Wolf Grey : A Girl Meets Werewolf

Wolf Grey : A Girl Meets Werewolf
Bab 4


__ADS_3

Written By shihanssi


Main Cast :


• Bae Jinyoung


• Kim Sohyun


o)(o


20 Februari 2018


Pria jangkung dengan setelan jas hitamnya itu melangkah dengan cepat. Suara palafonya terdengar menggema dilorong ruangan itu.


Beberapa orang yang melihat kehadirannya, langsung membungkuk memberi hormat. Sedang pria yang dihormati itu tampak cuek dengan sekitarnya. Ahh bukan cuek hanya saja, hari ini ia sedikit marah.


Gurat kemarahannya sudah terpampan jelas pada raut wajahnya yang kecil.


Blammm


Pria itu membanting pintu ruangan tersebut dengan keras, sehingga beberapa orang yang sedang asik berlatih seketika berhenti dan memandangi kearah pria berjas hitam itu.


Beberapa dari mereka langsung menunduk memberi hormat. Dan sekali lagi pria itu mengabaikan hal itu. Ia semakin mendekatkan langkahnya pada sosok wanita berambut panjang yang masih sibuk dengan tariannya itu.


"Yang ada diruangan ini keluarlah." mendengar suara berat itu berbicara, wanita yang disibukkan dengan tariannya langsung berhenti dan menatap pria berwajah kecil itu menatapnya dengan pandangan membunuh. "Kecuali kau Jeon Somi!"


Pria berpundak lebar itu memberi isyarat kepada beberapa orang yang masih melempar pandang bingung. pria itu mengisyaratkan untuk segera keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan pria berjas hitam bersama wanita yang disebut namanya Jeon Somi itu.


Ruangan tersebut sudah sepi. Tidak ada lagi mahluk hidup selain Jeon Somi dan pria berwajah kecil itu.


Pria bersurai madu itu masih menatap Somi dengan pandangan membunuh. Tangan ya sudah mengepal dibawah sana, tanda ia mencoba menahan amarahnya yang sejak tadi ditahannya.


"Ada apa direktur Bae?" tanya Somi memecahkan keheningan yang terasa sangat mencekik itu.


Pria itu masih diam, masih mencoba menahan amarahnya setelah mendengar suara wanita itu.


Somi memutar matanya malas, kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi Direktur Bae.


"Kau sudah mengusir para trainee, jadi kenapa masih menahannya?" Ia melangkah mendekat pada kursi yang tidak jauh darinya. Tanganya bergerak menarik handuk kecil dan menyapu keringat yang berkecucuran di lehernya.


"Katakanlah, bukankah kau datang kemari karna pertanyaan yang ada di dalam kepala kecilmu itu?"


Direktur Bae masih diam, masih bertahan pada posisinya saat ini.


"Kenapa kau bertemu dengan Preadir Bae? Apa urusanmu sehingga kau memutuskan untuk menemuinya?"


Somi membalikkan badannya, ada seutas senyum bibirnya. Senyum bahagia pastinya.


"Apa lagi kalau bukan membicarakan soal pernikahan?!" Somi masih tersenyum menatap direktur Bae.


"Kau!!!" Direktur Bae mengeraskan rahangnya. Wanita yang berdiri dihadapannya benar-benar membuatnya marah hari ini. Ia tidak tahu harus berbuat apa pada wanita berwajah blasteran itu.


Haruskah ia membunuhnya disini?


"Kita satu spesies, jadi jangan lupakan jika aku hanya bisa mati karna pisau perak ibumu, Bae Jinyoung!"


Jinyoung mengangkat ujung bibirnya. Ia tersenyum sinis pada Somi tentunya. "Dan kebetulan aku membawanya, Kau mau aku menikammu sekarang? Aku sudah tidak peduli bagaimana tanggapan fansmu nanti, yang jelas aku tidak ingin kau menjadi ibuku."


Somi masih memasang wajah datar. Tidak ada tanda-tanda ia ketakutan saat ini. Somi menganggap perkataan Jinyoung hanyalah omong kosong. Bagaimana mungkin pria itu membawa pisau peraknya kemana-mana.


"Lalu bagaimana dengan ayahmu? Apa kau mau melihatnya menangis saat aku menghilang didunia ini?" tanya Somi dengan tenang.


"Dia tidak mencintaimu, dia hanya mengujiku!" Jinyoung mengalihkan pandangannya pada pantulan diri Somi didepan cermin. "Menguji bagaimana kuat aku melepaskan serigala liar sepertimu."


"Ingat kau hanya serigala yang kupungut saat itu." Jinyoung kembali mengalihkan pandangannya fokus pada Somi. "Seharusnya kau tahu statusmu, kita berada dikelas yang berbeda. Jadi jangan macam-macam dengan pernikahan."


Jinyoung tersenyum kecil. Namun suasana menjadi lebih mengerikan saat pria itu tersenyum. Pria bersurai madu itu kemudian membalikkan badannya. Berjalan meninggalkan Somi berada diruang penuh kaca itu.


Saat tangannya menyentuh knop pintu. Suara wanita itu membuatnya membatu.

__ADS_1


"Kau masih mencintaikukan Bae Jinyoung?" tanya wanita itu.


Jinyoung masih diam, tidak ada niatannya menjawab perkataan Somi.


"Kau menentang pernikahanku dengan ayahmu karna kau masih mencintaiku."


Jinyoung mengepalkan tangannya perlahan menyalurkan kemarahannya pada kepalan tangannya. Jinyoung membalikkan badannya menatap Somi dengan tatapan tajam.


"Jika itu benar maka katakanlah sekarang agar aku bisa membatalkan pernikahan ini."


Pria bersurai madu itu kembali tersenyum menakutkan. "Benar aku masih mencintaimu," Somi tersenyum lebar. Sebuah jawaban yang selalu Somi inginkan. "Tapi itu dulu, sebelum kau mengganggu Kekasihku!"


.


Sohyun berusaha berlari secepat kilat menyelusuri koridor perusahaan. Ini sudah jam 2 siang dan ia terlambat datang untuk bertemu dengan seseorang yang penting.


Ia mengutuki dirinya yang selalu bertindak ceroboh. Sejak tadi, alaramnya sudah berbunyi jauh sebelum jam pertemuan, tapi ia mengabaikannya dan memfokuskan pada layar laptonya.


Tujuan Sohyun datang kegedung ini untuk bertemu dengan Presdir SHB Entertaiment. Ini adalah gedung entertaiment terbesar dikorea, dengan tinggi 25 lantai, banyak artis pendatang baru yang meroket namanya setelah masuk kedalam menejement SHB Enterteiment. Tidak tanggung-tanggung, SHB adalah perusahaan entertaiment yang menampung aktor para tampan dan aktris cantik.


Di balik meja batu pasir padat, seorang wanita muda berambut hitam gelap dengan setelan jaket jas hitam yang sangat pas ditubuh langsingnya. tersenyum ramah pada Sohyun. Dia tampak rapi dan cantik.


"Aku kesini untuk bertemu dengan presdir Bae."


"Nama anda?" 


"Kim Sohyun imnida."


Wanita itu meraih gangang telfon dan menekan beberapa angka. Sohyun yang terlihat sibuk dengan celana jeans hitam ketat yang mengganggunya. Sohyun tidak suka menggunakan jeans, jika disuruh ia akan lebih suka menggunakan rok.


Wanita bersurai hitam itu meletakkan kembali posisi telpon kantor, setelah dirasa cukup berbicara dengan seseorang di seberang telfon. Ia tersenyum menghadap Sohyun. "Maaf, Presdir Bae sedang keluar tiga puluh menit yang lalu. Tapi direktur Bae bisa menggantikan pertemuan anda dengan Presdir Bae jika anda mau!"


Sohyun terdiam cukup lama, Jika ia tidak bertemu presdir Bae hari ini maka semua akan tamat, bukankah masih ada Direktur Bae yang bisa menggantikan Presdir Bae saat ini?


"Bagaimana?" tanya wanita cantik itu.


Sohyun mengangkat wajahnya dan kemudian mengganggukkan kepalanya. ia menyetujui untuk bertemu dengan Direktur Bae. Setidaknya ia bisa mendiskusikan kerja sama ini.


Setelah mengerti Sohyun menganggukkan kepalanya dan melangkah meninggalkan wanita berambut hitam itu dimeja batu pasirnya. Sohyun masuk kedalam lift yang akan membawanya pada lantai 20 dengan cepat. Pintu lift terbuka, ia menatap kagum ruangan yang kontras dengan warna abu-abu.


Sohyun melangkahkan kakinya keluar dari lift, dan mengamati desain moderen ruangan tersebut. Ia membalikkan badannya, mengamati pintu lift yang perlahan tertutup. heii ruangan ini langsung terhubung dengan pintu lift.


"Kim Sohyun-ssi?" 


Panggilan itu sontak membuat Sohyun memutar badanya menghadap kearah sang pemanggil. Pria bersurai madu itu tersenyum cukup manis melihat ekspresi menggemaskan Sohyun. Bagaimana tidak, Bola mata hitam itu melebar seperti mata kucing yang imut.


"Maaf mengagetkanmu. Bae Jinyoung imnida, silahkan duduk Kim Sohyun-ssi" Ucap direktur Bae mempersilahkan Sohyun untuk duduk disofa silver nan empuknya itu. "Anda mau minum?"


Saat bokong Sohyun menyentuh permukaan sofa, ia langsung mengangkat kepalanya dan mengangguk. Sohyun cukup jujur saat ini, toh ia sudah berlari dengan cepat hanya untuk bertemu atasan SHB Entertaiment.


"Jangan yang bersoda, aku tidak suka."


Direktur Bae tersenyum dan mengangguk. Jemari lentiknya kemudian bergerak menyentuh gagang telpon putihnya dan menekan satu angka disana. tidak butuh waktu yang lama, orang yang dihubunginya langsung menjawab.


"Satu Fruit Tea dan apel."


"..."


"Oke" 


Direktur Bae kemudian mengakhiri sambungannya dan meletakkan kembali gagang telpon pada tempatnya. "Kudengar anda membuat janji dengan Presdir Bae?" tanya Direktur Bae melangkah mendekat. 


Sohyun mengangguk dan mengamati wajah Direktur Bae yang sudah ada berada didepan matanya. Wajah pria itu benar-benar kecil. ia memiliki hidung, mata dan bibir yang mungil. Tidak heran semua artikel majalah menyebutkan jika pewaris SHB Enterteiment memiliki wajah yang sangat kecil dan tampan.


Tentu Sohyun pernah melihat wajah Direktur Bae dikoran dan majalah, tapi untuk melihat secara langsung Sohyun tidak pernah melakukan hal itu, sama seperti Presdir Bae. Ini adalah pertama kalinya Sohyun ingin bekerja sama dengan SHB Entertainment. Dan melihat secara langsung, wahhh... Pria itu mewarisi ketampanan ayahnya yang maskulin.


Ting


Suara pintu lift itu terdengar cukup keras ditelinga Sohyun. Ia menggelengkan kepalanya pelan, menyadarkan dirinya yang tidak boleh jatuh pada pesona Bae Jinyoung yang luar bisa mematikan.

__ADS_1


Wanita berambut panjang yang Sohyun temui dibawah tadi datang mendekat dengan tangan yang sibuk membawa nampan berisi pesanan sang direktur. wanita itu tersenyum dan meletakkan Fruit Tea dan apel yang sudah dikupas dan dipotong dihadapan Sohyun.


"Gasamhamnida" Sohyun menundukkan kepalanya setelah wanita cantik itu meletakkan Fruit Tea dan apel diatas meja. Wanita itu membalas menundukkan kepala sebelum akhirnya ia memutuskan meninggalkan direktur Bae bersama dengan Sohyun.


"Anda pasti haus, minumlah terlebih dahulu." ucap Jinyoung dengan nada beratnya. Sohyun hanya mengangguk dan meraih gelas bening tersebut. dimumnya fruit tea secara perlahan, Sohyun memang sangat haus sekarang, tapi ia harus menjaga etikanya dihadapan pria tampan bukan. Ia tidak boleh melakukan hal yang seperti biasa saat ia sendiri dirumah.


Jinyoung masih mengamati wajah Sohyun, matanya tidak pernah berhenti memandangi kulit Sohyun yang putih dan bersih. Kemudian matanya bergerak turun keleher wanita itu, entah mengapa pergerakan dileher jenjang Sohyun membuatnya sedikit tergoda, seakan leher itu berkata "ukir aku"


Sohyun yang merasa diamati dengan sepasang manik hitam milik Jinyoung pun menghentikan aktifitasnya. Ia meletakkan gelas yang tadinya berisi full Fruit Tea, kini tinggal seperemaptnya.


"Ada apa direktur Bae?" tanya Sohyun penasaran. 


Jinyoung tersenyum dan menggelengkan kepalanya perlahan. Matanya bergerak pada volume fruit tea yang sedikit lagi habis. "Apa anda ingin menambah minuman lagi?" 


Sohyun merasa pipinya memerah malu. Ia tanpa sadar menghabiskan Fruit Teanya hanya sekali minum. sungguh memalukan.


"Tidak. Hausku sudah hilang." Jawab Sohyun dengan perasaan yang malu luar biasa.


"Ah ya, ada apa anda ingin bertemu dengan presdir Bae?"


"Ah itu," Sohyun mengeluarkan berkas-berkas d i dalam tas ransel birunya, dan mengeluarkan beberapa kertas dan satu naskah. kemudian meletakkannya diatas meja. "Aku ingin bekerja sama beberapa artis dari SHB Entertaiment untuk membintangi sebuah Film. Aku sudah membicarakan hal ini pada presdir Bae dan beliau hanya memintaku datang dan membawa surat kontrak dan naskah yang kumaksud." 


Jinyoung memperbaiki posisinya, jemarinya yang lentik itu meraih naskah yang diletakkan diatas meja. Judul filmnya sangat menariknya untuk membacanya. WOLF GRAY. Ia terdiam cukup lama memandangi sampul naskah itu, entah mengapa judul itu sedikit familiar untuknya.


"Bisa anda jelaskan kisah film ini?" tanya Jinyoung mengangkat pandangannya menatap Sohyun yang sedang melirik buah apel. 


Sohyun sangat suka buah apel, melihat buah itu didepan matanya membuatnya meneteskan air liurnya. Jinyoung yang mengamati ekspresi itu membuat dadanya terasa tergelitik, cara Sohyun memandang buah apel itu sangat menggemaskan bagi Jinyoung. 


"Kim Sohyun-ssi" Sohyun mengangkat wajahnya menatap Jinyoung. "Jika anda lapar, anda bisa memakannya. Jangan hanya memandanginya." 


Sohyun tersenyum malu, ia menggaruk telengkuknya yang tidak gatel. ini sudah kedua kalinya ia membuat dirinya memalukan di depan Jinyoung. 


Pria bersurai madu itu kembali tersenyum kecil.


"Bisa anda cerikan bagaimana kisah Wolf Gray ini sambil memakan buah apel tersebut?" 


Sohyun terdiam cukup lama, dan kemudian menganggukan kepalanya perlahan. Tanganya yang bebas mulai beraksi meraih piring berisikan apel tersebut dan meletakkannya diatas pangkuannya. "Wolf Gary, adalah genre cerita yang romanse, action dan mysterius. Nah, Wolf Gray itu mengisahkan seorang manusia serigala abu-abu yang jatuh cinta dengan manusia, pria itu akan melakukan apapun untuk melindungi sang kekasih dari ancaman Wolf Brown. spesies serigala yang rendah."


"Kenapa begitu?"


Sohyun mengangkat sebelah alisnya. ia sedikit terkejut mendengar pertanyaan Jinyoung. "Ah ne-?"


"Umm maksudku kenapa Wolf Brown ini terlihat membahayakan bagi kekasih Wolf Gray? Apa Wolf Gray dan Wolf Brown tidak akur?"


Sohyun menganggukkan kepalanya. "Ne, dan satu spesien Wolf Brown ini juga jatuh cinta dengan kekasih Wolf Gray."


"Ahhh, Wolf Gray harus bekerja keras untuk melindungi kekasihnya, kan?" 


Sohyun menganggukkan kepalanya.


"Lalu bagaimana dengan endingnya? apakah Wolf Gray hidup bersama dengan kekasihnya itu? atau sang kekasih menjadi serigala sepertinya?"


Wanita itu terdiam sejenak, menikmati sari apel yang manis membasahi kerongkongannya. Setelah menelan buahnya, Sohyun menggelengkan kepalanya.


Jawaban Sohyun itu sontak membuat lekukan dari kedua sudut bibir Jinyoung luntur dan berubah menjadi tatapan yang dingin


"Wanitanya meninggal, dia mengorbankan hidupnya untuk Wolf Gray."


Gurat senyum yang sejak tadi melengkung dibibir Jinyoung perlahan memudar setelah mendengar jawaban yang tidak diinginkan olehnya. sad ending? oh ayolah kenapa harus sad ending di saat cerita itu sangat pas untuk happy ending.


"Bukankah film ini akan lebih bagus jika happy ending? Wanitanya menjadi serigala dan menikah dengan Wolf Gray. bukankah itu lebih menarik?" tanya Jinyoung, bukan. pria itu mengusulkan pendapatnya untuk cerita Wolf Gray.


"Aku sudah memikirkan hal itu, tapi itu terlalu mudah untuk ditebak oleh penonton. Mereka hidup bersama dan bahagia, bukankah itu terlalu biasa? Jika aku membuat sad ending bukankah beberapa penonton akan meminta season keduanya? Mereka ingin tahu bagaimana kisah si Wolf Gray setelah sang kekasih meninggal, bagaimana dia akan menjalani hidupnya tanpa sang kekasih disisinya, Dan mungkinkah ada wanita lain yang bisa menggantikan posisi sang kekasih dihati Wolf Gray."


Pria itu masih menatap Sohyun dengan pandangan dingin. Ia sama sekali tidak menyukai ending dari Wolf Gray. Sad Ending memang sangat populer pada film-film, tapi menurut Jinyoung Sad ending tidak cocok dengan Wolf Gray, titik. Bagaimana pun Jinyoung menginginkan Wolf Gray hidup dengan bahagia bersama sang kekasih, selamanya.


Hanya itu yang Jinyoung inginkan, tapi wanita didepannya sangat keras kepala menginginkan sad ending pada cerita Wolf Gray. Apakah wanita itu tidak pernah merasakan bagaimana kesedihan yang mendalam itu?


"Kim Sohyun-ssi, bagaimana kalau anda berada diposisi kekasih Wolf Grey? Apa anda menginginkan akhir yang sedih?"

__ADS_1


🍁🍁🍁


See You Next Chapter 😚😚


__ADS_2