
"Aku tunggu di depan di cafe Ibnu ya" pesan singkat di hp Bari dari Ica.
Benar saja seperti perkiraan, Bari setelah menyelesaikan pekerjaannya, mulai melamun lagi dan memandangi foto Yoona di tangannya. Bari sibuk dengan pikirannya yang entah kemana mencari keberadaan Yoona. Bari menyandarkan punggungnya ke tempat duduk. Memejamkan matanya dan sedikit menikmati musik. Sayu sayu mata Bari semakin memejam dan masuk ke alam mimpi. Yaps, Bari tertidur.
Waktu menunjukkan pukul setengah sembilan malam, Bari menggeliat sedikit terbangun dari tidurnya. Memijit sedikit lehernya yang tegang akibat tersandar di kursi. Bari belum menyadari berapa lama dia tertidur. Bari melihat kembali foto Yoona yang masih dia genggam sedari tadi. "Apa kamu gak tau kalau aku rindu? Apa kamu baik-baik saja sekarang?" Suara Bari sedikit parau. Bari kembali meletakkan foto Yoona di meja kerjanya. Bersiap untuk pulang, Bari tahu ini sudah malam. Tapi tidak menyadari jam menunjukkan pukul berapa. Seharusnya Bari sudah pulang dari kantor pukul 5 tadi, tapi karena kepikiran dengan Yoona dan tertidur. Bari menyalakan hpnya dan mematikan musik yang setia menemaninya selama tidur. Bari terfokus pada Hp nya. Menggemparkan keadaan Bari yang semakin hari semakin memburuk. Menggeser-geser ke bawah dan melihat semua isi pesan di Hpnya.
29 panggilan tak terjawab dari Ica, 5 panggilan tak terjawab dari nomor tidak dikenal, dua nomor yang berbeda. yang satu 3 panggilan dan nomor lainnya 2 panggilan.
Bari menatap jam di layar hp nya, 20.45 WIB.
Bari bingung harus melakukan apa sekarang. Bari pertama menelepon nomor yang tidak dia kenal tersebut. Dua nomor bergantian. Bari tidak menghiraukan pesan dari Ica yang sudah puluhan di kolom chat.
Bari berharap bahwa yang meneleponnya tersebut adalah orang yang akan memberitahu kondisi atau keadaan Yoona sekarang.
"Maaf pak, saya pikir tadi teman saya yang menelepon, makanya saya telepon balik" jawab Bari kecewa. Nomor yang pertama ternyata orang yang menawarkan pinjaman online.
Bari beralih ke nomor yang kedua, berdering tapi tidak diangkat. Bari mencoba menelepon lagi untuk ke tiga kalinya. Setelah beberapa detik menunggu, terdengar suara seorang perempuan.
"Nak Bari ya?"
"Iya Bu, ini siapa ya?" jawab Bari sedikit berhati-hati dengan penipuan.
"Saya Maya, ibu pengganti Almarhum Yuna" terdengar suara bu Maya pelan dan terdengar pula tangis Bu Maya.
Bari tidak mengatakan apapun dan dia meletakkan HP nya di meja. Bari terduduk lagi di kursi. Masih sedikit sadar, Bari mendengar suara bu Maya di telepon memanggil namanya.
Bari mendekatkan hp nya ke telinga. "Nak Bari boleh datang ke rumah, di jalan pembangunan kampung Marasuk nomor 33. Maaf ibu baru mengabari nak Bari sekarang". Telepon di matikan oleh bu Maya.
Seolah malam sudah menghantarkan Bari ke alam yang berbeda. Bari menangis dan memukul meja di depannya. "Kenapa kamu tega Yoon? Kenapa?" Bari berteriak hingga suaranya memenuhi ruangan.
John masuk ke ruang kerja Bari tanpa mengetuk pintu. "Lo kenapa Bar?" tanya John sedikit berteriak mengagetkan Bari.
"Yoona ninggalin gue John. Yoona sudah tiada"
__ADS_1
"Lo dapat kabar dari mana?"
"Ibunya nelpon gue tadi"
"Jadi gimana sekarang?"
"John, antar gue ke tempat Yoona. Gue gak sanggup bawa motor John."
"Oke, gue ambil kunci bentar ya Bar". John bergegas sedikit berlari meninggalkan Bari yang mengikutinya dari belakang.
*****
Bagaimana bisa kamu ninggalin aku sendirian di dunia ini Yoon? Bagaimana bisa kamu setega ini? Aku harus bagaimana Yoon? Pikiran Bari membawanya melesat di perjalanan. John tetap fokus pada setir mobil dan jalanan yang mulai sepi dimalam hari. Untung tidak begitu macet sehingga tidak memakan waktu terlalu lama di perjalanan.
"Kita sudah sampai Bar, benar ini kampung Yoona?"
"Sepertinya iya John. Jalan Pembangunan kampung Marasuk. Kita cari nomor 33 ya John" jawab Bari.
Tapi nomor rumah disini tidak beraturan, sehingga mereka sedikit kesulitan mencari rumah Yoona.
"iya nak?" jawab seorang bapak yang mereka temui di pinggir jalan. Tanpa pikir panjang, John keluar dari mobil dan bertanya dengan sopan kepada bapak tersebut.
"benar ini kampung Marasuk pak?"
"iya nak, benar"
"kalau rumah nomor 33 dimana ya pak?"
"Oh rumah Bu Maya ya nak?"
"iya pak" jawab Bari yang juga turun dari dalam mobil.
"kalian lurus aja nak, nanti ada rumah warna biru pagar coklat. Itu rumahnya. gak terlalu jauh lagi kok nak."
__ADS_1
"makasih banyak ya pak" Bari dan John mengucap terimakasih bersamaan.
Mereka fokus kembali ke setiap rumah dan pada akhirnya menemukan rumah nomor 33. Bari turun dari mobil dan disusul oleh John. Bari menekan bel di pagar beberapa kali. Tapi tidak ada tanda-tanda orang akan keluar rumah. Tampak dari luar, rumah ini sangatlah mewah. Dua ekor anjing menggonggong dari halaman depan melihat Bari dan John. Sangat ganas, tapi Bari dan John tidak terlalu takut karena pagar masih terkunci. Bari dan John menatap ke sekeliling rumah, hanya ruang depan yang lampunya masih menyala.
Beberapa menit mereka menunggu, Bari teringat dengan hpnya. Dia melihat jam menunjukkan pukul 02.23 WIB.
"Apa semua orang tidur ya John? Gak sadar ini sudah jam berapa." Ucap Bari sambil menekan tombol icon panggil di hp nya. Bari menelepon nomor bu Maya.
"maaf Bu, ini Bari. Bari berada di depan rumah ibu".
"sebentar ya nak, nanti masuk saja ya"
Seorang gadis keluar rumah membukakan pagar rumah. "Mas Bari ya? silahkan masuk mas." tanpa basa basi Mita mempersilahkan Bari dan John masuk ke rumah.
"Bu Maya mana" tanya Bari setelah mereka di persilahkan duduk di sofa ruang tamu.
"mamah gak di rumah mas, mamah di rumah nenek tidur malam ini. Mamah baru pulang nanti pagi".
"mas mau minum apa?" tanya Mita
"apa aja, mbak" jawab Bari.
Kecurigaan di kening John terbaca oleh Bari. Setelah Mita meninggalkan mereka berdua. John mulai membuka mulutnya. "bener gak sih ini?" tanya John.
Benar saja, mereka bingung dengan keadaan yang mereka hadapi. Bari hanya tertunduk dan terdiam.
"Mamah gak tau kalau mas Bari akan datang malam ini juga, karena tadi mamah nelpon mas itumamah masih di rumah. Mamah disuruh ke rumah nenek karena nenek sedang sakit. Baru jam sebelas tadi mamah ke rumah nenek" ucap Mita memberikan teh.
"oh iya gapapa mbak" jawab Bari
"nanti mas berdua tidur di kamar tamu aja dulu, gapapa kan mas?" tanya Mita.
"boleh mbak" jawab Bari
__ADS_1
Mereka berdua diantar Mita dan seorang lelaki gagah mengikuti dari belakang. Lelaki itu membukakan pintu kamar dan mempersilahkan mereka masuk. "Nanti kalau ada apa-apa, panggil Godek saja bang" ucap lelaki itu sambil menutup kamar.
...BERSAMBUNG...