Yura Sabina

Yura Sabina
Episode 9


__ADS_3

Reinard mengambil nafas lega, reaksi Yura benar – benar di luar dugaannya. Gadis ini benar – benar ajaib, lebih tepatnya terlalu polos, pikirnya.


“Oh iya, nih...” Reinard menyodorkan sebuah kunci.


“Kunci?”


“Iya ini kunci masuk ke sini, gue udah pegang satu, dan yang ini lo boleh pegang.”


“Gue berasa dapet tiket goldnya Indonesian Idol, tahu nggak lo.”


“Apa hubungannya?”


“Seneng banget..” celotehnya.


“Hahhaha.. Astaga.”


Tanpa sadar Reinard tertawa mendengar jawaban Yura.


“Lo bisa ketawa?” tanya Yura dan mendadak Reinard menghentikan tawanya.


“Hah?”


“Ya ampun... Gue kira lo itu jelmaannya Sasuke yang dingin banget, nyaris tanpa ekspresi sedikit pun,” ujarnya, “Gue juga sempet ngira lo itu sepupunya Shino si ninja serangga... Ck..ck..ck.. Tapi ternyata lo bisa ketawa juga ya,”


“A-apa?”


“Pertahankan, bro..” Yura menepuk pundak Reinard, “Dilatih aja, santai... Jangan langsung refleks gitu, takut nanti kotak ketawa lo rusak,” katanya lagi. “Gue pernah liat itu di film Spongebob, waktu Squidward masuk tabung besi gara – gara kotak ketawanya rusak.”


Reinard menepuk dahinya pasrah dan membenamkan muka didalam kedua telapak tangannya.


“Kita balik yuk!” ajaknya.


“Loh? Kok tiba – tiba mau balik?”


“Gue nggak mau ada kejadian orang lompat dari lantai tiga gara – gara kena syndrom frustasi.”


“Siapa yang mau lompat?”


“Turun Yura! Turun!”


“Iya tapi siapa yang mau lompat?” ulangnya lagi.


“Gue tinggal nih...” Reinard menghilang dari balik pintu meninggalkan Yura.


“Ish!” dengusnya, “Lo itu bukan Sasuke, bukan juga sepupunya Shino! Lo itu biksu tong!” teriak Yura, “Persis! Ngga


ada ekspresi, datar! Bedanya lo nggak botak.”


“Tapi gapapa, biar nanti kapan – kapan gue yang botakin! Huh!” cerocosnya lagi.


“Woi!” tiba – tiba Reinard membuka pintu dan menatap tajam ke arah Yura, “Gue denger! Buruan turun! Atau gue tinggal nih?!” ancamnya.


“Iya – iya..!”


***


 


“Ra! Darimana lo? Tumben telat?” tanya Andreas


“Dosennya nggak masuk, ya?” Yura balik bertanya, ia mengambil posisi duduk di samping kursi Andreas. Di ruang itu hanya mereka berdua, karena sepertinya yang lain sudah sibuk dengan kegiatan masing – masing.


“Iya, katanya ada urusan mendadak,” jawab Andreas.


“Oh..”


“Nggak dijawab?”


“Hah?”


“Lo darimana?” ulang Andreas, “Sama dosen baru itu pula,” tembaknya tanpa melihat ke arah Yura sedikitpun.


“Eh? Tahu darimana lo?”

__ADS_1


“Gue liat tadi di parkiran,” jawabnya ketus.


“Oh... Tadi tu dosen mintak temenin aja, awalnya sih gue udah nolak, tapi dia maksa.” Kata Yura berterus terang.


“Oh!”


“Lo kenapa, Ndre?”


“Nggak! Gue mau ke kantin, sekalian nyari angin, disini panas!” ucapnya ketus.


“Nggak ngajak gue?”


“Kalo mau ikut nyusul aja,” sahutnya dingin.


“Disini adem kok, Ndre. AC nyala kok...” celetuk Yura.


“Kalo gue bilang panas, ya panas!” Katanya dengan nada tinggi.


Yura tersentak kaget melihat raut wajah dan ekspresi Andreas yang tampak tegang menahan emosi, “Oke. Sorry...” Yura berdiri dan berlalu begitu saja melewati Andreas.


“Ra! Yura!” panggil Andreas.


Andreas mengacak rambutnya, “Ahh! Gue kenapa sih?!” bentaknya pada diri sendiri.


***


Yura berjalan cepat menyusuri koridor, ia benar – benar bingung dengan sikap Andreas yang mendadak aneh seperti itu. Wajahnya mulai terasa panas dan nafasnya terasa sesak, sebisa mungkin dirinya menahan air mata agar tidak jatuh.


 BUGH!


“M-maaf...” ucap Yura pada seseorang yang ia tabrak. Beberapa buku jatuh berserakan di lantai.


“Yura? Lo kenapa? Kayaknya buru – buru banget,” ucap seseorang.


“Sekali lagi maaf ya, gue nggak liat.” Ucapnya lagi tanpa melihat sedikit pun pada orang yang ia tabrak.


“Hei! Gue disini, bukan dilantai.” Orang itu menaikkan dagu Yura perlahan agar gadis itu melihat ke arahnya.


“Lo kenapa?” tanyanya setelah melihat mata Yura yang tampak berair, dia tahu jika gadis ini sedang menahan tangis.


“Lo kenapa, Ra?” ulangnya lagi.


“Gapapa kok...”


“Yakin?”


“Hm.”


“Bohong!”


“Gue gapapa, Rayan. Gue duluan ya, bye..”


“Mau kemana?” tanya Rayan sambil menahan tangan Yura.


Yura hanya diam, ia sudah benar – benar tidak bisa lagi menahan airmatanya. Bulir – bulir hangat itu jatuh begitu saja dari tempatnya.


“Hei? Ra? Lo kena-


“Gue mau p-pulang...” isaknya.


“Oke. Gue anter!”


***


Mata kuliah kedua sudah di mulai sekitar 20 menit yang lalu, tapi Yura tidak kunjung masuk ke kelas. Sudah berkali – kali Andreas menghubungi sahabatnya itu, tapi hasilnya nihil, Yura berulang kali me-reject panggilannya, dan mengabaikan semua pesannya. Andreas benar – benar merutuki dirinya sendiri. Maafin gue, Ra, sesalnya


dalam hati.


“Ndre?” Panggil Fira yang duduk di sampingnya.


“Hm?”


“Yura kenapa? Ada masalah, ya?”

__ADS_1


“Kenapa emang?” tanya Andreas dengan mata tetap fokus pada buku catatannya.


“Tadi gue liat dia nangis..”


“Hah?!”


Seisi kelas mengalihkan pandangan pada Andreas.


“Kamu kenapa, Andreas?” tanya Ibu Jessie yang sedang menjelaskan materinya. “Ada yang mau di tanyakan?” tanyanya lagi.


“Nggak ada, bu.. Maaf...” jawabnya.


Ibu Jessie kembali melanjutkan penjelasannya.


“Yura nangis?” tanya Andreas berbisik pada Fira.


“Iya, makanya gue tanya dia kenapa.”


“Terus sekarang dia dimana?”


“Tadi sih kayaknya dia pulang dianter Rayan..”


“Apa?!”


“Andreas Mataulhi!”


“M-maaf, bu.. Say-


“Sekali lagi kamu berisik, saya kosongkan absen kamu tujuh kali pertemuan!”


“Ba-baik, bu..”


***


“Ran?”


“Apa sih lo? Gue lagi sibuk, Cumik!” sergah Naran dari balik ponselnya.


“Pulang! Buruan!”


“Lah? Kenapa?” tanyanya bingung mendengar permintaan Zen, “Sabun mandi lo habis? Udah di bilang, kurang – kurangin mainan sabun,” celetuknya.


“Mulut lokotor ******, sumpah!” kesal Zen.


“Ya terus kenapa, Zen Samada, si kambing  yang jarang mandi...” ledeknya lagi.


“Yura udah pulang, baru aja, tapi dia pulang pakek nangis gitu, gue udah gedor – gedor pintu kamarnya tapi dia tetep nggak mau buka,” jelasnya.


“Apa?! Astaga! Lo kenapa nggak bilang dari tadi, cumik! Iya udah gue pulang sekarang.”


“Eh, Ran. Lo sekalian beli buku sama boneka mickey mouse,” ucap Zen mengingatkan.


“Iya – iya, gue tahu, nggak usah lo ingetin.”


***


“Gimana? Udah mau keluar?” tanya Naran saat memasuki rumah dan mendapati Zen yang mondar – mandir di ruang tamu.


Zen menggelengkan kepalanya, “Daritadi udah gue bujuk, tapi masih aja nggak mau. Katanya, dia lagi nggak mau ngomong..” jelas Zen.


“Iya udah ayok ke atas! Lagian lo ngapain sih disini? Udah kayak setrikaan aja, mondar – mandir. Harusnya lo jagain dari depan kamarnya!” oceh Naran pada adik keduanya itu.


“Iya udah bawel! Gue nungguin lo!”


Mereka berdua sudah berada di depan kamar Yura. Naran menempelkan sebelah telinganya, mencoba mencuri dengar keadaan didalam.


“Kedengeran?” tanya Zen penasaran.


“Kagak.”


Zen melayangkan tatapan membunuh pada Naran, “Bego!”


Tok.. Tok.. Tok..

__ADS_1


Bunyi ketukan pintu menggema ke dalam kamar Yura.


__ADS_2