Wolf Grey : A Girl Meets Werewolf

Wolf Grey : A Girl Meets Werewolf
15


__ADS_3

A written by shihanssi


Main Cast :


• Bae Jinyoung


• Kim Sohyun


.


.


.


Jinyoung duduk di kursi sisi bangsal, jari-jarinya ditaukan dengan jari mungil milik Sohyun, sesekali menghelusnya dengan ibu jarinya.


Ia tidak berhenti tersenyum, saat netranya memandang wajah yang selama ini dirindukannya. Mata, hidung, pipi dan bibir Sohyun. Semua yang terdapat pada Sohyun, ia merindukannya.


Jinyoung sudah tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi kemarin. Ia telah melupakan kejadian kemarin, seolah hal itu tidak pernah terjadi padanya. Saat ini, Jinyoung hanya ingin fokus dengan Sohyun, memulainya dari awal.


Bahagia untuk selamanya.


Dan Jinyoung berharap, mereka tetap bersama untuk selamanya.


"Besok aku sudah boleh keluar dari sini." ucap Sohyun, memecahkan keheningan. Jinyoung mengangguk, pandangannya masih menatap lekat wajah Sohyun. Tidak ada niatan untuknya untuk mengakhiri tatapannya.


Terlalu berharga untuk diabaikan.


Pipi Sohyun memerah, sungguh ia malu ditatap seintens itu oleh Jinyoung. Ia menunduk dalam, menyembunyikan rona merah itu dari Jinyoung.


Jinyoung terkekeh, satu tangannya yang bebas menangkup pipi Sohyun, menuntut wajah itu kembali terangkat dan menatap matanya.


"Ada apa ,hm?" tanya Jinyoung saat manik hitam itu bertemu dengan manik hitamnya. Ia tersenyum, semakin membuat pipi Sohyun merona memerah. Rasanya sangat panas dan mendidih.


Sohyun menggelengkan kepalanya. "Ahya apa yang kau bawa itu?" tanya Sohyun, saat ia melihat katung belanjaan diatas nakas. Dengan berat hati Jinyoung mengakhiri pandangannya, ia memandangi bungkusan yang dibawanya tadi.


Pria itu baru ingat jika belanjaan itu pemberian Mingyu untuk Sohyun.


"Ahh, aku bertemu dengan Mingyu di jalan dan dia menitipkan ini." Jinyoung meraih kantung itu, mengeluarkan susu pisang dan onigiri.


"Waaaahhh"


Sohyun berseru senang, dengan semangat ia meraih susu pisang yang sejak tadi di pegang oleh Jinyoung.


Jinyoung terkekeh pelan ketika pandangannya melihat raut bahagia Sohyun. Wanita itu menikmati susu pisangnya, sampai tidak menyadari jika pria berwajah kecil itu memandanginya sejak tadi.


"Kau senang hanya karna susu pisang dan onigiri?"


Sohyun mengangkat pandangannya, mempertemukan kedua manik hitam mereka. Ia tersenyum cukup manis, kemudian menganggukkan kepalanya.


"Kau mau?"Jinyoung menggeleng, melihat penolakan itu Sohyun kembali menyirup susu pisangnya.


Jinyoung pov


Aku terdiam, memandangi Sohyun lamat-lamat. Rasanya aku ingin menghentikan waktu setiap bersama dengannya menikmati waktu hanya berdua.


Aku tidak akan pernah lagi meninggalkan Sohyun. Bahkan jika itu pekerjaan penting, aku tetap memilih bersama dengan Sohyun.


Kejadian kemarin menamparkanku betapa pentingnya Sohyun bagiku, dia sumber kebahagiaanku, dan penghapus kutukan yang ku dapatkan sejak lahir.


Wolf Grey, kupikir aku beruntung menjadi bagian spesies Wolf Grey karna spesies ini sangat istimewa. Spesies yang dapat berubah menjadi manusia normal dan menjadikan mate-nya sebagai werewolf.


Kim Sohyun. Seorang wanita yang dikirimkan Goddess of Moon, seorang wanita yang akan menghapus tanda di lengannku.


Kupikir, ini sangat aneh. Bocah kecil berjalan ditengah hutan saat gerhana bulan merah yang tanpa sengaja menolongku dari kejaran pemburu liar adalah mate ku. Gadis kecil tanpa dosa itu pertama kali menggenggam tanganku yang terluka, menyentuh lambang werewolfku. Dan dia tidak takut denganku dengan wujudku yang masih menjadi serigala.


Saat sentuhan pertama itu, aku tahu dialah mate yang dikirimkan goddness of moon, membuat hidupku semakin bahagia. Ku mengucapkan janji akan melindunginya, tidak peduli jika harus nyawaku menjadi pengganti. Asal Sohyun selamat, aku tidak masalah. Gila, aku memang gila saat itu, tapi aku menyukainnya. Karna kegilaan itu, aku ingin memilikinya. Hanya untuk diriku sendiri.


"Menikahlah denganku So-ya."


"──Uhuk─"


Sohyun tersedak, aku segera menepuk pundaknya pelan. Kuperhatikan dia mengangkat wajahnya, menatapku dengan pandangan bingung bercampur terkejut.


Aku tahu dia akan memperlihatkan ekspresi seperti itu ketika aku mengajaknya untuk menikah.


"Me-menikah?"


Aku tersenyum, dan mengangguk pelan. Hanya seperti ini sudah menjawab pertanyaannya.


Kulihat kedua alisnya saling bertaut, aku mengerti ia masih terkejut dan bingung dengan keadaan yang seperti ini.


"T-tapi k-kita bar-"


"Aku ingin memulainya lagi, bukan sepasang kekasih tapi suami istri. Aku ingin menjadikan mu sah milik Bae Jinyoung. Menjadi milikku sepenuhnya."


"..."


"Kau milikku, dan aku milikmu. Selamanya."


Mata berbinar itu berkaca-kaca. Bibir mungilnya terangkat naik membentuk sebuah senyuman yang jauh lebih cantik dari sebelumnya.


Kurasakan jantungku berdebar cepat, perutku terasa digelitiki oleh ribuan kupu-kupu yang berterbangan. Sohyun menganggukkan kepalanya, dan itu artinya menerima ajakanku untuk menikah.


Menjadi milikku.


Kudekatkan wajahku, ku cium keningnya lama dan lembut. Kusalurkan semua rasa cintaku melalui ciuman dikeningnya. Sungguh aku sangat bahagia malam ini.


Melepaskan ciuman yang terbilang lama itu, aku menempelkan dahiku dengannya, jarak kami begitu dekat, sehingga hembusan nafasnya yang hangat dapat kurasakan di permukaan wajahku.


"Aku mencintaimu"


"Aku juga ... mencintaimu... Sangat" ia tersenyum, mengalungkan tangannya dileher panjangku.


Inilah saat aku harus memilih, menjadi manusia normal atau membuatnya menjadi werewolf sepertiku. Aku ingin hidup abadi dengannya, aku ingin terus merasa jatuh cinta untuk berkali-kali hingga ratusan tahun bersamanya.


•••


Author pov


"Ayolah Lee jakkanim. Sekali saja." Felix duduk di seberang meja Saerom.


Wanita berambut pendek itu menghela nafas panjang, meletakkan sumpitnya dengan malas. Mata tajamnya menatap lekat wajah imut milik Felix.


"Sekali saja kita menjenguknya. Aku sudah sangat merindukannya. Dia tidak pernah datang kelokasi syuting setelah insiden kecelakaannya."


"Yakss, aku juga ingin menjenguknya tapi dia melarang semua orang untuk datang. Memangnya aku bisa apa?"


"Kau bisa membujuknya, atau membelikannya barang brendit. Ayolah, ini hampir dua minggu."


Saerom menghembuskan nafasnya putus asa. Ia merindukan sahabatnya itu, tapi dia tidak bisa menjenguknya, toh Sohyun sendiri yang menolak semua orang-orang yang berniat menjenguknya.


Pernah Saerom sekali datang ke rumah sakit, ingin menjenguk Sohyun dan malangnya ditolak oleh sahabatnya sendiri. Ia tidak diam begitu saja, ia duduk didepan kamar inap Sohyun menunggu sampai Sohyun menerimanya masuk.


Diperhatikan selama sehari yang keluar masuk ruangan itu hanya Daniel dan Mingyu. Saerom sama sekali tidak pernah mendapati Jinyoung masuk ke ruangan Sohyun.


Saerom menghela nafas pelan, berpikir jika Jinyoung tidak diberi izin oleh Sohyun untuk datang menjenguk. Apa Sohyun ada masalah dengan Bae Jinyoung? Atau pria berwajah kecil itu terlalu banyak pekerjaan sehingga meminta Daniel yang datang menjaga Sohyun dirumah sakit?


Terlarut dalam pikiran randomnya, Saerom sampai tidak sadar jika telapak tangan mungil milik Felix melambai-lambai dihadapannya.


Felix mengerutkan dahinya bingung. Sosok dihadapannya berubah menjadi mayat hidup dalam sedetik. Uhh mengerikan.


Pletak


"Awww── yaks paboya?"


Saerom menjerit, keningnya berdenyut sakit ketika mendapatkan setilan kuat dari pria dihadapannya.


Menghelusnya pelan, berharap rasa sakit itu segera hilang. Saerom menatap pria dihadapannya dengan pandangan membunuh. Bisa-bisanya pria berwajah imut itu menjentiknya.


"Yaks apa yang kau lakukan?"


"Hanya menyadarkanmu, aku sudah memanggilmu beberapa kali tapi kau tidak menjawabnya. Makanya aku menjentiknya agar kau sadar." Ucapnya dengan ekspresi datarnya. Tangannya bergerak meraih sumpitnya dan melanjutkan makan siangnya.


Saerom hanya melongo tidak percaya, pria dihadapannya terlihat santai setelah menjentikkan jarinya di dahi mulusnya. Tidak merasa bersalah kepadanya.


Pria berwajah imut itu terdiam, sibuk dengan pikirannya. Ini sudah hari ke sepuluh jika ia menghitungnya dengan benar ia tidak melihat wajah cantik penulis yang diidolakannya.


Felix menghela nafas pelan, menundukkan kepalanya. Beberapa pertanyaan mengiang di dalam kepalanya, dan semua tidak jauh dari sosok diatas.


Kim Sohyun


Felix khawatir dengan penulis kesayangannya, ia butuh kabar wanita itu meski ia tidak melihatnya secara langsung dan memastikan apakah dia benar-benar baik-baik saja.


"Haii.. Lee Saerom, Lee Felix."


Sekali lagi Felix menghembuskan nafasnya pelan, sekarang ia mendengarkan suara yang beberapa hari ini dirindukannya.


"Felix-ie.."


Oke Felix merindukan suara husky itu, tapi tidak begini. Tidak untuk mendengarnya lagi dan membuatnya semakin merindukannya.


Tuk


"Akh!"


Felix mengangkat wajahnya, tangannya mengusap kepalanya yang baru saja dipukul dengan sayang oleh Saerom. Mata hazelnya menatap nyalang wanita dihadapannya.


"Dia memanggilmu bodoh."


Saerom berucap, menyela Felix yang hampir saja mengeluarkan sempah serapahnya.


Saerom meletakkan sumpitnya diatas meja, memperbaiki posisinya menghadap tububnya pada sosok wanita yan tengah duduk di kursi roda dengan seorang pria berjaket denim dibelakangnya.


"Kau sudah keluar dari rumah sakit?"


Saerom tersenyum menatap sahabatnya, maniknya turun mengamati satu kaki Sohyun yang di gips.


Felix menoleh, raut wajah masam yang tadi menghiasi wajah imutnya itu berganti raut bahagia melihat Kim Sohyun yang entah sejak kapan berada disampingnya.


Dia sudah ada sejak tadi


"Kim jakkanim!"


Felix menjerit senang.


Sreekk


Grep


Ia bangun dari duduknya, menghambur memeluk tubuh ringkih Sohyun. Jinyoung yang berada dibelakang Sohyun sedikit melangkah mundur, ketika beban seekor bison itu memeluk tubuh kekasihnya, ehhh


Tunggu,


Pria itu memeluk milikku


Mata gelap itu menyalang, sekilas percikan api dimata hitamnya itu.


Saerom mengangkat pandangannya melihat wajah memerah Jinyoung. Memerah bukan dalam arti pria itu tersipu malu, tapi mengarah ke marah yang meluap.


Saerom merasakan bulu kuduknya berdiri, darahnya berdesir cepat. Suasannya mendadak menjadi menakutkan, dan seolah malaikat pencabut nyawa bersiap mencabut nyawa Felix.


Hmmm Felix


"Akhhh!!"


Untuk kedua kalinya Felix menjerit sakit, ia merasakan seseorang tengah menarik kaos oblongnya dari arah belakang, mencekik lehernya. Tentu saja.


"Jangan berlebihan, ohh shit-kau tidak tahu tempat!"


Pria imut itu mengerucutkan bibirnya, menghelus lehernya yang meninggalkan jejak kemerahan disana. Sungguh, Felix tidak berpura-pura jika lehernya sekarang terasa sakit. Wanita itu menariknya kencang, ah tidak tapi kelewat kencang.


"Well sekarang kau tidak mau mengucapkan sesuatu begitu, Kim?"


Saerom menatap tajam sahabatnya itu, menuntut Sohyun untuk meminta maaf padanya karna tidak mengizinkannya menjenguk.


Sohyun terkekeh pelan, menyadari maksud perkataan sahabat terbaiknya itu.


"Mianhe, aku hanya ingin waktu sendiri."


"Tapi kenapa?"


"Dia butuh istirahat total untuk memulihkan kondisinya Saerom-ssi"


Saerom mengangkat pandangannya menatap Jinyoung yang menjawab pertanyaan yang hanya ditujukan pada sahabatnya.


Wanita itu merotasikan matanya, kemudian menghela nafas pendek. Ia mengerti kecelakaan mobil itu telah membuat kaki Sohyun patah.


Ahh apa aku lupa menjelaskan jika orang-orang terdekat Sohyun hanya tahu jika Sohyun mengalami kecelakaan mobil bersama Somi.


Beberapa orang yang mengetahui kebenarannya menyembunyikan rapat-rapat, menyebar kebohongan jika Sohyun dan Somi mengalami kecelakaan mobil.


"Apa kaki Kim jakkanim sudah membaik?"


Felix bertanya dengan mata yang terus memperhatikan gips tebal dikaki Sohyun.


Sohyun menoleh, mengalihakan atensinya pada pria berwajah imut itu.


"Lumayan membaik,"


Felix mengangkat wajahnya, tersenyum. "Boleh aku menuliskan sesuatu disana nanti?" Sohyun hanya mengangguk.


Sementara Saerom menggelengkan kepalanya memperhatikan tingkah anak-anak seorang Lee Felix.


Heumm bagaimana bisa Saerom jatuh cinta pada pria yang memiliki sifat anak kecil ditubuhnya.


Saerom menoleh, melihat Jinyoung yang senantiasa menghelus surai madu Sohyun, kemudian tangannya bergerak turun mencubit pipi gembil itu membuat Sohyun meringis sakit.


Sohyun mengangkat wajahnya, tertawa melihat wajah kekasihnya. Jinyoung terkikik gemas, kembali mencubit pipi dan hidung Sohyun dengan gemas.


Saerom tersenyum senang melihat sahabatnya yang terlihat bahagia bersama Jinyoung. Mata seindah galaxy itu berbinar indah saat memandang wajah kecil Jinyoung, bibirnya terus menyunggingkan senyum yang sangat cantik, senyum yang tidak pernah diperlihatkan ketika ia bersama dirinya, Daniel atau yang lainnya.


"Yaaa hentikan Bae."


"Heumm apa kau bilang?" tanya Jinyoung, ia tidak marah hanya saja dia gemas melihat miliknya yang terlihat lucu ketika melihatnya dari sudut seperti ini.


Jinyoung melingkarkan tangannya dileher jenjang Sohyun yang sedang mendongak menatapnya. Sesekali jemarinya menghelusnya pelan.


Sohyun mengangkat bahunya naik, merasa geli pada lehernya. Sentuhan itu benar-benar membuatnya sangat geli dan panas.


"Tidak-tidak." Sohyun menggeleng pelan, ia tersenyum lebar, memperlihatkan gusi pinknya yang bersih, tersenyum seperti itu membuat mata Sohyun menyipit, membentuk bulan sabit.


Jinyoung semakin gemas, Ia menundukkan punggungnya, mendekatkan wajahnya. Untuk apa lagi kalau bukan untuk menciumnya.


Cup


Pria berwajah kecil itu mendaratkan kecupannya di kening Sohyun.


Cup


Kali ini kedua kelopak mata yang tertutup itu.


Cup


Turun kehidung mungil itu.


Sohyun membuka kelopak matanya. Tersadar semua kecupan yang diberikan Jinyoung di depan banyak orang.


Pria itu mendekat lagi, kali ini sasarannya adalah bibir.


Oke sudah cukup, pipi Sohyun sudah memerah sejak tadi, ia malu. Pria itu menciumnya begitu saja.

__ADS_1


Cup


Benda tak bertulang itu menyentuh permukaan yang datar. Sementara benda tak bertulang lainnya menarik kedua sudut bibirnya keatas.


Sohyun tersenyum lebar, menyembulkan giginya rapihnya dan gusi pinknya.


"Tidak disini Young-ah."


Sohyun menggelengkan kepalanya, tangannya masih bertahan didepan bibirnya sendiri, menghalangi Jinyoung untuk mencium bibirnya.


Jinyoung tersenyum, menjauhkan wajahnya perlahan. Tangannya bergerak mengusak surai coklat emas itu.


"Baiklah aku akan melanjutkannya dirumah."


"Uhuk-"


Saerom menepuk dadanya sendiri pelan. Tiba-tiba merasakan sesuatu tersedak ditenggorokan.


Saerom tidak pernah mempercayai apa yang baru saja didengarnya.


Melanjutkannya dirumah.


Heol apa yang akan mereka lakukan lagi? Nooo


Sohyun mengangkat kepalanya, memposisikannya lurus, melihat Saerom yang berusaha menenagkan dirinya sendiri.


"Ada apa?"


"Kalian berdua -uhuk- bisa-bisanya -ukh-"


Saerom tidak sanggup lagi, ia meraih botol minuman di samping makanan Felix. Meneguknya cepat, tidak peduli dengan satu fakta.


Botol minuman itu bekas Felix. Sedangkan sang empu hanya melongo tidak percaya wanita itu merebut minumannya tanpa meminya izin kepadanya. Heol itu juga bekasnya.


"Kalian gila, ini kantor kantin dan bisa-bisanya kalian-" Saerom menggantungkan perkataannya,


Matanya bergerak mengamati sekitarnya. Semua pandangam itu tertuju padanya. Bukan, tapi pandangannya tertuju pada Jinyohng dan Sohyun. Mereka telah mengumbar kemesraannya dikantin yang penuh dengan pegawai.


Dan lihat, pandangan mereka seolah err iri. Iri kepada Sohyun lebih tepatnya karna mendapatkan seorang kekasih seperti Jinyoung yang romantisnya diatas rata-rata.


"Berciuman dan menggatakan kalimat yang terdengar vulgar." ucap Saerom menurunkan sedikit suaranya ketika ia menyebut kata terakhirnya.


Sohyun mengigit bibir bawahnya, maniknya mulai bergerak menyapu sekelilingnya. Mereka masih memperhatikan dirinya dan Jinyoung.


Ia menunduk, menyembunyikan raut wajahnya yang semakin memerah dan panas. Sohyun benar-benar malu diperhatikan seperti itu oleh pegawai kantor.


Jinyoung menunduk, memperhatikan kepala Sohyun yang juga kini menunduk. Ia tersenyum ketika netranya melihat semburat merah di telinga putih kekasihnya itu. Kedua tangannya menyentuh telinga Sohyun, menghelusnya pelan.


"Uhh bukannya berhenti malah menambah kemesraan. Kalian kesini sebenarnya mau memamerkan kemesraan kalian bedua?" tanya Felix tidak suka.


Felix bukannya cemburu melihat kedua si joli itu mengumbar kemesraan didepan matanya, hanya saja dia iri.


Heol apa bedanya Iri dan Cemburu Lee Felix ?


Felix mengerucutkan bibirnya, mengambil sumpit yang berada di atas meja. Mengaduk-aduk mienya dengan random.


Drrrttt ... Drrrrtt


Jinyoung mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Kedua alisnya saling bertaut saat netranya melihat nama dilayar ponselnya.


Sohyun mengangkat kepalanya, melihat Jinyoung bingung.


"Siapa?"


Jinyoung menoleh dan tersenyum. "Aku mengangkatnya dulu." Ucapnya menghelus pipi Sohyun sebelum ia berjalan meninggalkan Sohyun, Saerom dan Felix.


"Ada apa?" tanya Jinyoung setelah mengangkat panggilannya. Ia menoleh kebelakang, melihat dari kekasihnya masih memperhatikannya dari jarak yang sedikit jauh.


Jinyoung tersenyum, ia tahu wanita itu sedikit khawatir dengannya.


"Putri Presdir Kim dan ayahmu ditahan karna mencoba melindungimu."


"Apa? Bagaimana bisa?"


Sosok diseberang sana menghela nafas frustasi. Dapat Jinyoung bayangkan pria yang menelfonya itu tengah menaikkan rambut depannya keatas.


"Seseorang melaporkannya pada Sçoleýdæ."


Tangan Jinyoung mengepal, hingga buku-buku jarinya memutih. Mata tajamnya menyalang, perlahan pupil hitam itu berubah menjadi merah, berapi-api.


"Dan ... Jinyoung-a."


"..."


"Dan ada yang ingin membeli perusahaan sub di china, mereka menawarkan harga tinggi untuk perusahaan China disana. ."


shit─ apa lagi sekaranng.


Jinyoung memutar kepalanya, melihat kekasihnya yang kembali bercengkrama dengan sahabatnya.


"Apa yang harus kita lakukan?"


"Kumpulkan mereka hyung. Aku akan segera kesana."


Pip


Jinyoung mengakhiri sambungannya, mata merahnya masih memperhatikan dari jauh kekasihnya. Sohyun sedang tertawa disana bersama Saerom dan Felix, ia tidak mungkin kesana untuk meminta izin dengan penampilan seperti ini.


Dan, Sohyun tidak boleh tahu.


Jinyoung memutar badannya, melangkah menjauh dari tempat itu. Ia pergi tanpa kabar, ini lebih baik daripada Sohyun tahu yang sebenarnya.


Drrttt


Pria bersurai hitam legam itu menghentikan langkahnya. Nama dilayar ponselnya membuatnya seketika membeku,


Kim Sohyun calling


Ia membalikkan badannya. Jinyoung masih bisa melihat Sohyun yang jaraknya lebih jauh dari tadi. Wanita itu menatapnya dengan pandangan datar, dan masih bersabar menunggu Jinyoung mengangkat panggilannya.


Jinyoung mengalihkan atensinya, melihat kembali nama Sohyun pada layar telfon pintarnya. Jinyoung menggeser ikon hijau itu, kemudian mendekatkannya pada telinganya.


"Kau mau kemana?"


Pria itu kembali menengok kearah Sohyun. Ia terdiam, pikirannya bercampur aduk di dalam sana. Ia tidak tahu harus menjawab apa.


"Tidak ingin memberitahuku?"


Jinyoung menghela nafas, menundukkan kepalanya sejenak. Ia ingin berpikir, dan sialnya otaknya terlalu keras bekerja, memikirkan hal-hal yang tidak penting.


"Aku harus pergi kekantor. Ada sedikit masalah disana.?"


"Kau yakin?"


Jinyoung menganggukkan kepalanya, dan Sohyun melihat anggukan kecil itu.


Sohyun tersenyum


"Baiklah, hati-hatilah. Dan jangan terlambat pulang."


"Aku mengerti. So-ya?!"


Wanita disana diam, memilih untuk mendengar kelanjutan kalimat Jinyoung.


"Aku mencintaimu."


Sohyun tersenyum manis, jantungnya berdebar dua kali lipat dari sebelumnya.


Pipinya kembali memerah, dan menjalar ketelinganya.


Hanya sebuah kalimat cinta sudah membuatnya merona dan tergelitiki oleh ribuaan kupu-kupu. Bagaimana jika lebih dari ini?


"Aku juga, aku mencintaimu."


"Jaga dirimu, jangan sampai terluka."


Pip


Setelah mengatakan hal itu Jinyoung langsung mengakhiri sambungannya. Memutar badannya dan berjalan dengan cepat meninggalkan gedung tersebut.


Matanya semakin memerah. Jinyoung menggeretakkan giginya, mencoba menahan amarahnya yang sudah di pucuk kepalanya, siap meledak kapanpun.


...


Pria berbahu lebar itu meletakkan gelas wine nya diatas meja. Ia menampikkan smirknya yang sialnya membuatnya terlihat tampan.


Suara musik klasik itu terdengar pelan diruangan berwarna merah dengan jejeran botol wine di rak-rak mahal. Kursi-kursi di sekitarnya kosong, tidak ada orang lain selain dirinya selain bartender dan ...


Seorang pria bertubuh tegap bersetelan jas hitam. Pria itu melangkah mendekati Daniel, dengan tangan yang bekerja membawa sebuah tab hitam.


"Sepertinya kau mendapat kabar baik?"


"Sangat baik Direktur Nam." ia tersenyum tipis. Mata sipitnya terangkat menatap sosok tegap yang tengah duduk dihadapannya.


"Kau bekerja dengan baik Woohyun-ssi."


Woohyun -pria berjas hitam- tersenyum, menuangkan sendiri wine kegelasnya.


"Aku hanya membalas budiku."


Ia mengangkat gelasnya dan meneguk wine merah yang terasa menyegarkan tenggorokannya.


"Tapi, bagaimana dengan soal Sçoleýdæ yang kau maksud?" tanyanya sembari meletakkan gelas wine nya diatas meja.


Daniel mengangkat kedua bahunya. Dia tidak tahu menahu tentang Sçoleýdæ yang datang dan menahan presdir Bae dan putri semata wayang presdir Kim.


Tapi, ia harus berterimakasih pada seseorang yang telah melaporkan hal itu pada Sçoleýdæ, membiarkan peninggi itu menangkap keluarga Bae.


"Apa kau sudah mengsabotase mobilnya?"


Woohyun menganggukkan kepalanya, memberikan tab hitam yang sejak tadi dibawahnya.


"Kau bisa melakukannya kapan saja." ujarnya, mendorong tab hitam itu ke depan Daniel.


Pria berbahu lebar itu menyeringai puas. Rencananya untuk mennghancurkan dan melenyapkan Jinyoung sepertinya akan berjalan lancar.


Ia memperhatikan tab yang akan melenyapkan Jinyoung, menjauhkan dari Sohyun sejauh-jauh, sampai Jinyoung tidak bisa menggapainya dan merebut mate nya.


.


.


.


Seorang pria bertubuh jangkung masuk kedalam ruangan berwarna biru, semua layar komputer menyala dan yang mengendalikanya sibuk menarikan jari-jarinya di keyboard.


Ia mendekat, menepuk pelan pundak Jinyoung.


Yang ditepuk pundaknya melompat kaget, ia menoleh dengan ekspresi marah dan mata yang memerah nyalang.


"Tenangkan dirimu Jinyoung, jangan pelihatkan mata merahmu di hadapan pegawai."


Jinyoung menatap datar pria berwajah anjing laut itu. Memutar matanya malas dan mengalihkan pandangannya pada sosok pria yang tengah mengangkat panggilan.


"Kau tahu siapa yang melakukannya?"


"Aku tidak yakin, siapa dia."


"..."


"Jeon Somi atau Kim Jongin. Salah satu dari mereka yang melakukan hal ini."


Pria berwajah anjing laut itu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak yakin jika dia adalah Somi. Kau bukan targetnya, jika dia ingin, ia hanya akan melakukannya pada Sohyun lagi. kupikir."


"Bagaimana dengan opsi kedua?" Jinyoung menoleh. Menatap tajam pria itu. "Kim Jongin?"


"Untuk apa dia melakukannya padamu? Dia hanya memiliki dendam pada Sohyun."


"Kau hanya punya satu musuh didunia ini. Dan kau jelas tahu siapa dia."


Jinyoung terdiam sejenak, mencoba mencermati perkataan pria tampan itu.


"Sçoleýdæ? Mereka hanya perkumpulan mahluk yang tidak mengerti tentang teknologi dan perusahaan. Kupikir."


"..."


"Pikirannya terlalu kolot sehingga perkembangan zaman saja mereka tidak berniat untuk mengikutinya."


Ong Seungwoo -pria berwajah anjing laut- terkekeh pelan mendengar perkataan Jinyoung yang tengah mengolok-ngolok sekelompok werewolf yang disegani oleh werewolf lainnya.


Ahh pantas saja Sçoleýdæ tidak menyukai keluarga Bae, keturunannya memiliki lidah yang tajam seperti ini. Dan ... Ahhh nanti akan kuberitahu.


"Hyung, bagaimana keadaan ayah dan putri presdir Kim?"


"Kau harus tenang, aku sudah meminta werewolf lainnya untuk menolongnya."


"Apa kau yakin? Mereka, eum maksudku tua bangka Sçoleýdæ tidak akan pernah melepaskan ayah dan aku. Kupikir dia menahan putri presdir hanya untuk memancingku saja."


Seungwoo mengangguk pelan. Ia pun memikirkan hal itu.


Putri presdir Kim adalah emas bagi Sçoleýdæ dan tumbal untuk menarik Jinyoung mendekat. Jika mereka menahan putri Presdir Kim, Seungwoo pikir itu bukan menahan. Toh wanita itu tidak akan mengalami penyiksaan yang di bayangkan.


"Direktur Bae."


Seungwoo dan Jinyoung menolehkan wajahnya, melihat sosok pria yang sejak tadi berbicara dengan seseorang melalui telfon genggam.


Pria itu meletakkan kembali telpon genggam, berdiri mendekati Jinyoung.


"Mereka berhasil membeli satu sub perusahaan di China."


"Apa?"


Jinyoung menggeretakkan giginya. Bisa-bisanya perusahaan sial itu mengambil perusahaannya yang lain. Atas dasar apa mereka merebutnya, bahkan dengan berani membeli dengan harga tinggi.


"Ditektur."


Apa lagi?


Jinyoung menoleh, melihat seorang wanita memberikan kertas bertinta kepadanya. Ia merebutnya kasar, membacanya secara acak.


Tangannya mengepal, meremukkan bagian bawah kertas itu. Seungwoo mengambil ahli kertas itu, tidak memperdulikan Jinyoung yang saat ini mendekati stafnya yang duduk di kursi dengan mata yang terus tertuju pada komputer dihadapannya.


"Naikkan harganya."


Seungwoo menoleh, matanya nyaris keluar karna terkejut. Ia mendekat, menarik pundak Jinyoung agar menatapnya.


Ia terdiam sejenak, mata merah itu berapi-api didalam sana. Hanya Seungwoo yang menyadari kilatan-demi kilatan di mata merah itu. Jinyoung marah, tentu saja. Salah satu perusahaan yang hendak dibelinya menjadi target selanjutnya.


Orang gila mana yang mau membeli perusahaan yang nyaris bangkrut itu dengan harga lebih tinggi dari yang ditawarkan Jinyoung.


"Kau tidak boleh menaikkan harga semudah itu direktur Bae, jangan bertindak gegabah."


"Hyung dia yang memulai duluaan."


Mata merah itu menatapnya nyalang, dan Seungwoo mengerti jika tatapan itu bukan ditujukan pada dirinya.


"Aku tahu, tapi jangan terjebak dalam permainannya. "


"Aku yang akan menjebaknya. Hyung tenang saja."


Jinyoung membalikkan badannya, kembali membicarakan penaikan harga yang dimaksudnya pada dua orang didekatnya.

__ADS_1


Seungwoo mengacak rambut hitamnya frustasi. Jinyoung yang seperti ini tidak bisa dikendalikan, percayalah amarahnya lebih kuat daripada apapun. Meski Sohyun mencoba menghentikannya pria itu tidak akan berhenti.


.


"Naikkan dua kali lipat." titah Woohyun tenang pada sosok di seberang ponsel genggamnya, matanya menatap datar sosok pria yang sedang menyeringai dihadapannya.


.


"Ohhh shitt- sepertinya kau cukup kaya brengsek." Jinyoung tersenyum meremeh melihat layar komputer yang memperlihatkan perusahaan Namwong Grub menaikkan dua kali lipat dari harga pembeliaan.


"Kita beli tiga lipat dari hari harga yang ditawarkannya."


Pemuda yang sejak tadi menuruti perintah atasannya itu tampak ragu. Tiga kali lipat dari harga yang dibeli perusahan Namwong grub.


"Direktur."


"Naikkan saja,"


Pria itu menangguk. Menarikan jari-jarinya diatas keyboard.


.


"Dia menaikkannya menjadi tiga kali lipat. Bagaimana?"


Woohyun bertanya pada Daniel yang masih setia memperhatika Woohyun yang sibuk dengan penelpon.


"Naikkan saja jadi satu kali lipat dari harga yang dia beli. Aku yakin dia akan menaikkannya lebih tinggi."


Daniel meraih gelas wine kosong itu. Menuangkan sendiri wine merah itu sedikit-demi-sedikit.


"Kau hanya perlu menambahnya sedikit, dan biarkan dia menambahnya banyak."


Woohyun mengangguk, kemudian berbicara pada sosok yang menelfonya itu.


.


"Ohh yes good. Kau menurunkannya. Baik kita lihat apa yang kulakukaan."


Jinyoung memperbaiki posisinya berdiri tegap. Memutar wajahnya melihat raut wajah khawatir Seungwoo.


Pria bersurai hitam legam itu menampilkan smirknya. Seungwoo membulatkan matanya, ia mengerti arti senyuman sial itu.


"Tidak Jinyoung. Jangan ambil posisi yang membuatmu bunuh diri."


Jinyoung seolah menulikan telinganya, kepalanya berputar melirik pria yang senantiasa menuruti perkataannya.


Bibir mungil itu bergerak menyebut harga tersebut.


.


Woohyun mengangkat wajahnya. Terlihat dari ekspresinya ia benar-benar terkejut. Seolah nuklir dari korea utara siap-siap diluncurkan.


"Heol, dia hanya menaikkan sedikit dari harga yang kita beli."


"..."


"Sepertinya dia menyadari jika kita bermain-main dengannya."


"Kalau begitu, hilangkan keraguaanya dengan menaikkan harga jadi lima kali lipat."


"Heol, Kang Daniel, itu terlalu mahal jika hanya membeli perusahaan yang bangkrut itu."


Daniel meletakkan kedua sikutnya diatas meja, menopang dagunya dengan kedua punggung tangannya.


"Percayakan padaku presdir Nam. Kau tidak akan kehilangan uangmu."


.


"Sudah hentikan Bae Jinyoung!!!" Seungwoo menarik Jinyoung menjauh dari tempat itu. Menatap tajam Jinyoung yang masih berapi-api.


"Lupakan perusahaan itu, sebaiknya kau pikirkan bagaimana cara membebaskan ayah dan putri Presdir Kim."


Jinyoung terkekeh, tangannya terangkat menarik kerah bajunya sendiri yang terasa sangat menyesakkannya.


"Ini mengasikkan Hyung, mereka semakin menaikkan harganya. Tidak tanggung-tanggung, enam kali lipat.


...kupikir mereka benar-benar menginginkan perusahaan bangkrut itu."


"Dia hanya mempermainkanmu, sudah Bae Jinyoung."


"Tidak akan hyung. Aku akan berhenti setelah ia benr-benar jatuh...


...naikkan menjadi tujuh kali lipat."


"Direktur!"


Tidak hanya satu yang memanggilnya. Ada beberapa. Dari mereka tidak menyetujui ide gila Jinyoung.


Tujuh kali lipat dari harga awal hanya untuk membeli perusahaan bangkrut seperti Xenox.


Jinyoung membalikkan badannya menatap tajam satu persatu pegawainya yang membengkang.


Pria tampan yang duduk disana menjadi sasaran terakhir mendapatkan pandangan membunuh dari Jinyoung.


"Batalkan Kim Jaehwan."


"Mwo?"


Jinyoung menoleh, matanya membulat menatap sosok pria berumur dibelakang Seungwoo.


Sehun mendekati putranya dengan bantuan seorang wanita muda. Wajah tampan itu tidak terlihat tampan akibat bercak merah dan luka membiru disekujur wajahnya.


"Ayah."


Panggil Jinyoung mendekati ayahnya. Mata merah nyalang itu perlahan menghilang berganti warna hitam pekat. Tidak ada lagi kilatan-kilatan api disana.


"Ayah kau tidak apa-apa?"


Jinyoung membantu mendudukkan ayahnya dikursi. Mata hitamnya mengamati penampilan ayahnya tidak bisa dibilang baik-baik saja. Hampir sekujur tubuhnya menerima banyak luka, lengan dan kakinya.Astaga


Apa yang si tua bangka Sçoleýdæ lakukan pada ayahnya. Dan


Jinyoung mengalihkan atensinya menatap wanita yang sejak tadi diabaikan kehadirannya.


Rambut panjangnya itu berantakan, disudut bibirnya robek dan mengeluarkan gumpalan darah.


Errr sepertinya Sçoleýdæ membuang kartu emasnya.


"Kau tidak apa-apa nona Kim?"


Wanita itu menggelengkan kepalanya.


"Aku baik-baik saja. Tapi, paman dia terluka cukup parah."


"Dimana yang lainnya?" tanya Seungwoo. Ia penasaran setengah mati melihat orang yang diminta meloloskan Nona Kim dan presdir Bae tidak memunculkan batang hidungnya.


"Mereka sedang mengulur waktu. Sçoleýdæ tidak akan melepaskan kalian, dan dimana Jeon Somi?"


"Jeon Somi?"


Nona Kim menganggukkan kepalanya.


"Dimana wanita itu?"


"Mungkin dia sedang syuting. Memangnya ada apa?"


"Ohh shiit, seharusnya kau sadar jika dia adalah salah satu anak dari perkumpulan Sçoleýdæ."


"Apa?" kompak Jinyoung dan Seungwoo. Mereka menoleh saling menatap satu sama lain.


Jeon Somi??


Benarkah??


"Direktur Bae."


Jinyoung membalikkan badannya menatap bingun Jaehwan. Ada raut ketakutan yang terpancar diwajah pemilik pipi gembil itu.


Jinyoung mendekat, melihat layar komputer yang menjadi bahan permainannya sejak tadi.


*ohh shitt


Brak


Creeeesss*


Pria bersurai hitam itu tidak peduli lagi dengan tangannya yang berdarah. Tinjuannya tidak main-main, hingga meja yang terbuat dari kaca itu pecah, menjatuhkan komputer yang berada diatasnya.


Sial


Namwoong membatalkan transaksinya dan dirinya menjadi pemenang membeli perusahaan bangkrut dengan harga fantastis.


Seungwoo mendekati Jinyoung. Tak ada yang bisa dilihatnya lagi, komputer yang sejak tadi digunakan untuk bermain itu ikut hancur bersama dengan meja kaca itu.


Sehun memejamkan matanya, ia paham dengan situasi seperti ini.


Dia bangkrut.


Semuanya telah lenyap.


•••


Sohyun meletakkan ponselnya diatas meja. Mendorong kursi rodanya seorang diri untuk mendekati kulkasnya yang berada sedikit jauh dari posisinya.


Beruntung, ia tidak berada dilantai atas, jadi ia sedikit mudah menjangkau dapur meski sedikit kesulitan karna ia menggunakan kursi roda.


Saat berada didepan kulkas, Sohyun segera memhukanya dan mengeluarkan minuman dinginnya, meneguknya pelan, membasahi tenggorokannya yang kering.


*Titt titt tiit


Cleklek*


Sohyun menolehkan wajahnya, mengamati sosok yang membuka pintu apartemennya.


Ia tersenyum lebar ketika melihat pria berjaket demin masuk ke apartemennya. Jinyoung melepaskan sepatunya, meletakkannya di rak sepatu.


"Kau sudah pulang?" tanya Sohyun mendorong kursi rodanya mendekati Jinyoung.


Ia berhenti, netranya menatap lekat sosok berantakan dihadapannya. Rambutnya yang terakhir dilihatnya disisir rapih, kini terlihat berantakan, dan setahu Sohyun, bibir itu terlihat baik-baik saja.


Dan lihat telapak tangannya yang dibungkus rapih dengan perban tebal. Apa yang terjadi pada kekasihnya itu.


"Young-a, ka ─Eummpphh"


Sohyun membulatkan matanya. Benda kenyal itu tanpa permisi menyentuh miliknya. Tubuhnya seakan terkena sengatakan listrik beribu-ribu volt saat belahan benda kenyal itu memagut bibir bawah dan atasnya secara brutal.


Apa yang terjadi padanya


Pertanyaan itu mengelilingi kepala kecilnya saat Jinyoung menciumnya secara brutal, jauh berbeda dari sebelumnya yang penuh dengan kelembutan.


Jinyoung melumat daging tak bertulang itu dengan bergairah menikmati setiap inci bibir manis Sohyun yang menjadi candunya. Melumat, mengigit bibir atas dan bawah seolah itu adalah makanan yang tak boleh disia-siakan.


Tangannya terulur menyentuh pipi gembil Sohyun, menekannya membuat sang empunya membuka sedikit mulutnya. Jinyoung segera menelusupkan lidahnya, mencari sesuatu disana dan diajaknya untuk bertarung.


Sohyun memejamkan mata indahnya dan menikmati sentuhan yang Jinyoung berikan. Sohyun memeluk erat leher panjang Jinyoung, sensasi ini terlalu memabukkannya, sentuhan yang terlalu brutal itu membuat jantung dan darah Sohyun bergerak dengan cepat, naik hingga keubun-ubunnya. Terasa panas, dan meledak-ledak didalam tubuhnya.


Ia membalas pagutan Jinyoung, melumat bibir atas dan bawah itu, mengecap rasa manis dari bibir kekasihnya. Rasa yang selalu dirindukan, rasa yang memabukkannya.


Menekan telengkuk Jinyoung, membuat sang kekasih memperdalam tautannya. Sesekali Sohyun *** surai halus itu, menyalurkan sensasi nikmat yang diterimanya.


"Eungh.."


Sohyun menepuk-nepuk pundak Jinyoung agak keras, encoba menyampaikan kalau ia sangat membutuhkan pasokan oksigen.


Jinyoung melepaskan pagutannya kecewa, menjauhkan wajah 2 cm dari wajah Sohyun. Kelopak mata itu terbuka perlahan, memperilahtkan iris mata hitam gelapnya. Dadanya naik turu cepat, menghirup oksigen dengan rakus.


Mata gelapnya melihat wajah merah padam itu, bahkan hidung mungilnya ikut memerah. Sungguh pemandangan yang indah.


Jinyoung masih ingin mencicipi bibi semanis apel itu, dan membawnya ke tingkat yang lebih tinggi.


Jinyoung mendekatkan lagi bibirnya, melumatnya dengan lembut, tidak sebrutal sebelumnya.


Tangannya yang sejak tadi berada disisi kanan dan kiri Sohyun, menopang tubuhnya yang sedikit membungkuk agar tidak jatuh saat mencumbu benda kenyal itu. Bergerak melingkar dipinggang dan satunya dibawah lutut Sohyun.


Kedua mata Sohyun melebar sebelum akhirnya ia merasa tubuhnya yang rerangakt dari kursi rodanya. Dimana ia berpindah kedalam gendongan Jinyoung.


Wanita itu melingkarkan kedua tangannya pada leher Jinyoung untuk menjaga keseimbangan. Pria itu mengangkatnya sangat ringan dan Jinyoung tidak terlihat kesulitan bahkan pada saat ia mulai melangkah, membawa Sohyun menjauh dari dapur.


.


Jinyoung menurunkan Sohyun diatas king size, membaringkan wanita itu dengan sebelah tangannya menjadi bantalan.


Jinyoung menyentuh wajah Sohyun dengan punggung tangannya yang diperban dan kemudian mencium bibir merah alami wanita itu sebelum nafasnya memburu saat Sohyun membalas ciumannya.


Beberapa detik kemudian Jinyoung melepaskan ciumannya, satu tangannya yang bebas itu bergerak menghelus surai lembut, lalu turun menyentuh pipi gembil itu.


Sohyun memejamkan matanya, sentuhan Jinyoung pada pipinya membuatnya terasa terbakar nikmat. Dadanya naik turun, berpacu cepat dengan debaran jantungnya yang berkerja dua kali lipat.


"So-ya." panggil Jinyoung dengan nada seraknya yang sialnya terdengar sangat seksi ditelinga Sohyun.


Wanita itu membuka kelopak matanya, memperlihatkan iris hitamnya yang siapapun menatapnya akan jatuh cinta padanya.


Cup


Jinyoung mendaratkan bibirnya pada bibir merah alami milik Sohyun, melumatnya dengan lembut. Memiringkan kepalanya ke kanan dan kiri. Mencari posisi yang nyaman untuk menikmati belah bibir mungil itu.


Tangan putih itu bergerak menyentuh pundak lebar milik Jinyoung. Meremasnya pelan. Ciuman Jinyoung benar-benar memabukkannya, entah itu secara brutal atau lembut, Semua terasa memabukkannya. Membuatnya ingin lebih.


Pria itu melepaskan pagutannya secara sepihak, Sohyun menatap Jinyoung kecewa. Ia masih ingin menikmati bibir dan lidah manis milik Jinyoung.


"Maafkan aku."


Kalimat itu membuat kedua alis Sohyun saling bertaut, apa maksud Jinyoung meminta maaf padanya. Pria itu tidak memiliki salah padanya.


"Apa maksudmu Jinyoung-ah?" Tanya Sohyun, tangannya terangkat menyentuh rahang tegas Jinyoung, menghelusnya lembut membuat sang empunya memejamkan matanya.


"Aku ingin kita berhenti sampai disini."


Deg


Sohyun terkejut saat mendengar pemintaan Jinyoung. Mereka baru saja berbaikan, memulai hubungannya dari awal. Lalu apa ini? Pria itu meminta putus?


Jinyoung memperbaiki posisinya duduk di tepi ranjang. Sohyun ikut mendudukkan dirinya, memperhatikan Jinyoung dari arah samping seperti ini.


"Bae Jinyoung."


Tangan Sohyun mencengkram lengan Jinyoung, menuntut pria itu menatapnya dan memberikannya alasan.


Jinyoung menoleh, matanya memerah menahan tangis.


Ia tidak ingin seperti ini, tapi keadaan memaksanya. Air matanya yang sejak tadi mengapung dipelupuknya akhirnya jatuh, membasahi pipi tirusnya.


Sohyun memeluk erat tubuh Jinyoung. Membiarkan kekasihnya menangis di pundaknya.


Hiks


Suara isakan itu terdengar menyakitkan, jauh lebi menyakitkan saat pertama kali Sohyun mendnegarnya dirumah sakit. Sohyun tidak tahu apa yang terjadi pada kekasihnya saat ini, tapi hal ini sepertinya sangat memberatkan Jinyoung. Seolah beberapa beton di lemparkan ke pundak Jinyoung, memaksa pria bersurai hitam itu mengangkatnya.


Sohyun menepuk pundak Jinyoung. Ia hanya bisa diam untuk sementara waktu. Biarkan kekasihnya menangis malam ini dan membuatnya sedikit lega.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Tbc


__ADS_2