
Bari membuka satu persatu kotak yang ada di hadapannya. Mulai dari kotak paling atas sampai pada kotak paling bawah. Jumlahnya sekitar 35 kotak dengan ukuran berbeda-beda. Beberapa kotak adalah kardus dan beberapa berbahan plastik. Setiap kotak ditutup rapat dengan beberapa bagian selotip. Sangat rapat hingga udara sedikitpun tidak bisa masuk.
Dari kotak pertama, Bari merasa cemas karena tidak ada tanda-tanda keberadaan benda yang di carinya. Bari mulai kelelahan harus membuka setiap kotak. Sudah 24 kotak yang terbuka, tapi tetap saja tidak ada. Bari mengambil nafas sedikit, beristirahat dan beranjak ke dapur. Mengambil botol yang berisi air putih di kulkas dan menuangkannya ke gelas diatas meja. Meneguknya dan duduk di kursi.
Bari mendongak ke arah orang yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Bari hampir menyemburkan air yang belum sempat ditelannya tadi ke wajah perempuan itu dan untungnya dia dengan sigap menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan pelan-pelan menelan air tersebut.
"Ada apa tiba-tiba kemari?" tanya Bari
Perempuan di depannya diam tanpa ekspresi, duduk di kursi samping Bari dan melipat kedua tangannya diatas meja. Perempuan itu menundukkan kepala diatas tangannya. Hening
Beberapa saat Bari bercengkrama dalam pikirannya sendiri, melihat gadis ini dengan tatapan bingung. Bari tidak bicara apapun. Lima menit telah berlalu dan gadis itu mengangkat kepalanya. Melihat ke arah Baru yang sedaritadi memandangnya dengan wajah muram. Gadis itu diam.
Keheningan di ruangan ini tiba-tiba pecah karena suara gadis itu, Menangis sangat keras. Berteriak seperti orang kesurupan saja. Tangannya memukul lengan Bari, sangat keras dan Bari hanya terdiam tanpa ekspresi.
Hal semacam ini sudah sering terjadi pada Bari, Bari sudah paham dengan sikap gadis di depannya ini. Bari berdiri dari tempat duduknya mengulurkan kedua tangannya dan diam menunggu tindakan dari gadis itu. Gadis itu mengikutinya berdiri dan meletakkan tubuhnya dipelukan Bari. Dia membenamkan wajahnya tepat di dada Bari yang bidang. Dia tidak berhenti menangis. Air matanya terus membasahi pipi dan dada Bari.
Bari memeluknya dengan lembut dan sesekali mengusap kepala gadis itu dengan tangannya, seperti menenangkannya. Bari tidak bertanya apa-apa lagi. Dia hanya perlu menunggu sampai gadis itu berhenti menangis di pelukannya. Bari sesekali mencium kening gadis itu dan mengusap punggung gadis itu.
__ADS_1
Bari tetap menunggu dan beberapa menit kemudian, gadis itu sudah berhenti menangis. Dia menggeser tubuhnya dari Bari. Dia duduk dan diam kembali. Bari mengambil minum dan memberikannya pad gadis itu. Bari sudah tahu kalau gadis di depannya ini sudah mulai tenang dan siap untuk cerita.
Gadis itu minum hingga gelas kedua, seperti orang yang sudah berhari-hari tidak minum. Diam beberapa detik dan mulai bicara.
"Aku melihatnya dengan wanita itu lagi" Sambil menggosokkan kuku telunjuk kanannya ke kuku ibu jarinya. " Dia menggandeng wanita itu dan masuk ke mall, dia tersenyum sangat senang dengan wanita itu" Sambungnya lagi. Sementara Bari terdiam dan tidak bisa bicara apapun di hadapan gadis ini.
"Apa aku minta putus saja?" tanya gadis itu " Aku lelah dengan semua permainan ini. Aku hanya akan menyakiti diriku sendiri kalau aku bertahan dengannya"
"Putuskan saja" hanya itu yang keluar dari mulut Bari.
Mereka diam dan saling bertatapan. Gadis itu memegang tangan baru dengan kedua tangannya. Dia menggenggam jari-jari Bari yang hampir dua kali lipat besarnya dari jari-jarinya. Dia menatap bola mata Bari yang menatapnya juga. Mata gadis itu masih menyisakan air mata dan beberapa garis air di pipinya. Gadis itu seperti mengisyaratkan supaya Bari tidak akan menyakitinya seperti lelaki yang ditemuinya itu. Dia berharap banyak pada Bari.
"Ada di kamar" jawab Bari.
Gadis itu melepaskan genggamannya, yang artinya memperbolehkan Bari untuk mengambil HPnya. Bari beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamar.
Mengambil HPnya yang terletak diatas tempat tidur dan memeriksanya. Ternyata ada 5 panggilan tak terjawab dan beberapa pesan masuk. Dia menghiraukannya dan kembali ke tempat gadis itu ditinggalkannya.
__ADS_1
Tanpa basa basi, gadis itu membuka HP Bari. Dia tau password HP Bari dan tau pola privasi WA Bari. Tapi bukan itu yang aku dia buka. Gadis itu menekan aplikasi pesan antar makanan, memilih beberapa makanan dan minuman. Totalnya 7 porsi makanan dan 3 minuman dengan menu yang berbeda-beda, dia menekan pesan. Gadis itu meletakkan HP Bari diatas meja dan beranjak dari tempat duduknya. Dia menuju kamar Bari. Dia tidak perduli dengan kondisi kamar Bari yang berantakan dengan kotak yang berserakan, dia berbaring di tempat tidur Bari.
Bari mengambil HPnya dan mengikuti gadis itu ke kamarnya, meletakkan HP itu di atas meja dan memasang musik kesukaan gadis itu. Bari mengatur volume dan memasangkan dengan speaker bluetooth. Suaranya yang dikeluarkan speaker memenuhi kamar Bari yang tidak cukup luas, 6×10m.
Bari keluar dan meninggalkan gadis itu dikamarnya sendirian. Bari menuju teras depan dan duduk diatas kursi. Dia meminum jus Alpukat yang diberikan bi Epi. Bari memandangi halaman depan dan melihat ayunan tua yang digantungkan di samping pohon mangga. Tidak jauh dari teras depan. Bari mengambil jusnya dan menghampiri ayunan itu. Bari duduk diatas ayunan itu dan memejamkan matanya. Jus ditangannya dia pegang read dan menggoyangkan kakinya pelan pelan ke tanah. Bari meminum jus sesekali dan memejamkan matanya.
Tidak lama setelah itu, terdengar suara laki-laki di depan gerbang, "pesan antar makanan" laki-laki itu sedikit meninggikan suaranya. Bari menghampiri arah suara itu dan membuka gerbang.
"Pesan antar makanan atas nama mas Bari" kata laki-laki itu.
Bari terdiam sejenak dan mengingat kembali, pasti gadis itu yang memesannya. "Berapa semuanya mas?" tanya Bari. "Totalnya Rp.473.000 mas" jawab di pengantar makanan.
Bari meraba kantong celananya dan membuka dompetnya. Bari memberikan uang seratusan 5 lembar, dan mengatakan kembaliannya buat mas aja. Bari berterimakasih sama halnya si pengantar makanan. Bari menutup gerbang dan berjalan membawa pesanan menuju kamarnya.
Di ruang tamu, Bari melihat bi Epi sedang duduk di lantai dan menonton TV. Bari tidak menggubris bi Epi, dan Bari menaiki tangga menuju kamarnya. Musik yang dia pasang tadi sudah berganti namun genrenya masih tetap sama, lagu rock. Volumenya juga sama tidak berkurang, full volume hingga terdengar ke ruang tamu.
Bari membuka pintu kamar tanpa mengetuk. Dia meletakkan makanan dan minuman di atas meja kecil di dekat jendela kamarnya. Dia berjalan mendekati gadis yang masih tengkurap di tempat tidur itu. Tanpa memanggil, dia langsung duduk di samping gadis itu. Dia seperti mengerti betapa menyedihkannya gadis ini. Bari mengelus rambut gadis itu dan sedikit menunduk. Dia mengarahkan wajahnya ke wajah gadis itu. Dia mencium keningnya beberapa kali. "Ayok makan".
__ADS_1
Gadis itu membuka mata dan langsung bangun, dia mengusap wajahnya sendiri dan menyeka sisa air matanya. Gadis itu berjalan ke sofa dan duduk. Dia segera membongkar pesanannya. Dia makan dan minum. Tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Bari. Bari duduk di sampingnya dan menatapnya dengan sedikit tersenyum. Dia tahu betul kalau gadis di sampingnya itu lagi galau dan kebiasaannya begini. Dia makan dengan lahap seperti orang baru keluar dari penjara tidak pernah makan enak.
...BERSAMBUNG...