Wolf Grey : A Girl Meets Werewolf

Wolf Grey : A Girl Meets Werewolf
Bab 2


__ADS_3

A Written By shihanssi


Main Cast :


•Bae Jinyoung


•Kim Sohyun


o)(o


Perlahan-lahan, kelopak mata lelah itu terangkat dan berusaha membiasakan dengan cahaya yang masuk. Dikerjap-kerjapkannya beberapa kali membuat pandangannya semakin normal.


Aroma obat-obatan perama kali masuk ke indra penciumannya, kemudian matanya yang bergerak mengamati dinding berwarna putih kontras itu. Sohyun tahu dimana dia sekarang, tentu saja rumah sakit. Dan untuk menyakinkan jika ia berada dirumah sakit adalah tanganya sudah terpasang lengkap infus dipunggung tangannya.


"Dia hanya shock, tidak lama lagi dia akan segera sadar." ucap seorang pria bersuara berat.


"Ahh syukurlah, dokter yakin dia tidak kenapa-kenapa? Dia mengalami kecelakaan." itu suara yang tidak asing lagi bagi Sohyun. Wanita berambut coklat emas itu hanya menghela nafas panjang.


Benar, malam itu ia kecelakaan, tepatnya ditabrak dengan mobil berwarna navy. Tapi melihat keadaaannya sekarang yang terlihat baik-baik saja, tidak bisa dikatakan korban tabrakan.


Tubuhnya nyaris tidak terluka, bahkan goresan kecil saja tidak terdapat didalam tubuh mungilnya itu.


Apakah itu hanya ilusinya?


Sohyun kembali menghela nafasnya panjang, dan suara nafasnya itu sampai ditelinga dua orang yang sedang berbicara mengenai kondisisnya.


Sreek


Tirai penutup ruangannya terbuka dengan lebar. Menampilkan sosok Pria berjas putih dengan wanita berambut pendek sepundak yang menatapnya dengan cemas. 


"Kim Sohyun-ssi, anda sudah sadar?"


"Ah, ne." Ucap Sohyun gelagapan.


"Apa ada yang sakit??"


Sohyun terdiam cukup lama memikirkan tubuhnya yang sakit. Kemudian tangannya bergerak menyentuh dadanya.


"Disini terasa sesak."


Pria berjas putih itu mendekat, mengamati kondisi Sohyun saat ini. dikeluarkan stetoskop dari kantong jas putihnya. Dengan cekatan pria bersurai hitam itu mendekatkan stetoskop didada Sohyun dan ia mulai mendengar suara detakan jantung Sohyun.


Sohyun mengepalkan tangannya saat pria bersurai hitam itu mendengarkan suara detak jantungnya. Ingin rasanya Sohyun mengutuk detak jantung yang berdebar sangat cepat. Bagaimana bisa di saat seperti ini, jantungnya berdebar karna dokter itu memeriksanya.


Pria bersurai itu mengangkat ujung bibirnya, sehingga menampakkan gigi taringnya. Ia menjauh dan menggantung stetoskopnya di lehernya.


"Bagaimana?" tanya Saerom menengok dokter tampan yang masih memfokuskan pandangannya pada Sohyun.


Pria dihadapan Sohyun benar-benar sangat tampan, kulitnya yang sedikit coklat namun erotis sehingga mematahkan kulit orang korea pada umumnya yang berwarna putih, bola matanya yang hitam itu sangat dalam dan tajam. Saat seseorang menatap matanya, maka dia akan jatuh pada pesonanya. Wajahnya luar biasa tampan, dengan lingkaran hitam yang kecil di pipi bagian kiri membuatnya semakin mempesona. Pria itu terlihat seperti dewa dimata Sohyun. Dewa cinta maksudnya.


Pria itu memutuskan pandangannya, ketika ia harus menjawab pertanyaan wanita yang sedang berdiri di sampingnya menatap Sohyun dengan cemas. "Dia baik-baik saja."


"Tidak adakan yang harus dicemaskan?"

__ADS_1


"Sayang sekali, tidak ada. Cukup beberapa hari istirahat, kondisinya akan pulih." ucapnya dengan senyum yang terus mengembang pada bibir plumnya. Deretan giginya begitu rapih dan putih, kesan gigi taringnya semakin menambah nilai ketampanannya.


"Aku akan menuliskan beberapa resep obat. Nona Kim Sohyun anda harus meminumnya." ucapnya dengan suara dalamnya menatap Sohyun yang masih memandanginya dengan pandangan terpesoa.


"Ah, ne"


Pria itu kembali tersenyum, dan membuat jantung Sohyun semakin berdebar. Dan Tolong Sohyun saat ini, wanita itu tidak sanggup berlama-lama melihat pria itu tersenyum kepadanya.


senyumnya terlalu mematikan.


Pria itu mengganggukan kepalanya perlahan. "Kalau begitu saya permisi dulu." Ucapnya sambil menundukkan kepalanya sopan sebelum akhirnya ia meninggalkan Sohyun dan Saerom.


Sohyun terus mengamati kepergian pria itu, sampai pria itu menghilang di balik tirai.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Saerom mendekat. Sohyun mengalihkan pandangannya dan menatap sahabatnya itu yang terlihat sangat cemas dengan kondisinya saat ini.


"Tidak ada yang sakitkan?" Tanya Saerom mengamati setiap inci pada tubuh Sohyun.


Melihat sahabatnya seperti ini membuat Sohyun merasa gemas.


Saerom memang akan seperti ini pada dirinya. Karna bagi Saerom, Sohyun adalah segalanya. Bukan hanya sahabat tapi wanita itu telah mengganggap Sohyun sebagai keluarganya yang baru. Dan tentu saja Sohyun menganggap Saerom seperti itu juga.


Yah karna hanyalah Saerom yang ia miliki didunia ini.


Dia dan Saerom bertemu saat mereka duduk di bangku sekolah dasar. Disaat semua teman-temannya mengejeknya karna tidak memiliki ibu. Saat itu hanya Saerom yang menolongnya, melindunginya dari teman-temannya.


Sejak kecil Sohyun sudah hidup bersama ayah dan neneknya. Ia tidak pernah tahu siapa ibunya, bahkan sekedar tahu wajahnya saja tidak.


Kemudian saat ia umurnya 15 tahun, ayah dan neneknya meninggal akibat kebakaran rumah. Mereka berdua terperangkap dirumah, sehingga membuat mereka tidak bisa menyelamatkan diri saat api mulai membakar rumah itu. Rumah yang memiliki banyak kenangannya bersama nenek dan ayahnya.


Menjadi Kim Sohyun dengan pribadi yang kuat dan sukses seperti ini. Sekarang ia adalah seorang penulis skenario. Ia menjadi penulis drama yang bayarannya yah sebanding dengan penulis drama The Heirs.


"Apa kau mau makan sesuatu?" Sohyun menengok kearah sumber suara.


Suara Saerom membuyarkan lamunannya. Ia menatap sahabatnya itu tiga detik kemudian menggeleng pelan.


"Tidak, aku tidak lapar."


"Kau serius?"


Sohyun mengangguk dan tersenyum sangat lebar. Ia kemudian mengangkat tubuhnya untuk terduduk diatas bangsal. Melihat sahabatnya yang berusaha untuk duduk, Saerom dengan sigap membantunya.


"Gomawo." Sohyun tersenyum.


Saerom hanya diam, dan menarik kursi ke sisi bangsal. Tangannya bergerak meraih apel di atas nakas, kemudian mengupasnya.


"Makanlah ini, kau membutuhkan banyak nutrisi untuk memulihkan kondisimu" Saerom terus menatap apel  yang ada ditangannya itu.


Setelah dirasa bersih, Saerom menyuapkan apel tersebut kedalam mulut Sohyun. Wanita bersurai coklat emas itu tersenyum dan membuka mulutnya, menerima apel itu masuk kedalam mulutnya.


"Bagaimana hal itu terjadi?"


Sohyun mengangkat sebelah alisnya. Ia masih mengunyah apelnya dengan perlahan. Pertanyaan Saerom membuatnya menghentikan aktifitasnya dan menatap Saerom dengan bingung.

__ADS_1


"Maksudku kecelakaan itu, bagaimana hal itu terjadi padamu?" Saerom mengangkat wajahnya, memutuskan pandangannya pada buah apel yang sudah dipotong kecil-kecil.


Sohyun tersenyum, mengerti kemana arah bicara Sahabatnya itu. Dia menggelengkan kepalanya pelan, tangan kirinya yang bebas merebut buah apel dari tangan Saerom kemudian memasukkannya kedalam mulutnya.


"Tidak tahu. Mobil itu melaju dengan cepat kearahku. Dalam hitungan detik saja sudah membuat nyawa melayang. itu karna waktu yang diberikan sangat sedikit untuk menghindar."


"Kupikir malam itu aku sudah meninggal. Kau tahu?" tanya Sohyun menatap Saerom, membuat yang ditatap menggeleng. Tentu saja menggelengkan kepalanya. "Yang aku tahu orang yang ditabrak akan merasakan sakit yang luar biasa, tapi hari itu aku hanya merasakan sesuatu yang hangat dan nyaman."


"Disitulah kupikir aku sudah mati." Ucap Sohyun melanjutkan kegiatannya mengunyah apel didalam kerongkongannya. "Ah ya, bagaimana dengan pengemudi mobil yang nyaris menabrakku?"


Saerom menggelengkan kepalanya pelan. "Dia meninggal." ia mengangkat wajahnya menatap Sohyun. "Pria itu terjebak didalam mobil. Dan yang harus kau tahu, dia tidak memiliki identitas."


"Apa maksudmu?"


"Entahlah, polisi sudah mengecek semua tentang pengemudi itu. Tapi dia sama sekali tidak memiliki identitas."


Sohyun mengangguk perlahan. Ia sama sekali tidak mengerti hal itu. Pikirannya melayang entah kemana, entah apa yang berada didalam otaknya itu.


Ia terdiam cukup lama menikmati rasa manis didalam mulutnya. Sari apel itu benar-benar sangat manis, sangat manis sampai membuat Sohyun mengingat sesuatu.


"Hugo Boss Bottled."


Saerom mengangkat wajahnya saat ia kembali memfokuskan pandangannya untuk mengupas apel untuk dimakan Sohyun.


Wanita berambut pendek sepundak itu hanya menatap sahabatnya dengan tatapan bingung. Saerom tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Sohyun.


Sohyun menengok, menatap sahabatnya dengan mata yang membulat. Bola mata hitamnya terlihat melebar seperti kucing. Menggemaskan.


"Aroma tubuh itu Hugo Boss Bottled, sama seperti seseorang yang memelukku saat aku di Jepang"


"Seseorang yang memelukmu itu?"


Sohyun menganggukan kepalanya cepat. Aroma parfum pria itu masih sama, dan kehangatan itu sama. Ia yakin orang ini adalah orang yang sama dengan orang yang pernah memeluknya di Jepang.


"Eiyy, bagaimana mungkin dia adalah orang yang sama? Kau bahkan tidak tahu yang memelukmu itu adalah orang atau hantu." Saerom menggelengkan kepalanya. Seharunya Saerom tidak seantusias ini mendengar sahabatnya menghubungkan pria yang menyelamatkannya dan sosok yang entah manusia atau mahluk halus yang memeluk Sohyun saat awal tahun 2017.


"Heii yang memelukku itu adalah manusia."


"Bagaimana bisa kau menyebutnya manusia? Saat itu kau terperangkap salju gunung Fuji, bahkan kau pingsan saat itu. Saat kami datang tidak ada siapapun yang disisimu, Kau sendirian dengam tubuh yang yahh sedikit hangat."


Sohyun memperbaiki posisinya, menghadap kearah sahabatnya itu. "Dia manusia, aku merasa sangat hangat saat itu dan aroma parfumnya, aku mengenalnya dan aku mendengar suaranya."


Saerom menggelengkan kepalanya dan menundukkannya, melanjutkan kembali aktifitasnya yang sejenak terhenti akibat perkataan sahabtanya itu.


"Molla, yang ku tahu saat itu kau benar-benar sendirian disana. Bahkan hanya ada bekas jejak kakimu di atas salju." Saerom mengangkat tangannya dan menyuapkan apel masuk kedalam kerongkongan Sohyun.


Sohyun menatap Saerom dengan pandangan membunuh. Wanita itu menyuapinya disaat ia sedang asik berpikir.


"Bisa saja saat itu serigala atau hewan buas lainnya yang datang memelukmu, yah sekedar menghangatkan tubuhmu."


Sohyun mengangkat sebelah alisnya. Perkataan sahabatnya itu sedikit benar. Tapi, jika itu adalah hewan buas tentu saja sampai hari ini, ia tidak mungkin hidup.


"Aku yakin, dia adalah orang yang sama, aroma parfum mereka sama dan kehangatan itu... Itu sama!"

__ADS_1


🍁🍁🍁


See you next Chapter 😘😘😘


__ADS_2