
Yura Sabina,
Seorang penulis lepas dengan segudang kecerobohannya. Gadis berusia 22 tahun ini seolah
punya energi lebih di setiap kesehariannya. Terlahir sebagai putri bungsu dari
keluarga yang berkecukupan tidak menjadikannya sosok yang manja dan sombong.
Berbekal restu dari orang tua dan sedikit uang di tabungan yang ia kumpulkan,
menjadi modalnya mengadu nasib di kota orang. Sudah hampir satu tahun ia
meninggalkan kampung halamannya dan belajar hidup mandiri. Jauh dari orang tua tidak
membuatnya takut, ia ingin membuktikan bahwa ia bisa sukses dengan caranya
sendiri tanpa adanya campur tangan dari orang tuanya. Terlebih lagi sekarang ia
juga menyandang status sebagai mahasiswi di tempatnya merantau. Salah satu
kampus swasta menjadi pilihannya untuk melanjutkan pendidikan yang tertunda.
Tujuannya adalah mencari pekerjaan yang bisa menunjang perekonomiannya, tanpa harus
mengganggu hobinya dan juga kuliahnya. Yura sudah menjadi penulis lepas sejak
ia duduk di bangku SMA. Banyak karyanya yang di terbitkan di beberapa situs dan
bahkan kadang dimuat di beberapa majalah. Baginya hobi itu bukan sekedar untuk
menghibur atau merelaksasikan diri, tapi juga haruslah sesuatu yang bernilai
__ADS_1
dan mungkin lebih bagus jika menghasilkan.
Berbeda lagi dengan kedua kakaknya, Naran Todoroki dan Zen Samada. Hobi mereka berdua
benar – benar membuat Yura risih. Naran dan Zen ikut pergi merantau bersama
Yura. Ya, ibu mana yang dengan relanya melepaskan anak gadisnya pergi jauh
tanpa pengawasan. Sebenarnya Yura sudah bersusah payah meyakinkan ayah dan
ibunya, tapi hasilnya nihil. Ia hanya di perbolehkan pergi jika kedua kakaknya
ikut.
Naran adalah anak pertama dari pasangan Veto Yama dan Yukian Putri. Umurnya terlampau
dua tahun lebih tua dari Yura. Naran adalah seorang selebgram, sebenarnya ia
satu Universitas Negeri. Tapi kembali lagi dengan dalih yang ia buat sendiri,
katanya ia tidak suka menjadi bawahan orang.
Seperti Yura yang mempunya hobi menulis dan membaca, dimana hasilnya sedikit memberi
royalti. Begitu juga dengan kakak pertamanya ini, Naran sangat suka
ber-swa-foto atau berselfie ria di ponsel pintarnya lalu kemudian menguploadnya
di akun media sosial. Karena parasnya yang cukup tampan ditambah lagi sosoknya
yang maskulin dan penuh kharisma, Naran memiliki jumlah followers yang banyak.
__ADS_1
Dan pada akhirnya ia menjadi seorang selebgram yang di gandrungi berbagai macam
endorsment.
Lain lagi dengan Zen Samada, hobinya yang tak bisa lepas dari game online membuat
Yura kerap kali memarahi kakak keduanya itu. Zen bisa berada di depan laptop
tanpa minum, makan, dan mandi hingga berjam – jam jika sudah masuk ke dalam
dunia gamenya. Sebenarnya Zen hanya menggeluti gamenya saat ia sedang tidak dalam
pekerjaan, karena Zen adalah seorang photographer, gambar – gambar yang ia
ambil mempunyai hasil yang cukup diacungi jempol. Zen juga kerap kali pergi ke
beberapa kota karena keahliannya itu. Tapi sayangnya Zen enggan untuk
melanjutkan pendidikan. Tidak peduli sudah berapa kali ayah dan ibunya membujuk
Zen, pendiriannya teramat teguh. Katanya ia sudah lelah berkutik dengan buku
dan beragam tugas yang membuatnya sakit kepala.
Seperti hari ini, tiga bersaudara itu berada di rumah yang mereka cicil dengan hasil
pendapatan mereka masing – masing. Naran dengan kamera dan media sosialnya, Zen
dengan gamenya, dan Yura dengan otak yang sedang ia usahakan berpikir untuk
mendapatkan ide menulis.
__ADS_1