Wolf Grey : A Girl Meets Werewolf

Wolf Grey : A Girl Meets Werewolf
17


__ADS_3

A written by shihanssi


Main Cast :


• Bae Jinyoung


• Kim Sohyun


.


.


.


23 Desember 2020


"Ya kupikir begitu."


Wanita cantik itu mengangguk, mata beningnya itu mengamati setiap kata dikertas putihnya, membuka lembaran barunya dan kembali membacanya dengan fokus.


"Bagaimana kau bisa?"


Wanita itu mengangkat wajahnya menatap sosok pemuda tampan dihadapannya. Ia tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.


"Akan ku diskusikan lagi dengan teamku."


"Aku harap kau bisa. Ini akan menjadi drama yang sangat booming nantinya."


"Apakah sebooming Mr. Sunshine?"


Pria tampan itu terkekeh. "Jika kau berhasil mengaet Gong Yoo untuk bermain drama ini."


"Itu tugasmu sutradara Do."


Wanita itu menggelengkan kepalanya pelan, membawa Gong Yoo dalam dramanya sepertinya akan sulit. Pria berumur matang itu sepertinya lebih tertarik dengan film.


Ahhh ngomong-ngomong tentang film, ia jadi ingat dengan film yang beberapa tahun sempat booming.


Wolf Grey


Film itu laku dipasaran dan memenangkan beberapa penghargaan. Mulai saat itu Sohyun menjadi trending topik dengan karyanya yang luar biasa itu, bahkan banyak yang menginginkan musim keduanya.


Sangat disayangkan ending Wolf Grey yang sad ending sesuai keinginan awal. Hyunji meninggal, dan para meninat menginginkan Hyunji berenkernasi menjadi Werewolf.


Ahhh memikirkan tentang Wolf Grey membuat Sohyun kembali mengingat kekasihnya. Bagaimana kabarnya Jinyoung disana?


"Sohyun?!"


"..."


"Sohyun-ssi?"


"So-ya?"


Sohyun mengangkat pandangannya menatap lekat sosok pria dihadapannya. Jantungnya berdebar tidak karuan, ribuan kupu-kupu menggeletiki perutnya saat sebutan itu mengalun jelas ditelinganya.


So-ya


Mata wanita itu berkaca-kaca, menahan tangisnya. Kapan dia dapat mendengarkan seorang yang dicintainya memanggilnya dengan sebutan itu lagi.


Sohyun merindukannya.


Berapa lama lagi bagi dirinya untuk menunggu?


"Hei Kim Sohyun, kau tidak apa-apa? Apa kau memiliki masalah" tanya pria itu menyentuh pundak Sohyun, menepuknya perlahan.


Sohyun hanya menggelengkan kepalanya. Mengangkat padangannya dan tersenyum, mencoba menyembunyikan kesedihannya dibalik senyumnya.


"Aku tidak apa-apa sutradara Do."


Kyung soo tersenyum, "Minumlah dahulu, tenangkan dirimu." Sohyun mengangguk. tangannya meraih gelas bening diatas meja, meneguk cairan berwarna kuning itu untuk melepaskan dahaganya.


"Bagaimana keadaannya? Apa sudah ada perubahan?"


Sohyun menggelengkan kepalanya, "Dia masih disana dengan tenang."


"Kau harus bersabar, dan yakinlah dia akan segera sadar."


Sadar??


Sohyun mengangguk, semoga saja dia segera sadar dari tidur panjangnya.


2 tahun yang lalu


"*Mingyu-ya Jin-hiks-Young-hiks"


Mingyu mendekati Jinyoung yang berbaring di pangkuan Sohyun. Tangannya dengan cekatan mencari denyut nadi pria itu, cukup lama ia merasakan denyut itu sebelum ia berahli mendekatkan telinganya pada dada Jinyoung.


Sementara Sohyun tidak berhenti merapalkan doanya demi keselamatan kekasihnya itu.


"Jantungnya lemah, sebaiknya kita membawanya kerumah sakit sekarang." Mingyu menoleh menatap Sehun, pria berumur 40an itu mengangguk. Beberapa detik kemudian mengubah dirinya menjadi serigala.


"Sohyun-ah bantu aku mengangkatnya."


.


.


Disinilah mereka, tepat di depan ruang operasi. Sohyun terduduk di kursi dengan tangan yang terus bergetar, dan Sehun tidak berhentinya berjalan di depan pintu ruang operasi.


Tap


Tap


Tap


Sehun menoleh saat gendang telinganya mendengar suara langkah kaki mendekat kearahnya.


Wanita cantik bersama seorang pria seumuran dengan Sehun berlari. Air wajahnya terlihat mereka sangat khawatir setelah mendengar kabar jika Jinyoung berada dirumah sakit.


"Sehun-ssi, bagaimana keadaan putramu?"


Sehun menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak tahu, belum ada dokter yang keluar dan memberitahukan kabar tentang putranya didalam.


"Lalu bagaimana dengan Daniel?" Tanya Nona Kim.


Ceklek


Belum sempat Sehun menjawab, pintu ruang operasi itu terbuka. Sosok pria bertubuh tegap keluar dengan baju operasinya.


Sohyun yang sejak tadi diam dan duduk di kursinya pun langsung berdiri, melangkah mendekati Mingyu yang baru saja menyelesaikan operasi kekasihnya.


"Bagaimana keadaannya? Apa dia selamat?"


"Syukurlah dia dapat selamat. Kalian bisa menemuinya setelah dia dipindahkan keruang rawatnya."


.


Musim gugur 2019


Waktu tidak pernah berhenti, bahkan untuk sedetikpun. Ia akan berputar dengan cepat, meninggalkan waktu yang lalu-lalu. Membiarkan masa lalu menjadi masa lalu. Waktu terkadang terasa begitu cepat habis dan terkadang ia melambat.


Tergantung bagaimana kita menggunakan waktu itu, jika saja kau tidak memikirkan tentang waktu, maka waktu akan bergerak dengan cepat, ia tidak ingin membuatmu terlalu lama menikmatinya.


Namun jika kau menggunkannya untuk menunggu. Percayalah waktu dengan sengaja bergerak melambat, ia membuatmu tersiksa, ia membuatmu frustasi karna waktu mempermainkanmu, ia ingin melihatmu menderita karena menunggu.


Apakah menunggu adalah sebuah kesalahan sehingga waktu mempermainkan kita yang tengah menunggu?


Sohyun memutar hour glassnya diatas nakas, ia menghela nafas panjang diruangan dengan setuhan warna putih dan alat-alat kehidupan yang bunyi menggiang diruangan sempit itu.


Uap panas itu mengebur keatas, membuat suhu udara didalam ruangan itu menjadi hangat dan segar.


Wanita bersurai hitam itu tersenyum, tangannya terangkat menyentuh perban tebal yang melilit kepala pria berwajah kecil yang tengah berbaring itu.


"Aku datang lagi Young-a, bagaimana kabarmu sekarang? Apa sudah membaik? Ahhh luka-lukamu sudah mengering bahkan mengilang. Tapi ... kenapa kau belum bangun?"


Sohyun menghela nafas panjang, ia menolehkan kepalanya kearah jendela. Diluar sana bunga sakura sedang menggugurkan kelopanya, membiarkan angin membawa kelopaknya yang berwarna merah muda terbang entah kemana.


Ini adalah musim gugur tahun kedua Jinyoung lewatkan. Pria berwajah kecil itu masih setia dengan tidur panjangnya, sampai ia melewati musim gugur selama dua kali.


"Aku merindukanmu Bae Jinyoung," Sohyun menolehkan pandangannya mengamati keasihnya yang tengah berbaring dengan damainya. Matanya memerah menahan air matanya yang mengapung di kelopak matanya.


Ia memejamkan matanya tiga detik, bersamaan dengan cairan hangat itu meluncur bebas di kedua pipinya. Sohyun tidak sanggup lagi melihat kekasihnya yang terbaring di sana selama ini. Sudah satu tahun yang dihabiskan Jinyoung untuk berbaring diatas ranjang, membiarkan tubuhnya di lekatkan alat aneh.


Selama setahun itu pula Sohyun tidak pernah absen mendatangi kamar inap Jinyoung. Hampir 24 jamnya ia habiskan di rumah sakit, jika Sohyun bisa sedetikpun ia tidak akan meninggalkan kekasihnya. Sohyun ingin terus disini, menunggu kekasihnya sadar.


Wanita bersurai hitam itu menundukkan kepalanya, kedua tangannya menggenggam erat jemari Jinyoung tanpa saluran infus itu. Ia menangis untuk kesekian kalinya, dan menyesali perbuatannya untuk kesekian kalinya. Seandainya saat itu ia tidak memejamkan matanya, hal ini tidak mungkin terjadi, seandainya saat itu ia tidak menyatakan perasaannya pada Daniel hal ini tidak akan pernah terjadi, dan seandainya ... seandainya Sohyun yang meninggal ...


Akan lebih baik jika ia yang berakhir dan Jinyoung yang tetap hidup.


Akan lebih baik jika ...


'aku tidak pernah bertemu denganmu'


hidup Jinyoung pasti akan lebih tenang dan bahagia. Pria itu tidak akan pernah mengalami hal ini.


Tok tok


Sreeekkk


Sohyun mengangkat wajahnya, punggung tangannya dengan sigap menghapus jejak air mata dipipinya. Sohyun tersenyum.


"Oh kau disini rupanya."


Pria jangkung itu melangkah mendekat, kedua tangannya yang sejak tadi dimasukkan disaku jas labnya itu keluar dengan perlahan.


"Bagaimana kondisimu?"


"Aku cukup baik dokter Kim, kau bisa melihat langsung tanpa harus menanyakan hal itu."


Mingyu terkekeh, tangannya terangkat mengusak rambut hitam arang itu.


"Tapi kantung matamu itu memberitahuku kalau kau tidak baik-baik saja."


Plak


Sohyun menyingkirkan tangan kekar Mingyu dari kepalanya. "Aku hanya kurang tidur beberapa hari ini, para sutradara tidak pernah berhenti mendatangiku"


"Memangnya ada masalah apa lagi?" tanya Mingyu penasaran, ia mendekat kearah monitor jantung Jinyoung. Mengamatinya dan menulisnya dalam catatannya.


"Mereka memintaku bekerja sama dengannya. Yang benar saja kami baru saja merampungkan Wolf Grey."


Mingyu membalikkan badannya. Ia tersenyum melihat Sohyun yang saat ini sedang mempoutkan bibirnya dengan imut.


"Tentang Wolf Grey selamat atas kesuksesanmu"


Sohyun hanya menganggukkan kepalanya, ekor matanya mengamati wajah damai Jinyoung sekali lagi.


Jantungnya berdenyut sakit untuk kesekian kalinya.


Seperti ribuan belati ditancapkannya berulang-ulang kali. Menyadarkan dirinya jika semua ini terjadi karna dirinya.


Jinyoung berbaring disana, dan entah kapan dia tersadar.


"Kapan dia akan sadar Mingyu-ya. Aku merindukannya hiks."


Mingyu mendekat, menarik tubuh Sohyun kedalam dekapannya. Membiarkan wajah Sohyun terbenam diperutnya.


Samar-samar Mingyu mendengar suara isakan tangis itu, ia sudah tidak peduli bajunya akan basah karna air mata Sohyun. Toh ini bukan pertama kalinya bagi Sohyun membasahi baju Mingyu.


Selama setahun ini hampir ratusan baju Mingyu menjadi saksi bisu air mata Sohyun.


Ketika wanita itu menyesal, ketika wanita itu merindukan Jinyoung, dan ketika wanita itu mulai putus asa. Mingyu dengan senantiasa memeluk Sohyun dan membiarkan wanita itu menangis dalam pelukannya, menumpahkan air matanya pada baju tak berdosanya.


Hanya ini yang bisa Mingyu lakukan untuk Sohyun. Menenangkannya dan menjadi sandaran wanita itu ketika mulai lelah.


"Bersabarlah, dia akan segera sadar. Kau hanya perlu menunggu sediki lama lagi."


"..."


Mingyu sedikit menjauhkan pelukannya, satu tangannya mengangkat dagu Sohyun, membawa wanita itu untuk menatapnya.


"Disini kau diuji, seberapa lama kau akan bertahan menunggunya, berapa lama kau berada di sisinya disaat keadaannya seperti ini. Karna ──"


──Tuhan ingin melihat kesetiaanmu" ucap Mingyu dan Sohyun secara bersamaan.


Mingyu tersenyum, Sohyun telah menghafal kalimatnya. Ahh tentu saja, selama setahun ini dia terus mengucapkannya untuk menyemangati Sohyun.


"Sudah jangan menangis lagi, bagaimana jika Jinyoung bangun dan melihatmu menangis seperti ini." ucap pria itu sembari menghapus jejak air mata Sohyun dengan ibu jarinya.


"Mingyu-ya."


"Hmm"


"Aku berharap kau menemukan wanita yang sangat baik. Aku tidak ingin kau bertemu dengan wanita yang salah."


"Bagaimana jika kekasihku nanti putrimu bersama Jinyoung. Aku akan mengencaninya, bagaimana?"


Tuk


"Akh── yakkk kenapa kau memukul perutku."


"Lagian kau berbicara sembarang. Lagi pula aku akan menjodohkan putriku dengan manusia. Aku tidak ingin dia sepertiku."


"Bagaimana jika nanti putrimu adalah Werewolf? Kau harus ingat jika Jinyoung adalah Werewolf."


Sohyun memperhatikan Jinyoung yang masih tertidur dengan nyenyak. Ia tersenyum.


"Werewolf mana yang sampai saat ini menjadi pasien. Bukankah Werewolf memiliki kemampuan untuk sembuh lebih cepat"


.


.


Sohyun menghela nafas panjang, dituangkan soju ke gelas kecil dihadapannya. Ia ingin menegaknya sebelum tangan putih mulus menyentuh lengannya, mengambil ahli sojunya.


"Ya Lee Saerom."


Wanita yang dipanggil namanya hanya diam, meletakkan gelas sojunya diatas meja dengan keras.


Tuk


"Yakk neo michyeoseo?"


Wanita berambut panjang nan ikal itu hanya tersenyum mengamati wajah cemberut sahabatnya itu. Ketika tangan Sohyun kembali menuangkan soju ke gelasnya, dan siap untuk meneguknya. Untuk kedua kalinya Saerom merebut gelas itu dan meminumnya sendiri.


Sohyun menghela nafas kesal, ini sudah empat gelas wanita itu merebut minumannya dan tidak membiarkannya untuk minum soju sekalipun.


Dan anehnya wanita itu masih terjaga, kadar kesadarannya masih diatas rata-rata.


"Ada apa huh? Kau ada masalah dengan Felix?"


Saerom hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku hanya tidak ingin menggendongmu ke apartemen lagi. Kau benar-benar berat Kim."


"Dasar kau,"


Saerom tersenyum, tangannya meraih chikin dihadapannya dan menyuapkannya pada Sohyun.


"Makan yang banyak dan istirahat yang banyak. Lihat kantung matamu tebal sekali, eihh kau tidak bermaksud berubah menjadi siluman panda atau mendalami karakter baru untuk membuat kisah baru yang berjudul Siluman Panda---hhmmpp."


Sohyun dengan tidak elitnya memasukkan chikin kedalam mulut Saerom yang terbuka.

__ADS_1


"Kau banyak sekali cerita Lee."


Saerom terdiam, membiarkan mulutnya bekerja untuk mengunyah chikin agar lebih mudah masuk ke perutnya.


Hening, Sohyun terdiam sibuk dengan pikirannya sendiri sementara Saerom masih mengunyah chikinnya.


Suara-suara kendaraan terdengar jelas ditelinga mereka yang sedang menikmati chikin dan soju tenda pinggir jalan.


Jam sudah menunjukkan jam 11 malam namun, keramaian masih saja terlihat ditengah kota yang sedang dilanda hujan salju. Sohyun menarik syal pinknua, menutupinya hingga mulutnya.


Saerom yang memperhatikannya hanya tersenyum. Ia bangun dari duduknya dan menarik tangan Sohyun. Ahhh dia tidak lupa meletakkan selembaran uang diatas meja untuk membayar makanannya.


.


Sepanjang jalan mereka hanya diam, menikmati udara yang dinginnya menusuk hingga ke kulit. Meski mereka berdua mengenakan pakaian yang super tebalnya tetap saja cuaca malam ini sangat dingin.


Berbicara sedikit saja terlihat gumpalan uap keluar dari mulut mereka.


"Ahhh sejuknya" Saerom mengangkat kepalanya, berputar-putar sejenak sembari tangan direntangkan dengan lebar.


Sohyun yang memperhatikan sahabatnya itu menggelengkan kepalanya pelan.


"Dasar bocah." guman Sohyun yang terdengar sangat pelan, nyaris berbisik. Namun sayangnya Saerom mendengar bisikan itu.


Saerom yang mendengar kalimat itu langsung menghentikan kegiatannya. Ia menghalangi jalan Sohyun, membuat Sohyun menghentikan jalannya.


"Apa kau bilang? Coba katakan sekali lagi." Sohyun tertawa pelan, tangannya menggeser tubuh Saerom ke kanan, membuat si pemilik tubuh oleng dan membuka jalan.


"Sebentar lagi natal, apa kau merayakannya?"


"Tentu saja, tapi kali ini aku tidak akan pulang kerumah orang tuaku."


"Kenapa?"


"Aku ingin merayakannya bersamamu disini, seperti tahun lalu. Dirumah sakit."


Sohyun menghentikan langkahnya. Membalikkan badannya menghadap Saerom.


"Kau harus pulang. Paman dan bibi pasti merindukanmu."


"Tidak, lagipula mereka hanya akan pergi kerumah kakek Ahn dan nenek Eun untuk memperingati kematian."


Sohyun terdiam, ia kembali mengingat kedua orang yang menghabiskan masa hidupnya bersama-sama, meninggalpun mereka sama.


Ketika nenek Eun menghembuskan nafasnya yang terakhir, maka disaat itulah kakek Ahn pergi dan meninghembuskan nafas terakhirnya. Siapa yang tahu berselang beberapa menit nenek Eun meninggal kakek Ahn tertabrak mobil.


Sehidup semati


Sohyun iri dengan mereka ── kakek Ahn dan nenek Eun ── mereka tidak membiarkan salah satu dari mereka hidup di dunia seorang diri, dan membiarkannya tersiksa seorang diri.


Menghela nafasnya pelan, seandainya ia juga ikut berbaring seperti Jinyoung. Mungkin ia tidak akan semenderita ini karna merindukannya.


"Sohyun-ah."


Sohyun menolehkan wajahnya, menatap bingung Saerom yang memanggil namanya.


"Apa?"


"Apa yang kau pikirkan?" Wanita itu hanya mengangkat bahunya. Kemudian melangkahkan kakinya berjalan lebih dulu.


"Banyak hal. Saerom-ah menurutmu berapa lama lagi aku harus menunggu Jinyoung?"


"Beberapa hari lagi, saat natal. Dia akan sadar dan itu menjadi hadiah yang terindah yang pernah kau dapatkan."


"Saat natal?"


Saerom menganggukkan kepalanya. "Entah natal tahun ini atau tahun depan. Tetapi alangkah lebih baik jika dia sadar sebelum natal, agar dia bisa merayakannya bersamamu." Sohyun tersenyum.


Membayangkan Jinyoung segera sadar membuat ribuan kupu-kupu berterbangan diperutnya. Rasanya menggelitik hingga dadanya.


Sohyun tidak sabar mendengar suara Jinyoung memanggilnya, memeluk tubuh hangatnya dan


Mengatakan yang selama ini ingin diucapkannya*.


-----oOo-----


Bibb bibb bibb


Terkutuklah bunyi-bunyi mengganggu itu. Sohyun terlalu lelah untuk membuka matanya dan menyapa pagi hari.


Semalam ia menghabiskan waktunya bersama dengan Saerom diapartemennya, menghabiskan beberapa botol soju.


Biibb biib bbiib


Tangan putihnya meraba-raba nakasnya. Mencari benda terkutuk yang telah mengganggu tidurnya.


Biibbb bii──


Sohyun mendudukkan dirinya di kasur nya, mengucek-ucek matanya yang masih terasa sangat berat untuk terbuka.


"Hoaaamm." direnggangkan tangannya keatas, mengumpulkan nyawanya yang beberapa jam berkeliaran entah kemana. Ia bangun, kemudian menggunakan sandal rumahnya sebelum melangkah keluar dari kamarnya.


Berjalan menuju kulkasnya, sepanjang ia melewati ruang menonton, dia tidak berhenti untuk tidak menggelengkan kepalanya.


Bagaimana rumah yang setiap harinya dilihat rapih kini seperti kapal pecah.


Jari lentiknya kemudian membuka lemari pendinginnya, meraih satu botol minuman dan meneguknya cepat. Saat matanya menatap pintu utamanya, kilasan tentang Jinyoung yang datang dan langsung menciumnya pada malam itu.


Sohyun menoleh menatap ruang tamunya, disana saat Jinyoung pertama kalinya berkunjung kerumahnya. Saat pria itu mempercepat jam pertemuannya dengan presdir Bae. Sohyun tersenyum mengingat raut wajah Jinyoung saat itu.


Melangkahkan kakinya kearah balkom rumahnya, tempat ini biasa ia gunakan bersama Jinyoung saat menikmati pamandangan matahari terbenam.


Menumpukkan kedua sikutnya pada dinding balkom. Mengamati sekitarnya, pohon-pohon hijau bergerak bersamaan dengan hembusan angin.


Mengapa kenangan itu tiba-tiba terlintas di kepalanya, membuatnya mengingat semua kenangan manis bersama Jinyoung.


Sohyun menoleh, disana seolah ia melihat dirinya dan Jinyoung. Pria itu memeluknya dengan posesif dari belakang. Tidak pernah berhenti mengecupi pipi chubby Sohyun.


"*Jika kau ditakdirkan hidup kembali kau ingin menjadi apa So-ya?"


"Manusia,"


"Kenapa harus manusia?"


"Karna jika aku menjadi manusia aku bisa bertemu denganmu dan mencintaimu lagi. Seperti saat ini" ucap Sohyun, ibu jarinya menghelus tangan Jinyoung yang melingkar diperutnya.


"Bagaimana denganmu? apa kau akan menjadi werewolf atau manusia?"


Jinyoung tersenyum, ia mendekatkan bibirnya untuk mengecup pipi itu kembali.


"Manusia. Aku ingin hidup normal bersamamu, dan membawamu pada kehidupan yang sangat aman."


"Bukankah jika kau menjadi werewolf kau akan melindungi ku?"


"Menjadi werewolf tidak menyakinkan aku dapat melindungimu, sebaliknya aku membawamu dalam tempat yang sangat berbahaya.


"Kenapa?"


"Because a girl meets werewolf. Kau akan bertemu dengan banyaknya werewolf, entah dia musuhku atau temanku...


... Musuh atau werewolf disekitarku yang akan membuat hidupmu dalam berbahaya*."


Nyatanya bukan musuh yang membuat hidup Sohyun berbahaya. Malahan, orang terdekat Jinyoung, dan sekali lagi Sohyunlah penyebabnya.


.


.


"Lee jakkanim."


"Apa?" tanya Saerom dengan pandangan yang fokus pada makanan dihadapannya.


Tuk


Saerom meletakkan sumpitnya dengan kasar di atas meja. Mata tajamnya menatap Felix, jika saja tatapannya biasa saja melukai maka tubuh Felix penuh dengan syatan akibat tatapan Saerom.


"Sudah kubilang Lee Felix tidak bisa, jika kau tidak percaya tanyakan pada Sutradara...


...anjingmu itu tidak bisa masuk ke lokasi syuting. Jung Chaeyeon alergi dengan bulu anjing. Bahkan dalam radius berapapun dia akan bersin-bersin."


Felix mempoutkan bibirnya dengan gemas. Ini tidak adil, kenapa ia tidak boleh membawa hewan ke lokasi syuting, kenapa pula Chaeyeon harus alergi pada bulu hewan. Dasar.


"Aku hanya menyimpannya di dalam mobil, biarkan aku membawanya oke. Aku tanpa Yogie terasa sangat hampa."


Saerom memutar matanya malas. Ia akan tetap bertahan pada keputusannya untuk melarang Felix membawa anjingnya. Dia melakukan itu demi kepentingan semuanya.


Chaeyeon adalah pemeran utama drama ini, dan dia tidak boleh terluka apa lagi sampai bersin-bersin selama syuting. Saerom tidak ingin membuang waktunya terlalu lama untuk bergelut dengan drama baru ini.


Sohyun yang menjadi penonton hanya bisa tersenyum dan sesekali tertawa pelan memperhatikan perdebatan Felix dan Saerom.


Pria berwajah imut namun memiliki suara yang berat, melawan wanita cantik yang galak.


Astaga lucu sekali.


Felix menoleh menatap Sohyun, ia menggeser sedikit badannya menyentuhkan lengannya pada lengan Sohyun yang berbalut sweter tebal.


"Kim jakkanim." Ucap Felix dengan puppy eyes yang luar biasa menggemaskan.


"Bantu aku untuk membawa Yogie ke lokasi syuting. Berhari-hari tanpanya aku tidak bersemangat. Aku merindukannya."


"Cihh dasar bocah."


"Lee jakkanim, kau tidak pernah merasakan merindukan seseorang diwaktu yang sangat lam-hhmmp."


Saerom segera memasukkan sayuran kedalam mulut Felix guna menghentikan pertkataannya. Ucapannya terlalu sensitif untuk Sohyun.


Sementara wanita yang dimaksud hanya diam, menudnukkan kepalanya mengamati makanan yang ada di hadapannya.


Merindukan seseorang dalam cukup lama? Sohyun merasakannya dan itu menyiksanya, menunggu bertahun-tahun untuk bertemu dan melepaskan kerinduan itu.


Drrrrttt drrrtt


Sohyun menoleh pada benda persegi yang sejak tadi bergetar di samping nampan nya. Ia meraihnya, sebelum mengangkat panggilan itu, kedua alis Sohyun saling bertaut bingung.


Dokter Kim Mingyu is calling


"Halo dokter Kim."


"Oh Sohyun-ah kau dimana?"


"Aku ada di lokasi syuting menemani Saerom. Ada apa?"


"Segeralah kerumah sakit──


Sohyun terdiam, kedua iris matanya bergerak mengamati Felix dan Saerom secara bergantian. Tidak ada alasan Sohyun memandangi keduanya, hanya saja dia ingin. Sementara pria diseberang sana masih menggantung perkataannya membuat Sohyun penasaran.


── Bae Jinyoung ──."


Deg, deg, deg


Jantungnya mulai berpacu dengan cepat. Terlalu cepat sehingga Sohyun merasa sesak, pupilnya bergetar dan memerah. Sesuatu akan keluar beberapa detik lagi.


Tes


Satu tetes cairan hangat nan asin itu keluar, membuat aliran sungai tanpa disuruh. Saerom menggeggam tangan Sohyun, saat ekor matanya melihat butiran air itu. Saat Saerom mendengar dokter kim disebut maka ia sudah menduga jika pembicaraan mereka tidak jauh dari Jinyoung.


Dan, see. Kim Sohyun menangis. Entah karna kabar bahagia atau duka.


Sohyun bangun dari duduknya, menepis tangan Saerom dengan kasar hanya untuk menyambar mantelnya dan tasnya. Sebelum Sohyun benar-benar meninggalkan kantin, tangan Felix lebih dulu mengcekal tangan Sohyun, menahannya untuk tidak pergi sebelum menjelaskan apa yang terjadi.


"Noona."


Nafas Sohyun memburu, pikirannya sudah kacau. Ia ingin segera kembali ke seoul dan bertemu dengan Jinyoung. Namun lagi-lagi tangan Felix mengcengkramnya terlalu kuat membuat Sohyun tak bisa melepaskannya.


Sohyun menyerah, ia menatap Saerom dan Felix secara bergantian dengan air matanya yang kembali turun.


Jantungnya terlalu sakit untuk berdetak cepat, ia tidak suka dimana jantungnya berdetak takut, apa yang didengarnya terlalu menakutkan, Sohyun tidak sanggup jika semua ini bohong.


Kebongongan jika Bae Jinyoung ──


"Jinyoung sudah sadar" ucap Sohyun serak.


.


.


.


Sohyun tidak berhentinya menggigit kukunya sendiri. Terlalu gugup dan takut, gugup karna ia akan bertemu dengan Jinyoung yang setelah dua tahun lamanya ia menunggu ketidakpastian, dan takut jika semua itu hanya omong kosong.


Takut jika semua ini hanya mimpi yang terlalu indah.


Hampir tiga jam Sohyun gelisah didalam mobil. Ia ingin segera bertemu dengan Jinyoungnya saat ini. Tapi waktu seolah dengan sengaja melambat, membiarkannya frustasi didalam mobil.


Ahh sial, seharusnya dia tetap berada dirumahnya. Dia tidak seharusnya menemani Saerom ke lokasi syuting drama untuk mengamati proses syuting.


"Felixie kumohon kasih cepat lagi."


Felix yang tengah mengendarai mobil pun hanya bisa menghela nafas panjang. Mereka berada di tengah-tengah jalanan yang macet, tidak mungkin ia menambah kecepatannya disaat mobil didepannya bergerak dengan lambat.


"Aihh ada apa sih sana."


"Sepertinya terjadi kecelakaan. Kau tenanglah Sohyun,Jinyoung sudah sadar dan kau tidak perlu khawatir lagi." ucap Saerom menggenggam erat tangan sahabatnya. Mencoba sebisa mungkin menenangkan sahabatnya itu.


.


*Tap


Tap


Tap*


Suara sepatunya menggema di lorong rumah sakit. Sohyun tidak peduli jika suara langkahnya mengganggu pasien yang sedang istirahat, yang Sohyun inginkan sekarang adalah bertemu dengan Jinyoung dan memeluk tubuh pria itu.


Ceklek


Tanpa berpikir panjang, jemari Sohyun membuka pintu kamar inap Jinyoung dengan lebar, memperlihatkan sosok pria yang sedang terduduk diatas ranjangnya sambil tersenyum pada sosok pria berumur 50an dan wanita cantik disana.


Jinyoung menoleh menatap Sohyun dengan pandangan yang sulit diartikan. Sohyun tersenyum dengan air matanya yang mengalir.


Mimpi ini terlalu nyata, pria dihadapannya menatapnya, iris hitam yang selama ini dirindukannya akhirnya terlihat. Dan jika ini mimpi, siapapun tolong jangan bangunkan Sohyun, ia tidak ingin mengakhirinya lebih cepat.


Langkah Sohyun terhenti beberapa langkah sebelum ia mendekati ranjang dimana Jinyoung sedang terduduk. Suara berat itu benar-benar menghentikan Sohyun, membuat wanita itu membatu.


"Siapa kau?"


Bagaikan disambar petir di siang bolong. Pertanyaan itu membuat isi kepala Sohyun ngeblank. Pupilnya bergetar, ditatapnya Sehun yang berdiri tidak jauh dari Jinyoung, menuntut penjelasan pada pria berumur 50an itu.


Sehun melangkah mendekati Sohyun yang masih belum mengerti kondisi putranya.


"Kita bicarakan diluar Sohyun-a." ucapnya pelan, tangannya kemudian menarik Sohyun untuk meninggalkan kamar putranya itu.


.


.


"Maafkan aku tapi dia memang amnesia. Aku yang sebagai ayahnya pun tidak diingatnya. Dokter Kim sudah memberitahu ku kemungkinan besar jika Jinyoung akan lupa ingatan."


"Ta──"


Sehun mengangkat pandangannya, dari cangkir porselen di hadapannya berahli menatap lekat Sohyun.

__ADS_1


"Benturan keras pada kecelakaannya dan juga saat dia menyelamatkan mu. Jika kau bertanya mengapa hal itu bisa terjadi."


Sohyun terdiam. Tangannya *** dengan kuat ujung sweter oversized miliknya.


Jinyoung melupakannya, bahkan semua kenangan yang mereka buat selama ini.


Dadanya terasa sakit, dan untuk kesekian kalinya ia merasakan belati ditancapkan di dadanya, menghancurkannya untuk kesekian kalinya.


Semua ini terjadi karena dirinya, dia yang bersalah atas apa yang terjadi pada Jinyoung.


"Sohyun──" Sohyun mengangkat pandangannya, matanya sudah memerah, bibirnya mengatup erat. sebisa mungkin Sohyun tidak menangis.


"Tolong jauhi Jinyoung."


Tes


Waktu seolah berhenti bergerak, merasakan berbagai macam benda tajam menusuk hatinya.


Menjauhi Jinyoung? Untuk apa? Sohyun tidak akan bisa menjauhi pria yang amat dicintainya itu.


"Kumohon Kim Sohyun, dia sudah melupakanmu, untuk apa lagi kau mendekatinya, biarkan dia membuat kenangan yang baru dan hidup dengan normal seperti saat dia belum bertemu denganmu."


"..."


"Jika kau ingin tahu, Jinyoung telah menjadi manusia normal sepertimu. Dan itu lebih rentan baginya untuk mati. Jika dia berada disisimu, hidupnya semakin berbahaya Kim Sohyun."


"Tapi bagaimana bisa?"


*Malam itu


Tubuh Sehun jatuh kelantai saat mata sayunya melihat kondisi putranya yang begitu mengenaskan. Ia sangat hancur melihat putra kebanggaannya terbaring di pangkuan Sohyun dengan detak jantung──.


Pikirannya kacau, matanya bergetar mengamati kondisi putranya.


Astaga mengapa hal ini terjadi kepda putra tercintanya.


Ia terdiam dengan air mata yang mengalir, mengutuk dirinya sendiri yang tidak becus melindungi putra semata wayangnya.


Sehun terdiam, mata merahnya melihat pergelangan tangan yang putranya. Disana, tanda melingakr dengan bentuk didalamnya segitiga sudah menghilang.


Beberapa detik kemudian Sehun menyadari jika putranya adalah manusia*.


Sehun menghirup udara dalam, kemudian dihembuskan.


"Jika kau mencintainya kumohon jauhi dia, dengan begitu kau bisa melindunginya."


Sohyun terdiam, ia menarik nafas dalam seolah permintaan yang Sehun ucapkan adalah hal yang terberat yang pernah ia dengar.


"Aku berharap banyak padamu Kim Sohyun."


Tanpa menatap Sohyun, Sehun tersenyum pahit, mengerti keadaan yang sangat sulit untuk Sohyun. Tapi, Sehun harus memintanya, karna ini demi putranya. Sehun tidak ingin melihat putranya kembali terbaring dan terluka, karena Kim Sohyun.


Dia sudah tak memiliki waktu yang lama lagi untuk hidup bersama putranya. Dan Sehun lebih menyayangi Jinyoung dari apa yang dimilikinya didunia ini.


----oOo----


Malam ini adalah natal, semua warga korea merayakannya dirumah dan berkumpul dengan keluarga mereka. Saling berbagi kehangatan ditengah salju yang turun.


Tapi tidak bagi Sohyun,


Wanita itu kini tengah berdiri didepan rumah sakit dengan paper bag yang dibawanya sejak tadi. Ia terdiam disana, memandangi jendela-jendela yang terdapat dirumah sakit itu.


Entah sudah berapa lama ia berdiri disana, mengulurkan tangannya untuk menangkap kristal yang dingin berjatuhan pada kaos tangan tebalnya.


Sohyun merasakan dejavu malam ini. Pada malam natal beberapa tahun yang lalu ia pernah menangkap butiran salju kemudian bertemu dengan Jinyoung. Sekarang ia menangkapnya lagi dan akan bertemu dengan Jinyoung.


Dia bukannya ingin menentang permintaan Sehun yang memintanya untuk pergi meninggalkan Jinyoung, hanya saja ia baru saja ingin memulainya. Meninggalkannya, namun sebelum itu Sohyun bertemu dengan pria itu, melihatnya untuk terakhir kalinya.


"Sohyun-ah."


Sohyun menoleh dan tersenyum. Di lambaikan tangannya, meminta pria berjas putih itu berlari menghampirinya dengan payung yang melindunginya dari hujan salju.


"Seharusnya kau masuk kenapa malah berdiri disini, dasar bodoh." Ucap Mingyu kesal pada wanita bertubuh mungil disampingnya.


Sohyun mempoutkan bibirnya dengan kedua alis yang saling bertaut. Saat ini ia kesal mendengar pria berkulit tan itu menyebutnya bodoh.


Sohyun sedang marah, tapi percayalah dia malah kelihatan menggemaskan dimata Mingyu.


Pria bertaring itu terkekeh pelan, tangannya mengusak surai hitam arang milik Sohyun.


"Beberapa hari ini kau kemana saja? Bukannya berada disisi Jinyoung."


"Aku ada projek baru." dusta Sohyun ; menutup kebohongan jika ia hanya menghabiskan waktunya di apartemen untuk bersedih.


"Memangnya kau ingin membuat film atau drama?"


"Kupikir drama lebih bagus untuk comeback ku setelah dua tahun istirahat."


Mingyu menutup payungnya dan menggantungkannya di lobi. "Lalu bagaimana kisahnya?"


"Aku belum memikirkan bagaimana jalan ceritanya, masih tahap diskusi."


"Eyyy kau kan penulis, kenapa harus mendiskusikannya. Bukankah ide datang begitu saja."


Sohyun menggelengkan kepalanya pelan. "Mudah saja kau berkata dokter Kim."


Mereka berdua berhenti tepat didepan lift. Jari Mingyu menekan tombol disamping pintu lift kemudian menunggu pintu itu terbuka.


Ekor mata Mingyu menangkap sesuatu yang dibawa Sohyun sejak tadi, ia jadi penasaran apa isinya.


"Apa itu?"


Tinn


Sohyun menoleh sebentar, kemudian melangkahkan kakinya masuk kedalam lift yang kosong itu.


"Ahh sampai lupa, ini buatmu." Sohyun memberikan paper bag kepada Mingyu setelah menyadari sejak tadi si pemilik benda tersebut sudah berada di dekatnya.


Mingyu mengambil ahli paper bag itu dan membukanya. Mengeluarkan sehelai benang halus dan lembut berwarna coklat.


"Kau memberikan ku syal?"


Sohyun menganggukkan kepalanya. " Ini musim dingin, jadi gunakan syal itu jika kau merasa kedinginan." Mingyu menatap Sohyun dengan tatapan bingung. Hei dia werewolf benda seperti ini tidak ada guna baginya, tubuhnya tetap hangat meski dalam cuaca sedingin apapun itu.


Mingyu ingin menolak pemberian Sohyun. Rasanya tidak tepat sekali bagi Werewolf menggunakan syal untuk menghangatkan dirinya, padahal tanpa benda itu ia sudah hangat.


Namun, Mingyu mengurungkan niatnya untuk menolak saat melihat jemari Sohyun yang penuh dengan plaster coklat melilit setiap jarinya. Diperhatikan lagi, syal tersebut dan ia baru menyadari sesuatu ; syal itu bukan untuk dirinya tapi untuk Jinyoung.


Mingyu tahu Sohyun ingin memberikan syal itu kepada Jinyoung, namun rasa takut akan ditolak jauh lebih besar ; Ingat kenyataan bahwa Jinyoung melupakannya.


Ia tersenyum, tidak merasakan sakit sama sekali pada hatinya. Kenyataan jika dirinya hanya sebagai perantara Sohyun memberikan hadiah natal pada Jinyoung.


Tiiing


Keduanya berjalan keluar saat pintu lift terbuka dengan lebar. Melangkahkan kakinya berjalan di lorong menuju ruangan Jinyoung.


Sepanjang perjalanan, keheningan melanda mereka. Suara langkah kaki dan deru nafas mereka yang menjadi pengiring mereka berjalan.


Terlalu sibuk dengan isi pikiran masing-masing.


"Sohyun-ah," Mingyu membuka suara, memecahkan keheningan diantara mereka.


"Ya ada apa?"


"Besok pagi aku akan ke Afganistan dan bekerja disana."


Sohyun menghentikan langkahnya, menghadapkan tubuhnya kehadapan Mingyu. Pria itu hanya tersenyum, tangannya mengusak rambut Sohyun dengan lembut. Melakukan yang selama dua tahun ini dilakukannya.


"Kenapa tiba-tiba?"


"Ini tidak tiba-tiba Sohyun-ah, beberapa bulan yang lalu aku terpilih sebagai relawan disana. Aku ingin memberitahu mu tapi kau sangat sibuk."


Mata Sohyun berair, ia pikir jika ia menjauhi Jinyoung, maka ada Mingyu yang melindunginya dan menemani hari-harinya yang sangat menyiksa. Nyatanya pria itu malah pergi meninggalkannya seorang diri.


Mingyu menarik pinggang Sohyun, membawa wanita itu kedalam dekapannya. "Shuut uljima."


"Hiks kau jahat Kim Mingyu." racau Sohyun, tangannya secara brutal memukul dada bidang Mingyu dan membiarkan air matanya untuk kesekian kalinya membasahi baju pria itu.


"Kau seharusnya tidak pergi kesana, bagaimana jika kau mati terbunuh. Bagai-hiks-mana ji-hiks .... Huwaaaaaa jangan pergi."


Mingyu mengeratkan pelukannya, menggoyangkan tubuh yang dipeluknya ke kanan dan ke kiri. Ia juga tidak ingin pergi ketempat yang berbahaya itu, tapi ini sudah menjadi keputusannya sendiri, setelah Jinyoung sadar maka dia harus pergi meninggalkan Sohyun. Ia tidak ingin terluka semakin jauh dan mengharapkan sesuatu yang tidak bisa ia dapatkan.


Mingyu benar-benar ingin berhenti berharap Sohyun menjadi miliknya.


"Shuutt sudahlah Sohyun-ah. Aku berjanji tidak akan terluka ataupun mati. Kau lupa jika aku adalah werewolf huh?" Mingyu mendorong pelan pundak Sohyun, membiarkan dirinya dapat melihat wajah sembab Sohyun.


"Kau lupa jika Jinyoung juga werewolf? Lihat dia terluka bahkan nyaris mati. Hwwwaa kumohon jangan pergi." Rengek Sohyun, ia kembali mendekat dam memukul pundak Mingyu. Ia benar-benar tidak sanggup jika pria itu akan meninggalkannya.


Dalam diam pria itu meneteskan air matanya. Ia juga tidak sanggup untuk meninggalkan Sohyun disini, tapi dia juga tidak ingin terluka lebih banyak.


"Maafkan aku Sohyun-ah, aku berjanji akan melindungi diriku sendiri."


"Hiks kembalilah dalam keadaan utuh oke." Sohyun mengangkat pandangannya, hidung memerah dan mata berair itu, ohh sungguh Mingyu tidak tahan untuk melihatnya lebih lama.


Mingyu menganggukkan kepalanya, di dorong kepala Sohyun untuk kembali terbenam di dadanya. "Berjanjilah untuk bahagia dan jangan dekati kakakku. Aku mohon, jauhi dia."


Sohyun hanya bisa menganggukkan kepalanya dalam pelukan Mingyu. Ia akan kehilangan sahabatnya, dan kekasihnya.


Tuhan seolah memberikannya balasan yang setimpal dengan apa yang pernah dlakukannya di masalalu. Dan sekarang ia harus menjalaninya meski terasa sangat pahit.


"Mingyu-ya."


"Hmm"


"Gunakan syal itu jika kau pergi oke."


Mingyu melepaskan pelukannya, menundukkan kepalanya untuk menatap Sohyun.


"Bukannya syal ini untuk Jinyoung?"


"Bodoh, jika aku memberikannya padamu maka itu adalah hadiah untukmu. Gunakan saja dan jangan banyak bertanya. Anggap saja itu kenang-kenangan dari sahabat mu ini"


Setelah mengucapkan kalimat itu Sohyun kembali menyembunyikan wajahnya di dada Mingyu. Ia masih ingin memeluk sahabatnya, toh esok ia tidak bisa melakukannya, sampai waktu yang belum ditentukan


.


.


.


Sohyun duduk di kursi dekat ranjang Jinyoung, ia tersenyum saat pria itu menolehkan wajahnya menatap dirinya. Sudah beberapa menit yang lalu Sohyun berada diruang Jinyoung namun pria itu enggan untuk menatapnya, pandangannya hanya fokus pada layar televisi dihadapannya.


"Berhenti memandangi seperti itu, kau membuatku risih."


Sohyun hanya diam, ia mengalihkan pandangannya pada nampan di atas nakas. "Kau belum makan?"


"Apa urusan mu. Kalau mau bertemu ayahku sebaiknya tunggulah diluar Sohyun-ssi," Sohyun tersenyum kecil, hatinya mencelos sakit tapi ini tidak seberapa dengan apa yang dialami Jinyoung.


Tidak peduli pria itu bersikap acuh kepadanya, toh niatnya hanya untuk melihat pria itu sebelum dia benar-benar meninggalkan Jinyoung, membiarkan hidup Jinyoung tenang dan aman.


"Bae Jinyoung-ssi..." Jinyoung menoleh tidak suka. Menatap Sohyun dengan tatapan bertanya 'apa'


"Aku akan keluar dari pintu dan aku berjanji tidak akan pernah masuk lagi ketempat ini."


"Benarkah?"


Sohyun menganggukkan kepalanya. "Asal kau terus tersenyum sampai aku benar-benar keluar dari sana bagaimana?"


Jinyoung terdiam tampak memikirkan permintaan Sohyun. Tidak terlalu sulit pikir Jinyoung. Ia hanya tersenyum, melihat punggung itu benar-benar menghilang dibalik pintu. Oke.


"Baiklah."


Sohyun tersenyum, matanya mulai berkaca-kaca, segera mungkin ia mengalihkan pandangannya, berusaha sebisa mungkin pria itu tidak melihat matanya.


"Baiklah." Sohyun bangun dari duduknya, "Selamat tinggal Bae Jinyoung." ucapnya sebelum ia membalikkan badannya untuk melangkah.


Dengan polosnya Jinyoung mulai tersenyum mengamati kepergian Sohyun yang perlahan mendekati pintu putih itu. Jinyoung yang bodoh itu telah melepaskan orang yang sangat dicintainya dimasa lalu, membiarkan nafasnya pergi entah kemana.


Sohyun berhenti melangkah tepat saat tangannya menyentuh kenop pintu.


Hatinya sakit, ia sudah berusaha untuk menahannya dan tidak terluka. Ini sudah keputusannya, demi melindungi pria ia harus pergi. Sohyun tidak ingin membuat pria itu kembali terluka.


Sohyun membalikkan badannya, ia tersenyum ketika melihat senyum yang kelewat lebar itu hingga kedua matanya menyipit membentuk bulan sabit diperlihatkan kepadanya. Air matanya jatuh tanpa disuruh.


Ia membuka pintu itu buru-buru dan keluar dari sana. Ini sudah akhirnya, mereka berakhir malam ini, 25 desember 2020 dimalam natal. Sohyun meninggalkan Jinyoung.


Setelah pintu kamarnya tertutup rapat, perlahan senyumnya memudar. Jinyoung menyentuh dadanya yang terasa sangat sakit dan sesak. Seperti sesuatu menusuk nya berulang-ulang kali.


Tadi, saat wanita itu menengok. Jinyoung melihat cairan bening itu keluar dari kelopak indah milik Sohyun. Sebelumnya ia tidak merasakan sakit apapun bahkan saat mengusir wanita itu, tetapi saat air mata itu jatuh, jantungnya terasa sangat sakit.


Seolah beberapa nuklir dijatuhkan tepat dijantugnya meremukkannya berkeping-keping.


.


.


Sohyun berlutut di depan rumah sakit, memeluk leututnya sendiri. Ia menangis sejadi-jadinya disana, tidak memperdulikan orang-orang melihatnya yang menangis.


Ia tidak sanggup menerima kenyataan jika semua ini berakhir, kebahagiaan nya bersama Jinyoung sudah sirna, keinginannya untuk hidup bersama sudah hancur.


Ia menjerit sekencang mungkin, memukul dadanya yang sakit. Belati yang tertancap di jantungnya tidak ingin lepas, malah semakin memperdalam, menusuk hingga ke belakang punggungnya.


Jika saja Sohyun bisa memilih, ia akan tetap berada disisi Jiyoung, membantu pria itu untuk pulih.


Namun kenyataan kembali menghantamnya. Mencoba menyadarkan jika Jinyoung seperti ini karna dirinya.


"Sohyun-ah"


Wanita berambut panjang itu segera memeluk tubuh Sohyun, menyembunyikan wajah Sohyun dari jepretan kamera yang sejak tadi mengambil gambar Sohyun, bahkan merekamnya. Sementara Felix berusaha sebisa mungkin menutupi tubuh Sohyun dengan mantel hitamnya.


"Berhenti memotret sialan." teriak Felix menatap tajam beberapa orang yang tak memiliki hati malah mengabadikan hal itu dengan ponselnya.


"Shuut Sohyun-ah tenanglah. Ayo kita pulang. hmm" Saerom menghelus surai hitam Sohyun, merapikan anak rambut yang berjatuhan diwajah Sohyun.


"Appo Saerom-ahh.. Hiks kenapa sesakit ini hiks."


Saerom menyembunyikan wajah Sohyun diceruk lehernya, sesekali tangannya mengehelus pundak wanita itu agar tenang.


Saerom mengerti perasaan Sohyun, dan ia tahu semuanya. Tapi, Saerom tidak bisa mencegah Sohyun, ia hanya bisa mendukung apa yang dipilih dan tetap berada disisi sahabatnya itu. Sehun terlalu kejam pada Sohyun, tidak seharusnya ia egois dengan memisahkan dua orang yang saling mencintai itu.


Diantara orang-orang yang mengamati kejadian itu, ada sepasang mata yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ujung bibirnya terangkat membentuk senyum miring, tangannya terangat mengenakan kaca mata berkaca hitam sebelum ia memutuskan untuk melangkah pergi, ia tidak ingin berlama-lama melihat adegan layaknya drama.


"Well see you again Sohyun-ssi." ucapnya pelan.


-END-


*Finally Wolf Grey ; A Girl Meets Werewolf selesai juga.


Bagaimana dengan endinganya.


ㅋㅋㅋㅋㅋ


Happy endingkan (^.^)(^.^)


Terimakasih untuk kalian yang memberikan vote dan komen untuk book ini. Tanpa kalian book ini tidak akan sampai disini. Terimakasih telah menyempatkan untuk membaca book ini 😢


Dan terimakasih telah mencintai Wolf Grey : A Girl Meets Werewolf.


Salam hangat dari para cast Wolf Grey 😘😘😘


Byeee... Jumpa lagi di series lainnya* 😍😘

__ADS_1


__ADS_2