Kenapa?"


"Kalau begitu biar aku mengantar anda. Lagipula Direktur Bae memintaku untuk bertemu dengannya."


"Ahh baiklah. Kajja." Wanita bersurai coklat emas itu mengangguk, kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.


Daniel diam beberapa detik untuk mengamati Mingyu. Sorot matanya berbeda saat wanita itu meninggalkan mereka berdua didalam kafe. Daniel menatap Mingyu seolah pria itu adalah mangsanya, dan ia sudah bersiap-siap untuk menerkam mangsanya.


Berbeda dengan Daniel, Mingyu terlihat biasa saja. Bahkan pria itu dengan santainya mengangkat ujung bibirnya membentuk senyum sinis untuk Daniel.


• • •


Klik


Pintu coklat itu terbuka dengan lebar. Memperlihat dua sepasang manusia masuk kedalam ruangan dengan nuansa putih yang moderen.


Sohyun masuk lebih awal, kemudian disusul oleh Daniel yang masuk kedalam apartemen sembari membawa beberapa barang belanjaan.


Beberapa jam sebelum mereka pulang. Mereka, Daniel-Sohyun. Memutuskan untuk pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan. Sohyun baru ingat jika bahan makanan di kulkasnya hampir habis dan malam ini ia sudah berjanji untuk memasakkan Jinyoung makanan.


"Gomawo Daniel-ssi." Daniel meletakkan barang belanjaannya diatas meja. Sohyun mendekat setelah ia melempar tas kecilnya diatas sofa.


"Kau bisa istirahat sembari menunggu Jinyoung datang. Aku akan menyiapkan sesuatu yang bisa kau makan saat ini."


"Tidak perlu. Biar aku saja," Daniel menyentuh lengan Sohyun. Menghentikan pergerakan tangan wanita itu membuka kantong belanjaannya.


Sohyun mengangkat wajahnya. Netranya menangkap sebuah pandangan tajam dari netra hitam yang sedang menatapnya itu.


Beberapa detik terhanyut dalam mata sipit itu, Sohyun menurunkan pandangannya. Ia mengamati lengannya, dimana Daniel masih mencengkeramnya.


Sohyun merasa sentuhan itu hangat dan ... Tidak asing. Rasanya Sohyun pernah merasakan kehangatan tersebut.


Daniel menurunkan pandangannya. Kemudian ia sadar jika ia masih mengcengkram tangan Sohyun. Perlahan ia melepaskan cengkraman itu, dan membuat wanita itu mengangkat wajahnya menatap dirinya.

__ADS_1


"Kang Daniel-ssi," panggil Sohyun dengan nada sangat pelan. Dan Daniel mendengarnya sangat jelas, seolah wanita itu memanggilnya tepat ditelinganya.


"Apa kau juga werewolf?"


Daniel terdiam. Isi pikirannya terasa kosong. Tidak ada jawaban dari pertanyaan Sohyun didalam otaknya sehingga membuatnya terlihat kebingungan.


Pria berbahu lebar itu memutuskan pandangannya. Matanya bergerak mengamati sekitarnya, mencoba mengamati setiap sudut ruangan itu.


"Katakan padaku, bahkan aku tahu jika Jinyoung dan Presdir Bae adalah werewolf." Daniel menghentikan kegiatannya. Ia melihat senyum wanita itu dari ekor matanya.


"...Tidak perlu menyembunyikan hal itu padaku."


"Kau tidak takut?" tanya Daniel dengan tatapan polos seperti anak kecil. Sohyun terkekeh mendengar pertanyaan pria berbahu lebar tersebut.


"Tidak. Jika aku takut, seharusnya aku sudah berlari menjauhi Jinyoung sejak kecil."


Daniel terkekeh. Sohyun memiringkan kepalanya mengamati bibir Daniel yang terangkat membentuk senyum yang imut. Gigi kelincinya terlihat sangat lucu, jika saja pria itu tersenyum seperti ini di tempat umum maka orang- orang akan jatuh cinta kepadanya saat melihat senyumnya itu.


Pria berbahu lebar itu memudarkan senyumnya. Ia menengok kearah Sohyun yang masih menatapnya dengan bibir yang terus terangakat membentuk senyum yang paling manis yang pernah dilihatnya.


"Ada apa?" Sohyun menggelengkan kepalanya pelan. Ia mengalihkan pandangannya.


"Apakah werewolf memiliki populasi sama banyaknya seperti manusia biasa di dunia ini?"


"Mungkin hanya 30%." suara berat itu menjawab pertanyaan Sohyun.


Kedua orang yang sedang asik berbincang itu memutar kepalanya menatap sosok pria berjas hitam di hadapan mereka.


Jinyoung tersenyum kecil melihat ekspresi Sohyun dan Daniel yang terlihat sangat lucu.


"Heii ada apa dengan ekspresi kalian?" tanya Jinyoung mendekat. Ia menarik kursi didekat meja dapur, netranya bergerak mengamati Daniel dan Sohyun secara bergantian.


"Apa kau sudah lama?"


Daniel menganggukan kepalanya sebagai jawabannya atas pertanyaan atasannya itu. Jinyoung ikut mengangguk, perlahan ia menunduk dan netranya langsung menangkap perban putih yang melekat pada kulit tangan kekasihnya.


Tangan Jinyoung terangkat menyentuh lengan kekasihnya. Menariknya mendekat pada pandangannya. Sohyun menjerit pelan saat tangannya ditarik, meski Jinyoung menariknya pelan namun rasa sakit itu masih ada.


"Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Jinyoung dengan sorot mata yang tajam. Pria berwajah kecil itu terlihat memerah, pupilnya melebar seperti orang marah. Yah pria bersurai madu itu marah.


"Ji-jinyoung-a." ujar Sohyun sembari menarik tangannya dari cengkraman Jinyoung. "Lepaskan, ini sakit." lanjutnya dan untuk kedua kalinya Sohyun menarik lengannya. Kali ini Sohyun menariknya dengan kasar, sampai ia berhasil melepaskan cengkram pria berwajah kecil itu.


"So-ya..." Jinyoung bangun dari duduknya. Sementara Sohyun hanya menunduk mengamati perbannya yang mulai mengeluarkan bercak darah.


"Seharusnya kau tidak menariknya tadi. Kau tahu ini sangat sakit." ucap Sohyun. Ia melirik Jinyoung tajam, terlihat jelas ia marah kepada pria itu yang membuat lukanya semakin buruk.


"Aku hanya ingin melihatnya."


Sohyun memutar matanya malas. Ia melangkah meninggalkan Jinyoung dan Daniel di dapur. Entah mengapa, suasana hatinya tiba-tiba menjadi buruk saat Jinyoung mengganggu waktunya bersama Daniel dan menyakiti tangannya.


Setelah kepergian Sohyun dari dapur. Jinyoung dan Daniel saling melempar pandang satu sama lain. Menukar pertanyaan dari sorot matanya.


Daniel memutar matanya malas. Ia tidak suka bertanya melalui sorot mata. Terlalu melelahkan dan ia tidak tahu kode mata.


"Jangan tanyakan padaku kenapa dia mendadak badmood seperti itu." Daniel membuka kantong belanjaan. Mengeluarkan beberapa macam jenis sayuran dan daging yang mereka beli dipasar.


"Darimana dia mendapatkan luka itu?"


"Rumah sakit." jawab Daniel seadanya. Ia melangkah mendekat ke kulkas dan membukanya untuk memasukkan jenis sayuran. "Ada seorang perawat yang tidak sengaja menjatuhkan tiang infus didekatnya."


"Kau yakin itu tidak sengaja?" tanya Jinyoung. Sebelah alisnya terangkat naik.


"Tidak. Itu sudah direncanakan." Daniel memutar badannya menatap pria berwajah kecil itu. Dan saat ia menatap mata itu, ada kilatan di netra hitam milik Jinyoung.


Jinyoung menghela nafas panjang. Tangannya dibawah sana perlahan mengepal kuat.


Daniel terdiam. Pria itu tahu jika atasannya mencoba untuk menahan emosinya. Dan disaat seperti ini Daniel tidak berani mengganggu Jinyoung.


"Kau tahu siapa perawat itu?" Daniel mengangguk. Ia melangkahkan kakinya mendekat.


Setelah berada dihadapan Jinyoung. Daniel mengangkat tangannya *** bahu atasannya itu.


"Tidak perlu menghabisi tenagamu untuk melakukan hal buruk padanya. Aku sudah meminta bantuan pada seseorang untuk melakukannya."


"Siapa?"


Daniel mengangkat kedua ujung bibirnya. Membentuk senyuman yang sulit diartikan.


.


Pria bertubuh jangkung itu meletakkan jas labnya di sandaran kursi kebanggaannya kemudian menarik mantel hitamnya.


Setelah dirasa penampilannya telah sempurna, ia menarik tas hitamnya dan memasangnya di punggungnya. Ia melangkah dengan tenang keluar dari ruangannya dan berjalan menyelusuri koridor rumah sakit.


Netra hitamnya mengkilat beberapa detik. Sorot matanya berubah menajam saat mendapati seorang wanita yang baru saja keluar dari ruang inap pasien. Wanita itu tersenyum dan menundukkan kepalanya sopan.


"Selamat malam dokter Kim." Mingyu menghentikan langkahnya tepat dihadapan wanita cantik tersebut.


"Selamat malam perawat Im." sapa Mingyu dengan senyum semanis mungkin. Sementara perawat cantik itu hanya tersenyum malu, dan ia yakin pipinya sudah merona merah.


Heii siapa yang tidak akan merona jika melihat senyuman yang luar biasa mematikan dari dokter ahli bedah seperti Kim Mingyu.


Mingyu terkekeh melihat tingakah laku perawat cantik tersebut.


"Ah ya perawat Im, bisakah kau menolongku."


"Apa?"


Mingyu mengeluarkan memo kuning dari mantel hitamnya dan memberikannya pada perawat Im.


"Tolong berikan ini pada Nyonya Kim. Aku membutuhkan obatnya saat ini juga, tapi aku harus ke mobilku untuk mengecek beberapa dokumen. Bisakah kau menolongku?"


Perawat Im meraih memo kuning itu. Ia mengamati beberapa resep obat yang dibutuhkan oleh dokter Kim saat ini. Perawat Im menganggukkan kepalanya, tanda dia akan membantu pria jangkung itu.


Mingyu mengangkat ujung bibirnya, menampilkan taringnya yang menjadi daya tariknya.


"Kalau begitu aku akan menunggu diparkiran. Terimakasih perawat Im." ucap Mingyu menyentuh pundak wanita cantik itu sebelum akhirnya ia melangkah meninggalkan wanita tersebut.


.


Pria dibalik kemudi itu menjalankan mesin mobilnya. Sorot matanya menajam dan mengkilap beberapa detik. Sosok wanita cantik itu melangkah mendekati mobilnya dengan tenang.


Perawat Im datang mendekati mobil mewah berwarna hitam. Ia mengangkat tangannya, memperlihatkan pada seorang pria dibalik kemudi jika ia mendapatkan pesanan pria itu.


Mingyu menarik ujung bibirnya. Kakinya perlahan menginjak pegal gas mobilnya. Perawat Im menghentikan langkahnya saat mobil itu melaju dengan cepat kearahnya.


Brak


Tubuh mungil itu terpental jauh dan berguling beberapa kali. Bungkusan obat yang sejak digeggamnya dengan erat itu tercecer di lantai.


Mobil mewah berjenis Bently Continental itu berhenti beberapa meter dari jarak perawat Im yang terkapar diatas lantai dengan darah yang keluar dari tubuhnya.

__ADS_1


Didalam mobil Mingyu hanya tersenyum sinis melihat perawat Im dari kaca spionnya.


"Ini masih awal."


.


"*Ada apa?"


Daniel memperbaiki posisinya menghadap Mingyu.


"Apa kau mengenal Im Nayeon? Dia seorang perawat di rumah sakit mu."


Mingyu terdiam beberapa saat. Ia mencoba untuk mengingat nama yang tidak asing baginya itu.


"Dia yang telah melukai Sohyun jika kau ingin tahu."


"Kenapa wanita itu melakukannya?"


"Jika kau ingin tahu maka tanyakan pada kakakmu. Dia adalah salah satu orang yang ingin melenyapkan Sohyun dalam kehidupan ini."


"Kakakku?"


Daniel mengangguk. "Seharusnya kau tahu hal ini sejak dulu. Ahh yah bisakah kau melakukan sesuatu?"


"Apa?"


"Bunuh perawat itu. Hanya kau yang bisa melakukannya karna dia berada didekatmu, lagi pula kau Wolf Brwon yang memiliki wewengan membunuh seseorang."


Mingyu tersenyum sinis. Ia memasukkan tangannya kedalam saku jas labnya. "Jadi kau pikir hanya Wolf Brown yang bisa membunuh manusia, lalu bagaimana dengan Wolf Gray?"


"Kami hanya bisa membunuh Wolf Brown." Ucap Daniel terdengar santai. "Aku hanya memintamu untuk membunuh wanita itu bukan memperdebatkan masalah kita. Jika kau tidak bisa melakukan hal itu, aku akan mencari orang lain."


Mingyu menghela nafasnya berat. Ia memejamkan matanya tiga detik.


"Baiklah, tapi dengan satu syarat."


Daniel mengangkat sebelah alisnya.


"Jangan pernah membunuh kakakku*."


"Seharusnya kau tidak memenuhi permintaan hyungku perawat Im. Dan tidak seharusnya kau melukai orang yang kucintai." ucap Mingyu kemudian menarik persneling kebalakang dan menginjak pedal gas nya.


Mobil mewah itu melaju cepat kebelakang. Mendekat pada tubuh perawat Im yang masih terkapar di atas lantai parkir.


Brak


.


Jinyoung membuka pintu kamar Sohyun. Netranya bergerak mengamati ruangan dengan warna putih dan dinding kaca.


Ini pertama kalinya pria berwajah kecil itu masuk kedalam kamar kekasihnya. Dan, Jinyoung tidak berhenti mengagumi setiap desain moderen kamar itu.


Klik


Jinyoung membalikkan badannya saat mendengar suara pintu putih disudut ruangan terbuka. Sohyun terkejut melihat Jinyoung di kamar nya.


"Apa yang kau lakukan disini?" Sohyun melangkah. Tangannya bergerak mengelus perban yang sudah digantinya tadi.


Sohyun mendekati meja riasnya. Mengamati pantulan dirinya dan Jinyoung di cermin riasnya.


"Kau marah padaku?" tanya Jinyoung mendekat. Memeluk tubuh Sohyun dari belakang.


Wanita bersurai coklat emas itu terkejut. Ia menengok dan saat yang bersamaan Jinyoung menghela nafas dalam, sehingga hembusan nafasnya menerpa wajah sang kekasih.


Sohyun merasakan ribuan kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya.


Hanya nafas pria itu yang menyentuh permukaan kulitnya. Tapi bisa membuat dirinya melayang seperti ini.


"Mianhe. Aku tidak berniat membuatmu semakin kesakitan. Aku hanya ingin melihatnya."


Sohyun menghela nafas berat. Perlahan tangannya bergerak melepaskan tangan Jinyoung yang melingkar diperutnya. Ia kemudian membalikkan badannya menghadap pada lelaki berwajah kecil tersebut.


"Ya aku tahu dan aku minta maaf karna memarahimu."


Jinyoung menggeleng. "Tidak apa-apa, aku tahu itu menyakitkan." Netra Jinyoung bergerak mengamati perban yang sudah bersih tersebut. Ia tahu jika kekasihnya itu telah membersihkan lukanya.


"Apa semakin parah?" Sohyun mengikuti arah pandang Jinyoung. Ia menggeleng pelan.


"Tidak, untung saja jahitannya tidak lepas."


Jinyoung menatap Sohyun ngeri. Bisa-bisanya wanita itu mengatakan hal mengerikan itu dengan tenang. Sohyun mengangkat wajahnya menatap ekspresi takut pria itu.


"Ada apa?" Tanya Sohyun mengangkat sebelah alisnya. Jinyoung menggeleng pelan, ia tersenyum tapi terlihat sangat canggung.


"Kau takut?"


"Apanya?" Sohyun teridam. Netranya bergerak turun seolah menunjukkan Jinyoung pada pergelangan tangannya.


Sohyun bukanlah orang bodoh yang tidak tahu jika kekasihnya merasa tidak nyaman saat ia dengan santai nya membahas lengannya yang terluka.


Jinyoung mengikuti arah pandang Sohyun dengan mata polosnya. Kemudian ia mengangkat pandangannya melihat wajah ceria Sohyun.


"Kau takut dengan ini?"


"Euhhh, tidak." Pria bersurai madu itu menggeleng pelan dan melangkah satu langkah kebelakang. Sohyun terkekeh, ia melangkah mendekat dan membuat kekasihnya itu dengan spontan melangkah mundur menjauh.


Mereka bedua melakukan hal itu selama beberapa detik. Sampai akhirnya tubuh Jinyoung berhenti menabrak dinding kaca. Sohyun memperlihatkan smirknya, dan hal itu membuat Jinyoung tersenyum tipis Bukan, lebih tepatnya Jinyoung menyeringai.


"Aku tidak tahu jika smirkmu itu sangat mematikan."


"Kau baru menyadarinya?" tanya Sohyun sembari mengalungkan tangannya dileher Jinyoung.


Jinyoung menyentuh wajah Sohyun dengan punggung tangannya dan kemudian mencium puncuk hidung wanita itu sebelum nafasnya memburu saat Sohyun membalas menyentuh wajahnya.


Pria itu sudah tidak tahan lagi. Didekatkan bibirnya mencium bibir tipis milik Sohyun. Melumat perlahan bibir peach Sohyun atas dan bawah secara bergantian. Sohyun membalas ciuman Jinyoung yang lembut dan hangat.


Klik


Seorang pria berbahu lebar berdiri mematung saat melihat adegan didepan matanya. Daniel hanya diam dengan pandangan yang sulit diartikan. Tak ada niatan dirinya untuk meninggalkan tempat itu atau mengganggu dua manusia yang sedang menikmati waktu cumbuannya.


Jinyoung dan Sohyun sebenarnya sadar akan kehadiran Daniel. Hanya saja mereka terlalu malas untuk mengakhiri ciumannya hanya untuk bertanya 'ada apa'


Tok tok


Akhirnya Daniel mengetuk pintu itu pelan. Meski pada awalnya ia terlambat melakukan hal sesederhana itu sebelum membuka pintu ruangan.


"Makan malamnya sudah siap. Aku akan menunggu di meja makan." ucap Daniel datar. Kemudian ia menutup kembali pintu kamar Sohyun, membiarkan kedua insan itu  menghabiskan waktu untuk berdua.


Jinyoung melepaskan tautan setelah beberapa detik Daniel menutup pintu kamar kekasihnya.


"Sebaiknya kita mengunci pintunya dan melanjutkan ke adegan yang lebih panas. Daniel bisa menunggu." Jinyoung berbisik, Sohyun tersenyum.

__ADS_1


🍁🍁🍁


See You Next Chapter


__ADS_2