Wolf Grey : A Girl Meets Werewolf

Wolf Grey : A Girl Meets Werewolf
Bab 5


__ADS_3

Written By shihanssi


Main Cast :


•Bae Jinyoung


•Kim Sohyun


o)(o


Sohyun mengerutkan alisnya. Pria itu mengatakan hal itu begitu saja dan membuat Sohyun merasa bingung dengan pertanyaannya.


Jika dia adalah pemeran wanita dalam film tersebut, sudah pasti ia menginginkan happy ending. Ohh ayolah siapa yang mau meninggalkan orang yang dicintai dan membiarkan orang itu hidup sendiri didunia ini.


Tapi, hal itu hanya akan terjadi dalam film bukan, tidak mungkin menjadi kenyataan.


Pria itu masih menatapnya dengan lekat, sangat lekat sehingga membuat Sohyun salah tingkah.


"Apa jawaban anda Kim Sohyun-ssi?" Tanya Jinyoung.


"Tentu saja aku menginginkan akhir yang bahagia, meskipun aku akan mati karna mengorbankan nyawaku untuk menyelamatkan Wolf Grey, bukankah itu sudah cukup membuatku bahagia?"


Jinyoung diam. Ia tersenyum miris. Memikirkan jawaban Sohyun yang jauh dari dugaannya. Mengorban nyawanya untuk orang dicintainya? Apakah itu benar-benar nyata dalam kehidupan ini? ingin sekali Jinyoung mempertanyakan hal itu kepada Sohyun.


Jinyoung meletakkan naskah tersebut bersamaan Sohyun yang meletakkan piring yang tadi dipenuhi oleh potongan apel. "Well semuanya berada pada keputusan presdir Bae."


"Lalu bagimana dengan pendapat anda?"


Jinyoung mengangkat wajahnya menatap lekat Sohyun. "Sebenarnya aku kurang tertarik dengan endingnya. Jika saja happy ending, aku akan menyetujuinya dan membiarkan anda memilih actor dan aktris yang anda inginkan." ucapnya sambil mengalihkan pandangannya pada sampul Wolf Gray.


Sohyun terdiam cukup lama. Mengapa pria dihadapannya itu sangat menginginkan Wolf Gray berakhir bahagia. Bukankah jika sang wanita mengorbankan nyawanya untuk dirinya itu sudah termasuk dengan akhir yang bahagia. Wolf Gray hidup kembali dan menjalani kehidupannya lagi. dan tentang cinta? Ayolah, Wolf Gray bisa bangkit, masih banyak diluar sana wanita-wanita cantik yang siap mencuri hati Wolf Gray.


Dreeedd ... dreeeedd


Suara ponsel itu membuyarkan lamunan Sohyun. Suara ponsel itu bukan miliknya tapi milik pria berwajah kecil itu.


Jinyoung merogoh kantong jas hitamnya, mencari keberadaan benda kecilya itu.


Aeboji Is Calling


"Ne Aeboji!"


Itu Presdir Bae.- pikir Sohyun saat pria berwajah kecil itu menyebut seseorang yang menghubunginya dengan sebutan ayah.


"Apa kau sudah bertemu dengannya?"


Jinyoung mengangkat pandangannya. Manik hitamnya menatap Sohyun dengan pandangan yang sulit diartikan. "Ne."


"Bawa dia kemari! Appa ingin bertemu dengannya. Sudah lama ayah tidak melihat wajahnya."


"Sekarang?" Tanya Jinyoung mengangkat sebelah alisnya.


"Tentu saja. Ayah ingin bertemu dengannya sekarang. Pasti ia terlihat semakin cantik."


Jinyoung terdiam beberapa saat. Matanya masih memandangi Sohyun dengan lekat, membuat wanita itu menjadi risih.


"Akan ku usahakan."


Jinyoung kemudian mengakhiri panggilannya, dan meletakkan ponselnya di atas meja.


"Presdir baru saja menghubungiku, dia meminta kau menemuinya dirumah."


Sohyun menoleh. Menatap dengan pupil yang melebar kearah Jinyoung. Sohyun merasa pendengarannya sedikit bermasalah, ia tadi mendengar presdir Bae, orang tersibuk setelah Presiden korea selatan itu memintanya untuk bertemu dirumah.


"Bagaimana? Hal ini bisa jadi kesempatan anda untuk membicarakan hal ini secara jelas." Ucap lagi Jinyoung. Pria itu masih mencoba untuk membawa Sohyun kerumahnya untuk bertemu dengan ayahnya.


Sohyun terlihat sedang berpikir, memutuskan jawaban yang tepat. Ini adalah kesempatan yang langkah baginya, bertemu dengan orang yang super sibuk itu adalah sebuah keajaiban dunia. Jika Sohyun menolaknya hari ini, maka tidak ada lagi kesempatan baginya untuk bertemu dengan presdir Bae.


"Baiklah, tapi aku harus bertemu dengan sahabatku terlebih dahulu."


"Sahabat?"


Sohyun menganggukkan kepalanya cepat. "Hari ini dia ulang tahun dan aku sudah berjanji akan menemuinya setelah ini."


"Kau tidak makan malam bersama sahabatmu itu kan? Ayahku ingin kita makan malam bersama."


"Hah?"


"Ayahku ingin menemuimu dirumah, ini adalah undangan makan malam padamu. Apa anda tidak mengerti? Dengan keadaan seperti itu."


"Ah,, ne. mian. Ini pertama kaliku di undang makan malam oleh orang tersibuk seperti Presdir Bae."


Pria itu tertawa pelan. "Jadi?"


"Kita bertemu jam lima sore di depan kantor Key Company, bagaimana?!" usul Sohyun. Jika hari ini ia tidak ada janji dengan Saerom, maka ia tidak akan membuat hal ini menjadi sangat merepotkan.


Hari ini Saerom tidak berulang tahun, dia berbohong untuk hal itu. sebetulnya ia sudah berjanji kepada sahabatnya itu untuk makan siang di kedai baru depan kantor Key Company.


Jinyoung mengangguk, menandakan ia setuju atas permintaan Sohyun. "Baiklah, aku akan menjemputmu di depan gedung Key."


Sohyun ikut tersenyum, ia kemudian merapikan semua berkas yang tercecer diatas meja dan memasukkannya di dalam tas ranselnya itu. setelah dirasa tidak ada barangnya yang tertinggal, Sohyun bangun dari duduknya, dan diikuti oleh Jinyoung.


"Kalau begitu saya permisi dulu Direktur Bae."


Jinyoung menganggukkan kepalanya, kemudian mengulurkan tangannya. Sohyun menurunkan pandangannya mengamati tangan pria itu yang indah.


Sohyun tersenyum dan membalas jabatan tangan Jinyoung.


Hangat.


Tangan pria itu sangat hangat untuk diruangan yang telah diberi pendingin tersebut. Sohyun mengerutkan keningnya, ia pernah merasakan kehangatan ini. kehangatan yang pernah ia rasakan satu tahun yang lalu.


Pria itu tersenyum lebar, sehingga menimbulkan kerutan di matanya. Sangat tampan. Dan jangan lupakan eyes smilenya yang membuat jantung Sohyun berdebar dengan cepat.


"Sampai jumpa jam 5 sore nanti Kim Sohyun-ssi." Suara berat itu. Ia merasa pernah mendengar suara itu.


Sohyun masih diam, ia masih sibuk dengan pikirannya yang membayangkan hal-hl yang dirasakannya sekarang. Jinyoung mengangkat sebelah alisnya, memandang Sohyun dengan pandangan bingung.


Kini terjadilah adu saling menatap. Manik hitam Sohyun yang tanpa sadar menatap manik hitam milik Jinyoung, tatapan pria itu sangat tajam dan menusuk ke hulu hatinya. Menimbulkan efek ribuan kupu-kupu berterbangan memenuhi perutnya.


Hanya tatapan pria itu, bukan hal lainnya. Sohyun merasa bisa gila sekarang jika harus berlama-lama menatap mata hitam Jinyoung.


.


.


"Kau sudah lama?" Tanya Sohyun sesaat ia menarik kursi kayu itu kemudian duduk dengan tenang.


Saerom menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku baru datang sekitar lima menit yang lalu." Ucapnya tanpa memperhatikan Sohyun yang mulai membuka mantel coklatnya. "Kyak, bagaimana kau sudah bisa menggaet aktris SHB Enterteiment?" Tanya Saerom antusias.


"Tidak, aku belum bertemu dengan presdir Bae."


"Heol, jadi sedari tadi siapa yang kau temui?"


"Direktur Bae Jinyoung, kau tahu pria berwajah kecil yang menghiasi seluruh majalah dan Koran?"


Secara spontan Saerom membekap mulutnya terkejut. Sohyun bertemu dengan Jinyoung?, benarkah yang didengarnya itu. "Lalu apa yang terjadi pada kalian berdua? Apa ada sesuatu?"


Pipi Sohyun memerah, pertanyaan itu sangat memalukan baginya. Mereka hanya bertemu satu jam, bagaimana mungkin ada sesuatu yang mereka lakukan.


"Aishh, apa yang kau katakan! Kami hanya membahas pekerjaan." Sohyun menepuk lengan Saerom dengan gemas.


"Ohhhoo pipimu memerah, kau menyukainya?"


Pipi Sohyun semakin memerah. Sahabatnya itu tahu cara untuk membuatnya terlihat sangat malu.


"Kyak hentikan!!"


Saerom tertawa puas melihat ekspresi sahabatnya itu. Sohyun merasakan pipinya terasa sangat terbakar karna malu, ia sebenarnya tidak yakin dengan perasaannya. Apakah dia menyukai pria berwajah kecil itu? jika ia, maka Sohyun harus segera masuk kerumah sakit jiwa karna sudah gila mencintai pria yang dikelilingi oleh banyak wanita cantik dari kelas atas.


Suara tawa Saerom mereda saat waiters datang membawakan pesanannya. Dua sandwiches ukuran sedang, satu Flavoured Soda dan mocktail.


Setelah pesanannya di letakkan waiters melangkah menjauh, memberi ruang Sohyun dan Saerom untuk mengobrol.


"Lalu apa yang kalian bicarakan saat bertemu?"


Sohyun yang sedang membuka mulut hendak memasukkan sendwiches kedalam kerongkongannya harus terhenti mendengar pertanyaan sahabatnya itu. "Yah hanya berbicara tentang pekerjaan, aku menjelaskan bagaimana jalan cerita Wolf Gray"


"Lalu?" wanita itu kembali bertanya saat Sohyun ingin melanjutkan kegiatannya.


Sohyun menatap sahabatnya itu jengah. Ia ingin makan, tapi Saerom menghujaminya dengan pertanyaan. Sohyun meletakkan sendwiches-nya diatas meja dengan malas. "Kau menghilangkan selera makanku Lee Saerom."


Saerom terkekeh pelan mendengar perkataan sahabatnya itu sampai makanan yang ada didalam mulutnya keluar secara perlahan. "Mianhe, aku sangat penasaran dengan apa yang kalian lakukan selama satu jam." Sohyun memberikan tissue kepada Saerom agar membersihkan mulutnya.


"Kau sangat penasaran dengan hal itu?"


Sahabat mengangguk. "Ayo lanjutkan."


"Uhmm, setelah aku menjelaskan tentang Wolf Gray. Dia sepertinya tidak tertarik dengan ending Wolf Gray." Ucapnya sambil memajukan bibirnya dengan imut. "Dia lebih suka dengan happy ending."


"Bukankah lebih baik jika Wolf Gray Sad ending, sang kekasih mati dan Wolf Gray tetap hidup dan menjalani kehidupannya. Jika Wolf Gray berakhir bahagia, aku sepertinya kurang setuju. Terlihat sangat membosankan untuk kasus film bergenre action dan misterius seperti Wolf Gray"


Sohyun menganggunkkan kepalanya. "Aku juga sependapat seperti itu." ia menganggukkan kepalanya perlahan, jemarinya bergerak menyentuh moktailnya dan menyirupnya secara perlahan untuk mengilangkan sedikit dahaganya.


"Tapi itu hanya pendapatnya. Semua keputusannya hanya ditangan presdir Bae."


"Benar, saat ini presdir Bae masih berkuasa atas hal ini. Lalu kapan kau akan bertemu lagi dengan presdir Bae.?"


"Nanti malam, dirumahnya."


"What?" Saerom menatap Sohyun dengan mata yang nyaris copot dari tempatnya. Itu adalah sesuatu yang tidak terduga. Seseorang tersibuk kedua setelah presiden itu mengundang Sohyun datang kerumahnya hanya untuk bertemu dengannya. Membicarakan kerja sama mereka. Apa Saerom tidak salah mendengar sekarang?


Saeom menatap Sohyun lekat, ia butuh kejelasan lebih.


"Kau serius?"

__ADS_1


Sohyun hanya menganggukan kepalanya perlahan. "Dan nanti jam 5 sore Bae Jinyoung akan menjemputku didepan kantor."


"Heol daebak, bahkan pria itu menjemputmu." Saerom menggelengkan kepalanya pelan. "Kim Sohyun kau menang jacpot. Ini terlihat seolah kau bertemu dengan calon mertuamu."


"Yak jangan berbicara macam-macam. Sudahlah, aku mau pulang dan bersiap-siap. Ini sudah jam empat dan tidak ada waktu untuk berlama-lama."


Sohyun berdiri dari duduknya. Tidak lupa ia membawa sendwiches yang belum tersentuh itu bersamanya meninggalkan Saerom. Sang sahabat yang tidak mau ditinggal pun segera bangun dari duduknya dan berlari mengerjar Sohyun yang sudah berada didepan pintu.


Bugh


"Aww!!" Saerom menyentuh kepalanya yang berdenyut sakit saat tubuhnya tanpa sengaja menabrak punggun Sohyun.


Saerom hendak marah kepada sahabatnya itu yang tiba-tiba menghentikan langkahnya. Harus terurung saat manik hazel Saerom menagkap Audi A5 Cambriolet terparkir tepat dihadapan mereka. Bukan hanya karna mobil mewah itu yang terparkir dihadapannya, namun si pengemudi itu yang membuatnya terngaga sekarang.


Sama halnya seperti Saerom yang terkejut melihat sosok pengemudi mobil tersebut. Sohyun tidak dapat mempercayai jika Jinyoung duduk di dalam mobilnya dengan pandangan yang tertuju kepadanya.


Jinyoung kemudian turun dari mobil mewahnya dan melangkah mendekati Sohyun yang mematung di depan pintu Subway.


"Kim Sohyun-ssi." Sapa Jinyoung sesaat ia berdiri tepat dihadapan Sohyun. Wanita itu masih mematung. Ia masih tidak mempercayai keberadaan Jinyoung dihadapannya itu.


Saerom yang masih bertahan pada posisinya hanya bisa mengintip pesona Jinyoung dari punggung sahabatnya itu. Jinyoung yang menyadari kehadiran Saerom pun langsung tersenyum dan menyapa wanita berambut pendek itu.


"Annyeonghaseo."


"Ah ye, annyeonghaseo."


"Direktur Bae, ada apa datang kemari?" mendengar pertanyaan Sohyun, Jinyoung segera mengalihkan tatapannya kepada wanita berpipi gembil itu.


"Menjemputmu.


Jawaban Jinyoung sontak membuat Sohyun tercengang. Ia menatap pria berwajah kecil itu tanpa bisa berkata-kata.


Ayolah, ini masih jam empat sore, masih ada satu jam lagi sebelum mereka bertemu. Dan Sohyun membutuhkan persiapan sebelum mereka bertemu. Lihat saja pakaiannya. Ia masih mengenakan baju yang sama dua jam yang lalu.


"Bukankah kita akan bertemu jam 5 sore, direktur Bae?"


"Lebih cepat bukankah lebih baik." Ia tersenyum lebar, dan sekali lagi menampilkan kerutan di matanya. Terlihat sangat menggemaskan.


"Tapi aku-"


"Kita bisa kebutik terlebih dahulu. Aku akan mengantar."


Tidak, Sohyun tidak ingin pergi kebutik hanya untuk membelanjakan uangnya membeli beberapa pakaiaan.


Sohyun telah memiliki tumpukan baju bagus di lemarinya. Dan itu masih bisa digunakannya.


"Bisa aku membawa Kim Sohyun sekarang?" Tanya Jinyoung pada Saerom yang menjadi penonton diantara dirinya dan Sohyun.


Sohyun memutar kepalanya menatap Saerom dengan pandangan mengisyaratkan agar tidak memberikan dirinya pada pria itu.


Saerom tersenyum lebar. Sepertinya ia tidak ingin mengikuti perintah sahabatnya kali ini.


"Boleh."


"Kamsahamnida." Sekali lagi Jinyoung tersenyum. "Kim Sohyun-ssi, mari! Kita tidak memiliki waktu yang lama." Jinyoung menggeser badannya memberi ruang Sohyun untuk berjalan terlebih dahulu menuju mobilnya.


Sohyun masih terdiam ditempatnya, memandangi wajah kecil Jinyoung. Ia ingin sekali menolak tawaran pria itu, dan memilih waktu yang telah disepakati tadi.


Tapi, pria dihadapan Sohyun terlalu memaksanya untuk segera berangkat. Bahkan dia dengan suka rela menemani Sohyun kebutik untuk membeli baju.


Pria itu masih tersenyum. Membentuk kerutan di matanya sehingga terlihat sangat menggemaskan.


"Aku tidak ingin kebutik. Pakaianku masih banyak di lemari." ucap Sohyun dengan wajah datarnya.


Bukannya marah atau apalah. Pria bersurai madu itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan. "Kalau begitu aku akan mengantarmu kerumahmu."


Jinyoung meraih lengan Sohyun dan membawanya masuk kedalam mobil mewahnya. Ia tidak ingin lagi mendengar berbagai alasan Sohyun menolak untuk segera berangkat kerumahnya dan bertemu ayahnya.


Sementara wanita itu hanya diam, seolah menurut saja saat pria itu memintanya masuk kedalam mobil.


Setelah ia masuk kedalam mobil mewah Jinyoung. pria itu kemudian mengitari mobilnya dan masuk dari pintu sebelah. Tepat pintu kemudi. Sohyun terus mengamati pria itu, dan anehnya pria itu seperti candu baginya.


oOo


Jinyoung berdiri mengamati setiap desain apartemen Sohyun. Wanita itu memiliki cara yang terbilang simple menata rumahnya. Dinding apartemennya kontras dengan warna putih, dinding-dindingnya terbuat dari kaca, beberapa barang ditata serapi mungkin. Dari yang bentuk yang kecil dengan bentuk yang besar.


Pria bersurai madu itu menengok kesebelah kiri yang terdapat dapur yang berhubungan langsung dengan meja makan terlihat sangat bersih dan rapih. Kemudian ia menengok kesebelah kanannya, dimana itu adalah kamar wanita bersurai coklat emas.


"Anda mau minum apa?" Tanya Sohyun sesaat meletakkan tasnya diatas meja. Jinyoung tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Hanya air putih saja."


"Tidak mau yang lain? semacam kopi?"


Kali ini Jinyoung menggelengkan kepalanya. "Kopi tidak baik untuk kesehatanku."


Sohyun mengangguk, ia melangkahkan kakinya munuju kulkas sivernya. Ia mengeluarkan minuman dinginnya setelah itu berlari dapurnya mengambil sesuatu lemari dapurnya.


"Kau tinggal sendiri?" Tanya Jinyoung yang masih mengamati sekitarnya.


"Ummm... Iya."


Sohyun menggelengkan kepalanya. Apa yang harus ditakutkan jika pengamanan di apartemen ini sangat ketat. Tidak aka nada yang berani mengganggunya disini.


Wanita bersurai coklat emas itu meletakkan minuman dingin dan sekotak kue kering diatas meja. "Apa ini sudah cukup untuk membuat anda menunggu? Aku tidak akan lama." Sohyun menurunkan pandangannya menatap wajah kecil Jinyoung yang berada dihadapannya.


Pria itu mengangkat wajahnya, memandangi wajah indah Sohyun dari sudut seperti ini. dimana wanita itu jauh lebih tinggi darinya. Rambutnya yang dibiarkan terurai terlihat sangat indah saat berjatuhan, menutup sebagian pipi Sohyun yang gembil.


Sohyun mengangkat kedua alisnya. pria itu masih bertahan menatapnya, manik hitamnya menyapu seluruh wajahnya, dan membuat sang empunya merasa malu dan memanas.


"Bae Jinyoung-ssi?" Pria itu hanya menutup matanya tiga detik. "Aku harus siap-siap, apa makanan seperti ini sudah cukup?"


Jinyoung mengalihkan pandangannya mengamati minuman dan sekaleng kue kering yang entah sejak kapan sudah berada di hadapannya. Oh ayolah Bae Jinyoung, kau terlalu focus memandangi wajah Kim Sohyun.


"Ya, ini sudah cukup."


"Kalau begitu, aku akan bersiap-siap." Ucap Sohyun kemudian berjalan meninggalkan Jinyoung. Pria itu masih memandangi punggung Sohyun yang perlahan menjauh darinya, sampai punggung itu hilang dibalik pintu coklat yang tingginya sekitar 2 meter.


Brak


Jinyoung tersenyum miring dengan khasnya.


.


.


Sohyun menyandarkan punggungnya di pintu kayunya itu. Tangan kanannya bergerak *** ujung bajunya kuat-kuat. Sementara tangan kirinya yang bebas, bergerak menyentuh kulit pipinya.


Ia yakin saat ini pipinya sudah merah seperti tomat matang. Rasanya sangat panas, sampai hatinya. Jinyoung menatapnya seintes itu, membuatnya kikuk dan merasa sangat aneh.


"Uhh, kenapa dia menatapku seperti itu?" Tanya Sohyun menjauhkan dirinya dari pintu kayunya. Ia sedang berbicara sendiri kah?. Ia membalikkan badannya menatap pintu coklatnya itu. "Dia bisa saja membuatku jatuh cinta hanya karna melihat matanya." Ucapnya lagi.


Sohyun menggelengkan kepalanya pelan, dan meninggalkan tempatnya. ia berjalan mendekati lemari berwarna putihnya. membukanya dengan lebar-lebar sehingga memperlihatkan deretan beberapa gantung gaun disana.


Sohyun terdiam dengan tangannya menyentuh dagunya sendiri. Ia terlihat berpikir akan menggunnakan baju yang mana.


Tanganya kemudian bergerak meraih beberapa mini dress yang berbeda-beda. Ada yang berlengan panjang dan pendek, dan beberapa warna yang berbeda. Dengan perlakukaan yang lembut, Sohyun meletakkan mini dreesnya diatas king Size nya. Mata bulatnya kembali bereaksi memperhatikan setiap mini dress yang ia ambil.


"Haruskah aku menggunakan ini?" untuk yang pertama Sohyun mengambil baju berwarna coklat berlengan panjang, bagian bawahnya lebar dan selututnya. Sangat imut untuk dirinya yang mungil.


"Sepertinya tidak." Sohyun menggelengkan kepalanya saat ia memperhatikan pantulan tubuhnya di cermin saat ia mencocokkan mini dress coklatnya pada ditubuhnya. Ia membuangnya dilantai, dan membalikkan badannya mengamati beberapa pakaiaan yang masih ada di atas King Size nya. Tanganya kembali bertugas meraih mini dress berwarna pink dengan motif bunga-bunga. Bawahannya masih sama, melebar seperti payung.


"Uhh,, ini bukan acara liburan. Baju seperti ini tidak cocok untuk acara makan malam." Ucapnya lagi sambil membuang pakaiannya di lantai.


Sekarang hanya ada dressnya yang ada diatas ranjangnya. Ada yang berwarna merah, berlengan hingga sikut namun panjang hanya sampai di atas pahanya. Kemudian ada yang berwarna hitam, dress berwana peach dengan panjang dibawah lutut, bentuknya mengikuti lekukan tubuh.


Sohyun menggelengkan kepalanya. Kenapa ia memiliki pakaiaan seperti ini dilemarinya. Yang ia tahu, selama ini ia tidak pernah membeli pakaian yang membuatnya tidak nyaman. Apalagi membuatnya menjadi pusat perhatian orang lain.


.


.


Jinyoung bangun dari duduknya. Ini sudah 30 menit Sohyun masuk kedalam kamarnya untuk mempersiapkan dirinya untuk menjadi cantik malam ini. ia berjalan menuju teras pada apartemen Sohyun, disana ada ayunan gantung. Bentuknya menyerupai kacang almond, imut, menggemaskan dengan sentuhan warna pink.


Ahh menggemaskan, Jinyoung jadi teringat dengan Sohyun yang sangat menggemaskan dimatanya.


Jinyoung menghela nafasnya panjang dan mengangkat pandangannya pada langit yang mulai menghitam. Terlihat akan turun hujan salju sebentar lagi.


"Jinyoung-ssi!" Jinyoung membalikkan badannya dengan cepat saat suara yang indah itu memanggil namanya.


Pria bersurai madu itu terdiam mengamati penampilan Sohyun dari atas sampai bawah. Tubuhnya yang mungil itu baluti dengan kemeja putih yang dibaluti dengan coat coklat sepanjang pinggang dengan celana panjang hitam. Rambutnya yang panjang dikuncir kuda sehingga menampilkan leher jenjangnya, dan jangan lupa poni tipisnya yang menutupi keningnya.


Wajah Sohyun semakin cantik dengan polesan riasan tipis. Bibirnya semakin menggoda dengan sentuhan lipstick warna merah. Matanya yang berbinar seperti rembulan dimalam hari... ohh mengapa ada manusia secantik dia.


Sungguh cantik.


Jinyoung kembali tersenyum miring. Ia melangkah semakin dekat, membuat Sohyun menjadi kaku seketika. Tubuhnya seperti ranting pohon yang kering. Sehingga saat bergerak menimbulkan suara yang memalukan.


Pria itu berdiri dihadapan Sohyun. Masih dengan senyuman yang mematikannya. Sohyun *** ujung bajunya, jantungnya kembali berdegub dengan cepat, seolah jantungnya ingin lepas dari tempatnya.


Sohyun tidak mengerti mengapa Jinyoung selalu menatapnya dengan seintens ini. tidak bisakah dia menatapnya dengan pandangan biasa saja, dan tidak membuat jantungnya berdetak dengan cepat.


"Cantik."


Sohyun membelalakkan matanya. Pernyataan pria itu membuat jantungnya semakin berdetak cepat. Dan pipinya, Sohyun merasa ada hawa panas dipipinya itu.


Jinyoung tersenyum mengamati perubahan raut wajah Sohyun. Pipi wanita itu semakin memerah seperti kepiting rebus. Dan Jinyoung tahu apa yang membuat pipi wanita iu merona.


"Ayo, perjalanan kita masih jauh." Ucap Jinyoung mengulurkan tangannya dan berharap agar wanita itu meraih uluran tangannya.


Sohyun menundukkan pandangannya dan diamati jemari Jinyoung yang cantik. Sangat cantik sampai membuatnya cemburu. Sohyun mengangkat tangannya dan menerima uluran tangan pria bersurai madu itu.


.


.

__ADS_1


Disinilah Sohyun. Mansion megah milik presdir Bae. Bangunan itu terlihat seperti dalam dongeng. Beberapa barang-barang mahal terpampang sepanjang jalan masuk keruang utama, lalu lampu ruangan itu terlihat sangat indah, dan pastinya sangat mahal. Untuk satu episode saja tidak akan cukup untuk Sohyun membeli barang semegah itu.


"Selamat datang Kim Sohyun-ssi" sapa seorang pria jangkung dengan setelan kemeja putih yang pas untuk tubuhnya yang tegap. Sohyun menengok, mengamati sosok pria tampan dihadapannya.


Pria itu tidak terlihat menua meski umurnya semakin dimakan oleh waktu. Rambutnya tidak ada yang berwarna putih seperti kebanyakan orang tua yang telah memiliki seorang putra yang berumur 27 tahun, dan kulitnya masih terlihat kencang dan bersinar. Oh astaga, semakin dilihat pria ini, ia seperti saudara kembar putranya.


"Ini pertama kalinya kita bertemu bukan??" Presdir Bae mengulurkan tangannya. Sohyun mengangguk dan membalas jabatan tangan pria itu. "Bae Sehun."


Sohyun mengangguk pelan dan tersenyum lebar.


"Bagaimana kalau kita makan malam dulu sebelum membicarakan masalah pekerjaan?"


Sohyun terdiam. Ia memalingkan wajahnya menatap wajah Jinyoung yang datar. Pria itu hanya diam memperhatikannya yang terus melemparkan sebuah senyuman kepada Sehun.


"Bagaimana Kim Sohyun-ssi?"


Sohyun kembali menatap Sehun. Pria itu masih menunggu jawabannya.


"Tenang, makanan disini semuanya aman. Manusia juga bisa memakannya."


Sohyun tersenyum kecil. Perkataan Sehun terlihat seolah ia tidak yakin dengan makanan yang dimasakan oleh beberapa chef di mansion ini.


"Mari, tunggu apa lagi?" Sehun mendekat dan merangkul pundak Sohyun. Membawanya melangkah bersamanya dan meninggalkan Jinyoung yang masih membatu ketika melihat sang ayah yang menyentuh pundak Sohyun-nya.


Entah Sohyun harus menyebut pria ini tua atau muda. Sehun sama sekali tidak terlihat tua, sehingga rasanya sangat aneh jika ia menyebut Sehun sebagai pria tua. Namun jika dilihat dari segi umurnya, pria itu lebih tidak pantas di sebut dengan pria muda. Heii pria itu umurnya sudah menginjak 47 tahun.


Sehun menarik kursi dan mempersilahkan Sohyun duduk terlebih dahulu. Dengan gerakan cangung, Sohyun duduk diatas kursi coklat nan empuk itu dengan anggun. Sementara Jinyoung menarik kursinya dengan kasar dan duduk tepat dihadapan Sohyun.


Pria bersurai madu itu terlihat kesal kepada ayahnya yang memperlakukan Sohyun seolah ratu di mansion ini.


Setelah melihat Sohyun sudah duduk dikursinya, Sehun kemudian bergerak dan menarik kursinya. Kursi sang kepala keluarga. Atau bisa dibilang kursi sang Raja.


"Kim Sohyun-ssi. Makanlah yang banyak dan jangan khawatir, kami tidak menaruh racun di makanan itu." ucap pria itu sambil tersenyum ramah kepada Sohyun.


Sohyun mengangguk. Pria bersurai hitam itu ternyata selera humor yang cukup untuk usianya yang menginjak 47 tahun. Sohyun tidak menyangka jika Sehun akan seramah ini kepadaya, padahal saat perjalanan Sohyun mencari bahan pembicaraan agar ia tidak terlihat cangung di hadapan presdir SHB Enterteiment.


.


Acara makan berjalan dengan hening. Hanya terngengar suara dentingan piring dan sendok dalam ruangan tersebut. Tidak ada lagi yang keluar dari mulut mereka setelah sesuap makanan masuk kedalam kerongkongan.


Sementara mereka sibuk memasukkan sesuap makanan mewah kedalam mulut. Rupanya ada seseorang yang terus mengamati Sohyun. Siapa lagi jika bukan Bae Jinyoung. Pria itu tidak pernah berhenti mengamati Sohyun yang tengah sibuk dengan hidangannya.


Sesekali Jinyoung mencoba menyembunyikan senyumnya ketika melihat Sohyun mendapati tomat berada dalam piringnya. Sohyun mengangkat kepalanya menghadap Jinyoung dengan tiba-tiba. Membuat pria yang sedari tadi menatapnya tidak memiliki waktu yang cepat untuk mengalihkan pandangannya.


Sepasang mata mereka kembali bertemu, saling melempar pandang satu sama lain. menyalurkan berbagai perasaan melalui tatapan itu.


Sehun yang menjadi penonton dari kedua insan ini, hanya bisa terkekeh geli. Jinyoung yang sekarang hanya bisa menatap Sohyun dengan wajah datarnya sedangkan Sohyun yang menatap pria bersurai madu itu dengan pandangan penuh dengan pertanyaan. Contohnya kenapa kau menatapku.


"Kim Sohyun-ssi." Panggil Sehun. Pria itu sengaja membuka suara agar kedua insan itu berhenti saling melempar pandang.


Sohyun menengok dan menatap Sehun dengan bingung.


"Aku sudah mendengar jalan cerita Wolf Grey. Menurutku itu lumayan, meski endingnya sedikit mengecewakan."


Sohyun mencoba untuk tersenyum senatural mungkin. Sehun sama saja seperti putranya yang tidak menyukai ending dari Wolf Gray. Mengapa kedua orang ini sangat menyukai happy ending? Lantas bagaimana dengan kalian?


"Tapi," ucap Sehun menggantung. Membuat Jinyoung dan Sohyun menoleh kearahnya. "Tapi, tidak ada salahnya mencoba."


"Abeoji." Sehun menoleh kearah putranya. Jinyoung menatapnya dengan pandangan tidak setuju.


Jinyoung bukannya tidak suka, mereka mengambil kerja sama. Hanya saja, ayahnya setuju jika Wolf Gray berakhir dengan sad ending. Oh ayolah, biarkan Wolf Gray happy ending seperti dikehidupan nyatanya.


"Ada apa Jinyoung-a?"


Pria bersurai madu itu hendak membuka mulutnya untuk berbicara. Tapi saat manik hitamnya menatap wajah Sohyun yang bahagia mendengar SHB Enterteiment akan bekerja sama, membuatnya mengurungkan niatnya untuk berkata.


Jinyoung menggelengkan kepalanya dan menunduk. Bagaimana pun, ini adalah karya Kim Sohyun. Wanita itu sudah menentukan ending dari film Wolf Grey. Sad ending.


Kuharap ini tidak terjadi didunia nyata.


"Sohyun-ssi, apa kau membawa surat kontrak kerja samanya?" Tanya Sehun menatap Sohyun. Wanita itu menganggukkan kepalanya.


"Aku menyimpannya diadalam tas."


"Good. Ah ya, dari artis kami siapa yang kau inginkan memerankan karakter Seo Hyunji?"


"Jeon Somi."


Uhukkk


Jinyoung memuncratkan sedikit air dari dalam mulutnya. Jinyoung merasa pendengarnya sedikit bermasalah saat ini.


"Kyak, kau ingin Somi memerankan karakter Hyunji?"


Sohyun menganggukkan kepalanya. "Seo Hyunji adalah gadis polos namun pemberani, dan karakter itu cocok untuk dirperankan oleh Jeon Somi."


"Kenapa bukan yang lain? Kami memiliki beberapa artis yang sangat cocok untuk memerankan karakter Hyunji. Ada Song Hyekyo, Go Hyesun, dan Go Ara. Kau bisa memilih bintang papan atas itu dari pada harus memilih Somi untuk memerankan karaktermu."


"Ini bukan masalah dia bintang terkenal atau bukan. Hanya saja, karakter Seo Hyunji cocok untuk Somi. Anda pikir berapa umur Seo Hyunji dalam film Wolf Grey? 30 tahun? 40 atau 50 tahun?" Tanya Sohyun menatap tajam Jinyoung. Pria itu entah mengapa sejak awal terus memperdebatkan Wolf Gray. Mulai dari endingnya dan serkarang dengan lead femelenya.


"Seo Hyunji disini digambarkan gadis berumur 21 tahun. Saya bukannya bagaimana meminta artis senior memerankan karakter muda. Ini jelas tidak akan cocok untuk Song Hyekyo, Go Hyesun dan Go Ara. Bisakah mereka memerankan gadis polos umur 21 tahun?"


Jinyoung diam, mematung. Ia tidak mampu berdebat lagi dengan Sohyun.


Wanita itu meluapkan semua yang ada didalam kepala kecilnya itu. perkataan Sohyun memang ada benarnya. Karakter Seo Hyunji ini sangat polos, tidak mungkin ia meminta artis senior seperti yang ia sebutkan itu menjadi Hyunji.


Tapi, membuat Somi memerankan karakter Hyunji dalam Wolf Grey. Jinyoung tidak suka. Pria itu tidak ingin karakter wanitanya ditiru oleh serigala liar seperti Somi.


"Lalu siapa lead male dan beberapa cast pendukung?"


"Kami masih dalam tahap diskusi." Sehun menganggukkan kepalanya mengerti. Mengaet artis untuk membintangi film itu tidak mudah. Apalagi jika artis besar yang turut ikut dalam penggarapan film. Jadi Sohyun tidak bisa menyebutkan artis yang berpartisipasi dalam filmnya nanti sebelum semuanya benar-benar nyata membintangi Wolf Grey.


Dreeedddd... dreeeeddd


Jinyoung dan Sohyun saling melempar pandang ketika mendengar suara ponsel. Itu bukan berasal dari ponsel mereka, melainkan ponsel sang raja. Sehun merogoh saku celanya dan mengeluarkan benda kecil.


"Ini penting aku harus mengangkatnya." Ucap Sehun kepada kedua insan yang masih melempar pandang satu sama lain.


Keduanya menoleh seperti meerkat. Sekali lagi Sehun tersenyum sebelum akhirnya ia bangun dari singgasananya dan meninggalkan Jinyoung dan Sohyun.


"Bisakah kau tidak memilih Jeon Somi untuk memerankan karakter Hyunji? Jika dia yang membintangi Wolf Grey, maka itu akan menjadi produksi yang gagal."


"Kami masih memiliki beberapa artis muda jika kau mau? Ada Kim Yoojung dan IU yang bisa memerankan karakter Hyunji."


Jinyoung menatap Sohyun yang masih melempar pandang tajam kearahnya.


"Bukankah Yoojung sedang sibuk dengan pengobatannya? Lalu IU bukankah tengah sibuk dengan drama barunya? Anda terlalu menyibukkan mereka. Pekerjaan mereka belum selesai tapi anda meminta saya untuk memilih mereka membintangi Wolf Grey?"


"Aku tidak ingin cast yang membintangi Wolf Grey memiliki scedul yang berbentrokan. Itu akan membuat produksi Wolf Grey tidak bagus. Kami harus menunggu scedul artis itu, atau bahkan membatalkan syuting karna sang artis memiliki kesibukan yang lain."


"Jika mereka hanya fokus membintangi Wolf Grey. Itu akan berpengaruh pada hasil yang memuaskan. Ini memang hanyalah Film, tidak memakan waktu berlama-lama seperti membuat drama. Bahkan durasinya tidak sampai tiga jam. Setidaknya dalam durasi tiga jam itu kita bisa memuaskan penonton. Acting yang bagus, cerita yang menarik dan editing yang bagus."


Sohyun menghela nafasnya panjang. "Aku tahu, disini aku hanyalah seorang penulis scenario. Aku tidak berkuasa seperti anda dan presdir Bae untuk memutuskan hal ini. tapi ini naskahku, aku yang berhak memilih siapa yang tepat untuk menjadi lead cast dalam naskahku, dan akan dibawa kemana ending naskahku."


"Aku tidak masalah bagaimana tanggapan netizen ketika melihat ending dari Wolf Grey. Karna ini naskahku, aku yang menulisnya."


Sekali lagi pria bersurai madu itu hanya bisa diam memandangi dan mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Sohyun. Jinyoung merasa telah melukai hati Sohyun saat ini.


Ia telah beberapa kali menolak permintaan Sohyun. Mulai dari ending dan lead cast. Dan semua dimulai dari Wolf Grey.


Seharusnya Jinyoung lebih menghargai keputusan Sohyun. Wolf Grey adalah karya wanita itu, dan semua tentang Wolf Grey pasti sudah dipikirkan matang-matang oleh Sohyun. Mulai dari jalan cerita, main cast dan ending.


Jinyoung memejamkan matanya tiga detik, kemudian menghela nafas panjang.


"Ehmm, Bae Jinyoung!" panggil Sehun. Pria itu mendekat.


Jinyoung memutuskan pandangannya dan menatap sang ayahnya yang kini berdiri disampingnya.


"Kita harus bicara sekarang!"


"Ada apa?"


Sehun tersenyum melirik Sohyun yang masih menjadi penonton. Jinyoung sepertinya mengerti maksud ayahnya. Ini adalah hal serius, dan mungkin Sohyun terlibat dalam pembicaraan ini.


"Kim Sohyun-ssi, bisa kami tinggal sebentar? Lanjutkan lah makannya." Sohyun menggelengkan kepalanya. Ia bangun dari kursinya.


"Tidak, sepertinya aku harus pulang."


"Bagaimana dengan kontraknya?" tanya Jinyoung.


"Sepertinya kita tidak perlu bekerja sama. Kupikir Wolf Grey bukanlah tipe untuk SHB. Terimakasih makan malamnya." Sohyun menunduk dengan sopan. Ia hendak melangkah pergi, namun dengan sigap Sehun menahan tangan wanita itu.


"Bermalamlah disini dulu. Ini sudah malam dan kita tidak berada di tengah kota. Kau sudah liat kan seberapa jauh perjalanmu ke mansion ini."


Sohyun terdiam. Benar, mansion ini tidak terletak ditengah kota. Tapi terletak di pinggiran kota. Bahkan bisa dibilang memasuki tempat yang jauh dari keramaian. Seperti hutan contohnya.


"Bermalamlah, dan kita bicarakan lagi mengenai Wolf Grey." pinta Sehun sekali lagi.


Sepasang mata Sohyun kembali memandangi wajah Jinyoung. Dan anehnya pria itu hanya memasang wajah datar.


Sohyun menghela nafas dalam. Tidak ada yang ia dapatkan ketika memandang wajah kecil itu. Tapi anehnya, Sohyun selalu memandang kearah Jinyoung dan seolah meminta bantuan pria itu.


"Baiklah."


Sehun tersenyum, "Kalau begitu, berkelilinglah dimansion ini. Jika kau bosan kau bisa menyetel televisi atau membaca buku. Kau bisa meminta beberapa pelayan untuk menunjukkan perpustakaan."


Sohyun mengangguk dan tersenyum.


"Kalau begitu kami tinggal dulu. Bersenang-senanglah Kim Sohyun-ssi." ucap Sehun sekali lagi, sebelum akhirnya ia memutuskan meninggalkan Sohyun di meja makan, dan pergi bersama sang putra yang mengikutknya dibelakang.


Sohyun menghela nafas panjang sasaat kedua pria itu menghilang dari pandangannya. Jika bukan karna permintaan Presdir Bae, ia tidak ingin berlama-lama tinggal disini.


Bertemu dengan Jinyoung membuat kepalanya pusing. Pria itu, aahhh Sohyun membencinya.


Benarkah?? Benarkah kau membenci Bae Jinyoung?

__ADS_1


🍁🍁🍁


See you next chapter 😙😙😙


__ADS_2