
"kok kasar sih?" Ica membentak wanita itu dan dengan cepat Ica mengambil tisu membantu Bari mengeringkan bajunya.
Perhatian yang Ica berikan kepada Bari seolah menjadi pisau menancap di hati perempuan itu. Menatap dengan kejam dan emosi yang memuncak. Melemparkan tisu di atas meja mengenai wajah Bari.
"kamu gak tau siapa dia? Dia menelantarkan anaknya dan menjumpai kamu disini? Kamu tau dia selingkuh? kamu tau dia sudah punya anak?" semua ucapan perempuan itu membuat Ica semakin kesal. Namun kekesalan Ica terjawab oleh Bari.
"Mitaa" bentak Bari bangkit dari tempat duduknya.
"kamu ngapain sih?" lanjut Bari
"Jadi ini alasan kamu tidak mengakui bayi itu? kamu punya selingkuhan disini?" Mita masih membentak Bari.
"dia bukan anakku, aku tidak mengenal kalian. Dan aku tidak mengenal Yuna yang kalian maksud." Bari berusaha menjelaskan.
Yoona? Bagaimana bisa Bari mengatakan tidak mengenal Yoona? Bari keterlaluan. Kalau sudah punya anak ya harus bertanggung jawab dong, jangan lari dari tanggung jawab begini. Ica
"tapi kamu Bari ayah bayi itu. Kamu satu-satunya laki-laki yang pernah tidur dengan Yuna. Kamu ayahnya aku yakin itu" Mita mulai membendung air matanya mengingat Yuna yang sudah tiada dan melihat laki-laki ini bersama perempuan lain tanpa tanggung jawab.
"apa buktinya Mita?" Bari mulai membentak Mita karena sudah kepalang malu dengan keadaannya sekarang. Semua orang di rumah makan tersebut mengarahkan pandangan dan perhatian ke mereka bertiga. "Aku gak kenal sama Yuna dan kamu, ibumu, bahkan bayi itu" Lanjut Bari dan mulai terdiam karena malu.
"Bari, ada apa ini?" tanya Ica mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Bari dan Yoona. Bagaimana bisa Bari mengatakan bahwa dia tidak mengenal Yoona?
"aku akan jelaskan nanti Ica" jawab Bari berusaha memberi pengertian pada Ica.
"kamu gak kenal dengan Yoona pacar kamu sendiri? haha aku gak nyangka kamu semunafik ini Bar." Ica mengambil tas dan meninggalkan Bari bersama Mita.
"Mita, bagaimana bisa kamu mengikutiku sampai kesini?"
"aku mengikuti mobil mas Bari dan John. Dan aku melihat mas Bari juga masuk kedalam rumah makan ini"
"tapi kamu tahu kan Yoona yang saya cari itu bukan Yuna yang kalian maksud? kenapa masih mengikutiku kesini?"
"aku mau memastikan dia itu Yuna yang mas Bari maksud, tapi mas Bari gak mau bertanggung jawab"
"Yoonaku yang ini" Bari menunjukkan foto Yoona yang ada di dalam dompetnya "bukan Yuna kalian"
"aku gak yakin mas, makanya Mita mengikuti mas kesini" mulai terdiam "dan mbak yang tadi siapa? kok mas mencari pacar mas Yoona tapi mas juga selingkuh dengan wanita tadi"
"diam Mita, kamu udah mulai gak sopan ya. Aku gak kenal denganmu dan tolongs sekarang kamu sudah bisa pulang" Bari dengan emosi mempersilahkan Mita keluar
__ADS_1
"gak bisa Mas, Mita harus memastikan kalau memang bukan mas Bari ayah bayi itu" Mita berusaha menahan Bari
"lebih baik kita tes DNA supaya semuanya jelas" jawab Bari
Bagaimana kalau memang tidak terbukti kalau dia ayah bayi itu? Siapa ayah Bayi itu? Yuna memang nyusahin aja
Mita terdiam dan menatap mata Bari.
Dengan rasa tidak nyaman Bari mulai membuka pembicaraan lagi.
"saya harus pulang, saya lelah seharian diperjalanan dan tidak ada tidur dari semalam. Mita pulang saja dan jangan mengikuti saya lagi" Bari merapikan bajunya yang masih basah dan meninggalkan bil dengan uang bayaran makanannya.
Tak memikirkan Ica lagi, Bari juga meninggalkan Mita. Masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah makan dengan cepat. Bari pulang ke rumah dengan baju yang masih basah dan wajah yang mengkerut akibat kemarahannya.
Bari tak banyak bicara pada bi Epi dan langsung masuk menuju kamarnya. Di kamar Bari langsung mencari foto Yoona yang sempat dia simpan di dalam laci meja. Mengamati foto itu dan menangis. "kamu dimana sih? apa yg kamu lakukan diluar sana?, kamu dengan siapa sekarang? apa kamu masih hidup?" tangis Bari semakin tersedu-sedu.
Bari meletakkan foto Yoona di samping kanannya dan Bari mulai tidur.
Bari tolong aku
Aku takut
Aku kedinginan
Tangan itu terus bergerak mengarah ingin memegang tangan Bari. Semakin Bari mendekatkan tangannya, semakin tangan itu jauh darinya. Tapi tangan itu bergerak mengarah padanya.
"Yoona, kemarilah mendekat. Jangan tinggalkan aku"
" Yoona, aku sudah lelah dengan semua ini. Jangan pergi lagi aku mohon kepadamu. Pegang tanganku Yoona"
Tangan Yoona selalu bergerak mengarah ke Bari tapi rasanya semakin jauh dan Bari tidak bisa menggapai tangan Yoona. Yoona seperti dibawa oleh angin bersama dengan Bari tapi tak bisa saling bersentuhan .
Bari tolong aku, aku kedinginan dan aku lapar
tolong aku Bari
Bari terbangun dari tidurnya. Melihat jam di tangannya menunjukkan pukul enam sore. Bari belum mandi dan berganti baju sejak kemarin. "Semua hanya mimpi, Yoona dimana?". Bari memasuki kamar mandi dan mulai membersihkan diri.
Selesai membersihkan diri, Bari keluar dari kamar mandi dan "door" suara Ica mengagetkannya yang dari tadi menunggu Bari keluar dari kamar mandi
__ADS_1
"lama banget sih Bari, aku udah nungguin dari tadi " rengek Ica memeluk tubuh Bari yang masih di lembab tanpa sehelai kain pun. Bari mengelus kepala Ica dan mencium keningnya.
"dari mana?" tanya Bari menatap wajah Ica den mencium pipinya.
"adadeh, kamu kepo" jawab Ica tersenyum.
"aku lapar, bi Epi masak apa ya?" Ica mengalihkan pembicaraan.
Bari menarik kaos oblong dari dalam lemari dan mengenakannya. Ica tak henti-hentinya menatap tubuh Bari dari belakang. Mereka keluar dari kamar Bari dan tangan Ica menempel di pinggang Bari. Menikmati makanan yang disediakan oleh Bi Epi dan tidak lupa makan bersama bi Epi.
"malam ini aku nginap ya sayang. Aku lagi malas di rumah" ujar Ica.
"bebas, kamu tidur sama bi Epi ya" jawab Bari berusaha membuat Ica jengkel
"kamar bi Epi sempit, aku mau di kamarmu saja. Kamu tidur di sofa" jawab Ica tertawa
Ica memasuki kamar Bari dan menutup pintu. Beberapa menit kemudian Bari masuk ke dalam kamar dan memeluk Ica yang sedang bermain ponsel di dalam selimut.
"Bari nagapain masuk? kamu tidur di sofa aja di ruang tamu" Ica berusaha melepaskan pelukan Bari yang masih dalam selimut
"ini kamarku, kenapa aku harus tidur di sofa? kamu tuh yg tidur di sofa" jawab Bari semakin mempererat pelukannya
"iihhhh kan aku cewek, gak boleh tidur di sofa" jawab Ica mulai kesal
"kan kamu tamu, kalo gak mau tidur di sofa ya tidur di kamar tamu dong" jawab Bari lagi melawan Ica
Keduanya berhenti berdebat dan Bari melepaskan pelukannya dari Ica. Ada suara mengetuk pintu kamar Bari. Sekali ketuk , Bari mengabaikan. Ketukan kedua. "iya bi, bentar lagi tidur" jawab Bari. Memang sudah kebiasaan bi Epi mengetuk pintu kamar Bari untuk memastikan Bari sudah tidur. Bi Epi memang sudah sangat sayang dengan Bari bahkan pola tidru Bari juga sangat di perhatikan oleh Bi Epi.
Tapi bi Epi biasanya hanya mengetuknya sekali aatau dua kali saja. Kalau Bari masih menyahut dari dalam kamar, Bi Epi akan bilang "jangan kemalaman tidurnya ya nak, besok telat kerjanya"
Namun kali ini bi Epi tidak mengatakan apapun dan melanjutkan ketukan ke tiga, empat, dan lima kali.
Bari bangkit dari tempat tidur, membukakan pintu. "ada apa bi?" tanya Bari
Bari terdiam dan menatap wanita yang ada di hadapannya ini. Wajahnya berbeda. Dia bukan bi Epi. Bari pernah beberapa kali melihatnya.
"kamu ngapain kesini?" tanya Bari
...BERSAMBUNG...
__ADS_1