
Bari dan Ica kerap dianggap kakak beradik oleh keluarga mereka. Bahkan Bari dan Ica sudah tau betul kebaikan dan keburukan masing-masing.
Tapi dalam sebuah hubungan persahabatan, yakinkah kalian bahwa diantara mereka tidak ada rasa melebihi rasa persahabatan? Akusih gak yakin ya, karna aku juga sering dengar yang namanya tidak ada persahabatan murni antara cewek dan cowok. Itu yang masih kupegang didalam otakku hingga sekarang.
Persahabatan Bari dan Ica juga sering dianggap beda oleh teman-temannya, mereka sering dikatai pacaran, bahkan parahnya lagi, teman sepermainan mereka si Joko pernah bilang kalau Bari dan Ica sudah melakukan adegan dewasa. Tentu saja Bari tidak terima dengan pernyataan itu dan langsung melayangkan tangan kirinya ke wajah tampan Joko. Bari bukan marah karena dia di cap tidak baik oleh Joko, tapi lebih tepatnya membela harga diri Ica sebagai sahabatnya.
Bari memang anak yang pandai, dan mudah bergaul. Tapi dalam pergaulannya dia sering menjadi teman yang dianggap ATM berjalan dan bagi beberapa cewek, Bari adalah konsumsi publik dari ketampanan dan postur tubuh yang perfect. Jadi, Bari bersikap dingin kepada semua orang semenjak dia berusia 15 tahun, kelas 3 SMP. Masa itu Bari semakin dituntut untuk bersikap dewasa dan harus menjadi seorang abang bagi seorang Ica yang kehilangan kasih sayang seorang abang semenjak usia 5 tahun.
****
"Bari, gua kangen" pesan singkat dari Yoona yang membuat Bari mengerti apa yang harus dia lakukan.
Bari segera mandi dan berpakaian seadanya. Kaos oblong hitam dan celana hitam. Menyisir rambut dan menyemprotkan sedikit pewangi di daerah leher . Bari bergegas menaiki motor dan tidak lupa membawa dua helm. Berangkat dengan wajah memerah tersenyum seperti sedang jatuh cinta. Benar saja, Bari selalu jatuh cinta setiap hari pada Yoona. Cewek cantik tiada duanya dimata Bari
Angin malam semakin menusuk hingga ke paru-paru, Bari mengenakan jaket hitamnya. Bari bergegas menuju rumah kos Yoona. Tidak perlu menunggu lama setelah Bari mengabari bahwa dia sudah di depan gerbang, Yoona langsung turun dengan penampilan ala anak kos. Memakai baju kaos oblong biru dongker, celana jeans pendek diatas lutut dan sendal hitamnya. Rambutnya digerai saja karena belum terlalu kering sehabis keramas tadi sore.
Yoona menaiki motor Bari dan memakai helm di kepalanya. Mereka melesat melewati berbagai macam adanya di pinggir jalan.
Perlahan Yoona memeluk Bari dari belakang. Paham akan keadaan, tangan kiri Bari memegang tangan Yoona yang melingkar di perutnya.
"Ada apa?" Bari mengerti dengan sikap tidak biasanya Yoona yang sudah biasa.
"Sera ingin menikah" Jawab Yoona pelan, tapi masih terdengar oleh Bari yang memakai helm.
Mereka menuju taman tidak jauh dari rumah Yoona. Tempat mereka biasanya makan sate Padang. Bari memarkirkan motornya tidak jauh dari gerobak sate. Mereka duduk dan memesan.
__ADS_1
"Kalau itu sudah keputusannya, tidak masalah bukan?' Ucap bari melanjutkan pembahasan mereka tentang Sera yang akan menikah.
Yoona terdiam sebentar dan menatap Bari sangat dalam, sangat fokus di mata Bari.
"Apa kamu gak paham denganku?" Sambil memalingkan matanya ke lengan kanan Bari.
"Dia adikku, 5 tahun dibawahku" lanjut Yoona.
Banyak pertimbangan di kepala Yoona kalau Sera menikah.
"Sedangkan aku? Belum tahu siapa yang akan jadi jodohku. Belum tahu siapa yang akan serius menikahiku" Dengan suara sedikit parau, Yoona menyeka air mata di pipinya yang mengalir tanpa dia sadari.
Jelas dalam hati Bari menyakitkan. Apakah ini salahku? Apakah aku kurang serius dalam menjalin hubungan ini? Apakah aku terlalu fokus dalam karirku? Bahkan gadis yang dihadapanku sekarang seperti meragukan hubungan kami.
"Bisakah aku memohon padamu?" Terdengar cetus di telinga Yoona.
"Apa kamu akan memohon padaku untuk bersabar lagi?" Jawab Yoona kesal. "Sudah berapa lama aku bersabar?" Lanjut Yoona sedikit membentak Bari.
"Tenangkan dulu pikiranmu" Bari menyodorkan air mineral ke depan Yoona. Kita bicara dengan kepala dingin.
Yoona minum dan pesanan mereka sedia di meja. "Bang, boleh tambahin cabenya?" Ucap Yoona ke tukang sate. Yoona memang terbiasa dengan dengan sate pedas ketika dia merasa kesal, marah dan sedih.
"Jangan terlalu banyak perhatikan juga lambungmu,secukupnya saja" saran Bari karena melihat Yoona Yangs sembarang menyendok cabe ke satenya.
Tanpa memperdulikan Baru, Yoona menyantap satenya.
__ADS_1
"Besok aku harus kerja jam 8" Kata Yoona sambil mengeluarkan uang di dompetnya. Dua lembar seharga sepuluh ribuan. Bari mengangguk dan mengeluarkan uangnya juga dari dompetnya. Yang artinya Yoona ingin segera pulang. Mereka memang pacaran tapi tetap saja terbiasa dengan bayar makanan masing-masing. Kalau sekali Baru membayari makan, Yoona akan menggantikannya saat makan berikutnya atau kalau Bari membayari makan, Yoona akan membayari minumnya.
Mereka berangkat meninggalkan taman. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari kedua manusia ini. Rasanya jalanan ini sepi walau suara kendaraan yang bising memenuhi setiap sudut bangun di kota ini.
"Istirahatlah" Kata Bari dan bergegas pergi setelah melihat Yoona masuk kedalam kamar kosnya.
Pesan masuk di hp Yoona menandakan Bari surga tiba di rumah, dan benar saja pesan itu berisi " aku sudah tiba di rumah. Jangan lupa panaskan susu dan istirahatlah. Tapi cuci muka dulu ya sayang"
"Iya" Balas Yoona singkat. Sudah kebiasaan Yoona untuk memanaskan susu dan akan meminumnya sebelum dia tidur.
Melihat balasan singkat dari Yoona, dia tau kalau Yoona sedang marah besar dan ingin sendiri. Bari menyetel alarm di Hp nya jam 5.30 untuk membangunkan Yoona. Biasanya Yoona akan ditelpon Bari jam 5.30 supaya tidak telat berangkat kerja. Yoona yang kerja, Bari yang jadi alarmnya. Uhh sweetnya....
Bari bergegas memasuki kamarnya, dan benar saja kata bi Epi kalau Ica tidak keluar dari kamar sama sekali. Bahkan musik yang terpasang dari siang pun tidak dimatikan. Bari memeluk Ica yang terbaring di tempat tidur. "Udah makan?" tanya Bari pelan di telinga Ica.
Ica tersentak sedikit dan melihat Bari yang memeluknya. "Sejak kapan kamu datang?" tanya Ica dan berbalik menghadap ke Bari, mengangkat tangan Bari dari tubuhnya, perlahan dan menjatuhkannya di tempat tidur.
"Baru saja. Kamu sudah makan?" Tanya Bari lagi.
"Belum, bi Epi masak apa?" Ica turun dari tempat tidur dan menuju pintu keluar. Ica mengikat rambutnya tinggi dan sedikit memperhatikan wajahnya di cermin disamping pintu.
"Rendang, ayok makan" Bari juga merapikan sedikit rambutnya. Dia menggenggam tangan Ica dan menariknya keluar kamar. Mereka menuju ruang makan dan menyantap makanan yang di sediakan bi Epi. Tak lupa juga mengajak bi Epi makan bersama mereka. Seperti keluarga harmonis satu ibu dua anak.
...Dalam kehidupan ini, keluarga yang sebenarnya adalah mereka yang menerima kita dengan penuh kasih sayang. Bahkan keluarga yang sedarahpun belum tentu kita mendapati makna keluarga yang sesungguhnya....
...BERSAMBUNG...
__ADS_1